Remember Me

Remember Me
I'm Enchanted



Happy Reading


****


"Untung buketnya tidak rusak.." gumam Christov seraya memberikan Cassie buket sayuran tersebut.


Cassie tertawa kecil, "Aku tidak tahu kau sekreatif ini.."


"Profesiku sebagai arsitek bukan tanpa alasan," dia menarik koper Cassie dan satu tangan menggandeng tangan wanita itu untuk pergi, "Kau suka?"


Cassie menyandarkan kepalanya pada lengan Christov, "Tentu saja.. Selain indah dipandang mata, sayuran dan buah ini bisa kita konsumsi.."


"Aku senang kau suka.."


Sesampainya di mobil, Christov memasukkan koper ke dalam bagasi dan bergabung di dalam mobil bersama Cassie yang sudah masuk terlebih dahulu. Dia menyalakan mesin mobil lalu melajukannya menuju jalan raya.


"Di mana trophimu?" tanya dia pada Cassie yang tengah mengutak-atik pemutar musik.


"Dalam koper..."


"Kau tampak tidak senang. Kenapa?"


"Aku sudah biasa dapat trophi seperti ini jadi begitulah.." ucapnya dengan cengiran lebar. itu mengundang tawa Christov.


"Dasar sombong.."


"Aku tidak sombong," Cassie mengelak dan bersamaan dengan itu lantunan lagu perlahan mulai di pemutar musik mobil.


Christov melirik sekilas pada Cassie yang duduk bersandar seraya menatapinya dengan tatapan lembut.


"Lagu apa itu?"


"Dengarkan saja..."


Christov mengangguk kecil. Sejak bersama Cassie, dia memang semakin sering mendengar lagu dengan lirik. Christov terdiam beberapa saat, menunggu Cassie berhenti menatapinya. Namun, wanita itu tak kunjung berhenti.


"Jangan menatapiku seperti itu..."


"Kenapa? Apa aku tidak boleh melihat kekasihku sendiri?"


Dia tertawa kecil, tersipu.


"Jangan menggodaku."


"Ckckck.." Cassie berdecak lidah, "Lihat? Kau orang yang gampang memerah jika dipuji.  Telingamu sampai memerah seperti itu.."


"Aku hanya begitu jika kau yang memujiku," dia meraih tangan kiri Cassie dan mengecupnya dengan lembut. Sesat kemudian, dia terdiam lagi ketika suara penyanyi dari lagu itu mulai terdengar. Christov menoleh sekilas ke arah Cassie.


"Itu suaramu, bukan?" tanyanya dengan nada tak yakin. Christov memang jarang mendengar wanita itu bernyanyi di hadapannya dan mendengar suara penyanyi di lagu yang bermain ini membuat dia ragu. Mana mungkin Cassie bernyanyi seperti ini.


"Apa itu suaramu?"


"Menurutmu?"


"Keraskan volumenya, Cassie.." pinta Christov dan wanita itu mematuhinya


Kau melihatku berdansa di tengah kerumunan..


Menari seperti orang gila seolah tak ada hari esok..


Lalu kita bertemu secara tak sengaja..


Aku dan kamu..


Di tengah perkelahian hebat..


Kau datang bak pangeran berkuda putih..


Menolongku.. membawaku pergi dari kegilaan...


"This about us..*" bisik Christov ketika mendengar lirik demi lirik dengan sungguh-sungguh. Lagu ini seolah membawanya kembali ke memori saat pertama kali mereka bertemu di pesta.


(*Lagu ini tentang kita..)


Aku melihatmu..


Berambut hitam legam bak bulu gagak.


Matamu berkilauan di bawah cahaya...


Aku terpesona..


Bibirmu memiliki warna merah yang kusuka..


Aku melihatmu...


Dengan kemeja biru dan celana jeans seadanya..


Rambut disisir rapi ke belakang..


Aku terpesona..


Lagi-lagi.. Aku terpesona..


Pria pendiam yang misterius..


Kegilaan lain datang..


