Remember Me

Remember Me
Cassandra De Angelis



Happy Reading


***


Aku punya tiga boneka Barbie dan kuberi nama, Blue, Green, dan Purple. Kuberi nama ketiga boneka Barbie itu sesuai dengan warna gaun yang mereka kenakan. Mom membeli ketiga boneka ini saat di itali sebagai hadiah ulang tahunku yang keenam. Blue, Green, dan Purple tetap menjadi temanku hingga sekarang kami pindah ke Amerika Serikat.


Tempat ini terasa asing bagiku dan sangat beda dengan Itali. Mereka menjual pizza dan pasta dengan rasa yang aneh, beda dengan pizza dan pasta di Itali. Lalu, orang-orang di sini selalu nampak sibuk, termasuk Daddy dan Mommy. Mereka berdua selalu sibuk sesampainya ke tempat ini. Sibuk bekerja dan mengurus segala berkas-berkas yang tak kupahami untuk apa gunanya.


"Cassie?"


Aku buru-buru menyembunyikan ketiga bonekaku ke balik selimut saat mendengar suara Mommy karena Mommy tak senang jika aku memegang mereka saat pagi hari. Tak berapa lama kemudian, Mommy muncul dari balik pintu kamarku.


"Kau sudah siap untuk hari pertamamu di sekolah?"


Aku mengangguk semangat lalu menggerakkan jemariku membentuk bahasa isyarat, "Bolehkah aku membawa Blue?" begitulah bunyi dari bahas isyaratku.


Mama mengoyang-goyang jari telunjuknya, "Tidak boleh. Kau bisa memainkannya setelah pulang sekolah. Membawa mainan ke sekolah itu tidak diperbolehkan."


Aku cemberut, tapi tetap mengangguk patuh. Kubawa tas punggungku yang berwarna merah jambu lalu berjalan keluar dari kamar bersama Mommy.


"Aku suka Amerika Serikat, Cassie.." seru Miranda, saudariku dengan semangat sesat dia keluar dari kamarnya sendiri. Dibandingkan dengan diriku, Miranda-lah yang paling bersemangat tentang kepindahan kami ke Amerika. Namun, tidak denganku.


"Kenapa?" tanyaku melalui bahasa isyarat.


"Karena kita tidak perlu memakai seragam.. Keren.."


Memakai seragam lebih menyenangkan dan lagi, aku lebih senang mendengar bahasa Itali dibandingkan bahasa Inggris ini.


"Ayo, anak-anak..." ajak Daddy yang sudah melangkah masuk ke pintu samping menuju garasi. Mommy mengangkat tubuhku agar duduk di kursi penumpang bersama Miranda. Rasa takut dan gugup tiba-tiba menghampiri diriku.


"Mo..m..My*..." aku memanggil Mommy dengan mengucapkan kata-kata secara terbatah-batah dan itu benar-benar melelahkan. Aku masih tak paham kenapa aku kesulitan mengucapkan kata-kata yang sudah ada di kepalaku.


(*Mommy)


"Yes, honey*. Gunakan bahasa isyarat saja.." kata Mommy dengan suara lembut seraya mengambil posisi duduk di sampingku. Tangannya yang lembut dan hangat mengelus pucuk kepalaku.


(*Sayang)


"Boleh aku ke sekolah besok saja?"


"Kenapa kita harus melakukannya besok saat kita memiliki kesempatan hari ini?" tanya Mom lembut, "Jangan takut.. Semua akan baik-baik saja. Orang-orang di sini sama seperti di tempat tinggal kita yang lama, bedanya, di sini kita menggunakan bahasa inggris dan untungnya kau sudah paham bahasa Inggris.."


"Apakah mereka akan paham bahasa isyarat?"


"Beberapa dari mereka akan paham, Cassie.." imbuh Daddy, "Ayah yakin puteri kesayangan Daddy berani ke sekolah.."


"Yah.. Jangan takut, Cassie. Aku akan di sana saat kau membutuhkanku.. Kita-kan satu sekolah.."


