Remember Me

Remember Me
He Need Time



Happy Reading


****


"Aku butuh waktu sendirian, Cassie.." ucap Christov pada Cassie pada suatu malam saat mereka berdua bertengkar. Tak banyak yang bisa Cassie katakan dan hanya memilih untuk mundur. Mundur dan memberi ruang dan waktu untuk Christov.


Sekarang, di sinilah dia. Berbaring sendirian di apartemennya dan menunggu Christov kembali menghubunginya. Sayangnya, hingga sepuluh hari berlalu, Christov tak kunjung menghubunginya. Akhir tahun semakin dekat dan Cassie benar-benar ingin meninggalkan tahun 2020 secepat mungkin dengan segala masalahnya. Dia ingin tahun ini segera berlalu bersama semua masalahnya. Sayangnya, Cassie meragukan hal itu terjadi.


"Kenapa hidupku tidak pernah seberuntung orang lain?" tanyanya pada kekosongan. Dia bergerak-gerak gelisah di atas ranjangnya dan merasakan kejadian paralel yang terjadi antara dia dan christov. Dulu, Cassie yang membuat Christov menunggu dan sekarang malah kebalikannya. Dulu, Christov yang berusaha mengejar-ejar dan memperjuangkannya dan sekarang...


"Fvck.. I hate my life,"* gerutunya seraya bangkit dari tidurnya.


(*Aku benci kehidupanku)


Cassie menyibakkan gorden jendelanya dan melihat pemandangan kota yang mendung. Sangat mendung dan gelap, padahal jam masih menunjukkan pukul satu siang. Langit yang abu-abu seolah mengekspresikan perasaan Cassie saat ini. Suram dan kelam.


Suara dering ponselnya segera mengaktifkan seluruh sarafnya. Dia segera melompat ke arah tempat tidur dan meraih ponselnya, tapi, adrenalin yang tercipta dalam hitungan sepersekian detik itu menghilang begitu saja sesaat melihat nama yang tertera di layar ponsel.


"Argh! Bukan Christov?! Fvck, Christov.. Bisa-bisanya kau membuatku menunggu seperti ini?" dengan marah, dia menekan tombol terima dari panggilan yang dilakukan oleh Bambi.


"Halo, Bambi?" sapanya dengan nada seramah mungkin.


"Halo, baby.. Kau terdengar tidak ramah. Apa panggilanku mengganggumu? Kau sibuk, darling?"


Cassie memiringkan tubuhnya ke sisi lain ranjang, "No, Bambi.. Aku sangat tidak sibuk... Ada apa?"


"Ayo kita berkumpul bersama sore ini,"


"Ke mana?"


"Kita akan pergi melakukan ice-skating lalu makan malam dan terakhir clubbing bersama!"


Cassie mengembuskan napas lelahnya dan bersiap untuk menolak ajakan tersebut. Dia benar-benar tidak memiliki semangat hidup untuk melakukan apa pun saat ini, bahkan untuk makan saja, Cassie tidak semangat walau perutnya kelaparan.


"Aku tidak yakin jika aku bisa..."


"Jangan menolaknya, Cassie.. Please. Ini sudah mendekati akhir tahun. Semua orang berpesta. Jangan terus-menerus mengurung diri di kamarmu. Kita harus berkumpul dan setidaknya berbicara bersama. Okay, honey? Please.."


"Aku pikir aku tidak bisa ikut clubbing.."


"Kalau begitu kita tidak perlu clubbing.. Okay? Kita pergi, yah?"


"Hmm.. Yeah.. Uhm.. Omong-omong, kau ada di mana?"


"Aku di apartemenku.."


"Boleh aku datang ke tempatmu sekarang? Aku tidak punya kegiatan apa pun di tempatku..."


"Sure, baby. Kebetulan mobilku sedang rusak.."


"Okay, bye.."


