
Happy Reading
****
"Kau tahu jalan menuju apartemenku," gumam Christov ketika mobil Cassie memasuki area apartemennya. Apa yang dia katakan sebelumnya bukanlah pertanyaan, melainkan pernyataan. Dia cukup terkejut melihatnya kelihaian wanita itu berkendara melalui jalan tikus menuju gedung apartemennya tanpa panduannya sedikit pun.
"Tentu saja.. Boleh aku minta kartu pass menuju lantai basement?"
"Ah.. Okay," Christov merogoh dompet dari dalam saku celananya dan mengambil kartu pass untuk diberikan pada Cassie. Matanya menatap setiap gerak-gerik Cassie yang terlihat tidak canggung saat menempelkan kartu tersebut, bahkan wanita itu mengetahui lokasi parkiran milik Christov.
"Kau bahkan tahu posisi lahan parkirku. Nampaknya kau sudah sering berkunjung ke tempat ini,"
Cassie yang tengah melepas sabuk pengaman setelah mesin mobil mati tersenyum tipis, "Well.. Kau selalu memintaku untuk menginap di tempatmu setiap harinya. Apartemenmu sudah seperti rumah kedua untukku..."
Christov mengangguk kecil dan ikut keluar dari mobil bersama Cassie. Keduanya berjalan beriringan dan Christov tidak bisa menahan diri untuk tidak melirik ke arah wanita itu dari sudut matanya. Mengamati sisi samping wajah Cassie dalam diam.
"Kenapa kau bisa basah kuyup seperti itu?"
Cassie menoleh ke arahnya, "Aku akan memberitahumu nanti.."
Keduanya masuk ke dalam lift lalu berjalan lagi di sepanjang lorong menuju unit apartemen Christov. Matanya melihat Cassie yang menempelkan kartu pass lagi lalu menekan rangkaian nomor password apartemennya pada kunci elektronik.
"Kau bahkan tahu sandi masuk ke apartemenku.."
"121770. Tanggal lahir Beethoven, Desember tahun 1770. Bukan begitu?" kata Cassie seraya melangkah masuk ke dalam apartemen Christov, "Kau begitu tergila-gila padanya hingga membuatku iri," celoteh Cassie yang melepas sepatunya dan menaruhnya ke dalam rak sepatu.
Begitu alami tanpa kecanggungan sedikit pun. Batin Christov yang sedang melepas sepatunya sendiri.
"Boleh aku mandi di kamar mandimu?"
"Boleh," ujar Christov saat menaruh paper bag di atas sofa. Dia menatap Cassie yang melepas jaket miliknya dan menggantungkan benda itu di atas bahunya.
Dalam penampilan seperti ini pun dia tampak keren.
"Apa kau punya paracetamol dan vitamin C tablet?"
"Uhm.. Entahlah," matanya melihat Cassie yang menaiki anak tangga menuju kamarnya. Dia bahkan tahu posisi kamarku di mana.
"Kau selalu menyimpannya di dalam laci meja nakas dalam kamarmu atau di kotak P3K yang ada di dalam ruang kerjamu. Boleh kau memeriksanya untukku, Christov?"
Christov mengedip-edipkan matanya sesaat Cassie menghilang di balik pintu kamarnya lalu menghela nafas panjang. Kakinya dilangkahkan menaiki anak tangga untuk menyusul Cassie. Masuk ke dalam kamar, dia melihat bayangan cahaya lampu dari celah pintu kamar mandi dan juga terdengar suara shower. Christov buru-buru mencari obat paracetamol dan vitamin C dari dalam laci meja nakasnya sebelum pikiran yang tidak seharusnya muncul.
"Astaga.. Dia bahkan mengingat di mana aku menyimpan obat-obatan," gumamnya, "Aku saja tidak ingat.."