Aku tersenyum senang, "Boleh aku makan ice-cream vanilla ukuran besar saat pulang nanti?"


"Tentu.. Daddy akan membelikan ice-cream vanilla besar khusus untuk Cassie.."


"Tapi kau hanya boleh mendapatkannya setelah pulang sekolah," sambung Mommy dan aku mengangguk senang.


"Aku mau.. Ayo kita ke sekolah, Daddy.."


"Anak pintar.. Mommy janji semua akan baik-baik saja.."


-----------------------------------------------------------------------


Namun, semua tidak baik-baik saja. Mommy dan Daddy berbohong tentang orang Amerika. Mereka bilang orang di Amerika sama ramahnya dengan orang di Italia. Mereka tidak.. Mereka tidak ramah. Tidak baik. Mereka jahat.


"Gagaga gugugu.. Ayo, bicaralah anak gagap.." teriak Madison seraya mendorong-dorong kepalaku. Aku hanya diam di sana, melihat Madison dan anak-anak lain menertawakanku. Mengapa mereka begitu? Bukankah mereka seharusnya ramah padaku? Aku baru sebentar di sini, mengapa mereka sejahat ini? Baru sebulan aku bersekolah di sini, tapi rasanya seperti sudah bertahun-tahun.


"Pulanglah ke tempat asalmu, Cassie.. Tempat ini tidak bisa lagi menampung anak aneh sepertimu.." Madison, gadis cantik berambut pirang itu terus mengolok-olok ku. Aku menunduk, tak tahu harus berbuat apa-apa. Aku ingin lari dan memberitahukan semuanya pada Mommy dan Daddy, tapi Madison bilang akan memotong rambutku jika aku macam-macam.


"Ayolah.. Bicara.. Gaga-gugu. Apa Ibumu tidak mengajarimu cara berbicara?" dia memukul-mukul kepalaku lagi, "Ibuku berkata, orang-orang dari negara lain ke negara ini adalah sampah yang ingin mengemis uang kami.."


Tidak.. Daddy tidak mengemis. Daddy punya pekerjaan. Daddy bekerja sebagai sutradara. Daddy itu hebat.


"Ah.. Kasihan sekali. Hei, hitam.." panggil Madison pada Gerald, teman sebangku. Anak laki-laki berkulit gelap yang juga dirudung oleh Madison. Sampai sekarang, aku tidak paham mengapa mereka begini padaku dan Gerald. Kami-kan sama seperti mereka. Kami dan mereka itu kan sama-sama manusia. Mengapa? Mengapa mereka seperti ini?


"Astaga. Si hitam dan si gagap. Bukankah mereka pasangan serasi?" tanya Madison dan seisi kelas tertawa. Tawa penuh ejekan.


"Argh.. Dua pengemis lain. Ibu bilang kalian adalah sampah masyarakat yang perlu di basmi.."


Jangan.. Jangan menghina Gerald. Dia anak baik. Dia membuat gaun untuk Blue, Green, dan Purple. Dia juga mau berteman denganku saat anak lain tak mau berteman denganku. Jangan menghina temanku, Madison.


"Whoaaaa.. Apa kau sudah berani menatapku sekarang, huh?" teriak Madison marah saat aku menatapnya kembali. Tanpa ragu, tangan besinya melayangkan pukulan lain ke kepalaku. Namun, sebelum tangannya menyentuh kepalaku, tanganku sudah terlebih dahulu mencengkram kuat tangan Madison. Dia boleh menghinaku, tapi tidak dengan temanku.


"Huh?! Berani-beraninya kau menyentuh tanganku dengan tanganmu yang kotor itu.."


Aku ingin berteriak padanya bahwa aku bukanlah anak aneh, anak pengemis, sampah masyarakat, dan ingin berteriak padanya bawah namaku adalah Cassandra dan bukannya gaga-gugu. Namun, aku tidak bisa.. Aku tidak membela diriku sendiri dan Gerald karena aku tak bisa berbicara.


Madison berteriak marah dan melayangkan satu tangannya yang lain ke arahku dan dengan sigap aku menangkap tangannya tersebut. Aku berdiri dan menatap dia dengan marah.


