
Happy Reading
****
"Bangun!"
Jason segera terbangun saat merasakan air dingin membasahi wajahnya. Matanya terbuka lebar dan hal yang pertama kali dia lihat adalah sebuah moncong senapan angin mengarah padanya. Dia terkesiap dan memundurkan tubuhnya ke belakang dengan kesulitan karena masih terlilit oleh sleeping bag. Jantungnya berdebar kuat dan otaknya masih belum mencerna tentang apa yang terjadi. Diangkat wajahnya untuk melihat sosok yang menodongkan senapan itu ke arahnya.
Cassie...
"Sekarang pergi, sialan.." kata Cassie dengan nada dingin dan masih tetap mengarahkan moncong senapan yang panjang ke arah wajah Jason. Satu matanya tertutup dan satu lagi terbuka untuk membidik senapan itu tepat pada dahi Jason.
"Kau membuatku terkejut," ucap Jason dengan suara parau dan diikuti tawa kecil. Pria itu kembali berbaring dan menggulungkan tubuhnya dalam sleeping bag.
"Apa itu senapan asli atau mainan?" tanyanya santai dan Cassie tidak tinggal diam. Ditariknya pelatuk senapan tersebut dan melangkah semakin maju.
"Bangun atau kutembak kepalamu, sialan..." gertaknya dengan emosi membara, "Jangan berbicara seolah kau dekat padaku."
Tubuh Jason membeku dan menatap ngeri pada Cassie, "Kau tidak mungkin serius akan menembakku..."
"Bangun dan pergi.."
Jason mendengus dan bangkit dari posisinya, "Aku tidak mengenali dirimu yang sekarang, Cassie.. Bagaimana bisa kau tega mengarahkan senapan ke arahku?"
"Bawa saja sleeping bag itu. Aku tak mau memiliki barang yang sudah dipakai olehmu,"
Pria itu itu membuka mulutnya lebar dan menatap Cassie penuh keheranan. Harga dirinya benar-benar terinjak-injak oleh perkataan singkat Cassie.
"Cassie.. Kenapa kau seperti ini? Kau bukanlah Cassie yang kukenal.."
Dia kini mengarahkan senapan itu ke arah mulut Jason dan berharap bisa membuat mulut pria itu bungkam sesegera mungkin.
"Karena aku yang dulu sudah lama mati. Sekarang, keluar.." diarahkannya senapan pada pintu yang terbuka.
"Sialan..." umpat Jason, "Hei.. Kenapa kau merendahkanku seperti itu? Apa karena aku tidur di tempatmu? Ahk... Kau bahkan membiarkanku tidur di luar..." eluhnya dengan nada kesal.
"Apa kau belum pernah merasakan rasanya ditembak dengan senapan?"
Jason hendak melawan, tapi dia bisa melihat wajah Cassie yang tanpa emosi itu seolah siap menembaknya kapan saja. Wanita itu benar-benar serius.
"Jika kau menembakku, kau pun akan terkena masalah," tantangnya.
"Kau pikir kau lebih pintar dariku, breng-sek? Kau masuk ke apartemenku. Melakukan keributan dan satu lagi, aku masih menyimpan video saat kau menyerangku di pesta dan pengakuanku tentang penguntitan yang kau lakukan padaku," gertak Cassie dengan nada bengis, "Aku tak segan-segan menembakmu dengan dalil pertahanan diri. Sekarang angkat kaki dan pergi dari sini,"
"Okay! Okay! Sialan.. Tak kusangka kau bisa melakukan hal sejahat ini," gerutunya dan berjalan pergi dari sana. Cassie tetap mengikut dan mengarahkan senapannya pada Jason. Dia tidak peduli dengan kamera pengaman. Toh.. Dia memiliki lisensi yang sah atas senapan ini.
"Bisakah kau berhenti mengarahkan senapan itu padaku?"
"Masuk ke dalam lift,"
Keduanya masuk ke dalam lift dan Cassie akhirnya menurunkan senapan itu. Digantungkan senapan itu pada bahu kiri, sedangkan bahu kanan disandarkan pada dinding lift. Kedua tangan di lipat dan mata menatap tajam ke depan.
"Aku tidak peduli bagaimana caramu bisa masuk ke sini, Jason. Namun, aku berharap hal seperti ini tidak terjadi lagi..."
