Remember Me

Remember Me
Tell Me..



Happy Reading


***


Music For this chapter \= Stranger Things from Bridgerton


Christov duduk dengan bean bag di studio mini Cassie dalam diam. Di atas pahanya terdapat buku tentang filsafat milik Cassie. Christov menaruh buku itu di sana karena dia tidak berminat lagi membaca lebih lanjut setelah hampir membaca delapan halaman. Saat ini, dia lebih tertarik pada Cassie yang bekerja di depan layar monitor.


Wanita itu mengenakan headphone di telinganya dan kedua tangannya sibuk untuk menulis, memainkan nada di piano, dan lainnya. Setidaknya, sudah hampir 45 menit Christov berada di sini bersama Cassie. Di dalam studio itu, Christov melihat berbagai alat musik, seperti gitar, piano, drum, biola, alat rekam, mic, dan benda lainnya yang Christov  tidak ketahui nama kerennya.


Sejenak, dia masih tidak menyangka bisa berduaan dengan Cassie di rumah wanita tersebut. Dalam mimpi terliarnya sekalipun, Christov tidak pernah membayangkan hal ini terjadi dan otaknya masih tetap memproses apakah ini nyata. Mereka baru bertemu dua kali dan sudah tidur bersama sebanyak dua kali pula. Kejadian itu pun terjadi hanya dalam waktu minggu yang sama. Sangat cepat hingga Christov tidak bisa mencerna apa yang tengah dia lakukan sekarang.


Mereka tidak berkencan dan memutuskan menjadi teman-- friends with benefit--. Christov tidak pernah memiliki hubungan ini pada wanita mana pun, membayangkannya pun tidak. Hal yang paling membuatnya heran adalah bahwa Christov merasa tidak canggung di dekat Cassie dan begitu juga sebaliknya.


Cara Christov dan Cassie berkomunikasi terasa alami. Saat berhubungan ranjang, tidak ada rasa canggung antara keduanya. Cassie membuatnya terasa nyaman. Uh... Padahal mereka baru bertemu dua kali.


Christov malah mengingat Clara kembali.Setiap kali mereka bertemu, Christov selalu menjaga segala tingkah lakunya. Baik dari cara berpakaian, cara berbicara, dan lainnya. Christov sudah berusaha menjalin hubungan dengan Clara sejak dua bulan lalu, tapi dia merasa tidak ada kecocokan di antara keduanya.


Sulit bagi Christov untuk menjelaskan dengan kata-kata, tapi dia merasa jika Clara bukanlah untuknya. Sekeras apa pun Christov untuk memahami Clara, dia merasa ada dinding tak kasat mata di antara keduanya yang begitu sulit di tembus. Beda halnya dengan Cassie, dia merasa nyaman dengannya. Sayangnya, hubungan antara keduanya hanya sebatas teman.


Huh.. Situasi ini membuat Christov bingung. Wanita yang satu menginginkan hubungan dengannya, tapi Christov tidak bisa membangun keterikatan dengannya. Di sisi lain, Christov membangun keterikatan dengan wanita lain yang tidak ingin memiliki hubungan apa pun dengannya.


Rumit sekali. Pikirnya.


"Apa yang sedang kau lamunkan?"


Christov tersadar dari lamunannya saat mendengar suara Cassie yang menginterupsinya. Matanya menoleh ke arah wanita itu yang tengah menatapnya dan tersenyum tipis ke arah Cassie.


"Tidak ada.."


"Kemarilah.." kata Cassie dengan suara lembut seraya menepuk kursi kosong di sampingnya. Christov bangkit dari bean bag-nya dan bergabung dengan Cassie.


"Ada apa?" tanya Christov saat Cassie sibuk dengan kabel.


"Pakai ini..." Cassie menyodorkannya sebuah headphone lain dan Christov menerimanya.


"Untuk?"


"Aku meminta pendapatmu,"


"Tentang musik? Aku tidak memiliki pengetahuan yang banyak tentang musik.."


