Remember Me

Remember Me
We're not Okay, Cassie...



Happy Reading


a


****


"Aku tak bisa datang ke tempatmu untuk beberapa hari ke depan..."


"Kalau begitu, biarkan aku yang datang.." kata Christov pada Cassie melalui ponsel.


Cassie memejamkan mata dan mengetuk-etuk jari telunjuknya pada meja kayu. Matanya terpejam dan dahinya berkerut tebal memikirkan alasan apa yang harus dia berikan pada Christov. Dia butuh ruang sendiri untuk beberapa saat. Ruang untuk berpikir tentang fakta Christover O'Connel adalah putra Mrs.Connel, sosok yang dianggap sebagai musuh abadi.


"Aku tidak bisa," katanya dengan nada sebiasa mungkin, tapi tidak bisa. Cassie tidak bisa berpura-pura saat ini. Suaranya terdengar putus asa dan emosi.


"Ada apa? Kau baik-baik saja, Cassie?"


Dia mengacak-acak rambutnya dengan kesal dan menahan diri tidak menggeram. Pria itu mengenalnya dengan sangat baik.


No, Christov.. No.. Aku tidak baik-baik saja.


"Hanya masalah pekerjaan. Aku mendapat anak asuh yang baru," bohongnya, "Mungkin aku akan pergi ke luar kota selama beberapa hari juga untuk mengatur konser dari anak asuhku.." kebohongan yang lain. Tidak pernah dia berbohong sebanyak ini pada Christov dalam satu waktu.


"Luar kota? Ke mana?"


Cassie menatap miniatur globe kecil di meja kerjanya dan berpikir cepat untuk jawaban pertanyaan dari Christov.


"San Diego.."


"Kapan kau berangkat? Aku akan membantumu persiapan.."


Aku tidak mau melihatmu, Christov.. Tidak untuk sekarang.


"Besok pagi bersama tim-ku.."


"Aku akan datang nanti.."


"Tidak perlu.." jawab Cassie dengan nada spontan yang menimbulkan keheningan dari seberang. Itu membuatnya merasa bersalah. Dia membuka mulutnya, hendak mengucapkan permintaan maaf.


"Okay.." jawab Christov dari seberang.


A-Apa?


"Hati-hatilah saat di San Diego. Jika kau butuh sesuatu, panggil aku. Okay?" kata Christov dengan nada lembut dan itu menimbulkan rasa bersalah pada Cassie. Digigitnya bibir bawah, menahan diri tidak emosi. Christov pasti tahu ada yang tidak beres, tapi dia memilih untuk tidak mendebatnya.


"Thank you, Christov..."


"Tidak perlu berterimakasih, Cassie. Kalau begitu, aku akan menutup sambungan. I love you, Cassie.."


"Yes, Christov.. I know*.."


(*Aku tahu)


Cassie menutup panggilan tanpa menunggu Christov bicara kembali. Kemudian dia menumpukan kepala pada kedua tangannya dengan kedua mata tertutup rapat.


"Itu bukan salahnya.." bisik dia dengan nada hancur, "Tapi, mengapa sangat sulit menerimanya..."


****


Ada yang tidak beres. Pikir Christov sesaat menutup sambungan dari Cassie. Kenapa? Kenapa suara dan respon dari kekasihnya tersebut berbeda? Bahkan Cassie tidak mengucapkan 'I love you' padanya. Ada yang salah? Apakah Cassie sibuk bekerja? Atau beban pekerjaannya terlalu berat? Atau dia tengah memiliki masalah? Mereka masih baik-baik saja saat akhir pekan yang lalu.


"Ck.." Christov berdecak lidah dan mengacak-acak rambutnya. Kenapa dia tiba-tiba tidak merasa tenang? Dia tidak pernah mendapat balasan sedingin ini dari Cassie sebelumnya. Terkadang mereka berkelahi, tapi.. Tapi, kali ini terasa berbeda. Cassie seolah tengah melakukan perang dingin dengannya.


Christov menyandarkan tubuhnya pada punggung kursi, "Apa dia menyembunyikan sesuatu dariku?" tanya dia pada diri sendiri. Matanya menatap dinding, berharap mendapat jawaban di sana.


Ketukan halus dari pintunya membuat perhatiannya teralihkan dan entah mengapa, ketukan itu membuatnya marah.


"Ya?" jawabnya dengan nada marah yang ditahan. Tidak seharusnya dia melampiaskan kemarahannya pada orang lain yang tidak memiliki sangkut paut dengan masalahnya


Lalu, Elisabeth muncul dari balik pintu dengan senyum profesional.


"Tamu anda dari proyek Z sudah datang, Sir.."


