
Happy Reading
****
"Cassie. Apa kau masih suka dengan rambutku?"
"Yah.."
Hanya melalui pertanyaan random tersebut, Christov mendapatkan izin dari Cassie. Tanpa pikir panjang, Christov segera membawa wanita itu ke dalam kamar hotel. Ditarik kepala Cassie ke arahnya dan melayangkan bibirnya ke bibir Cassie setelah mereka masuk ke dalam kamar hotel. Ini salah! Hati Christov terus meneriaki hal tersebut, tapi tubuhnya bertindak sesuka hati.
Kepala mereka saling beradu seiring dengan ci-u-man yang intens. Christov bisa merasakan aroma alkohol yang manis di bibir Cassie. Tangan Cassie meremas rambut tebal Christov dan di sisi lain, Christov mengelus punggung Cassie. Tangannya merasakan permukaan tatto burung di permukaan kulit Cassie dan kemudian kedua tangan itu berpindah ke pangkal dress mini Cassie.
"Uhk.." wanita itu melenguh dalam ci-u-mannya, membuat Christov semakin bersemangat. Suara-suara penolakan itu masih terdengar dalam kepalanya, tapi Christov menolak mendengarnya dan memilih menurunkan dress Cassie dengan lembut.
Christov melepas pa-ngu-tan dan memberikan Cassie kesempatan untuk mengambil napas. Mulut Christov berpindah ke arah leher jenjang Cassie dan meng-hi-sap-nya penuh hasrat. Cassie menekan kepala Christov semakin dalam ke lehernya hingga membuat punggungnya terdorong ke belakang.
"Oh.. Oh.."
Tangan Christov mengelus lekuk badan Cassie dengan lembut hingga dia sampai pada pakaian dalam Cassie. Tanpa ragu, Christov menyelipkan jari tangannya ke pang-kal pa-ha Cassie dan memijat lembut kewanitaannya dari balik pakaian dalam Cassie.
"Ahk-" Cassie menjerit tertahan. Kakinya berjinjit dan tangannya melingkar di leher Christov untuk menopang tubuhnya.
Christov menghentikan jemarinya dan menjauhkan sedikit bibirnya dari kulit Cassie, "Sakit?" bisiknya pelan dengan suara parau.
"No.. No..." de-sah Cassie dengan nada putus asa, "Lanjutkan.. Kumohon... Ahh.."
Christov tersenyum miring tipis dan kembali menggerakkan jemarinya dengan lihai. Mulutnya mengecupi kulit leher Cassie. Kaki Christov mulai melangkah kecil dan membuat Cassie ikut melangkah mundur dengan tertatih karena kaki Cassie dalam keadaan lemas karena sensasi di pang-kal pa-hanya yang begitu nikmat dan juga menyiksa.
"I can't*..." kata Cassie, menolak berjalan mundur karena kakinya benar-benar terasa lemas dan tidak bertenaga, bahkan Cassie harus menggantungkan berat badannya pada Christov.
(*Aku tidak bisa)
"Walk*," geram Christov dengan suara tertahan. Dia tetap berjalan dan memaksa Cassie melakukannya juga.
(Jalan.)
"Ahhh.." Cassie mendesah semakin menggila saat jemari Christov tetap memijatnya dengan begitu menggoda di bawah sana. Di sisi lain, dia merasakan pening hebat di bagian kepala atasnya karena Christov tetap mendorong tubuhnya berjalan mundur.
"No.. No.." ucapnya ketika Cassie berhenti berjalan. Christov kembali mendorong Cassie untuk berjalan mundur, memaksanya berjalan dengan kedua kakinya yang lemas.
Cassie mendadak berhenti melangkah ketika merasakan puncaknya sudah hampir datang hanya melalui sentuhan itu. Kakinya menegang, berjinjit, dan tangannya memeluk leher Christov semakin dekat ke tubuhnya. Kedua pahanya menjepit tangan Christov dan menekan miliknya semakin dalam ke jemari pria tersebut.