"Okay, nanti akan aku kirimkan alamat apartemenku,"


"Aku tahu di mana apartemenmu,"


Dari seberang terdengar tawa jenaka dari Bambi, "Kekasihku membelikan aku apartemen baru yang sangat mewah, Cassie. Jadi aku tidak tinggal di apartemenku yang lama. Kau harus datang agar aku mengajakmu berkeliling, okay?"


Cassie tersenyum heran dan tertawa kecil, "Wow.. Kekasih baru lagi, huh?"


"Hmm.. Sudah dulu yah.. Bye, baby.."


"Okay, bye.."


Sambungan ponsel terputus dan Cassie menatap layar ponselnya dengan heran. Dia kembali mengingat daftar panjang mantan kekasih Bambi yang semuanya berusia lima puluh tahun ke atas. Teman baiknya itu memiliki kebiasaan buruk berkencan dengan pria-pria tua yang sudah berkeluarga.


Baik dia dan kedua temannya yang lain sudah pernah memperingati Bambi akan kebiasaan buruknya tersebut, tapi tidak sedikit pun wanita itu mendengar mereka. Bambi memiliki masalah daddy-issue yang membuatnya terobsesi dengan pria-pria tua. Tak banyak yang bisa mereka lakukan dan satu-satunya yang dapat Cassie lakukan bersama ketiga temannya adalah mengawasi Bambi.


Cassie mengangkat kedua bahunya dan menolak memikirkan Bambi karena kepalanya sendiri serasa ingin pecah memikirkan masalah sendiri.


Mandi, menata wajah,dan rambutnya, lalu berpakaian. Cassie mengenakan pakaian biasa berupa blouse berbahan satin putih lalu celana jeans yang dipadukan dengan boots serta mantel.


Saat berjalan di lantai basement menuju mobilnya, Cassie memberanikan diri mengirimi pesan kepada Christov untuk menanyakan kabar pria itu. Sebenarnya, ini bukan pertama kalinya Cassie mengirim Christov pesan, bahkan dia berusaha memanggil nomor ponsel pria itu. Namun, suaminya tersebut tak menerima panggilan dan tidak membalas satu pun pesan Cassie.


Hingga akhirnya sampai di gedung apartemen Bambi, Christov tidak kunjung membalas pesannya walaupun pria tersebut sudah membacanya. Bagaimana mungkin Christov tega tidak membalas pesannya?


"Dia benar-benar mengabaikanku," katanya lelah. Dia seolah tidak bisa marah lagi akan kondisi hubungan mereka yang terombang-ambing. Seolah-olah Cassie sudah pasrah dan memilih membiarkan waktu yang menjawab bagaimana kelanjutan dari hubungan mereka. Sebenarnya, Cassie tidak menyerah akan hubungan mereka, tapi dia merasa lelah. Lelah secara mental dan fisik. Lelah dengan penantian yang penuh ketidakpastian ini.


Cassie memilih menonaktifkan ponselnya dan meninggalkan benda itu di dalam mobil. Dia berjalan keluar dari mobil lalu masuk ke lift setelah menekan password yang diberikan oleh Bambi. Sesaat pintu lift terbuka, dia disambut dengan suara pertengkaran hebat.


"You fvking bit-ch!* Kau yang menghancurkan pernikahanku dengan suamiku, sialan!!" teriak seorang wanita yang berusia paruh baya seraya menjambak rambut seseorang.


(*Kau wanita murahan sialan!)


Cassie berdiri mematung di sana selama beberapa saat sebelum menyadari bahwa wanita yang tengah dijambak itu adalah Bambi!


"YOU!! Kau sialan!" wanita lain yang jauh lebih muda ikut menghajar Bambi yang nampak pasrah dengan serangan dari kedua wanita asing tersebut. Seorang penjaga di sana nampak berusaha melerai pertengkaran yang ada, tapi dia kelihatan tidak mampu. Cassie segera berlari menghampiri mereka dan ikut berusaha melerai pertengkaran yang ada.


"Stop.. Stop!" Cassie ikut mendorong kedua wanita asing itu agar melepas rambut Bambi yang berteriak kesakitan.


