Remember Me

Remember Me
BERTAHANLAH!



×REMEMBER ME×


PART 7


"Arjun, ingat pesan ibu. Jika kau sudah pulang kau tunggu di sekolah sampai ibu menjemputmu, jika ada orang lain yg tak kau kenal menjemputmu, kau harus menolaknya yah sayang"


Arjun hanya mengangguk. Dia langsung berlari memasuki sekolahnya.


Ragini melangkahkan kaki keluar dan menyetop taxi.


"Ke Mumbai Group pak"


***


Laksh terus melamun, dia selalu berusaha untuk mengingat kesalahan yg dia lakukan bersama Ragini, hingga membuat Arjun lahir ke dunia ini. Tapi berkali-kali Laksh mencoba mengingatnya, dia tetap saja tak bisa ingat. Laksh menghela nafasnya panjang.


Tak bisa Laksh pungkiri jika wajah Arjun benar-benar mewarisi wajah tampannya. Sangat mirip! Tapi entah mengapa Laksh ragu, karena dia merasa tidak pernah melakukan hal itu dengan Ragini.


TOK.. TOK.. TOK..


"MASUK"


Dhruv masuk menghampiri Laksh dengan senyuman yg terukir di wajahnya.


"Laksh, ini hasil tes DNA kau dan Arjun"


Laksh mengambil sebuah map yg di pegang oleh Dhruv, dia membaca dengan seksama hasil tes DNA itu.


"Arjun, dia positif gen nya sama denganmu Laksh, Arjun adalah anak kandungmu"


Laksh menganggukkan kepalanya.


"Tapi aku benar-benar tidak mengingatnya Dhruv, aku tidak ingat jika aku pernah melakukan hal itu dengan Ragini"


Dhruv tersenyum dan menepuk pelan bahu Laksh.


"Kemungkinan kau melakukannya saat kau kehilangan kesadaranmu Laksh, bisa jadi karena pengaruh obat-obatan atau kau sedang mabuk?"


Laksh *** rambutnya, dia memejamkan matanya untuk mengingat hap itu. Tapi sama saja! Dia tetap tak mengingatnya.


"Tanyakan saja kepada Ragini, Laksh"


"Tapi aku takut dia akan terluka"


"Tidak apa-apa kau jujur saja kepadanya. Aku pamit dulu. Bye"


Laksh hanya menganggukkan kepalanya.


Dia memutar kursi kerjanya.


"LAKSHHH" teriak seorang wanita.


"Bulbul"


"Laksh.. Kau harus segera ikut denganku"


Bulbul menarik lengan Laksh dengan kencang.


"Ada apa?"


"Arjun...."


"Arjun? Ada apa dengannya?"


"Dia terjatuh dari tangga Laksh, di sekolah. Saat ini dia sedang berada di ruang gawat darurat"


"Astaga, putraku..."


Laksh langsung berlari menuju ruangan gawat darurat.


Dia sana sudah berada Dhruv, tubuh Laksh melemas saat melihat darah yg hampir membuat seragam Arjun berlumuran darah.


"Arjun bertahanlah"


Laksh langsung bergabung dengan Dhruv untuk menangani Arjun.


Di luar ruangan Bulbul terlihat sangat cemas, dia terus memutar ponselnya.


"Apa aku harus menghubungi, Ragini?" ucapnya pelan.


Bulbul dengan sigap menghubungi nomor Ragini.


"Astaga Ragini.. Mengapa nomormu tidak bisa di hubungi di saat yg sangat penting ini"


Bulbul terus mondar mandir dengan cemas.


Di ruangan operasi...


"Detak jantungnya melemah Laksh"


Laksh bercucuran keringat, jika di perbolehkan ingin rasanya dia berteriak dan menangis.


"Arjun bertahanlah, ada ayah disini" bisik Laksh di telinga Arjun.


Laksh lalu mengambil sebuah jarum dan mulai menjahit bagian kepala Arjun yg bocor.


***


Ragini sedari tadi gelisah. Hatinya benar-benar resah, dia terus menatap jam di tangannya itu. Tinggal lima belas menit lagi dia pulang dari tempatnya bekerja.


"Ragini.. Hari ini kau lembur yah.. Aku tukar shift denganmu, aku sedang ada urusan penting, Ragini. Ku mohon" rengek Kanchi sahabat Ragini.


Ragini hanya mengangguk, mau tak mau dia harus mengiyakannya, karena jika tidak siapa yg akan jaga. Dia menghela nafasnya kasar, berarti dia harus menambah jam kerjanya sampai jam 9 malam. Oh Dewa! Jika bukan karena Arjun, Ragini tidak akan mengambilnya. Karena menurut Ragini lembur akan sangat menguntungkan bagi dirinya dan menambah penghasilannya. Semua ini juga dia lakukan untuk Arjun.


"Ragini.. Istirahat dulu yuk di kantin. Kau lembur, kan?" ajak Zain.