Kau membawaku pergi dari satu kegilaan menuju kegilaan lain


Berdua.. Aku dan kamu..


Di tengah ruang segi empat beratap..


Kau menyentuh kulitku dengan tanganmu yang dingin...


Aku melihatmu..


Berambut hitam legam bak bulu gagak..


Matamu menggelap di bawah cahaya temaram..


Aku terpesona..


Bibirmu memiliki warna merah yang kusuka..


Menyentuhku dengan lembut..


Aku melihatmu..


Berdiri di tengah ruangan tanpa kemeja biru


Aku terpesona..


Lagi-lagi.. Aku terpesona


Pria pendiam yang misterius


Pria pendiam yang pergi tanpa jejak...


Lagi-lagi.. Aku terpesona..


Christov terdiam ketika akhirnya lagu itu selesai dan digantikan dengan musik piano. Ditarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Dia tak berani melirik ke arah Cassie karena Christov benar-benar kehilangan kata-kata saat ini. Dia tak tahu mengapa seperti ini.


"Judulnya, I'm Enchanted*.." ucap Cassie untuk memecahkan keheningan yang menyelimuti keduanya, "Aku sudah lama menulis lagu ini. Mungkin setelah pertemuan kita yang kedua di Sunday Tea Party.."


(*Aku terpesona)


Christov masih terdiam, menunggu Cassie menyelesaikan penjelasannya.


"Aku memang selalu menulis lagu dari pengalamanku, tapi untuk lagu yang ini, aku tak akan menjualnya. Aku ingin menyimpannya sebagai koleksi pribadi."


"Kau menjelaskanku dengan sangat baik di dalam lagu itu..."


Cassie tertawa kecil, "Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku sudah terpesona padamu sejak awal pertemuan kita.. Well.. Sejauh ini, aku sudah menulis 10 lagu, tapi aku masih belum melakukan perekaman.Huh.. Aku tidak pernah menulis lagu sebanyak ini tentang seseorang. Hanya kau.. Hanya kau, Christov. Kau memberiku inspirasi yang tidak pernah kudapatkan dari siapa pun Christov, bahkan Jason sendiri.."


Christov menoleh sekilas ke arah Cassie.


"Aku hanya ingin kau tahu jika aku benar-benar mencintaimu, Christov.."


Tubuh Christov bergetar dan dadanya bergemuruh oleh emosi yang tiba-tiba membuncah dalam dirinya. Tanpa ragu, dia memutar stir mobil ke arah kiri menuju lahan parkiran di sebuah taman.


"Hey? Kita ke mana?" tanya Cassie dengan nada panik.


"Melakukan kegilaan yang lain," katanya dengan suara rendah. Dia menghentikan mobil dan memarkirkannya di parkiran yang berada di antara mobil kemudian mematikan mesin mobil. Beberapa orang tampak masih lalu lalang di sana dan Christov benar-benar tak peduli akan itu.


"Kegilaan apa maksudmu?"


Dengan gerakan terburu-buru, Christov melepas sabuk pengamannya lalu mengarahkan kedua tangan pada leher Cassie. Menarik kepala wanita itu ke arahnya untuk mencium bibir Cassie yang ranum. Dia tidak menolak dan Christov melakukan gerakannya semakin berani.


Bibirnya me-lu-mat bibir Cassie dengan penuh rasa lapar. Sangat menggebu-gebu seolah tak ada hari esok. Christov melenguh dan Cassie mengikut. Wanita itu melenguh lagi dalam pa-ngu-tannya, membuat Christov semakin berani dan menggila. Tangan kanannya merayap masuk ke balik kaos Cassie dan merayap naik menuju--


"Stop.." Cassie tiba-tiba menarik diri dari Christov. Tangannya menarik tangan Christov lepas dari tubuhnya. Napas keduanya naik turun dengan cepat. Mata Christov menatapnya kebingungan. Sisa-sisa naf-su yang masih memenuhi tubuh Christov membuat pria itu tak berpikiran jernih.


