Remember Me

Remember Me
Reason



Happy Reading


****


"Cassie... Bangun. Apa kau tidak pergi kerja?" bisik Christov tepat pada telinga wania itu. Hanya melalui bisikan pelan tersebut, Cassie segera bangun dan bangkit dari tidurnya.


"Bekerja!" teriaknya panik dan menatap sekitar dengan kalang kabut, "Di mana? Di mana aku?"


"Tenanglah.." ucap dia pelan seraya memegang kedua bahu Cassie yang polos lalu menarik selimut untuk menutupi bagian atas tubuh wanita itu, "Kau ada di apartemenku..."


"Pukul berapa sekarang? Astaga.. Aku mungkin sudah terlambat!" Cassie hendak bangkit, tapi Christov menahan pundaknya.


"Kau bekerja pukul sembilan bukan?"


Cassie mengangguk kecil dan berhenti bertingkah panik.


"Sekarang masih pukul setengah delapan. Tenanglah," Christov yang sudah berpakaian rapi dan bersiap bekerja segera mengambil posisi duduk di samping Cassie, "Sekarang pergilah mandi. Pakailah bajuku untuk sementara dan aku akan mempersiapkan sarapan untuk kita berdua.."


Cassie mendesah lega lalu menyandarkan kepala pada pundak Christov, "Jika aku terlambat, hancur sudah reputasiku sebagai produser musik yang disiplin.."


Dia mendorong tubuh Cassie menjauh darinya sebelum hal yang tidak diinginkan terjadi, "Sekarang bersiaplah mandi. Aku akan mengantarmu ke apartemen setelahnya," Christov bangkit dari duduknya dan menatap Cassie yang masih saja bengong.


"Jika kau masih bengong begitu, reputasimu sebagai produser musik yang disiplin akan hancur.." peringat Christov dan Cassie buru-buru bangkit dari posisi duduk lalu berlari tanpa busana menuju kamar mandi.


"Cassie!" teriak christov, "Setidaknya bungkus badanmu dengan selimut," ucap Christov dengan nada penuh peringatan dan hanya disambut oleh gelak tawa Cassie dari dalam kamar mandi. Dia menggeleng kecil dan ikut tertawa juga. Astaga. Pikirnya


Christov melangkahkan kaki meninggalkan kamar menuju dapur untuk mempersiapkan sarapan untuk mereka berdua. Dia memilih menu yang simpel berupa omelette dan jus alpukat. Setelah sepuluh menit berlalu, Cassie muncul di dapur dengan pakaian Christov yang kebesaran untuknya.


"Umm.. Wangi sekali," wanita itu langsung mengambil posisi duduk di meja bar. Christov memberinya sepiring omelette, bacon, dan jus alpukat.


"Minus jus-nya terlebih dahulu.." saran dia yang sudah duduk di hadapan Cassie.


"Sampai habis?"


Dia mengangguk, "Kalau bisa.. Biasanya, apa menu sarapanmu?"


Cassie yang tengah menyeruput jus-nya segera mengangkat bahu, "Macam-macam. Namun, aku paling sering sarapan dengan bubur gandum di campur buah-buahan. Aku jarang sarapan dengan makanan berminyak,"


"Kenapa? Apa kau dalam program diet?" tanya Christov seraya menyendokkan potongan omelette ke mulutnya.


"Bukan. Aku hanya lebih suka menikmati makan berminyak saat makan siang dan makan malam."


Dia mengangguk, "Cepat habiskan makananmu."


"Yes, Sir. Oh.. Omong-omong, apa kau yang membersihkan ruang tamu?"


Christov mengangguk, paham betul apa maksud dari wanita itu.


"Seharusnya, aku saja yang membersihkannya.."


"Tidak apa.. Jika menunggumu, nodanya akan sulit hilang,"


"Huh.. Lain kali kita harus melakukannya di kamar saja,"


Christov tertawa geli dan menggosok-gosok pucuk kepala Cassie, "Pikiranmu sangat ca-bul.."


Cassie menarik kepalnya dari tangan Christov, "Aku hanya membicarakan fakta.."


Dia menggeleng kecil dan bangkit berdiri untuk menyuci piring dan gelas kotornya.


"Christov?"


"Umm?" jawabnya tanpa menoleh ke arah wanita itu.


"Aku belum pernah memiliki kesempatan berenang di kolam renangmu.."


Dia akhirnya memutar kepala dari arah wastafel pada Cassie, "Berenang saja saat kau punya kesempatan,"


"Huh.. Aku ingin, hanya saja beberapa minggu ke depan aku akan sangat-sangat sibuk.." kata Cassie seraya bangkit dari duduk dengan piring kotornya.


