Remember Me

Remember Me
PERTEMUAN(KEMBALI)



×REMEMBER ME×


PART 2


Seorang pria tengah duduk di kursinya, di sebuah ruangan gelap dengan sebuah cahaya yg menyinari bingkai foto yg sedang dia lihat. Dia tersenyum sinis saat menatap foto itu.


"Ragini.. Ragini.. Ragini.. Kau begitu sangat cantik tapi sayang sekarang kau bukan lagi milikku, kau malah mengkhianatiku, kau malah memilih menikah dengan Rohit" ucapnya sinis.


Laksh mengambil sebuah foto di dalam lacinya, dia menatap lirih foto yg dia genggam. Dia meneteskan airmatanya hingga terjatuh di foto itu. Dia menatap lirih foto dirinya bersama Ragini yg terlihat sangat bahagia.


"Kau egois, Ragini. Bukankah sudah ke bilang untuk menungguku. Tapi kau malah mengkhianatiku"


Laksh membanting foto itu ke lantai.


PRAAANNKKKK...


"LAKSSHHH" teriak seorang wanita.


Laksh menoleh dan tersenyum sinis.


"Kau tidak apa-apa sayang? Apa terjadi sesuatu kepada dirimu?"


Laksh menepis tangan wanita paruh baya itu.


"Tak usah bersandiwara, tak usah kau pedulikan diriku!" ucap Laksh dengan nada tinggi.


Dia lalu pergi meninggalkan wanita paruh baya itu. Wanita paruh baya itu adalah Anna, ibunda Laksh. Anna menatap lirih foto yg barusan Laksh banting. Dia mengambil foto itu, dia meneteskan airmatanya. Lalu matanya membulat saat dia melihat ada foto Ragini yg tercetak sangat besar tergantung di ruang kerja milik Laksh. Selama ini Anna tidak pernah melihatnya, Anna melihat sebuah tirai yg sengaja di buat di kedua sisi foto itu. Jadi selama ini Laksh menyembunyikannya dengan tirai itu, pantas saja Anna tidak pernah mengetahuinya.


"Maafkan aku, Ragini" ucapnya sendu dengan mengelus foto Ragini.


Sementara itu di luar rumah....


"Laksh, kau mau kemana?" tanya Adars saat melihat Laksh yg melangkahkan kakinya dengan tergesa-gesa.


"Pergi" jawabnya singkat.


"Kemana Laksh?"


"Ke tempat dimana ada yg mengerti mengenai perasaanku"


Laksh mulai masuk ke dalam mobilnya, lalu dia melajukan mobilnya dengan sangat cepat.


Adars hanya menatap bingung kepergian adiknya itu.


"Ibuuu" ucap Adars saat melihat ibunya.


"Laksh mau kemana, Nak? Apa dia mengatakannya kepadamu?"


Adars hanya menggeleng.


"Ada apa lagi memangnya ibu?"


Anna hanya menggeleng.


"Apa itu mengenai Ragini?"


Anna tak menjawab, tapi Adars mendapatkan jawabannya sendiri saat Anna yg tiba-tiba menangis. Adars memeluk tubuh ibunya itu.


"Sudah ibu.. Aku harap perlahan Laksh juga akan mengerti" ucap Adars menenangkan ibunya.


***


"Ibuuu" teriak Arjun.


Tapi Ragini masih terdiam di sudut kamarnya, dia memeluk lututnya sendiri yg dia lipat, dia menopangkan dagunya untuk bersandar di kedua lututnya itu.


Arjun menatap ibunya dengan kesal, dia tidak suka jika ibunya mengacuhkannya, dia lalu menghampiri ibunya itu.


"Ibuuuu" ucapnya sendu.


Ragini tersadar dari lamunannya. Dia memaksa untuk tersenyum saat melihat Arjun.


"Ada apa sayang? Kau sudah pulang? Bagaimana harimu?"


Arjun tak menjawab, dia langsung memeluk tubuh ibunya itu.


"Ibu semua teman-temanku mengejekku karena aku tidak memiliki ayah, padahal lusa adalah hari ayah, bu. Semua temanku lusa akan datang bersama ayahnya karena sedang ada pentas seni, lalu aku? Aku akan datang bersama siapa bu? Sedangkan ayah Rohit baru seminggu yg lalu meninggal?" tanya Arjun polos dengan berurai airmata.


