
Happy Reading
****
Aku suka rambutmu
-Cassandra De Angelis-
***
"Jadi kay benar-benar tidak merekam apa pun?" tanya Cassie lagi untuk memastikan apa yang dia dengar barusan.
"Tidak," Christov berhenti, "Rasanya cukup sampai ini aku menemanimu," katanya tertuju pada gandengan tangan Cassie. Keduanya sudah hampir sampai pada lokasi pesta.
"Tunggu sebentar," Cassie mencegah Christov dengan tetap menggandeng tangan pria itu, "Temani aku sebentar lagi. Hanya sebentar. Aku perlu menghubungi teman-temanku terlebih dahulu,"
Christov tidak menjawab dan hanya menatapnya dengan tatapan datar. Tatapan dingin itu membuat Cassie tersenyum kaku.
"Ha-hanya sebentar," kata Cassie sekali lagi dan melepas gandengannya pada tangan Christov. Dirogoh tas kecil untuk mengambil ponsel dan mulai menghubungi teman-teman serta saudarinya, Miranda. Sayangnya, tidak ada satu pun yang menerima panggilannya.
"Sialan," umpatnya. Bagaimana bisa dia tenang di tempat seperti ini jika ada Jason berkeliaran?! Ahk! Padahal, mantan kekasihnya itu tidak pernah bertindak seperti ini sebelumnya. Kenapa sekarang berubah? Apa ada masalah? Setahun lebih sejak berakhirnya hubungan mereka, Cassie dan Jason tidak pernah terlibat hal seperti ini. Kenapa Jason meminta kembali saat dia lah meminta untuk pergi? Dasar pria sialan. Umpat Cassie.
Ditarik napasnya dan tatapannya ditujukan lagi ke arah Christov yang menatap kosong ke arah depan dan bukan ke arahnya.
Pendiam sekali.
"Bisakah kau menemaniku mencari saudariku" Christov melirik ke arahnya dengan tajam dan membuat Cassie salah tingkah, "Ha-hanya sebentar. Aku masih merasa was-was karena mantan kekasihku bisa saja bertindak di luar kendali."
Cassie menelan ludah dengan susah payah saat pria itu tak kunjung menjawabnya. Yah.. Sebenarnya ini terdengar aneh. Kau meminta tolong orang yang baru saja kau temui. Kenapa dia hanya diam saja? Pikir Cassie. Sialan. Mungkin dia memang tidak mau.
"Aku tidak akan memaksakannha. Terima kasih atas ban--"
"Sebentar," potong Christov.
"Apa?"
"Aku akan menemanimu sebentar saja."
Cassie mendesah lega, "Thank you so much. Ayo," tanpa pikir panjang, Cassie menggandeng tangan Christov kembali dengan santai. Di sisi lain, Christov melihat gandengan itu dengan tatapan heran, tidak mampu berkata-kata.
Christov dibawa oleh Cassie menuju bar dan keduanya duduk di sudut. Mata Christov menatapi bar tersebut dan lega ketika tidak mendapati teman-temanya tersebut. Cassie duduk di antara dinding dan Christov yang sudah sibuk dengan ponselnya. Seorang bartender menghampiri mereka.
"Ingin minum sesuatu?"
"Kau punya tequila?" Cassie bertanya.
Bartender mengangguk.
"Aku minta dua gelas,"
"Aku tidak minum alkohol. Boleh aku meminta jus jeruk atau sirup saja?"
Cassie melirik ke arah Christov dengan tatapan heran. J-jus? Sirup? Orang macam apa datang ke tempat seperti ini untuk minum sirup?
Setelah mendengar pesanan itu, Bartender pergi dari sana.
"Bagaimana bisa kau hanya meminta jus?" tanya Cassie dengan anda acuh tak acuh dan fokus menatapi ponselnya.
"Aku harus mengendari mobil saat pulang nanti,"
"Kau mudah mabuk?"
"Tidak juga,"
Bartender datang dan membawa minuman mereka. Di saat itu pula, panggilan Cassie tersambung pada Miranda.
"Di mana posisimu?" kata Cassie setengah berteriak, melawan suara detuman musik yang tiba-tiba berubah ke volume yang semakin keras. Miranda menjawab singkat bahwa dia sudah tidak berada di lokasi pesta lagi.
