Remember Me

Remember Me
Them



Happy Reading


****


Cassie menatap bayangan dirinya yang berada di permukaan cermin wastafel kamar mandi. Rambutnya terikat tinggi dan tubuhnya mengenakan kemeja ungu dengan rok span hitam. Entah angin apa yang membuatnya memilih untuk berpakaian formal seperti saat ini. Seandainya dia memakai pakaian informal seperti biasa, mungkin dia harus kerepotan pulang ke apartemen untuk berganti pakaian.


Well.. Cassie memilih untuk memenuhi undangan makan malam bersama Ibu Christov dan Clara. Dia tidak mau dinilai sebagai wanita penakut oleh orang-orang sial itu. Saat berperang, setidaknya Cassie harus menunjukkan dirinya sebagai sosok yang pemberani. Begitulah aturan dasar saat berperang, bukan begitu?


Menunduk sedikit ke arah cermin, Cassie mengarahkan lipstick merah ke arah bibirnya lalu mengolesnya dengan lembut. Setelah itu, memperbaiki posisi pakaiannya dan terakhir menghela napas panjang lalu menghembuskannya dengan perlahan.


"Yaps.. Kau lebih gila dan lebih cerdik dari mereka, Cassie.." gumamnya dengan nada penuh dukungan pada dirinya sendiri, "Mari kita singkirkan orang-orang sial ini.."


Mengambil tas tangannya, Cassie berlalu dari kamar mandi menuju mobilnya yang terparkir di lantai basement kantor. Selama perjalanan, tidak bisa Cassie pungkiri bahwa rasa gugup menghinggapi dirinya. Dia gugup bukan karena takut, tapi karena dia belum pernah bertemu kedua orang ini secara langsung. Well.. Dia memang sudah bertemu Ibu Christov, tapi itu sudah lama berlalu. Cassie tidak yakin sudah seberapa buruk sifat Ibu Christov saat ini lalu dengan Clara....


"Si sialan itu pasti sangat pintar hingga bisa menjadi profesor di usia muda.." gumamnya. Cassie akui dirinya adalah sosok yang pintar, tapi dia tidak buta. Cassie sadar bahwa ada ratusan manusia lain yang jauh lebih pintar darinya. Adu mulut dengan dua orang yang berkepribadian gila bukanlah hal yang mudah. Namun, jika harus bermain kekerasan, Cassie yakin menang.


"Aku-kan mengikuti kelas beladiri.." ucapnya dengan suara angkuh, "Si dua sialan itu pasti tidak pernah berolahraga.. Yah. Yah.. Ayo, Cassie.. Kita pasti menang melawan mereka.."


Tepat di ujung kalimatnya, ponselnya berdering dan membuat musik yang bermain di pemutar musik mobil terhenti. Nama Christov terpampang pada layar pemutar musik. Cassie buru-buru memakai earphone miliknya dan menerima panggilan dari kekasihnya tersebut.


"Aku akan pulang larut malam karena ada urusan pekerjaan. Kau menginap di tempatku malam ini?"


"Boleh.. Aku akan menginap malam ini di tempatmu.."


"Kau sedang di luar yah?"


Cassie melirik singkat ke arah layar pemutar musik, berharap bisa melihat wajah Christov di sana.


"Hm.. Aku sedang dalam perjalanan ke suatu tempat.."


"Ke mana?"


"Kembalilah bekerja.. Jam berapa kau pulang?"


"Sekitar pukul delapan malam."


"Well.. Aku akan membelikan makanan saat perjalanan pulang untuk kita. Kau ingin sesuatu?"


"Boleh kau bawakan ramen yang pernah kita makan bersama?"


"Boleh.. Akan aku bawakan nanti.." Cassie memutar setir mobil memasuki daerah restoran, "Sudah yah.. Bye, Christov. I love you.."


"I love you too, babe..."


Mematikan sambungan ponsel, Cassie mengarahkan mobilnya memasuki parkiran. Mendadak, rasa pusing menghantam kepalanya hingga membuatnya mual. Dia menyandarkan tubuhnya pada kursi seraya memejamkan mata.


