
Happy Reading
****
"Ah.. Jadi ini yang disebut pesta penyambutan anak baru," kata Rebecca, gadis culun luar biasa yang menjadi teman pertamaku dan teman satu kamar di asrama universitas. Dia mengambil disiplin ilmu yang sama denganku, kedokteran. Pintar, tapi dia sedikit aneh. Mengapa aku menyebutnya aneh? Karena dia suka menonton film biru tanpa repot-repot menggunakan earphone. Apa itu termasuk aneh atau gila? Namun, setidaknya dia baik. Yah.. Rebecca baik karena dia banyak membantuku banyak hal tanpa pamrih.
"Aku tidak tahu apakah ini bisa disebut pesta," balasku dengan nada ragu ketika melihat situasi pesta yang diadakan di sebuah rumah tersebut. Kacau. Benar-benar kacau. Botol bir, gelas styrofoam, dan berbagai bungkusan makanan serta minuman berserak di lantai. Wangi busuk aneh memenuhi ruangan, seperti perpaduan antara muntahan manusia dengan kotoran, makanan basi, dan bir.
Rebecca menepuk pundakku, "Lihat itu.." bisiknya di telingaku dengan cekikikan khasnya sembari menunjuk dua sejoli yang tengah melakukan se-x di sudut ruangan.
"Ewww...." mataku menatap ngeri dua manusia yang tengah melakukan se-x tersebut. Aku tidak jijik soal se-x-nya, tetapi masalahnya adalah mereka melakukannya di tengah lautan manusia. Aku menoleh ke kanan-kiri dan menemukan orang-orang yang ada di pesta benar-benar tidak peduli pada pasangan tersebut seolah-olah itu adalah hal yang lumrah terjadi. Apa orang New York segila ini?
"Aku juga pengen,"
Mataku melirik aneh ke arah Rebecca, "Seriusan?"
Rebecca mengangguk semangat sembari menyengir, menunjukkan giginya yang diberi kawat gigi.
"Jangan gila deh," aku berjalan menjauhi dua pasangan tadi dengan tangan rebecca melingkar di lengan kiriku.
"Aku selalu penasaran bagaimana rasanya saat va-gi-naku diisi oleh pe-nis,"
Lihat? Dia aneh.. Sangat aneh..
"Bukannya kau punya mainan se-x?"
"Sudah bosan. Aku penasaran dengan pe-nis asli," Rebecca tiba-tiba menahan tanganku, "Lihat.. Ada Clara," tunjuknya
Aku berhenti dan mengikuti arah tangan Rebecca, "Clara?" tanyaku.
Clara siapa?
"Iyah.. Anak jenius yang terkenal di fakultas kita.. Mengapa anak seperti dia datang ke acara seperti ini? Sangat tidak cocok yah.."
Ah.. Clara. Aku ingat, tapi tidak terlalu ingat. Uhm... Kau tahu maksudku, bukan? Aku belum pernah lihat wajahnya, tetapi gossip tentangnya tersebar di seluruh fakultas. Si anak genius yang kaya raya.
Mataku berusaha melihat wajahnya, tetapi tidak sempat karena wanita berambut pirang itu sudah menghilang di balik kerumunan. Clara lebih muda dua empat tahun dariku, tetapi dia sekarang sudah menempuh tahun ketiganya di fakultas kedokteran. Well.. Orang-orang memberi sebutan jenius bukan tanpa alasan.
"Orang sejenius apa pun tetap butuh hiburan."
"Sebentar," Rebecca melepas gandengannya padaku.
"Ke mana?"
"Ke kamar mandi.. Jangan pergi ke mana-mana. Aku akan kembali.."
Aku mendengus saat melihatnya juga ikut menghilang di balik kerumunan. Kedua tanganku kumasukkan ke dalam saku jaket Hoodie dan bersandar di dinding melihat orang-orang sialan yang menari seperti orang kesetanan. Mengapa aku setuju datang ke tempat terkutuk seperti ini?
"Christov datang.."
"Siapa? Christov O'Connel yah?"
Beberapa gadis berpakaian mini melintas dari hadapanku dan mau tak mau aku mendengar pembicaraan mereka. Mataku melirik ke arah belakang tubuh mereka dan melihat betapa 'mini'nya pakaian mereka. Tidak kedinginan? Maksudku, suhu udara mencapai tiga derajat celcius. Errr.. Wanita benar-benar gila kalau sudah tentang fashion.
