Remember Me

Remember Me
The Truth



Happy Reading


***


Cassie POV


Ketika keluar dari ruangan pemeriksaan, aku tidak mendapati kedua sejoli itu lagi. Wanita tadi.... Err.. Siapa namanya? Carissa? Camilla? Claire? Persetan.. Aku tidak ingat namanya, tapi wajahnya benar-benar menyebalkan. Caranya menatap dan menilaiku dari atas ke bawah menjelaskan betapa sombongnya wanita bernama Carrisa itu. Tu--tunggu? Carissa? Sebenarnya apa namanya? Well.. Tidak penting. Aku berharap tidak orang semacam dia lagi walau itu mustahil. ada komentar jutaan manusia yang pasti memiliki karakter yang sama seperti wanita pirang itu.


Seandainya dia tidak ada di sana, aku pasti sudah bertanya terkati email dan nomor ponsel itu pada Christov. Hal yang terjadi kemarin saat di ladang tersebut benar-benar membuat kepikiran satu malaman. Membuatku tidak tidur nyenyak.


Ada pergumulan dalam diriku, apakah aku harus menghubunginya terlebih dahulu atau menunggu dia menghubungiku? Di sisi lain, aku takut bahwa email yang kutemukan ini adalah email acak yang kutulis dan tidak memiliki hubungan denganku atau pun Christov. Jika Christov benar-benar seseorang yang terhubung denganku, setidaknya dia harus mengenalku, bukan? Namun, kenapa dia bertingkah seolah tak mengenalku?


Atau jangan-jangan, sebenarnya kami tidak punya hubungan apa-apa? Hah.. memikirkan itu membuatku kehilangan motivasi untuk mencari tahu lebih lanjut tentang ini. Aku takut apa yang sedang kukerjakan saat ini akan sia-sia atau yang lebih buruknya lagi membuatku kecewa.


Kekecewaan merupakan perasaan terburuk di dunia ini karena selalu berhasil membawa amarah, sedih, tangis, dan kegilaan. Kekecewaan adalah akar dari segala rasa sakit hatinya dan... Dan aku benci kecewa!  Well.. Sejatinya, semua orang benci dikecewakan.


Menolak untuk memikirkannya, aku melangkahkan kaki meninggalkan gedung rumah sakit dan sesaat kemudian terdengar dering ponselku dari dalam tas pinggang. Tanganku kembali memasang kaca mata hitamku, menerima panggilan,dan berjalan menuju parkiran.


"Kau di mana?" terdengar suara Bambi yang melengking dari seberang.


Kuangkat tangan kiriku untuk lihat jam tangan yang sudah menunjukkan pukul satu lewat lima belas menit. Ah.. Pemeriksaan dan proses konsultasinya benar-benar memakan banyak waktu. Sekarang, hanya tinggal tiga pertemuan lagi dan hubunganku dengan rumah sakit ini akan selesai.


"Aku baru selesai pemeriksaan?"


"Ah? Benarkah? Aku pikir kau tidak akan datang. Bagaimana hasil pemeriksaanmu?"


Aku tersenyum kecil. Bambi-lah yang paling dan selalu mengkhawatirkanku. Walau terkadang dia sangat lambat dalam berpikir, tapi aku sangat-sangat menyayanginya.


"Semua okay. Aku ingin berangkat sekarang. Sambungannya kuputuskan.."


"Okay, bye..."


Aku masuk ke dalam mobil dan menaruh barang-barangku di bangku samping pengemudi. Menyalakan mesin mobil dan melajukannya meninggalkan daerah rumah sakit. Di saat-saat terakhir, aku melirik ke arah gedung rumah sakit melalui kaca spionku. Entah apa yang hendak kuperiksa, tapi tindakanku itu memberikan efek deja-vu yang tidak nayaman bagi diriku.