"Huh.." Jason mendengus, "Kau tidak penasaran mengapa aku bisa datang ke tempatmu tengah malam dalam keadaan menyedihkan?"
"Tidak karena itu bukan urusanku. Urus urusanmu sendiri dan jangan menyeret orang lain dalam masalahmu."
"Kenapa kau berubah sangat dingin seperti ini? Apa karena kau punya kekasih baru, huh?"
Pintu lift terbuka dan Cassie melangkah keluar menuju pintu masuk lobi. Digeseknya kartu akses gedung apartemen hingga pintu terbuka.
"Keluar.."
Dengan bahu yang lesu, Jason melangkahkan kakinya menuju pintu keluar dan Cassie mengikut. Wanita itu benar-benar sangat dingin padanya dan Jason berpikir tak ada lagi harapan akan hubungan mereka.
"Kenapa kau ikut?" tanya pria itu.
"Memastikan kau pergi dari sini,"
"Aku tidak akan berbuat aneh, tapi..." suaranya memelan, "Boleh aku pinjam $50 untuk uang taxiku?"
Cassie membelalakkan mata, "Breng-sek," umpatnya seraya merogoh saku celananya dan memberikan satu lembar uang $100.
"Thank you.."
Tak berapa lama setelah Cassie memberi uang, sebuah taxi berhenti dan Jason pergi setelahnya. Kedua matanya mengikuti arah pergi taxi itu hingga hilang dari jangkauan pandangannya. Sesaat kemudian, dia malah melihat sebuah mobil SUV hitam lewat dari seberang jalan.
"Bukankah itu nomor plat mobil Christov?" tanya dia pelan pada dirinya sendiri. Ah.. Mana mungkin. Pikir dia lagi. Pasti salah lihat.
Digaruk punggung lehernya, merasakan rasa tak nyaman secara mendadak. Pasti karna si sialan itu. Batinnya seraya melangkah masuk ke apartemen. Saat sudah masuk kembali ke unit apartemen miliknya, Cassie menaruh senapan itu di atas meja makan dan meraih ponsel untuk mengirimi Christov sebuah pesan.
"Kupikir sudah cukup permainan tarik ulur ini," kata dia seraya menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur. Kembali dia membaca pesan percakapannya dengan Christov.
Dia itu pria yang manis. Pikir Cassie, "Walau sedikit pemalu dan pendiam," digerakkan tubuhnya ke posisi miring, "Tapi, dia pria yang baik, sopan, dan ramah.."
Dia memejamkan kedua mata dan mulai membayangkan wajah Christov. Senyum tipis terukir di bibirnya saat mengingat momen-momen bersama pria itu.
"Apa aku perlu mengirim pesan?" tanya dia lagi setelah membuka mata, "Huh.. Nanti saja. Biarkan dia mengirimi pesan terlebih dahulu. Untuk sekarang...." Cassie bangkit dari tidurnya dan segera berdiri tegak. Matanya menatap sekitar kamar dan menarik napas panjang.
"Untuk sekarang.. Mari kita bekerja agar bisa berpesta malam ini. Hidup pesta!!" teriaknya sembari mengangkat kedua kepalan tangan ke atas udara, "Pesta! Pesta! Pesta! Mari bekerja keras untuk berpesta!"
***
Christov terbangun dari tidurnya ketika mendengar bunyi lonceng notifikasi dari ponselnya. Seluruh kesadarannya seolah terkumpul saat mendengar nada khusus yang dia pasang jika mendapat pemberitahuan dari Cassie. Dia mengerang kesal, menyadari kebo-do-hannya.
"Aku perlu mengganti nada sialan ini," disambar ponsel tersebut dan melihat pesan singkat dari Cassie. Wajah datar tetap terpasang di wajahnya ketika membaca pesan itu. Bahagia? Dia tidak merasa bahagia lagi.
Apa kau datang ke pesta ulang tahun yang berada di Beverly Hills? Begitulah bunyi pesan itu.Tanpa pikir panjang, Christov menghapus seluruh percakapannya dengan Cassie.Yah.. Ini yang terbaik. Menghentikan kegilaan ini sebelum penyesalan dalam dirinya semakin membesar.