"Argh! Gila! Bantu aku.. Hei.. Anak ini sudah gila!"


Gila? Kenapa kau mengataiku gila saat aku berusaha membela diriku sendiri? Kenapa kau tidak mengatai dirimu sendiri gila saat kau terus mengangguku?


"Sit*" ucapku dengan nada rendah. Satu suku kata itu, keluar begitu saja dengan sangat sempurna. Aku tidak mengucapkannya dengan tergagap. Kenapa? Kenapa aku bisa mengucapkan itu dengan sempurna saat aku marah?


(*Duduk)


Seisi kelas terdiam saat mendengar suaraku yang pelan tersebut dan Madison pun berhenti meronta, menatapku dengan penuh ketakutan.


"Dia bisa berbicara.." bisik temanku.


"Kupikir selama ini dia tidak bisa berbicara.."


"Whoa.. Kau dengar suaranya tadi?"


Dan anak lain mulai berbisik-bisik tentang satu suku kata yang kuucapkan dengan sempurna tersebut. Saat perhatianku teralih pada suara bisik-bisik itu, Mrs. Connel, pengajar matematika kami masuk ke kelas. Anak-anak segera terdiam dan saat itu juga Madison merintih kesakitan.


"Sakit!" rintihnya dengan nada palsu dan aku buru-buru melepas kedua tangan. Itu membuatku panik karena Gerald bilang, Madison adalah anak kesayangan semua guru di sini. Madison anak kaya dan Ayahnya selalu mensponsori sekolah ini. Dia anak kesayangan dan aku hanyalah anak buangan. Terutama Mrs.Connel, dia tidak menyukaiku.


"Astaga! Apa kau membuat keributan lain, Cassandra?" teriaknya marah seraya berjalan ke arah kami dengan sebuah penggaris panjang. Mataku menatap panik pada Madison dan Mrs.Connel secara bergantian.


"Nnnnooo*.." aku berusaha bicara, tapi lagi-lagi kemampuanku berbicara itu hilang karena rasa gugup. Aku menggeleng keras.


(*No\=Tidak)


"Mrs. Connel.. Dia memukulku.. Dia memukulku.." adu Madison dengan wajah berurai air mata.


Aku menggeleng, "Nnnooo*..."


(*No\=Tidak)


Argh.. Aku tak mampu bicara. Aku tak bisa membela diriku sendiri. Tolong.. Tolong aku.. Ayolah, Cassie.. Ayo kita bicara.


"Kau tak apa, Madison? Bagian mana? Bagian yang dipukul oleh anak aneh ini?" tanya dia dengan nada khawatir seraya memeriksa setiap inci tubuh Madison.


Aku buru-buru beralih ke mejaku dan menulis sesuatu di atas kertas dengan kecepatan tinggi. Aku menulis kata-kata berisi pembelaanku atas perbuatan Madison karena Mrs.Connel tidak tahu menggunakan bahasa isyarat.


"Anak ini. Bukannya minta maaf," Mrs Connel memukul buku dengan keras hingga menghalangiku melanjutkan tulisan pembelaanku tersebut. Tubuhku bergetar penuh ketakutan.


"Astaga.. Apakah orangtuamu tidak mendidikmu di rumah, Cassandra? Harusnya kau minta maaf. Kau selalu saja membuat masalah pada Madison. Kenapa kau sejahat itu pada anak baik seperti ini?"


Aku menggeleng. Bukan.. Bukan aku yang salah.


"Dia tidak salah, Mrs.Connel.." ucap Gerald dengan nada takut-takut dan Mrs.Connel menyipitkan mata ke arahnya.


"Kau tak boleh begitu, Gerald. Ibu tahu kau berteman dengan Cassie, tapi kau tak boleh membela temanmu yang salah.."


"Bu-bukan.. Cassie tidak salah.." bisik Gerald dengan suara tergagap.


"Hah.. Sudahlah. Sulit memang mendidik anak-anak yang tidak didik dari rumah. Kenapa kalian berdua sangat berbeda dengan kedua anakku?"