Aku menyalakan musik dalam volume besar untuk menghilangkan rasa tak nyaman itu dan mengendarai mobilku menuju lokasi pelatihan bela diri boxing. Sesampainya di daerah itu, aku memberikan kartu member kepada penjaga yang mengarahkanku ke parkiran mobil yang tersedia.


Aku membawa botol minum berukuran 2 liter, dengan sepasang sepatu, dan juga tas pinggangku sebelum akhirnya melangkah keluar dari parkiran. Ketika hendak memasuki gedung, aku melakukan pengecekan kartu memberku sekali lagi sebelum akhirnya diperbolehkan masuk.


Saat sudah masuk, aku menemukan bambi, Gerald, dan Meghan duduk di kursi tunggu dengan arah kepala yang tertuju ke tempat latihan dan ketika aku masuk, ketiganya menoleh ke arahku dalam gerakan yang bersamaan.


"Kenapa kalian di sini?"


Ketiganya segera mendesah lega.


"Kami pikir kau mati," kata Meghan dan aku mengangguk kecil dengan perkataannya.


"Sayangnya tidak.. Aku akan ke ruang ganti sebentar.."


"Cepatlah.." kata Bambi dengan senyum manis. Seperti biasa, dia dengan pakaian berbahan dan berbentuk yang sama denganku, tapi dengan warna pink yang mencolok. Dia suka menjadi pusat perhatian.


"Okayy.."


Aku berjalan ke arah ruang ganti dan menyimpan barang-barangku di loker. Memasang sepatu dan membawa serta botol minum denganku. Setelahnya, aku kembali dan bergabung dengan mereka.


"Gerald!" suaraku sedikit meninggi ketika melihat kukunya yang polos, "Ada apa ini?" kedua tanganku memegang tangan kirinya yang bersih dari manikur dan cat kuku. Dulu, walaupun latihan boxing seperti ini, Gerald tetap memasang cat kuku walau tanpa pernak-pernik apa pun. Mataku sekarang terasa asing melihat kukunya yang polos.


"Dokter bilang..." suara Gerald berubah sedih dan dia menarik tangannya dari tanganku, "Aku harus berhenti mempernak-pernik kukuku untuk beberapa bulan ini,"


"Jika dia tetap melakukannya, kukunya bisa-bisa diamputasi karena infeksi," Meghan berbicara dengan nada enteng. Dia memang selalu begitu.


Aku sudah berteman dengan Gerald sejak masih di bangku sekolah dasar dan menyadari sifat girly-nya sejak awal. Di mana dia lebih senang berteman dengan anak-anak perempuan. Dibading bermain robot-robotan, Gerald memilih bermain boneka bersamaku.


Awalnya, itu terasa aneh dan ganjil bagiku saat melihat sifat Gerald, tapi semakin dewasa, aku sadar bahwa tidak semua pria akan terlahir memiliki sifat maskulin dan begitupun dengan wanita yang tidak semuanya terlahir dengan sifat feminim.


Sejak dulu Gerald sangat ahli dalam hal membuat pakaian boneka barbie hingga hobinya tersebut membawanya menjadi designer yang memiliki butik sendiri. Dia benar-benar sukses dan aku senang akannya.


Aku tahu bahwa manikur sama pentingnya seperti pakaian baginya dan pastinya itu membuat Gerald sedih walau dia menyembunyikannya dengan senyum.


"That's okay, Gerald.." kulingkarkan kedua tanganku pada bahunya, "Lebih baik menunggu sedikit lebih lama daripada menyesal jika memaksakan kuku-kukumu yang mungil," hiburku.


"My baby.. Kau membuat hatiku tersentuh," kata dia engan nada ala-ala.


"Oh my... Dia di sini," kulirik Bambi melalui punggung Gerald yang tampak terkejut. Mataku mengikuti arah pandangnya ke depan dan senyumku hilang begitu saja.


"Kenapa si sialan itu ada di sini?" Gerald ikut berbicara.