"Kenapa?"


"Aku tak mau melakukan ini di mobil," Christov terdiam, "Terutama di tempat rawan seperti ini.."


Seluruh ga-i-rah dan naf-sunya seolah hilang begitu saja saat melihat tatapan sedih dari Cassie. Dilipat bibirnya membentuk garis lurus keras dan mengalihkan tatapannya ke arah lain. Marah... Dia merasa marah pada dirinya sendiri. Hah.. Bisa-bisanya dia kehilangan batas seperti ini.


"I'm sorry.."  bisiknya parau, "Maafkan aku.. A--Aku.. Aku hanya.. Hanya.."


"Lihat aku.." pinta Cassie seraya menggenggam tangan kanannya, "Christov.. Please.."


Dengan gerakan ragu, Christov memutar kepalanya ke arah Cassie. Kedua matanya menatap Cassie dengan tatapan penuh rasa bersalah.


"That's okay... Aku juga memiliki fantasi melakukannya bersamamu di mobil, tapi tidak dikeadaan seperti ini. Masih ada beberapa orang yang lalu-lalang di taman ini..."


"I'm sorry.. Aku kehilangan batas.. A--Aku tak tahu apa yang kupikirkan saat melakukannya. Hati dan pikiranku seolah terbang ke langit tertinggi karena lagu, pujian, dan ungkapan perasaan yang kau berikan.. Itu membuatku tak berpikir jernih.."


Cassie mengangkat tangan Christov ke arah mulut dan mengecupnya berulang kali, "Jangan sedih.. Semua orang terkadang begitu. Bisakah kita pulang sekarang? Aku lapar.."


Christov membuang muka, "Padahal, kau baru menerimaku, tapi aku sudah melakukan kesalahan seperti ini.."


"Ayolah, Christov.. Itu bukan masalah besar. Aku tidak marah, hanya terkejut saat tanganmu berusaha meraih pa-yu-da-ra-ku.."


"Bagiku itu masalah besar.."


Cassie menyipitkan mata dan melepas tangan Christov, "Kalau begitu aku akan pulang dengan taxi saja.."


Christov buru-buru memutar kepala dan menarik tangan kiri Cassie dengan kedua tangannya, "Okay.. Okay.. Mari kita pulang..."


Cassie tersenyum lebar, "Bagus.. Jangan cemberut terus.."


"Hrm.." Christov kembali menyalakan mesin mobil dan melajukannya kembali ke jalan raya.


"Kau ingin mendengar lagu apa? Piano? Beethoven?" ucap Cassie dengan nada ala-ala pelayan restoran dan itu membuat suasana di antara mereka mencair.


"I'm Enchanted.." bisik Christov dengan senyum tipis dan senyum itu menular pada Cassie.


"Akhirnya kau mau juga mendengarkan lagu dari abad ini. Sebuah langkah kemajuan yang hebat.."


"Aku suka lagu yang ini saja.."


"Tetap saja itu sebuah kemajuan dan kau suka karena ini lagu ciptaanku.."


Christov melirik sekilas ke arahnya, "Aku tak sabar mendengar lagu yang lain.."


"Menulis lagu tidak mudah tahu. Terutama ini semua lagu tentangmu.. Argh.. terkadang memikirkannya membuatku kesal... Kau harus membayarku,"


"Dengan apa? Uang?"


"Nuh-uh*.. Aku tidak perlu uangmu..."


(*Tidak)


"Jadi?"


"Hah.. Sudahlah. Kita bicarakan lain kali saja. Apa makan malam kita?"


"Slice beef.. Aku sengaja membeli daging sapi yang tipis agar cepat matang.."


"Mmm.. Aku benar-benar kelaparan. Saat di pesawat, mereka hanya memberiku makanan dingin yang rasanya cukup aneh..,"


"Seharusnya, kau memilih penerbangan X,"


"Harganya mahal.. Aku tak mau menghabiskan uang sebanyak itu,"


"Kau benar.."