Yah.. Lagi-lagi.. Lagi-lagi Mrs.Connel memamerkan kedua anaknya. Kedua anaknya yang selalu dia elu-elukan di kelas. Hanya karena aku tidak bisa menjawab satu soal, Mrs.Connel akan membanding-bandingkan  aku dengan kedua anaknya yang tidak kukenal tersebut.


"Mengikuti pendidikan di sekolah biasa saja kalian sudah kesulitan apalagi di pendidikan di sekolah bertaraf Internasional.. Andaikan kalian bertemu kedua anakku yang kusekolahkan di sekolah Internasional.."


Aku tidak peduli dengan anakmu, yang kupedulikan adalah diriku sendiri. Aku tidak salah. Madison yang salah.


"Madison.. Tenang saja. Ibu akan menghukum mereka setelah kelas berakhir. Jangan beritahu pada Daddy-mu, okay?" ucap Mrs.Connel dengan nada lembut pada Madison yang sudah berhenti menangis.


"Jangan hukum mereka, Mrs.Connel.. Mereka tidak salah.." kata Madison dengan nada penuh kepalsuan.


Palsu.. Kenapa orang-orang di sini sangat palsu?


"Oh my.. Madison, kau benar-benar di didik dengan baik dari rumah.."


Aku menatap sekitar, menatap teman-temanku yang menunduk. Menatap mereka yang tak mau membelaku. Kumohon.. Kumohon bela aku.. Aku tidak salah. Aku tidak pernah salah. Apa kalian tidak membelaku karena aku gagap? Apa kalian tidak suka aku karena aku tidak bisa bicara normal seperti kalian? Atau karena aku tidak lahir di Amerika? Kenapa? Kenapa kalian sangat jahat padaku? Bukan salahku.. Bukan salahku terlahir berbeda seperti ini..


Bibirku bergetar, menahan diri untuk tidak menangis. Kalau aku menangis, aku takut lendir hidungku akan keluar lalu mereka akan menghinaku lagi. Jangan menangis.. Jangan menangis, Cassie. Kata Daddy, aku adalah anak yang hebat.


Aku mengangguk dua kali dan kembali duduk. Mrs. Connel mulai mengajar, tapi aku tidak bisa mendengarnya dengan baik. Sedih.. Aku sangat sedih. Aku ingin menangis, tapi aku lupa membawa tissue-ku. Bagaimana jika lendir hidungku keluar dan mengotori wajahku? Mereka akan menghinaku lagi. Lalu, aku melihat tangan Gerald mendorong secarik kertas berisi tulisan ke arahku.


-Maafkan aku tidak bisa membelamu, Cassie-


Itulah yang tertulis di sana. Entah mengapa, rasa sedihku seolah hilang begitu saja. Satu dukungan ini membuatku tidak merasa sedih lagi. Mommy benar, di antara kegelapan yang hitam, pasti ada satu titik cahaya terang. Aku mengambil pensil milikku dan membalas surat dari Gerald.


-Aku baik-baik saja. Terimakasih sudah membelaku-


-----------------------------------------------------------------------


Namun, aku hanya baik-baik saja hingga kelas Mrs.Connel berakhir. Setelah mendapat wejangan panjang, akhirnya aku bisa pulang bersama Gerald. Kami berdua berjalan di lorong sekolah yang dipadati oleh siswa-siswa lain. Miranda.. Aku ingin bertemu Miranda.


"A--yo-o..Ke-- Ru--Ru--Mahhh--Kuuu*..." aku mengucapkan sepatah kata demi sepatah kata tersebut pada Gerald.


(*Ayo ke rumahku)


"Boleh.. Aku ingin bermain ke tempatmu. Nanti akan aku buat baju yang lain untuk Blue, Green, dan Purple.."


Aku mengangguk senang dan tersenyum lebar. Terkadang, aku berpikir, kenapa Gerald suka bermain boneka-bonekaan, dari pada bermain robot-robotan seperti anak laki-laki yang lain? Namun, aku tak kunjung mendapatkan jawaban dari pertanyaanku. Terlepas dari itu semua, aku senang memiliki teman seperti Gerald.


