Remember Me

Remember Me
Spotlight



Happy Reading


***


Cassie bangkit dari duduknya dan bertepuk tangan dengan gembira.


"Yeah!" teriaknya setelah Jay-Z menyelesaikan lagu terakhir untuk rekaman mereka. Rasa penat dan beban di pundaknya terangkat begitu saja setelah lagu terakhir untuk album Jay-Z selesai. Hanya tinggal mengedit. Pikir Cassie.


"Aku tahu kau bisa melakukannya," kata Cassie kepada Jay-Z yang sudah keluar dari studio rekaman. Beberapa orang juga memberi dia selamat seraya bertepuk tangan. Semua tim yang bekerja merasa lega dan senang setelah projek yang memakan waktu cukup lama ini akhirnya selesai.


"Jeez.. Kupikir kita tidak akan bisa menyelesaikannya tepat waktu. Sekarang hanya tinggal melakukan pengeditan..." kata Cassie penuh kelegaan seraya melihat layar monitor berisi file lagu Jay-Z.


Seminggu. Dia berpikir proses edit cukup memakan seminggu saja sebelum mereka memberikannya kepada pihak produksi.


"Terimakasih atas bimbingan anda, Miss Angelis," kata Jay pada Cassie yang segera mengangkat kepala untuk menatapnya.


Cassie tertawa kecil, "Aku senang kau melakukannya sesuai arahanku."


"Apa anda punya waktu besok, Miss? Saya ingin mengajak anda dan tim yang membantu saya untuk makan bersama,"


Cassie berdiri kemudian menepuk pundak Jay, "Kau bisa melakukannya setelah albummu terbit di pasaran, tapi... Yah. Jika kau ingin melakukannya sekarang, tidak masalah. Namun, nampaknya aku tidak bisa datang karena beberapa urusan,"


Jay mengangguk kecil dan Cassie menoleh ke arah tim-nya.


"Hari senin kita akan membicarakan proses editnya. Jika kalian ingin mengerjakannya sekarang, tidak masalah dan berikan padaku untuk kuperiksa lebih lanjut. Selamat berakhir pekan semua,"


"Yes, Miss..."


"Thank you for today,"


Setelah mendapat beberapa jawaban, Cassie keluar dari studio dengan langkah ceria. Akhirnya.. Akhirnya proyek sialan ini akan selesai. Pikirnya. Huff.. Setidaknya dia bisa menikmati akhir pekannya besok dengan tenang. Di angkat tangan kirinya untuk melihat jam tangan yang dia kenakan. Pukul 05.30 sore. Well... Waktunya untuk pulang.


"Miss.. Anda akan pulang sekarang?" tanya Lina dari balik meja kerjanya saat melihat kedatangan Cassie.


"Begitulah. Kau masih belum pulang?"


"Saya menunggu anda,"


"Uhhh.. Aku merinding mendengarnya. Baiklah.. Aku akan pulang sekarang. Selamat berakhir pekan, Lina.."


"Yes, Miss,"


Setelah berbicara dengan Lina, Cassie mengumpulkan barang-barangnya lalu berjalan meninggalkan gedung perusahaan menuju basement dengan langkah gembira. Masuk ke dalam mobil dan melajukannya ke jalan yang padat. Walaupun macet, Cassie tidak akan membiarkan perasaan senangnya hancur karena lalu lintas ini.


Saat ini dia tengah menuju sebuah karaoke untuk menghabiskan malam bersama teman-temannya. Dalam waktu lima belas menit, Cassie sudah sampai di tempat langganan mereka untuk karaoke. Dia membawa tas bersamanya dan pergi melangkah masuk menuju ruangan yang telah mereka sewa.


Saat sampai di sana, Cassie sudah melihat teman-temannya berada di sana tengah menyusun makanan yang sudah mereka pesan. Ah.. Jika melihat temannya, Cassie berpikir betapa beruntungnya dia memiliki mereka. Zaman sekarang, banyak orang benar-benar kesulitan mencari teman. Teman yang sesungguhnya


"Aku lapar.." kata Cassie seraya melempar tasnya ke atas sofa lalu bergabung dengan mereka duduk di atas karpet. Menu mereka malam ini adalah mie dengan kuah yang masih mengepulkan asap tebal. Cassie bisa mencium wangi kuat dari rempah-rempah yang begitu menggugah selera. Cassie bisa merasakan air liurnya perlahan memenuhi mulutnya. Ada potongan telur setengah matang, slice beef, rumput laut, dan beberapa bagian lain yang Cassie tidak tahu namanya.