Cassie memutar mata dan meraih hendpone dari tangan Christov lalu memasangnya sendiri pada pria tersebut.


"Dari pada kau bengong di sana, lebih baik mendengar musik," kata Cassie dan Christov bisa mendengar suara wanita tersebut dari headphone. Christov memindahkan arah pandangnya ke layar monitor dan melihat semacam grafik yang tidak dipahaminya.


"Aku tengah mengasuh penyanyi baru dan rekamannya sudah selesai. Namun, tim-ku perlu mengedit beberapa bagian sebelum memberinya pada tim produksi. Coba dengarkan ini.."


Cassie  memainkan salah satu musik dan perlahan, suara nyanyian itu terdengar. Christov melihat jika grafik di layar monitor itu ternyata menunjukkan naik-turun dari tinggi-rendahnya nada. Keduanya mendengarkan lagu itu dalam diam. Sesekali mata Christov melirik ke arah Cassie yang menggoyang-goyang kecil kepalanya mengikuti nada lagu. Matanya menatap fokus pada grafik nada tersebut.


"Bagaimana menurutmu?" tanya Cassie saat lagu itu sudah selesai. Dia menyandarkan tubuhnya pada punggung kursi seraya memiringkan kepalanya untuk melihat wajah Christov.


"Entahlah.." Christov menarik napas panjang, "Aku jarang mendengar musik dari abad ini,"


"Jadi kau penyuka musik klasik dan semacamnya?"


"Aku lebih berkonsentrasi bekerja jika mendengar musik klasik.."


"Aku punya beberapa musik piano karyaku sendiri," Cassie memajukan punggungnya ke depan dan mengarahkan kursor komputer, "Aku harap kali ini kau punya pendapat tentang laguku."


"Kau tidak memintai pendapatku lagi tentang lagu sebelumnya?"


Cassie menggeleng, "Dengarkan ini," disandarkan dia kembali tubuhnya pada kursi dan kembali menikmati alunan musik piano yang memenuhi telinganya.


Christov merasakan rileks di seluruh tubuhnya saat mendengar lantunan piano itu. Senyum tipis terukir di bibirnya. Dari ujung matanya, Christov bisa melihat Cassie yang memejamkan mata. Tampak jelas menikmati musik piano itu. Indah.. Pikir Christov senang.


Matanya melirik ke arah tangan Cassie yang tergantung bebas di lengan kursi. Jemari Christov bergerak-gerak gelisah. Hati-nya memerintahkan dia untuk meraih tangan itu, tapi pikirannya tidak memperbolehkan Christov. Kami-kan bukanlah sepasang kekasih. Batin Christov dengan perasaan kecut dan buru-buru mengepalkan tangannya. Mencegah pikirannya untuk menggenggam tangan Cassie.


Christov menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Lalu dia memejamkan matanya. Membiarkan musik itu memenuhi dan menghipnotis hati dan pikirannya. Lantunan piano itu membuat tubuhnya terasa ringan dan membawa tubuhnya terbang tinggi. Melayang begitu tinggi dan mendaratkannya dengan pendaratan yang sempurna.


"Bagaimana menurutmu, Christov?" suara lantunan piano digantikan oleh suara Cassie di hendpone milik Christov. Dibuka kedua matanya dan menoleh ke arah Cassie yang menatapnya dengan bola mata biru yang sejernih lautan.


"Lagu ini membuatku merindukan kenangan yang tidak pernah kumiliki. Kau mengerti maksudku, bukan? Kau merasa aneh dan tiba-tiba merindukan kenangan atau sesuatu yang tidak pernah kau miliki.."


Cassie tersenyum dan menatapnya lembut, "Aku paham.."


"Apa judulnya?"


"Stranger things*," bisik Cassie.


(*Hal yang aneh)


"Tentang apa?"


"Tentang perasaan aneh tentunya. Perasaan aneh yang muncul tiba-tiba dan membuatmu merasa kosong saat kau mendengar piano ini... Kau mengerti makna di balik musik piano ini, Christov..."


"Itu karena aku cukup paham tentang musik semacam ini..."