"NO! Bit-ch! You're fvking slutt!!"


"Stop it!!" teriakan Cassie semakin kencang melihat rambut Bambi yang rontok karena tarikan kencang tersebut. Sahabatnya itu hanya diam dan tidak berusaha untuk melawan. Saat menyadari kedua wanita asing itu lengah, Cassie segera menarik tubuh Bambi menjauh dari kedua wanita asing yang nampak menggila tersebut.


"Hentikan, Nona! Hentikan pertengkaran ini sebelum saya memanggil polisi!" teriak penjaga yang berusaha menghalangi kedua wanita asing itu dari Cassie dan Bambi.


"Kau! Kau wanita sialan! Bisa-bisanya kau tinggal tenang di tempat seperti setelah menghancurkan pernikahanku?!"


Cassie menarik napas dan memeluk tubuh Bambi yang bergetar. Berusaha melindungi tubuh Bambi dari orang-orang itu.


"BIarkan aku membunuhnya! Biarkan aku membunuhnya! Aku tidak peduli lagi jika harus mendekam di penjara!! Biarkan aku membunuhnya!" wanita asing yang lebih muda berteriak juga dan Cassie mengasumsikannya sebagai puteri dari wanita paruh baya tadi. Melihat keadaan penjaga yang nampak kesulitan menahan kedua wanita itu membuat Cassie mengambil langkah sendiri agar terhindar dari pertengkaran yang ada.


"Fvck you," umpat Cassie pelan seraya membawa Bambi masuk ke dalam apartemen. Terdengar teriakan marah dari kedua wanita asing itu lagi dan Cassie buru-buru menutup pintu apartemen tersebut. Suara teriakan itu hilang begitu saja sesaat pintu tertutup rapat karena dinding kedap suara dari apartemen tersebut.


"Sialan. So many crazy people," gerutu Cassie setelah berhasil menutup pintu lalu beralih ke arah Bambi yang berdiri kaku di sampingnya. Kepala menunduk, tubuh bergetar, rambut acak-acakan, dan pakaiannya nampak robek pada bagian tertentu.


(*Sangat banyak orang-orang gila!)


Cassie menarik napas panjang lalu mengembuskannya perlahan. Tangan kanannya di arahkan ke arah dagu Bambi lalu mengangkatnya untuk memeriksa apakah ada luka di wajah temannya tersebut. Pipi kiri Bambi nampak merah dan bengkak, tanda dia menerima tamparan hebat dari dua wanita asing tadi. Setelahnya, Cassie menyibakkan rambut Bambi untuk memeriksa luka tubuh yang lain. Dia menemukan beberapa cakaran yang cukup dalam di beberapa bagian tubuh Bambi.


"Kenapa tidak melawan?" tanya Cassie seraya melingkarkan tangannya di sekitar bahu Bambi dan membawanya ke arah sofa, "Aku tahu kau bisa melawan mereka berdua.."


"Karena aku yang salah," bisik Bambi pelan sesaat mereka duduk di sofa. Cassie tidak berusaha memberi komentar apa pun akan jawab Bambi dan memilih memutar tumitnya untuk mencari sesuatu di apartemen tersebut. Cassie menemukan kotak P3K di dapur dan dia juga tidak lupa membawa segelas air hangat untuk Bambi.


"Seberapa keras mereka menamparmu?"


"Cukup keras," katanya dengan tawa kecil.


"Bisa-bisanya kau tertawa di saat seperti ini," Cassie menarik kapas menjauh setelah selesai dengan luka Bambi, "Luka cakarmu tidak dalam. Apa perlu dioles obat luka juga?


Bambi menoleh ke arahnya dengan senyum tipis, "Bisa kau menjawab jujur pertanyaanku, Cassie?"


"Tentu.. Aku wanita yang sangat jujur. Kau tahu jelas itu,"


"Apakah kau berpikir aku adalah wanita ja-lang?"