"Sialan," umpat Cassie, "Teman-temanku juga tidak mengangkat panggilanku," Cassie meneguk habis tequilanya.
Christov menyedot jus jeruknya. Awalnya dia berpikir bahwa wanita itu mencari teman-temannya secara langsung. Nyatanya, mencari melalui ponsel. Dalam cahaya temaram dan lampu berkedap-kedip, Christov bisa melihat jelas tato Cassie yang berada di punggung atas.
"Kalau sudah di tempat seperti ini, kau harus minum alkohol," komentar Cassie. Dia meminta bartender mengisi gelasnya kembali.
"Minumlah.." Cassie menyodorkannya gelas tequila miliknya ke arah Christov. Pria itu menatap gelas yang disodorkan Cassie dalam diam dan memilih menyedot jusnya sebagai penolakan. Terdengar suara tawa kecil dari Cassie.
"Dasar.." ucapnya dan meneguk lagi alkoholnya. Cassie mengisi kembali gelasnya dari botol alkohol yang sengaja ditinggalkan oleh bartender.
"Aku tidak menyangka mantan kekasihku yang selalu diam-diam saja selama setahun ini malah bertindak gila,"
Dia mabuk. Pikir Christov. Sudah seberapa banyak yang dia minum sejak datang ke pesta ini? Matanya melihat wanita itu sudah mengisi lagi gelas ke-empatnya. Well..
"Kenapa kau menolongku?"
"Tidak ada alasan untuk tidak menolong seseorang yang membutuhkan pertolongan,"
"Kaku sekali,"
Christov menahan tangan wanita itu untuk meminum gelas ke-limanya. Matanya menatap Cassie lekat dalam cahaya remang. Dia tidak mau wanita itu jatuh mabuk dan tidak sadarkan diri karena jika itu terjadi, Christov sendiri yang akan kesulitan. Satu-satunya keinginannya saat ini adalah pulang. Namun, sayangnya dia malah menyerahkan diri untuk membantu wanita asing ini.
"Alkohol tidak akan membuatmu merasa lebih baik," kata Christov seraya menarik gelas itu lagi, "Kenapa kau tidak pulang saja?"
Cassie tidak mendengar kalimat terakhir dari pria itu. Ditumpukan wajahnya pada tangan kiri dan menatap pria itu dengan senyum kecil. Rasa marah dan kesalnya akan Jason sudah tersamarkan oleh alkohol yang sudah dia konsumsi. Entah sudah berapa gelas alkohol yang sudah masuk ke dalam tubuhnya satu hari ini.
"Kau terdengar seperti ayahku."
"Kau mabuk, Miss.."
"Sopan sekali," gumam Cassie pelan, "Kau arsitek yah?"
Christov membuang muka dari wanita itu dan memilih tidak menjawab wanita itu. Dia tidak peduli tentang fakta bahwa wanita itu tahu profesinya. Sebab, yang dia pedulikan saat ini adalah dirinya sendiri. Bagaimana bisa dia tetap duduk di sini dan berbicara dengan wanita asing yang sudah mabuk? Di angkat tangan kirinya untuk memeriksa jam yang sudah menunjukkan pukul sepuluh. Harusnya dia sudah pulang sekarang! Harusnya dia sudah berbaring nyaman di tempat tidurnya dan bukannya duduk bersama wanita asing ini.
"Kenapa kau sangat pendiam sekali?"
Kaku, sopan, terdengar seperti ayahnya, dan sekarang wanita itu mengomentarinya lagi sebagai sosok pendiam. Christov melihat wanita itu yang masih menatapnya dengan tatapan penuh impian yang aneh. Mungkin saat ini Cassie menatapnya seperti anak kecil menatap lolipop besar impiannya yang tergantung di etalase toko.
"Aku tidak bicara banyak saat di sekitar orang yang tidak kukenal," semoga jawaban Christov cukup menusuk pada Cassie sehingga wanita itu tidak terus-terusan menanyai dan mengajaknya bicara. Namun, di luar dugaan, Cassie malah tertawa terbahak-bahak. Christov menatapnya heran ke arah Cassie yang tiba-tiba tertawa.