Keduanya terdiam dan mendengarkan lagu ciptaan Cassie tersebut berulang kali hingga mereka hampir sampai di kawasan apartemen Christov.


"Kita sampai.." pekik Cassie saat mobil mereka memasuki wilayah apartemen Christov.


"Mandilah.." kata dia seraya mengangkat koper Cassie menuju lantai atas.


"Thank you," Cassie meyngcup pipi Christov sesaat keduanya sampai di lantai atas.


"Aku akan memasak. Jadi jangan mandi terlalu lama..."


"Okay, mon cherry*.."


(*Sayang)


Christov menghentikan langkahnya yang menuruni anak tangga untuk menoleh ke arah Cassie, "Mon Cherry?"


Cassie mengangguk kecil.


"Aku suka sebutan baruku..." dia kembali melangkahkan kaki dengan senyum senang.


Sesampainya di dapur, Christov menyiapkan teflon untuk memanggang irisan daging sapi yang sudah dimarinasi. Setelah hampir memasak setengah dari daging sapi tersebut, Cassie bergabung dengannya di dapur dengan gaun tidur.


"Whoa.. Wangi apa itu?" kata wanita itu dengan suara penuh antusiasme


"Daging sapi tentunya. Duduklah agar kita makan bersama.."


Cassie duduk di meja bar dan melihat ke arah meja pantry, tempat Christov tengah memasak di atas kompor listrik.


"Air liurku sudah menetes.."


Christov tertawa kecil dan mendorong satu piring irisan daging matang ke arahnya, "Cobalah.."


"Boleh aku makan lebih dulu?" tanya Cassie dengan kedua tangan yang sudah memegangi garpu dan senduk. Christov terkekeh.


"Makanlah.. Ini hanya tinggal sedikit lagi."


"Apa kita bisa menghabiskan semua ini?"


"Ukurannya sama seperti ukuran potongan daging steak biasa. Dagingnya hanya kelihatan lebih banyak karena dalam bentuk irisan.. Makanlah.."


"Baiklah, kalau begitu...  Selamat makan..."


Christov bergabung dengannya setelah lima menit dengan daging yang sudah matang semuanya. Sepanjang menikmati makan malam, dia dan Cassie saling menceritakan pengalaman mereka berdua. Christov mendengar dengan seksama cerita Cassie saat di New York.


"Siaran ulangnya akan dilakukan besok malam.."


"Kita harus menontonnya bersama.. Di saluran telivisi mana?"


"Saluran televisi W.. Lagian, itu hanya acara penghargaan kecil. Tidak sehebat yang kau pikirkan, Christov.."


"Aku tidak peduli itu kecil atau besar. Yang kupedulikan adalah bahwa kekasihku tampil di televisi.."


"Astaga..."


"Omong-omong.. Aku belum melihat keberadaan trophimu.."


"Kita lihat nanti saja..."


"Okay.. Apa enak? Apa masakanku enak?"


Cassie mengangguk semangat, "Makananmu selalu enak. Aku heran kenapa tanganmu sangat berbakat memasak sesuatu?"


"Baguslah kau suka.."


"Aku berharap bisa merasakan masakanmu seumur hidupku....." ujar Cassie santai, tapi di sisi lain, Christov merasakan tubuhnya membeku dalam waktu sepersekian detik. Dia kembali melanjutkan mengunyah daging dalam mulut dan memikirkan perkataan Cassie.


Seumur hidup? Bolehkah?


****


Christov POV


Aku keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit di pinggang. Aku memilih mandi untuk ketiga kalinya pada hari ini karena tubuhku dibanjiri oleh keringat saat memasak daging untuk makan malam kami tadi. Mataku menatap kamar yang diselimuti oleh cahaya temaram. Suara film dari televisi terdengar dan saat kakiku melangkah semakin masuk, aku menemukan Cassie sudah tertidur.