Keduanya tiba-tiba terdiam saat kehabisan bahan pembicaraan dan euforia di sekitar mereka pun berubah dengan cepat. Intim.. Saat mereka saling bertatapan seperti ini, Christov merasakan keintiman sendiri pada Cassie. Tanpa sadar, Christov mengangkat tangan kanannya dan diarahkan pada belakang leher Cassie yang lembut.


"Ingin melihat mawar lagi?" bisik Cassie.


"Yah.."


****


"Well.. Gedung apartemen ini jauh lebih mewah dari apa yang kubayangkan," kata Cassie saat akhirnya bisa berkunjung ke apartemen Christov di hari Jumat. Mereka tidak bisa bertemu selama seminggu ini karena padatnya urusan pekerjaan mereka. Keduanya saat ini berjalan di lorong menuju unit apartemen milik Christov. Semua yang ada di sana terasa begitu mewah bagi Cassie.


"Aku dulu ikut dalam proyek pembangunan gedung apartemen ini walau hanya sebagai asisten arsitek,"


"Benarkah?" kata Cassie dengan nada bangga, "Gila.. Kau benar-benar hebat,"


"Tidak juga..."


Cassie menyipitkan matanya pada jawaban tidak semangat dari Christov. Didekatkan tubuhnya ke arah pria tersebut dan menyikut perut Christov dengan sikutnya.


"Kenapa? Nampaknya ada yang menganggu pikiranmu?" tanya Cassie.


Christov menggaruk belakang lehernya dan menolak menjawab Cassie.


"Here we are*.." kata Christov dengan tangannya tertuju pada pintu unit apartemen. Cassie tersenyum tipis dan  mengangguk kecil. Sejenak dia berpikir untuk tidak terlalu mengusik kehidupan Christov.


(*Kita sudah sampai)


Christov menempelkan jempolnya dan kunci elektronik lalu terdengar bunyi 'Klik' pelan. Didorongnya pintu untuk agar keduanya bisa masuk.


"Masuklah," ajak Christov dengan gaya mempersilakan.


Cassie melepas sepatunya terlebih dahulu dan menaruhnya di rak. Kemudian, dia melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah Christov. Lampu bercahaya lembut menyala begitu saja ketika mereka masuk semakin dalam. Matanya menatap sekeliling. Simpel dan modren, tapi entah mengapa terlihat begitu mewah.


"Aku sudah menduga jika warna putih-hitam akan mendominasi.." kata Cassie seraya memutar kepalanya ke arah Christov saat melihat ruangan apartemen Christov.


"Berikan aku tasmu," kata Christov dan meraih tas punggung Cassie, "Berat sekali. Apa yang kau bawa?"


Cassie mengangkat bahunya dan kembali menjelajah apartemen Christov.


"Bom dan semacamnya," katanya asal dan itu mengundang tawa kecil dari Christov.


Matanya melihat ke arah kiri ruang tamu. Terdapat beberapa tanaman paku, teleskop, kursi santai empuk, dan jendela kaca besar yang menunjukkan pemandangan lampu-lampu kota Los Angeles. Dia menaiki empat anak tangga kecil ke tempat itu dan terpesona lagi.


"Kau suka melihat langit?" tanya Cassie pada Christov yang tengah sibuk menyajikan makan malam untuk keduanya.


"Begitulah. Namun, tak banyak yang bisa aku lihat di langit Los Angeles yang penuh polusi.."


Cassie memegang teleskop yang ukurannya cukup besar tersebut. Kelihatan mahal. Dia memilih tidak memegang teleskop itu lebih lama lagi atau kejadian yang tidak diinginkan terjadi, seperti kerusakan misalnya. Dialihkan tatapannya ke arah lain. Di ujung ruangan, terdapat semacam gerbang dari besi yang berlubang-lubang kecil. Warnanya putih, menutupi suatu ruangan dari lantai hingga langit-langit. Cassie penasaran apa dibalik gerbang putih itu.


Dia menoleh ke arah Christov yang sudah duduk di ruang tamu, "Apa di balik sana?"


