
Happy Reading
****
-Our forever home, Cassie..-
****
"Kemana kita pergi?" tanya Cassie saat menyadari rute perjalanan mobil mereka tidak menuju apartemen Christov.
"Kita pergi ke suatu tempat dulu," balas Christov yang duduk di sampingnya dan Cassie mau tak mau memajukan bibir bawahnya karena cemberut. Disandarkan kepalanya pada bahu Christov.
"Ke mana? Aku benar-benar tidak bersemangat ke mana pun saat ini. Aku hanya ingin pulang dan berbaring di ranjang,"
Christov mengecup pucuk kepalanya, "Aku tahu kau kelelahan.. Hanya sebentar saja.."
Dia menghela napas panjang dan mengembuskannya. Matanya melihat perkotaan Los Angeles yang padat dan entah mengapa, Cassie merasakan perasaan kosong di relung hatinya. Setelah sekian lama di Itali, dan akhirnya kembali lagi ke tempat ini entah mengapa terasa sangat asing baginya, padahal dia tumbuh besar di sini. Apakah hal itu yang membuat perasaan kosong itu muncul? Atau karena fakta dia tidak hamil? Entahlah.. Cassie tidak tahu mengapa perasaan tak nyaman itu muncul.
"Kota ini terasa seperti tempat asing bagiku, Christov," dia menggenggam tangan Christov yang berada di atas pahanya, "Entah mengapa aku merasa gugup.."
"Aku merasakan hal yang sama, sayang. Namun, dengan adanya dirimu di sampingku membuat perasaan itu hilang begitu saja.."
Cassie mengangkat kepalanya untuk menatap Christov yang tersenyum hangat dan entah mengapa, dia merasakan emosi dalam dirinya. Bibirnya bergetar dan dadanya bergemuruh. Kenapa dia merasa emosional seperti ini? Padahal ini bukan kali pertamanya Christov bersikap manis seperti itu.
"Kenapa kau berubah ce-ngeng akhir-akhir ini?" canda Christov yang mengelus lembut pipinya yang basa oleh air mata, "Kenapa menangis, hm? Sedih?"
Cassie menggeleng lalu memeluk Christov era-erat, "No.. Aku hanya sangat terharu dan beruntung karena memilikimu.."
"Andai kau bisa melihat besarnya rasa yang kumiliki untukmu.. Aku merasa seperti pria yang paling beruntung karena memilikimu.."
"Kita sama-sama beruntung.."
Cassie memeluk Christov erat selama perjalanan. Menikmati aroma tubuh Christov yang menyenangkan hingga mereka akhirnya memasuki area perumahan yang berada di bukit. Daerah yang tak pernah Cassie kunjungi sebelumnya.. Dia mengangkat kepala dan menatap lautan biru di kejauhan lalu kembali menatap Christov.
"Kita ke mana? Kau mempersiapkan kejutan untukku, hah?"
"Kita mengunjungi rumah seseorang.."
"Siapa?"
Christov tersenyum misterius, "Seseorang.."
Mobil yang dikendarai supir yang mereka sewa memasuki kawasan perumahan yang Cassie tidak kenal. Gerbang tinggi yang gagah dan mewah melindungi rumah yang ada di sana. Cassie melepaskan pelukannya dari Christov lalu membuka jendela mobil untuk melihat area perumahan tersebut. Pohon-pohon cemara di tanam di sepanjang jalan menuju bangunan utama dan rumput hijau membentang di sana.
Desiran ombak dan angin lembut terdengar dari kejauhan dan mulut Cassie menganga lebar melihat rumah mewah bergaya klasik-modren yang begitu mewah, megah, dan elegan. Warna putih gading mendominasi gedung tersebut dan beberapa pilar tinggi menopang atas rumah. Namun, semakin lama dia menatap rumah itu, semakin dia menyadari bahwa bentuk rumah itu terasa tidak asing. Cassie menatapnya terus hingga gambar bangunan yang Christov rancang muncul di kepalanya dan dia segera menoleh ke arah Christov yang menatapinya dengan senyum lebar.
"No way.." bisik Cassie dengan nada penuh ketidakpercayaan.
Christov mengangguk kecil, "Yes.. Dream house.. Our forever home.."
"Rumah kita?" tanya dia lagi untuk memastikan bahwa itu memang rumah mereka.
"Yah... Ayo keluar dan melihat rumah kita lebih dekat."
Dia bersama suaminya keluar dari mobil dan menapakkan kaki untuk pertama kalinya di rumah mereka. Cassie menatap bangunan itu penuh ketidakpercayaan dan dia benar-benar kehabisan kata-kata melihat rumah tersebut. Kakinya gemetar karena tidak percaya akan memiliki rumah sebesar ini. Tidak dalam mimpi terliarnya. Matanya menoleh ke arah Christov lagi dan berusaha mencari kebohongan di sana. Namun, tak ada. Tidak ada nampak kebohongan di sana.
"Ayo.. Aku akan mengajakmu keliling," Christov menggenggam tangan kirinya lalu membawanya memasuki rumah tersebut. Mengajak Cassie yang masih memproses kebenaran perkataan Christov untuk berkeliling rumah.