Christov juga menemukan ponsel dan amplop undangan pemberian Cassie di dalam laci. Duduk di pinggir ranjang, Christov menyalakan ponselnya. Sembari menunggu ponselnya aktif kembali, dia memeriksa isi amplop itu dan melihat satu benda yang belum dia cek sebelumnya yaitu kunci kecil.
Christov memegang kunci kecil yang nampak antik itu di antara jemarinya lalu memutar-mutar benda itu dengan tatapan penuh tanda tanya. Kunci untuk apa? Pikirnya. Christov kembali meneliti kunci itu dan bertanya-tanya untuk apa kunci ini.
Perhatiannya teralihkan saat mendengar suara pintu kamar mandi yang terbuka, Christov menoleh ke sumber suara dan menemukan Cassie yang berdiri di depan pintu kamar mandi dengan handuk yang melilit tubuh dan rambutnya.
"Aku menggunakan gosok gigimu yang baru.."
Christov berdehem dan menahan diri untuk tidak melihat kaki jenjang Cassie, "Tidak masalah,"
Wanita itu mengangguk kecil lalu berjalan menjauh dari kamar mandi, "Kau belum buka kotak kayu itu, yah?"
"Kotak kayu? Kotak kayu apa?"
"Well.. Aku yakin kau menyimpan kotak kayu yang aku berikan padamu di rak-rak yang ada di ruang kerjamu. Kau mungkin melupakannya, tapi tidak mungkin kau tidak menyadari keberadaan kotak itu di ruang kerjamu. Aku berkata seperti itu karena kau orang yang teliti..."
Christov menyipitkan mata dan menyerngitkan kening untuk mengingat kembali kotak kayu yang Cassie bicarakan. Hingga akhirnya kedua matanya terbuka lebar saat kembali mengingat kotak kayu antik yang dia temukan beberapa hari yang lalu di dalam ruang kerjanya. Wanita itu lagi-lagi benar.
"Jadi kotak kayu itu darimu?"
"Yeah.. Boleh aku meminjam pakaianmu?"
"Tentu. Pakai saja," Christov berdiri dari duduknya, "Ini Paracetamol dan vitamin C.. Aku akan ke ruang kerjaku sebentar.."
Cassie mengangguk, "Yeah," wanita itu berjalan mendahuluinya dan Christov tidak bisa menahan diri untuk mengintip tatto burung milik Cassie dari sudut matanya. Christov menggeleng-gelengkan kecil kepalanya untuk menyadarkan diri bahwa sekarang bukan saatnya untuk memikirkan tatto-tatto milik Cassie. Namun, tetap saja bayangan tatto mawar Cassie membayang di kepalanya saat dia berjalan meninggalkan tempat tersebut menuju ruang kerjanya.
Sesampainya di sana, matanya mencari-cari kotak antik itu di antara rak buku lalu mencarinya di laci kerjanya. Senyum lebar langsung menghiasi wajahnya saat akhirnya menemukan kotak kayu yang berukiran unik tersebut. Sekarang, Christov ingat pernah menemukan benda ini dan menaruhnya dalam laci. Duduk di atas kursi kerja, Christov menaruh kotak itu di atas meja lalu memasukkan kunci kecil tadi ke dalam lubang kunci.
"Terbuka," bisiknya dengan tatapan penuh bangga. Manik matanya nampak berbinar bagaikan anak kecil yang menemukan kotak harta karun miliknya. Dengan gerakan perlahan, Christov membuka tutup kotak dan akhirnya melihat isi dari kotak yang membuatnya penasaran. Dia menemukan tiga benda yang menumpuk. Di tumpukan paling atas, dia menemukan secarik kertas yang terlipat. Christov membuka lipatan kertas tersebut dan menemukan surat yang di tulis tangan. Dia langsung tahu siapa pemilik dari tulisan tangan tersebut. Cassie.. Yah.. Cassie-lah yang menulis surat ini.
Christov berdehem kecil dan mulai membaca isi surat tersebut dalam diam.
Sabtu, 15 Agustus 1992
Untuk kekasih dan calon suamiku, Christoval..