"Beneran?"
"Iyah.."
Mereka cekikikan lagi lalu berteriak heboh sebelum akhirnya berpencar. Aku menggeleng kepala kecil dan mulai mengetuk-ngetuk telapak kaki kanan ke lantai dalam gerakan tidak sabar. Di mana Rebecca? Kenapa sangat lama? Aku memutar kepala dan mencari keberadaan Rebecca di sekitar.
"Cassie.."
Aku terkejut bukan main mendengar suara bisikan Rebecca di belakang di telingaku, tetapi aku tetap mempertahankan gaya santaiku walau aku terkejut bukan main.
"Bisakah kau tidak berbisik-bisik seperti itu?" gerutuku.
"Ini," sodornya sebuah gelas styrofoam berwarna merah. Aku menerimanya dan langsung memeriksa isi dari gelas tersebut.
"Apa ini?"
"Minuman pesta. Cassie.. I'm sorry, tapi aku harus pergi sebentar..."
"Ke mana?"
Sial. Jangan tinggalkan aku sendirian di sini, sialan! Tidak di tengah lautan manusia sin-ting.
"Kau yang mengajakku ke mari dan sekarang kau hendak meninggalkanku?"
Rebecca menggeleng kecil, "Cassie.. Kumohon maafkan aku, tetapi aku menemukan pe-nis yang tepat untukku.."
"A-Apa?"
Rebecca menyengir lebar, memamerkan kawat giginya yang aneh dan entah mengapa dia nampak menyeramkan di bawah cahaya kelap-kelip pesta.
"Aku menemukan pria yang mau dengan sukarela memasukkan pe-nisnya ke dalam va-gi-na-ku.."
Oh my.. Aku tarik perkataanku. Dia tidak aneh, tetapi lebih tepatnya gila.
"Rebecca.. Seriously? Bagaimana bisa kau mau berhubungan badan dengan pria asing? Bagaimana jika dia punya penyakit ke-la-min? HIV? Gatal-gatal?"
"Ta-da.." dia memegang dua renteng kon-dom pada kedua tangannya yang masing-masing satu renteng terdapat sepuluh bungkus kom-dom.
"Dengan ini, penyakit menular yang kau khawatirkan akan terhindar..."
"Rebecca.." kataku dengan nada tidak setuju.
Dia tersenyum lagi, "Untukmu.." katanya sembari memberi satu renteng kon-dom.
"A-Apa? Aku tidak butuh.."
"Tidak apa-apa. Aku masih punya banyak. Sesama teman harus berbagi, bukan begitu?" ujarnya dengan penuh kebanggaan sembari menepuk tas pinggangnya.
Ja-jadi? Isi tas pinggangnya selama ini bukanlah permen yang seperti kupikirkan, tetapi kon-dom. Wow..
"Aku pergi dulu.. Kau juga harus mencari pe-nis. Jangan pedulikan wajahnya karena yang terpenting adalah pe-nis serta ukurannya.. Bye-bye, Cassie.."
Aku menatap kepergiannya dalam diam dengan tangan kiri memegang gelas dan tangan kanan memegang rentengan kon-dom tersebut.
"Dasar sin-ting," umpatnya seraya memasukkan rentengan tersebut ke dalam saku jaket. Tanpa sadar, aku meneguk minuman dari gelas styrofoam tersebut dan..
"Eww.. Minuman apa ini?"
Aku mendekatkan hidungku ke arah gelas dan mencium bau aneh menyerupai bau kaos kaki yang tidak dipakai dan tidak dicuci berminggu-minggu yang berpadu dengan aroma alkohol.
"Aneh.. Rasanya enak,"
Minuman bau-kaos-kaki tersebut rasanya manis. Aku meneguknya lagi dan mengabaikan bau busuknya.
"Fvck.. Campuran apa yang mereka buat hingga rasanya enak seperti ini?"
Hal lain yang membuatku suka minuman itu adalah sensasi yang diberikan. Minuman kaos-kaki-busuk tersebut memberikan sensasi yang menggembirakan di seluruh saraf tubuhku. Oh my.. Aku pikir kadar alkoholnya pasti tinggi dan seharusnya aku berhenti meminumnya. Namun, aku tidak bisa berhenti.
