Remember Me

Remember Me
Nugget and Salmon



Happy Reading


***


"Hai, Nugget. Salmon.." Christov bersimpuh di teras apartemen untuk mengelus bulu Salmon dan Nugget yang baru saja turun dari mobil Christina. Dia suka anjing, tapi Christov takut tidak bisa merawat anjing dengan baik karena merawat dirinya sendiri saja dia sudah kewalahan.


"Bantu aku," kata Christina pada Christov yang baru saja turun dari mobil dan hendak berjalan ke bagian bagasi.


Christov berdiri dan kedua anjing itu mengikut berjalan ke arah Christina. Saat sudah berdiri di depan bagasi mobil yang terbuka, rahang bawahnya langsung jatuh ke bawah saat melihat dua koper ukuran besar yang masing-masing tercetak dengan foto Nugget dan Salmon.


"Apa itu?" tanya Christov seraya menunjuk ke arah koper itu.


"Koper yang berisi peralatan dan perlengkapan Nugget dan Salmon.."


"Huh? Kenapa banyak sekali? Apa saja isinya?"


Christina mengangkat satu koper dan Christov mengikut untuk mengangkat yang satunya.


"Makanan, cemilan, vitamin, mainan favorit, selimut, tempat tidur, dan beberapa helai baju kesukaan mereka."


Christov menatap heran pada Christina yang tengah mengangkat koper di anak tangga teras.


"Biar aku saja," dengan mudah, Christov mengangkat dua koper itu pada kedua tangannya untuk menaiki anak tangga teras, "Anjingmu bahkan memiliki fasilitas hidup yang jauh lebih mewah dari fasilitasku,"


"Jangan berlebihan," Christina kemudian mengambil posisi bersimpuh di depan kedua anjingnya, "Jadilah anjing yang baik saat bersama Paman kalian. Okay? Mama akan pergi sekarang," dipeluknya Nugget dan Salmon sebagai pelukan perpisahan.


Bagaimana bisa dia mengatakan ini tidak berlebihan? Pikir christov.


"Jaga mereka baik-baik untukku," ucap Christina setelah berdiri, "Aku akan mengirim sedikit uang untukmu nanti,"


"Tidak perlu. Aku melakukannya dengan suka rela,"


Christina menurunkan sedikit kacamata hitamnya untuk melirik christov, "Aku memberinya agar kau bisa memiliki fasilitas semewah anjing-anjingku."


"Oh.. okay," kata Christov seraya mengangguk kecil, "Thank you and bye.."


Sifat sakartisnya tidak pernah berubah. Batinnya.


"Bye, Nugget. Bye, Salmon..."


Christina menuruni tangga dan masuk ke dalam mobil, "Terimakasih, Christov. Bye..."


Christov melambai kecil dengan tangan kanannya. Dia tetap berdiri di sana untuk beberapa saat hingga mobil Christina hilang dari jarak pandangnya. Setelah itu, matanya menatap ke arah Nugget dan Salmon yang juga tengah menatap ke arah perginya Christina.


"Nugget, Salmon.. Sekarang, ayo kita bertemu calon bibi kalian.."


***


"Oh my ghost!*" Cassie memekik senang ketika melihat Nugget dan Salmon memasuki apartemen Christov. Matanya menatap kedua anjing itu dengan mata berbinar.


(*Semacam ungkapan keterkejutan)


"Mereka tidak terlalu ramah pada orang baru, Cassie.." peringat Christov kesekian kalinya.


"Ugghhh.." Cassie mengepalkan kedua tangan pada kedua sisi wajahnya saking gemasnya melihat benda hidup berbulu tersebut, "Tapi, aku ingin memeluk mereka.."


"Tunggu," Christov duduk di lantai untuk melepas ikatan tali Nugget dan Salmon dari koper serta membongkar apa saja isi dari koper itu.


Dari jarak tertentu, Cassie melambai-lambai untuk mengajak kedua anjing yang bersembunyi di balik tubuh Christov datang ke arahnya.


"C'mon. Nugget.. Salmon.. Ayo.. Kemari.. Datanglah pada kakak cantik ini,"


(*Ayo)


Namun, baik Salmon maupun Nugget, tidak ada yang bergerak dan tetap menatap takut ke arah Cassie. Di sisi lain, Christov menatap wajah menggemaskan Cassie


"Tangkap," Christov mendorong dua stoples kecil berisi camilan Nugget dan Salmon ke arahnya, "Itu cemilan kesukaan mereka. Mungkin kau bisa mendekatkan diri pada mereka dengan camilan itu,"


Kedua tangan Cassie segera menyambar dua stoples itu dan tersenyum lebar, "Wah.. Aku akan memakan ini sendiri," katanya seraya menggoyang-goyang stoples itu hingga terdengar bunyi yang dihapal Nugget dan Salmon dengan jelas.