Aku selalu berpikir bahwa tidak ada tempat yang aman selain rumahku.
Namun, semenjak mengenalmu, aku tidak setuju lagi..
Sekarang, tidak ada lagi tempat yang aman selain dalam pelukanmu...
Kau berjanji bahwa tidak akan ada satu pun yang dapat menyakitiku lagi dan aku percaya..
Aku percaya bahwa kau akan selalu melindungiku..
Terimakasih sudah mau selalu ada untukku walau aku egois, Christov...
Happy Birthday my dear Christov.
I love you..
^^^With Love^^^
^^^Cassie^^^
Christov menarik napas panjang dengan kesulitan ketika merasakan dadanya terasa sesak. Dia tidak bisa mendeskripsikan perasaannya sesaat setelah membaca isi surat tersebut. Fakta bahwa dia menjali hubungan dengan Cassie bahkan menikahinya membuatnya kebingungan. Sulit baginya menerima fakta tersebut walau sudah diberikan berbagai bukti.
Dia melupakan ingatannya selama enam bulan yang di mana di dalam ingatan tersebut terdapat Cassie. Artinya, secara teknis dia dan Cassie masih saling mengenal kurang lebih selama enam bulan. Enam bulan dan mereka sudah berani untuk menikah. Apa yang membuat dia dan Cassie berani untuk menikah?
"Gila," bisiknya penuh ketidakpercayaan, "Apa yang merasukiku hingga beranj melakukan itu?"
Berpacaran adalah hal yang jarang terpikirkan oleh Christov, terutama menikah. Dia tidak pernah memasukkan pernikahan sebagai targetnya di usia dewasa ini. Tidak pernah sekali pun. Menikah dan membangun bahtera keluarga bukanlah sesuatu yang Christov pikir cocok untuknya. Namun, di sini lah dia sebagai pria berusia 29 tahun yang sudah menikah tapi tidak mengingat tentang pernikahan serta istrinya sedikit pun.
Lucu, bukan?
Christov melipat surat itu kembali ke bentuk semula dan memeriksa isi kotak itu lagi. Dia menarik buku jurnal dan sebuah CD dari dalam kotak. Christov meneliti CD tersebut lalu membuka bungkusannya dan melihat gambar pertanian gandum di permukaan CD. Menarik laptopnya mendekat, Christov memasukkan CD tersebut setelah laptop menyala. Dia langsung menemukan dua puluh file video yang memiliki judul yang berbeda-beda.
"Apa isi benda ini?" bisiknya seraya tetap meneliti file tersebut, "I'm Enchanted?"
Christov tiba-tiba teringat hari di mana dia makan malam dengan Cassie. Wanita itu memutar musik berjudul I'm Enchanted di pemutar musiknya.
Apa ini lagu yang sama? Pikir Christov.
"Aku dulu mengenal seseorang yang begitu tergila-gila dengan Beethoven, Mozart, dan semacamnya. Namun, sejak mendengar lagu ini, dia tergila-gila padaku," ucap Cassie pada saat itu kepadanya.
"Jadi seseorang yang selalu dia bicarakan itu adalah aku?" dia tertawa kecil dan merasa bangga karena wania cantik itu ternyata membicarakan dirinya. Christov menekan tombol mulai pada file video berjudul I'm Enchanted tersebut dan di layar laptop muncul perkenalan sekilas tentang lagu itu.
Judul Lagu : I'm Enchanted.
Ditulis dan dinyanyikan oleh : Cassandra De Angelis.
Insipirasi : Christoval O'Connel
Selanjutnya, musik lagu mulai terputar dan layar pada video itu berganti dan menampilkan gambar pemandangan ladang gandum. Christov tersenyum tipis lalu mengusap layar laptopnya. Lahan gandum di mana mereka bertemu untuk kedua kalinya setelah keluar dari rumah sakti.
"Pantas Nugget dan Salmon mengenali dia," ujarnya dengan suara mengenang.
