
Happy Reading
***
Christov berdiri di depan gerbang akses menuju penthouse Christina sembari menempelkan telepon genggamnya di telinga. Dia menunggu di sana dengan tatapan kosong. Menunggu dan menung--
"Ada apa? Kenapa menghubungiku?" tanpa sapaan terlebih dahulu, Christina menyerangnya dengan berbagai pertanyaan sesaat sambungan ponsel tersambung. Christov bahkan tidak merasa heran atau terkejut lagi akan sifat saudarinya tersebut.
"Aku berada di gerbang depan gedung penthouse-mu.."
"Jadi?"
"Boleh aku masuk?" Christov melihat ke arah langit yang mendung, "Hujan sepertinya akan datang.."
"Untuk apa kau datang ke mari, huh?"
"Mengunjungi Nugget dan Salmon. Apa kau sibuk atau kau punya kekasih gelap di sana?"
"Ah.. Sial. Menyusahkan saja. Aku akan menyuruh penjaga agar gerbangnya di buka. Parkirkan mobilmu di parkiran nomor 19."
"Thank you,"
"Whatever.."
Sambungan ponsel diputus oleh Christina dari seberang dan dengan itu, Christov berjalan masuk ke dalam mobilnya kembali. Saat Christov sudah menemukan parkiran nomor 19 di lantai basement, dia menemukan saudarinya itu tengah berdiri di sana. Menunggunya dengan wajah masam dan tangan terlipat di dada. Jelas saudarinya itu kesal. Sejujurnya, Christina selalu kesal setiap kali Christov melihatnya.
"Hai.." sapa Christov sesaat keluar dari mobil.
Christina memutar mata dan berjalan meninggalkannya menuju lift, "Apa yang kau lakukan di sini? Aku tidak suka akhir pekanku diganggu oleh siapa pun."
Christov berdehem dan memilih tidak menjawab saudarinya tersebut. Keduanya tetap diam hingga akhirnya sampai di unit penthouse milik Christina. Ini bukan kali pertamanya Christov mengunjungi kediaman saudarinya tersebut, tapi dia tetap terpukau akan furniture dan bentuk bangunan unit penthouse milik Christina. Perpaduan gaya klasik dan modren menyatu menjadi satu. Mewah, modren, dan sangat elegan. Tempat tinggalnya benar-benar menjelaskan ciri khas saudarinya. Christina benar-benar sangat kaya.
Saat Christov melepas sepatunya, suara Nugget dan Salmon terdengar dari dalam ruangan dan beberapa saat kemudian, kedua anjing itu muncul dari balik dinding dan segera melompat menghampiri Christov. Tubuhnya terjatuh ke lantai dan gelak tawa menghiasi wajah Christov saat kedua anjing itu menjilati wajahnya. Tertawa lepas seperti anak kecil.
"Oh.. Kalian merindukanku, huh?" ujarnya seraya memeluk kedua binatang itu di dalam lengannya, "Huh.. Sangat lembut. So fluffy.."
"Aku ingin minum teh. Kau mau?" tanya Christina.
Christov mengangguk kecil lalu bangkit berdiri dari lantai. Christina berlalu dari tempatnya menuju dapur dan Christov berjalan ke arah ruang tamu dan melemparkan tubuhnya ke atas sofa yang empuk berama Nugget dan Salmon.
Christov menikmati waktunya bermain bersama kedua anjing itu sembari menunggu kedatangan Christina. Tidak berapa lama kemudian, wanita itu datang dengan nampan yang berisi teko serta cangkir yang nampak antik dan sepiring cookies.
"Teko yang bagus," komentar Christov saat Christina menuangkan teh ke dalam cangkir tersebut.
"Tentu saja karena ini milik bangsawan Eropa. Hati-hati saat menggunakannya karena aku membelinya dengan harga yang fantastis,"
Christov mengangguk kecil, "Yeah, tentu.. Thank you.."
Keduanya menikmati teh dalam diam hingga akhirnya Christina menaruh cangkir teh-nya kembali ke atas meja lalu menatapnya dengan tatapan penuh penghakiman. Satu alisnya di naikkan dan kedua tangan terlipat di depan dada.
"Jadi, kenapa kau datang ke mari?" selidiknya.
Christov menaruh cangkirnya dengan hati-hati lalu mengelus-elus bulu Salmon yang tengah bermain dengan mainannya.
"Sudah kubilang aku ingin bertemu dengan Nugget dan Salmon."
