
Happy Reading
****
"Jadi, kau datang malam-malam begini hanya untuk memberitahuku tentang hal itu?" kata Christina dengan kedua tangan dilipat di dada dan kaki silangkan dengan gaya elegan. Saudari Christov tersebut sudah mengenakan gaun tidur satin berwarna ungu dengan penutup mata warna senada bertengger di atas kepalanya.
Christov berdehem kecil, merasa gugup dengan kekecewaan di wajah Kakaknya tersebut.
"Do whatever you like*. Itu hidupmu, bukan hidup Mama atau hidup orang lain. Kau yang menjalaninya. Kesalahanmu sendiri karena tidak pernah melawannya sedari awal dan hanya pasrah saja atas apa yang dikatakan Mama. Pasti kemarahannya padamu melebihi kemarahannya padaku karena aku memang sudah sering melawan perkataannya sejak belia.."
(*Lakukan apapun yang kau suka)
"Well.. Aku baru memiliki keberanian untuk bicara setelah bertemu Cassie.."
"Mama memang pantas kehilangan izin mengajarnya jika kejadiannya benar seperti itu. Ckckc.."
"Kau tidak merasa aneh?" tanya Christov lagi.
"Aneh apanya? Aku tidak merasakan apa pun karena itu tidak ada urusannya denganku. Cassie tak salah dan Ibu yang salah. Hah.. Entah kapan aku bisa memiliki kesempatan membawa Mama ke psikiater. Kupikir Mama mengindap gangguan psikologis..."
Dia mengangguk kecil, dia ikut merasa aneh membicarakan Ibu mereka seperti ini. Well.. Bagaimanapun, Theresa adalah Ibu kandung mereka berdua dan rasa cinta itu masih tetap ada walau tersamarkan oleh rasa marah.
"Jad.." Christina melepas kakinya yang menyilang, "Hanya itu? Kau hanya ingin memberitahuku tentang masa lalu antara Cassie dan Mama?"
Christov mengangguk, "Aku hanya ingin memastikan keadaaan yang ada agar tidak terjadi kesalahpahaman antara keluarga kita.."
"Papa sudah tahu?"
"Sudah.."
"Apa yang Papa katakan?"
"Well... Papa sudah tahu kejadian itu sedari dulu. Dia cukup terkejut tentang fakta bahwa Cassie adalah korban yang pernah terlibat dengan Mama. Papa tahu bahwa semua itu adalah kesalahan Mama dan merasa tak keberatan jika aku berkencan dengan Cassie. Justru, Papa merasa salut karena Cassie mau berkencan denganku..."
"Sudah tentu. Di mana lagi kau menemui manusia seperti dia? Dia menerimamu tanpa mempermasalahkan masa lalu.. Huh.. Aku berharap Mama punya seperempat saja sifat baik Papa.."
"Aku juga..."
"Well.. Pulanglah. Sudah hampir pukul 1 pagi.. Aku benar-benar ingin menghabisimu hingga babak belur karena mengunjungiku di waktu seperti ini.."
Christov berdiri dan mereka berdua berjalan menuju pintu keluar.
"Apa kau belum punya kekasih?" tanya Christov.
"Belum."
Christov tahu bahwa saudarinya tersebut adalah primadona di kota ini. Semua orang mengenalnya dan banyak pria yang mengejarnya. Hal yang membuat dia bingung, kenapa saudarinya tak pernah mau menjalin sebuah hubungan.
"Kenapa?"
"Karena aku terlalu mencintai diriku sendiri."
"Atau apa kau penyuka sesa--"
"Bukan.." potong Christina seraya membuka pintu keluar, "Aku bukan penyuka sesama jenis, brother. Sekarang pergilah.."
"Uhm.. Okay. Bye, Christina.."
"Yeah.. Yeah.. Kau tahu password untuk keluar, bukan?"
"Yah.."
Christov memutar tubuh dan sesaat kemudian, dia mendengar suara pintu yang ditutup dengan kasar. Nampaknya, Christina sengaja melakukannya untuk menumpahkan rasa kesalnya pada Christov yang datang pada jam seperti ini. Dia bisa saja melakukannya besok atau di hari lain, tapi Christov tak bisa. Dia tidak bisa menahan dirinya lagi untuk menjelaskan tentang Cassie pada keluarganya. Christov ingin semua masalahnya cepat selesai. Sekarang, hal yang perlu dia pikirkan tinggal Ibu dan Clara.
"Bagian tersulit," gumamnya pelan seraya menguap kecil. Dia keluar dari gedung penthouse Christina menuju parkiran. Masuk ke dalam mobil dan melajukannya keluar dari daerah tersebut. Christov kembali menguap dan sekarang, perutnya ikut bergemuruh.