"Sesibuk apa?" Christov menyucikan piring Cassie dan wanita itu bertugas membilas.


"Dua minggu ke depan aku sibuk melakukan komposer lagu dari penyanyi asuhanku untuk konser perdananya. Lalu menghadiri acara amal, rapat, dan akhir bulan ini aku harus pergi ke New York.."


"New York?" suara Christov meninggi, "Dalam rangka acara apa? Liburan?"


Cassie tertawa kecil sembari mengelap tangannya, "Bukan.. Aku pergi ke New York untuk urusan kerja.."


Christov melipat bibirnya dan tiba-tiba merasa tak nyaman membayangkan wanita itu pergi jauh darinya, "Berapa lama?"


"Acaranya dilakukan hari sabtu pada akhir bulan ini, jadi aku sudah harus di sana sejak Jumat dan kembali di hari minggu. Jadi, kurang lebih tiga hari.."


Dia menyandarkan tubuhnya pada pinggiran meja pantry, "Urusan kerja seperti apa?


"Semacam acara penghargaan.." jawab Cassie dengan nada acuh.


"Penghargaan? Acara apa? Apa kau ikut dalam nominasi penghargaan itu?"


Cassie memajukan bibir bawahnya dan memegang tangan Christov dengan kedua tangannya, "Bisakah kita membicarakan ini nanti saja? Kita harus berangkat kerja sekarang.."


Christov menyipitkan mata lalu menegakkan tubuhnya, "Berjanjilah untuk menjelaskannya padaku," ucap dia seraya mengarahkan jari kelingkingnya.


Cassie terkekeh dan ikut mengaitkan jari kelingkingnya pada milik Christov, "Okay. Bisakah kita pergi sekarang, Mr. Connel?"


"Of course*, Miss De Angelis,"


(*Tentu)


****


"Ternyata, ayunannya belum rubuh," komentar Christov saat akhirnya masuk daerah unit apartemen Cassie.


"Tentu saja.. Kita masih tetap bisa melakukan 2-4 sesi lagi tanpa takut rubuh,"


Dia tertawa kecil dan ikut melangkah masuk ke dalam apartemen Cassie, "Apa ini?" tanya dia dengan nada penuh terkejut sesaat melihat sebuah senapan angin panjang tergeletak di atas meja dapur.


"Ah.. Itu.. Uhm.. Ceritanya cukup panjang. Biarkan aku mengganti baju dulu. Satu lagi, apa kau tidak pergi lebih dulu saja? Toh kita akan berangkat dengan mobil berbeda.."


"Kita berangkat bersama saja. Boleh aku sentuh ini?"


"Tentu saja. Kalau begitu, tunggu aku. Hanya sepuluh menit," jawab Cassie tanpa menoleh ke arahnya dan berlari menuju kamar.


Christov menatap kepergian wanita itu lalu menoleh ke arah senapan angin tersebut. Dia bertanya-tanya apakah Cassie punya lisensi sah untuk senjata ini? Kemudian, kenapa benda ini di sini? Christov mengangkat senapan itu dan mengarahkan moncong senapan ke sembarang arah.


"Ringan.." gumamnya pelan saat menyadari bahwa senapan itu tidak seberat yang dia bayangkan. Dia kemudian memeriksa lubang peluru yang terisi penuh. Artinya, Cassie memang hendak menembak sesuatu dengan benda ini, tapi apa?


"Apa dia benar-benar bisa memakai benda ini?"


"Tentu saja.." jawab Cassie tiba-tiba saat keluar dari kamar dengan pakaian kerjanya. Sebuah kemeja tanpa kerah, celana jeans, dan blazer dengan ukuran yang cukup besar. Ditangannya, Cassie memegang tas kerja besar warna coklat.


"Ah.." Christov menaruh benda itu di atas meja, "Begitu.."


"Aku punya lisensi khusus untuk senapan itu," jelas Cassie seraya memakai sepatu flat shoes.


"Kau memakai pakaian casual seperti itu ke tempat kerja?"


"Ketika kau bekerja di bidang seni, tidak ada yang mengatur cara berpakaianmu selama itu tidak merugikan orang lain, Christov. Ayo.." ajak dia seraya berjalan ke arah pintu.


"Kau tidak menyimpan benda itu terlebih dahulu?"


Dia melangkah keluar bersama Cassie dan berjalan masuk menuju lift, "Untuk apa kau mengeluarkan benda itu?"