"Kemarilah," tiba-tiba, tas punggungku di tarik oleh orang asing dan aku segera meronta.


"Cassie.. Lepas.. Lepas dia," teriak Gerald seraya menahan tubuhku dengan memegang kedua tanganku. Kugenggam erat tangannya dan berusaha lepas dari sosok yang menarikku tersebut.


Aku menoleh ke belakang dan menatap anak kelas lain yang berbadan besar. Berteriak. Aku berteriak dan meronta agar dilepas, tapi kekuatannya benar-benar besar. Man mungkin anak berbadan kecil sepertiku bisa melawannya. Di sisi lain, seorang anak lain yang bertubuh besar menarik Gerald lepas dariku.


"Ah.." aku mulai menangis saat tubuhku terus di tarik ke halaman belakang sekolah. Mommy.. Daddy.. Miranda.. Seseorang tolong aku. Tangisku semakin menjadi-jadi saat mendengar suara tawa Madison.


Kenapa? Kenapa sejahat ini?


"Lempar dia ke sini.."


Tanpa hati, anak yang menarikku tersebut melemparkan tubuhku ke atas tanah dengan sangat keras hingga membuat lutut dan telapak tanganku terluka. Aku meringis kesakitan dan menangis lagi semakin kencang.


"Lihatlah sampah masyarakat ini.. Berani-beraninya dia memegang tanganku dengan tangannya yang kotor."


Kedua matamu mengabur oleh air mata sehingga aku tidak bisa melihat jelas anak-anak yang mengerubuniku saat ini. Satu.. Dua... Lima.. Ada tujuh. Ada tujuh anak di sana.


Kumohon.. Kumohon jangan begini. Kumohon..


"Gunting.. Mana guntingnya! Mommy bilang pangkas rambut bisa membuang sial. Aku perlu memangkas rambutnya agar kesialan dari kita pergi juga.."


Aku meronta dan berusaha melarikan diri, tapi tidak bisa. Aku hanya menangis sejadi-jadinya saat mereka memegangi tangan dan kakiku dengan kuat, membuatku berbaring di tanah yang basah. Seseorang memegangi leherku, membuatku tak bisa menggoyang-goyangkan kepalaku. Sesak. Aku tak bisa bernapas.


"Jangan!" kata-kata lain keluar dari mulutku dengan sempurna, tapi aku tidak peduli kenapa hal itu bisa terjadi. Satu-satunya yang kupedulikan saat ini adalah orang-orang jahat yang berusaha mengunting rambutku.


"Tenang, Cassie.. Jika kau melawan seperti ini, model pangkasanmu akan rusak. Harusnya kau bersyukur dengan kebaikan hatiku untuk menggunting rambutmu secara cuma-cuma. Di tempat mana lagi kau bisa pangkas rambut secara gratis dari ahlinya, huh?"


"Ja--Jangan..."


Kumohon.. Jangan.. Jangan.. Jika kalian memangkas rambutku, nanti aku tidak bisa merasakan husapan lembut dari Daddy. Jika rambutku dipotong, Mommy tak akan bisa mengepang rambutku lagi. Jangan.. Aku ingin punya rambut panjang seperti Blue, Green, dan Purple. Jangan...


"Apa kau tidak memotong terlalu banyak, Madison?" kata salah satu anak yang memegangi leherku.


"Jangan memotongnya terlalu banyak, Madison.."


"Diam.. Biarkan saja.. Biarkan.. Kalian tinggal pegang saja, nanti aku suruh Daddy membelikan kalian tiket ke Disneyland"


Jangan... Kumohon... Huh. Aku tak bisa bernapas... Tidak bisa..


"Hei.. Mrs.Connel datang.. Mrs.Connel datang ke arah ini.." aku mendengar seseorang dari mereka berteriak panik, tapi aku tidak bisa melakukan apa pun. Dadaku terasa sesak karena leherku dicengkeram terlalu kuat. Tubuhku lemas dan aku benar-benar tidak bisa melihat dengan jelas wajah-wajah dari orang jahat itu.


