Remember Me

Remember Me
Minefields



Happy Reading


***


Cassie menghabiskan waktu hampir delapan jam lamanya untuk melakukan pemeriksaan dan penyelidikan. Dia diperiksa dalam ruangan persegi ukuran 4x4 dengan dinding berwarna abu-abu yang di mana hanya terdapat satu meja dan dua kursi serta satu lampu putih yang redup.


Dia berulang kali ditanyakan dengan pertanyaan yang sama, lalu membuatnya menunggu sangat lama di ruangan yang membosankan itu, dan melakukan hal yang lain secara berulang kali agar Cassie merasa keputusasaan di dalam ruangan itu sehingga memotivasi Cassie untuk mengutarakan kejujuran. Yah.. Sebuah taktik penyelidikan, kau dibiarkan menunggu dalam ruangan yang membosankan untuk membuatmu putus asa.


Sayangnya, Cassie memang mengatakan seluruh yang dia ketahui. Bahkan, dia sudah memberikan alat perekam yang berisi rekaman percakapannya bersama Laura tentang perjanjian tidak tertulis mereka tentang jadwal perilisan lagu Kimberly. Rekaman percakapan itu diharapkan dapat meringankan hukuman Cassie, bahkan melepaskannya dari tuntutan hukum.


Sesuai arah pengacaranya, Cassie juga menceritakan seluruh perisitwa yang dia alamj selama beberapa bulan belakangan, termasuk kecelakaan mobil yang menimpanya dan pertengkarannya dengan Madison yang membuat dia harus dilarikan ke rumah sakit. Pengacaranya berkata bahwa masalah kesehatan yang diderita dapat memperingan hukuman.


Cassie juga disuruh memberikan seluruh dokumen kesehatannya dan beberapa dokumen penunjang lainnya kepada pihak penyidik agar dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Mereka juga memintai tes urine, tes darah, dan tes menyebalkan lainnya yang menguji tingkat kesabaran Cassie.


"Aku tidak yakin jika tes ini cukup berkaitan dengan kasus yang ada," ujar Cassie dengan nada jengkel sesaat menyelesaikan tes urine pada detektif yang duduk di hadapannya. Detektif berpenampilan membosankan itu tengah mencatat sesuatu di buku kecilnya lalu melirik Cassie dari langit-langit matanya.


"Kau sudah menikah?"


"Begitulah.."


Detektif itu mengangguk kecil, "Namun, pernikahan itu tidak sah karena tidak tercatat di catatan sipil.."


"Yeah. Aku tahu... Apakah pemeriksaannya belum selesai juga? Sudah berapa lama aku di sini? Kenapa pula aku tidak bisa membawa jam tangan?"


"Anda dilarang melihat waktu selalu penyelidikan."


Cassie memutar mata, "Bukankah itu ilegal? Mengetahui waktu adalah hak setiap warga negara."


"Bagi warga negara yang taat.."


Dia mendengus, "Aku warga negara yang taat hukum, Sir. Terlebih, aku masih di posisi sebagai saksi dan bukan terdakwa.."


"Jadi nama Anda tetap Cassandra De Angelis dan bukan Cassandra O'Connel," lanjut si detektif tanpa memperdulikan perkataan Cassie.


"Terserah..,"


"Baik. Cukup pemeriksaan untuk hari ini,"


Cassie mendesah penuh kelegaan, "Oh my.. Akhirnya." katanya sembari berdiri dengan kedua kakinya.


"Besok Anda perlu datang kembali. Jangan merasa lega, Miss De Angelis. Level posisi anda sebagai saksi mungkin akan naik menjadi tersangka atau yang terburuk menjadi terdakwa."


Cassie menatap detektif yang tidak dia ingat namanya itu dengan tatapan malas, "Di mana mantel dan barang-barangku?" tanyanya dia dan mengabaikan perkataan detektif itu.


"Kau bisa mendapatkan barang-barangmu di meja lobi.."


"Okay, Mr. Kenzel.."


"Sejujurnya, Mr. Kenrick," koreksi si detektif tersebut pada Cassie yang sudah berjalan menuju pintu keluar.