"Akan aku ceritakan nanti,"


"Apa kau menggunakannya untuk berburu?"


Cassie menoleh ke arahnya sepintas, "Aku tidak tega menembakkan peluru itu pada hewan yang masih hidup. Senapan itu kusimpan untuk pertahanan diri dan yah, aku juga pernah mengikuti kelas menembak."


"Boxing, mendaki gunung, dan sekarang kelas menambak. Apa kau hendak mempersiapkan diri bergabung dengan angkatan bersenjata?"


Pintu lift terbuka dan keduanya berjalan keluar, "Mungkin. Kita harus berpisah dari sini," Cassie memutar tubuhnya dan segera mencium Christov.


"Bye.." kata wanita itu setelah melepas ciuman, tapi Christov menahannya dengan melingkarkan kedua tangan pada pinggul Cassie.


"Boleh aku datang ke rumahmu malam ini?" pinta Christov


Cassie melipat bibirnya membentuk garis, "Tentu saja boleh, hanya saja, kau tidak boleh berharap apa-apa karena aku akan sangat sibuk..." ucapnya dengan nada penuh arti.


"Aku tidak datang hanya untuk melakukan 'hal' itu, Cassie... Hanya menghabiskan waktu berdua bersamamu saja sudah membuatku sangat bahagia. Kau tahu, sebuah hubungan itu tak hanya tentang se x semata,"


Wanita itu tersenyum lembut lalu mengangkat tangan kirinya untuk mengelus wajah Christov, "Kau sangat baik. Apa kau tahu itu?"


"Kau tidak bosan hanya mengatakan itu saja?"


Cassie menggeleng, "Datanglah menginap ke apartemenku malam ini,"


"Satu lagi, jangan membuatku menunggu terlalu lama..."


"Okay, Christov.. Sekarang, sudah saatnya kita berpisah, pria besar," Cassie menarik diri dari tangan Christov.


"Bye, Cassie.."


"Bye, Christov," Cassie melambaikan tangan, "Sampai jumpa nanti malam dan bekerja keraslah!" teriaknya seraya berlari menuju mobilnya. Dia tetap berdiri di sana sampai wanita itu akhirnya pergi dan Christov melangkah kembali ke mobilnya sendiri untuk bersiap pergi bekerja.


Sesampainya di gedung tempatnya bekerja, Christov memulai rutinitas hariannya yang cukup membosankan. Menggambar, mengevaluasi, berdiskusi, lalu menggambar lagi, menghitung, mewarnai, dan akhirnya jadwal makan siang. Dia memilih kembali ke ruang kerja setelah karyawannya pergi untuk makan siang. Christov ingin bergabung, tapi mendengar lokasi tempat makan mereka yang selalu ramai membuat dia mengurungkan niat.


Dia memilih untuk membeli makanan pesan antar dan sembari menunggu pesanannya datang, Christov menyempatkan diri untuk memejamkan mata sejenak. Pusing. Pikirnya terkait pekerjaannya yang sangat menumpuk. Rasanya dengan beban kerja yang mereka tanggung sekarang akan membuat Christov serta pekerjanya kelelahan secara jasmani dan mental.


"Aku pikir sudah saatnya menambah tenaga kerja baru," gumamnya pelan. Setelah makan siang selesai, Christov berjanji akan mendiskusikan ini bersama tenaga kerjanya tentang berapa banyak karyawan baru yang mereka butuhkan.


Suara getaran ponselnya membuat Christov membuka mata untuk memeriksa ponselnya. Wajah lelah dan suramnya langsung berubah menjadi wajah cerah yang bahagia saat melihat nama Cassie di layar ponsel.


"Aku harus mengganti suara notifikasi khusus untuknya," ucap dia seraya memeriksa pesan masuk dari Cassie.


Lihatlah. Tulis Cassie dalam kolom pesan diikuti dengan sebuah file berisi video. Christov penasaran dan buru-buru memeriksa isi video tersebut.


"What the f--," itulah kata-kata pertama yang diucapkan Christov saat melihat permulaan video tersebut. Jason, mantan kekasih Cassie tampak berusaha masuk ke dalam apartemen wanita itu. Di menit berikutnya menunjukkan Jason tidur di luar unit apartemen Cassie.


"Well done*, Cassie..." gumam Christov dengan penuh kelegaan, tapi kelegaan itu berganti ke rekasi penuh keterkejutan melihat Cassie menodongkan senapan angin itu pada Jason.


(*Bagus)


"A-Apa?" rasa terkejut Christov malah berubah menjadi tawa geli melihat aksi Cassie.