Mata mereka saling bertatapan dan Cassie terdiam sejenak sebelum kembali berbicara.


"Semua orang adalah ja-lang, Bambi karena kita menjual anggota tubuh kita untuk uang.  Bedanya, setiap orang menjual anggota tubuh yang berbeda,"


"Apa kau sedang berusaha menghiburku?"


Cassie menggeleng, "Tidak. Namun, apa yang kau jual benar-benar merugikan orang lain, Bambi dan itu tidak baik. Aku berharap kau menjual hal yang lain untuk mencari uangmu.. Maksudku, kau punya banyak talenta.."


Bambi menarik napas lalu menyandarkan tubuhnya ke punggung sofa, "Apa yang salah diriku, Cassie? Mengapa aku sangat terobsesi dengan pria-pria tua?"


"Aku senang akhirnya kau bertanya hal seperti itu. Sayangnya, aku bukanlah orang yang tepat untuk menjawab pertanyaan itu."


Bambi menoleh ke arahnya, "Jadi, siapa?"


"Psikiater.."


"Kau benar.."


Cassie mengangguk kecil lalu ikut bersandar bersama Bambi. Keduanya menatap kosong ke langit-langit apartemen Bambi. Diam.. Mereka berdua diam dan sibuk dengan pikirannya masing-masing.


"Cassie?"


"Yah?"


"Bisa kau rahasiakan kejadian hari ini dari yang lain?"


Cassie melirik Bambi dari ujung matanya, "Okay.."


"Janji?" Bambi mengarahkan jari kelingkingnya ke arah wajah Cassie dan dia tertawa kecil, "Ayo.. Kaitkan jarimu juga, Cassie.."


Cassie memutar mata dan menghembuskan napas pasrah, "Okay.. Okay," gerutunya seraya mengaitkan jari kelingkingnya pada Bambi.


"Thank you, Cassie.."


****


"Ada apa dengan wajahmu?" tanya Gerald ketika mereka akhirnya berkumpul di sebuah restoran untuk menikmati makan malam bersama


Bambi mengangkat bahunya, "Aku bertengkar dengan seseorang di klub tadi malam,"


"Tidak biasanya kau bertengkar," timpal Meghan, "Biasanya kau selalu menjadi Miss spesialis kesabaran."


"Setiap orang-kan punya batas kesabaran,"


Cassie mendengar mereka dalam diam dan memilih memakan makan malamnya yang terasa hambar. Matanya melirik ke arah ponselnya yang di taruh di atas meja. Sampai sekarang, dia belum mengaktifkan kembali ponselnya tersebut. Sejujurnya dia ingin, tapi jika dia memeriksa pesannya yang tidak dibaca Christov hanya membuat luka di hatinya semakin menganga lebar.


"Makanannya tidak enak, babe?" tanya Gerald yang menyadari wajah tak bersemangat dari Cassie.


"Enak," bohongnya dengan senyum kecil.


"Kau sejak tadi hanya mengaduk-aduk makananmu dan kedua matamu tidak henti-hentinya menatap ponselmu," ujar Meghan, "Masih kepikiran dengan suamimu,huh?"


Cassie melepas garpu dan sendok makan dari tangannya lalu menggaruk kulit kepalanya yang tidak gatal dengan kasar.


"Apa ini tentang Christov? Apa dia belum juga menghubungimu?"


Cassie menggeleng sedih, "Si sialan itu tak kunjung menghubungiku, bahkan dia tidak membalas pesanku walau dia sudah membacanya," ucapnya dengan nada sedih, "Fvck.. Aku benar-benar kacau, bukan?" tanya dia pada ketiga temannya yang menatapnya dengan tatapan sedih dan iba. Bambi yang duduk di sampingnya menggenggam tangan kanannya yang berada di atas meja lalu meremasnya lembut.


"Mungkin dia butuh waktu lebih lama lagi untuk berpikir, Cassie," ucapnya dengan suara lembut, tapi itu tidak membantu Cassie. Benar-benar tidak bisa membantunya.