"Upss.. Maafkan aku. Aku sangat kesulitan mengingat nama seseorang terutama jika dia menyebalkan. Bye-bye," dengan perpisahan yang penuh nada sarkas, Cassie meninggalkan tempat itu menuju barang-barangnya. Dia menyibakkan rambutnya lalu mengumpulkannya ke bahu kiri.


Di meja lobi yang detektif sebutkan tadi, Cassie melihat seorang polisi pria gemuk dan berkepala plontos tengah menikmati donat serta kopi karamelnya sembari menonton acara sampah di ponselnya di balik meja lobi. Cassie berdiri di sana dan menunggu pria itu melihat ke arahnya.


"Aku ingin mengambil barang-barangku,"


Polisi itu menggeram kesal karena kemunculan Cassie yang menganggu waktu tenangnya. Dia menghentikan acara di ponselnya lalu menggeser luarnya menuju layar monitor.


"Nama?" tanyanya tanpa menoleh ke arah Cassie.


"Angelina Jolie.."


Akhirnya, si polisi itu melirik ke arah Cassie dengan lirikan menghakimi, "Itu sebuah hinaan untuk wanita sesempurna Angelina Jolie,"


"Sejujurnya, Cassandra De Angelis," akui Cassie akhirnya, "Biar kau tahu, aku lebih hebat darinya..."


"Loker 12," ujarnya dengan nada ketus seraya memberikan kunci loker, "Jangan lupa mengunci pintu loker kembali dan mengembalikan kuncinya ke mari


Setelah menerima kunci itu, Cassie berjalan menuju loker yang berada di samping meja lobi dan mengambil barang-barangnya. Setelah mengenakan mantel dan kacamatanya, Cassie meninggalkan tempat itu tanpa menutup pintu loker. Berjalan dengan langkah lebar dan membuat langkah kakinya menggema di sepanjang lorong.


"Oi! Oi! Pintu lokernya! Pintu lokernya! Tutup pintu lokernya!" teriak si polisi gemuk dengan suara frustasi.


"Kau butuh bergerak, sialan," ucap Cassie seraya mengacungkan kedua jari tengahnya.


Di sisi lain, detektif muncul dan menutup pintu lokernya itu untuk polisi tadi. Matanya menoleh se kilah ke arah Cassie yang berjalan memunggungi dia.


"Dasar wanita sin-ting," teriak si polisi yang sudah kembali duduk di pos-nya, "Thank you," ujarnya pad si detektif.


"Sejujurnya, apa yang dia katakan benar apa adanya. Kau butuh bergerak," dan dengan itu, detektif tersebut pergi dan meninggalkan polisi yang kehabisan kata-kata.


Di tempat lain, Cassie sedang menunggu seorang penjaga membukakan pintu untuknya agar bisa keluar dari ruang pemeriksaan tersebut. Sesaat pintu terbuka, cahaya terang dari lobi utama menyinari dirinya. Dia melangkah keluar dan--


"Cassie!" suara teriakan yang beradu untuk memanggil namanya mengejutkan Cassie. Dia melepas kacamatanya dan melihat Ibu, Miranda, ketiga temannya, dan Christov berjalan cepat menghampiri dirinya.


"Mom.." panggil Cassie dengan suara penuh keterkejutan dan membuka lebar tangannya untuk menerima pelukan Barbara. Namun, wajah senang Cassie segera berubah ke ekspresi takut saat wajah keluarga dan temannya berubah marah. Mereka tampak sangat marah dan--


"Aww, Mom!" pekik Cassie kesakitan saat merasakan pukulan Barbara di bo-kongnya, "Sakit.."


"Bagaimana bisa kau tidak menghubungi kami dan membiarkan kami semua mati penasaran!" gerutu Barbara.


"Kau benar-benar kurang ajar, Cassie!" teriak Miranda dnegan marah.


"Yah.. Kau membuat kami hampir terkena serangan jantung!" temannya ikut memarahi dia.


"Maafkan aku.. I'm sorry, okay? Jangan mengerubuniku..," katanya ketika keluarga dan teman-temannya tersebut mengerubuni dia dan menghantamnya dengan berbagai pertanyaan.