Tertawa terbahak-bahak dengan mulut lebar hingga matanya menyipit, tangannya memukul-mukul meja bar dengan keras, dan seluruh aura cantiknya hilang begitu saja. Seperti gangster saja. Pikir Christov. Sebuah gambaran Clara yang selalu tertawa sopan muncul dalam otaknya. Tawa kecil dan tangan kanan menutupi mulutnya, begitulah Clara tertawa.
Tangan Cassie berpindah dari meja ke punggung Christov dan mulai memukul-mukulnya. Christov yang tengah lengah karena pikirannya sendiri segera merasa terkejut ketika merasakan pukulan keras Cassie. Dia berusaha menghindar, tapi wanita itu tetap tertawa dan memukulnya. Apa-apaan wanita ini?
"Stop.." kata Christov seraya memegangi kedua lengan Cassie. Dia tidak sanggup lagi menerima pukulan Cassie. Rasanya dia seperti dipukul sekumpulan preman saja.
"Berhenti memukuliku,"
Cassie berhenti tertawa dan tubuhnya membeku. Mulutnya setengah terbuka dan ekspresinya tidak terbaca. Kenapa lagi dengan wanita ini? Batin Christov. Lebih baik pulang. Pulang....
"Aku akan pulang, "Christov melepas kedua pegangannya pada lengan Cassie dan secara mengejutkan, wanita itu malah menarik tangan kanannya dan menatap telapak tangan Christov seolah itu adalah benda berharga yang baru pertama kali dia lihat.
Wanita ini tampaknya gila. Pikir Christov lagi untuk kesekian kalinya.
Cassie memiringkan kepalanya ke kanan-kiri, menatap telapak tangan Christov dengan teliti. Hal yang selanjutnya dia lakukan benar-benar mengejutkan Christov, dia menempelkan telapak tangan Christov di pipi kirinya. Matanya terpejam penuh hikmat.
Christov benar-benar syok dengan apa yang dia lihat dan rasakan sekarang. Saking syoknya, dia tidak mampu berkata-kata atau berbuat apa pun.
"Hm.." Cassie mengelus-elus pipinya ke telapak tangan Christov, "Kenapa tanganmu terasa dingin dan sejuk?"
"A-apa?"
Wanita gila!
Christov menarik tangannya dari pipi Cassie dan sesaat kemudian terdengar kekehan dari wanita itu.
"Kenapa kau tertawa?" suara Christov naik satu oktaf. Perbuatan wanita itu tadi benar-benar membuatnya terkejut.
Cassie hanya tersenyum tipis dan menumpukan kepalanya lagi ke tangan kiri. Lalu menatapnya dengan tatapan penuh impian itu lagi.
Apa yang salah dengan otaknya? Kenapa dia terus-terusan menatapiku begitu? Ah.. Memang lebih baik aku pulang saja
"Ayahku bilang, seseorang bertubuh dingin memiliki hati yang hangat,"
Lagi-lagi mengucapkan hal random.
"Aku pikir sudah saatnya aku pulang. Aku sudah membantu."
"Aku suka rambutmu," katanya dengan nada kalem yang lembut. Nampak begitu santai. Alkohol dan emosi yang campur aduk sudah membuat wanita itu akal sehatnya
"Kenapa pria sepertimu punya rambut yang tebal dan hitam legam seperti ini?"
Tangan Cassie yang bebas mendadak berpindah ke pipi kiri Christov dan tanpa ragu, Cassie memajukan wajahnya untuk melihat lebih jelas mata Christov.
Terlalu dekat. Ini terlalu dekat. Peringat Christov dalam kepalanya. Dia bahkan bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang berdetak kencang dan tubuhnya perlahan menghangat untuk alasan yang tidak dia ketahui.
"Bulu matamu juga tebal.. Alismu juga,"
Tanpa pikir panjang, Christov segera menepis tangan wanita itu. Sebelumnya, wanita itu memegangi tangannya, lalu rambut, dan sekarang pipi. Gila! Gila! Tidak pernah sekali pun Christov merasakan pengalaman seperti. Tidak pernah!
"Kau mabuk berat, " Christov berdiri dan menolak menoleh ke arah wanita gila itu. Dia memasukkan ponselnya ke dalam jaketnya dan bersiap untuk pergi. Otaknya saat ini tidak bisa lagi berpikiran jernih.