"Sial..." umpatnya pelan. Kedua tangannya yang berkeringat *******-***** roknya dalam gerakan gugup.


Ketidakpastian. Ketidakpastian-lah yang membuat Cassie merasa takut. Dia tidak mengetahui pembicaraan macam apa yang akan dia lewati bersama dua orang itu. Dia tidak bisa menebak bagaimana akhir dari pembicaraan mereka nanti. Cassie tidak bisa menerka, apakah dia mampu melawan keduanya?


"Oh my.. Aku berharap ada Christov di sini.."


Dia melirik ke arah ponsel yang berada di kursi samping dan tanpa ragu menyambar ponsel tersebut untuk menghubungi Christov. Hanya dalam hitungan detik yang terasa menyesakkan, Christov menerima panggilan Cassie tersebut.


"Halo? Ada apa?" Cassie mendesah penuh kelegaan dan tubuhnya yang menegang perlahan rileks sesaat mendengar suara lembut Christov.


"Aku ingin memberitahumu sesuatu.."


"Sesuatu? Apa? Hal serius?"


"Tapi berjanjilah untuk bersikap biasa saja dan mengikuti apa pun yang kukatakan.. Berjanjilah, Christov.."


"Bagaimana bisa aku berjanji saat kau terdengar mencurigakan seperti ini?" kata Christov dengan suara tegang, "Katakan alasannya terlebih dahulu..." dari seberang, Cassie bisa mendengar suara kursi yang didorong, pertanda Christov bangkit dari posisi duduknya.


"Cassie.." tuntut Christov karena Cassie tak kunjung berbicara, "Beritahu aku. Ada apa? Kau membuatku tidak tenang.."


"Apa pembicaraan kita akan menganggu pekerjaanmu?"


"Tidak. Itu hanya rapat biasa dengan klientku. Beri tahu saja tentang apa yang ingin kau sampaikan.."


Cassie menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal dan tersenyum kecut, "Aku akan bertemu Ibu dan Clara malam ini. Sejujurnya saat ini juga..."


"Apa?" suara Christov meninggi seperti yang Cassie duga.


"Tenanglah.. Mereka mengundangku makan malam..."


"Dan kau datang?" katanya dengan nada penuh ketidak-percayaan


Cassie meremas ujung roknya, "Kau pikir aku tidak bisa mengatasi mereka?"


"Argh.. Bukan begitu. Aku tahu kau bisa mengatasi segala hal. Maksudku, kau bertemu Ibuku dan dia sosok yang.... Errr.. Kau membuatku khawatir. Di mana posisimu? Aku akan datang.."


"Tidak perlu. Biarkan aku mengatasinya sendiri untuk saat ini. Aku ingin tahu pembicaraan seperti apa yang akan kami bicarakan.."


"Huh.." Christov membuang napasnya dengan kasar, "Oh my.. Kenapa kau harus terlibat dengan mereka. Seharusnya--"


"Tenanglah.. jangan khawatir,"potong Cassie dengan suara lembut, "Dari pada mengkhawatirkanku, bisakah kau memberiku kata-kata penyemangat?" pintanya dengan suara yang menggemaskan. Dia tahu cara seperti ini selalu bisa membuat Christov luluh.


"Bagaimana bisa aku menyemangati kekasihku untuk pergi ke kandang singa?"


"Ckckc.. Kau tidak kenal aku yah? Pacarmu ini adalah Cassandra De Angelis. Aku yakin bisa mengatasi orang-orang sial itu. Jika pun tidak, aku masih memilikimu untuk kumintai pertolongan.."


"Argh.. Tetap saja hal ini tidak membuatku tenang."


"Aku harus pergi sekarang," Cassie keluar dari mobil tanpa memutuskan sambungan. Satu tangannya sibuk memegang tas tangannya.


"Baik-baik di sana.."


Cassie tertawa sangat keras mendengar suara lesu Christov tersebut. Tawanya cukup keras hingga membuat beberapa pasang mata menatapinya.


"Kau berbicara seolah-olah aku akan pergi berperang.. Tenang sja. tetaplah positiv, bukankah kau pernah mengatakan hal seperti ini?"