Dengan langkah lunglai, aku mencari-cari keberadaan minuman seperti ini lagi. Berjalan ke dapur dan menemukan beberapa pasangan tengah ber-cum-bu ria di sana. Aku melihat seorang wanita yang mende-sah ria karena seorang pria tengah menghisap kewanitaannya di balik rok yang dia pakai. Mataku meneliti mereka sebentar sebelum melihat ke arah wajah si wanita.
"Dari mana aku bisa menemukan minuman seperti ini?" tanyaku dengan polosnya. Well.. Minuman sialan itu sudah membuat otakku tidak bekerja dengan sinkron.
"Di..Sa..Na.." dia menjawabku dengan de-sa-han penuh kenikmatannya sementara tangannya menunjuk dispenser di sudut dapur.
"Thanks.."
Aku beralih dari sana dan berjalan melewati pasangan lain yang tengah ber-cum-bu menuju dispenser. Mengarahkan gelasku ke lubang dispenser dan minuman kaos-kaki-busuk itu mengalir masuk ke dalam gelasku. Senyum lebar menghiasi wajah dan menatap senang ke arah dispenser tersebut.
"Dispenser ajaib," kekehku.
Saat sudah penuh, aku meneguknya lagi hingga setengah lalu mengisinya lagi hingga penuh. Dengan segelas penuh minuman kaos-kaki-busuk, aku berjalan menuju lemari pendingin untuk mencari makanan. Satu-satunya makanan yang tersisa di sana adalah sebungkus chips. Aku meraihnya dan memeriksa tanggal kadaluarsa dari chips tersebut.
"Sudah lewat seminggu," ucapku dengan suara pelan dan akhirnya mengetahui alasan mengapa tidak ada yang memakan chips tersebut. Namun, aku tahu bahwa perusahaan makanan ringan selalu memajukan tanggal kadaluarsa sebagai strategi marketing.
"Masih layak makan,"
Aku membuka chips dan mulai menikmatinya bersama minumanku. Beberapa saat kemudian, aku merasakan kantong kemihku terasa penuh dan mendorong rasa ingin buang air kecil. Menggeram kecil dan dengan membawa chips serta minumanku, aku bergerka dari sana mencari kamar mandi.
Mencari ke sana - ke mari dan tidak menemukan kamar mandi sialan tersebut. Sempat terbersit di pikiranku untuk buang air di halaman rumah, tetapi untungnya akal sehatku masih bekerja. Di tengah keputusasaan akan buang air kecil tersebut, aku menemukan tangga yang menuju lantai dua. Aku meneguk minumanku terlebih dahulu sebelum menaiki anak tangga kemudian berjalan di sepanjang lorong yang dipenuhi pintu.
Suara de-sa-han dan teriakan se-x terdengar dari balik pintu. Aku menekan setiap handle pintu, tetapi tidak satu pun pintu bisa kubuka. Aku sampai di ruangan terakhir yang berada di ujung lorong dan betapa senangnya aku menemukan pintu itu bisa dibuka.
Aku tidak menemukan siapa pun di sana dan tanpa pikir panjang, aku mencari keberadaan kamar mandi. Tanpa menyalakan lampu kamar mandi terlebih dahulu, aku segera masuk, menurunkan celana, dan duduk di toilet untuk membuang air se-ni-ku yang sudah di ujung tanduk.
"Hahhh.." de-sah-ku penuh kelegaan ketika air se-niku keluar. Minuman kaos kaki busukku masih tersisa seperempat lagi dan tanpa ragu aku meminumnya sembari air seniku masih keluar. Humm.. Nikmat.
Saat otakku tidak bekerja dengan benar lagi dan di saat aku tengah buang air kecil sembari minum alkohol kaos-kaki busuk, pintu kamar mandi di hadapanku terbuka. Cahaya dari kamar masuk ke dalam kamar mandi dan bersamaan itu pula sosok bertubuh tinggi berdiri di ambang pintu.
"Uh.. Maafkan aku.. Maafkan aku.. Aku pikir tidak ada orangnya," katanya dengan panik. Aku membuang gelas styrofoamku yang sudah kosong ke lantai dan melihat sosok tersebut. Kukedip-kedipkan mataku, berusaha melihat wajahnya. Namun, otak sialanku tidak bisa bekerja lagi.
Dia tidak berusaha bergerak seolah otaknya pun tidak berfungsi seperti punyaku. Mataku yang tidak fokus lagi menatap tubuhnya yang hanya terbalut dengan celana boxer hitam ketat dan wangi minuman kaos-kaki-busuk tercium dari tubuhnya.