"Kolam renang.." kata pria itu dengan suara kalem.


"Kau punya kolam renang dalam ruangan? Di apartemen? Oh my..."


Kaya. Dia benar-benar kaya. Pikir Cassie.


"Semua unit di sini memilikinya.." kata Christov yang sudah duduk di sofa setelah memanaskan makan malam mereka, "Aku akan membukakannya untukmu jika kau ingin melihatnya," dia bangkit dari duduknya dan hendak berjalan ke arah Cassie.


Cassie menggeleng, "Makan.. Bagaimana jika kita makan dulu?" katanya saat mencium aroma lezat dari dapur.


"Okay.." Christov memutar tumitnya dari ruang tamu menuju dapur. Cassie mengikut dengan berlari kecil. Dia duduk di kursi dan melihat Christov menyajikan makanan.


"Kau memasaknya sendiri?" tanya Cassie saat melihat mie pasta dengan saos keju kental. Ada potongan sosis, asparagus, daging dadu, dan juga telur setengah matang.


"Yah.."


Cassie menaruh satu tangannya di dada dan menunjukkan wajah penuh keterkejutan.


"Christov.. You're are perfect*,"


(Kau sempurna)


Christov tertawa kecil dan duduk di depannya setelah menyajikan semua makanan. Dua piring pasta, satu piring sayuran rebus, beberapa bumbu bubuk, dan dua gelas air mineral.


"Aku tinggal sendiri jadi begitulah.." kata Christov, menolak berbangga hati dengan pujian itu.


"Kau tidak suka di puji yah?" Cassie menarik piring pasta miliknya.


"Tidak terlalu.." gumamnya pela, "Selamat makan.."


"Selamat makan," Cassie menggulung mie dengan garpu dan mengarahkannya ke mulut. Saat merasakan saus lembut dan mie kenyal dalam mulutnya, Cassie merasa lidahnya seolah terlahir kembali. Rasa asin, manis, dan pedas bergabung menjadi satu.


"Whoa.. Ini enak. Kau serius bisa memasak makanan seenak ini? Bahkan ini lebih enak dibanding dengan makanan resto,"


Christov tersenyum lebar, merasa senang, "Tentu saja aku memasaknya sendiri. Resepnya bisa kau dapat secara gratis dari Internet."


"Aku iri kau bisa menikmati makanan seenak ini tiap hari. Aku bisa memasak, tapi aku terlalu malas jadi pesan antar adalah satu-satunya jalan keluar," Cassie menyendokkan lagi gulungan mie besar ke mulutnya.


"Aku bisa memasak makanan untukmu jika kau mau,"


Cassie tersenyum dan menyipitkan matanya, "Kau benar-benar pria yang manis," katanya pelan.


Christov melipat bibirnya, menahan diri untuk tidak tersenyum lebar.


"Bagaimana pekerjaanmu?" tanya Christov untuk mencegah suasana canggung.


"Yah.. Semua berjalan lancar. Bagaimana denganmu?"


Christov menunduk dan menatap kosong makanannya. Dia kembali memikirkan bagaimana hari-harinya berjalan dengan berat akhir-akhir ini. Tidak ada yang berjalan sesuai dengan keinginannya dan semua itu karena Ibunya.


"Hei..." panggil Cassie saat menyadari diamnya Christov, "Jika ada yang membebani pikiranmu, kau boleh menceritakannya padaku. Aku tahu, menceritakan masalah yang kau hadapi padaku mungkin tidak akan memberimu solusi. Namun, setidaknya kau merasa lega.."


Christov menatap Cassie dan tersenyum lagi. Teman mengobrol. Suatu privilage yang tidak bisa didapat Christov seumur hidupnya. Walaupun dia memiliki banyak orang di sekitarnya, Christov tidak menemukan satu pun yang dapat dia percaya.