Ragini merasakan perih di hatinya saat anak sekecil Arjun mengatakan hal itu, dia menghapus airmata Arjun yg jatuh dan memeluk tubuh mungil anaknya itu.


"Jangan menangis sayang, nanti ayahmu pasti akan datang ke sekolahmu itu"


Arjun melepaskan pelukannya.


"Ayah? (Ragini mengangguk) bagaimana bisa dia akan datang bu? Apa orang yg meninggal bisa hidup kembali?" tanya Arjun polos.


Ragini tersenyum dan menarik nafasnya. Dia mengelus pipi Arjun, Ragini meletakkan tangannya di dada Arjun.


"Ayah Arjun akan selalu ada di dalam hati Arjun sayang. Dia berada di dalam sini, jadi Arjun tidak usah takut jika ayah tidak akan datang. Karena ayah selalu menemani langkah Arjun di setiap harinya. Dan jika temanmu mengejekmu tak usah kau hiraukan, karena Arjun anak yg baik. Biarkan saja mereka mengejek Arjun tapi kau jangan pernah membalasnya yah"


Arjun hanya mengangguk. Dia memahami perkataan Ragini. Setidaknya di saat Ragini sedang terpuruk seperti ini, ada Arjun yg bisa menjadi penyemangatnya untuk hidup. Jika Arjun sedih karena kepergiaan Rohit, Ragini tidak boleh sedih juga karena dia harus menjadi ibu yg kuat untuk Arjun.


Ragini menatap lirih foto pernikahannya dengan Rohit, dia memejamkan matanya.


'Apa ini adalah karma bagiku, saat aku mulai mencoba membuka hatiku dan menerima Rohit di hidupku, tapi Dewa malah mengambilnya dariku' batinnya.


****


Hari ayah....


Arjun sibuk merapihkan pakaian seragamnya sendiri, dia lalu menyisir rambutnya dengan rapi. Ragini hanya terkekeh saat melihat penampilan Arjun yg bagaikan seorang model saja, mondar mandir melirik ke cermin. Anaknya itu sangat menggemaskan, dia anak yg manis dan tampan. Dia juga sangat cerdas, Ragini merasa beruntung memiliki seorang malaikat kecil seperti Arjun.


"Ibuu.. Lihat aku.. Apakah aku sudah keren bu?"


Ragini mencubit gemas pipi gembil anaknya itu.


"Sudah sayang, kau sangat tampan. Putra ibu ini memang keren sekali" puji Ragini.


Arjun tersenyum bahagia, dia lalu memeluk tubuh Ragini.


"Aku sayang sekali dengan ibu"


"Ibu juga sayang sekali dengan kamu, Arjun"


Arjun berlari dan mengambil foto Rohit, dia memeluknya dan mencium foto itu.


"Selamat hari ayah, lihat saja ayah hari ini aku akan persembahkan semuanya untuk ayah. Ayah pasti bangga kepadaku" ucap Arjun pada foto Rohit.


"Sayang.. Ayo.. Nanti kau terlambat"


Arjun meletakkan kembali foto Rohit di nakas, dia tersenyum dan melambaikan tangannya kepada foto Rohit itu.


"Daahhh.. Ayah..."


***


Di sekolah....


"Astaga, apa-apaan Adars, dia selalu saja sibuk. Masa dia menyuruhku untuk menggantikan posisinya, sudah jelas-jelas jika ini hari ayah, bukan hari paman. Benar-benar keterlaluan" keluh Laksh.


Laksh hanya duduk terdiam menatap panggung yg masih kosong dengan tirai yg masih tertutup.


"Pamaann" panggil seorang anak kecil.


Laksh yg sudah familiar dengan suara itu dia langsung menoleh. Gadis kecil itu yg berpakaian gaun putih sangat cantik langsung memeluk Laksh erat.


"Uhh cantik sekali keponakan paman" puji Laksh.


Naina hanya tersenyum saat pamannya memuji dirinya.


"Paman, dimana ayah? Kata ayah dia akan datang? Tapi aku belum juga melihatnya paman" ucap Naina dengan mata yg celingak-celinguk mencari keberadaan ayahnya.


Ponsel Laksh berdering, dia langsung mengangkatnya.


"Oke.. Baiklah.."


Namish menaruh kembali ponsel itu ke saku celananya.


"Ayahmu bilang, jalanan sedang macet. Dia mungkin akan datang terlambat"


Naina mengangguk mengerti.