"Aku suka pria pemalu,"
Christov menoleh ke arah Cassie dan menatapnya tajam, tapi tatapan tajam itu hilang begitu saat ketika melihat wajah dan senyum lembut Cassie.
"Kau pria yang manis, Christov..."
Dia terdiam mendengar itu. Suara lembut itu terdengar jelas di tengah hiruk-pikuk pesta. Mendadak, dia merasa hanya dia dan Cassie yang berada dalam ruangan itu, serta musik pesta yang berdetum kencang itu hilang begitu saja dari pendengaran Christov. Kini dalam kepalanya, dia mengulangi kalimat terakhir yang di ucapkan Cassie.
Entah kenapa, selama kurang lebih 27 tahun hidup, untuk pertama kalinya Christov merasa namanya yang tampak biasa itu terdengar istimewa saat Cassie mengucapkannya. Perasaan apa ini? Euforia yang membuat Christov berdebar dan melayang itu segera hilang sesaat dia tersadar.
"Wanita gila!" akhirnya, kata-kata yang sejak tadi dia tahan itu keluar begitu saja. Cassie membelalakkan mata sesaat setelah mendengarnya. Raut wajah Cassie juga menunjukkan ekspresi penuh keterkejutan. Christov tiba-tiba merasakan penyesalan telah mengatakan itu, tapi dengan cepat dia menggeleng-gelengkan kepalanya.
Aku tidak menyesal. Pikirnya dan segera beralih dari sana tanpa kata-kata yang lain. Pulang. Waktunya untuk pulang. Christov terus memikirkan kepulangannya hingga dia berada di luar rumah. Saat sudah berjalan di parkiran dan hampir mendekati posisi mobilnya, Christov merogoh saku celananya untuk mengambil kunci. Namun, dia tidak menemukannya. Christov berhenti berjalan dan memeriksa setiap kantong yang dia miliki. Tidak ada. Dia tidak menemukan kuncinya.
"Argh.." dia menggeram dan menoleh ke arah bangunan rumah dengan marah. Apa dia meninggalkannya di sana? Sialan. Dengan enggan, Christov melangkah kembali masuk ke dalam rumah. Dia melangkah lebar dan cenderung tergesa-gesa. Oh My.. Semoga dia menemukan kunci mobilnya. Ide mendatangi pesta ini sejak awal benar-benar salah dan malah membuatnya bertemu dengan wanita gila yang sesat.
"Sesat.. Sangat sesat," gerutunya.
Christov kembali ke tempat pesta yang masih padat saja. Dia berjalan melewati kerumunan yang tetap menggila dengan tarian dan minuman. Dia berharap tidak menemukan Cassie lagi di bar itu karena-- Christov berhenti berpikir dan berjalan saat melihat Cassie tengah berdebat dengan pria tadi.
Christov menatap tajam ke arah pria tersebut yang berusaha menarik Cassie ke suatu tempat. Orang-orang tampak tidak memerhatikan keduanya dan lebih memfokuskan diri kepada musik sialan yang terdengar menyebalkan itu. Tanpa ragu, Christov melangkah lebar ke arah mereka. Dia sudah melupakan tujuan utamanya ke sini. Dia sudah merusak janjinya sendiri untuk tidak terlibat lagi dengan wanita sesat itu.
"Hentikan," katanya dalam nada rendah. Tangannya memegangi tangan Jason.
Cassie berhenti meronta dan Jason pun ikut berhenti. Christov menatap tajam ke arah Jason yang memiliki tubuh lebih pendek dari Christov. Dengan kasar, Christov menarik tangan Jason lepas dari tangan Cassie.
"Dasar pria sialan! Ini urusanku dengannya," Jason hendak meraih Cassie lagi dan Christov dengan sigap maju, menutupi Cassie di balik tubuhnya dengan tetap memegang pergelangan tangan Cassie.
"Apa kau tidak ingat bahwa aku sudah merekam percakapanmu dengannya?"
"Apa sekarang kau menggertakku, breng-sek?!"