"To...long.." hisakku di sela-sela tangisku yang mulai berhenti.


"Bagaimana.. Bagaimana ini, Madison?"


Tangan mereka melepas kaki, tangan, dan leherku. Tangan yang mencengkram leherku yang akhirnya lepas, membuatku bisa bernapas dengan bebas lagi. Aku memiringkan tubuhku ke arah kiri dan mulai terbatuk-batuk. Angin yang keluar dari mulutku menyebabkan helaian rambutku yang sudah digunting terbang ke udara.


Tidak.. Tidak..


"Ram..but...ku..."


Satu tanganku kuangkat ke arah kepala untuk memeriksa seberapa banyak rambutku yang dipotong.


"Ti..dak.." hisakku lagi penuh kehancuran ketika merasakan pada bagian-bagian tertentu kepalaku yang botak. Tubuhku gemetaran dengan kuat.


Rambutku.. Rambutku..


"Astaga.. Ada apa?" suara Mrs.Connel.. Oh my... Aku bersyukur. Lihat aku, Mrs.. Aku tidak salah... Aku tidak salah... Mereka yang salah.


"Itu ulah Madison, Mrs.Connel..." ucap salah satu dari mereka.


"Ah.. itu.. itu.." Madison bicara tergagap dan aku merasa senang. Akhirnya.. Akhirnya aku bisa membuktikan pada Mrs.Connel bahwa bukan aku yang salah.


"Pergilah.."


Ah... Apa?


"Pergilah kalian semua dari sini.. Madison, pergi dari sini. Biar Ibu yang urus..."


Jangan.. Jangan begini. Kumohon... Hukum dia.. Hukum mereka seperti kau menghukumku juga, Mrs. Connel.


"Yes, Mrs.. Apakah aku akan baik-baik saja, Mrs? Aku janji ayah akan memberi sponsor yang lebih besar.."


"Pergilah, nak.. Ibu tahu kau tidak salah.."


Tidak salah? Jadi mereka tidak salah? Jika mereka tidak salah, siapa yang harus disalahkan di sini? Aku korban.. Aku korban di sini, Mrs. Connel.


Aku menoleh ke arah Mrs.Robinson dengan mata nanar. Anak-anak yang merudungku itu satu per satu pergi dari sana. Kenapa? Kenapa kau melakukan ini? Apa salahku? Mereka yang salah.. Mereka yang salah..


"Cassie.. Ibu akan memanggil petugas kesehatan untuk menolongmu. Tunggulah di sini beberapa saat. Ibu akan datang dengan petugas kesehatan..."


"Nnnooo.. No.." bisikku seraya mengarahkan tangan kiriku yang gemetar hebat untuk meraih Mrs.Coneel, tapi.. Tapi, aku tidak mampu meraihnya. Dia pergi. Pergi begitu saja.


Kata nenek, perasaan benci itu tidak baik dan aku sebaik mungkin mematuhi perkataan nenek karena dia adalah sosok yang bijak di antara keluargaku. Namun, untuk kali ini, aku harus melanggar hal tersebut. Aku benci.. Aku benci Mrs.Connel.. Aku benci Madison.. Aku benci mereka semua..


-----------------------------------------------------------------------


Author POV


Miranda berlari dengan langkah penuh ketakutan sesaat mendengar informasi dari Gerald. Dia mengikuti teman adiknya tersebut melewati lorong sekolah yang sudah sepi menuju halaman belakang sekolah. Saat dia berbelok ke arah kiri, tubuhnya segera membeku. Matanya menatap penuh kengerian pada adik perempuannya yang meringkuk gemetaran di tanah. Ada rambut yang berserakan di sekitar tubuhnya. Miranda menutup mulutnya dengan kedua tangan, tidak percaya dengan apa yang dia lihat sekarang. Apa? Apa yang telah terjadi pada saudarinya tersebut? Siapa yang melakukan ini semua?