"Ya sudah paman, aku pergi dulu. Bye"


Laksh tersenyum dan melambaikan tangannya.


"Permisi.. Apa aku boleh duduk di sampingmu?" tanya seorang wanita.


Laksh hanya mengangguk.


"Laksh"


Laksh yg sedari tadi tak menoleh wanita di sampingnya, dia langsung memutar kepalanya saat mendengar wanita itu menyebut namanya.


"Bulbul"


Bulbul hanya tersenyum, dia mengulurkan tangannya, Laksh langsung menyambut uluran tangannya itu.


"Hei.. Sudah lama sekali kita tidak bertemu yah. Kau kesini juga? Apa kau salah satu orang tua murid disini? Ohh iyah aku tau, pasti anakmu dan Ragini sekolah disini juga, kan?"


Laksh hanya tersenyum kaku.


"Tidak.. Aku kesini untuk melihat pertunjukan keponakanku"


"Ohh.. Aku pikir anakmu dan Ragini sekolah disini juga. Jadi anakmu dan Ragini sekolah dimana?"


Laksh hanya menggelengkan kepalanya.


"Aku dan Ragini tidak pernah menikah"


Bulbul membulatkan matanya.


"Lalu?"


"Ragini memang sudah menikah tapi bukan dengan aku, tapi dengan Rohit"


"Astaga, maaf Laksh aku tidak tau"


"Tidak apa-apa"


Bulbul menggigit bibir bawahnya, dia merasa tak enak hati dengan Laksh, sebenarnya dia sangat ingin mengetahui penyebab kandasnya hubungan Ragini dan Laksh. Padahal dulu satu kampus taunya jika Ragini dan Laksh adalah pasangan yg sangat romantis. Tapi ternyata mereka tidak bersatu. Benar-benar miris.


Sementar di pojok sana Ragini celingak-celinguk mencari kursi yg kosong, dia lalu duduk di sudut belakang hingga dia tak bisa melihat Laksh.


"Huhh.. Maaf sayang, aku telat. Jalanan hari ini macet sekali" ucap Purab dengan nafas yg masih terengah-engah.


Dia langsung duduk di samping Bulbul. Matanya berbinar saat dia melihat Laksh.


"Laksh.. Kau disini, akhirnya setelah sekian lama kita bertemu juga" ucap Purab senang.


Bulbul berpindah posisi, kini Purab yg duduk di samping Laksh.


"Dimana Ragini? Apa dia tidak datang?"


Bulbul mencubit lengan Purab.


"Awww sakit sayang, ada apa?"


"Jangan bahas itu, aku dan Ragini tidak pernah menikah"


"Tapiii....."


Lampu tiba-tiba mati, tirai pertunjukan itu terbuka. Sorot lampu tertuju pada seorang anak laki-laki tengah membacakan sebuah puisi. Laksh merasa tersentuh dengan puisi yg dia ucapkan. Dia merasa bercermin dengan dirinya sendiri saat melihat anak laki-laki itu. Mata Laksh tak henti menatap wajah mungil anak itu. Dia terus menyunggingkan senyuman di bibirnya.


Sementara di tempat Ragini, dia tersenyum bangga dengan kepercayaan diri anaknya itu.


"Untuk ayahku, Rohit" ucapnya di kata akhir penutup puisinya itu.


Laksh merasakan tersentak saat mendengar nama Rohit di sebut oleh anak kecil itu. Bulbul dan Purab pun saling lirik.


Laksh mengepalkan tangannya ingin rasanya dia bergegas pergi dari sana.


"Jika dia anak Rohit, berarti dia juga anak Ragini, bukan?" tanya Purab.


Tak ada jawaban, tapi tubuh Bulbul memutar, matanya celingak-celinguk mencari keberadaan Ragini.


"Kau benar Purab, sepertinya anak tadi adalah anaknya Ragini. Lihat di belakang sana ada Ragini sedang duduk di sudut kursi penonton di belakang kita" ucap Bulbul pelan.


Tapi Laksh bisa mendengarnya, Laksh menahan dirinya untuk memutar tubuhnya mencari keberadaan Ragini. Tapi dia sangat penasaran, dia menoleh dan benar saja dia melihat Ragini disana. Tak sengaja mata mereka saling bertemu dan beradu pandang, Ragini menatap lirih Laksh. Sementara Laksh dia langsung memutar kembali kepalanya dan melirik panggung pertunjukan itu.


"Laksshhh" ucapnya pelan.


To be continued..