Dia bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi untuk bersiap pergi ke pesta itu karena waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Well.. Awalnya dia berpikir untuk tidak datang, tapi Christov kembali berpikir bahwa ini adalah kesempatan yang bagus untuk dia mencari wanita lain sebagai pengalih perhatiannya dari segala kegilaan yang dia rasakan akhir-akhir ini.
Selagi air hangat dari shower membasahi tubuhnya, Christov mengangkat kepala dan menyisir rambut dengan kedua jemari tangannya. Lagi dan lagi, bayangan wajah Cassie muncul. Dengan marah, dia memukul keras dinding kamar mandi menggunakan tangan kanan. Marah. Dia masih marah. Napasnya naik-turun dan tatapannya tertuju lurus pada dinding kamar mandi yang malah menampilkan penampakan Cassie dan mantan kekasihnya yang keluar dari apartemen pagi ini.
"Sialan.."
Segera dia menyelesaikan mandinya dan keluar. Jam dinding di kamarnya sudah menunjukkan pukul tujuh malam yang artinya pesta akan segera di mulai. Christov bergegas memakai pakaian casual berupa kaos hitam, celana jeans, serta jaket. Sebelum berangkat, dia menyempatkan diri untuk memakan satu buah pisang dengan segelas jus.
Christov keluar dari apartemen dan berjalan menuju basement. Saat dia sudah masuk ke dalam mobil, Christov masih menemukan buket bunga dan kotak coklat itu di sana. Dia menggeram marah karena lupa membuang kedua benda itu. Namun, sebuah ide melintas dalam otaknya.
"Kuberikan sebagai hadiah saja," katanya pelan, "Setidaknya kedua barang ini tidak terbuang sia-sia..."
Dilajukan mobil meninggalkan basement menuju jalan raya. Sepanjang setengah perjalanan, dia tidak memikirkan apa pun, tapi ketika memasuki wilayah Baverly Hills, rasa panik, marah, bingung, dan sedih mulai memenuhi dirinya. Membentuk lubang besar yang membuat perasaan Christov tidak nyaman.
Dia berpikir untuk memutar balik mobilnya, tapi di sisi lain, hati kecil Christov berteriak. Berteriak memohon untuk melihat Cassie yang mungkin saja datang malam ini.
"Seharusnya aku tidak menghapus pesan itu.." bisik hati kecilnya yang menjerit tersebut, "Namun, jika aku tidak melakukannya, kapan aku mengakhiri kegilaan ini?" kini, nalarnya-lah yang menyanggahi hati kecilnya.
Christov memberi undangan pada penjaga pintu gerbang dan melajukan mobilnya masuk ke kediaman tersebut. Keraguan, antusiasme, ketakutan, kepanikan, dan berbagi macam perasaan berkumpul menjadi satu pada inti tubuhnya. Semua perasaan yang bercampur aduk itu bahkan membuat kepalanya pening dan napasnya berderu cepat.
"Oh my.. Apa yang akan terjadi setelah aku masuk ke rumah itu?" tanya dia pada diri sendiri dengan nada pesimis. Senyum kecut menghiasi wajahnya ketika akhirnya memarkirkan mobil. Christov menyandarkan punggungnya pada kursi dan kedua mata dipejamkan.
"Parkiran.." gumamnya pelan, "Aku bertemunya untuk pertama kali di parkiran..." bibirnya bergetar ketika mengucapkan itu. Ingatannya tentang kejadian sekitar lima minggu lalu muncul dan membuat dia sadar betapa cepatnya waktu berlalu. Serasa baru kemarin Christov terlibat dalam pertengkaran Cassie dan mantan kekasihnya. Dia tiba-tiba tertawa mengingat tarian konyol Cassie.
"Bisa-bisanya aku bertemu wanita seajaib Cassie.."
Sangat ajaib seperti tokoh dalam dongeng. Tokoh yang tak dapat diraih Christov karena perbedaan dunia.
"Sudahlah.. Memikirkannya seperti ini tak akan memecahkan masalah," dia beranjak dari kursi mobil dengan buket bunga dan kotak coklat di tangannya. Setelah keluar, Christov menatap lurus ke pintu masuk lalu menarik napas panjang.