"Alasan klasik. Beritahu saja aku kenapa? Kau berkelahi dengan isterimu?"
Dia hanya bisa tersenyum tipis mendengar nada penuh ejekan dari Christina, "Aku sedang tidak ingin membicarakannya.."
"Sudah kuduga kalian akan berkelahi.. Saat Mama dan Clara akhirnya menyerah padamu, kini yang bermasalah ada pada kalian berdua.. Sungguh kisah cinta yang melelahkan dan memuakkan.."
"Mama? Dia menyerah? Clara juga? Ah.. Apa Mama sudah baikan? Aku tidak menghubunginya sejak kepulanganku ari rumah sakit," tanyanya bertubi-tubi dan mengabaikan kalimat terakhir Christina yang menyakitkan hati.
Christina mengangkat kedua bahunya dengan gerakan acuh tak acuh, "Dia tidak sakit apa pun,"
"Apa maksudmu?"
"Mama tidak sakit, Christov. Itu hanya tipu muslihatnya untuk menghasutmu menikahi Clara dan yang paling buruk adalah, Clara yang menyarankan hal tersebut. Mereka benar-benar sudah kehilangan akal sehat. Sudah kuduga bahwa di dunia ini banyak orang sin-ting.."
Christov tidak merasa terkejut mendengar hal itu karena Ibunya sudah terlampau sering melakukan hal di luar nalar demi mewujudkan keinginannya. Dia malah bingung harus bereaksi apa setelah mendengar perkataan Christina.
"Aku tidak tahu harus mengatakan apa pun,"
"Tidak perlu merasa terkejut karena kita berdua tahu bahwa Mama memang sudah kehilangan akal sehatnya sejak dulu. Aku tidak heran lagi dengan sifat gilanya itu,"
"Jangan berbicara seperti itu. Mama tetaplah keluarga yang sudah merawat kita berdua.."
Christina tertawa kecil lalu satu sudut bibirnya naik ke atas membentuk senyum miring, "Dia bukan merawat, Christov, tapi memelihara kita seperti hewan ternak.."
Christov memutuskan kontak matanya dari milik Christina. Huh.. Sampai sekarang pun, dia selalu merasa was-was melihat tatapan tajam dan datar dari Christina. Christov selalu berpikir jika suadarinya itu semacam sosiopath. Semua orang selalu takut menatap Christina maka dari itu dia tidak pernah berkencan seumur hidup.
"Dia menganggap kita sebagai hewan ternak yang bisa dia perah kapan pun."
"Mama tidak menganggap kita begitu. Yeah.. aku tahu Mama selalu membuat posisi kita berdua kesulitan,tapi aku yakin bahwa Mama menyayangi kita berdua sebagai anak-anaknya.."
"Jangan naif, Christov. Usiamu sudah hampir kepala tiga. Sudah seharunya kau bisa membedakan mana itu kasih sayang dan obsesi.. Mama selalu terobsesi membuat segalanya sesuai standar yang dia miliki.."
"Baiklah.. Baiklah.. Aku akui aku adalah pria dewasa yang masih naif," kata Christov dengan nada jengkel. Dia kembali meraih cangkir teh-nya. Awalnya dia datang ke mari karena merasa tertekan sendirian di apartemennya. Christov pikir dengan berkunjung ke kediaman Christina akan membuat suasana hatinya lebih baik, tapi nyatanya?
"Whatever.. Aku pikir Mama dan Papa akan bercerai,"
Namun, tangannya yang sudah memegang cangkir teh itu berhenti bergerak dan kepalanya diangkat perlahan untuk melihat wajah tanpa emosi dari Christina. Terkadang dia membenci saudarinya itu karena Christov tidak pernah mampu membaca emosi Christina. Dia tidak bisa menebak apa yang sedang saudarinya itu pikirkan. Apakah Christina serius dengan perkataannya itu? Atau dia hanya bermain-main saja?
"Dari mana kau tahu?" Christov menaruh kembali cangkir tehnya ke atas meja.
Christina mengangkat kedua bahunya dalam gerakan acuh lagi, "Aku mengunjugi rumah kita kemarin dan tidak menemukan Mama di sana. Pelayan bilang Mama sudah tidak pulang ke rumah selama seminggu lebih."
Christov menghela napas panjang, "Wow.. Aku tidak tahu harus bereaksi apa-apa.."