"Kau habis melakukan se-x, yah?"
Aku bisa merasakan kegilaan Rebecca perlahan merasuk ke dalam jiwa dan pikiranku.
"A--Apa?"
"Aku ingin mencobanya.."
Yah.. Kegilaan Rebecca sudah merasukiku dan minuman sialan tersebut telah membuatku kehilangan akal sehatku sendiri!
****
Christov POV
"Aku harus kembali sekarang," kataku dnegan nada gusar pada grupku yang sedari tadi bercanda ria dengan tangkapan mereka. Tangkapan yang kumaksud di sini bukanlah ikan ataupun hewan buruan, tetapi.. Wanita.
"Ayolah, Christov.. Tunggu sebentar lagi. Jika kau pergi, wanita-wanita ini akan pergi juga.."
Argh.. Sialan.
"Kita memiliki kuis penting untuk mata kuliah Z.." ulangku lagi.
"Ah.. Ayolah.. Jangan kaku begitu. Semua orang di sini tahu kau bisa lulus kuis sialan itu tanpa belajar..."
Sudah gila. Mereka sudah gila..
"Yah.. Christov.. Kita bermain di sini sebentar lagi," wanita berambut hitam yang sedari tadi berusaha menggodaku bergelayut manja di lenganku, tetapi aku tidak berusaha melepas gelayutannya. Bukannya aku tidak berusaha, tetapi dia dengan tidak malunya terus bergelayut manja padaku. Huh.. Pada akhirnya aku menyerah sendiri dan menunggunya melepas gelayutannya ketika dia sudah bosan.
"Ayolah.. Christov. Lihat Meita.. Jangan membuatnya malu seperti itu.. Bagaimana bisa kau menolak wanita secantik dia, huh?"
Ah.. Namanya Meita. Kupikir Lauren.
"Minumlah sedikit.." tawar Meita berupa gelas styrofoam berisi bir sialan dengan aroma menjijikkan.
"Tidak, terimakasih.."
"Ayolah.. Sedikit saja. Ini bisa membuatmu gembira.."
Aku tidak tahu benda macam apa yang dicampurkan di sana dan aku tidak mau mempertaruhkan kesehatanku yang kujaga sedemikian rupa karena minuman aneh sialan yang tidak jelas komposisinya. Bagaimana jika minuman itu sudah terkontaminasi?
"Tidak.. Aku tidak bisa minum alkohol karena aku ada kelas besok.."
"Bolos sesekali tidak akan membuatmu gagal, Christov," dia berusaha menghasutku lagi, tapi aku berusaha menjauhkan kepalaku dari pinggiran mulut gelas styrofoam.
"Ayolah, Meita.. Dia bilang dia tidak mau!" suara wanita lain bergabung. Wanita yang penampilannya mirip dengan Meita, tetapi dengan rambut pirang cepak.
"Apa urusannya denganmu, sialan?"
Wanita berambut cepak itu maju seolah ingin menantang Meita. Well..
"Hey.. hey.. Cindy.. Dia dapat Christov duluan," seorang temanku berusaha mencegat mereka dan saat namaku dibawa-bawa dalam pertengkaran itu membuatku kesal.
Huh.. Selalu saja. Pertengkaran wanita! Selalu saja. Selalu saja ada masalah seperti ini tiap kali ada aku.
"Christov sudah menolaknya, tetapi dia dengan tidak tahu malunya terus menyodorkan pa-yu-da-ra murahannya itu pada Christov!"
Meita akhirnya melepas gandengan tangannya padaku dan aku benar-benar senang!
"Apa? Apa kau bilang, breng-sek?! Pa-yu-da-ra sialan?!"
Cindy tersenyum bengis, "Yeah! Kenapa?! Tidak suka?"
"Wahh.. Setidaknya aku tidak menghabiskan ribuan dollar untuk melakukan suntik bo-tox sepertimu," balas Meita dan seisi grup tertawa, mempermalukan Cindy. Oh my.. Aku bisa merasakan pertengkaran sengit antara Meita dan Cindy akan terjadi dan sebelum hal itu terjadi, aku akan--
"Oh no," sebelum aku sempat berpikir dan menghindar, bir sialan yang Meita pegang tumpah ke seluruh tubuh bagian depanku. Membasahi jaket dan celanaku. Seisi grup diam dan aku menatap Cindy serta Meita secara bergantian.