"Semua akan baik-baik saja, Christov..." semangatinya pada diri sendiri, "Jika tidak baik-baik saja, ingat kembali bahwa semua akan baik-baik saja."
Dengan langkah tegap, dia berjalan menuju pintu masuk. Penerima tamu di sana langsung menerima hadiah Christov dan dia bersyukur atas itu. Setidaknya, dia tidak harus memberikan hadiahnya yang jelek secara langsung kepada yang sedang berulang tahun.
Christov diberitahu lokasi dari pesta yang terletak di halaman belakang. Dia mengangguk paham dan berjalan menuju lokasi pesta dengan denah yang diberitahu sebelumnya. Semakin jauh berjalan dari pintu masuk, semakin keras pula detuman musik yang dia dengar. Orang-orang di LA memang berpesta seolah tak ada hari esok.
Apa pestanya sudah lama di mulai?
Ketika di berbelok di ujung lorong, akhirnya Christov bisa melihat sumber dari musik yang kencang itu. Lampu kelap-kelip serta orang-orang yang menari dengan gilanya membuat suasana di sana tampak kacau. Oh.. Nalarnya tak habis pikir kenapa dia bisa datang ke tempat seperti ini.
"Untuk mencari pelarian," jawab hati kecilnya sebagai bentu pembenaran atas perbuatannya. Dia memilih melangkah menuju pesta ulang tahun bertema Garden Party, sayangnya tamannya sudah tak terbentuk lagi. Sesaat memasuki lokasi itu, dia merasa gendang telinganya serasa ingin pecah. Ah.. Harusnya dia membawa earplug* miliknya.
(*Penutup telinga)
Christov berjalan di pinggiran, berusaha menjauhi kerumunan orang yang nampak menggila. Suasana yang gelap dan hanya bermodalkan lampu kelap-kelip membuatnya tidak bisa melihat dan memastikan arah tujuan. Setidaknya dia harus menemukan beberapa orang yang dia kenal karena berakhir sendirian di pesta ini tidak lah menyenangkan.
"Hai, tampan.." Christov dikejutkan oleh suara wanita yang berteriak di telinganya diikuti oleh gandengan pada tangannya. Kepalanya menoleh ke arah kiri dan menemukan wanita asing tengah menggandeng dia dengan akrabnya.
"Maafkan aku, Nona.." ucapnya setengah berteriak seraya berusaha melepas gandengan tangan wanita asing itu, tapi dia tak mau melepas tangan Christov dan malah memeluk lengannya semakin kencang. Dia bisa rasakan dada wanita itu menekan lengannya. Huh.. Sebuah trik kuno untuk menggoda pria.
"Ayo! Minum! Tampan!" teriak wanita asing setiap kata.
Pelarian. Bisik nalarnya berusaha memperingatkan Christov bahwa ini adalah kesempatannya.
"Yah.." jawabnya dengan suara pelan seraya mengangguk kecil.
"YES!!"
Wanita itu berteriak dan sedetik kemudian, Christov merasakan tubuhnya tertarik ke depan. Dia membawa Christov melewati kerumunan menuju bar dengan gesit. Christov berusaha menjaga jarak dari orang-orang agar tidak menabrak mereka. Saat keduanya semakin dekat ke arah bar, Christov akhirnya bisa melihat sekumpulan orang-orang yang dia kenal. Ah.. Dia merasa lega menemukan orang-orang yang dia kenal.
"Hei, Christov! Kau lagi-lagi datang ke pesta,huh?" sambut Charli ketika Christov duduk bersama mereka, "Dan sekarang kau punya mainan baru juga?"
Dia menggeleng, "Bukan begitu,"
"Tangkapan bagus, Christov.." temannya yang lain ikut berbicara tentang wanita asing yang masih saja menempelkan dadanya pada lengan Christov.
"Kau ingin minum apa, tampan?"
Jus.. Well. Dia berpikir untuk mengatakannya, tapi untuk malam, dia tak mau menjadi Christov yang membosankan.
"Apa kau punya vodka?" tanya dia pada bartender dan suara siulan dari teman-temannya terdengar.
"kau dengar itu, Charli? Anak polos ini memesan vodka!