"Tidak perlu bereaksi apa-apa. Sejatinya keluarga kita sudah hancur sejak dulu, Christov. Kita hanya berpura-pura baik-baik saja. Aku sudah menebak bahwa perceraian Papa dan Mama akan terjadi. Buatku sih tidak masalah.. Toh aku benar-benar tidak peduli pada mereka. Keluarga kita hanya berpura-pura baik-baik saja saja.."
Berpura-pura baik-baik saja.. Yah.. Keluarganya memang berpura-pura di depan banyak orang agar membuat mereka iri dengan keharmonisan palsu keluarganya. Kelurganha berpura-pura demi membuat orang-orang cemburu dan salut pada mereka. Nyatanya, keluarga Christov benar-benar hancur dan jauh dari kata harmonis.
"Apa kau juga berencana bercerai dengan Cassie?"
Christov tersadar dari lamunannya sesaat mendengar kata-kata itu dan menatap Christina dengan tatapan terkejut, "Tentu saja tidak," sanggahnya dengan suara tinggi.
"Lalu, apa yang kau lakukan di akhir pekan seperti ini di tempatku? Bukankah seharusnya kalian berdua disibukkan untuk mengumumkan pernikahan kalian, huh? Atau setidaknya berbulan madu bersama?" katanya dengan nada penuh cemooh.
"Bukan urusanmu," jawab Christov dengan nada kasar, "Dia sibuk bekerja dan aku bosan sendirian di apartemenku," bohong Christov. Sejujurnya, dia datang ke mari karena kesepian dan pusing memikirkan kelanjutan hubungannya dengan Cassie.
"Well.. Okay.. Okay. Terserah padamu. Kau tahu? Kau tidak pernah pandai berbohong... Aku akan kembali bekerja. Jika kau lapar, makan saja. Jika kau ingin menginap, gunakan kamar yang berada di lantai bawah," dia bangkit berdiri, "Ah.. Aku punya sesuatu untukmu,"
Christov melirik saudarinya itu tengah merogoh sesuatu dari dalam jaket hoodie-nya.
Dengan cepat ekspresi wajah Christov berubah. Matanya menatap marah ke arah kartu nama yang Christina taruh di atas meja lalu menatap kembali ke arah Christina yang terlihat sepele.
"Sudah kubilang kami tida akan bercerai. Kami hanya menginginkan ruang sendiri untuk berpikir..."
"Tidak ada yang tahu tentang masa depan, Christov. Simpanlah untuk berjaga-jaga," katanya dengan acuh, "Kau bisa menggunakan namaku saat bertemu pengacara itu agar kau diberi diskon," dia membawa serta nampan itu pada kedua tangannya sebelum akhirnya memutar tumit untuk meninggalkan Christov yang nampak marah. Yah dia marah karena sifat acuh dan sepekan Christina. Bagaimana bisa dia mengatakan hal seperti itu dengan santainya? Sebenarnya, apakah Christina mendukung hubungannya dengan Cassie atau tidak?
"Christina?" panggil Christov tanpa menoleh ke arah saudarinya tersebut. Tatapannya tertuju ke arah kartu nama tersebut dengan kedua tangan yang terkepal kuat di kedua sisi tubuhnya.
"Yah?"
"Apa kau pernah sekali saja menganggapku sebagai keluarga?" dia akhirnya menoleh ke arah Cristina, "Atau kau juga hanya berpura-pura bahwa aku adalah keluargaku?"
Christina menatapnya dengan tatapan malas, "Kenapa kau peduli dengan jawabanku, huh?"
"Karena aku menganggapmu sebagai keluargaku. Aku menganggapmu sebagai saudariku," Christov menarik napas dan memejamkan mata untuk berusaha menguasai emosinya sendiri, "Aku sendirian, Christina. Aku selalu merasa sendirian karena aku tidak punya siapa pun yang bisa kupercayai.."
"Hey, Christov?" panggilnya dengan tawa remeh seraya menaruh nampannya kembali ke atas meja. Kedua tangannya di taruh pada pinggang lalu menatap Christov dengan tatapan merendahkan.
"Kau benar-benar naif, yah? Semua manusia memang terlahir untuk sendirian, Christov. Kekasih, anak, pernikahan, keluarga, dan cinta adalah omong kosong karena semua itu akan hilang dan akan meninggalkanmu sendirian.."