Christov melipat bibirnya lalu membuka jurnal yang Cassie berikan dan melihat tulisan tangan wanita itu di sana. Tulisan tangannya yang bertuliskan lirik lagu. Isi dari jurnal tersebut tidak rapi dan banyak coretan not angka serta lirik lagu. Setiap coretan menandakan keseriusan wanita itu dalam menulis lirik lagu.
"Dia menulisnya dengan penuh cinta.."
Christov membaca lirik setiap lagu secara sekilas dan semua lirik itu berisikan kisah cinta mereka berdua yang terlupakan oleh Christov. Jelas.. Jelas wanita itu sangat mencintainya hingga bisa mendeskripsikan dirinya dengan dengan sangat baik dan begitu detail dalam lagu ini.
"Dia penulis yang hebat.. Bagaimana bisa dia mendeskripsikanku dengan sangat sempurna?"
Hingga akhirnya lagu itu selesai, senyum penuh haru menghiasi wajah Christov. Dia merasa terharu mendengar isi lagu itu. Dari isi lirik itu juga, Christov tahu bahwa mereka bertemu di sebuah pesta. Namun, pesta mana? Christov mengangkat kepalanya ketika dia merasakan bahwa seseorang tengah menatapinya. Dia terkejut bukan main ketika melihat Cassie berdiri di tengah ruangan.
"Oh my.. Kau bisa membuatku terserang penyakit jantung,"
Cassie tertawa kecil, "Lagu itu benar-benar menghipnotismu sampai kau tidak menyadari kedatanganku, yah?" wanita itu duduk di hadapan Christov.
"Well.. Begitulah. Bagaimana bisa kau masuk tanpa kusadari, huh?"
"Itu karena aku gesit. Itu untukmu.. Hadiah ulang tahun," Cassie nampak menarik napas panjang sebelum kembali berbicara, "Aku tahu ini sudah terlambat, tapi aku masih ingin mengucapkannya secara langsung.."
"Apa?"
"Happy Birthday, Christov.."
Christov mengangguk kecil dan ikut menarik napasnya, "Thank you.. Terimakasih untuk hadiahnya dan lagu ini..."
"Kau nampak canggung.."
"No.. No," dia menggeleng, "A--Aku.. Aku hanya tidak siap menerima semua fakta ini.. Fakta bahwa aku dan dirimu sudah menikah bagaikan bom bagiku..."
"Hmm.. Aku memakluminya.."
Christov berdehem lalu menutup buku jurnal itu.
"Apa kau sudah meminum obat paracetamol-mu?"
Cassie mengangguk kecil, "Bagaimana denganmu? Bagaimana bisa kau di larikan ke rumah sakit? Kau sakit yah? Apa kau sudah sembuh?"
Christov menggaruk kulit kepalanya yang tidak gatal, "Well.. Aku dilarikan ke rumah sakit karena ditemukan tidak sadarkan diri di kamarku.."
Dia menatap Cassie yang menatapnya lekat, seolah menunggunya kembali berbicara.
"Oh my.. Artinya itu kesalahanku, bukan?"
Christov menggeleng keras, "No.. Jangan salahkan dirimu. Kau tidak salah, Cassie.. Tubuhku memang dalam kondisi kurang sehat.. Bagaimana denganmu, Cassie? Kenapa kau basah kuyup seperti itu?"
"Uhm.. Karena dirimu?"
"Aku? Karena aku? Bagaimana bisa?" tanya Christov dengan nada bingung.
"Aku terus menunggu panggilanmu sejak pertemuan kita di hotel. Aku menunggu dengan perasaan harap-cemas karena aku yakin kau sudah melihat isi amplop yang aku berikan padamu. Namun, kau tak kunjung memanggilku.."
Christov tersenyum penuh rasa bersalah, "Itu mungkin karena aku di rumah sakit.."