Christov menundukkan kepala sesaat mendengar informasi tersebut. Arghh.. Bagaimana bisa dia bekerja dengan berbagai pikiran yang mengganggunya sekarang? Diangkat kepalanya pada Elisabeth yang masih berdiri di ujung pintu dengan senyum profesionalnya.


"Apa kita masih punya alkohol di lemari pendingin?"


Elisabeth nampak terkejut, tapi dia dengan cepat menutupi wajah terkejutnya, "Saya yakin kita masih punya botol yang berisi wine, Sir.."


"Boleh kau bawakan untukku? Taruh di dalam cangkir teh.."


Alkohol dengan cangkir teh. Ah.. Sebuah perpaduan aneh yang terlihat unik.


"Tentu, Sir. Apa anda membutuhkan hal lain?"


"Jangan lupa bertanya pada tamu kita, apa mereka ingin minum sesuatu juga."


"Of course, Sir*. Kalau begitu, saya permisi.." Elisabeth hilang di balik pintu dan di sana, Christov menarik napas panjang lalu mengembuskannya perlahan. Telapak tangannya menepuk-nepuk kedua pipinya untuk mengumpulkan konsentrasinya lagi.


(Tentu, Pak)


"Hilangkan semua energi negatif ini, Christov. Jangan berpikiran yang tidak-tidak tentang Cassie. Semua akan baik-baik saja..."


Dia menggeleng-gelengkan kepala, sebuah cara untuk membuatnya fokus kembali.


"Mari kita bekerja keras untuk mewujudkan rumah impian bersama Cassie..."


Sedetik. Semenit. Sejam dan sehari berlalu begitu saja. Christov menyibukkan diri dengan bekerja dan hingga hari ketiga dalam minggu ini hampir berlalu, dia tidak mendapat panggilan atau pesan apa pun dari Cassie.


Uhm.. Sebenarnya mereka saling berkirim pesan, tapi Christov merasa ada yang janggal. Pertama, biasanya Cassie selalu mengakhiri pesan dengan emosi hati atau semacamnya. Namun, tidak dengan sekarang. Jawaban Cassie terkesan sangat singkat dan hanya seputar, 'ya, belum, tidak, ok, mm.." Hanya itu dan jawaban singkat dari pesan itu membuat Christov segan melanjutkan pembicaraan mereka melalui pesan. Kedua, Cassie tidak pernah menghubungi atau mengiriminya pesan lebih dulu. Harus Christov yang memulainya terlebih dahulu.


"Pasti ada yang salah, bukan?" tanya dia pada diri sendiri dengan nada khawatir. Ini benar-benar tidak membuatnya tenang. Beberapa saat sebelumnya, Christov iseng mencari pendapat tentang kisah yang mirip dengan kasusnya dan semua menjawab bahwa itu adalah tanda-tanda menuju putusnya sebuah hubungan. Itu membuat Christov mendapatkan serangan jantung mendadak. Putus? Arghhh.. Dia tidak bisa bayangkan dia putus dengan Cassie. Christov tak akan mau jika hal itu benar-benar terjadi.


"Oh my.." dia mengerang seperti orang kesakitan. Tangan kirinya mengangkat kantong berisi es batu yang sudah mencair untuk meredakan rasa nyeri di kepalanya yang tak kunjung hilang. Hah.. Tidak pernah sekalipun dia merasakan pusing seperti, bahkan tidak karena pekerjaannya sekalipun. Namun.. Namun, diamnya Cassie pada dia membuatnya seperti ini.


"Ini membuatku menggila.." dia bangkit dari posisi berbaringnya di sofa dan berjalan ke arah dapur untuk mengganti isi kantong tadi dengan es batu yang baru. Dia berjalan sempoyong ke arah lemari es dan mengisi kantong es yang sudah kosong. Sesaat sudah terisi, Christov duduk dan menyandarkan tubuh depannya pada meja bar yang dingin dengan kantong es di atas kepalanya. Tangan kanannya membuka galeri foto yang berisi fotonya dengan Cassie. Dengan jempol, dia mengelus permukaan wajah Cassie yang berada di layar ponsel.


"Aku merindukanmu.." bisiknya dengan suara parau, "Sedang apa?"


Entah angin apa yang tiba-tiba mengarahkan jemari Christov berpindah untuk membuka aplikasi penelusuran. Dia mengetik 'Konser di San Diego 2020' pada kotak penelusuran dan hanya dalam sekejap mata, muncul berbagi jadwal konser di kota tersebut.