"Cassie bukanlah omong kosong bagiku Pernikahanku dengan dia bukanlah omong kosong seperti yang kau katakan. Kenapa kau memberikan kartu sialan itu seolah pernikahanku hanyalah omong kosong?" tanya Christov dengan nada berapi-api.
"Yeah.. Okay.. Pernikahanmu bukan omong kosong, tapi kau melupakannya. So sad.. Menyedihkan, bukan? Kau berkata pernikahanmu bukan omong kosong, tapi sialnya kau melupakan pernikahan dan isterimu sendiri..."
Christov melipat bibirnya membentuk garis keras dan menggeleng-gelengkan kepalnya kecil. Dia berpikir bahwa kata-kata seperti itu tidak sepantasnya diucapkan karena itu menyakiti perasaan Christov. Hatinya semakin sakit saat kata-kata itu masalah diucapkan oleh saudarinya sendiri yang ikut menghadiri pernikahannya.
"Kau tidak pernah menganggapku sebagai saudaramu, bukan?" tanyanya dengan nada rendah.
"Kau mungkin berpikir bahwa aku wanita ja-lang sialan yang tidak punya hati karena aku tidak pernah peduli padamu, bukan? Sebenarnya aku benci mengatakan ini, tapi coba aku bertanya hal yang sama padamh. Kapan kau pernah ada untukku, Christov?"
Christov menoleh lagi ke arah Christina dengan tatapan tajam.
"Kapan kau pernah ada untukku, huh? Aku yang membantu menyakinkan Papa agar kau bisa duduk di bangku kuliah dengan jurusan Arsitektur yang kau idam-idamkan. Aku juga yang membantumu membangun bisnismu. Aku juga membantumu memasarkan bisnismu. Aku juga yang menolong hubungan sialan-mu itu. Aku selalu membantumu, Christov, tapi sayangnya kau tidak pernah menyadari itu. Kau tidak menyadarinya karena kau adalah anak aneh sialan yang selalu berpikiran bahwa kau sendirian di dunia ini!" kata Christina dengan nada berapi-api yang membabi buta.
"Kau takut ditinggalkan orang lain, tapi kau sendiri tidak mau menerima orang lain dalam hidupmu! Kau selalu bertingkah bahwa kau sendirian! Beri tahu aku berapa banyak teman yang kau miliki seumur hidup, huh? Beritahu aku berapa banyak wanita yang pernah kau cintai dengan tulus? Kau mengencani puluhan wanita-wanita malang itu lalu mencampakkan mereka ketika kau bosan! Apakah kau pernah menolongku sekali saja, Christov?! Kau tahu jelas kapan aku melewati masa tersulit di hidupku dan kau tidak pernah ada! Kau tidak pernah ada untukku, Christov. Kau tidak pernah menolongku sekali pun"
Christov tanpa sadar menahan napasnya dan dia benar-benar kehilangan kata-katanya sendiri. Dia tahu bahwa saudarinya itu adalah wanita pemarah, tapi dia belum pernah melihat kemarahan Christina yang seperti ini. Tidak pernah. Bahkan kemarahan Christina membuat Nugget dan Salmon menunduk ketakutan. Namun, hal yang membuat Christov kehilangan kata-katanya sendiri juga karena perkataan Christina yang bagaikan tamparan keras untuknya. Tamparan yang sangat keras yang membuatnya tersadar bahwa dia adalah manusia seperti itu.
"Yah.. Yah... Aku akui kau pria baik, Christov. Pria baik yang sangat sempurna dari segi apa pun. Pria tampan yang membuat siapa pun tergila-gila padamu. Namun, kau adalah pria berhati dingin yang tidak peka! Sangat tidak peka karena kau sangat egois! Kau sangat egois! Beruntunglah dirimu karena ada sosok seperti Cassie yang bisa mencintaimu dengan tulus, breng-sek. Aku yakin kau bertengkar dengannya dan kau yang menimbulkan pertengkaran, bukan?"
"Aku tidak tahu perasaanmu karena kau tidak pernah memberitahuku, Christina. Kau juga tidak pernah menerima orang lain masuk ke dalam kehidupanku karena kau membangun tembok tak kasat mata. Aku tidak membantumu karena kau tidak suka dibantu," Christov berdiri, "Aku ingin menolongmu saat masa-masa tersulitmu. Aku datang saat itu... Aku datang dan kau berkata bahwa itu bukanlah urusanku! Aku juga sama! Aku selalu ingin membantumu, tapi kau tidak pernah mau menerima bantuan apa pun dariku dan dari orang lain! Kau menutup diri dari dunia! Kau berbicara seolah-olah hanya aku yang jahat di sini? Kau juga jahat, Christina. Sangat jahat, tapi aku tetap menyayangimu sebagai keluargaku...."