Tanganku melepas rangkulanku pada tubuh Gerald dan menatap Madison Clayton sedang berlatih di atas ring. Entah kenapa aku bisa terus bertemunya seolah takdir sengaja melakukannya. Tidak di bangku sekolah dasar, menengah pertama, hingga di menengah atas, aku terus-terusan bertemu dia, si perundung sialan yang bersembunyi di balik kekayaan orangtuanya.


"Apa kita mengenalnya?" Meghan justru mengatakan hal seperti ini dan dia benar.


"Yah.. kita tidak mengenalnya," kataku akhirnya.


Kami berempat membelokkan kaki ke arah daerah kosong untuk memulai pemanasan.


"Oi... Oi.. ada 'gagagugu' dengan 'ban-ci' di sini,"


Aku berhenti berjalan saat mendengar nama ejekan itu lagi. Tawanya saat merundungku di zaman sekolah terngiang lagi di kepalaku. Aku ingat jelas bagaimana dia menghasut orang lain agar tidak berteman denganku. Si breng-sek itu. Berkatnya, selama di bangku sekolah dasar dan menengah pertama, orang-orang mengucilkan aku dan Gerald.


"Ayo, Cassie... Jangan memberi kesempatan pada manusia seperti dia memengaruhimu,"


"Dia bukan manusia, Bambi.." geramku dan melangkah maju terus. Aku tidak pernah sekalipun menganggapnya sebagi manusia. Tidak sedetik pun.


"Ah.. Apa si 'gagagugu' menjadi bisu juga? Parah sekali... Dulu tidak bisa bicara dan sekarang tidak bisa mendengar, yah?"


Ada tawa kecil mengikut saat dia berbicara. Tawa pelan, suara bisik-bisik, dan mata iba itu kembali membayangiku setelah sekian lama luka itu itu kukubur dalam-dalam. Bekas luka itu ternyata tidak pernah hilang. Hanya terlupakan sejenak untuk diingatkan kembali oleh mahkluk sialan seperti Madison.


"Hey.. Cassie gagagugu, aku bicara denganmu? Kau tidak ingat aku, teman lamamu?" ada suara lompatan yang menandakan Madison turun dari dalam ring.


"Berhenti, Madison.." Bambi bicara dan dengan keberanian, kuputar tubuhku untuk melihat Madison yang sudah berdiri tidak jauh dari kami. Tangan dilipat dan matanya menatapku dengan tatapan hina.


"Ayolah, bukankah kita dulu teman semasa di bangku menengah atas, Bambi? Hanya saja, aku dengan Gagagugu serta Ban-ci sudah lama berteman sejak dulu-dulu sekali. Kalian tidak mau menyapa teman lama kalian, huh?"


"Ah.. Bambi dan Meghan.. Seandainya kalian tidak terlalu dekat dengan Gagagugu dan ban-ci itu saat semasa bangku menengah atas, mungkin kita bisa menjadi teman yang solid..."


"Apa aku mengenalmu?" akhirnya aku ikut berbicara. Aku tidak mau lagi si breng-sek ini merendahkanku. Mataku melirik ke arah Meghan yang tenang lalu ke arah Gerald dan Bambi yang kelihatan marah.


Madison membuat tatapan penuh keterkejutan, "Ah.. Jadi kau bisa bicara juga? Kupikir kau bisu,"


Lihatlah dia, begitu menyedihkan. Sengaja meninggikan suaranya agar orang lain ikut tertawa. Selalu begitu. Seperti sampah.


"Apa kami mengenalmu?" tanyaku lagi dengan nada penekanan. Seperti yang kuduga senyumnya menghilang. Rasa percaya dirinya akan runtuh dan sebaliknya, rasa amarahnya akan meningkat ketika seseorang berani melawannya.


Aku ingat pernah melawannya hingga babak belur saat di bangku menengah pertama yang membuatku dan Gerald harus pindah sekolah di tahun pertama kami. Padahal dia-lah yang salah, tapi hanya karena dia memiliki ayah yang berpengaruh, dia terselamatkan. Sialnya, aku dan Gerald harus bertemu lagi dengannya di bangku sekolah atas.