Melihat situasi sekarang, nampaknya Jason tidak segan-segan memukul Christov. Dia melihat tubuh Jason dan memeriksanya dalam diam. Walaupun lebih pendek dari Christov, Jason memiliki tubuh berotot. Jika harus berakhir berkelahi, Christov yakin bisa mengalahkan pria ini walau harus babam belur. Dia memiliki sertifikat keahlian dalam bidang karate yang dia dapat saat duduk di bangku sekolah menengah atas. Namun, Christov buru-buru menggeleng kepalanya atas idenya itu. Dia?!! Dia rela berkelahi dengan wanita asing gila yang sesat?!! Sadarkan dirimu, Christov. Peringat Christov dalam pikirannya.
"Biarkan aku bicara dengan kekasihku, sialan!"
Cassie tiba-tiba melangkah maju dari balik tubuh Christov dan tanpa ragu segera melayangkan tamparan keras ke pipi jason. Cukup keras hingga membuat bibir pria itu lecet. Cassie menggerakkan tangan kanannya agar terlepas dari genggaman Christov yang syok melihat apa yang dilakukan Cassie. Jason bahkan harus mundur dua langkah karena kerasnya tamparan itu.
"Sialan. Hanya karena aku pernah mencintaimu, bukan berarti kau bisa memperlakukanku semana-mena, sialan!" Cassie melayangkan tamparan lain ke wajah Jason yang masih sama syok. Dia tidak menduga bahwa Cassie akan menamparnya, bahkan dalam mimpi terburuknya pun.
"Kau yang meminta untuk berpisah, breng-sek!" Cassie menamparnya lagi dan kini Jason menahan kakinya untuk tidak melangkah mundur lagi. Keduanya kini berdiri berhadapan satu sama lain.
"Hentikan, Cassie!" teriakJason.
Cassie tiba-tiba memegangi kerah baju Jason dengan kedua tangannya lalu sedikit mengangkatnya ke atas. Christov membuka mulutnya, terkejut melihat tenaga Cassie itu. Sesat.. Wanita ini gila dan sesat.
"Kau pikir aku tidak tega memukulmu, breng-sek! Satu-satunya perasaanku yang tersisa untukmu adalah rasa jijik!"
Christov maju dan memegang pundak Cassie, mencoba menghentikan perkelahian yang mungkin akan semakin buruk. Dia melihat Jason yang tampak tenang dan membuatnya yakin bahwa pria itu tidak akan berani memukul Cassie.
"Cassie, mari kita sudahi ini.." kata Christov.
"Breng-sek!" Cassie mengumpat lagi dengan nada bergetar dan Christov tahu bahwa wanita itu hendak menangis.
"Kau pikir aku tidak tahu jika kau selalu menemui wanita-wanita sial itu dibelakangku saat kita berkencan? Kau pikir aku tidak tahu bahwa bukan hanya aku saja wanita yang kau tiduri? Kau pikir... Ka-kau pi.. kir..." suara Cassie memelan, tanda amarah itu sudah berubah menjadi rasa sakit hati. Genggaman tangan Cassie pada kerah Jason pun perlahan melonggar.
"Aku diam.. Aku selalu diam karena aku takut kehilanganmu.." Cassie menundukkan kepalanya dan kedua tangannya sudah terlepas dari keras Jason. Christov tidak bisa melihat bagaimana ekspresi wajah Cassie saat ini, tapi dia bisa membayangkan betapa sedihnya wanita itu. Pundak wanita itu bergetar, tanda dia tengah berusaha menahan tangisnya.
"Breng-sek. Ini membuatku kelihatan sepuluh kali lebih menyedihkan! Jika sekali lagi kau menunjukkan batang hidungmu, aku tidak segan-segan mematahkan kedua lenganmu!" ancam Cassie dengan nada keras, penuh amarah, dan penuh keseriusan.
Cassie mendorong keras tubuh Jason dengan kedua tangannya sebelum akhirnya meninggalkan tempat itu. Christov melihat Jason yang masih saja mematung dan memilih menyambar tas Cassie yang tergeletak di lantai. Dia melangkah meninggalkan Jason dan mengikuti Cassie yang sudah pergi jauh.
Hah! Kenapa aku malah terlibat?! Pertanyaan itu muncul lagi setelah dia menyadari akan apa yang sudah dia lakukan. Sialan. Umpatnya. Persetan. Persetan dengan semuanya! Untuk hari ini saja! Untuk hari ini saja dia terlibat dengan permasalahan orang asing.
