
Happy Reading
***
"Apakah membuat undangan seperti ini tidak terlalu berlebihan?" tanya Clara ketika melihat lima lembar undangan yang dibawa oleh Theresa saat mereka bertemu untuk makan siang bersama.
"Hanya lima undangan dan lagi, aku mengatur jadwalnya di akhir tahun ini jadi tidak akan masalah," katanya dengan nada santai.
"Itu sekitar empat bulan lagi.." gumam Clara saat melihat detail dari undangan. Orang mana yang buat undangan empat bulan sebelum acara? Pikirnya.
"Ini hanya semacam gertakan untuk Cassie dan keluarganya agar mundur.."
Tubuh Clara membeku dan dengan perlahan, dia mengangkat kepala untuk menatap Theresa yang menikmati makanannya.
"Keluarganya?"
Theresa mengangguk dengan santai, "Yah.. Aku akan menemui orangtua Cassie besok untuk memberikan undangan ini secara langsung..."
Clara melipat bibirnya dan terdiam sejenak. Apakah ini tidak berlebihan?
"Jangan berwajah tegang seperti itu.. Semuanya sudah kuatur. Kau hanya perlu duduk tenang. Aku akan selalu mendukungmu, Clara.. Sekarang, makanlah makananmu.. Seorang Dokter bedah handal sepertimu membutuhkan asupan nutrisi yang bergizi.."
Clara tersenyum kecil dan menaruh undangan tersebut di atas meja. Dia memegang garpunya dan menyendokkan salad yang dia pesan. Kepalanya sibuk memikirkan bagaimana akhir dari kisah ini? Apakah semua yang mereka lakukan ini setimpal untuk mendapatkan Christov? Dan lagi, apa yang akan hilang darinya demi mengejar Christov?
***
"Apa kau bisa menggambar objek selain bangunan saja, Christov?"
Entah sudah berapa kali, Christov mendengar pertanyaan itu ditanyakan padanya. Semua orang bertanya demikian karena mereka tak pernah sekalipun melihat hasil gambar Christov selain bangunan. Tentu saja dia bisa menggambar objek selain bangunan. Christov bisa menggambar objek apapun yang ada di hadapannya. Apa pun. Pohon, bangunan, benda mati, dan manusia. Namun, dia menolak menggambar manusia.
Yeah.. Christov tidak suka menggambar manusia. Mengapa? Karena manusia cepat berubah, tapi tidak dengan bangunan dan tumbuhan. Tentu saja, bangunan dan tumbuhan bisa berubah, tapi tidak secepat hati manusia. Hati manusia begitu cepat berubah dan itu membuat tidak suka menggambar manusia. Sebaliknya, dia merasa lebih hidup ketika menggambar bangunan, dibandingkan manusia. Christov merasa lebih bersemangat ketika menggoret tanaman di kertasnya. Dia merasa lebih kreatif menggambar objek apa pun selain manusia.
Namun, perspektif itu berubah sejak ada Cassie.
"Apa anda ingin wine, Sir?"
Christov tersadar dari lamunannya dan tangan kanannya yang memegang pensil untuk menggoret kertas mendadak berhenti. Dia memutar pandangannya ke arah pramugari yang menatapnya dengan tatapan hangat.
"Apa kalian punya jus jeruk?"
"Yes, Sir. Kami punya. Apa anda menginginkan jus?"
"Yeah.."
"Okay, Sir.."
Pramugari itu berjalan ke arah depan dan menanyakan penumpang yang lainnya. Well.. Di sinilah Christov sekarang, duduk di dalam pesawat komersial yang akan membawa dia pulang dari Seattle menuju Los Angeles. Duduk dengan tangan memegang pensil untuk menggoret wajah Cassie di atas kertas putih.
Ini adalah gambar Cassie ke-lima yang telah Christov gambar selama perjalanannya. Dia harus melakukan perjalanan ke beberapa kota yang berbeda selama dua minggu ini untuk memeriksa beberapa proyek yang dia kerjakan. Selama itu pula dia tidak bisa menghabiskan waktu secara langsung bersama Cassie. Mereka hanya bisa menikmati waktu bersama secara virtual.