"Well.. Apa kau sekarang sudah berani hanya karena kau sudah bisa 'bicara', anak gagap?" katanya dengan nada bengis yang penuh hinaan.


"Cassie.. Ayo pergi. Kita tidak perlu meladeninya," Gerald dan Bambi mengajakku pergi dari sana dengan mengaitkan kedua tanganku pada tangan mereka. Kakiku berjalan sempoyong saat ditarik oleh temanku. Mataku menatap kosong ke depan dan entah mengapa aku seolah bisa melihat wajahku semasa kecil.


Anak pendiam yang kesulitan berbicara. Anak Gagap. Nama ejekan itu kembali terngiang di kepalaku.


Padahal, itu sudah sangat lama sekali...


Padahal, aku hanya kesulitan bicara sampai usia tujuh tahun, tapi ejekan itu terus datang hingga diusiaku yang ke-26 tahun...


Padahal aku sudah berusaha melupakan luka lamaku.


Padahal.... Padahal....


"Aku mendengar desas-desus bahwa sekarang kau serta kakak dan ibumu sedang bekerja di pela-cur-an..."


Keterlaluan!!


Aku menggoyang tubuhku lepas dari Bambi dan Gerald dengan paksa. Mataku menatap marah ke arah Madison yang tersenyum, tanpa rasa bersalah. Semua orang bisa menghinaku, tapi tidak dengan keluarga dan juga temanku.


Tidak.. Tidak akan kubiarkan.


Mataku sekarang berkabut dengan amarah. Dengan langkah lebar dan tanpa peringatan, aku melayangkan pukulan mentah ke arah pipinya dengan kuat hingga kepalanya terlempar ke belakang dan membuat sudut bibirnya lecet. Madison yang tidak terima dengan itu segera berteriak kencang karena marah. Tanpa ragu, Madison membalas pukulanku dengan tangannya yang masih terbalut sarung tinju ke arah perutku.


"No! Cassie!" terdengar teriakan para temanku. Tubuhku terasa hancur lebur hanya karena satu pukulan kuat itu di perutku. Aku merasakan kakiku terasa lemah untuk menahan beban tubuhku. Hanya berselang beberapa detik, pukulan mentah lainnya dilayangkan ke arah wajahku. Begitu keras, tepat pada telinga dan pipiku.


Seluruh duniaku terasa kehilangan gravitasi. Tubuhku terjatuh entah ke arah mana. Mataku kabur dan telingaku berdenging keras. Lalu, hal lain yang kurasakan adalah tubuhku terjatuh dengan keras dalam gerakan lambat. Kepalaku terpukul dengan kuat ke lantai yang keras hingga membuat kepalaku terpental.


Dalam momen itu, dunia seolah berhenti bergerak. Pendengaranku dipenuhi suara-suara dengung yang memekakkan telinga. Tiba-tiba, mataku diterangi oleh cahaya terang. Sangat terang hingga membuat seluruh ruangan menjadi putih. Lalu, aku merasa seolah mataku terbuka lebar dan tubuhku seperti tertarik ke masa lalu. Saat itu juga seluruh kenangan, pengalaman, dan cerita itu berputar-putar dengan cepat bagaikan kaset rusak.


Rasa mual hebat menyerangku ketika gambar-gambar kenangan itu terus berputar berulang kali di depan mataku. Terus.. dan..


"Cassie!" teriakan temanku menyadarkanku dari euforia tadi. Mataku kembali melihat warna. Melihat Bambi dan Gerald yang berteriak panik. Di sisi lain, tidak jauh dariku aku bisa melihat Meghan dan Madison bertengkar hebat. Keributan dalam tempat itu bercampur dengan dengung di telingaku.


"Kepalanya berdarah!!"


"Ambulance!! Panggil Ambulance!!"