Christov memutar mata ketika orang-orang dalam grupnya mulai menertawakan dia. Saat dia ingin jus atau sirup, dia ditertawakan dan ketika dia akhirnya menginginkan alkohol, dia tetap ditertawakan.
"Aku ingin bir..." kata wanita asing. Selagi menunggu minuman mereka dang, Christov mengambil kesempatan melirik ke arah wanita itu. Dia tidak terlalu tinggi, Cassie mungkin jauh lebih tinggi. Rambutnya hitam pekat dan kulitnya berwarna coklat eksotis. Namun, bagian yang terbaik dari wanita itu adalah lekukan badannya. Nampak berisi dan gemuk pada bagian-bagian tertentu.
Tidak buruk. Pikir Christov.. Well. Walaupun begitu, hati kecil Christov tetap berpikir bahwa Cassie adalah yang terbaik.
"Thank you," disesapnya Vodka dan merasakan rasa manis di ujung lidahnya. Rasa manis tersebut, perlahan berubah menjadi sensasi panas di bagian tenggorokannya lalu turun ke dada.
"Ah..." desahnya pelan merasakan tubuhnya perlahan rileks sehabis menyesap Vodka tersebut.
"Hei.. Apa kau mau menemaniku, sayang?"
Christov menyesap minuman itu lagi dan rasa pening di kepalanya perlahan membaik.
"Sayang?" gumamnya pelan dengan kekehan lembut, "Siapa sayangmu, hmm?" katanya lembut.
"Awww.. Suaramu terdengar sangat jantan, tampan. Tentu saja kau kesayanganku."
"Benarkah?" tanyanya santai dan menyesap lagi. Huh.. Kadar alkohol yang tinggi benar-benar membuat tubuhnya terasa begitu rileks. Tidak mabuk.. Christov belum mabuk. Belum saat ini.
"Hei.. Kau mau berkunjung ke tempat sepi denganku, sayang?" wanita asing itu menggesek-gesek dadanya pada lengan Christov dalam gerakan sen-su-al. Dia merasa tak nyaman dengan itu, tapi alih menarik tangannya lepas dari wanita asing, Christov malah tersenyum tipis.
"Tempat sepi? Apa yang akan kita lakukan di sana?"
"Bebas.. Kita bisa melakukan apa pun. Terserah padamu, tampan.."
Christov memajukan bibirnya, berpikir.
"Pelarian.." gumamnya pelan.
"Ayo.. Ayo kita pergi sebentar," desak si wanita itu.
Dia tersenyum dan mengangguk kecil, "Boleh.."
"Ahh. Okay.. Biarkan aku meminum bir ku terlebih dahulu,"
Christov pun melakukan hal yang sama, meneguk Vodka nya hingga habis dan bersamaan dengan itu pula, ponsel dalam kantong jaketnya bergetar. Dia menarik lengannya yang masih dipeluk wanita asing itu untuk merogoh sakunya.
"Siapa yang menghubungiku di saat seperti ini?" gerutu dia pelan. Diarahkan ponsel di dihadapan wajah untuk melihat nama pemanggil yang menghubunginya.
"Cassie?" tanyanya dengan nada heran, "Cassie?" tanya dia lagi dan kini diikuti oleh tawa geli.
"Sayang.. Kau kenapa?" wanita asing itu menggandengnya lagi, "Siapa Cassie?"
"Sebentar.. Aku akan mengurus dia sebentar," jawabnya santai dan menerima panggilan itu.
"Pergi dari sana, breng-sek.." ucap Cassie dari seberang sesaat dia menaruh ponsel di samping telinganya.
"Apa? Apa katamu, hmm?" Christov tersenyum, tak menyadari nada marah dari Cassie.
"Kau mabuk? Kenapa kau mabuk, sialan? Bukannya kau selalu minum jus?"
Dia menarik tangannya menjauh dan melihat layar ponsel untuk memastikan bahwa yang memanggilnya saat ini adalah Cassie. Christov heran, mengapa wanita itu menceramahinya.
"Kenapa? Apa kau menganggapku juga sebagai anak polos juga seperti mereka?"
"Kau ini sedang omong apa sih?!" suara Cassie semakin meninggi, "Kau tidak membalas pesanku dan sekarang kau mabuk bersama wanita asing?!!"