"Ah.. Christov.. Christov.. Maafkan aku.. Maa--" Meita berusaha meraih tubuh depanku seolah ingin membantu, tetapi dengan sigap aku menepis tangannya lalu menatapnya tajam.
"Urus urusanmu sendiri," kataku dengan nada rendah yang dingin sebelum akhirnya meninggalkan mereka.
Saat ini, aku bisa saja kembali ke mobilku dan pulang ke apartemen. Tetapi, aku berani bertaruh jika aroma bir sialan ini akan membuat aroma mobilku ikut terkontaminasi.
Dengan langkah kesal, aku berusaha mencari keberadaan kamar mandi hingga ke lantai dua. Sesampainya di lantai dua, kedua telingaku mendengar suara orang-orang yang melakukan se-x dengan sangat jelas. Oh my!
Setiap ruangan berusaha kuperiksa hingga akhirnya menemukan satu ruangan kosong yang berada di ujung lorong. Hembusan napas kelegaan keluar dari mulutku melihat ruangan tersebut kosong. Mengunci pintu lalu melepas semua pakaian hingga meninggalkan tubuhku hanya dalam balutan celana boxer.
Kakiku kulangkahkan ke arah pintu di dalam ruangan tersebut dan menebaknya sebagai kamar mandi. Membukanya tanpa berusaha mengetuk terlebih dahulu hingga akhirnya aku menemukan seorang wanita asing tengah buang air kecil sembari meneguk sesuatu di gelas styrofoamnya. Dalam cahaya temaram, aku yakin kami tengah bertatapan dengan sorot mata penuh keterkejutan.
"Uh.. Maafkan aku.. Maafkan aku.. Aku pikir tidak ada orangnya," ucapku terbata-bata, tetapi kaki sialanku tidak mampu bergerak. Wanita asing itu tidak bersuara dan aku tidak bisa melihat ekspresi wajahnya dengan jelas.
"Kau habis melakukan se-x, yah?" tanya dia dengan nada yang terlampau polos hingga membuatku kehilangan kata-kataku sendiri.
"A--Apa?"
Apa dia berpikir aku baru melakukan se-x hanya karena aku tidak mengenakan pakaianku?
"Aku ingin mencobanya.."
"A--apa?"
Dia berdiri tanpa berusaha mengenakan celananya. Sial! Kenapa bisa aku bertemu banyak wanita gila?!
"Ini hanya antara aku dan pe-nismu. Bolehkah kau meminjamkan pe-nismu untukku? Aku juga ingin merasakan se-x."
"Kau tidak mau?" tanya dia lagi.
"Tentu saja tidak," suaraku sedikit meninggi.
"Kenapa? Aku belum pernah melakukan se-x sebelumnya dan aku tidak punya penyakit kelamin menular. Lalu, aku mahasiswi kedokteran jadi kesehatanku terjamin.."
Kuputar tubuhku ke arahnya yang masih berdiri di dalam kamar mandi bersama kegelapan.
"Gila, yah?"
"Yah.. Minuman beraroma kaos-kaki-busuk sialan itu sudah membuatku gila."
Aku tanpa sadar tertawa kecil mendengar sebutan khususnya tentang bir tadi. Well.. Dia tidak sepenuhnya salah.
"Kau punya tawa yang manis," komentarnya dan inilah pertama kalinya aku mendengar lawan jenis pernah memuji tawaku.
"Huh?"
"Aku punya kon-dom. Kau yakin tak mau? Banyak pria mengatakanku cantik.."
Entah mengapa, aku bisa merasakan kejantananku saat ini berkedut hanya mendengar nada malasnya yang polos. Jarang aku menemukan wanita yang mau memuji dirinya sendiri dengan gamblang seperti ini. Aku terbiasa menemui wanita yang berpenampilan heboh dan menunggu orang-orang memujinya.
"Banyak wanita yang mengatakan kejantananku besar.."
"Rebecca bilang, semakin besar semakin baik."
Uhm.. Siapa Rebecca?
"Kenapa kau tidak keluar dari sana dan tunjukkan wajahmu?" tanyaku
"Aku sedikit pemalu.."
"Kau mabuk?"
"Sedikit?"
Tidak sedikit. Dia pasti sudah sangat mabuk.
