Remember Me

Remember Me
A Friends



Happy Reading


***


"Ini tempat tinggalmu?" tanya Christov sesaat mereka masuk ke rooftop apartemen, tempat Cassie tinggal. Matanya menatap suasana sekitar.


"Aku mendengar kau seorang arsitek.. Kenapa? Apa rumahku tampak buruk menurutmu?"


Christov tidak menjawab dan memilih melepas sepatu serta kaos kakinya ketika melihat Cassie melakukan hal yang sama. Dia merasakan rasa dingin di telapak kakinya saat menginjak lantai kayu flanel. Ada ayunan, rumput sintetis, beberapa pot tanaman, dan juga jemuran Cassie.


"Kenapa kau diam?" tanya Cassie yang duduk di atas ayunan, menatap Christov yang masih menatap sekitar.


Angin sore datang dari barat dan menerbangkan helaian rambut Cassie serta pakaiannya yang masih terjemur. Matanya menatap matahari yang perlahan terbenam di ufuk barat sehingga memberikan bercak oranye lembut di langit. Suasana seperti ini benar-benar membuat Cassie merasa berada di dunia lain.


"Apa kau tidak suka rumahku?" tanya dia lagi saat pria itu masih saja diam.


Christov tersenyum tipis, "Tidak. Aku malah berpikir tempat ini unik,"


"Uh.. Aku tersanjung, Mr.Connel," katanya dengan nada senang, "Kau ingin minum sesuatu? Jus atau sirup?"


Christov tertawa kecil mendengar nada Cassie saat bertanya tentang jus dan sirup.


"Tidak, terimakasih," katanya dan ikut bergabung dengan Cassie duduk di ayunan kayu.


Keduanya terdiam menatap matahari terbenam. Dari ujung matanya, Christov melihat Cassie yang menatap matahari terbenam dengan tatapan penuh impian dan membuat bola mata birunya tampak berbinar-binar oleh cahaya oranye.


Setelah percakapan di pesta tadi, Cassie mengajaknya datang ke tempat tinggalnya. Christov masih tidak percaya dia mengiyakannya dan sekarang sudah duduk di sini bersama Cassie. Sangat cepat, tidak rumit, dan simpel. Inilah yang dibutuhkan Christov untuk saat ini.


Walaupun mereka hanya menjalin hubungan friends with benefit, Christov merasa itu tidak masalah. Hubungan tanpa ikatan memang lebih nyaman. Toh.. Christov yakin ini hanya berlangsung sebentar. Yah.. Hanya sebentar. Nanti, setelah semua masalah dan beban pikirannya berangsur-angsur terselesaikan, dia akan pergi. Untuk saat ini, dia benar-benar butuh pelarian seperti ini.


"Lain kali kau harus membawaku juga berkunjung ke tempatmu. Aku penasaran seperti apa rumah seorang arsitek sepertimu.."


"Biasa saja. Tidak ada yang istimewa di sana," jawab Christov.


"Hoi.. Ingat apa yang kukatakan sebelumnya. Katakan dengan jujur apa yang sedang kau pikirkan. Mana mungkin kau tidak menganggap tempat tinggalmu tidak istimewa.."


Christov terkekeh dan menyandarkan tubuhnya di punggung kursi ayunan. Kepalanya dimiringkan ke arah Cassie.


"Yah.. Aku suka rumahku. Uhm.. Sebenarnya, aku tinggal di apartemen,"


"Apartemen mana?"


"Apartemen Z."


"Whoa.. Itu apartemen yang mahal, bukan? Hah.. Aku juga dulu ikut dalam pembelian unit apartemen Z, sayangnya semua unit apartemen habis terjual hanya dalam lima belas menit setelah peluncuran..."


Christov tidak bisa bayangkan jika mereka tinggal dalam satu gedung apartemen. Apa mereka akan berakhir seperti ini juga?


"Kita bisa pergi ke apartemenku besok," kata Christov dengan nada penuh arti.


"I can't wait*,"


(*Aku tidak sabar)


Mereka saling bertatapan satu sama lain. Senyum hangat yang terukir di bibir keduanya perlahan memudar digantikan oleh bibir yang sedikit terbuka. Keduanya bertatapan seolah tengah menyampaikan ribuan pesan. Udara yang sejuk itu tidak lagi membuat tubuh terasa dingin dan malah sebaliknya.