Perasaan cemas dan gelisah yang menghantuinya selama beberapa hari ini tumbuh semakin besar dan tidak terkendalikan. Menggerogoti tubuhnya sedikit demi sedikit. Tidak ada satu pun hal yang bisa membantu Cassie melarikan diri dari kecemasan itu, kecuali Christov. Dia butuh Christov untuk membuatnya merasa lebih baik, tapi sayangnya pria itu membuat jarak di antara mereka dan itu membuat Cassie semakin hancur.


Cassie memejamkan mata lalu menarik tangan kanannya dari genggaman Bambi. Dengan tangan kanannya yang di kepal, Cassie memukul-mukul pelan dahinya yang sakit.


"Saat siang, perasaanku kosong dan aku tidak merasakan apa pun. Namun, saat malam datang, kegelisahan dan kecemasan itu menyerangku.... Menyerang dan berusaha menghancurkanku hingga titik penghabisan.. Aku terus bertahan karena aku yakin semua akan baik-baik saja. Namun.. Namun.. Diamnya Christov padaku membuatku hancur," Cassie membuka matanya lagi dan menatap kosong ke arah piringnya, "Dia terlampau diam dan aku tidak bisa menebak apa yang sebenarnya terjadi di antara kami. Aku tidak tahu bagaimana keadaannya saat ini. Aku tidak tahu apa yang sedang dia lakukan. Setidaknya.. Setidaknya dia mengirimiku satu pesan singkat saja padaku.. Hanya satu pesan singkat dan kurasa aku tidak akan secemas ini.."


"Apa kau sudah berusaha menghubunginya?" tanya Gerald.


"Yah, tapi dia tidak menerima panggilanku sekali pun. Fvck," umpatnya, "Aku ingin pulang saja. Berada di tempat ramai seperti ini membautku semakin cemas.."


"Aku akan mengantarmu," ujar Meghan dan Cassie menggeleng cepat.


"I'm okay.. Aku hanya butuh waktu sendirian," Cassie bangkit dari duduknya kemudian mengenakan mantelnya, "Jangan khawatir.. Aku hanya ingin sendirian saja.."


"Kalau begitu, aku akan menginap di tempatmu saja,"


"No... Thank you, Bambi, tapi tidak. Aku ingin sendirian. Benar-benar ingin sendirian.."


"Kau yakin kami tidak perlu menemanimu, babe?"


Cassie menggeleng lembut dan tersenyum tipis, "Aku akan baik-baik saja,"


"Hubungi kami jika terjadi sesuatu, Cassie..."


"Okay, Gerald. Bye..."


Setelah mengucapkan kata perpisahannya, Cassie memutar tubuhnya dan pergi meninggalkan ketiga temannya yang masih saja menatapnya iba. Cassie menggenggam lemah pegangan dari tas tangannya dan menatap lesu ke depan. Tidak ada lagi langkah yang penuh kepercayaan dari Cassie. Tidak ada lagi tatapan tajam mata elangnya. Tidak ada lagi aura semangat yang memancar dari dirinya. Tidak ada lagi karena semua yang tersisa adalah Cassie yang penuh kecemasan. Cassie yang sudah lelah secara mental dan jasmani. Cassie yang sedang berada di ujung tanduk kewarasannya sendiri.


"Sejujurnya, aku tidak yakin bahwa aku akan baik-baik saja.."


***


Miss Foxxy


Halo, mungkin ada beberapa opini di atas yg kurang nge pas mohon dimaafkan. Terus, di mana Christov? Apa kelanjutan kisah ini?


Menurut opiniku, keduanya benar-benar hancur secara mental dan jasmani.  Namun, seberat apa pun masalah, pasti menemukan titik cerah, bukan? Spoiler, di chapter berikutnya, Cassie dan Christov akan bertemu dengan keadaan yang...... Sampai jumpa di hari yang mendatang. I love you.