"Tetap saja aku merasa khawatir, tapi aku percaya padamu. Saat keadaan semakin buruk, pastikan kau segera menghubungi aku.."


"Hmm.. Bye.."


"Berhati-hatilah.."


"No, Christov.." Cassie menggeleng seraya menaiki anak tangga menuju teras restoran, "Merekalah yang harus berhati-hati.."


****


Mereka. Batin Cassie. Dua wanita yang terpaut perbedaan usia yang sangat jauh, tapi entah mengapa memberikan aura negatif yang mirip. Cassie dan kedua wanita tersebut tengah duduk berhadapan dalam satu ruang khusus restoran, di mana hanya ada mereka bertiga saja. Makanan mereka sedari tadi sudah datang, tapi tak satupun dari mereka memulai pergerakan untuk makan.


Sial. batin Cassie. Mereka sengaja memilih tempat ini.


Matanya menatap Clara yang juga menatapinya dengan tatapan penuh penilaian. Berambut pirang, cantik, gayanya modis, dan aura yang terpancar darinya adalah aura mewah. Siapa pun yang melihat Clara akan segera tahu bawah wanita itu adalah wanita terpelajar yang kaya.


Sedangkan Theresa.. Well. Wanita tua masih sama seperti dulu. Si sialan itu tak henti-hentinya memutar mata dalam gerakan jengkel ke arahnya. Tatapan tajam dan wajah penuh kesinisan itu masih di sana. Tidak berubah sedikit pun malah semakin buruk. Dia seperti tokoh ibu penyihir sialan. Batin Cassie.


Cassie tersenyum tipis dan mengangguk kecil. Dia tidak mau menjawab hal yang sama karena Cassie benar-benar tidak senang bertemu mereka.


"Kenapa kau tidak berbicara? Apa sampai saat ini kau belum bisa berbicara, Cassandra?" kata Theresa dengan nada candaan yang sangat menyebalkan dan Clara yang duduk di sampingnya ikut tertawa. Itu artinya, dokter sialan itu sudah tahu masa lalu di antara mereka berdua.


Cassie bisa merasakan sudut bibirnya sedikit bergetar, tanda kekesalannya yang semakin menjadi-jadi karena candaan penuh hinaan Theresa.


Breng-sek. Matilah kalian semua, sialan!


"Well.." Cassie mengangkat bahu, "Aku tidak terbiasa mengucapkan kebohongan. Bagaimana mungkin aku sanggup mengatakan senang bertemu kalian jika nyatanya tidak? Orangtuaku sangat tegas mendidikku agar tidak berbohong, Mrs. Connel. Kebohongan itu tidak baik.." kata Cassie dengan nada tenang, tapi sorot matanya menatap Theresa dengan tajam dan seperti yang dia duga, senyum kedua wanita itu menghilang.


"Kau tidak tahu istilah basa-basi, Cassandra? Semua orang melakukannya sebagai bentuk sopan santun walau harus sedikit berbohong.."


"Oh my.." ujarnya, pura-pura terkesiap dan menaruh telapak tangan kanan pada mulut, "Apa kau sedang menyuruhku berbohong Mrs.Connel? Sebagai Guru, seharusnya kau tidak boleh melakukan itu.." Cassie tersenyum manis lalu pura-pura menunjukkan ekspresi terkejut.


"Astaga... Aku lupa. Ternyata kau bukan lagi seorang guru, Mrs. Connel.." Cassie tertawa penuh canda, "Maafkan aku, Mrs.Connel.. Sudah lama berlalu hingga aku lupa fakta bahwa kau bukan lagi seorang guru.."


Yapss.. 1-0. Batin Cassie saat melihat ekspresi kesal dan tatapan penuh ketidak-percayaan dari keduanya.


"Mrs. De Angelis.." panggil Clara dengan suara kaku.


"Cassie... Panggil aku, Cassie saja. Aku yakin usia kita tidak terpaut jauh," ucapnya dengan senyum manis.


Clara menghela napas panjang, "Tidak. Saya akan tetap memanggil Anda dengan sebutan Miss De Angelis sebagi bentuk sopan santun."


Kaku sekali.


"Buat dirimu nyaman. Kau bisa memanggilku dengan apa pun.."