"Siapa namamu?"
"Cassie.."
"Kau benar-benar ingin melakukannya?"
Satu kali. Aku akan melakukannya satu kali lalu pergi.
"Hmm..."
"Kalau begitu kemarilah.."
"Bisa kau matikan lampunya.."
Aku menurutinya dan membiarkan lampu tidur berwarna oranye yang ada di atas meja nakas menyala.
"Kemarilah.."
Dalam cahaya temaram, aku melihatnya melangkah mendekat. Jaket Hoodie yang besar membuatnya tampak mengenakan dress. Saat dia sudah berdiri di hadapanku, aroma bir aneh itu tercium kuat dari tubuhnya, tetapi aroma shampoo dan pewangi pakaian yang lembut masih tercium samar-samar di sana.
"Aroma tubuhmu seperti kaos-kaki-busuk," komentarnya
Aku terkekeh, "Kau juga.."
"Kalau begitu baguslah karena kita akhirnya punya satu persamaan.." dia mendongkakkan kepalanya sehingga aku bisa melihat sorot biru samar-samar dari manik matanya, "Kon-dom.. Rebecca memberikanku sangat banyak kon-dom.."
Aku menerima rentengan kon-dom tersebut, "Siapa Rebecca?"
"Teman satu kamar.. Jadi? Apa yang harus aku lakukan?"
"Berbaringlah di ranjang.."
''Okay," dia melangkah menuju ranjang, "Apa aku perlu melepas semua pakaianku?"
"Terserah padamu.."
"Aku akan buka saja kalau begitu,"
Sementara dia melepaskan pakaiannya, aku menurunkan sedikit boxerku dan memasangkan kon-dom pemberian Cassie padaku. Memutar tumit lalu melangkah menghampirinya yang sudah berbaring di atas ranjang dengan keadaan tanpa sehelai benang. Lekuk badannya nampak jelas dan itu membuat kejantananku semakin menegang.
"Kau yakin belum pernah merasakan se-x?"
"Hm.."
"Kenapa kau tidak malu-malu?"
"Entahlah.. Mungkin karena aku mabuk..."
"Kau yakin ingin melakukannya.."
"Yeah.."
Oh my.. Bisa-bisanya aku memperdaya seorang wanita mabuk!
Aku merangkak ke atasnya dan tanpa menunggu izinnya, aku mengisi mulutku dengan pa-yu-da-ra-nya yang ranum.
"Ah.." dengan cepat dia merespon dengan lenguhan tertahan.
Itu membuatku semakin bersemangat dan ber-naf-su. Aenghisap pu-tingnya dengan lembut dan membuatnya menggeliat gusar di bawahku.
"Oh my.. Oh my.."
"Enak?" tanyaku.
"Yah.. Yah.."
Bibirku berpindah ke sisi lain dan melakukan hal yang sama pada. Menghisapnya dengan lembut, menjilat pu-ting-nya, dan sesekali mengigit benda itu hingga menegang dan memanjang. Sementara tangan kiri me-re-mas lembut sisi pa-yu-da-ranya yang lain. Dia merintih di bawahku ketika jemarikuencinit dan memilih pu-ting-nya di antara jemariku.
Kejantananku semakin mengembang dan membesar seiring kerasnya le-ngu-han Cassie. Dengan satu kaki, aku membuka paha Cassie lebar-lebar.
"Ini akan sedikit sakit.."
"Ah..." dia hanya menjawabku dengan le-nguhan tak jelas dan menggeliat gelisah di bawahku. Kedua tanganku kutaruh di samping kanan-kiri kepalanya dan mataku berusaha melihat wajahnya dalam gelap. Pinggulku kumajukan sedikit dan membiarkan kejantananku menggesek lembut dinding kewanitaannya yang lembab. Cassie benar-benar sudah siap untukku.
"Kau merasakannya?" bisikku dengan napas tertahan tepat di depan wajahnya. Maniknya yang sedikit berkilauan menatapku dan tubuhku seolah bisa merasakan tatapannya yang dalam tersebut.
"Yah.. Bigger than I thought*."
(*Lebih besar daripada yang aku bayangkan,"
Kudekatkan kepalaku padanya lalu menggigit bibir bawahnya dengan lembut.
"Dia akan semakin membesar saat masuk ke dalammu, Miss," ucapku setelah melepas gigitanku pada bibirnya, "Siap?"