"Hey, Nona.." panggilnya. Christov berlari kecil untuk menyusul Cassie yang sudah berada di parkiran. Wanita mendadak berhenti. Punggungnya sedikit bungkuk dan kepalanya di tundukkan ke bawah. Christov tidak yakin dengan ekspresi wajah Cassie karena ditutupi oleh rambutnya. Dia berdehem sekali dan mempersiapkan diri akan kemungkinan wanita itu marah atau lainnya.
"Apa kau melihat kunciku yang tertinggal di meja bara atau--"
"Ada di dalam tasku," potongnya dengan nada dingin. Well.. Christov cukup terkejut mendengar nada dingin itu. Emosi wanita itu berubah-ubah dengan cepat. Christov buru-buru memeriksa tas wanita itu dan menemukan dua kunci mobil. Miliknya dan milik Cassie. Sekarang dia sudah mendapat kuncinya, lalu apa?
Christov menatap Cassie yang masih saja diam dan membeku di posisinya. Kenapa lagi wanita ini? Apa yang harus Christov lakukan? Menghiburnya? Tidak mungkin. Memberikan tasnya dan Christov pergi begitu saja? Well.. Cukup mungkin, tapi Christov tidak akan tega melakukan itu. Ditambah, nampaknya Cassie tidak memiliki seseorang yang bisa dia mintai tolongi di pesta ini dan juga dia sedang dalam keadaan mabuk.
"Kau mau jika aku memanggilkan taxi untukmu?" tawar Christov dengan nada ramah, tapi Cassie hanya diam saja. Syok? Mungkin dia syok karena menampar mantan kekasihnya dengan sangat keras.
Mendadak terdengar gemuruh dari langit dan tanpa aba-aba, hujan mulai turun dalam tetesan besar. Christov menatap langit dan mendengus kesal. Dia suka hujan, tapi kenapa hujan ini datang di tempat dan saat yang tidak tepat. Dialihkan tatapannya ke arah Cassie yang masih saja terdiam. Sialan.
Buru-buru, Christov melepas jaketnya dan menutupi tubuh Cassie dengan itu. Tangan kanannya melingkar di sekitar bahu Cassie dan membawa wanita itu masuk ke dalam mobilnya sebelum hujan membahasi mereka berdua.
"Aku akan mengantarkanmu pulang," kata Christov setelah keduanya duduk di dalam mobil miliknya. Ditaruhnya tas Cassie di atas dasboard mobil kemudian menyalakan lampu. Mata Christov melirik ke arah Cassie yang masih saja terdiam dengan kepala tertunduk. Ahk! Apa yang harus dia katakan agar wanita itu bicara?
"Di mana alamatmu? Aku akan mengantarkanmu pulang," katanya setengah berteriak untuk melawan suara petir dan gemuruh langit yang menggelora.
"Ke hotel saja," katanya pelan dan Christov sedikit terkejut mendengarnya. Dia menyadarkan dirinya sendiri bahwa wanita itulah yang ingin ke hotel dan bukan bermaksud mengajaknya. Sadarlah, Christov.
"Okay," katanya sembari menyalakan mesin mobil, "Aku akan mengantarmu ke hotel terdekat."
Dia melajukan mobil dan melihat Cassie dari sudut matanya tengah mengangkat kakinya ke atas mobil. Cassie menyandarkan tubuhnya di pintu mobil dan memeluk kakinya di dada. Christov tidak tahu seberapa hancurnya perasaan Cassie saat ini, tapi dia paham betul bahwa wanita itu tidak baik-baik saja.
Tidak banyak hal yang Christov bisa lakukan karena dia pun perlu berkonsentrasi mengendarai mobilnya di cuaca seperti ini. Hujan turun dengan derasnya hingga suara rintikannya yang jatuh ke badan mobil Christov terdengar bagaikan kerikil-kerikil kecil yang berjatuhan.
Dia memberhentikan mobil sejenak dan mengatur GPS mobilnya mengarah ke hotel terdekat. Setelah menemukan tujuannya, Christov kembali melajukan mobil. Sesekali, matanya melirik ke arah Cassie yang masih sja diam. Apa dia tertidur?