"Tidak seharusnya Anda melakukan candaan seperti itu di saat Anda sendiri yang membuat Mrs. Connel kehilangan surat izin mengajarnya.."


Cassie tersenyum miring seraya mengelus dagunya. Ternyata sudah tahu semuanya...


"Aku hanya sedang berbasa-basi, Clara. Dia sendiri yang menginginkan aku berbicara basa basi dan aku melakukannya tanpa bumbu kebohongan.."


Clara menyergitkan dahi, "Anda tidak seharusnya berbicara informal seperti itu pada orang yang baru anda temui dan lagi basa-basi tidak dianggap sopan lagi jika mengandung hinaan."


Kalian-lah yang pertama menghinaku, breng-sek.


Cassie menyesap anggurnya, "Untuk apa aku bertingkah sopan pada orang yang mengorek-ngorek informasiku secara ilegal?"


"Apa? Ilegal? Informasi kontakmu dapat ditemukan secara bebas di internet.." debat Clara.


Tidak sepintar yang kubayangkan. Batin Cassie.


"Semua orang di negara ini tahu bahwa informasi kontak pribadi tidak dapat ditemukan secara bebas di Internet, Miss Murray. Bukankah seorang profesor seperti Anda seharusnya mengetahui informasi remeh seperti ini?"


"Cassandra.. Kami mengundangmu kemari untuk menikmati makan malam yang tenang dan bukannya berdebat seperti ini. Apakah orangtuamu tidak pernah--"


"Makan malam?" potong Cassie pada perkataan Theresa, "Aku tidak memiliki rencana makan malam dengan kalian berdua karena aku sudah punya acaraku sendiri dengan kekasihku.."


Dan yah.. Keduanya membelalakkan mata penuh keterkejutan. 2-0. Pikirnya lagi. Bagus, Cassie.. Bravo..


"Kekasih?" suara Theresa meninggi, "Siapa yang kau maksud kekasihmu, huh?"


Cassie tertawa lagi dengan gaya anggun yang membuat Clara dan Theresa semakin kesal.


"Ayolah, Mrs.Connel.. Anda pasti tahu informasi remeh seperti ini.."


"Jangan berusaha menyulutkan api, Cassandra. Wanita yang duduk di sebelahku ini adalah calon yang kuanggap sah untuk Christov.."


"Pffttt..." Cassie menahan tawanya dan menatap geli pada mereka, "Calon yang kau anggap sah? Nice jokes*, Mrs. Connel.."


(*Lelucon yang bagus, Mrs. Connel)


"Lelucon?! Aku tidak sedang melontarkan lelucon!" Raung Theresa penuh kemarahan.


"Mrs.Connel, tetaplah tenang.." kata Clara seraya memegang bahu Theresa, berusaha menenangkan wanita tua itu.


Bagus. Marah. Marahlah manusia sialan.


"Ini abad 21, Mrs Connel. Tidak ada lagi orang yang melakukan perjodohan yang menggelikan ini.. Apalagi memaksa satu belah pihak. Ckckck.. Pemaksaan terhadap seseorang adalah tindakan melanggar hukum. Aku yakin dua wanita pintar seperti kalian tahu itu.."


"Diam!" Theresa bangkit dari duduknya seraya memukul meja makan dengan kedua tangannya hingga membuat makanan yang tidak tersentuh tersebut bergerak dari posisinya.


Cassie menatapnya tajam dengan kedua tangan yang terkepal kuat di bawah meja. Aku tidak segan-segan menghajar wanita tua. Batinnya.


"Kau? Kau bukanlah siapa-siapa!" teriak theresa seraya mengarahkan jari telunjuknya pada Cassie, "Kau hanyalah anak cacat yang tidak bisa berbicara dan sekarang kau berharap mendapatkan puteraku, huh?! Kau berharap mendapatkannya setelah membuatku kehilangan pekerjaanku?!!"


Menyedihkan. Batin Cassie. Sampai akhir pun dia tampak menyedihkannya. Theresa-lah yang membuatnya hidup dalam neraka. Tidak sekali pun wanita tua itu meminta maaf atas kesalahan yang dia perbuat dan sekarang, dia menuduh Cassie adalah pihak yang pantas disalahkan.