"Mereka tertarik. Sana. pergi ke arah sofa dan mereka akan mengikutimu,"


Cassie segera berdiri dan berjalan perlahan ke arah sofa. Tangannya tetap menggoyang-goyang stoples. Dari balik tubuh Christov, Salmon dan Nugget perlahan bergerak, hendak mengikuti Cassie. Namun, keduanya tampak ragu. Dengan lembut, Christov mengelus kepala mereka.


"Pergilah.. Buat peruntungan dengan calon bibi kalian," bisiknya pelan.


"Salmon... Nugget... Come here.*"


(*Ayo kemari)


Kedua anjing, dengan langkah perlahan mulai berjalan ke arah sofa, tempat Cassie tengah duduk dan bertingkah seolah tengah memakan camilan anjing itu. Dia pasti berhasil meluluhkan hati nugget dan Salmon. Aku saja berhasil terpikat. Pikirnya dan mendadak, Christov merasa sedih dengan pikirannya tersebut.


Berdehem kecil, Christov kembali memeriksa perlengkapan Salmon dan Nugget. Dia menemukan makanan utama kedua anjing tersebut dalam stoples dan membawanya menuju dapur agar digabungkan pada perlengkapan piknik mereka.


Selama satu jam, Christov mempersiapkan semuanya perlengkapan mereka sendirian saja. Dia mendapatkan hiburan dengan menatap Cassie yang sudah menjalin pertemanan baru bersama kedua anjing tersebut.


Sudah kuduga. Dia pasti berhasil.


Cassie menoleh ke arahnya dan tersenyum lebar, "Mereka menyukaiku sekarang..."


"Lucky you*.. Aku dulu butuh waktu sekitar seminggu agar mereka memercayaiku," ucap Christov dari dapur, "Ayo.. Sarapan,"


(*Beruntungnya dirimu)


Wanita itu berjalan ke arahnya dengan Salmon dan Nugget yang mengikut di belakang tubuh Cassie.


"Huh.. Kau jadi mempersiapkan semuanya sendiri," ucap Cassie melihat keranjang coklat berisi berbagai makanan.


"Tidak banyak kok... Aku hanya menyusun makanan yang sudah kita siapkan tadi pagi. Makanlah ini," Christov mendorong piring berisi sandwich telur dan segelas jus ke arah Cassie


"Thank you,"


"Setelah selesai makan. Kita akan mandi terlebih dahulu dan pergi," kata Christov seraya menikmati sandwich-nya.


"Mandi bersama, hm?" tanya Cassie dengan nada nakal dan itu menggundang gelengan kecil dari Christov.


"Mandi. Sendirian," ucapnya tegas, "Kita harus berangkat sesegera mungkin. Lalu lintas di akhir pekan sangat macet,"


Cassie tertawa kecil, "Bercanda. Aku bercanda.."


Dalam waktu kurang dari sepuluh menit, Cassie dan Christov selesai dengan sarapannya dan pergi ke kamar mandi yang berbeda untuk bersiap-siap. Christov telah siap sedia dalam waktu sepuluh menit. Mengenakan kaos putih, celana khaki hijau army selutut, dan sneaker. Dia duduk di sofa bersama Salmon dan Nugget, menunggu Cassie.


Tidak menunggu lama setelah Christov duduk, Cassie muncul dan menuruni tangga. Dia memakai jumpsuit jeans dengan crop top ketat sebagai dalaman. Dia juga memakai bucket hat warna hitam serta sandal jepit.


"Ready to go!* Wohoooo!" teriak Cassie dan Christov tertawa kecil.


(*Siap untuk pergi)


"Let's go*.."


(*Ayo pergi)


Christov membawa perlengkapan mereka di kedua tangannya dengan Cassie memegangi tali Nugget dan Salmon. Mereka menaiki lift dan turun menuju basement. Setelah sampai di mobil, Christov dan Cassie menyusun semua perlengkapan mereka.


Ke-empatnya masuk ke dalam mobil dengan Christov duduk di kursi pengemudi dan Cassie duduk di kursi penumpang bersama kedua anjing tersebut. Mata Christov melirik ke arah Cassie yang nampak bersenang-senang dengan teman barunya.


"Jadi kau lebih memilih duduk dengan mereka, daripada denganku?" ucapnya seraya menyalakan mesin mobil.


"Yaps.." jawaban enteng dari Cassie membuat Christov membuka mulutnya. Heran dan merasa sedikit cemburu.


"Boleh aku nyalakan musiknya?" tanya Cassie.


"Boleh asal kau bernyanyi dengan suara yang tidak terlalu besar,"


"Yes, Sir.." Cassie menghubungkan pemutar musik dengan ponselnya dengan bluetooth dan tidak menunggu lama, lantunan musik terdengar diikuti suara nyanyian Cassie. Nyanyian itu mengiring perjalanan mereka. Hanya saja, pada dua puluh menit pertama saja karena Cassie nampaknya sudah kehabisan suaranya sendiri.