Sejak kecil, dia selalu menahan semua perasaannya di dalam hati. Dia tidak akan menangis mau sesakit apa pun luka yang dia rasakan. Dia tidak akan marah dan melawan seburuk apa pun perlakuan orang lain padanya. Christov selalu menahan diri karena dia berpikir itulah yang terbaik karena sekali dia mengungkapkan perasaannya, mereka akan pergi dan meninggalkan Christov sendiri.


"Ada beberapa masalah di sana-sini," jawab Christov singkat.


Cassie menarik napas, merasa tidak puas dengan jawab Christov. Dia ingin mencari tahu lebih lanjut, tapi Cassie merasa dia tidak berhak melakukannya. Mereka memang tidur bersama, tapi mengusik kehidupan pribadinya tidaklah tepat.


"Cassie.." panggil Christov dengan nada rendah. Matanya menata fokus pada Cassie.


"Yah?"


"Apa ketakutan terbesarmu?"


Cassie menelan mienya, "Mati,"


"Mati? Kenapa? Apa kau takut meninggalkan dunia ini?"


"Aku tidak takut karena tidak bernapas lagi atau tidak bisa lagi bersenang-senang. Namun, aku takut akan orang-orang yang menyayangiku dengan sepenuh hati. Aku takut membayangkan akan betapa sakitnya perasaan mereka jika aku meninggal.."


Christov tertegun akan perkataan Cassie dan merasa apa yang dikatakan wania tersebut ada benarnya. Dia tidak pernah memikirkan hal seperti ini sebelumnya. Muncul lagi pertanyaan lain yang mengganggu pikirannya. Seandainya dia mati, siapa saja yang akan menangisi kematiannya dan merasakan sakit hati?


"Bagaimana denganmu? Apa ketakutan terbesarmu, Christov?"


"Being alone*.." katanya pelan.


(*Sendirian)


"Kenapa? Kenapa kau takut sendirian?"


Christov menggaruk belakang lehernya, "Entahlah.. Aku hanya takut membayangkan orang-orang berpaling dariku. Oleh karena itu aku selalu menahan diri."


Bukan sekali-dua kali dia membayangkan apa yang terjadi jika seandainya dia mengatakan semua kemarahannya, kekesalannya, dan kekecewaannya pada orang lain. Terutama pada ibunya. Christov selalu membayangkan risiko terburuk jika seandainya dia meledak dan risiko terburuk yang pernah dia bayangkan adalah menjadi sendirian. Dia takut sendirian dan tidak tahu apa alasan yang membuatnya takut akan kesendirian itu. Kenapa dia setakut itu jika orang lain berpaling darinya?


"What?*" Cassie menggeleng-gelengkan kepalanya dengan heran dan tatapannya mendadak berubah menjadi tajam, "Takutlah jika kau memiliki semua orang di sisimu dan berpaling di saat-saat terburukmu, Christov.."


(*Apa?)


"Aku tahu itu, tapi.." suaranya memelan, bingung harus menjawab apa.


"Jangan pernah takut sendirian. Setidaknya, saat kau menghadapi masa terburukmu, dirimu sudah terlatih menghadapinya sendirian."


Christov tersenyum kecut.


"Bisa kau bayangkan rasa sakit yang kau terima saat semua orang meninggalkan dirimu di saat kau menghadapi masa-masa terburukmu?" Cassie menatap Christov dengan mata membara, "Lebih baik sendiri dari pada memiliki banyak orang di sekitarmu yang pada akhirnya akan mengkhianatimu juga,"


"Tapi, kau tidak sendirian, bukan? Aku tahu jika banyak orang menyukaimu dan kau punya teman," kata Christov dengan suara tak mau mengalah. Dia merasa tidak pantas diceramahi akan ketakutannya sendiri.


Cassie tertawa seraya menyisir rambut dia dengan jemarinya, "Kau pikir mereka benar-benar menyukaiku, Christov? Pria-pria sialan itu hanya ingin masuk ke celana dalamku. Mereka tidak benar-benar menyukaiku," katanya dengan suara tajam dan itu membuat Christov merasa bersalah.