"It's come!*"pekiknya ketika puncak itu semakin dekatĀ dan rasa melayang itu hilang begitu saja ketika Christov dengan sengaja menarik jarinya lalu mendorong tubuh Cassie ke belakang.
(Puncakku akan datang)
Cassie yang tidak mengantisipasi hal tersebut hanya bisa menunjukkan ekspresi wajah penuh keterkejutan dan tangan kanannya berusaha meraih tubuh Christov yang sedang tersenyum miring. Momen itu terasa berjalan dalam waktu yang lambat dan Cassie merasa dia akan jatuh ke dalam lubang yang tidak berdasar. Namun, hanya sedetik kemudian, Cassie merasakan tubuhnya jatuh di atas tempat tidur yang empuk.
"Terkejut?" kata Christov seraya melepas satu per satu kancing kemejanya. Ada senyum tipis di wajah Christov seolah menertawakan keadaannya. Rasa nikmat yang sebelumnya Cassie rasakan hilang begitu saja karena rasa terkejut. Sial. Dia berpikir bahwa pria itu mendorongnya ke atas lantai yang keras.
"Aku ingin melakukannya bersamamu, Cassie.."
Cassie menelan ludah melihat Christov yang menundukkan kepalanya. Dia tidak bisa melihat mata pria itu karena tertutupi oleh bayangan rambutnya yang sedikit lepek. Apa yang dipikirkan pria ini saat ini? Namun, pikiran itu segera teralihkan saat melihat tubuh Christov.
Tanpa sadar, Cassie menahan napasnya. Astaga. Begitu bersih.
"Aku suka tatto mawarmu, Cassie," katanya pelan dengan nada rendah dan merujuk ke arah tatto mawar kecil yang berada di antara celah bawah pa-yu-da-ra Cassie.
Christov melepas gesper, celana, dan boxer-nya secara bersamaan. Cassie segera menutupi mulutnya dengan tangan kiri. Sial. Umpatnya dalam hati ketika melihat milik Christov yang-- Ah.. Bahkan Cassie tidak sanggup memikirkan kata yang pas untuk mendeskripsikan milik Christov. Apa itu bisa masuk dalam diriku? Pikirnya lagi.
"Aku juga suka tatto burung milikmu..." Christov terkekeh kecil dan perlahan merangkak menaiki Cassie. Jantung Cassie berdetak kencang. Rasa sedih, marah, mabuk, naf-su, dan lainnya tergabung menjadi satu membuat Cassie kebingungan. Kenapa? kenapa dia tidur bersama orang asing?
Tubuh Cassie membeku ketika merasakan bibir Christov yang dingin menghisap telinga kanannya dengan lembut. Hisapan lembut itu berhasil membuat Cassie mengeluh kecil. Ah.. Betapa cepatnya perasaan Cassie berubah-ubah.
"Tatto ular?" bisik Christov pelan di telinganya ketika melihat tatto ular kecil di balik telinga Cassie
"Burung, mawar, dan sekarang ada ular... Aku suka tattomu, Cassie."
Cassie terkesiap merasakan tangan Christov meremas dada kanannya lalu dengan lembut menyentuh pucuknya. Membuat gerakan melingkar yang membuat Cassie menggila.
"Ahk--" dia mendesah tertahan dan mendorong kepalanya ke arah ranjang atas reaksi nikmat yang dia rasakan. Kenapa tangannya begitu lihai?
"Kulitmu juga lembut," lidah Christov turun dari telinga menuju dadanya dan...
"Ahk!!" Cassie memekik kencang ketika merasakan sensasi dingin dari mulut Christov di pucuk dadanya. Melayang. Rasanya dia seperti melayang menembus langit tertinggi. Tangan Christov yang satu pun tetap melakukan gerakan melingkar di pucuk dadanya yang lain. Menggodanya dalam gerakan perlahan yang begitu menyiksa.