Sejak kejadian tak terduga tadi siang bersama Clara, dia belum sempat makan apa pun. Satu-satunya makanan yang masuk ke dalam tubuhnya adalah sarapan pagi tadi. Dia merasa capek secara batin dan jasmani. Ingin rasanya berendam di air panas seraya menikmati makanan berkuah.
Christov menguap lagi dan menghentikan mobilnya pada restoran yang masih terbuka. Masuk, duduk menunggu pesanan, dan makan berupa sup iga, kacang polong, dan roti begel. Sembari menikmati makanannya, Christov memeriksa ponselnya yang dipenuhi pemberitahuan yang belum di baca, seperti email pekerjaan dan semacamnya. Namun, hal yang pertama sekali dilakukannya adalah memeriksa pemberitahuan dari Cassie. Ada sekitar 10 pesan dan 5 panggilan masuk dari Cassie.
-Hubungi aku sesegera mungkin setelah semua selesai- 15.00
-Sudah selesai, belum?-16.30
Panggilan masuk (1) 17.00
-Christov, aku akan tidur malam ini di tempatmu-18.00
-Kau sudah makan? hei?-19.00
Panggilan masuk (2) 20.00
-Sialan.. Kenapa tak kunjung menerima panggilan dariku?- 20.02
-Apa kau masih hidup? Erghh!-20.30
Panggilan masuk (3) 21.00
-Christov.. Nyalakan ponselmu! Argh!-21.00
-Jika sampe pukul 11 malam kau tak kunjung menyalakan ponselmu juga, kita putus-21.30
Panggilan masuk (4) 22.00
-Ayolah.. Apa terjadi sesuatu? Kau membuatku khawatir...- 22.30
-Christov.. Aku tak bisa tidur.. Kenapa telepatiku tidak mempan padam?!-23.00
Panggilan masuk (5) 00.00
-Yaps... Tengah malam dan aku tak kunjung menerima informasi apa pun darimu. Jangan sampai kau selingkuh dengan Murray sialan itu atau kubotak kepalamu dan dia- 00.01
Christov tertawa kecil membaca pesan tersebut lalu memeriksa jam pada ponsel yang sudah menunjukkan pukul 2 dini hari. Cepat sekali. Pikirnya. Dia ingin menghubungi Cassie, tapi nomor wanita itu tidak aktif lagi sejak sejam yang lalu. Christov buru-buru menyelesaikan makanannya dan pergi dari sana untuk pulang ke apartemen.
Sesampai di apartemen, Christov melepas sepatunya dan berjalan dengan langkah cepat menaiki anak tangga menuju kamarnya. Dibukanya pintu kamar dan masuk dengan langkah perlahan menuju ruang ganti. Dia mandi dan berganti pakaian. Setelahnya, dia berjalan ke atas ranjang bersama Cassie yang sudah tertidur. Christov tak bisa melihat wajah Cassie dalam cahya gelap, tapi mendengar dengkuran halus wanita itu membuat dia yakin bahwa Cassie sudah tertidur sangat lelap.
"Maafkan aku.." bisiknya seraya bergabung masuk ke dalam selimut bersama Cassie, "Mendekatlah.." kata dia lagi dan mendorong diri semakin dekat pada kekasihnya tersebut agar dapat melingkarkan tangannya.
"Mmm.." Cassie bergumam dalam tidurnya dan mendekatkan diri pada dada Christov, "Christov?" panggilnya dan itu membaut Christov panik karena takut telah membuat wanita itu terbangun. Namun, dengkuran halus itu terdengar lagi, menandakan Cassie hanya mengingau. Christov tersenyum dengan mata terpejam, hidungnya menghirup aroma tubuh Cassie yang nikmat.
"Yeah.. I'm home, baby.. I'm home*.."
(*Aku pulang..)
****
"Jam berapa kau pulang?" tanya Cassie saat keduanya sedang berpakaian untuk bersiap berangkat kerja.
Christov yang tengah mengancing kemejanya menatap Cassie yang juga melakukan hal yang sama.
"Setengah tiga pagi.."
"Larut sekali.. Harusnya kau tidak menonaktifkan ponselmu. Itu membuatku uring-uringan, sialan.."
"Aku-kan sudah memberitahumu sebelumnya tentang itu.."
"Tumben pakai pakaian seperti itu," karena biasanya, pakaian Cassie hanya berupa pakaian informal semacam kaos, blazer, dan jeans. Christov tetap menunggu jawaban Cassie sembari menatap lekukan tubuh bagian bawah Cassie yang tercetak jelas oleh rok span.
"Rapat dengan klient penting kami dari Eropa jadi kami harus pakai pakaian formal untuk hari ini.."