Aku melirik jam dinding yang sudah hampir menunjukkan tengah malam. Tanganku meraih remote televisi dari samping ranjang dan hendak mematikan televisi. Namun, aku mengurungkan nait saat melihat sebuah trophi berada di bawah meja televisi. Kuraih thropy tersebut lalu mengambil posisi duduk di ujung ranjang.


"Harusnya aku ikut denganmu ke New York.." bisiku pelan, "Aku ingin melihatmu secara langsung saat menerima ini.."


Yah.. Dari hatiku yang paling dalam, aku ingin menyaksikan Cassie menerima penghargaan ini secara langsung. Namun, jika aku meminta ikut dengannya, Cassie pasti menolak. Dia takut jika orang lain melihatnya bersama pria lain.


"Christov?" panggil Cassie dengan suara serak dari balik tubuhku. Aku memutar kepala dan melihat wanita itu sudah dalam posisi duduk. Menguap seraya mengucek-ucek mata kirinya. Rambutnya tampak acak-acakan, tapi dia tampak cantik dalam balutan piyamanya.


"Jam berapa?" tanya Cassie lalu menguap lagi dengan lebar hingga membuat rahang bawahnya bergetar.


"Pukul setengah dua belas malam. Kenapa kau bangun? Tidurlah..."


"Aku tiba-tiba ingin buang air kecil.." Cassie menguap lagi seraya mengambil posisi merangkak menuruni ranjang. Kedua mataku mengikuti arah kepergian Cassie hingga hilang di balik pintu kamar mandi. Lalu, tatapanku kuarahkan kembali pada trophi milik Cassie.


Cassie itu wanita mandiri, cantik, pekerja keras, lucu, dan berprestasi serta hal yang terpenting, aku menyukai dia. Aku tidak pernah menyukai seseorang seperti ini sebelumnya. Malah, aku berpikir jika aku jauh lebih mencintai Cassie dari pada diriku sendiri. Padahal, baru tiga bulan berlalu sejak pertama kali bertemu dengannya. Namun, angan-anganku sudah berkelana untuk menikahinya.


"Lucu sekali aku.." gumamku pelan atas pemikiran liar milikku.


Ditambah, Cassie belum tentu menginginkan hal tersebut. Untuk memulai hubungan seperti saat ini saja dia memerlukan waktu sebulan lebih untuk berpikir. Aku senang saat dia menulis lagu tentangku kerena secara tak langsung itu menjelaskan bahwa keberadaanku penting serta berharga bagi Cassie.


Aku tahu aku akan memperjuangkannya sampai kapanpun hingga menjadi milikku seutuhnya, akan tetapi, perjuangan itu pasti sulit karena ada Ibu. Ayah pasti merestui dan begitu pula dengan Christina yang selalu tidak peduli dengan hubungan asramaku, tapi bagaimana dengan Ibu?


"Arghhh.." aku menggeram kesal, bingung.


Mom.. Membayangkan wajah Ibu saja sudah membuatku patah semangat. Dari dulu, Ibu selalu mengikut campuri semua urusanku. Standarnya Ibu harus dituruti dan jika ada sesuatu yang tidak sesuai standarnya haruslah disingkirkan. Jelas, Cassie bukan standarnya. Ibu menginginkan seseorang seperti Clara. Sosok sempurna tanpa cela yang berasal dari keluarga terpandang.


Kata-kata Christina kembali terbersit dalam pikiranku, Singkirkan orang-orang yang menghalangimu. Namun, aku tak yakin sanggup melakukan itu pada Ibu. Aku tak bisa bayangkan hubunganku dengan Ibu harus putus karena aku berusaha meraih kebahagianku sendiri. Namun, di sisi lain, sampai kapan aku harus menuruti semua keinginan egois dari Ibu terus?


"Hah,," aku membuang napasku yang terasa berat. Rasa penat kini menghampiri setelah rasa bahagia yang kurasakan atas penerimaan Cassie padaku. Selalu saja seperti.