Terbiasa menghabiskan waktu bersama Cassie selama beberapa bulan ini dan tiba-tiba terpisah oleh jarak selama dua minggu menimbulkan perasaan kosong pada Christov. Dia merasa tidak tenang dalam tidurnya, tidak merasa bersemangat bangun pagi, dan dia tidak selera makan apa pun.
Dari pengalaman ini pula, Christov sadar betapa dia sangat ketergantungan pada wanita itu. Gila. Itulah kata yang bisa menjelaskan keadaannya saat ini. Christov benar-benar tergila-gila pada Cassie dan berpikir jika dia lebih mencintai wanita itu dari pada dirinya sendiri. Cassie bagaikan candu untuknya. Sehari saja candu itu tidak dirasakan, hidup Christov terasa kosong.
Kosong seperti yang dia rasakan akhir-akhir ini.
Mimpi buruk kerap menghantui malamnya selama dua minggu ini dan mimpi itu adalah mimpi yang sama setiap malamnya. Terjadi secara berulang-ulang bagaikan kaset rusak. Mimpi di mana Cassie beralih darinya. Mimpi di mana Christov tidak bisa menggapai wanita itu sekeras apa pun dia mengejar Cassie. Mimpi itu sangat nyata dan membuatnya kesulitan untuk tidur.
Sebab tidak bisa memejamkan mata dengan tenang, Christov menghabiskan waktunya untuk bekerja dan mendengar satu lagu ciptaan Cassie tentang dirinya secara berulang-ulang kali untuk memastikan bahwa wanita itu pun benar-benar mencintainya dan tak akan meninggalkannya. Hingga tiba di suatu malam, tangannya seolah bergerak sendiri untuk menggoret wajah Cassie dengan bantuan imajinasinya dan entah mengapa, itu membuatnya merasa lebih tenang.
"Aku benar-benar ketergantungan padanya," bisik dia pelan seraya menggoret sentuhan terakhir pada gambar Cassie yang ke-lima. Semakin besar rasa ketergantungannya, semakin besar pula rasa takut kehilangan Cassie.
Namun, menggambar Cassie membuat rasa takutnya memudar. Christov berencana menghadiahkan kelima gambar ini pada Cassie dengan sebuah hadiah lain.
Yeah.. Hadiah lain..
Christov melanjutkan mempercantik dan memberi sentuhan terakhir pada kelima gambarnya hingga akhirnya dia sampai di Los Angeles pada pukul tiga sore. Dia tidak mengabari Cassie tentang kedatangannya dan membiarkan ini menjadi kejutan. Setelah melakukan pemeriksaan, Christov berjalan ke arah mobilnya yang terparkir di parkiran bandara lalu melajukan mobil menuju toko perhiasan Swarovski di pusat perbelanjaan.
"Selamat sore, Sir. Ada yang bisa saya bantu?" sapa pegawai yang bekerja di toko perhiasan tersebut.
Christov memberi kwitansi pembelian perhiasan yang dia lakukan dua minggu lalu. Pegawai itu meraih dan memeriksanya sebentar sebelum mengangguk kecil.
"Wait a minute, Sir*.." pegawai itu berjalan ke sisi lain toko dan berbicara pada pria paruh baya yang nampaknya seorang manager di toko ini. (*Tunggu sebentar, Pak.)
Christov menatap mereka dalam diam hingga akhirnya pegawai itu kembali dengan sebuah kotak beludru kecil berwarna biru gelap dan dia menduga itu adalah pesanan miliknya. Pegawai yang sudah mengenakan sarung tangan putih membuka kotak tersebut dan mengarahkannya pada Christov.
"Oh my..." bisiknya melihat dua buah cincin dari emas putih dengan taburan berlian swarovski kecil di badan cincin. Satu cincin lain memiliki berlian besar di tengahnya dan itu ditujukan pada Cassie.
"Boleh aku memegangnya?"
"Of course, Sir.."