Mereka memikirkan hal yang sama.


Christov mendekat dan mengarahkan tangan kanannya ke balik leher Cassie. Kepala mereka saling mendekat dan mata keduanya terpejam untuk menikmati momen tersebut. Christov menggesek dan menjejak wajah Cassie dengan hidungnya. Dia bisa mencium aroma tubuh Cassie yang unik dan entah mengapa, tercium sangat menggoda.


"Cassie..." Christov me-nge-rang


"Yah.." bisik Cassie.


"Aku ingin melihat mawar..." pintanya dengan suara parau.



Christov bisa merasakan kejantanannya sudah berdenyut dibalik celananya. Mendesak ingin keluar dan mengubur miliknya dalam-dalam ke  tubuh Cassie sesegera mungkin. Tanpa ragu, Christov menempelkan bibirnya pada Cassie. Bibir Cassie terbuka, memberi akses pada Christov hingga lidah mereka saling terjalin.


"Erghh..." Christov menggeram dalam pa-ngu-tan tersebut. Tangannya menjelajahi kulit Cassie yang lembut. Kepala keduanya saling beradu dalam gerakan lembut. Dihisapnya bibir bawah Cassie. Manis. Pikir Christov. Dia menggigit bibir bawah Cassie dan menariknya menjauh hingga akhirnya Christov melepas pa-ngu-tan tersebut.


Napas keduanya berderu dengan cepat, tanda bahwa Christov dan Cassie sudah kehabisan napas. Christov menempelkan dahi dan pangkal hidupnya pada Cassie. Jemarinya yang masih berada di balik leher Cassie masih tetap bergerak-gerak, mengelus kulitnya dengan lembut.


"I. Want. You.*" kata Christov terputus dengan suara serak. Jemarinya yang berada di balik leher perlahan turun ke arah resleting gaun Cassie. Diturunkannya itu perlahan dan dengan sengaja menyentuh kulit punggung Cassie.


(*Aku menginginkanmu)


"So I am..*" bisik Cassie dengan nada sen-su-al. Dia mengigit bibir bawahnya lagi dan tatapannya turun ke bawah, tepat ke arah celana Christov yang tampak menyempit. Diarahkan Cassie tangan kanannya ke bagian yang sesak tersebut dan mengelusnya lembut.


(*Aku juga)


"Argh.." Christov menggeram dari balik giginya saat merasakan sentuhan tersebut. Dia merasa jika miliknya mengembang semakin besar dan membuat di bawah sana terasa sesak. Berdenyut. Itu berdenyut keras.


Cassie memindahkan kepalanya ke arah sisi kiri wajah Christov, "Kau suka?" bisik Cassie di telinga pria tersebut. Dengan sengaja, dia meremas gundukan yang semakin membesar tersebut. Hal itu membaut Christov me-nge-rang tertahan. Kepalanya di tekan ke belakang tubuhnya karena sensasi nikmat yang juga membuat kakinya terasa lemas.


Cassie meremasnya semakin keras dan senyum miring menghiasi wajahnya. Merasa senang mendengar suara tertahan dari Christov.


"Fvck*.." Christov mengumpat dan segera menjauhkan tangan Cassie dari miliknya, "Aku menginginkanmu di dalammu, Cassie..."


(*Semacam umpatan)


Cassie menjauhkan kepalanya dari pria tersebut agar bisa melihat wajahnya dengan jelas.


"Di sini?"


Christov kini tersenyum tipis yang misterius, "Yeah.." katanya dengan suara parau. Diarahkannya Cassie untuk naik ke atas pahanya sehingga Cassie duduk mengangkangi.


Christov terkekeh dengan suara rendah, "Aku ingin melihat mawar," Tangannya menurunkan lengan baju Cassie dari kedua sisi sehingga jatuh ke bagian perutnya. Matanya menggelap melihat pa-yu-da-ra Cassie dari balik bra yang nampak berisi, pepat, dan bulat.


"Cantik.." kata Christov seraya mengelus bunga mawar kecil yang berada di antara celah pa-yu-da-ra Cassie


"Aku terus memikirkannya akhir-akhir ini," gumamnya lagi dan tangannya merayap ke balik punggung Cassie dengan lembut. Dia bisa merasakan seluruh bulu kuduk Cassie meremang akibat sentuhannya.