"Yeah.. Well.. Aku menghubungimu berulang kali, tapi sambungan ponselmu tidak teraambung. Aku akhirnya mencari informasi dan karyawanmu mengatakan bahwa kau dilarikan ke rumah sakit dan akhirnya aku mencari ke sana ke mari untuk mencari keberadaanmu. Kau tahu bukan hujan turun lebat tadi?"
"Yeah.. Yeah.. Aku tahu.. Bahkan hujan masih turun sampai sekarang."
Cassie mengangkat bahunya, "Payung sialanku malah terlepas dari tanganku saat berjalan menuju rumah sakit dan akhirnya aku basah kuyup.."
"Lalu kita bertemu di lobi," lanjut Christov.
Cassie tertawa, "Yeah.. aku hampir menyerang dan menghajarmu karena melihatmu bergandengan dengan Clara.."
"Ah.. itu.. Well.. Sejujurnya, bukan aku yang mengandeng dia pertama, Cassie... Percayalah. Bukan aku," katanya dengan nada menyakinkan. Matanya menatap Cassie dengan tatapan rasa bersalah.
"Jika bukan kau, kenapa kau tidak berinisiatif untuk melepasnya?"
Sekarang Christov kehilangan kata-kata sendiri, "Itu karena... Karena.. karena aku tidak tega, Cassie.. A--Aku.."
"Okay.. Okay," potong Cassie, "Aku paham. Kau memang selalu menjadi pria sialan yang sangat baik dan tidak tegaan pada siapa pun.."
"Pria sialan?" ulang Christov dengan gelak tawa.
"Ya dan aku mencintai pria sialan tersebut.."
Christov berhenti tertawa dan digantikan dengan senyum tipis yang kaku.
"Well.. Jadi, apa kau sudah bisa menceritakan semuanya, Cassie? Semua kisah yang terlupakan olehku?
"Bisa, tapi itu merupakan kisah yang sangat panjang dan membosankan.."
"Aku yakin tidak ada hal yang membosankan dari wanita sepertimu, Cassie.."
"Kau tahu, aku masih berharap kau bisa mengingat kembali semua ingatanmu sehingga aku tidak perlu menceritakan ini. Rasanya..." Cassie menarik napas, "Rasanya pedih dan perih.."
Christov menatap wajah Cassie dan dia bisa melihat ekspresi sedih di wajahnya tersebut. Bisa mendengar bahwa wanita itu tengah berusaha menahan diri untuk tidak menangis. Dia segera berdiri dari duduknya dan bersimpuh di hadapan Cassie, "Kau ingin menangis?"
"Aku tidak menangis.. Aku hanya.." Cassie menahan napas dan berharap itu bisa menolong dirinya untuk tidak menangis.
"Tak apa.. Sekarang hanya tinggal kita berdua. Menangislah, Cassie. Aku tahu bahwa menangis akan membaut perasaanmu lebih lega."
Cassie menggeleng, "Aku sudah terlalu sering menangis akhir-akhir ini dan tidak pernah merasa lega.."
"Kalau begitu, aku akan ikut menangis bersamamu jika kau malu.."
Dia tertawa mendengar ucapan Christov, "Setidaknya kau masih tetaplah pria besar yang sangat baik, Christov," katanya dengan nada berusaha tegar. Namun nyatanya, ucapan Christov yang terdengar biasa itu malah membuat pertahanannya runtuh. Pertahanannya runtuh dan setetes air mata mengalir lembut dari sudut matanya.
Christov yang melihat itu mengangkat tangan kanan lalu mengusap wajah Cassie yang sudah basah oleh air mata, "Kau berkata kau sudah terlalu sering menangis. Apa kau menangisiku?"
"Well.. Begitulah. Aku menangis karena takdir begitu jahat pada kita. Sangat jahat..."
"Kau menangis sendirian?"
"Tentu saja.. Kau pikir aku akan menangis di tengah keramaian, huh?"