Keduanya saling bertatapan dengan tatapan yang tidak terbaca. Dada naik-turun dengan cepat seiring dengan detak jantung yang berdegup kencang. Christov tersadar bahwa itu adalah kata-kata terpanjang yang pernah dia ucapkan pada Christina dan begitu juga sebaliknya. Perkataan Christov mengalir begitu saja dan dia menumpahkan seluruh keluh kesahnya terkait saudarinya yang keras kepala tersebut.
Dia juga tersadar bahwa keluarganya memang benar-benar sangat rusak. Saat Christov berpikir bahwa saudarinya itu jahat dan tidak peduli padanya, tapi ternyata Christina juga memikirkan hal yang sama terhadapnya. Sejatinya, seluruh anggota keluarganya adalah orang-orang jahat yang lebih mementingkan urusan masing-masing. Rusak. Hubungan keluarga mereka benar-benar rusak.
"Fuvk, Christov. Fvck.. Sudahlah, sialan.. Pada akhirnya semua orang di keluarga kita adalah orang jahat, bukan begitu?"
"Papa tidak jahat," jawab Christov dengan nada pelan dan itu mengundang gelak tawa dari Christina. Christov pun tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum
"Whatever.. Kita impas, Christov. Kita impas. Aku berpikir kau bocah sialan yang naif dan kau berpikir aku adalah wanita yang jahat. Kita impas.. Aku benar-benar lelah. Bisakah kau pulang saja, sialan?"
"Aku tidak naif.."
"Whatever.. Pulang saja. Aku muak melihatmu.."
"Aku serius tentang perkataanku yang sebelumnya.."
"Bagian yang mana, huh? Bagian di mana kau menyebutku sebagai orang jahat?"
Christov menggeleng kecil, "Aku menyayangimu karena hanya kau saudari yang ku punya.."
"Fvck.. Aku benci kata-kata seperti itu. Jangan pernah ucapkan hal menjijikkan seperti itu, sialan. Aku lebih suka kau yang lama. Sana pulang, sialan."
Christov tersenyum tipis, "Kita ternyata bukan berpura-pura sebagai keluarga, Christina.."
Christina memutar tubuh dan menggeleng kecil, "Hentikan omong kosongmu.."
"Karena sebesar apa pun pertengkaran dalam keluarga, kita akan selalu menemukan cara untuk berdamai."
"Fvck off!"
"Aku anggap itu sebagai ucapan kasih sayangmu.."
"**** off you prick!"
(Keluar sana orang aneh)
****
"Aku butuh waktu sendirian, Cassie.." ucap Christov pada suatu malam saat pertengkarannya dengan Cassie. Dia meminta Cassie untuk tidak menghubunginya sampai dia merasa tenang. Christov butuh waktu sendiri untuk memikirkan apa yang dia inginkan.
Apakah dia mampu melanjutkan hubungan ini tanpa mempermasalahkan ingatannya yang belum kembali? Atau malah sebaliknya. Dia tentu ingin memulai lagi bersama Cassie, tapi potongan ingatannya yang hilang kerap muncul setiap kali dia bersama Cassie dan itu membuatnya sakit dan muak. Potongan ingatan itu muncul seolah ingin menertawakan, Christov dan itu benar-benar membuatnya frustasi. Juga, Christov tidak yakin dengan perasaannya sekarang terhadap Cassie. Apakah sebenarnya dia menginginkan hubungan ini juga?
Pertengkarannya dengan Christina baru-baru ini juga seolah menyadarkannya bahwa Christov memang tidak pernah membiarkan siapa pun masuk ke dalam kehidupannya. Alasan kuat dia melakukan itu karena keyakinannya bahwa banyak orang mendekatinya karena mereka tahu apa yang Christov miliki. Mereka tidak tulus untuk berteman dengan Christov dan juga, dia takut ketika dia membiarkan orang-orang itu masuk ke dalam kehidupannya, mereka akan meninggalkannya. Christov tidak suka ditinggalkan.
Masih menjadi misteri mengapa dia sangat takut ditinggalkan oleh orang lain. Namun, Christov tidak pernah sekali pun ragu untuk meninggalkan orang lain. Lucu, bukan? Sebuah ironi yang lucu. Dia takut ditinggalkan, tapi tidak ragu untuk meninggalkan.