"Geez... Oh my.." Cassie memejamkan matanya, menikmati sensasi nikmat itu. Kedua kakinya bergerak-gerak gelisah karena rasa naf-su yang semakin membesar itu.
Mulut Christov berpindah ke dada yang lain dan melakukan hal yang sama. Menghisap, menjilat, dan mencubit pucuk dada Cassie dalam gerakan menggoda.
Ini terlalu banyak! Teriak Cassie dalam pikirannya.
Tangan Cassie mendorong kepala Christov semakin dalam ke dadanya dan jemarinya *******-***** rambut tebal pria itu. Di bawah sana, Cassie bisa merasakan kejantanan Christov menusuk-nusuk pahanya. Terasa begitu kuat, tegak, dan.. Ah.. Cassie merasa akan merasakan malam yang hebat malam ini dengan milik Christov yang memiliki ukuran fantastis.
Puas dengan dada Cassie, Christov memindahkan mulutnya untuk mengecup sela dada Cassie, tempat tatto mawar kecil itu berada. Di angkat kepalanya sedikit menjauh dan menatap tatto itu dengan tatapan yang tidak bisa dijelaskan oleh Cassie. Sesaat kemudian, Cassie melihat pria itu kembali tersenyum tipis aneh yang tidak sampai ke mata.
"Aku suka mawarmu,"
Kenapa? Kenapa itu terdengar begitu seksi di telinga Cassie?
"Apakah kita sudah bisa melakukan gerakan inti?" kata Christov dengan nada rendah.
Cassie menatap mata coklat Christov yang menggelap karena pupilnya yang membesar. Masih terpaku dengan mata Christov, Cassie tidak menyadari tangan pria itu sudah menurunkan pakaian dalam Cassie. Mata mereka masih tetap bertatapan seolah keduanya tengah mengirimkan berbagai pesan yang berada dalam pikiran masing-masing melalui tatapan tersebut.
Cassie merasakan pahanya dibuka lebar oleh Christov sementara dia masih terfokus pada wajah dan suara Christov yang lembut. Secara tak sadar, Cassie mengangkat tangan kirinya dan mengusap rambut Christov.
"Aku suka rambutmu.."
"Setelah ini..." Suara Christov memelan dan perlahan dia memasukkan miliknya pada milik Cassie hingga membuat wanita itu terkesiap atas sensasi aneh dalam dirinya, "Setelah ini.. Kau tidak akan hanya menyukai rambutku, Cassie..." geram Christov dengan suara tertahan karena berusaha memasukkan miliknya semakin dalam.
"A-Ahk.." Cassie tercekat ketika Christov sedikit memaksa untuk masuk. Kedua tangannya di arahkan pada otot lengan Christov dan menanamkan kuku-kukunya di kulit pria tersebut.
Christov tetap menjaga kontak mata mereka agar tidak terputus sembari di bawah sana dia masih berusaha masuk semakin dalam. Sempit. Pikirnya. Dia bisa merasakan kuku Cassie tertanam di kulitnya, menandakan wanita itu merasa tidak nyaman.
"Sakit?" bisiknya, tapi masih tetap mendorong masuk. Jika Cassie menjawab ya, Christov akan mundur segera.
"Teruskan..." kata Cassie dengan suara tercekat dan detik itu juga Christov kembali tersenyum tipis.
Christov mengangkat pinggulnya menjauh dari Cassie dan tanpa ragu dia mendorong cepat hingga seluruh miliknya masuk ke dalam.
"Ahk!" Cassie menjerit kencang merasakan sensasi itu. Tidak sakit, tapi terasa aneh.
"Aku akan bergerak..." Christov menggeram dan tanpa meminta izin, dia mulai bergerak sebelum wanita itu berubah pikiran.
Kedua tangan Christov berada di sisi wajah Cassie untuk menopang tubuhnya. Matanya menatap lekat ke arah Cassie sembari pinggulnya bergerak maju dan mundur.