"Boleh aku tanya sesuatu?"
Kugesek-gesek lembut ujung batang kejantananku padanya berusaha membuatnya semakin te-rang-sang
"Yah?"
"Apa kau punya penyakit kelamin yang menular?"
Aku terkekeh, "Andai kau tahu betapa higenisnya aku. Bagaimana denganmu, huh? Aku tidak percaya jika kau adalah mahasiswi kedokteran.."
"Kamu bisa lihat ID ku setelah ini..."
"Nanti.. Sekarang, kita perlu memasukkan benda ini.. Siap?"
"Yah.." bisiknya lembut.
Dengan insting, aku mengarahkan batang kejantananku ke dalam lubang kewanitaannya. Cassie terkesiap dan kedua tangannya segera me-re-mas pergelangan tanganku sesaat kejantananku perlahan masuk.
"Sakit?"
"No.."
"Lagi?"
"Yeah.."
Aku mendorong masuk lagi dan Cassie kembali terkesiap.
"Sakit?"
"Jangan tanya.. Terus bergerak..."
Mematuhinya, aku mendorong dan mendesak masuk ke dalam miliknya dengan sedikit paksa. Sulit, tetapi aku menggoyang pinggul untuk membantu batang kejantananku masuk semakin dalam. Cassie meringis dan aku sekarang percaya perkataannya bahwa dia belum pernah melakukan se-x sebelumnya.
"Oh.. Oh.." dia men-de-sah, bercampur dengan rintisan sakit.
"Tidak ada waktu untuk mundur," geramku dengan sedikit nada ancaman. Dadaku bergemuruh dan kejantananku berdenyut semakin keras merasakan kewanitaan Cassie yang sempit membungkus dan mencengkram kejantananku dengan sempurna. Kukecup ujung matanya dengan lembut dan tanpa aba-aba mulai bergerak.
"Ah.." dia me-nge-rang dengan suara tertahan dan jari kukunya yang pendek menancap di dalam kulitku. Sesekali rintihan sakit terdengar, tetapi aku tidak berhenti. Terus mendorong, bergerak, dan menghancurkannya berkeping-keping ke dalam puncak kenikmatan.
****
Cassie POV
FVCK!
Aku mengumpat keras dalam kepalaku begitu terbangun dengan keadaan tanpa sehelai benang pun di atas ranjang bersama seorang pria asinf. Mataku menatap gelagapan ke arah ruangan yang gelap dan berusaha mengingat apa yang baru saja terjadi. Namun, rasa sakit dan berat di kepala membuatku kesulitan mengingat apa yang baru saja terjadi.
Mataku melirik ragu ke arah pria asing yang tidur di ats ranjang. Suara dengkuran halus terdengar menandakan pria asing itu tidur terlelap. Dengan gerakan perlahan, aku meninggalkan ranjang dan mulai mengumpulkan barang-barangku.
Kakiku hampir kehilangan keseimbangan tubuhku sendiri karena rasa pening yang menyerang kepalaku. Perutku bergemuruh dan rasa minuman alkohol kaos-kaki-busuk itu bisa kurasakan di ujung lidahku. Kupikir aku akan muntah! Aku berlari kecil ke kamar mandi dan berusaha memuntahkan sesuatu, tetapi tidak ada. Tidak ada keluar dari mulutku kecuali sendawa.
Berdiri lagi dan pemikiran liar muncul di kepalaku. Dengan cepat, aku menyelipkan jemariku ke balik pakaian dalam dan merasakan kewanitaanku yang lembab. Aku memejamkan mata dan perlahan mendekatkan jemariku tersebut ke arah hidung. Mengendusnya dan mendesah lega karena aroma cairan itu adalah punyaku sendiri. Namun, tetapi saja aku merasa panik.
"Fvck.. Apa dia pakai kon-dom?" tanyaku dengan nada gusar pada kegelapan, "Tapi, kenapa aku tidak merasa sakit?"
Dengan bo-dohnya, aku menepuk kewanitaanku dan segera meringis kesakitan karena sensasi sakit yang teramat.
"Fvck.. Fvck..." umpatku dengan suara tertahan. Oh my! Bisa-bisanya se-x pertamaku seperti ini! Lebih parahnya, aku tidak ingat!! Argh.. Sial! Fvck! Bagaimana jika dia punya riwayat penyakit menular?!!! Ahhh dan yang terburuk, bagaimana jika aku hamil?