"Pasti berat menangis sendirian," bisik Christov lembut seraya menyelipkan anak rambut Cassie ke balik telinganya, "Kalau begitu, sekarang kau boleh menangis tanpa merasa sendirian lagi karena aku akan menemanimu dan memelukmu," Christov berdiri lalu menarik kepala Cassie ke arah perutnya, "Memelukmu dengan lembut jadi menangis-lah.."
Hisakan Cassie yang sudah tidak tertahankan itu lagi akhirnya terdengar dan perlahan kedua tangan wanita itu melingkari pinggul Christov dengan kencang, sedangkan Christov mengelus rambut Cassie dengan lembut.
"Aku merasa sedih dan lega, Christov.. Aku lega karena akhirnya bisa merasakan pelukanmu lagi.. Namun.. Namun, aku merasa sedih karena kau masih melupakanku.. Melupakan kenangan kita.." tangisnya kencang, "Apa yang kau takutkan selama ini akhirnya terjadi... Kita menjadi orang asing dan itu benar-benar membuat takut.. Aku sangat ketakutan.."
"Maafkan aku.. Maafkan aku, Cassie.."
"A.. Aku.."
"Ssttt.. Jangan khawatirkan hal yang lain. Ingatanku mungkin tidak kembali untuk saat ini, tapi aku tidak akan pergi lagi, Cassie. Tidak akan pernah..."
****
"Jadi aku yang mengajakmu menikah?" tanya Christov setelah mendengar cerita Cassie. Wanita itu menceritakan semuanya dengan sangat detail dan Christov mendengarnya dengan seksama. Tidak ada sedikit bagian pun yang terlewat oleh Cassie.
"Hmm.. Begitulah. Kau berpikir jika aku yang mengajakmu, huh?" dia semakin merapatkan tubuhnya dalam pelukan Christov, "Aku benar-benar merindukanmu, Christov," Cassie menghirup aroma tubuh Christov dalam-dalam.
"Aku berpikir jika kau yang mengajakku menikah karena hal semacam pernikahan dan hal romantis tidak pernah terlintas dalam diriku. Menikah dan membangun bahtera keluarga bukanlah aku...."
"Yeah.. Kita berdua seperti itu, Christov. Kita berpikiran seperti itu sebelum kita saling bertemu."
Christov mengelus punggung Cassie, "Artinya aku sangat-sangat mencintaimu, bukan?"
"Begitulah.."
"Bahkan aku sudah membuat sendiri arsitektur rumah kita di masa depan.."
"Aku juga tahu itu," Cassie mengangkat kepala untuk melihat wajah Christov, "Aku belum pernah melihatnya, Christov.."
"Besok saja," Christov mempererat pelukannya pada tubuh Cassie, "Besok saja karena aku ingin memelukmu seperti ini.."
"Baiklah jika kau memaksa.."
Christov tertawa kecil dan mengecup pucuk kepala Cassie.
"Apa orangtuamu sudah tau Cassie?"
Cassie menghembuskan napas lelah, "Aku masih berharap ingatanmu segera kembali sehingga aku tidak perlu repot menceritakan ini," ujarnya, "Mereka belum tahu jika ingatanku sudah kembali, tapi aku berencana memberitahu mereka sesegera mungkin. Bagaimana dengan Ibumu, Christov?"
"Bisa kita bicarakan ini besok saja, Cassie?" Christov juga tiba-tiba merasa lelah hanya ketika topik pembicaraan tentang Ibunya keluar.
Cassie menarik tubuhnya menjauh dari pelukan Christov untuk memeriksa keadaannya
"Kepalamu sakit lagi? Kenapa suaramu terdengar lesu seperti itu?"
Christov menggeleng, "Tidak. Aku hanya tidak ingin membahasnya lagi. Rumitnya kisah cinta kita benar-benar membuatku pusing, Ditambah, aku tidak mengingat sedikit pun tentang hal itu. Kau tahu betapa frustasinya aku?."