Mereka berbohong..


Mereka membohongiku...


***


"Christov?"


"Yah?" Christov melirik sekilas ke arah Clara saat dia tengah menyendokkan daging steak ke dalam mulutnya.


Clara terdiam dan menatap kosong ke makanannya. Dia tidak sedikit pun memiliki keberanian untuk menatap Christov.


"Apa makanannya tidak enak?" tanya Christov sebagai basa-basi dan Clara menggeleng dengan cepat.


Christov tahu bahwa Clara ingin mengatakan sesuatu sejak mereka duduk di bangku restoran. Wanita itu terus-terusan membuka mulutnya seolah ingin mengatakan sesuatu, tapi dia menahan dirinya karena alasan tertentu yang tidak diketahui oleh Christov. Di sisi lain, Christov pun tidak berusaha membantu keadaan wanita itu dan pura-pura tidak tahu tentang situasi Clara yang kesulitan bicara dengannya.


"Sejujurnya..." Clara berucap dengan suara tercekat. Dadanya naik-turun, menandakan dia sedikit kesulitan bernapas. Matanya sesekali menatap Christov dengan tatapan tidak fokus.


Christov menahan diri untuk tidak memberi bantuan pada Clara agar dia memiliki keberanian untuk berbicara. Satu-satunya hal yang ingin dihindari Christov adalah sebuah informasi. Untuk saat ini dia tidak ingin mendapat informasi apa pun sebelum dia bisa mendapat ingatannya sedikit saja.


"Look at me, Christov,"


(Lihat aku.."


Christov menarik napas dan membuangnya perlahan. Kedua tangannya menaruh garpu dan pisau di atas meja. Setelahnya melap sudut bibirnya dengan tissue sebelum akhirnya menatap Clara tepat di matanya yang sudah berkaca-kaca. Dia ingin menangis. Pikir Christov


"Apa kau tidak ingat? Kita sudah berjanji untuk bertunangan, Christov..."


Christov mengepalkan kedua tangannya yang berada di atas paha dengan kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Dia tidak ingin mendengar informasi apa pun untuk saat ini karena dia tidak tahu harus bereaksi apa atas informasi yang dia dapat.


Menjaga wajah datarnya, mata Christov melirik ke arah tangan kiri Clara, tepat ke jari manisnya yang dilingkari oleh cincin putih dengan berlian berukuran sedang. Dia baru menyadari ada cincin di sana.


"Milikmu.." Clara mendorong sebuah kotak beludru hitam kecil ke arah Christov dan dia tahu isi dari kotak itu.


Tanpa ragu, Christov mengambil dan membuka tutup kotak itu. Dia melihat sebuah cincin di sana dengan warna yang sama seperti cincin yang dikenakan Clara. Tangannya menarik cincin itu dari busa untuk meneliti lebih dekat tentang cincin itu. Sekiranya, dia berharap bisa mendapat sedikit saja ingatannya jika melihat cincin itu.


"C&C?" bisiknya ketika melihat ukiran inisial nama di balik badan cincin. Entah kenapa dia merasa insial itu terasa pas di sana. Terasa tidak asing untuknya.


"Christov and Clara..."


Christov mengangkat kepala ke arah Clara.


"C&C itu singkatan untuk nama kita, Christov and Clara..."


****


Miss Foxxy


Ehem.. Jadi begini, sedikit spoiler, di chapter berikutnya adalah cerita tentang apa yang terjadi selama enam bulan belakangan ini. Nah kan yah... Di sini Cassie-kan yang bakal dapat ingatan terlebih dahulu, tapi kalo di chap berikutnya kalau tiba-tiba ada sudut pandang Christov , gpp-lah yah walau pun ingatan yang kembali itu ingatan Cassie. Kalian sadar gk sama covernya? Ada yg gelap dan terang gitu? Baiklah. hanya itu yg hendak disampaikan. Sekian terima gaji. Jangan lupa dukung author. Terimaaci