Christov sudah keluar dari daerah perumahan Baverly Hills menuju jalan raya yang sepi. Siapa pun akan enggan keluar di cuaca seperti ini. Untunglah. Pikir Christov. Setidaknya dia tidak harus terjebak macet. Hanya tinggal beberapa ratus meter lagi agar dia sampai ke hotel terdekat. Christov mengambil kesempatan melihat ke arah Cassie lagi dan saat dia menoleh ke depan, dia meng-geram terkejut dan menginjak rem secara tiba-tiba saat melihat kucing liar melewati jalan.
"Sial!" umpatnya dengan panik ketika merasakan mobilnya hampir kehilangan kendali. Suara decit ban mobil pun terdengar cukup kencang. Namun, apa yang paling membuatnya panik adalah Cassie yang tidak memakai sabuk pengaman terdorong ke bawah dasboard karena rem yang mendadak itu. Wanita itu menatapnya dengan tatapan panik yang setengah menangis.
"Sialan!" Christov mengumpat lagi dan buru-buru membantu Cassie untuk duduk kembali.
"Kau okay?" tangannya menarik bahu Cassie dan saat dia melakukannya, Christov tidak sengaja melihat pakaian wanita itu sedikit melorot. Dia buru-buru membuang mukanya dan beralih ke stir mobil dengan gerakan canggung.
"Thank you,"
Christov melirik dari ujung matanya dan melihat Cassie menarik ujung dress-nya. Dia menelan ludah dan memindahkan kedua tangannya ke belakang leher. Panas. Kenapa tiba-tiba panas. Ah. Kenapa pula dia memakai dress sependek itu?
"Kucing liar," ucap Christov untuk menjelaskan latar belakang kejadian yang mereka alami, tapi sialnya, mata Christov masih tetap melirik-lirik ke arah kaki Cassie.
Digelengkan kepalanya dan memilih menyalakan mesin mobil. Perjalanan hanya memakan waktu dua menit dan entah mengapa itu terasa berjam-jam untuk Christov. Ah.. Sejak tadi dia tidak bermasalah dengan pakaian Cassie, tapi.. Tapi, kenapa sekarang Christov merasa gugup?
Huff.. Okay. Dua orang dewasa, berduaan di mobil dalam guyuran hujan. Apa yang bisa diharapkan? Christov pun tetaplah seorang pria. Pria yang ingin merasakan kenikmatan. Christov menahan napas dengan apa yang sedang dipikirkannya saat ini. Mobilnya sudah berhenti di depan lobi hotel, tapi Cassie tak kunjung juga bergerak seolah mengharapkan sesuatu yang lain.
Christov kembali melirik Cassie yang malh membuat mulutnya sedikit terbuka. Ah. Sial. Umpatnya. Jangan lakukan apa pun, Christov! Jangan katakan apa pun yang ada dipikiranmu! Berhenti, Berhenti!! Christov terus berteriak dalam pikirannya. Berteriak untuk menahan dirinya sendiri.
"Aku akan turun. Terimakasih.."
Biarkan dia pergi, Christov. Biarkan.. No!
"Tunggu," setelah pergumulan yang terasa menyakitkan itu, Christov akhirnya memilih pilihan yang mungkin akan dia sesali di kemudian hari. Tangannya memegang pergelangan tangan kanan Cassie yang hangat sehingga wanita itu berhenti bergerak membuka pintu. Dengan keberanian dan kegilaan yang ada di pikirannya, Christov mengangkat kepalanya dan menoleh ke arah Cassie yang menatapnya lekat.
Aku suka mendengarnya saat mengucapkan namaku. Pikir Christov.
"Cassie.." panggilnya dengan nada akrab, "Apa kau masih suka dengan rambutku?"
***
Miss Foxxy
Jadi begini. kalaupun author tiba-tiba ngadet update. Maafkanlah daku. Biasanya author sendiri update 2500-3000 kata per chapter (10 lembar di ms word) dan ngetik yg 3000 kata ini, author butuh extra waktu dan kebetulan author sudah kehabisan chapter. Minimal 2 harian gitulah aku ngetik sepanjang ini. Sehari sih bisa cuman aduh, nanti hasilnya gk memuaskan. Jadi begitu. Maaf kalau tiba-tiba ngadet.