Namun, hati dan pikiran Cassie tidak lagi di sana karena seluruh perhatiannya tertuju pada Christov yang berdiri tidak jauh dari mereka. berdiri di sana dengan senyum tipis dan memegang buket sayuran pada kedua tangannya. Tatapan mereka saling bertemu dan seluruh dunia Cassie seolah berhenti berputar. Seolah seisi dunia mengabur dan hanya meninggalkan mereka berdua saja. Wajahnya memanas dan Cassie tahu pipinya juga ikut memerah.


Jantungnya berdegup kencang dan indera pendengarannya dipenuhi oleh suara degup jantungnya. Degupan tersebut membuat Cassie khawatir karena takut jika Christov bisa mendengarnya. Seluruh bulu kuduknya meremang dan euforia unik yang membuatnya melayang itu muncul. Perasaan melayang yang menggelitik perutnya seolah ada puluhan kupu-kupu menempel di sana.


"Aku akan menjawabnya nanti Mom, guys," kata Cassie pada keluarga dan temannya agar mereka berhenti menghujaninya dengan berbagai pertanyaan, "Aku perlu bertemu suamiku,"


Dia melangkah meninggalkan mereka dan berjalan menuju Christov. Cassie mengigit bibir bawahnya untuk menahan diri agar tidak tersenyum lebar ketika melihat kedua telinga Christov memerah hebat. Fakta bahwa Christov merasakan hal yang sama seperti yang Cassie rasakan membuatnya bahagia. Namun, Cassie tidak bisa menahan dirinya lagi. Dia tidak bisa menahan dirinya dengan perasaan bahagia dan kelegaan yang membuncah. Perasaan itu bagaikan kembang api yang siap meledak.


Akhirnya, senyum lebar itu dia biarkan menghiasi wajahnya dan tanpa ragu, Cassie berlari dan melompat ke arah Christov yang sudah menjatuhkan buket sayuran itu ke atas lantai. Rambutnya terayun ke sana-ke mari saat dia berlari, wajahnya semakin memerah, jantungnya semakin berdegup kencang, dan matanya memanas oleh air mata yang sudah penuh di pelupuk mata. Suaminya tersebut membuka lebar tangannya dan menyambut Cassie ke dalam pelukannya. Memeluknya erat, mengangkat tubuh Cassie dengan mudahnya, lalu berputar bersama menikmati momen pertemuan itu setelah sekian lama.


*****


"Jadi kau belum mendapatkan ingatanmu kembali?" tanya Cassie pada Christov ketika mereka berbaring bersama di ranjang dan saling berpelukan satu sama lain.


Setelah pemeriksaan dan penyelidikan tadi, dia beserta keluarga dan teman-temannya memutuskan untuk makan malam bersama. Awalnya, Cassie berpikir makan malam itu akan berakhir canggung karena itu adalah pertemuan pertama Christov dengan keluarga dan seluruh teman-temannya, tapi ternyata tidak. Baik Ibu dan saudarinya benar-benar tidak bersikap canggung di sekitar Christov dan begitu juga suaminya tersebut. Tidak ada yang mengungkit masalah pernikahan, penahanan Cassie, dan masalah ingatan Christov yang tidak kembali. Mereka hanya berbicara santai sepanjang malam dan menikmati momen bersama.


Sejenak dia bisa melupakan masalahnya sebelum akhirnya Cassie pulang bersama ke apartemen Christov. Mereka berdua berbaring dan berpelukan setelah Cassie menceritakan semua kronologi masalahnya.


"Belum.. Aku melihat kenangan kita berdua berfoto bersama di bandara sekitar bulan Mei melalui akun google itu dan kau memegang buket sayuran. Jadi, yeah.. Begitulah kronologi kenapa aku membawa buket itu untukmu,"


"Astaga.. Orang mana yang membawa buket untuk seseorang yang keluar dari pemeriksaan aparat kepolisian, huh? Apa kau tengah menyelamatiku karena aku terancam di penjara?"


"Tdiak... Tentu saja, tidak. Rencananya aku memberikan itu saat kedatanganmu di bandara. Itu saja."


"Namun, jika kau pergi mengunjungi seseorang yang melakukan kejahatan, kau perlu memberi mereka sunscreen, Christov.."


"Sunscreen? Untuk apa itu?" tanya Christov dengan nada heran.