"Sayang.. Ayo kita pergi," si wanita asing menimpali seraya menekan dadanya semakin dalam pada lengan Christov.
"Sebentar," bisiknya pada wanita asing.
"Pria breng-sek! Setelah berusaha mengajakku makan malam, kau menghabiskan waktu bersama wanita lain di malam berikutnya?!"
Kesadaran Christov segera terkumpul seluruhnya saat mendengar perkataan Cassie yang bernada marah. Mendadak,rasa amarah juga mulai memenuhi diri Christov. Dia bangkit dari duduknya dan melihat ke arah kerumunan, mencoba mencari keberadaan Cassie.
"Kenapa? Kau cemburu?" tanya dia kembali dengan suara menantang. Matanya tetap melirik ke sana ke mari.
"Sayang.. Kau kenapa?" si wanita asing itu ikut berdiri dan tanpa ragu, Christov melingkarkan lengannya pada pinggul wanita itu agar mendekat ke arahnya.
"Si sialan ini.. Setelah bosan, kau mencampakkanku dan mencari wanita lain!"
"Bagaimana dengan dirimu? Kau tidur bersama mantan kekasihmu yang sudah kau hajar..."
"APA?! Jaga omonganmu, breng-sek! Kau tidak tahu apa-apa.."
Christov tertawa, "Tidak tahu apa-apa katamu? Jadi bagaimana kau bisa menjelaskan hal yang terjadi pada pagi hari ini di depan apartemenmu?"
Dari seberang, dia bisa mendengar suara terkesiap dari Cassie dan itu menguatkan pemikiran Christov tentang apa yang terjadi antara Cassie dan mantan kekasihnya.
"Hei! Itu tidak seperti yang kau pikirkan!"
"Sudahlah.. Aku tak mau lagi membahas ini.."
"Christov.. Kau mabuk! Lepaskan tanganmu dari wanita-jelek-sialan itu sekarang juga!"
Dia tertawa dan terkekeh. Matanya gelagapan menatap ke arah kerumunan untuk mencari keberadaan Cassie.
"Ayolah, Cassie.. Kau bersembunyi di mana?" tanya dia dengan nada santai seraya mengarahkan kepalanya pada pucuk kepala wanita asing itu agar nampak dia seolah-olah tengah mengecup wanita asing. Lalu, dari seberang, terdengar suara geraman Cassie.
"Kau mabuk, Christov. Lepaskan wanita itu sekarang juga.."
"Memangnya kau siapa? Kau bukanlah siapa-siapa... Kau tak bisa mengaturiku, Cassie..."
"Christov..." kata Cassie dengan suara penuh peringatan, "Jangan membuatku marah. Lepaskan tanganmu dari si wanita sialan itu."
"Sudahlah.. Aku punya acara penting dengan nona manis ini. Bye.."
"No. No. Chri--" sebelum Cassie bisa melanjutkan perkataannya, Christov segera memutuskan sambungan panggilan. Tangannya memasukkan ponsel itu kembali ke dalam saku jaket.
"Apa kau sudah selesai dengan urusanmu, Christov?"
Dia terkekeh saat mendengar wanita itu mengucapkan namanya.
"Well.. Begitulah. Harus kupanggil apa kau, hm?" tanya dia seraya berjalan dengan wanita itu.
"Kau boleh memanggilku Cassie jika kau mau.."
Sekarang, Christov malah tertawa kencang. Dia dan Cassie-palsu tersebut mulai berjalan meninggalkan kerumunan yang padat.
"Jangan.." katanya, "Kau tidak boleh menjadi Cassie.."
Karena baginya, hanya ada satu Cassie.
"Kenapa?"
Karena nama itu terlalu cantik untuk orang sepertimu.
"Tidak kenapa.. Bolehkan aku memanggilmu Clara saja?"
"Boleh.. Boleh.."
Keduanya akhirnya melangkah keluar menuju bagian halaman belakang rumah yang sepi.
"Apa yang akan kita lakukan di tempa sepi, Clara?" tanyanya dengan nada nakal.
"Tempat sepi sialan katamu?!"
Christov merasakan tubuh Clara palsu tertarik dari tubuhnya karena seseorang menariknya. Apa yang terjadi di hadapannya benar-benar terjadi begitu cepat. Cassie! Cassie-lah pelakunya. Dia menarik rambut panjang Clara-palsu hingga menjauh darinya.