"Argh.." Edward me-nge-rang tertahan saat dia merasakan betapa sempitnya milik Cassie. Menggulung miliknya dengan sangat sempurna. Nikmat. Ini teramat nikmat.
"Oh.. Oh.. Oh.." kini, Cassie ikut menggerakkan pinggulnya dengan arah yang berlawanan dengan Christov. Saat dia ke atas, Christov ke bawah.
"Cepat.. Semakin cepat..." pinta Cassie dengan nada terputus-putus.
Christov menurutinya dan mulai bergerak semakin cepat. Keduanya meraung dan me-nge-rang semakin kencang. Cassie melingkarkan kedua kakinya pada pinggul Christov dan mulai bergerak putus asa saat puncak itu tak kunjung datang.
"Please!" raung Cassie, "Cepat.. Ah! Cepat!" suara penuh keputusasaan terdengar saat tanda-tanda puncak itu tak kunjung datang.
Di sisi lain, Christov mulai bergerak menggila. Pinggulnya digerakkan dalam ritme maju dan mundur yang begitu cepat lalu memutar pinggulnya dalam gerakan perlahan. Dia terus bergerak.. Cepat.. Begitu cepat hingga membuat ranjang ikut bergerak mengikuti gerakan kedua insan tersebut.
"Argh!" Christov menggeram kencang. Kakinya menegang oleh tanda-tanda sensasi puncak yang akan dia rasakan. Matanya melihat Cassie yang juga nampaknya akan mendapat puncaknya. Christov menarik pinggulnya ke belakang dan kembali mendorong masuk ke dalam tubuh Cassie dalam hentakan keras hingga membuat wanita itu menjerit.
"Ahk!!"
Christov menggerakkan pinggulnya dan merasakan hal yang sama seperti Cassie. Putus asa. Dia sangat putus asa. Puncak! Dia hanya menginginkan puncaknya. Christov tak berhenti bergerak. Terus.. Terus..
Tubuh Cassie perlahan bergetar hebat. Matanya terpejam saat merasakan puncak itu akan datang. Kakinya melingkari pinggul Christov semakin erat. Kedua tangannya berpindah ke arah seprei dan meremasnya kuat
"Sebut namaku, Cassie..." pinta Christov dan Cassie menatap pria itu yang nampaknya mulai kehabisan napas. Dalam momen yang teramat genting itu, Cassie merasa seluruh dunianya memudar dan hanya menyisakan dia dan Christov. Tangannya yang meremas seprei dia pindahkan ke arah rambut Christov. Sangat tebal. Pikirnya dalam momen genting tersebut.
"Christov...." e-rang-nya dan detik itu juga Christov mendorong masuk semakin dalam hingga Cassie mendapatkan puncaknya.
"AH!" Cassie meraung kencang dan dia melengkungkan punggungnya ke arah Christov. Menikmati perasaan yang teramat hebat itu hingga membuat tubuhnya bergetar hebat.
Detik sebelum Christov mendapatkan puncaknya, dengan cepat dia menarik miliknya keluar dari tubuh Cassie dan menyemburkan cairan itu di luar.
Tubuhnya segera tumbang di samping tubuh Cassie dengan posisi tengkurap. Dadanya naik turun dengan cepat. Namun, terlepas dari rasa lelahnya, apa yang dia rasakan saat ini benar-benar hebat.. Astaga. Setelah sekali lama Christov tidak merasakan hal seperti ini.
Christov menatap Cassie yang juga nampak kelelahan. Tubuh dibanjiri keringat, wajah memerah, napas terengah-engah, rambut acak-acakan, dan..
"Cantik," bisik Christov secara tak sadar dan itu mengundang Cassie untuk melihat ke arahnya. pria itu bergeming saat menyadari mulut sialannya mengucapkan hal sialan lain. Mereka saling bertatapan dalam waktu sepersekian detik dan sesaat kemudian Cassie tersenyum miring.