"Kenapa?" suara lembut Cassie menyadarkanku dari lamunan dan dia melingkarkan kedua tangannya pada leherku. Kulitku bisa merasakan kehangatan dari tubuhnya. Lalu bibirku mengecup tangan kirinya yang berada di leherku.


"Kenapa kau menghembuskan napas seperti itu?" tanya dia lagi dan dadaku merasakan kehangatan dengan perhatian kecil seperti ini.


"Masalah keluarga.." bisikku tanpa memperjelas semakin lanjut. Aku pikir, ini bukan saat yang tepat untuk memberitahukannya tentang masalahku dengan Ibu. Aku takut dia belum siap mendengarkan ini dan membuatnya ragu melangkah semakin jauh bersamaku. Nanti.. Nanti setelah aku yakin jika dia tidak akan pergi dengan apa pun yang terjadi antara kami.


"Kau bisa menceritakannya padaku.."


Kutaruh tropi di lantai lalu memutar kepala untuk mencium mulutnya, "Kau masih capek?" tanyaku lembut lalu mengecup bibirnya lagi.


Cassie menggeleng lalu mengecup bibirku.


"Boleh?" tanyaku untuk meminta izinnya.


"Yeah..."


Tanpa ragu, bibirku mengulum bibirnya yang manis. Me-lu-matnya dengan sepenuh hati. Aku beranjak dari dudukku dan merangkak naik ke atas tempat tidur tanpa melepas pa-ngu-tan kami. Jemariku mengelus kulit lehernya lalu turun ke arah pundak Cassie yang telanjang. Tanpa sadar, lilitan handuk di pinggulku sudah lepas dan keadaan kami semakin memanas. Tanganku menurunkan tali tipis dari gaun tidurnya, menjatuhkan gaun itu hingga menggulung pada bagian perutnya.


"Ahk.." dia men-de-sah dalam ciuman. Kuhisap bibir bawahnya lalu menarik pa-ngu-tanku lepas. Bibirku kembali menjelajahi lehernya yang jenjang, menghisap kulit leher Cassie dengan kencang. Aku yakin itu akan membekas keesokan harinya.


"Tanda kau milikku, Cassie..."


Cassie bergerak gelisah di bawahku, tangannya meremas seprai. Lalu aku menghembuskan napas dingin dari mulut ke arah pu-tingnya.


"Ahk..." dia men-de-sah semakin kencang. Punggungnya melengkung ke atas, mengarahkan pa-yu-da-ranya semakin dekat ke mulutku seolah memohon sentuhan yang lain. Aku terkekeh, senang dengan reaksinya atas sentuhanku.


Aku menjilat pucuknya dan seluruh tubuh Cassie bergetar hebat. Jemarinya meremas seprai semakin kencang. Keduanya kakinya mendorong-dorong ranjang dengan gelisah.


"Christov... Please.." dia menarik kepalaku mendekat ke arah dadanya, tapi aku menahan diri dan kembali menghembuskan napas dingin itu untuk menggodanya lagi. Sesekali, lidahku menjilati tatto mawar yang berada di celah antara pa-yu-da-ranya


"Argh.. Argh.. Ini membuatku gila.." tangannya mendorong kepalaku dengan susah payah, tapi aku tak kunjung bergerak dan hanya menjilatinya, menggoda dia dalam gerakan perlahan.


"Mawar... Aku suka mawarmu, Cassie...'


"Ayolah.." pintanya dengan nada putus asa, "Please.."


"Katakan jika kau milikku, Cassie.. katakan dengan kencang.." aku menjilatinya lagi dan Cassie melengkungkan punggungnya ke atas semakin tinggi atas reaksi sentuhan lidahku.


"Katakan atau tidak sama sekali.."


Cassie menarik kepalaku, "Aku milikmu.. Aku milikmu, Christov...." ucapnya dengan nada penuh keputusasaan. Senyum penuh kemenangan terukir di wajahku dan tanpa berlama-lama lagi, aku memenuhi mulutku dengan dadanya yang ranum. Menghisapnya. Menjilatinya. Menggigitnya dengan lembut. Satu tanganku meremas sisi yang lain, bermain dengan pu-ting Cassie yang seolah semakin memanjang seiring waktu.