"Tanganmu sangat dingin..." eluh Cassie dengan suara tertahan. Matanya yang menggelap menatap lapar ke arah Christov yang tersenyum tipis.


"Aku ingat seseorang pernah berkata jika seseorang bertubuh dingin memiliki hati yang hangat," Christov melepas kaitan bra Cassie dan seluruh tubuh Cassie bergetar.


"Seseorang yang mengatakan itu pasti cantik," kata Cassie dengan suara menantang.


Christov menjatuhkan tali bra Cassie dari pundaknya dan membiarkan pa-yu-da-ra-nya menggantung bebas di depannya. Dia bisa merasakan air liur keluar di mulutnya.


"Yah.. Sangat cantik," jawabnya dan Christov memenuhi mulutnya dengan bu-ah da-da Cassie yang begitu ranum. Menghisapnya dan menjilatinya penuh kenikmatan.


"Argh.." Cassie me-nge-rang, kedua tangannya memeluk kepala Christov dan mendorongnya semakin dalam. Kulit dadanya merasakan rasa geli dari gesekan rambut Christov yang tebal.


Christov tiba-tiba menghisap pucuk Cassie dengan keras dan membuat wanita itu menjerit. Satu tangannya di angkat ke dada Cassie yang lain. Di-re-mas-nya lembut dan telunjuknya bermain di sana, membentuk gerakan melingkar yang membuat seluruh tubuh Cassie mengejang.


"Ah! Ah!" Cassie menghentakkan kepalanya ke belakang saat Christov mencubit pucuknya. Tubuhnya memanas dan di bawah sana dia merasakan kelembapan yang teramat. Basah. Dia sangat basah.


"Oh my!" Cassie meraung ketika Christov memindahkan mulutnya ke sisi pa-yu-da-ra-nya yang lain untuk melakukan hal yang sama. Di sana, Cassie bisa mendengar suara kekehan Christov. Lidah pria tersebut bermain dengan ahlinya, memanjakan bu-ah da-danya dengan kenikmatan hakiki.


Kedua tangan Cassie berpindah ke bawah, menuju pangkal celana Christov. Dengan tangan bergetar dan kepala pening, Cassie melepas gesper dan resleting celana pria tersebut.


"Uhm..." Christov mengerang saat merasakan jemari mungil Cassie menyentuh miliknya dari balik boxer-nya.


"Aku ingin milikmu masuk sangat dalam padaku, Christov.." gumam Cassie seraya mengelus kejantanan Christov yang mengembang di balik boxer-nya.


"Fvck..." Christov mengumpat dengan suara tertahan dan entah mengapa, itu memberi efek pada Cassie.


Indah.. Suaranya terdengar sangat indah.


Christov terkekeh dan perlahan menjauhkan bibirnya dari dada Cassie yang sangat basah. Dihembuskannya udara dari mulutnya ke arah dada Cassie dan segera tubuh wanita itu bergetar hebat merasakan sensasi menggigil tersebut.


"Ahk!"


"Lepas celanaku," perintah Christov dan kembali menghembuskan udara dingin itu.


"Ah!" Cassie memekik lagi dan pinggulnya menggesek semakin intens ke arah paha Christov.


Kepalanya dimajukan ke arah telinga Cassie, "Jika kau tidak melepasnya, kita tidak akan melakukannya.." bibirnya dengan lembut menghisap daun telinga Cassie. Diangkatnya tangan kanan untuk mengelus tatto ular wanita tersebut.



"Ah.. Please," Cassie bersuara dengan putus asa. Tangannya bergetar untuk menarik turun celana dan boxer Christov.


"Ayo, Cassie.." bisik Christov dengan nada menggoda. Bibirnya tetap menghisap lembut daun telinga Cassie. Christov mengangkat pinggulnya ke atas agar celana dan boxer-nya dapat lepas. Hanya dalam sekali tarikan, kejantanannya yang sudah ingin mendesak sedari awal segera terbebas. Berdiri tegak dengan gagahnya.


"Sial!" umpat Cassie ketika melihat milik Christov. Padahal sudah pernah melihat ini sebelumnya, tapi Cassie masih merasa terkejut dengan milik Christov. Di arahkan tangan kanannya pada milik Christov dan membungkusnya lembut dalam telapak tangannya.