Christov menarik satu cincin yang memiliki berlian besar tersebut lalu memperhatikan setiap detail cincin dengan teliti. Di bagian dalam cincin terdapat ukiran C&C dan itu membuat hatinya menghangat. Toko perhiasan itu benar-benar membuat cincin ini sesuai deskripsi yang Christov berikan.
"Ada ukiran C&C-nya pada setiap cincin, Sir.." jelas si pegawai, "Seperti yang anda pesan.."
Christov mengangguk kecil lalu menatap pegawai itu dengan senyum hangat.
"Jadi aku hanya perlu membawa pulang ini, bukan?"
"Yes, Sir. Pembayaran anda sudah 100% lunas," pegawai mengambil paper bag berwarna hitam dengan logo angsa dan nama perusahaan Swarovski di depannya, "Anda juga memiliki bukti surat kepemilikan dan kartu garansi selama satu tahun yang ada di dalam paper bag."
Christov memasukkan cincin itu kembali pada kotak beludru dan pegawai itu memasukkannya ke dalam paper bag.
"Thank you.."
"Senang bertransaksi dengan Anda, Sir. Kami tunggu pesanan anda berikutnya.."
Christov mengangguk sekali dan meraih papar bag itu untuk dibawa pulang. Sepanjang langkah kakinya menuju parkiran, senyum senang tak bisa ditahannya dan bayangan bagaimana reaksi Cassie setelah menerima hadiah darinya terus berputar di dalam kepala.
Dia akan memberikan cincin ini bersamaan dengan kelima gambar yang dia buat. Christov belum pernah memberikan hadiah pada Cassie karena wanita itu selalu melarangnya melakukan itu. Ingin rasanya Christov memanjakan kekasihnya dengan uang yang dia miliki, tapi Cassie benar-benar tidak mau.
"Simpan uangmu untuk rencana masa depan.."
Kata-kata itulah yang kerap dia terima setiap kali berusaha membeli Cassie suatu barang. Namun, kali ini, dia memberanikan diri membeli perhiasan mahal yang menghabiskan ribuan dollar saldo bank-nya. Harga dua pasang cincin ini benar-benar mahal dan Christov yakin Cassie akan menceramahinya karena membeli barang semahal ini. Namun, dia juga yakin bahwa Cassie akan menyukai cincin pasangan ini. Mana mungkin dia tega menyuruh Christov untuk mengembalikan perhiasan ini kembali.
"Cincin pasangan?" ulang Christov seraya memasuki mobil, "Menggelikan.. Astaga.. Aku tidak menyangkan melakukan hal-hal romantis seperti ini ini.."
Setelah menyalakan mesin mobil dan melajukannya menuju jalanan, Christov menghubungi nomor ponsel Cassie, tapi panggilannya malah tersambung ke voice mail (pesan suara). Dia menatap heran ke depan lalu mencoba memanggil Cassie sekali lagi dan hasilnya tetap sama saja.
"Tumben.." gumamnya pelan, "Apa sedang bekerja?" dia bertanya pada diri sendiri, tapi Christov kembali sadar bahwa sekarang sudah hampir pukul empat sore. Wanita itu berkata jika jam pulang kerjanya selama beberapa hari ini adalah pukul tiga sore. Dia menepikan mobilnya di pinggir jalan untuk mengecek akun google mereka. Dia selalu menggunakan aplikasi ini untuk melacak keberadaan Cassie. Itu pun jika Cassie mangaktifkan menu lokasi. Christov segera membuang napas dengan kasar saat dia tidak bisa menemukan keberadaan Cassie melalui aplikasi teraebut. Dia pasti menonaktifkan menu lokasinya. Batin Christov.
"Apa dia sedang berada di apartemennya?"
Dia menghela napas panjang karena tak dapat menemukan jawaban dari pertanyaannya dan memilih melajukan mobil menuju apartemennya. Setelah sampai di sana, Christov mencari keberadaan kekasihnya tersebut di dalam apartemen dan tidak menemukannya. Dia kembali memutuskan untuk memanggil Cassie, tapi tetap tersambung ke voice mail. Itu sedikit membuatnya gelisah, tapi Christov memilih untuk tetap berpikiran positif.