"2021?!" suaranya meninggi ketika melihat semua jadwal konser di kota San Diego hanya dilakukan tahun depan. Sekitar enam bulan lagi. Pikir Christov. Jadi, apa yang sedang diurus Cassie di sana? Dia menegakkan tubuh hingga membuat kantong es jatuh ke lantai, tapi dia tidak peduli. Christov lebih memilih memeriksa informasi tadi lebih lanjut


Di kembali memeriksa satu-persatu satu nama penyanyi dan band yang akan melangsungkan konser di San Diego dan tidak ada satu pun penyanyi yang berasal dari perusahan label rekaman Harmony, tempat Cassie bekerja. Tanpa sadar, Christov mencengkram ponselnya dengan kuat.


"Apa-apaan ini?" tanya dia dengan nada rendah yang tersirat kemarahan, "Dia membohongiku?"


Tanpa pikir panjang, dia menghubungi nomor Cassie. Christov melipat bibir membentuk garis keras dan dahinya berkerut tebal sembari menunggu sambungan ponsel tersambung pada Cassie. Namun, panggilan pertama tidak diangkat, malah tersambung dengan voice-mail. Christov tidak menyerah, dia tetap melakukan panggilan lain.


Jari telunjuknya mengetuk-ngetuk permukaan meja bar dengan tidak sabaran dan napasnya berderu dengan cepat. Marah.. Dia merasa marah. Rasa marahnya bahkan memuat urat-urat pada dahinya muncul dan wajahnya memerah.


"Sialan.." umpatnya, "Angkat, Cassie.."


Hingga panggilan ke-lima, Cassie tetap tidak menerima panggilannya. Dengan kesal, Christov membanting ponselnya ke meja bar lalu memejamkan mata memikirkan berbagai skenario di balik kebohongan Cassie. Rasa pening di kepalanya seolah bertambah lima kali lipat sesaat mengetahui fakta ini.


Sebuah ide melintas dan Christov buru-buru membuka ponselnya kembali untuk membuka akun google milik mereka berdua. Sepanjang pengetahuannya, ponsel bisa dilacak dengan akun google. Tangannya sampai gemetaran mencari alat pelacak tersebut dan berharap itu bisa bekerja.


"Dapat.." ucapnya dengan nada rendah. Sesaat dia menemukannya, hati Christov seolah remuk dan jatuh ke titik terendah saat melihat posisi Cassie saat ini tidak berada di San Diego, melainkan di Las Vegas.


"Berbohong.. Dia berbohong.." ujarnya dengan suara sakit hati. Dia mencari lebih lanjut lagi posisi kekasihnya tersebut.


Cassie berada pada taman kota yang tidak jauh dari posisinya saat ini. Tanpa pikir panjang, Christov berlari ke arah kamarnya untuk bersiap pergi. Dia harus menghabiskan waktu selama 20 menit perjalanan menuju taman kota tersebut karena macet dan sepanjang itu juga Christov mengumpat serta menggeram marah. Tidak sabaran. Dia benar-benar tidak sabar untuk sampai di posisi terkini dari Cassie. Matanya tetap tertuju pada lokasi Cassie yang belum berpindah.


Setelah memarkirkan mobil, Christov berjalan ke arah taman kota yang sudah disulap menjadi tempat pesta pekan raya. Tempat itu benar-benar dipadati oleh orang-orang yang sedang mencari kesenangan, tapi Christov tak sedikit pun peduli tentang itu. Matanya sibuk mencari keberadaan Cassie di antara lautan manusia. Saat melakukan pencarian tersebut, dia menemukan beberapa pasang kekasih di tempat ini dan malah hal itu membuat Christov panik.


Bagaimana... Bagaimana jika Cassie pergi dengan pria lain?


Terlalu luas. Batinnya. Tempat ini terlalu luas dan padat. Bisakah dia mencari keberadaan Cassie? Christov mencari kekasihnya tersebut seperti orang kesetanan, bahkan dia menabrak beberapa pengunjung yang ada di sana. Matanya yang memerah menunjukkan betapa putus asanya dia saat ini untuk menemukan Cassie.


Kumohon... Kumohon... Di mana dirinya sat ini?


Hingga.. Hingga dia akhirnya menemukan Cassie. Tubuhnya membeku dan dadanya naik-turun dengan cepat melihat wanita tersebut dalam balutan jaket hoodie coklat, celana jeans, topi baseball, dan snekers. Di sana, di sebuah komidi putar, Cassie duduk sendirian di salah satu kuda komidi putar. Wajahnya menatap ke atas, ke arah lampu-lampu kuning komidi putar dengan tatapan sendu. Keramaian yang berada di sana membuat wanita itu tampak sangat kesepian.