"Ketat sekali.." komentar Christov seraya mengambil posisi duduk di atas ranjang setelah memakai celananya. Well.. Dia sudah siap berpakaian. Pakaian Christov memang selalu yang paling sederhana ke mana pun dia pergi. Hanya berupa kemeja lengan panjang dengan blouse di masukkan ke dalam celana panjang. Lalu dipadu dengan gesper, jam tangan, sepatu, dan tatanan rambut yang rapi.
"Memang model roknya seperti ini," kata Cassie dengan nada acuh tak acuh sembari sibuk memoles wajah dengan riasan di depan cermin. Christov menyipitkan mata, melihat posisi Cassie yang sedikit membungkuk, membuat arah pantat wanita itu tertuju ke arahnya.
Apa jadinya jika pria lain duduk di posisiku sekarang? Pikirnya dan tiba-tiba merasa terganggu akan itu.
"Aku harap bisa mendengar semua cerita tentang apa yang terjadi kemarin saat ini juga, tapi nanti saja. Waktunya kurang jika dilakukan sekarang. Jumpai aku di apartemenku setelah pulang nanti. Okay?"
"Rok-nya tidak cocok untukmu.." komentar Christov dan mengabaikan ucapan Cassie yang sebelumnya. Wanita itu buru-buru memutar kepala untuk menoleh ke arah dia dengan tatapan tajam.
"Baru kali ini ada yang bilang aku tidak cocok dengan rok span.."
Christov memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana dan mengangkat bahu dengan gerakan acuh, "Memang iya kok.. Orang-orang pasti sudah berbohong karena mengatakan kau cocok memakai itu.."
Cassie berdecak lidah dan kembali memutar kepala ke arah cermin, "Aku pakai karung goni saja masih tetap nampak stylish.. Jujur saja, kau hanya tak suka aku pakai pakaian seperti ini-kan?"
Christov memutar lehernya, berusaha mencari penyanggahan atas perkataan Cassie yang benar. Well.. Dia memang tak suka.
"Tidak juga.." sanggahnya dengan suara kalem, "Kau hanya lebih cocok dengan celana, itu membuat kakimu terlihat lebih panjang. Pakai rok span membuatmu kelihatan pendek.."
Cassie memutar tubuh ke arah Christov, "Pendek? Wanita dengan tinggi 175 cm kau sebut pendek?"katanya dengan gaya tangan dramatis lalu kembali menatap ke arah cermin setelah memutar matanya dengan jengkel.
Christov berdehem dan matanya menatap bokong Cassie lagi, "A.Aku.." suaranya tiba-tiba serak dan parau, Christov buru-buru berdehem, untuk mengembalikan suaranya tersebut, "Aku bilang kau jadi kelihatan pendek, bukan berarti maksudnya aku mengatakan kau pendek..."
"Hm.. Terserah. Aku akan tetap pakai ini dan berhentilah menatap pantatku, Christov sebelum air liurmu keluar.."
Christov buru-buru memindahkan arah tatapannya ke sembarangan arah dan itu malah memuat tatapannya bertemu dengan tatapan Cassie di cermin. Itu membuatnya sedikit terkejut, tapi dengan cepat mengendalikan ekspresi wajahnya sendiri. Cassie tersenyum miring.
"Ckck.." Cassie berdecak lidah dan memasukkan riasannya ke dalam tas.
"Siapa yang tak akan melihatnya jika kau posisi tubuhmu seperti itu?" Christov melakukan pembelaan, "Aku hanya khawatir orang lain akan melihatinya juga.."
"Astaga.. Sudahlah. Aku tak mau berdebat di pagi hari ini karena rok. Ayo berangkat kerja
Christov mendengus dan berdiri.
"Yah ampun.. Jangan merajuk begitu..."
"Aku tidak merajuk.." katanya seraya berjalan keluar dari kamar, meninggalkan Cassie.
"Tunggu.." panggil Cassie dan berlari kecil mengikutinya yang sudah menuruni tangga, tapi Christov malah semakin mempercepat langkahnya meninggalkan Cassie.
"Hey.. Sialan! Kenapa kau lari?" wanita itu setengah berteriak dan berusaha melompati dua anak tangga sekaligus seperti yang biasa dia lakukan, tapi tidak bisa karena tengah menggunakan rok span. Jika dia memaksakan diri untuk melakukannya, rok span tersebut dipastikan akan robek.
"Aku tak lari.. Kau-lah yang lambat. Bukannya kau tinggi? Harusnya langkah kakimu lebar.." seru Christov dengan nada sindiran. Dia sudah berdiri di depan lemari sepatu.
"Breng-sek.. Kau mengejekku, yah? Kau tahu aku mengenakan rok span, sialan.."
"Hm..." Christov memicingkan mata dan melihat Cassie hampir sampai. Dia buru-buru memasukkan sepatu pantofel kirinya dan melarikan diri dari sana.