"Mie apa ini?" tanya Cassie.


"Ramen. Namanya ramen. Kita-kan sudah pernah makan ini sebelumnya," jawab Meghan dengan gaya sarkastiknya.


"Penampakan mie zaman sekarang sangat mirip-mirip," balas Cassie tidak mau kalah.


"Ssttt.. Mari kita makan sebelum kuahnya dingin dan mienya bengkak," lerai Bambi.


"Selamat makan!" kata Gerald dan lainnya pun mengikut. Pertama-tama, Cassie mencoba kuah dari ramen tersebut dan matanya dipejamkan merasakan kenikmatan yang hakiki di lidahnya. Ah.. Rasanya seolah lidahnya terlahir kembali. Kemudian, dia menjepit mie dengan sumpit dan menyeruputnya. Begitu kenyal..


"Enak," komentar Bambi, "Bukan begitu?"


"Yeah..."


Ke-empatnya makan dalam hening dan Gerald menyelesaikannya lebih dulu. Disandarkan punggungnya pada kaki sofa dan menepuk-nepuk perutnya yang membesar.


"Huff.. Nikmat. Ini terasa nikmat,"


Dengan iseng, Cassie memukul perut pria itu hingga terdengar bunyi bagaikan drum bass.


"Kupikir kau hamil," kata Bambi dan lainnya tertawa.


"Apa kalian menerima undangan Sunday Tea Party itu?" tanya Gerald dan ketiganya menganggukkan kepala.


"Wah.. Bagaimana bisa orang-orang kaya itu selalu mengundang kita ke pesta mereka?"


"Mereka tahu kita adalah orang-orang miskin yang membutuhkan hiburan. Jadi mereka mengundang kita," jawab Meghan.


"Masuk akal,"


"Kalian pergi?"


"Aku tidak," jawab Cassie, "Pesta semacam itu bukanlah aku,"


"Huh? Kau tidak pergi, padahal aku memilih pergi. Ayolah, Cassie.. Kita harus pergi dan mencoba teh orang kaya," pinta Bambi dengan nada manis.


"Sialan... Kau membuatku ingin memuntahkan makananku," ujar Meghan.


Cassie menyeruput habis mie-nya dan berpikir tentang pesta bertema musim panas itu. Itu bukanlah semacam pesta malam yang dia hadiri saat di rumah Catherine karena Sunday Tea ini diadakan pukul dua siang.


"Pasti mereka menyediakan minuman anggur berkualitas. Kita harus datang. Ditambah aku ingin memamerkan busanaku," Gerald menambahi, "Bagaimana denganmu, Meghan?"


"Di mana ada sesuatu yang gratis, di situ aku ada..."


"Sebuah tujuan hidup yang memotivasi," Balas Bambi seraya mengangguk-anggukkan kepala atas perkataan saudarinya tersebut.


"Aku tidak janji bisa datang. Aku memiliki beberapa deadline," bayangan akan daftar tugasnya yang menumpuk muncul dalam pikirannya.


"Apa deadline-mu terkait penyanyi baru yang akan didebutkan perusahaanmu?" tanya Bambi.


Cassie mengangguk, "Yah. Kebetulan pestanya hari minggu dan hari senin adalah hari yang sangat sibuk. Aku takut jika aku malam minum anggur terlalu banyak dan membuatku kehilangan konsentrasi di hari berikutnya,"


"Hah.. Sayang sekali. Padahal kita bisa memburu pria-pria tampan nan kaya," ucap Bambi dengan nada kecut.


Pria tampan? Tanya Cassie dalam hatinya. Senyum tipis terbentuk di bibirnya ketika mengingat kembali kekasih satu malamnya. Well.. Selama dua hari setelah kejadian itu, Cassie tidak bisa membuang pergi suara dan bayangan pria bernama Christov itu dari dalam pikirannya. Dia se-xi. Suaranya.. Sentuhannya.. Dan.. Well,Christov terlihat sangat dominan saat di atas ranjang.


