
×REMEMBER ME×
PART 3
"Naina.. Sayang.. Ayo kita pulang" bujuk Laksh.
Tapi Naina masih melipat kedua tangannya dengan bibir yg dia manyunkan. Membuat Laksh semakin gemas. Naina lalu berlari meninggalkan Laksh, Laksh hanya terdiam jika keponakannya itu sedang ngambek Laksh tak bisa berbuat apa-apa lagi. Tinggal tunggu saja Naina akan kembali bersikap biasa saja.
Laksh sangat menyukai anak-anak maka dari itu dia memilih berprofesi sebagai dokter spesialis anak-anak di bandingkan melanjutkan bisnis keluarga. Pikir dia kan ada Adars, jadi dia tidak perlu bergabung lagi dengan bisnis keluarganya itu.
Menjadi seorang dokter adalah cita-cita Laksh dari dulu, walau dulu waktu awal kuliah dia memilih jurusan manajemen bisnis, tapi Laksh berhenti dari fakultas itu dan pindah ke fakultas kedokteran.
Bahkan Laksh mengenyam pendidikan kedokterannya di amerika, jadi wajar jika dia pulang dan kembali ke India jam terbangnya sebagai dokter tidak dapat di ragukan lagi, selama 5 tahun Laksh di amerika, dia menjalani pendidikannya sambil membuka praktek magangnya di salah satu rumah sakit terbaik disana, jadi kualitas kerja Laksh tak bisa di ragukan lagi.
Awalnya dia menolak untuk kembali ke India, karena akan mengingatkannya kepada kenangan buruk masa lalunya.
Kenangan tentang kandasnya hubungan dia dengan Ragini. Entah mengapa Laksh ingin mengubur dalam-dalam kenangan itu. Tak ingin lagi untuk sekedar mengingat ataupun mengenang.
Karena yg Laksh tau, Ragini telah mengkhianati cintanya karena lebih memilih menikah dengan Rohit tanpa menunggunya.
Dan kekecewaan itu terasa sangat perih, saat 3 tahun lalu Laksh kembali ke India, tujuannya satu hanya untuk melamar Ragini, tapi apa yg dia lihat saat itu benar-benar membuatnya hancur, dia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri orang yg di cintainya sedang mengelilingi api suci bersama sahabatnya Rohit.
Karena merasa sangat kecewa, Laksh memutuskan untuk kembali ke amerika, menetap disana lumayan sangat lama.
Dan entah ini memang sudah suratan takdirnya, di amerika dia di pindah tugaskan ke negara asalnya, untuk praktek di salah satu rumah sakit terbaik di mumbai. Sudah sebulan Laksh menetap di India. Bayangan Ragini selalu mengusik dirinya.
Dan kini saat dia mencoba untuk menepis kenangan Ragini, kinLakshok itu muncul kembali dan lebih sakitnya Laksh melihat anak Ragini dan Rohit. Hatinya terasa seperti teriris, dia membayangkan kemesraan yg selalu di lakukan Ragini dan Rohit.
"Aaawwwww" rintih seorang anak kecil.
Laksh langsung membuyarkan lamunan panjangnya itu. Dia melirik ke tubuh mungil seorang anak kecil laki-laki itu. Awalnya Laksh ingin bersikap acuh, karena anak itu adalah anaknya Ragini dan Rohit, tapi nalurinya sebagai seorang dokter keluar.
Bagaimana pun juga dia harus bersikap profesional, bukan? Lagi pula anak kecil ini sangat polos, dia tidak berhak Laksh hukum akibat ulah kedua orang tuanya. Dengan sigap Laksh membopong tubuh anak itu, Laksh memperhatikan dengan seksama lutut anak itu yg terluka dan berdarah, Laksh langsung mengambil sapu tangan di saku celananya, dia mengikat lutut anak itu dengan sapu tangannya.
"Terimakasih paman"
Suara anak itu sangatlah lembut, entah mengapa Laksh sangat menyukainya.
Laksh hanya tersenyum.
"Kau kenapa? Kenapa kau bisa terjatuh tadi?"
Anak itu hanya tersenyum.
"Namaku, Arjun paman"
Laksh hanya tersenyum.
"Iya, Arjun kenapa? Koq bisa terjatuh tadi?"
"Arjun abis ngambil ini paman"
Arjun memegang sebuah surat dan memberikannya kepada Laksh. Laksh tersenyum saat membaca surat itu, karena surat itu berisikan puisi yg tadi Arjun baca.
"Tadi teman Arjun jahil sekali, dia melempar surat ini ke atas sana. Padahal Arjun susah payah ngarang puisi itu untuk ayah"
"Jadi kamu mengarang puisi ini sendiri?"
Arjun mengangguk.
Laksh berpikir, anak sekecil ini sudah pandai mengarang sendiri puisinya dan sukses membuat semua penonton terharu. Benar-benar anak yg membanggakan.
"Ohh.. Arjun sayang dengan ayah Arjun?"
Dengan cepat Arjun mengangguk.
"Sayang sekali, tapi ayah tidak bisa melihat dan mendengar puisi yg tadi Arjun baca"
Laksh menatap muka sedih Arjun, dia merasa iba.
"Kenapa? Pasti ayahmu sibuk kan?"
Arjun menggeleng.
"Ayah sudah meninggal"
DEGH..
Laksh merasakan jantungnya berhenti berdetak selama satu detik tadi.
'Rohit? Dia meninggal?' batinnya.