"Lembut.." bisik Cassie seraya menggerakkan tangannya naik-turun dan membuat Christov memutar kepalanya penuh kenikmatan. Kedua kaki Christov semakin menegang.


"Masukkan sekarang, Cassie," geram Christov dari balik giginya. Kini, Cassie-lah yang terkekeh. Dengan berani, Cassie mengelus pucuk milik Christov dengan jari telunjuknya.


"A-A-Aghh.." Christov me-nge-rang kencang merasakan rasa geli yang terasa nikmat itu.


"Oh my!" dia menggeram kencang ketika Cassie melakukan gerakan melingkar di sana, persis seperti yang dia lakukan pada pucuk bu-ah da-da Cassie.


"Jeez.." Christov memegang pergelangan tangan Cassie sehingga wanita itu berhenti melakukannya. Mata keduanya yang menggelap saling bertatapan.


"Masukkan. Sekarang." kata Christov tegas dan penuh nada perintah.


Cassie tersenyum miring seraya menggigit bibir bawahnya, "As you wish, Christov*.." diangkat pinggulnya ke arah atas dan dengan perhitungan yang matang, Cassie menurunkan pinggulnya kembali ke arah kejantanan Christov.


(*Baiklah.)


"A-AH!" Cassie memekik kencang saat seluruh milik Christov memenuhi miliknya. Masuk sangat dalam.. Begitu dalam.


"Oh.. My..." dada Christov naik turun, merasakan kejantanannya di bungkus dengan begitu hangat dan ketat.


"Huh! Nikmat. Ini terasa nikmat!"


Cassie mulai menggerakkan pinggulnya maju dan mundur. Gerakannya tersebut membuat ayunan ikut bergerak dan Christov harus menahan ayunan tersebut dengan kakinya yang menegang agar tidak bergerak terlalu kencang.


"Ah! Ah!" Cassie me-nge-rang semakin intens ketika merasakan kenikmatan dari pangkal pahanya menyebar ke seluruh tubuhnya. Dipejamkan kedua matanya untuk menikmati sensasi liar tersebut.


"Cepat.. Semakin cepat.." kata Christov dan kembali menanamkan mulutnya pada dada Cassie.


"OH! Jeez!" Cassie menggerakkan pinggulnya dalam gerakan gila. Bunyi decitan berbaur dengan suara engsel ayunan.


"Cassie!" Christov meneriakkan nama wania itu ketika kejantanannya dibungkus semakin ketat, menekan miliknya dan memberikan sensasi nikmat yang begitu liar.


"Yah! Yah! Sebut namaku!" pekik Cassie seiring dengan gerakannya yang semakin menggila. Dirinya tidak peduli lagi jika orang lain mendengar mereka. Dia tidak peduli lagi jika seandainya ayunan kayu ini roboh. Dia.. Dia...


"Keluar-lah di dalamku, Christov!" pintanya ketika merasakan tubuh pria itu bergetar, "Cium! Cium aku!"


Christov memindahkan bibirnya dari dada Cassie menuju bibir wanita tersebut. ******* bibir Cassie dengan buas seolah ingin menelan Cassie bulat-bulat. Mata mereka saling bertatapan dan Cassie tetap bergerak. Tubuh Christov bergetar. Kakinya semakin menegang dan saat itu pula dia mencapai puncaknya.


"Uhm!" Cassie menggeram pada pa-ngu-tan tersebut ketika merasakan cairan Christov menyebur masuk ke dalam dirinya dan membawanya juga kepada puncak pelepasan tersebut. Cassie menghentak-hentakkan tubuhnya, merasakan pelepasan yang luar biasa itu. Seluruh tubuhnya terasa lemas.


Keduanya melepaskan pa-ngu-tan dan Cassie menyandarkan tubuhnya pada Christov. Dada mereka berdua naik turun dengan cepat. Keringat membanjiri tubuh mereka berdua. Christov melingkarkan kedua tangannya pada tubuh Cassie. Dia bisa merasakan cairan tersebut membasahi pahanya. Cairan yang begitu banyak.


"Aku pikir jika ayunanku akan roboh," bisik Cassie pelan dan Christov terkekeh mendengar hal tersebut. Merasa lucu.


Lelucon sehabis se x adalah yang terbaik.


"Jika roboh, aku bisa mendesain yang baru untukmu. Ayunan anti roboh," bisik Christov penuh nada arti dan keduanya pun saling tertawa.