Cassie bertanya-tanya apakah Christov akan datang ke pesta itu? Dia diundang ke pesta Catherine dan kemungkinan besar dia juga diundang ke pesta Sunday Tea ini. Well.. Seandainya mereka bertemu, apa yang akan terjadi? Mestikah mereka bersikap seolah tidak terjadi apa-apa atau atau--..? Huh? Kenapa dia tiba-tiba memikirkan itu? Toh dia tidak akan datang. Namun, seandainya...


"Apa yang kau pikirkan?" tanya Bambi dan itu membuyarkan seluruh lamunan Cassie. Dia langsung terkesiap karena rasa terkejut.


"Bukan apa-apa," jawab Cassie cepat dan mengundang wajah penuh kecurigaan dari Bambi.


"Apa kau tiba-tiba teringat dengan kekasih sa--"


"Nyanyi!" Cassie tiba-tiba berteriak seraya berdiri, "Nyanyi!! Mari kita bernyanyi!" teriaknya panik seraya meraih mic dari tempatnya.


"Anak ini! Aku terkejut sialan!" teriak Meghan.


"Yah.. Mari kita bernyanyi," timpal Gerald dan bergabung dengan Cassie. Di sisi lain, Bambi tersenyum lembut menatap sahabatnya tersebut. Lucu. Pikirnya.


***


Tidak datang. Dia tidak datang. Christov meneguk jusnya lagi dengan matanya tetap menjelajah ke sana-ke mari Namun, tetap saja dia tidak menemukan sosok yang ingin dia lihat. Huff.. Padahal tujuan utamanya ke sini adalah untuk melihat mawar, ular, dan burung.


Well.. Dia ingin sedikit hiburan dari sana-sini setelah menghabiskan waktu penuh tekanan selama satu minggu ini. Ibunya tetap kekeuh menghubunginya, Clara yang tetap terus mengusiknya, deadline pekerjaan masih menunggunya, dan beberapa masalah lain yang menumpuk dalam pikirannya.


Dia ingin hiburan... Sedikit hiburan..


"Hei. Di mana teman kalian satu lagi?"


Christov mendengar beberapa orang berbicara di balik punggungnya dan membuyarkan lamunannya.


"Hm.. Yah? Aku baru sadar. Kalian berempat-kan selalu lengket ke mana pun,"


Baiknya aku pulang. Pikirnya. Namun, dia berpikir lagi bahwa dia masih menghabiskan waktunya sejam di sini dan tuan rumah dari pesta ini akan berpikir betapa tidak sopannya Christov. Di tambah, kepergiannya akan sedikit kentara karena lokasinya berada di lapangan golf di cuaca cerah pula


Tubuh Christov membeku sejenak saat mendengar nama itu di sebut. Apakah Cassie yang sedang mereka bicarakan sama dengan Cassie yang tengah dia cari?


"Dia bekerja di hari minggu seperti ini? Huff... memikirkannya saja aku ingin muntah,"


"Kau bisa  berkata seperti itu karena kau istri dari konglomerat. Jangan rendahkan Cassie kesayanganku,"


"Bambi, Jangan marah.."


Christov berdehem dan entah mengapa dia merasa indera pendengarannya bekerja sepuluh kali lebih baik dari biasanya untuk mendengarkan pembicaraan orang-orang di balik tubuhnya.


"Cassie-kan wanita cantik. Dia bisa mendapatkan pria kaya dan tampan mana pun yang dia inginkan. Kenapa menghabiskan waktu muda untuk bekerja?"


"Karena Cassie bukan wanita sepertimu yang hanya bisa menikmati,"


"Huh... Dasar. Mentang-mentang kalian temannya, kalian terus membela Cassie,"


"Sudahlah.. Ayo pergi. Kita harus menikmati pesta ini. Mereka menyedikan minuman mahal,"


Christov melirik dari ujung matanya ke arah tiga orang yang berjalan dari balik punggungnya. Satu di antaranya adalah pria. Apa mereka teman Cassie? Atau mungkin pria itu kekasihnya? Hmm.. Tidak mungkin. Tidak mungkin. Pikir Christov.