Sangat jahat. Yahh.. Dia sangat jahat.
Dia juga sangat jahat pada Cassie. Wanita itu jelas sangat mencintainya dengan tulus. Cassie berusaha memperjuangkan hubungan mereka, tapi Christov malah mempersulit posisinya. Entah sudah berapa banyak luka yang Cassie terima demi memperjuangan Christov, tapi di sinilah dia, meninggalkan sendirian wanita itu dan pura-pura tidak tahu dengan luka Cassie. Christov benar-benar pria breng-sek.
Christov tahu bahwa Cassie pasti sudah melewati masa yang sangat berat, tapi egonya menyuruh dia untuk pura-pura tidak peduli akan perasaan Cassie sampai ingatannya kembali. Dia sangat ingin ingatannya dapat kembali sehingga Christov tahu bagaimana perasaannya yang sebenarnya untuk Cassie.
Christov bingung, bagaimana bisa dia membiarkan Cassie merubah hidupnya hanya dalam jangka waktu enam bulan? Yah, enam bulan dan mereka sudah melewati empat tingkatan dalam hubungan mulai dari, hubungan friends with benefit, lalu menjadi sepasang kekasih, kemudian menjadi tunangan, dan yang terakhir dan yang tergila, yaitu menjadi sepasang suami-isteri. Bukankah itu gila?
Christov begitu sulit menerima orang lain dalam hidupnya karena masalah kepercayaan dan dia takut ditinggalkan. Namun, Cassie.. Wanita itu dia biarkan masuk ke dalam hidupnya dan membiarkan kehidupannya berjungkir balik. Apa yang Cassie punya sehingga Christov berani menikahinya? Seberapa besar cinta yang dia miliki pada Cassie? Apakah dia sangat tergila-gila pada wanita itu sehingga dia mau melakukan kawin lari? Yah! Kawin lari! Bukankah itu gila? Dalam mimpi sekali pun, Christov tidak pernah membayangkan skenario kawin lari akan terjadi di hidupnya.
Itulah mengapa Christov benar-benar putus asa ingin ingatannya kembali. Dia ingin tahu alasan mengapa dia ingin menikahi wanita itu. Dia ingin tau seberapa besar rasa cintanya sehingga berani melakukan kawin lari dan dia juga ingin meyakinkan perasaannya sendiri terhadap Cassie. Namun,semua itu butuh waktu dan Christov butuh waktu sendirian untuk memikirkan kepastian hubungan ini. Di saat yang bersamaan Christov benci membuat Cassie harus menunggu. Membiarkan wanita itu menunggu tanpa kejelasan karena keegoisan Christov.
Huh... Christov benar-benar tidak yakin apa yang dia inginkan, tapi berdiam diri seperti ini hanya akan menyakiti Cassie. Seandainya ingatannya tidak kembali lagi untuk selamanya, sanggupkah dia melanjutkan kisah cinta ini tanpa bayangan potongan masa lalu yang terlupakan?
Christov menarik napas panjang dan menatap suram ke arah kartu nama pengacara perceraian yang Christina berikan padanya dua hari yang lalu. Entah setan macam apa yang merasukinya sehingga membuatnya menyimpan kartu nama pengacara itu. Dia meraih kartu itu dan menatap benda itu dalam diam. Sesaat kemudian, dia malah membanting kartu nama itu lagi ke atas mejanya.
"Sialan," umpatnya dengan mata yang tertutup rapat, "Huh.. Lebih baik ingatan Cassie tidak kembali! Ini semuanya hanya membuatku menggila.."
****
Miss Foxxy
Sejujurnya, tidak ada karakter yang cukup sempurna di cerita ini. Semua karakter rusak dan memiliki masalah mental masing-masing So sad.. Masalah percintaan, masalah keluarga, dan masalah pertemenan. Well.. Lengkaplah sudah.. Karakter di cerita ini semuanya benar-beanr hancur dan gak ada yang punya kehidupan normal kecuali Nugget dan Salmon. Cerita berikutnya kita ambil sudut pandang Cassie yah
Akhir bulan ini cerita direncanakan akan tamat. Kalau gk sesuai prediksi, mungkin cuman nambah 1-3 chapter lagi di bulan berikutnya (Semoga) Jangan lupa dukungannya. I love you