"Jadi ini alasan mengapa senapan itu ada di meja," lanjut dia lagi dengan tawa kecil. Ponselnya mendadak berdering dan itu adalah panggilan masuk dan Cassie. Tanpa berpikir panjang, Christov menerima panggilan masuk tersebut.


"Aku pikir kau sudah selesai menonton film pendek bertema pembantaian karyaku..." ucap Cassie dari seberang dengan nada suara khas.


Christov tertawa lagi dan memutar-mutar kursinya, "Well.. Itu salah satu film pendek terbaik yang pernah kutonton."


"Sudah seharusnya. Dan sekarang, tuan baik hati, aku ingin kau mengakui kesalahanmu bahwa apa yang kau lihat tidak seperti yang kau pikirkan.."


Tawanya mendadak hilang dan digantikan senyuman kaku, "Well.. Aku akui aku salah dan tidak seharusnya menyimpulkan sesuatu seperti itu. Namun, biasanya aku adalah sosok yang penuh perhitungan, Cassie..."


Aku hanya berubah ceroboh saat di dekatmu. Lanjutnya dalam hati.


"Yah.. Yah.. Aku tahu kau adalah pria yang penuh perhitungan, tapi ada saatnya perhitunganmu meleset. Bukan begitu?"


"Okay, Cassie.. Aku akui aku salah. I'm sorry..."


"That's better*.. Salah satu hal penting dalam membangun sebuah hubungan adalah komunikasi. Jika ada yang menganggu pikiranmu, kau harus langsung memberitahunya padaku dan bukannya menyimpulkan sendiri. Okay?"


(*Jauh lebih baik)


Christov menggosok dagunya dengan lembut, "Apa kita sudah menjalin sebuah hubungan, Cassie?"


"Not yet*.. Belum sekarang. Aku sedang memikirkan beberapa hal.."


(*Belum)


"Kapan aku menerima jawabanmu?"


"Sesegera mungkin.."


"Apa ada kemungkinan aku ditolak?"


Ada keheningan sejenak dari Cassie dan itu memberi Christov serangan jantung secara mendadak.


"Apa kau kau masih di sana, Cassie?" periksa Christov dengan suara waspada yang kaku.


"Yeah.. Bisakah kita tidak membicarakan ini sampai aku mendapat jawabanku?"


Dia tersenyum kecut, "Yeah..."


"Kuberi tahu satu hal, Christov.. Setiap kejadian memiliki berbagai kemungkinan. Oh iyah? Bukankah saat ini jam makan siang? Kau tidak melakukan nasihatku?"


Mengalihkan pembicaraan, pikir Christov.


"Kepalaku sedikit pusing karena pekerjaan yang menumpuk. Aku takut jika pergi makan siang bersama di tempat ramai akan membuat kepalaku semakin pusing.."


"Well.. Aku paham meksudmu. Pastikan kau membeli sesuatu yang bergizi untuk makan siang.."


"Miss De Angelis. Sudah waktunya untuk rapat.." Christov bisa mendengar suara seorang wanita berbicara pada Cassie dari seberang.


"Oh.. Okay," jawab Cassie pada lawan bicaranya, "Christov, aku harus pergi sekarang. Nikmati makan siangmu, okay? Bye.."


"Okay, bye..."


 Sambungan ponsel tidak tersambung lagi dan bersamaan dengan itu pula, Christov bisa mendengar suara para karyawannya yang sudah kembali. Dia berdiri dan mengumpulkan barangnya untuk siap bekerja kembali. Christov keluar dari ruang kerja dan ketiga karyawannya menyapa dia.


"Sir.." panggil Elisabeth dari pintu masuk dan Christov menatapnya.


"Yes?"


"Ada seorang wanita yang ingin bertemu anda dan mendesak untuk bertemu anda."


Christov berdiri dan jantungnya berdegup kencang, "Siapa? Ibuku?" Siapapun wanita yang mendatanginya saat kerja bukanlah pertanda baik. Apakah ibunya?


"No, Sir. Namun, Clara Murray.."


****


Miss Foxxy


Halo, Satu chapter lagi nanti malam ya(agak larut bgt). Sabtu dan minggu aku gk bisa update karena urusan pekerjaan. hehe. I'm so sorry. Dan yeah.. Giveaway-nya udah mulai dari hari ini!!!! Ayo semangat vote dan koment. Yg ikutan wajib gabung GC yah, minimal kalian FOLLOW author dan pernah sekali ajah kasih komentar di karya author. Hehehehe. I love you gais. For sure from the moon to to the earth and back.