Mereka menapakkan kaki ke dalam rumah dan melihat perabot yang sudah terpasang di sana termasuk lukisan pernikahannya dengan Christov terpampang besar di sana. Mulutnya menganga semakin lebar dan pria itu menutup mulut Cassie.
"Aku mengenal seorang pelukis handal di London bernama Jasmine Lendsman. Dia yang melukiskan ini untuk kita.. Kau suka? Atau terlihat kuno?
Cassie menatap terus lukisan tersebut.
"Aku suka sesuatu yang klasik, tapi jika kau tidak suka, kita bisa mencetak versi yang lebih mondren..."
"Kau sudah gila?" dia menoleh ke arah Christov, "Bagaimana bisa aku tidak menyukai maha karya seperti ini?"
Christov tersenyum semakin lebar, "Baguslah jika kau suka. Kita bisa menyewa jasa Jasmine lagi untuk melukis kita," pria itu membawa dia ke ruangan lain.
"Berapa banyak uang yang kau habiskan untuk lukisan itu?"
"Cukup menyedot dompetku, tapi dia memberiku diskon karena aku mengenal suaminya dengan baik. Seorang pengusaha handal di London,. Edward Lendsman. Pernah dengar? Namun, aku merasa ada yang aneh di keluarga itu.."
"Hey.. Apa kau sedang bergosip?" tanya Cassie dengan tawa kecil.
Christov menggeleng, "Bukan.. Hanya saja, aku pernah mendapati Jasmine memanggil Edward dengan panggilan nama Lucas. Padahal aku yakin bahwa Edward tidak punya nama tengah Lucas.."
"Mungkin saja panggilan sayang.. Omong-omong, kapan kau membangun ini semua? Seharusnya kau memberi tahuku agar kita bisa membangunnya bersama.."
Chritov melirik ke arahnya dari ujung mata, "Namanya juga kejutan.... Jangan bahas itu. Uangmu adalah uangku juga dan begitu sebaliknya.."
"Tetap saj--.."
"Ini dapur kita. Karena kau suka melihatmu memasak, aku mendesain ruang keluarga terhubung langsung ke dapur," potong Christov saat mereka sudah memasuki area dapur lalu menariknya lagi ke ruang lain, "Ruangan ini akan menjadi tempat studiomu.. Belum berisi, tapi kau bisa mendekornya sendiri. Di sisi lain adalah ruang kerjaku.. Tenang saja, ruangannya kedap suara jadi kita tidak akan mengganggu satu sama lain..."
Cassie dan Christov berjalan lagi. Suaminya itu menjelaskan setiap ruangan yang ada di lantai bawah. Mulai dari ruang musik, ruang gym, dan ruangan lain.
"Lalu.. Di lantai atas," mereka menaiki anak tangga lalu berjalan ke saya kiri rumah, "Ini akan menjadi kamar tidurku kita.. Bukalah.."
Cassie menekan handle pintu yang berwarna coklat gelap tersebut lalu mendorongnya. Matanya menatap takjub ke arah kamar bergaya semi-modren tersebut. Dinding kaca menampilkan pemandangan lutan biru dan suasana di sana terasa segar dan nyaman. Cassie berkeliling lalu menyentuh setiap perabot yang ada di sana. Lalu senyum nakal terukir di bibirnya ketika melihat ranjang besar di tengah ruangan.
"Kuharap kau membeli ranjang dengan brand yang lebih bagus,"
"Tentu saja," Christov menepuk-nepuk ranjang tersebut, "Ranjang anti rubuh..."
Cassie tertawa kecil mengingat ranjang di sebuah penginapan yang rubuh karena mereka berdua. Sudah lama, tapi terus membekas di ingatan mereka berdua. Itu benar-benar kenangan yang lucu dan paling berkesan bagi Cassie.
"Aku sudah mendekornya dengan pencampuran seleramu dan seleraku.. Namun, jika kau ingin mendekor ulang tidak masalah untukku. Asal kau suka, aku juga suka.."
Cassie berjalan dan memeriksa setiap inci ruangan hingga dia membuka pintu lain yang ada di dalam ruangan itu dan betapa terkejutnya dia karena ruangan tersebut bukanlah kamar mandi yang seperti dia perkirakan. Ruangan tersebut kosong, tapi Cassie tahu tujuan dari ruangan tersebut. Dia berdiri di kusen pintu dan menatap ruangan itu dalam diam hingga Cassie menyadari kehadiran Christov di balik punggungnya.
"Ah.. Ruangan itu. Uhm.. Itu ruangan untuk calon bayi kita kelak.. Well.. Aku tidak ingin memberimu tekanan tentang anak dan topik ini memang belum pernah kita bicarakan.. Uhm.. Aku berharap memiliki calon bayi bersamamu, ta-tapi, jika kau tidak mau.. Aku tidak keberatan," Cassie menoleh ke arah Christov yang berbicara terbata-bata. Pria itu tersenyum gugup saat Cassie hanya menatapnya dalam diam.