"Kenapa kau melarikan diri?" teriak Cassie yang tengah memakai sepatu heels warna hitam.
"Aku akan pergi duluan. Jangan lupa tutup pintu. Bye.. I love you, Cassie."
"Hey!" teriak Cassie, tapi Christov tak mengindahkannya dan tetap melangkah pergi keluar.
"Apa kau akan begini hanya karena rok?! Dasar pencemburu sialan!"
Christov menutup pintu dan setelahnya menarik napas panjang, "Yapss.. Aku pacar pencemburu sialan, Cassie.." ucapnya dan melangkah pergi dari sana dengan bayangan pantat Cassie di kepalanya.
****
-Semangat bekerja, babe. Aku akan memasak makanan enak untukmu malam ini-
Cassie membaca pesan singkat dari Christov dengan wajah datar. Si sialan ini. Pikirnya.
-Jadi kau marah hanya karena rok span sialan ini?- kirimnya pesan lain, kembali mengungkit apa yang terjadi pagi tadi.
Dalam hitungan detik, pesannya tersebut telah dibalas oleh Christov.
-Yah.. Aku tengah berusaha memperkirakan sudah berapa banyak pria yang kepincut dengan bokongmu..-
"Si sialan ini.." geram Cassie.
-Aku akan membantumu menghitungnya sesampai di apartemen-
-Hmm..-
-Astaga... Sudahlah. Aku ingin kembali bekerja..-
Tepat saat Cassie mengirim pesan tersebut, telepon pesawat yang berada di atas meja kerjanya berdering. Segera dia menerima panggilan tersebut.
"Halo?"
"Halo Miss De Angelis.." sapa Lina dari seberang, "Saya mendapatkan surat khusus untuk anda, Miss."
"Surat kerja? Surat apa?"
"Pengirimnya dari Rumah Sakit Los Angeles atas nama Clara Murray. Ditujukan untuk Anda, apakah saya antarkan sekarang suratnya untuk anda periksa atau--"
"Antarkan sekarang.." Cassie menutup panggilan dan wajahnya berubah ke ekspresi keras setelah mendengar nama Clara Murray disebutkan. Matanya menatap tajam ke arah pintu, mewanti-wanti kedatangan Lina. Ketukan terdengar dan Cassie langsung berteriak masuk pada ketukan yang ketiga. Lina muncul dari balik pintu dengan sebuah amplop putih di tangan kanannya.
"Ini suratnya.." kata Lina seraya menaruh amplop putih yang bagian atasnya tercetak nama Clara lengkap dengan berbagai embel-embelnya. Profesor. Batin Cassie. Dia sudah menjadi Profesor di usia muda.
"Saya juga baru memeriksa email dan menemukan satu surel dari Clara Murray pagi ini.."
"Kirimkan padaku," kata Cassie dengan suara kaku.
"Baik, Miss. permisi.."
Lina pergi dari sana tanpa basa-basi yang lebih lama dan meninggalkan Cassie yang tengah merobek ujung amplop agar terbuka. Dari mana dia tahu tentangku? Pikirnya seraya tetap sibuk dengan amplop tersebut. Christov? Apa Christov yang memberitahunya. Apa? Apa yang dia inginkan dariku?
"Di benar-benar wanita pintar kaya sialan.." kata Cassie pelan ketika akhirnya membuka lipatan kertas tersebut. Bayangan wanita berambut pirang dengan tampilan necis itu membayang di kepalanya.
"Berapa usianya? Bisa-bisanya dia sudah menjadi profesor..." suaranya mendadak mengecil melihat isi kertas tersebut. Sebuah surat undangan yang diketik dengan sangat formal. Cassie tidak akan membaca dari awal dan langsung mencari inti dari surat tersebut. Bola matanya bergerak ke kanan-kiri, mengikuti arah bacaan surat informal tersebut dan menyadari pemilihan kata dalam surat tersebut. Pemilihan katanya terkesan memaksa.
"Apa? Bertemu? Apa maksudnya ingin bertemu denganku?!"
Dia melanjutkan membaca surat itu dan menemukan Clara ingin bertemu dengannya sore ini sehabis jam kerja di sebuah restoran, bahkan wanita itu meninggalkan nomor ponsel pribadinya di sana. Orang mana? Orang mana yang membuat undangan dengan kata-kata paksaan seperti ini?! teriak Cassie dalam pikirannya setelah selesai membaca surat tersebut. Dan lagi, apa yang diinginkan wanita sial ini darinya?
"Sial.. Nampaknya wanita ini adalah wanita gila.."
****
Miss Foxxy
Mari ikutan giveaway... Jangan lupa dukung author yah😅 I love you