Oh my!!! Cassie bo-doh!! Aku harus keluar dari tempat ini secepat mungkin.
Dengan langkah tertatih, aku kembali ke ruangan kamar untuk mengenakan mengenakan pakaianku, setelahnya memeriksa jam pada ponselku yang masih menunjukkan pukul satu pagi. Ah.. Pantas musik pesta masih terdengar kencang sedari tadi. Astaga.. Padahal, aku merasa sudah terlelap berjam-jam lamanya.
"Kau mau pergi?"
"Fvck!" aku mengumpat kencang dan berlanjut dengan teriakan karena melihat pria asing tadi sudah duduk di atas ranjang. Bayangan tubuhnya di kegelapan entah mengapa nampak seperti hantu-hantu dalam film.
"Fvck.. Kau mengejutkanku!"
"Kau mau pergi?"
"Yah!" balasku dengan nada tinggi yang berujung pada sakit di kepalaku. Sial! Aku berpegangan pada handle pintu dan menatap pria asing sialan itu dalam gelap.
"Tidak bisakah kau menemaniku tidur sebentar lagi?"
"Huh? Apa yang kau katakan?"
"Aku tidak suka tinggalkan sendirian.. Bisakah kau menemaniku sebentar saja?" pintanya dengan suara lembut yang teramat. Kujilat permukaan bibirku yang kering dan entah mengapa, aku merasa terenyuh.
"Aku tidak suka ditinggal sendirian.." ulangnya lagi.
Bisakah kau bayangkan matamu berbayang-bayang dalam kegelapan? Rasanya.. Rasanya sangat menyakitkan dan memusingkan. Aku menggigit bibir bawah, menahan diri untuk tidak meringis. Dia masih duduk di ranjang, menungguku.
"Fine! Aku akan tinggal sebentar lagi," aku berjalan ke arah ranjang dengan sempoyong dan beberapa saat kemudian, tubuhku jatuh di atas ranjang.
"Hey.. tidurlah dengan posisi yang bagus.."
Suara beratnya yang lembut dan kalem terdengar sayu-sayup dalam kepalaku. Tubuhku digerakkan, tetapi aku hanya bisa menggumam-gumam sesuatu yangtak jelas.
"Hey.." panggilku.
"Yah?"
"Apa kita benar-benar melakukan se-x?"
"Yah.. Selamat tidur.."
"Oh fvck...."
Lalu, gelap.. Dengan umpatan sialan itu akhirnya aku tertidur pulas.
****
Christov POV
Aku duduk di pinggir ranjang dengan pakaian lengkap. Mataku melirik ke arah Cassie, si wanita satu malamku. Di satu sisi, aku merasa menyesal, tetapi di sisi lain aku juga merasa puas. Ini kali pertamanya aku melakukan se-x dengan wanita 'perawan'.
Err.... Setiap kali kata 'perawan' terbersit di pikiranku, aku merasa geli sendiri.
Aku menggeleng kecil dan berjanji hal semacam ini tidak akan tejadi lagi. Bangkit dari dudukku, aku berjalan meninggalkan ruangan itu dan bersiap untuk pulang ke apartemen karena waktu sudah hampir menunjukkan pukul lima pagi. Tanganku menekan handle pintu lalu membuatnya. Sebelum melangkah keluar, aku menoleh lagi ke arah wanita yang berbaring nyenyak di dalam kegelapan.
"Thank you," bisikku pelan dan berlalu dari sana. Berlalu dari sana dan berjanji hal seperti itu tidak akan pernah terjadi lagi.
Namun, janji adalah janji yang dapat dirusak dengan mudah oleh si pembuat janji. Tidak ada yang tahu tentang masa depan dan karena itu pulalah janji begitu rentan untuk rusak. Terkadang takdir ikut andil dalam menghancurkan dan merusak janji yang dibuat dan diperuntukkan pada diri sendiri karena takdir perlu membawamu pada sosok yang akan menjadi takdirmu di masa depan.
Dan begitulah.. Takdir bekerja pada Christov dan Cassie. Pasangan yang bertemu karena kesalahan dan berakhir bersama karena takdir. Berakhir bersama untuk selamanya.
THE END
****
Miss Foxxy.
Chapter ini paralel sama chapter 28-A Crazy Night.. Coba cheki" ajah nanti hehehe. Suka? Bye"