Ragini hanya tersenyum dan mengangguk


"Waktu istirahatku jam 6 Zain"


"Astaga, lama sekali. Baiklah aku akan menunggumu disini"


Zain menopang dagunya dan terus memperhatikan dengan seksama wajah Ragini. Ragini menatapnya kesal, dua sangat risih dengan tatapan Zain.


"Hei, berhenti menatapku seperti itu"


"Kau semakin cantik saja Ragini" goda Zain.


"Berhenti menggodaku"


Zain hanya tertawa geli.


"Baiklah, jam 6 ku akan kesini lagi untuk mengajakmu istirahat bersama"


Ragini hanya mengangguk.


"Ya Dewa, semoga saja Arjun baik-baik saja. Mudah-mudahan Bulbul menepati janjinya untuk menjemput Arjun di sekolahnya"


***


"Huhhh.. Anakmu anak yg kuat Laksh, dia mampu bertahan" ucap Dhruv dengan menepuk punggung Laksh.


Laksh hanya tersenyum dan meneteskan airmatanya. Dia langsung membuka maskernya dan mendekati Arjun, dia mencium kening anaknya itu.


"Kau hebat.. Kau anak ayah yg kuat" ucapnya bangga.


Dhruv dan suster yg lain terharu melihat Laksh dengan Arjun. Mereka lalu keluar dari ruangan itu dengan tersenyum.


Bulbul dengan cepat langsung menghampiri Dhruv.


"Bagaimana keadaan Arjun, dok?"


"Dia anak yg kuat, dia telah berhasil melewati masa kritisnya"


Bulbul melipat kedua tangannya dan bersyukur kepada Dewa.


Bulbul langsung berlari menghampiri Arjun. Dia teeharu melihat Laksh yg tengah memeluk tubuh mungil Arjun. Laksh sadar saat merasa di perhatikan oleh Bulbul, dia lalu menoleh dan menghapus airmatanya.


"Laksh, kapan Arjun akan di pindahkan ke ruangan rawat inapnya?"


"Tunggu setengah jam lagi"


Bulbul hanya mengangguk.


"Kenapa semua ini bisa terjadi, Bulbul?"


"Aku tidak tau, tadi jam 12 siang Ragini menyuruhku untuk menjemput Arjun juga, setelah aku sampai sana suasanya sangat ramai, ternyata Arjun jatuh dari tangga. Aku panik, aku langsung menyuruh Purab untuk menjemput Sidd dan aku langsung membawa Arjun kesini"


"Terimakasih, kau telah menolong putraku"


"Putramu?" tanya Bulbul bingung. Karena Bulbul memang tidak mengetahui mengenai Arjun yg merupakan anak kandung Laksh.


"Iyah.. Dia adalah putraku dan Ragini"


"Apa? Bagaimana bisa?"


"Entahlah.. Aku juga tak mengingatnya. Aku benar-benar tidak ingat jika pernah melakukannya dengan Ragini"


Bulbul mengerutkan dahinya dan berpikir.


"Waktu itu aku pernah memergoki Ragini yg lama sekali ke toilet, aku memang melihat Ragini memegang testpack, astaga ternyata benar dia hamil"


"Aku baru mengetahuinya dari Akash"


"Akash? Berarti Meethi tau? Kenapa dia tidak mengatakannya kepadaku?"


"Entahlah..."


Tiba-tiba seorang suster datang.


"Permisi dokter Laksh, pasien harus segera di pindahkan ke ruangan rawatnya"


Laksh hanya mengangguk.


"Pindahkan ke kelas VVIP yah, masalah biaya biar nanti aku yg akan mengurusnya"


Suster itu hanya mengangguk.


"Nikahi Ragini, Laksh.. Hidupnya sudah sangat menderita"


Namun Laksh hanya terdiam, tak bergeming.


***


"RAGINIII.. AKU DATANG..." teriak Zain.


Ragini memutar bola matanya dengan malas saat melihat Zain.


Dia membuka lokernya dan mengambil ponselnya. Dia menghidupkan kembali ponselnya itu.


Ragini mengecek ada panggilan tak terjawab dari Bulbul banyak sekali.


Dia langsung menghubungi Bulbul.


"Bulbul.. Ada apa? Tadi ponsel ku di loker"


"Arjun kecelakaan Rag.. Dia terjatuh dari tangga sekolah tadi waktu mau pulang sekolah"


"APA????"


Seketika airmata Ragini jatuh menetes.


"Sekarang dimana Arjun? Bagaimana keadaannya?"


"Dia di rumah sakit, Laksh yg menemani Arjun, Rag"


"Laksh???"


"Iyah"


"Katakan di rumah sakit mana Arjun di rawat???"


Ragini melangkahkan kakinya meninggalkan Zain yg masih melongo di tempatnya.


"Nak, bertahanlah" ucap Ragini lirih.


To be continued... 😄😄