"No.. No, Cassie..." kesadarannya segera terkumpul, menyadari Cassie masih menjambak rambut Clara-palsu.
Ini tidak baik.
"Ahk!! Cewek sialan! Lepaskan tanganmu!" teriak Clara palsu seraya meronta untuk melepaskan diri dari genggaman tangan Cassie yang mendorong kepalanya ke arah bawah. Perbedaan tinggi yang jauh membaut Clara-palsu tak mampu melawan Cassie.
"No.. Cassie!" Christov menarik tangan Cassie, berusaha melepaskannya, "hentikan! Hentikan. Dia bisa terluka.."
"No! Breng-sek! Saat kukatakan lepaskan tanganmu darinya. Lepaskan! Kenapa kau tidak mendengarkanku, huh?!"
Christov menahan napas saat melihat tatapan marah dari Cassie. Menyeramkan dan menakutkan. Itulah yang dia pikirkan saat ini. Di saat seperti ini, Christov tak boleh tersulut amarah juga atau keadaan akan memburuk.
"Pria sialan! Bisa-bisanya kau menarik keseimpulan send--" sebelum Cassie menyelesaikan kata-katanya, Clara mendorong tubuh Cassie dengan kepalanya menuju dinding.
"No!" Christov berteriak panik mendengar bunyi dentuman kuat dari tubuh Cassie pada dinding. Dia bisa mendengar ringisan kesakitan dari Cassie saat Clara tetap menyundul perutnya dengan kepala.
Rasa amarah segera memenuhi diri Christov dan dengan cepat dia menarik tubuh Clara menjauh dari Cassie.
"Menjauh darinya!" teriaknya dan menarik paksa Clara hingga terlepas dan terjatuh di lantai. Clara-palsu menatap mereka berdua dengan tatapan ketakutan. Dia berpikir untuk melawan lagi, tapi Clara-palsu tahu bahwa dia tidak akan menang melawan Cassie.
"Argh!!" teriak Clara palsu, "Sin-ting! Dasar orang sin-ting!" dia segera berdiri dari posisinya dan berlalu dari sana dengan wajah berurai air mata.
Namun, Christov tidak peduli dengannya. Satu-satunya yang dia pedulikan saat ini adalah Cassie yang masih meringis kesakitan. Kepalanya menunduk, membuat rambut menutupi wajahnya. Kedua tangannya masih memegangi perut.
"Sialan.. Mana yang sakit?" tanya dia dengan nada panik lalu mengarahkan tangannya hendak meraih tubuh Cassie. Namun, dengan cepat wanita itu menepis tangan Christov dari arahnya.
Tubuhnya tidak bergeming selama beberapa saat ketika Cassie menepis tangannya.
"Jangan sentuh aku," ucap dia dengan nada suara yang bergetar.
Christov menatapnya dengan tatapan sendu.
"Aku tidak mau," jawab Christov seraya membuka jaketnya.
"Biarkan aku sendiri..." Cassie memutar tubuhnya hendak pergi, tapi dengan cepat Christov menyelimuti tubuh Cassie dengan jaket miliknya.
"Kubilang biarkan aku sen--" dengan cepat, Christov menarik tubuh Cassie dalam pelukannya. Membungkus erat tubuh wanita itu dengan kedua lengannya. Untuk pertama kalinya.. Untuk pertama kalinya dia bisa memeluk Cassie seperti ini.
"Lepaskan aku!" Cassie meronta, tapi Christov tetap mempererat pelukannya pada tubuh Cassie.
"Lepaskan aku, breng-sek!"
"Aku tidak mau.." gumamnya pelan dengan kekeuh, "Aku tidak mau melepaskanmu lagi, Cassie..."
***
Miss Foxxy
Saudaraku yg terkasih, maaf tak bisa update kemarin. Sebenarnya aku udah siap ngetik, hanya saja badan lelah dan mata yang sudah meminta tidur tak terelakkan jadi tak sempat ngedit. Jadi begitulah. Chapter kali ini sudah sangat extra panjang. Silakan dibaca.. Jangan lupa dukung author dan ikutan giveaway ini yah.. Good luck