Cassie menepuk-nepuk punggung Christov dengan lembut, "Jangan frustasi, Christov. Jika kau frustasi, kau akan sakit lagi dan aku tidak mau melihatmu sakit .Aku percaya ingatanmu akan kembali. Mari kita memulai lagi dengan langkah perlahan," gumam Cassie dan mendekatkan diri lagi pada dada Christov.
"Bagaimana bisa ingatanmu kembali, Cassie?"
"Oh itu? Sekitar dua atau tiga minggu yang lalu, aku terlibat perkelahian dengan seorang wanita di tempat bela diri boxing. Dia memukulku sangat keras hingga kepalaku terbentur kuat ke lantai marmer dan bummm.. Ingatanku kembali."
Christov tiba-tiba bangkit dari tidurnya dan menatap Cassie yang nampak terkejut karena tidak siap dengan gerakan mendadak dari Christov.
"Ada apa? Ada yang salah?" tanya Cassie dengan nada khawatir seraya bangkit dari tidurnya.
"Pukul aku sekencang mungkin, Cassie.."
"Apa?!"
"Pukul aku sekencang mungkin agar ingatanku kembali.."
****
"Aku sudah menyerah," ujar Clara pada Theresa yang berbaring di ranjangnya.
"Aku sedang tidak ingin membicarakannya saat ini, Clara.."
Clara mengangguk kecil, "Sekeras apa pun aku mencoba, aku tidak akan pernah berhasil.."
"Aku benar-benar tidak ingin membicarakan hal ini untuk sekarang, 'Nak.. Mari kita bicarakan besok saja..."
"Aku sudah berharap dia akan memilihku, tapi dia malah memilih kembali pada Cassie.."
Theresa akhirnya membuka matanya dan melihat Clara yang berdiri mematung di tengah ruangan.
"Mereka sudah bertemu?"
Clara tertawa kecil, "Yah.. Aneh, bukan? Bagaimana bisa Christov tetap memilih Cassie walau ingatannya tentang si sialan itu sudah hilang? Bagaimana bisa itu terjadi?"
"Oh my.. Oh.." Theresa mengerang kesakitan, "Aku pikir seluruh saraf-ku akan menegang lagi.."
"Aku pikir ide membuatmu menderita penyakit vertigo tidak ada gunanya, Mrs karena semuanya menjadi sia-sia. Christina akan datang sebentar lagi. Aku akan pulang sekarang, Mrs.Conell.."
"Jadi kau menyerah?"
Clara menatapnya dengan tatapan nanar, "Aku menyerah bukan karena aku tidak mampu, tapi karena lelah.. Sangat lelah," ujarnya dengan nada penuh keputusasaan. Tanpa menunggu jawaban dari Theresa, Clara memutar tumitnya dan berjalan menuju pintu keluar. Namun, betapa terkejutnya dia saat melihat Christina muncul dari balik pintu kamar mandi kamar inap tersebut dan membuatnya harus menghentikan langkahnya sendiri.
"Sial," umpatnya dengan nada sepelan mungkin dengan tangan kiri memegang dadanya. Clara merasa jika jantungnya seolah meninggalkan tubuhnya saat Christina muncul. Saudari Christov itu muncul tanpa suara dan tanpa aba-aba seperti hantu.
Sejak kapan? Sejak kapan dia ada di dalam sana? Pikir Clara.
"Jadi?" tanya Christina dengan nada datar, "Jadi penyakit apa yang Mama-ku derita, Dokter Clara Murray? Penyakit saraf, Vertigo atau.." suaranya memelan dan dia melangkah mendekat ke arah Clara yang masih mematung. Christina menunduk lalu mendekatkan mulutnya pada telinga Clara. Senyum miring menghiasi wajahnya
"Atau gangguan jiwa?"
****
Miss Foxxy
Pokoknya jangan bahagia dulu karna Cassie sama Christov pelukan. Yuk.. Kasih kopi atau mawar untuk author hehe. Sejujurnya, author lebih suka teh, tapi karna gk ada dalam menu poin noveltoon, kopi pun jadilahhh
I love you. Yuk komen..