"Apa yang kau pikirkan?" tanya Charlie, temannya tersebut.


Christov menoleh ke arahnya dan menggeleng, "Tidak ada.."


"Well.. Aku cukup terkejut melihatmu di sini Christov. Tidak biasanya kau hadir di pesta-pesta seperti ini," timpal pria lain dalam kelompok mereka.


"Apa kau sedang mencari kekasih atau semacamnya?"


"Tidak.. Aku hanya ingin bersosialisasi," jawab Christov.


"Huh.. Pria ini benar-benar tidak asik."


"Setidaknya beri kesempatan pada wanita-wanita yang sejak tadi melihatimu. Pria ini, ke mana pun pergi selalu menjadi pusat perhatian."


"Jika aku punya wajah sepertimu, aku akan menghabiskan seluruh hidupku untuk mencicipi satu per satu wanita-wantia ini,"


Huh.. Menjengkelkan. Pikir Christov.


"Mari kita bermain golf," ajak salah satu dari grup mereka dan lainnya mengiyakannya. Christov hanya bisa pasrah dan ikut ke mana pun mereka pergi karena berakhir sendirian di pesta seperti ini benar-benar menyedihkan. Dia dan grupnya memilih melakukan golf simulator, di mana kau melempar bola golf ke arah layar proyektor.


Christov memegang tongkat golf dan sesekali melakukan pukulan kosong di udara. (Pukulan tanpa bola). Dia cukup ahli dengan olahraga mahal ini karena sering memainkannya bersama Ayahnya. Robert, ayahnya tersebut benar-benar tergila-gila akan golf. Christov sendiri tidak terlalu suka golf karena dia lebih senang aktivitas fisik yang mengeluarkan banyak keringat seperti....


Seperti di atas ranjang. Pikirnya.


"Kau bisa bermain golf juga?"


Christov tersadar dari pikirannya saat beberapa wanita menghampiri grupnya. Ada tiga wanita tengah mengelilinginya. Wajah mereka nampak familiar, tapi Christov tidak mengenal mereka. Matanya melirik ke arah grupnya yang menatapinya seolah mengatakan 'Ladeni mereka'


"Tidak juga,"jawab Christov dengan nada datar. Sekali kau tersenyum dan bersikap ramah pada wanita-wanita ini, mereka akan terus mengikutimu.


"Wah.. Namun, saat aku melihat dari kejauhan, kau memegang tongkatnya seperti pemain profesional," puji wanita lain dengan nada yang dilebih-lebihkan.


"Benarkah?" tanya Christov dengan nada setengah hati. Matanya tertuju pada layar proyektor yang menampilkan gambar tiruan lapangan golf.


"Kau sering olahraga? Badanmu--"


"Giliranku. Permisi, ladies-ladies*," kata Christov dan berjalan ke arah depan untuk melakukan pukulan.


(*Nona-nona)


"Nice catch, Connel,*" bisik Charlie terkait tiga wanita yang mengerubuni Christov tadi..


(*Tangkapan yang bagus, Connel)


"Benarkah?" Christov mengambil ancang-ancang dan posisi untuk memukul bola. Ditarik tangannya ke belakang dan dengan cepat diarahkan tongkat golf ke arah bola. Bola kecil putih itu terbang menuju layar proyektor dan dalam waktu sepersekian detik, muncul skor di layar proyektor diikuti oleh tabel berisi peringkat skor tertinggi.


"Oh my.. Kau punya skor tertinggi, Christov," seorang wanita menimbrung Christov dengan senyum menggoda. Christov harus sedikit menepi dari wanita yang tengah menempelkan dadanya pada lengan Christov.


"Begitulah..."


"Cassie?!"


Christov segera memutar kepalanya ke sumber suara yang berteriak memanggil nama Cassie.  Saat itu pula dia melihat wanita tersebut. Turun dari golf car dengan senyum lebar. Beberapa pasang mata pun tertuju pada Cassie yang mengenakan gaun biru selutut bercorak bunga-bunga kecil dengan lengan sesiku.