Rasa marah, sedih, rindu, kecewa, dan lainnya bercampur menjadi satu. Membuat perasannya bercampur aduk menjadi satu. Namun, entah mengapa di sisi lain Christov merasa lega tidak menemukan kekasihnya tersebut bersama pria lain. Huh.. Pantaskah dia merasa lega setelah mengetahui wanita itu berbohong


Tatapannya tidak sedetik pun lepas dari Cassie yang bergerak memutar di komidi tersebut. Suara ribut dan orang-orang yang berada di pekan raya tersebut seolah memudar sehingga meninggalkan mereka berdua. Tak pernah sekalipun Christov melihat wanita itu sesedih ini. Cassie adalah sosok yang selalu nampak ceria dan penuh energi. Jika sampai sesedih ini, pasti ada masalah besar.


Apa? Apa yang membuatnya sedih? Apa yang membuat wanita itu berbohong padanya?


Dia merogoh saku celana untuk mengambil ponsel. Tanpa menunggu lama, Christov kembali menghubungi wanita tersebut. Dari posisinya, Christov bisa melihat Cassie memeriksa ponselnya dan seperti yang dia duga, Cassie tidak menerima panggilan darinya Akhirnya, dia memutuskan sambungan dan memilih mengirimi Cassie pesan.


-Kenapa tidak diangkat? Masih sibuk jam segini?-


Christov mengirim pesan singkat itu dan memperhatikan Cassie yang melihati ponselnya dalam diam selama beberapa saat sebelum akhirnya mengetik sesuatu di ponselnya tersebut


-Maafkan aku tidak menerima panggilanmu, Christov. Kau benar, aku sedang sibuk. Akan aku hubungi setelah urusanku selesai jadi tak perlu menghubungiku. Aku takut tak bisa menerima panggilanmu-


Bohong.


-Aku merindukanmu. Kapan kau kembali dari San Diego?-


Kapan kau memberitahu kejujuran padaku?


-Kita akan bertemu hari minggu ini. Aku harus kembali bekerja. Bye..-


-Apa kita baik-baik saja, Cassie?-


-Tentu saja.. Good night..-


We are not okay,* Cassie. Hubungan kita tidak baik-baik saja.


(*Kita tidak baik-baik saja)


-I love you-


Dan berakhir.. Christov tidak mendapat balasan apa pun dari pesan terakhir miliknya. Dia tersenyum kecut menatap pesan miliknya lalu kembali menoleh pada Cassie yang sudah turun dari komidi putar. Christov tetap mengikuti Cassie dari kejauhan dan tatapannya tak sekalipun lepas dari wanita tersebut.


Terus.. Dia terus mengikuti Cassie yang hanya mengelilingi tempat itu. Pundak wanita itu lesu, menandakan dia tengah memiliki berbagai pikiran yang mengganggu dirinya, tapi apa? Apa? Kenapa Cassie tidak memberitahukannya? Apa yang salah?


Begitulah, Christov tetap setia mengikuti wanita itu hingga akhirnya pergi ke pintu keluar. Awalnya dia menebak bahwa Cassie akan pergi menuju parkiran, nyatanya tidak. Wanita itu berjalan di sepanjang trotoar dengan kepala tertunduk. Christov bertanya-tanya, apakah Cassie sedang menuju suatu tempat atau hanya ingin berjalan-jalan saja?


Terus dan terus hingga Cassie berbelok ke arah gedung hotel. Dari luar gedung, Christov melihat wanita itu tengah memesan satu kamar dan itu membuang kecurigaannya bahwa Cassie pasti tak menemui siapa pun. Hingga kepergian Cassie, Christov masih di sana, menunggu dan berharap jika kekasihnya tersebut muncul lagi.


Berdiri diam hampir dua puluh menit lamanya, dia akhirnya memilih untuk melangkah pergi dan kembali ke parkiran pekan raya. Selama perjalanan menuju apartemennya, muncul berbagai pertanyaan dalam dirinya. Namun, Christov tidak berusaha menjawab itu.


"Aku tidak tahu apa yang tengah dia pikirkan, tapi mungkin dia butuh waktu sendiri.." kata dia untuk menghibur diri sendiri.


"Minggu. Aku harus menunggu selama empat hari.. Apa aku bisa menahan semua rasa penasaran yang menyiksa ini hingga hari minggu? Apa yang akan terjadi? Dan lagi, kenapa dia membuatku menunggu lagi?"


****


Miss Foxxy


Mungkin beberapa hari ke depan, aku gk bisa update setiap hari dan per chapternya mungkin gk panjang" amat. Permasalahannya Cassie dan Christov emang basic bgt sih kaya permasalahan para pasangan" pada umunya. Enggak kayak permasalahan Scout atau Lucas. Hiks, jadi kangen Lucas. See yahh. Jangan lupa ikutan giveaway yuk.