Dia memilih membereskan barang-barangnya seraya memakan roti sebagai pengganjal dari perutnya yang lapar. Setelah selesai, dia menghubungi Cassie kembali dan tetap tidak tersambung. Mandi dan memanggil wanita itu kembali, tapi tak kunjung tersambung. Christov menggeram dan menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang.
"Ada di mana dia?" tanya lagi dengan nada geram seraya membuka kotak pesan.
"Mama.." bisiknya dengan amarah, "Clara.. Sialan.. Sialan..."
Christov segera bangkit dari tempat tidur, meraih kunci mobil serta jaket, lalu berlari cepat menuju basement. Tubuhnya bergetar oleh rasa amarah dan takut. Tangannya menggenggam stir mobil dengan kencang dan kepalanya tidak henti-hentinya dihantui oleh keadaan Cassie saat ini.
Apakah wanita itu akan memercayai undangan sampah sialan ini? Apa yang terjadi? Di mana dia? Bagaimana perasaanya? Argh.. Christov frustasi. Benar-benar frustasi. Padahal hubungannya dengan Cassie baik-baik saja selama beberapa waktu ini dan tiba-tiba Ibu serta Clara datang menghancurkannya semuanya.
"Sialan!" umpatnya.
Dia memutar stir mobil dengan belokan tajam lalu memarkirnya di depan gedung apartemen Cassie. Dengan langkah cepat, dia memasuki gedung tersebut lalu menaiki tangga menuju rooftop, tempat di mana Cassie berada. Christov menekan password menuju apartemen Cassie, sesaat setelah pintu terbuka, dia melangkah masuk dengan cepat. Langkah kakinya tiba-tiba terhenti ketika akhirnya melihat Cassie.
Duduk di atas ayunan dengan tank top hitam yang memamerkan belahan da-danya dan hotpants jeans yang pendek. Satu kakinya di angkat ke atas ayunan dan satu lagi berada di bawah. Namun, hal yang membuat Christov terkejut adalah rokok yang bertengger di antara jari telunjuk dan jari tengah Cassie. Dua kaleng bir kosong serta beberapa bekas puntung rokok berserak di bawah ayunan dan satu kaleng bir yang berisi berada di atas ayunan.
Mereka saling bertatapan. Christov menatapnya dengan tatapan keheranan dan Cassie menatap dia dengan tatapan malas tanpa emosi. Wanita itu menghisap rokoknya dalam-dalam lalu mengembuskannya ke udara dalam gerakan lambat dengan tetap melihat dia. Christov tidak pernah melihat kekasihnya tersebut merokok, tapi melihat Cassie saat ini benar-benar membuat Christov kehabisan kata-kata. Entah mengapa, Cassie terlihat sen-su-al dan di waktu yang bersamaan, keadaan Cassie menjelaskan bawah wanita itu tidak baik-baik saja.
"Cassie.." panggilnya dengan suara serak.
Wanita itu menghisap rokoknya lagi dengan tetap menatapnya. Christov menelan ludah karena tidak bisa membaca emosi Cassie. Dengan berani, dia melangkah maju, tapi Cassie mengangkat tangan kirinya untuk menghentikan Christov. Tubuhnya membeku dan bibirnya bergetar akan segala kemungkinan yang akan terjadi.
"Cassie.. Please.. Itu semua bohong. Undangan itu tidak memiliki sangkut paut denganku. Aku benar-benar tidak tahu tentang undangan itu, Cassie.." jelasnya dengan kalang kabut, "Please.. Please.. Tell me something*.."
(*Kumohon... Beritahu aku sesuatu..)
Cassie mengangguk kecil lalu menekan ujung rokok ke permukaan ayunan hingga bunga apinya hilang. Kemudian menjatuhkannya ke atas lantai, bergabung dengan puntung rokok yang lain. Wanita itu menghela napas panjang sebelum kembali menatap Christov.