***


"Jadi kau bekerja sebagai produser musik?" tanya Christov saat keduanya duduk di dapur Cassie, menikmati makan malam bersama sehabis mandi.


"Yah," jawab Cassie singkat seraya menggigit besar buritto yang mereka pesan tadi.


Disandarkan Christov punggungnya ke kursi, "Baju siapa ini?" tanyanya tertuju pada pakaian yang tengah dia pakai. Pakaian itu diberikan Cassie untuknya.


"Punyaku. Aku memang punya kebiasaan membeli kaos dan celana pendek yang sangat longgar karena terasa nyaman dipakai untuk tidur,"


Ukurannya masih terlalu kecil pada Christov, tapi setidaknya dia tidak harus mengenakan pakaiannya yang sudah bercampur keringat dan cairan se x mereka.


Dia cukup ragu akan jawaban Cassie dan berpikir bahwa pakaian yang dia pakai sekarang adalah milik mantan kekasihnya.


"Aku suka rumahmu,"


Cassie tersenyum tipis, "Serius?"


"Yah," Christov mengangguk, "Tempat ini terlihat kecil dari luar, tapi saat masuk, tidak sesempit yang aku pikirkan.."


"Thank you," kata Cassie, "Apa kau langsung pulang atau menginap?" tanyanya dengan nada santai dan itu membaut Christov heran.


"Aku boleh menginap di sini?" tanya Christov kembali.


Cassie menaikkan satu alisnya, "Pikirmu?" dia berdiri dari duduknya dan membuang bungkus buritto ke dalam tong sampah lalu mencuci tangannya.


"Kau pikir kau akan pulang begitu saja setiap kali kita selesai melakukan se x?" tanyanya seraya bersandar di pinggiran wastafel, "Jika begitu, aku merasa bukanlah temanmu, tapi pe-la-cur-mu," Cassie menyipitkan matanya dan kedua tangannya dilipat di depan dada.


Christov tertawa kaku, "Bukan begitu.. A-aku berpikir jika kita hanya melakukan se x,"


"Aku katakan jika kita adalah teman, Christov. Teman dalam segala hal. Bukan teman hanya untuk melakukan se x. Kau mengerti definisi teman, bukan?"


Christov menarik napas dan berdiri dari duduknya. Dia berjalan ke arah Cassie dan mengekang tubuh wanita itu di antara tangannya yang ditumpukan ke pinggiran wastafel.


"Aku tidak pernah punya teman sebelumnya," bisiknya seraya mengecup bibir Cassie sekilas.


"Now you have one*," Cassie keluar dari kekangan Christov dan menatap pria itu, "Jika kita melanjutkan pembicaraan dalam posisi seperti itu, kita bisa berakhir melakukan se x lagi,"


(*Sekarang kamu punya satu.)


Christov menegakkan tubuhnya dan tersenyum lebar.


"Mengapa tidak? Kau tidak mau melakukannya lagi?" tanya Christov dengan nada sopan yang ramah.


Cassie tertawa kecil, "Aku butuh mengerjakan pekerjaanku," diputar tumitnya meninggalkan dapur dan Christov mengikut dia dengan langkah kecil.


"Bekerja? Boleh aku melihatmu bekerja?"


Cassie melirik pria tersebut dari ujung matanya, "Boleh. Namun, jangan membayangkan yang tidak-tidak, big man*. Aku tak mau melakukan se x di ruang kerjaku," katanya seraya memukul bo-kong Christov. Hal tesebut membuat Christov terkejut dan sesaat kemudian, dia malah tersenyum lebar.


(*Pria besar)


"Pembalasan.." kata Christov bersamaan dengan tangannya yang memukul bo-kong Cassie. Dia buru-buru lari dari pergi menjauh dari Cassie yang tertawa.


"Hei!"


****


Miss Foxxy


Kalau merasa tidak nyaman dengan karya author baik dari plot, gaya bahasa, karakter, gambar, dan lainnya boleh sampaikan keluhan kakak" sekali ke IG aku melalui DM biar dibicarakan baik". Jangan di lapor yah hehehe🤗 Of I know you report my novel, I Will kick you 🙂 And then, kalau kalian punya banyak relasi, boleh ajak baca karya author yah hehe. Jangan lupa dukung author dengan like, koment, love, vote, dan kalau gk keberatan koin juga 😬