"Arjunnn" teriak Ragini yg tengah mencari Arjun.
Arjun ingin berlari mengejar ibunya, tapi langkahnya terhenti saat dia merasakan sakit di lututnya.
Laksh yg merasa tak tega, dia langsung menggendong tubuh Arjun dan membawanya menghampiri Ragini.
Ada kecanggungan saat dia dan Ragini saling beradu pandang. Laksh hanya memalingkan wajahnya. Sementara Ragini, dia menundukkan kepalanya melihat Arjun.
"Kau kenapa, Nak?" tanya Ragini dengan nada cemas saat dia melihat lutut Arjun yg di balut dengan sehelai sapu tangan.
"Arjun abis jatuh, bu"
"Kenapa bisa sayang?"
Laksh memejamkan matanya, dia sangat merindukan suara lembut itu. Tapi dia harus menepis semua hasrat kerinduannya itu.
"Ibu tenang saja, jangan khawatir. Paman ini baik, dia menolongku tadi"
Ragini melirik ke arah Laksh.
Laksh hanya mengangguk.
"Sini Laksh, berikan Arjun kepadaku"
"Tidak usah bu, biar paman yg menggendong Arjun. Tidak apa-apa kan paman?"
Laksh hanya tersenyum dan mengangguk.
"Ragini, kau tunjukkan saja dimana mobilmu. Biar aku merebahkan tubuh Arjun disana"
Ragini mengangguk, dia melangkahkan kakinya di depan Laksh. Laksh membuntutinya dari belakang, sedari tadi Arjun tersenyum memandangi wajah Laksh.
"Paman, kau sangat tampan dan keren. Sama seperti ku" pujinya.
Laksh hanya tersenyum, Ragini yg mendengarnya hanya menelan ludahnya sendiri.
"Apa anak paman sekolah disini juga?"
Ragini seketika menghentikan langkahnya, entah mengapa dia ingin mendengarkan jawaban dari Laksh.
"Tidak" jawab Laksh singkat.
"Lalu anak paman sekolah dimana?" tanya Arjun polos.
"Paman belum menikah"
Entah mengapa hati Ragini merasa sangat bahagia saat mendengar jawaban dari Laksh.
"Koq bisa paman? Padahal paman kan tampan dan keren?"
Laksh hanya terkekeh mendengar ucapan Arjun.
"Entahlah.. Kau ini banyak bicara sekali" ucap Laksh sedikit kesal.
"Kalau begitu paman menikah saja dengan ibuku, aku ingin punya ayah seperti paman"
Ragini dan Laksh saling melirik, Ragini benar-benar canggung saat Laksh menatap lekat wajahnya.
"Tidak bisa sayang"
"Mengapa tidak bisa paman? Apa ibu Arjun tidak cantik? Paman tau ibu Arjun adalah ibu terbaik dan tercantik di dunia"
Laksh hanya tersenyum kaku.
"Paman tidak bisa menikah dengan seseorang yg tidak paman kenal"
DEGH..
Ragini merasakan sakit di hatinya, seolah tersayat. Sangat perih! Saat mendengar Laksh mengucapkan kata-kata itu. Saat Laksh mengatakan jika dia tidak mengenal Ragini.
Arjun hanya terdiam, dia memilih menatap lekat wajah Laksh tanpa berkata apapun lagi.
Ragini membuka pintu mobilnya, Laksh langsung merebahkan tubuh mungil Arjun disana. Laksh ingin pergi, tapi tangan Arjun menahannya membuat Laksh berjongkok untuk menatap lekat wajah Arjun.
"Ada apa?" tanya Laksh lembut.
Arjun langsung mencium pipi Laksh, dan memeluknya.
"Selamat hari ayah" ucapnya lembut.
Entah mengapa Laksh merasa sangat nyaman saat tubuh mungil itu memeluknya.
Laksh hanya tersenyum saat melepaskan pelukannya dengan Arjun.
"Ayaahhhh" panggilnya lagi.
Laksh merasakan getaran di hatinya saat Arjun memanggilnya dengan sebutan ayah.
Sementara Ragini dia hanya terdiam, tak tau harus mengatakan apa.
"Paman pikirkan lagi aja yah permintaan Arjun tadi, Arjun ingin paman menjadi ayah Arjun"
Laksh hanya tersenyum kaku.
"Paman pergi dulu yah"
Laksh melepaskan genggaman tangan mungil Arjun, dia beranjak pergi dan menatap Ragini sekilas saat berpapasan dengannya.
Arjun tersenyum melihat Laksh yg perlahan menjauh, Ragini langsung masuk ke dalam mobilnya itu.
"Ibu.. Aku menyayangi paman itu. Apa ibu tidak bisa menikah dengannya?"
Ragini hanya terdiam, dia menggelengkan kepalanya.
"Ibu tak mengenalnya" jawab Ragini singkat.
Dia merasakan sesak di dadanya saat mengatakan hal itu.
"Kenapa ibu tadi tak berkenalan dengannya? Aku sangat menyukainya ibu. Dia sangat baik"
Ragini hanya tersenyum.
"Aku ingin punya ayah seperti dia, bu" lanjut Arjun.
Ragini menatap lekat wajah Arjun yg menunjukkan ekspresi memohon itu. Ragini hanya bisa tersenyum kaku dan mengelus pipi anaknya itu.
'Dia memang ayahmu, Nak' batin Ragini.
To be continued...