Dia berpakaian cukup sopan hari ini. Pikir Christov


"Si sialan itu lagi," Christov mendengar suara berbisik wanita dari belakang punggungnya dan bisik-bisik yang lain mengikut. Well.. Nampaknya Cassie memiliki banyak pembenci. Kenapa? Padahal, Christov berpikir dia wanita yang cukup manis.


"Ayo.. Kita lanjutkan golf ini," ajak temannya untuk mengembalikan perhatian grupnya pada golf dan bukannya pada Cassie.


"Aku ingin coba peruntungan untuk mengajak Cassie berbicara hari ini," ucap salah tau pria.


"Jangan mimpi,"


Christov mendengar teman-temannya yang berbicara tentang Cassie dalam diam. Matanya sesekali melirik ke arah Cassie yang tengah berbincang dengan tiga orang yang dia lihat tadi. Nampaknya ketiga oang itu adalah teman-teman Cassie.


Dia mengucir rambutnya. Pikir Christov.


"Apa bagusnya Cassie?"


Bisik-bisik wanita lain terdengar lagi dan Christov hanya mendengarnya dalam diam.


"Aku heran kenapa orang-orang memberinya perhatian lebih..."


"Dia memang selalu berusaha mencari perhatian semua orang,"


"Christov. Apa kau punya acara atau rencana malam ini? Setelah pesta?" tanya wanita acak padanya.


Acara? Rencana? Uhm.. Dia memiliki rencana untuk melihat mawar hari ini.


"Aku memiliki urusan keluarga," bohong Christov. Matanya tetap melirik-lirik ke arah Cassie yang sedang tertawa dan berbincang gembira. Apa yang dia bicarakan? Apa yang dia tertawakan?


"Benarkah? Bagaimana jika besok malam? Apa kau puu......"


Suara wanita yang tengah menggodanya dengan suara ribut dari kerumunan itu hilang saat dia tidak sengaja bertemu tatap dengan Cassie. Seluruh dunia di sekitar tubuhnya terasa memudar dan hanya menyisakan mereka berdua. Tubuh Christov membeku untuk sepersekian detik. Terpesona. Di detik berikutnya, dia melihat Cassie tersenyum miring sebelum akhirnya memutar kepalanya ke arah teman-temannya.


"Hey, Christov? Sekarang adalah giliranmu," kata temannya dan itu membuat Christov tersadar dari euforia yang dia rasakan tadi.


"Apa kau mendengarkanku berbicara? Apa kau mau makan malam denganku besok?"


Christov melihat ke arah wanita yang berdiri di samping kirinya yang masih kekeuh mengajak Christov makan malam. Dadanya di tekan ke arah lengan Christov dan itu membuatnya merasa muak melihat wanita asing ini.


"Maaf. Aku sibuk," Christov melangkah maju untuk bersiap memukul bola di sesi kedua. Namun, hati dan pikirannya tidak lagi tertuju pada golf ini.


Kenapa? Kenapa dia tersenyum miring? Apa yang dia pikirkan saat mereka bertemu tatap tadi?


Gambar mawar, burung, dan ular itu memenuhi kepalanya. E-ra-ngan Cassie dalam kamar yang sepi itu terdengar begitu jelas dalam telinganya. Permukaan tatto Cassie di atas kulitnya yang lembut seolah mampu Christov rasakan lagi di telapak tangannya. Wajah, suara, tatto, tawa, tarian aneh, dan semuanya tentang wanita itu memenuhi kepalanya. Membuat segala masalah dan persoalan yang menghantuinya selama sepekan ini perlahan mengabur.


Mengabur dibalik wajah manis itu..


Membuatnya terasa bebas seolah menjadi burung yang terbang ke langit yang tak terbatas


Di sisi lain juga membuatnya merasa was-was karena dia bisa jatuh kapan saja ke bawah tanah yang penuh ular berbisa.


Namun, satu-satunya yang dia inginkan adalah terbang menuju Mawar yang penuh duri itu. Walaupun itu akan menyakitinya, tapi dia ingin..


Aku ingin melihat dan mencium mawar itu lagi..


***


Miss Foxxy