Kenapa dia bertingkah seolah-olah dialah korban di sini?


"Tenanglah, Mrs.Connel.." Clara ikut berdiri dan berusaha menarik Theresa untuk duduk kembali.


Cassie tertawa kecil lalu menyandarkan punggungnya pada kursi. Kedua tangan dilipat di depan dada dan kakinya disilangkan.


"Bukankah Anda yang berkata kita harus berbasa-basi dengan sopan santun, Mrs Connel? Ayolah.. Jangan membuat mantan muridmu ini merasa malu pada mantan guru yang seharusnya memberi contoh yang baik. Harusnya anda bisa memegang kata-kata anda sendiri..."


"Hah?! Aku tidak sudi mengatakanmu sebagai muridku.. Tidak akan pernah!"


"Mrs. De Angelis, tolong bicaralah lebih sopan. Dia berusia lebih tua dari Anda..."


Cassie memejamkan mata. Membosankan. Pikirnya. Ternyata mereka hanya sekumpulan wanita sosialita yang membosankan. Dia membuka mata dan menatap Theresa tepat pada matanya. Cassie berdiri dari duduknya dan untuk pertama kalinya, dia merasa bersyukur atas tinggi badan yang dia miliki. Itu membuat Clara dan Theresa yang bertubuh lebih pendek harus sedikit mendongkakkan kepala untuk menatapnya. Entah mengapa, ini membuatnya terasa lebih kuat.


"Mrs. Connel, apakah kau tidak pernah peka bahwa Christov tidak pernah bahagia karena dirimu?" katanya dengan nada tajam yang rendah kemudian matanya berpindah ke arah Clara, "Aku sedikit mengetahui latar belakang tentang dirimu, Clara. Seorang Profesor dan Dokter bedah muda di rumah sakit bergengsi. Apakah tidak memalukan mengejar dan memohon-mohon satu pria yang tak menginginkanmu? Aku tahu kau pasti tidak punya banyak waktu mengurusi hal seperti ini. Tunjukkan dirimu sebagai wanita berpendidikan yang berkelas, Miss Murray..."


"Diam.." jawab Clara dengan cepat lalu menegakkan tubuhnya seolah-olah tengah berusaha melawan tubuh tinggi Cassie, tapi tetap tidak bisa.


"Kau bermain api dengan orang yang salah.." katanya.


"Aku tidak pernah bermain api. Kalian berdualah yang memulainya dan aku hanya berusaha memadamkannya, Clara.. Aku tidak mau api kecil membesar.."


"Dengarkan aku, Cassie," kini Theresa kembali berbicara, "Hanya karena kau menghabiskan waktu lebih banyak bersama anakku, bukan berarti rasa sayang dan cintamu lebih besar dariku.."


"Memaksakan kehendakmu pada anakmu sendiri bukanlah cinta, Mrs. Connel. Apalagi paksaan itu membuat seseorang terbebani dan tidak bahagia.." Cassie menarik napas panjang dan tiba-tiba merasa sedih mengingat senyum sendu Christov. Bagaimana bisa dia bertahan hidup dengan penyihir gila seperti Theresa berada di sekitarnya?


"Aku akan pergi. Kupikir tidak ada lagi yang perlu dibicarakan dan satu lagi, aku bukan lagi anak gagap yang bisa kau lakukan semena-mena, Mrs. Connel. Anak gagap itu sudah lama mati," katanya dengan nada tajam, "Kalau begitu, permisi. Terimakasih atas jamuan makan malam yang begitu berkesan dari kalian berdua..."


****


Miss Foxxy


Aku baru sadar udah chapter 64 ajah dan kembali mikir, bisa gk yah tamatin novel ini sebelum chapter 100. Well.. Ayo dong semangat kasih poin kamu ke author. Hari ini hari terakhir giveaway dan besok pengumumannya. Satu hari saja cukup mengubah dunia jika berusaha keras (wkwk). Yuk. Yuk.. Kasih poin, like, vote, koment, love untuk author biar makin semangat ngetiknya. I love you. Tinggalkanlah jejak dan jangan jadi pembaca gelap.