"Because they're gonna burn in the hell.."


(Karena mereka akan terbakar di neraka*)


Christov tertawa dengan lelucon Cassie yang begitu gelap.


"Kau percaya neraka, huh?"


"No really*. Namun, satu yang kupercayai bahwa karma itu bekerja..."


(Tidak juga*)


Christov mempererat pelukannya, "Apa Clara dan sepupunya itu bisa dituntun?"


"Entahlah. Rasanya tidak.."


"Kenapa?"


"Karena mereka laur biasa kaya. Ketika kau memiliki uang, kau akan kebal hukum..."


"Kau tahu, Cassie? Saudariku mengenal beberapa pengacara hebat, aku bisa menggunakan jasa mereka untukmu.."


"Tidak perlu. Pengacaraku ini sangat cerdas, Christov. Walaupun nanti aku terbukti salah, dia sudah memastikan aku tidak mendapatkan hukuman yang berat karena adanya bukti rekaman yang kubicarakan sebelumnya. Lalu, masalah kesehatanku juga bisa meringankan masa hukumanku jadi kau tidak perlu terlalu khawatir.. Dipenjara bukanlah masalah yang besar,"


Christov mengecup pucuk kepala Cassie lalu mengusap punggungnya, "Apa kau benar-benar baik-baik saja, Cassie?"


"Tentu saja.."


"Kenapa aku merasa jika kau berbohong? Kenapa aku merasa jika kau tidak baik-baik saja? Kenapa aku merasa jika kau sedang berpura-pura?"


Cassie terdiam lalu mengerakkan pelukannya pada Christov. Dia menanam wajahnya dalam-dalam di dada pria itu lalu menghirup aroma tubuh Christov yang memabukkan.


"Kau benar," bisiknya, "Aku sedang berpura-pura. Terkadang, berpura-pura adalah pilihan terbaik saat menghadapi situasi sulit seperti ini agar orang lain tidak menganggap remeh padamu..."


"Aku tidak mau kau berpura-pura di hadapanku, Cassie.. Kau boleh berpura-pura pada dunia, tapi saat bersama, kau tidak perlu berpura-pura karena aku bukanlah orang lain. Aku akan memelukmu erat, menggenggam tanganmu, dan tak akan pernah melepaskannya.."


Cassie melipat bibirnya saat merasakan emosi yang semakin memuncak.


"Boleh aku menangis?" tanya dia dan dibalas dengan tawa geli dari Christov.


"Kau tidak perlu meminta izin hanya untuk menangis, Cassie. Menangislah, sayang.. Aku akan memelukmu erat dan memastikanmu tidak akan sendirian menghadapi masa sulitmu. Mulai detik ini, beritahu aku semuanya, Cassie.. Mungkin sulit karena ingatanku yang belum kembali, tapi kau benar, kita harus memulai kembali dengan perlahan. Untuk memulainya, kita perlu jujur satu sama lain..."


Cassie terisak dan terenyuh mendengar ucapan Christov. Air matanya mulai membasahi pipinya


"Sejujurnya, aku merasa takut jika harus di penjara, Christov. Aku takut masalah ini akan mempengaruhi karierku. Aku takut jika kau akan meninggalkanku jika aku terbukti bersalah. A.. Aku merasa hidupku seolah-olah dikelilingi dengan ranjau yang siap meledakkanku hingga hancur kapan saja.. A..Aku.. Seolah aku berdiri sendirian di ladang ranjau..."


"Stttsss.. Jangan bilang begitu.. Sudah kukatakan, aku tidak akan pergi lagi.. Menangislah. Aku berjanji tidak akan ada yang datang menyakitimu lagi.."


"Kumohon, jangan pernah meninggalkanku lagi, Christov.. Kumohon," hisak Cassie dengan suara tertahan dan tangannya meremas kuat pakaian Christov. Memeluk pria itu erat seolah takut jika Christov pergi menghilang lagi.


"Yah.. I promise, my love.."


*****


Satu bulan sebelum perilisan lagu...