"Please.. Please.. Aku benar-benar tidak punya sangkut paut dengan itu semua.."
"Aku tahu itu," ujar Cassie dengan suara kecil, "Aku tahu kau tidak punya sangkut paut dengan undangan sialan itu.." dia menyandarkan tubuhnya di sandaran ayunan kayu.
Christov terdiam, merasa tidak puas dengan jawaban Cassie.
"Apa semua baik-baik saja?" dia melangkah maju lagi.
"Stop.." cegat Cassie dengan suara dingin, "Stop there, Christov*.."
(*Berhenti di sana)
Christov berhenti dan seluruh tubuhnya menegang mendengar nada dingin tersebut. Nada dingin yang tak pernah didengar Christov sebelumnya. Jantungnya semakin berdegup kencang oleh rasa takut.
"Cassie.. Kenapa? Apa terjadi sesuatu?Aku benar-benar tidak tahu apa pun tentang undangan itu..."
Cassie berdiri dari duduknya dan berdiri tegak, "Mom dan saudariku datang hari ini ke apartemenku dan kau tahu apa yang mereka katakan, Christov?"
Dia terdiam dan tetap menunggu Cassie untuk berbicara. Kontak mata itu tidak sekalipun terlepas. Mereka saling bertatapan dan mengirimkan berbagai pesan hanya melalui tatapan tersebut. Christov tetap menatapnya dengan sorot memohon. Terus menatap hingga akhirnya emosi Cassie perlahan keluar. Emosi Cassie akhirnya perlahan muncul di wajahnya.
"Mereka bilang aku harus mengakhiri hubunganku denganmu, Christov. Atau lebih tepatnya, mereka memohon padaku agar mengakhiri hubungan kita," bisiknya dengan suara bergetar. Suaranya menyorotkan kesedihan dan entah mengapa, dunia Christov perlahan runtuh setelah mendengar itu semua. Kenapa? Kenapa Ibu dan saudari Christov mengatakan hal tersebut? Bukankah mereka berkata tidak keberatan dan tidak mempermasalahkan latar belakang Christov?
"Apa yang terjadi?" tuntutnya. Dia menginginkan penjelasan atas perkataan Cassie tersebut. Pasti ada alasan dibalik ini semua.
Cassie memeluk dirinya sendiri dengan kedua tangannya dan kedua matanya mulai berkaca-kaca.
"Apa yang terjadi, Cassie?" ujar Christov dengan suara hancur, "Please.. please, baby.. Biarkan aku memelukmu.."
Cassie menggeleng dan memutuskan kontak mata dengannya.
"No, Christov.. No.." katanya dengan suara parau. Hati Christov semakin hancur mendengar penolakan Cassie. Tubuh kekasihnya tersebut bergetar oleh berbagai emosi. Untuk pertama kalinya pula, Christov melihat Cassie begitu rapuh.
"Please.." pintanya lagi dan melangkah maju.
"Ibumu bilang aku adalah pe-la-cur cacat yang memperdayaimh.." kata Cassie secara tiba-tiba. Dia mengangkat kepala lagi untuk menatap Christov. Menatapnya dengan sorot kepedihan dan amarah.
"Apa?" bisik Christov, merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Air mata yang sudah ditahan Cassie sejak tadi akhirnya menetes, mengalir di kedua sisi pipinya, dan menganak sungai di sana.
"Ibumu menjumpai Ibuku dan berkata hal seperti itu, Christov.... Ibumu memberi Ibuku uang dan undangan sialan itu agar menyuruhku meninggalkanmu.." teriak Cassie dengan amarah yang meledak-ledak.
Christov terdiam, benar-benar kehilangan kata-katanya sendiri.
"Dia menyebutku sebagai pe-la-cur cacat. Dia mengatakan itu secara langsung pada Ibuku, Christov!" Cassie meraung dan tangisnya semakin menjadi-jadi.
"Please.. Please, Cassie.. Aku sudah berkata padamu bahwa aku akan selalu memilihmu.. Kumohon.. Kumohon jangan pergi.. bertahanlah.. Kumohon.."