Di bawah sana, pinggul Cassie mulai menggesek-gesekkan milikku dengan tak sabaran. Ah.. Sangat agresif. Aku suka Cassie yang begitu agresif di atas ranjang. Mulut kutarik menjauh dari dadanya dan dalam gerakan cepat, aku memindahkan tubuh Cassie ke atas tubuhku. Kini, aku berbaring di bawah dengan Cassie yang duduk di pinggulku.


"Aku ingin kau berada di atasku. Itulah yang akan kita lakukan, Cassie.."


Dia terkekeh pelan lalu menundukkan tubuh untuk mengecupi dadaku dengan lembut, "Jadi aku adalah pemandu senam kita hari ini?" katanya dengan nada geli dan aku tertawa.


"Senam? Aku suka istilah yang kau berikan.." dia kembali menegakkan tubuhnya, memberiku kesempatan menatap tubuhnya yang indah. Rambutnya yang coklat panjang terurai dengan lembut di atas pa-yu-da-ra-nya yang penuh dan ranum. Lekukan badannya tampak begitu menggoda dari sudut pandang ini. Kuangkat satu tanganku untuk me-re-mas dada kirinya. Ah... Ukuran dadanya terasa begitu pas pada tanganku. Sempurna.. Dia benar-benar sempurna untukku.


"Aku menyukai semua yang ada padamu, Cassie..."


"Me too..."


(Aku juga..)


Tangannya di taruh ke atas dadaku dan dia perlahan mengangkat pinggulnya ke arah ujung kejantananku yang sudah berkedut. Tatapan kami tak lepas dan aku bisa melihat dia nampak kesulitan untuk memasukkan milikku.


"Sulit?" bisikku dalam nada rendah. Kedua tanganku berpindah pada pinggul Cassie, berusaha membantu dan menuntunnya.


"Terlalu besar..." balasnya seraya menggigit bibir bawah.


Matanya menatap ke arah bawah, berusaha memasukkan milikku yang sudah menegang sempurna ke dalam miliknya. Tubuhku bergetar setiap merasakan ujung kejantananku menyentuh dinding va-gi-na-nya yang basah.


"Ayolah.. Argh.." aku mengeluh dengan nada tertahan. Tanganku ikut membantunya. Tidak sabar.. Aku tidak sabar dan tidak tahan lagi.


"Ahk!" Cassie memekik kencang saat setengah batang kejantananku masuk ke dalam.


"Lagi.. Lagi.. Masukkan lagi, Cassie," aku menggeram kencang seraya mendorong pinggulku ke atas, berusaha memasukkan kejantananku semakin dalam.


Dia menggigit bibir bawahnya dan tatapan kami tak lepas. Cassie mengangkat tubuhnya sedikit ke arah atas dan dia turun ke bawah dalam gerakan cepat hingga seluruh kejantananku masuk ke dalam lubangnya yang sangat sempit.


"Arghhh.." aku meng-geram penuh kenikmatan saat merasakan kehangatannya melingkupi milikku dengan sempurna. Sangat sempit. Sangat basah. Sangat hangat.


"Bergeraklah, sayang.."


"Ah.. Ah..." dia memutar kepalanya penuh kenikmatan saat akhirnya dia mulai bergerak dalam ritme perlahan. Masuk. keluar. Masuk. Keluar. Maju. Mundur. Maju dan mundur.. Terus dalam ritme yang teratur.


"That's right, baby.. Rasakan aku, Cassie.. Aku milikmu.."


Kedua tangannya ditaruh ke atas dadaku dan kedua tanganku memegang pinggulnya, membantu dia bergerak semakin cepat, "Begitu.. Yeah.. Begitu..Cepat.. Semakin cepat, sayang.."