"Huh.. Jika banyak menyukaiku maka yang membenci dua kali lipat lebih banyak. Aku tahu jelas jika banyak orang yang membenciku," lanjut Cassie, "Tapi, aku tidak pernah meladeni mereka selama mereka tidak melewati batas. Namun, saat mereka malah melewati batas, aku tidak segan-segan menghajarnya. Sama seperti yang kulakukan pada mantan kekasihku."


"Sorry.." bisik Christov.


"Kenapa kau meminta maaf? Kau tidak salah, Christov. Kau berhak berbicara jika kau tidak setuju dengan perkataanku atau orang lain. Huh.. Sifatmu inilah yang membuat orang menjadi semena-mena padamu. Jangan terlalu diam. Jangan terlalu menjaga perasaan mereka saat kau juga harus memikirkan perasaanmu sendiri. Terkadang, menjadi egois untuk diri sendiri bukanlah kejahatan, Christov. Selama itu tidak menyakiti orang lain, egoislah.."


Christov menarik napas dan menahannya sejenak. Dia bingung harus bereaksi apa karena seumur hidupnya, dia belum pernah dinasehati untuk menjadi egois.


"Mengapa kau menahan diri? Marahlah ketika seseorang membuatmu kesal. Tertawa ketika kau senang. Menangis saat kau dikecewakan. Jujurlah dengan perasaanmu sendiri. Kau harus menerapkan motto hidup 'Tidak peduli' di saat-saat tertentu,"


Christov menghembuskan napasnya perlahan, "Bagaimana jika yang membuatmu kecewa, kesal, marah, dan sedih adalah keluargamu, Cassie? Apa aku harus melimpahkan semua kemarahanku? Kekecewaanku?"


Sekarang, Cassie sedikit paham akan permasalahan apa yang tengah dihadapi Christov saat ini. Masalah dalam keluarga dan itu bukanlah perkara yang mudah. Dia harus memilih kata-kata yang akan diucapkan dengan hati-hati karena jika dia tidak melakukannya, Christov akan tersinggung.


"Keluarga adalah orang terdekat bagimu untuk saling berbagi cinta, kesedihan, kegembiraan, dukungan, dan lainnya. Namun, ketika keluarga tidak memberimu hal yang kusebut tadi dan malah hanya memberiku kekecewaan dan kesedihan yang membuat hidupmu terbebani, itu tidak pantas lagi disebut keluarga. Itu adalah musuh..."


Ibu adalah musuhku? Pikir Christov.


"Aku tidak tahu jelas masalahmu, Christov. Namun, kau harus bicara agar mereka berhenti mengecewakanmu. Tegaslah akan perasaanmu. Dulu pun aku memiliki masalah keluarga yang cukup berat," Cassie kembali mengingat masa-masa saat perceraian orang tuanya serta masa pembulian yang kerap dia hadapi saat sekolah dulu.


"Aku marah pada orang tuaku. Aku menangis saat mereka mengecewakanku. Aku selalu jujur akan perasaanku karena jika aku tidak melakukannya, aku tidak akan bisa bahagia..."


Christov menundukkan kepalanya, "Aku berharap memiliki sedikit saja keberanian dan kejujuranmu, Cassie.."


"Christov.." katanya dengan nada sedih. Cassie bangkit dari duduknya dan berpindah ke kursi di samping Christov. Tanpa ragu, dipeluknya kepala pria tersebut. Dia menepuk-nepuk punggung Christov dengan lembut.


"Pasti berat bagimu karena harus menahan diri selama ini.." bisik Cassie, "Tapi, kau menceritakan pergumulanmu padaku adalah langkah yang tepat, Christov. Aku tahu kau akan bisa melewatinya nanti.."


"Aku senang kau ada di sini, Cassie..." Bisik Christov dan membalas pelukan hangat dari Cassie.


"Thank you..."


****


Miss Foxxy


Pokoknya sekitar 10-15 chapter tentang masa lalu sebelum kecelakaan lah. Jadi dinikmati saja. Jangan lupa dukung author selalu. Silakan baca part rate plus" sesegera mungkin karena akan direvisi. Thank you.