Cassie menggeleng, "Aku tidak tahu, Christov.. Aku tidak tahu bisa bertahan di titik ini..."
Dia maju lagi, "Kumohon. Bertahanlah untukku.. Kumohon, Cassie.. Please.. Kau sudah berjanji untuk tidak meninggalkanku.."
Cassie menggeleng lagi lalu memutar tubuhnya untuk meninggalkan Christov, "Please go*.. Kumohon tinggalkan aku sendiri, Christov..."
(* Kumohon pergi)
"No!" ujarnya dengan nada tegas. Dengan cepat dia mengejar Cassie dan meraih tangan kanan wanita itu.
"Lepas!" teriak Cassie dengan amarah, "Lepaskan aku sialan!" rontanya.
"No.. No.." ujar Christov dengan nada penuh ketakutan. Tanpa ragu, dia menarik Cassie ke dalam pelukannya. Mengukung tubuh kekasihnya tersebut. Wanita itu meronta semakin jadi, tapi Christov mempererat pelukannya dan tidak membiarkan Cassie pergi.
"Aku tidak mau.. Aku tidak mau pergi, Cassie..."
"Lepaskan aku.. Lepaskan aku.. Biarkan aku sendiri.." raung Cassie dengan rontaan untuk melepas diri dari Christov.
"No.. No.. Please.. Kumohon. Kumohon jangan begini.." kata Christov dengan suara serak yang tersirat nada ketakutan.
"Kau sudah berjanji.. Kau sudah berjanji tidak akan pergi. Kumohon, Cassie.. Kumohon percaya padaku.."
"NO!" teriakan Cassie semakin kencang dan dengan kekuatan penuh, dia mendorong Christov dengan sekuat tenaga hingga akhirnya terlepas dari kukungan Christov.
"Stop it! Aku tiba bisa.. Tidak bisa lagi, Christov..."
Tubuh Christov bergetar dengan rasa ketakutan yang semakin menjadi-jadi. Matanya berkabut oleh air mata yang menggenang. Dia menggeleng, menolak percaya dengan perkataan Cassie.
"Kau berkata kau mencintaiku, Cassie.. Kau berjanji aku adalah yang terakhir.. Please.. Please.. Aku sudah berkata aku akan tetap memilihmu. Apa pun yang terjadi, aku akan tetap memilihmu, Cassie.."
"Bagaimana bisa aku memercayaimu? Bagaimana bisa aku melanjutkan hubungan ini setelah Ibumu menyakiti hati dan perasaan Ibuku, Christov? Tidak apa-apa jika seluruh dunia membenci dan menghancurkanku, Christov. Tidak apa. Namun, tidak dengan Ibuku.." raung Cassie dalam kesedihan dan amarah yang bercampur.
"Bagaimana.. Bagaimana aku membuktikan padamu bahwa aku bisa dipercaya? Please.. Please, Cassie. Ayah dan saudariku masih merestui hubungan ini.. Kumohon.."
Cassie menggeleng, " Aku tidak tahu.. Aku hanya butuh waktu sendiri, Christov.. Biarkan aku sendirian memikirkan semua ini.. Pulanglah.. Kumohon.." dia memutar tubuhnya dalam gerakan lemah. Punggungnya menunduk lesu.
Mimpi itu terjadi. Batin Christov. Melihat punggung Cassie yang berjalan meninggalkannya kembali mengingat dia dengan mimpi buruk yang menghantuinya selama beberapa hari ini. Mimpi itu terjadi. Cassie pergi... Pergi meninggalkannya.
"Menikah..." bisik Christov tanpa pikir panjang dan tubuh Cassie mendadak berhenti.
"Jika itu bisa membuatmu percaya, menikahlah denganku, Cassie..."
****
Miss Foxxy
Maaf baru update kak, semoga chapter ini cukup panjang yah So sorry. Akhir tahun gini suka sibuk sama mmg dgn urusan ini-itu. Maaf bgt yah kak terus jarang update juga. Terimakasih sudah setia menunggu.. I really" appreciate that. I love you guys. Love you so much.