Christov melirik melalui kaca spion. Cassie terdiam dan termenung di sana dengan Salmon dan nugget yang sudah tertidur.


"Capek?"


Cassie mengangguk kecil, "Boleh aku pindah ke depan?"


"Boleh," dia menghentikan mobilnya di pinggir jalan dan membiarkan Cassie untuk berpindah ke kursi depan.


"Minum," tangannya memberikan sebotol air mineral pada Cassie. Christov kemudian memutuskan sambungan pemutar musik dari ponsel Cassie untuk menyambungkan miliknya.


"Macet sekali," gumam Cassie saat tujuan jalan tol masih jauh dari posisi mereka.


"Akhir pekan. Jadi wajar. Tidurlah."


Cassie tersenyum tipis dan menatap Christov yang sudah melajukan mobil kembali.


"Kau sangat baik, Christov.." bisiknya lembut kemudian menguap kencang.


Christov terdiam. Tangannya malah mencengkram setir mobil semakin kencang karena mendengar itu.


"Bangunkan aku jika kau merasa capek mengemudi. Aku bisa menggantikanmu," gumam Cassie pelan dengan mata terpejam, bersiap untuk tidur.


Christov mengecilkan suara pemutar musik. Matanya menatap lurus ke jalan dan tersenyum kecut. Apa ini? Pikirnya. Mengapa dia melakukan semua ini dengan Cassie? Wanita yang hanya dia kenal selama sebulan saja. Mereka tidur bersama, berbagi cerita, dan berbagi tawa layaknya pasangan kekasih. Bahkan dia memberi kartu akses apartemennya pada Cassie karena dia benar-benar percaya pada wanita itu.


Kenapa dia melangkah sejauh ini? Padahal hubungan mereka hanyalah sebatas teman. Dia berjanji untuk menikmati ini hanya sebentar saja sebagai bentuk pelariannya dari masalah, tapi Christov malah melangkah terlalu jauh dan menganggap hubungannya dengan Cassie adalah nyata. Abu-abu. Hubungan mereka tidak jelas ada di posisi apa. Teman macam apa yang meniduri temannya?


Jika hanya sekadar menikmati, bukankah sudah saatnya Christov berhenti? Bukankah dia harusnya berhenti sekarang sebelum dia melangkah semakin jauh dan mengharapkan sesuatu yang tidak akan pernah dia dapat dari wanita itu?


Cassie tidak menginginkan hubungan dengannya. Walaupun Christov merasa Cassie dekat padanya, tapi dia tahu bahwa wanita itu membangun dinding tak kasat mata antara mereka. Dinding yang benar-benar sulit ditembus. Sedih. Dia merasakan perih di dadanya memikirkan itu.


Akhirnya dia sadar bahwa selama ini Cassie tidak menatapnya sebagai seorang pria, tapi hanyalah sebagai teman pria. Jika Cassie menatapnya sebagai pria, pasti wanita itu akan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Clara.


Sampai kapan mereka akan melakukan kegilaan ini? Sampai salah satu dari mereka bosan dan memutuskan berpisah? Namun, Christov tidak akan pernah bosan karena dia menginginkan Cassie. Namun, tidak dengan Cassie.. Wanita itu tidak menginginkan dirinya. Tidak lama lagi, dia akan bosan dan hubungan abu-abu mereka akan berakhir. Meninggalkannya lagi dalam kesendirian. Berpaling darinya..


"Sial.." umpatnya pelan memikirkan bayangan Cassie berpaling darinya. Perasan takut akan sendirian. Dia takut orang berpaling darinya.. Aku takut.


"Are you okay?*"


(*Kau baik-baik saja?"


Tubuh Christov terperanjat saat mendengar suara pelan dari Cassie. Dia menoleh ke arah Cassie yang sudah terbangun. Wanita itu mengucek-ngucek kedua kelopak matanya dan menguap lagi.


"Kita sudah sampai?" suaranya tiba-tiba sumringah saat melihat tanaman gandum di kanan-kiri jalanan. Christov tersadar setelah mendengar perkataan Cassie. Matanya menatap sekitar dan menyadari mereka sudah sampai di daerah pertanian. Huh.. Karena melamun dan memikirkan tentang hal berat, dia sampai tak sadar mereka sudah sampai. Dia mendesah lega. Sebuah keberuntungan dia bisa mengemudi dengan aman saat melamun.


"Ice cream!" Cassie tiba-tiba berteriak dan membuat Christov terkejut. Teriakan Cassie bahkan membuat Nugget dan Salmon terbangun dari tidurnya.