"Kak? Ayo kita bantu Cassie.." panggil Gerald yang sudah berjongkok di tanah hendak menolong Cassie.


"Cassie!" teriaknya sesaat dia tersadar. Air mata membanjir wajahnya dan dengan cepat dia berlari ke arah Cassie.


"No!... Adikku.. Adikku.."


***


Cassie POV


Aku kembali mengingat kenangan pahit tersebut. Suara tangisan Miranda masih kudengar jelas dikepalaku dan suara teriakan jahat Madison masih terngiang. Lalu, bayangan Mrs.Connel yang meninggalkanku sendiri terkadang masih menghantuiku.


Sejak kasus pemotongan rambut itu, Mom dan Dad akhirnya membuatku menceritakan semua perudungan yang kuterima dari Madison dan teman sekelasku. Mereka melakukan pengaduan ke sekolah, tapi tidak ditanggapi karena aku bukanlah orang penting dan memberi saran penyelesaian dengan permintaan maaf. Mom dan Dad tentu tidak terima. Akhirnya, orangtuaku mengajukan surat pengaduan pada dinas pendidikan dan aparat polisi untuk melakukan penyelidikan.


Semua saksi dan bukti CCTV dikumpulkan, walau sudah terbukti salah, Mrs.Connel hanya dijatuhi hukuman berupa pencabutan izin mengajar karena keteledoran dalam mendidik dan Madison hanya dipindahkan dari sekolahku menuju sekolah lain. Semua orang yang terlibat dalam perudunganku tidak mendapat hukuman yang setimpal dengan apa yang kurasakan. Itu tidak adil.. Benar-benar tidak adil.


Aku masih ingat jelas masa-masa aku menghadapi rasa traumatis yang kurasakan. Aku takut pada gunting, aku takut pada anak kecil berambut pirang seperti Madison, dan aku takut pada orang lain yang memegang pucuk kepalaku. Sejak saat itu pula aku sangat terobsesi memiliki rambut tebal.


Masa kecilku hanya diisi dengan sekolah dan sesi perawatan psikologis yang harus kujalani selama kurang lebih 10 tahun. Saat akhirnya aku perlahan sembuh, Mom dan Dad memutuskan bercerai. Itu benar-benar sebuah pukulan keras untukku, pukulan yang membuatku patah semangat untuk hidup.


Bertahun-tahun aku mengatasi rasa traumaku hingga membentuk versi terbaik dari diriku sekarang. Itu bukan perjalanan yang singkat. Benar-benar tidak singkat. Aku baru bisa berhenti mengkonsumsi obat penenang di usiaku yang ke-18 tahun. Di usiaku itu pula, aku dapat mengatasi rasa panikku.


Itu tidak terlepas dari dukungan ketiga teman dekatku, Miranda, dan juga Mom serta Dad. Walau mereka memutuskan berpisah, tapi keduanya tetap memastikan aku menerima cinta dan kasih sayang dari sosok orangtua.


Hingga akhirnya sekarang aku berusia 27 tahun. Aku benar-benar sudah bisa melupakan semua tentang masa laluku, bahkan aku juga sudah melupakan fakta bahwa aku pernah memiliki gangguan panik dan traumatis pas gunting serta anak berambut pirang. Sekarang, aku bisa menggunakan gunting tanpa mengingat masa-masa itu. Sekarang akhirnya aku bisa menggendong anak kecil berambut pirang tanpa rasa takutku. Namun, luka lama itu muncul lagi setelah sekian lama Muncul lagi dengan cara yang berbeda. Cara yang begitu menyakitkan.


"Huh.." aku mendesah kesal seraya menatap Christov yang tertidur pulas di atas ranjangku. Tangan kananku memijat pelipisku yang terasa sakit.


"Sial.. Kenapa aku selalu mencintai orang yang salah? Kenapa?"


****


Miss Foxxy


Jangan lupa ikutan giveaway 💜💜 dan beri dukungan dari kalian semua. I love you. Maaf satu chap isinya ceritain masa lalu doang. Hehe.