"Argh!!" dia berteriak kencang saat gerakan kami semakin menggila. Dia men-de-sah semakin kuat dan aku seolah kehilangan arah dengan semua kenikmatan ini. Pa-yu-da-ranya bergoyang dan ini benar-benar pemandangan yang spektakuler. Sangat indah.. Fantastis. Dia terlihat sangat fantastis dengan pa-yu-da-ra yang bergoyang-goyang mengikuti gerakannya, rambut yang bergerak ke sana-ke mari, dan mulutnya terbuka lebar untuk mengeluarkan suara-suara indah.


Kupindahkan tanganku pada tangannya sehingga kami saling berpegangan dan kini ritme itu berubah menjadi naik dan turun. Semakin cepat dan seluruh tubuhnya berguncang dengan hebat. Bunyi tepukan dan decitan semakin memperindah suasana.


"Yeah.. yeah.. Rasakan aku Cassie.."


"Christov.. Ahkk.. Ahkk.." dia memutar pinggul dalam gerakan lambat, membawa kejantananku yang berkedut hebat berputar dalam miliknya dam putaran yang menggila. Lalu bergerak lagi naik-turun berulang kali. Membawaku semakin dekat pada puncak pelepasan. Tubuh Cassie bergetar dan dia me-nge-rang semakin kencang, suaranya penuh keputusasaan saat puncak itu semakin dekat.


"Cassie.. Cassie..." panggilku dengan suara kencang dan dengan seluruh kekuatan, aku menarik pinggulku masuk ke arah ranjang dan mendorong masuk sangat dalam dengan sangat keras.


"Ahk!" Cassie memekikk kencang, punggungnya dilengkungkan ke depan, dan kepalanya menatap ke atas langit-langit ketika pelepasan miliknya akhirnya datang. Cairannya melingkupi kejantananku dalam kehangatan dan dalam sekali dorongan lagi, aku menyemburkan seluruh cairanku masuk ke dalam kewanitaannya.


"A---Ahk!"


Tubuh Cassie segera runtuh di atasku tanpa melepas kejantananku dari miliknya. Dadanya naik turun dengan cepat dan aku bisa merasakan getaran detak jantungnya pada dadaku. Dengan lembut, aku mengelus punggungnya lalu memindahkan tubuh Cassie ke arah ranjang. Kutarik kejantananku lepas darinya lalu bergerak hendak berdiri, tapi tangan Cassie tiba-tiba menahanku.


"Ke mana?"


"Sebentar.." aku melepas tangannya dan meraih tissue dari meja nakas. Tanganku mulai melap cairan Cassie dari pahaku lalu melanjutkan hal yang sama pada Cassie.


"Baik sekali.." bisiknya lembut dan aku melanjutkan menarik tali gaun tidurnya pada bahu Cassie, "Biarkan saja.. Aku ingin memelukmu. Kulit dengan kulit.."


Aku tersenyum, "Okay.." tanganku menarik lepas gaunnya tesebut kemudian melemparnya ke atas lantai sehingga meninggalkan dia tanpa busana. Aku menarik selimut untuk menyelimuti kami berdua.


"Peluk aku.."


Terkekeh pelan, aku melingkarkan tanganku pada tubuh Cassie dan memeluknya erat pada dadaku.


"Kenapa tubuhmu dingin sekali? Sejuk.."


"Karena hatiku hangat..."


Dia tertawa kecil lalu mengecup dadaku, "I love you.."


"I love you, too.."


"Good night, Christov.."


"yeah.. Good nite, my love.."


***


Miss Foxxy


Akhirnya. Setelah mengerjakan sehari. Halo readers, memikirkan ide dan menuangkannya dalam bentuk tulisan seperti benar-benar bukan pekerjaan yg mudah. ajikalau pun ada pembaca gelap, kuharap hati nuraninya segera muncul kembali. Hanya like dan koment, itu sudah sangat membantu author untuk tetap semangat menjalani hari-hari di MT ini. Tapi kalo masih gitu, nggak tau lagi lah. Ckckc.


I love you Jangan lupa dukung author selalu dan yuk ikutan giveaway ini.