"Jangan berteriak, Cassie," ucap Christov dengan nada tegas.


Tangan kanan Cassie memukul-mukul pelan lengan kanannya, tidak peduli dengan perkataan Christov.


"Berhenti. Kita berhenti sebentar. Ada truk penjual ice-cream keliling,"


Christov menatap Cassie dengan heran sebelum akhirnya tertawa kecil, "Dasar.." gumamnya pelan. Dia menepikan mobil dan Cassie segera berlari keluar menuju mobil penjual ice-cream itu. Nugget dan Salmon pun ikut berlari keluar mengikutinya. Christov tertawa, melihat tingkah Cassie yang tengah berdiri di depan jendela penjual ice-cream.


Seperti anak kecil saja.


"Astaga.."


Cassie menoleh ke arahnya, "AYO!" teriaknya dan Christov menggeleng. Wanita itu menyipitkan mata dan berlari ke arahnya.


"Kau tidak mau? Hanya ada ice-cream loli memang, tapi kelihatan enak," katanya dari laur mobil.


"Tidak.. Aku tidak suka manis,"


"Dasar.. Kau butuh sesuatu yang manis untuk membuatmu bahagia. Aku melihatmu tadi nampak sedih dan murung saat mengendarai mobil. Biarkan aku membelimu satu. Ada rasa buah-buahan segar yang tidak terlalu manis. Okay?"


"Terserah.."


Cassie tersenyum lebar dan berlari lagi ke arah mobil truk Ice-Cream. Dari dalam mobil, Christov menatap mereka dan tersenyum senang. Dia seperti anak kecil saja. pikirnya. Tidak menunggu lama, Cassie kembali dengan dua tangkai es loli di kedua tangannya. Nugget dan Salmon pun masing-masing mendapatkan ice-cream.


"Ini.." Cassie memberikan satu es loli pada Christov sesaat dia masuk ke dalam mobil dan dia menerimanya. Nugget dan Salmon duduk di bayangan mobil untuk menikmati ice-cream dan juga angin sepoi-sepoi yang sejuk. Cassie sengaja membuka pintu mobil untuk menikmati angin sejuk itu juga.


"Uhm.. Ayo, makan.. Kau tidak makan makanan murahan seperti ini, yah?" tanya Cassie seraya menghisap es loli yang panjang itu. Menjilatinya dengan kesungguhan hati.


"Apa rasa ice-cream itu lebih enak dari pe-nis-ku?" tanya Christov spontan karena membayangkan kembali kejadian luar biasa di kamar mandi semalam.


Cassie membelalakkan mata dan terbatuk-batuk, terkejut dengan pertanyaan Christov yang ca-bul.


"Sialan! Ternyata kau punya pikiran yang kotor, Christov.."


Pria itu tertawa dan mulai memakan ice cream miliknya yang mulai meleleh.


"Aku belajar banyak darimu,"


"Hei.. Aku adalah wanita polos yang begitu murni..."


"Pfft.." Christov menutup mulutnya dengan punggung tangan untuk menahan tawanya.


"Dasar.. Huh.. Pria aneh sialan."


Christov tidak marah dengan umpatan Cassie karena begitulah Cassie. Dia nyaman. Dia tertawa. Mereka berdua tertawa. Lagi dan lagi, keduanya berbagi tawa. Untuk hari ini saja. Pikir Christov. Untuk hari ini saja dia ingin menikmati saat terakhir sebelum kembali ke dunia mereka masing-masing. Dia tahu perpisahan mereka akan datang, tapi sebelum itu datang, Christov ingin menikmatinya untuk sekali lagi saja.


Aku takut ditinggalkan orang lain, tapi aku tida takut meninggalkan orang lain. Batinnya pelan.


"Hey, Cassie.." panggilnya.


"Yah?"


Apa kau mau menjadi bibi Salmon dan Nugget?


"Apa? Kenapa kau diam?" tanya Cassie kembali saat melihat pria itu hanya menatapinya dalam diam.


Dia tersenyum tipis, "Bibirmu kotor," katanya seraya mengusap ujung bibir Cassie dari ice-cream, "Kau selalu saja makan belepotan seperti ini.."


"Itu tandanya aku sangat menikmati makananku,"


Tangan Christov mengelus bibirnya lembut dan kembali termenung. Cantik. Pikirnya. Mendadak, dia menarik tangannya dan bersandar di kursi sebelum pikirannya bercabang ke arah yang tak seharusnya.


Dia cantik, tapi tak bisa dimiliki.


***


Miss Foxxy


Yaps. Masalah dari cerita akan dimulai dan bagaimanapun endingnya, mari kita terima dengan berlapang dada. Jadwal update aku itu tidak menentu, tapi author usahakan update 4-5 chapter perminggunya.


Ada event. Kuy ikutan.. Jangan lupa dukung author selalu