"Aku merasa itu bukan ide bagus, Miss Clayton," ucap Laura dengan nada takut-takut. Tangannya yang memegang cangkir bergetar hebat dan tubuhnya dibanjiri keringat walau suhu ruangan sangat dingin. Ada dua wanita berambut pirang duduk di hadapannya, satu adalah Madison Clayton dan lainnya adalah Clara Murray. Keduanya menatap dia dengan tatapan tajam yang penuh penilaian.


"Tidak usah takut... Aku sudah membicarakan ini dengan bos-mu.. Semua akan terkendali. Kau tinggal merilis lagunya dan mengikut sertakan nama Cassandra De Angelis," ulang Madison dengan nada biasa yang sedikit menuntut, "Aku yakin lagu ini akan meledak di pasaran dan namamu akan dipertimbangkan sebagai produser lagu yang hebat..


"Namun, dia adalah bagian pengawasan dari proyek ini dan kami sudah melakukan perjanjian untuk merilis lagunya setelah Kimberly berusia 17 tahun.. Ja-jadi.. Tidak mungkin merilis tanpa sepengetahuannya.."


"Apa itu perjanjian secara tertulis?" tanya Clara yang menatapnya tajam. Laura buru-buru menunduk dan memutuskan kontak mata dengan kedua wanita pirang yang menyeramkan tersebut.


"Tidak.. Itu bu-bukan perjanjian tertulis, ta-tapi dia pasti mengingatnya.. Ingatan Cassandra sa-sangat ba-gus.."


"Ingatan Cassandra tidak sebagus itu. Dia mengalami kecelakaan berat beberapa bulan yang mempengaruhi ingatannya," sambung Clara dengan nada menyakinkan.


"Kau dengar itu? Cassandra tidak sehebat yang dulu lagi. Mungkin dia sudah setengah gila karena kecelakaan itu.. Ini saatnya kau mengambil posisi yang seharusnya milikmu sedari dulu.. Ketenaran, kekayaan, kepopuleran, dan kemewahan yang harus kau miliki.. Dia tidak akan mengingat itu dan lagi, Cassandra tidak punya bukti dari percakapan kalian. Ayolah.. Kau harus mau. Bukannya kau membenci Cassandra?"


"Jika aku melakukannya.. Karirku juga mungkin akan ikut hancur.. Kimberly masih berusia 16 tahun dan.. d-dan kita tidak boleh merilisnya tanpa persetujuan dari Cassandra," katanya dengan nada terberani yang dia punya. Laura menggenggam cangkir teh tadi dengan kedua tangannya dan berharap benda itu bisa hancur lalu menyakiti tangannya sehingga dia bisa keluar sesegera mungkin dari situasi ini. Namun sayangnya, benda itu tak kunjung pecah juga.


Laura melirik dari langit matanya dan melihat kaki Madison bergerak. Bergerak dan melangkah ke arahnya. Jantungnya berdegup semakin kencang, keringat semakin membanjiri tubuhnya, dan cengkaramannya pada cangkir itu semakin kuat.


Rasanya, Laura akan pingsan sesegera mungkin ketika Madison duduk di sampingnya lalu melingkarkan tangannya di sekitar tubuh Laura.


"Hey.. Lihat aku.. Lihat aku," bujuk Madison.


Laura menelan air ludahnya sendiri dengan susah payah seraya memberanikan diri mengangkat kepalanya sedikit untuk menoleh ke arah Madison.


"Apa kau tahu strategi perang terbaik saat perang dulu, Laura?" tanya dia dengan nada pelan yang membujuk.


"N--No,," jawabnya dengan suara terbata-bata.


"Kalau begitu, biarkan aku memberitahunya padamu," Madison mendekatkan kepalanya ke arah telinga Laura dan tangannya mencengkram kuat bahu Laura, "Mereka rela menghancurkan diri mereka sendiri asal musuh mereka ikut hancur, Laura. Kau tahu bom bunuh diri, bukan? Banyak orang melakukannya asal musuhnya ikut meledak..."


"A--Apa? B-bom apa?"


Madison tersenyum miring, "Jika kau hancur demi menghancurkan musuhmu adalah kemenangan yang sesungguhnya, Laura..."


****


Miss Foxxy


Minefields artinya ladang ranjau dan bomnya adalah Laura, Clara, Madison. 👌👌 Mari kita ledakkan....