"Aku tahu," katanya pelan dan itu mengundang gelak ketawa Christov. Dia tidak tahu kenapa dia tertawa. Apakah karena rasa percaya diri wanita itu? Atau karena rasa senangnya sehabis se x? Kemudian, dia kembali teringat dengan tarian gila Cassie saat di pesta tadi dan dia kembali tertawa lagi. Wanita gila. Pikirnya. Dia melakukan se x dengan wanita gila.
Cassie menatapinya dengan senyum tipis. Melihat tubuh Christov yang bergetar karena tawa tersebut. Matanya tanpa sadar turun malu-malu untuk melihat tubuh bagian belakang Christov. Ah.. Sebuah pemandangan yang jarang dia nikmati secara langsung. Well.. Dia bisa saja melihat hal semacam ini di internet, tapi rasanya beda jika melihat langsung.
Badannya bagus. Pikir Cassie. Tidak terlalu berotot seperti mantan kekasih sialannya. Walau tidak terlalu berotot, tubuh Christov tidak memiliki lemak berlebih di bagian mana pun. Tubuhnya pun tampak bebas dari goresan atau tatto. Dia membuka sedikit mulutnya melihat lengkungan punggung Christov yang membentuk semacam garis memanjang di punggungnya.
Tanpa sadar, Cassie mengarahkan tangannya pada garis punggung yang membentuk ceruk di punggung Christov. Mengelusnya dengan lembut di sepanjang garis punggung tersebut dan sesekali menekannya untuk merasakan tulang punggung Christov dari balik kulitnya.
"Hei.." panggil Christov dengan suara berat. Cassie melirik ke arah pria tersebut dan keduanya terdiam lagi. Dia mendadak menarik tangannya dari punggung Christov karena takut bahwa sentuhannya adalah sumber keheningan dari pria tersebut.
"Kau kelelahan?" tanya Christov akhirnya.
"Tidak.." jawab Cassie singkat.
"Kalau begitu, apa kau mau melakukannya lagi?"
Senyum miring Cassie muncul lagi. Nampaknya, dia sanggup melakukan hal ini sepanjang malam. Ah.. Siapa yang peduli jika mereka baru saling mengenal hari ini? Toh.. Nantinya mereka akan menjadi orang asing. Toh.. Keduanya saling menikmati ini tanpa paksaan. Jadi, mengapa tidak nikmati saja?
"Kenapa tidak?"
***
Christov duduk di pinggir ranjang dalam cahaya temaram. Dia menoleh ke arah Cassie yang tertidur nyenyak. Sialan. Umpatnya. Ah.. Bisa-bisanya dia melakukan ini? Namun, di sisi lain dia juga merasa puas. Well.. Dia bisa melewati malam yang hebat setelah sekian lama tidak merasakannya.
Sekarang sudah menunjukkan pukul tiga pagi dan dia bersiap untuk pulang. Berdiri dari duduknya, Christov memungut kemejanya dan memakainya kembali. Matanya sesekali melirik ke arah Cassie yang masih tertidur. Hah.. Dia masih tidak menyangka berakhir dengan wanita itu di sini.
Kejadian seperti ini tidak akan terjadi lagi. Janjinya. Demi sopan santun, Christov memungut pakaian wanita itu dan melipatnya sedemikian rupa. Kemudian mengenakan sepatu dan mengumpulkan barangnya sebelum akhirnya pergi meinggalkan ruangan itu. Saat sudah berada di luar pintu, Christov menoleh ke belakang untuk terakhir kalinya.
"Thank you," bisiknya pelan dan berlalu dari sana.
***
Miss Foxxy
Chapter akan di revisi secepatnya. Kemudian, saya sengaja update 2 sekaligus hari ini karena ingin ambil break/libur karena ada urusan pribadi. Mungkin akan kembali di Minggu depan gitulah. Jangan lupa dukung author.