"Well.. Tubuhmu adalah milikmu, Cassie.. Semua pilihan ada di tanganmu.. A--aku tidak keberatan jika kau tidak mau punya anak. Kita bisa adopsi atau tidak sama sekali.. Jadi, semua keputusan tentang ini ada di tanganmu.. Aku tidak berusaha--"
Cassie berjalan cepat lalu memeluk pria itu erat dengan kedua tangannya. Menyandarkan kepalanya pada dada Christov dan mendengar detak jantungnya yang berdetak kencang. Jelas Christov benar-benar gugup karena membicarakan topik yang belum pernah mereka bicarakan sebelumnya
"Tentu aku ingin memiliki anak bersamamu, Christov.."
"A--apa? K--kau serius?"
Cassie mengangguk, "Yah.. Aku ingin dan temani aku berjuang bersama.."
"Tentu saja aku mau.. Namun, kita mungkin harus berjuang sedikit lebih keras," bisiknya pelan.
Christov mendorong lembut tubuhnya dari pelukan Cassie agar bisa melihat wajahnya.
"Namun, jangan buat hal ini menjadi sebuah tekanan untukmu, Cassie. Aku ingin kau bahagia karena itulah yang terpenting untukku. Kau bahagia maka aku juga bahagia. Jikalau pun kita tidak memilikinya, itu tidak akan mengubah apa pun di antara kita. Itu tidak akan mengubah besarnya kasih sayangku untukmu, Cassie.."
"Kenapa kau sangat baik?" tanya Cassie dengan suara serak nan parau. Dia menarik tubuh Christov lagi dan memeluknya erat. Menyandarkan kepalanya pada dada Christov lagi dengan mata terpejam.
"Mengapa kau sangat baik dan sempurna, Christov?" hisaknya.
"I'm not, baby.. Aku tidak sempurna dan memiliki banyak kekurangan. Namun, bersamamu melengkapi kekuranganku..."
"I love you, Christov.... Really love you.."
"I love you too, Cassie.. I love you so much.."
****
Cassie POV
Hampir dua tahun berlalu dan selama itu pula banyak hal yang terjadi dalam kehidupanku dengan Christov. Aku kembali memulai karierku sebagai penulis dan produser lagu. Well.. Aku tidak bekerja lagi pada perusahaan karena aku mendirikan akhirnya memilih perusahaanku sendiri. Belum berkembang besar, tapi sejauh ini aku sudah memiliki 20 penyanyi dan 15 artis-model di bawah asuhan perusahaanku. Semuanya memiliki karier yang baik walau belum setenar artis-artis yang lain. Namun aku bersama mereka dan karyawan-karyawanku tidak pernah patah semangat untuk mengembangkan perusahaan agensi kecil ini dan mengukir prestasi.
Aku juga menulis buku pertamaku tentang musik dan kehidupan yang begitu laku di pasaran. Dengan penjualan yang laku keras tersebut, nama perusahaan beserta penyanyi dan artis dibawah asuhanku ikut naik daun. Itu merupakan berita sukacita di antara kami dan senyum bahagia tak kunjung lepas dari bibirku selama seminggu penuh mendengar kabar beberapa artisku menjadi trending di berbagai platform media sosial
Oh yeah.. Aku lupa mengatakan bahwa aku juga sudah menyelesaikan pendidikan Doktorku dan telah mengajar di beberapa kampus yang ada di Los Angeles di bidang seni musik. Juga, aku disibukkan dengan penelitianku untuk mengambil gelar Profesorku di bidang musik. Kesibukanku semakin bertambah karena aku juga mulai masuk dalam dunia perfilman dan musik klasikal.
Begitu banyak hal yang terjadi, bukan? Aku benar-benar tidak menyangka bisa menjalani beberapa pekerjaan sekaligus dan bagian yang terbaik adalah bahwa aku menikmati setiap kesibukanku. Hanya dalam dua tahun dan sebelum mencapai usia 30 tahun, aku sudah meniti karier menjadi CEO dari perusahaan yang aku dirikan sendiri, penulis serta produser lagu, penulis, pengajar, pengaransemen, dan juga sebagai isteri.
Yeah.. Isteri bagi Christov. Pria yang benar-benar selalu berada di sisiku dari titik nol. Pria yang membantuku memulai semuanya kembali. Pria yang selalu mendukungku hingga berada di titik ini. Pria yang selalu setia walau calon bayi yang kami idamkan tak kunjung datang.
Dua tahun lamanya kami berjuang bersama demi calon si buah hati, tapi tak kunjung mendapat jawaban. Mencoba berbagai pengobatan ini-itu dan hasilnya tetap nihil. Aku kecewa begitu juga suamiku. Namun, Christov tidak sedikit pun pernah menekankan dan selalu berkata bahwa rasa cintanya tidak akan pernah berubah walau tanpa kehadiran seorang bayi.
Aku yakin dan percaya pada perkataannya bahwa dia tidak akan pernah menyelingkuhiku. Namun, tetap saja rasa sedih kerap menerpaku setiap saat darah mens-tru-a-si-ku datang. Huhhh.. Entah berapa banyak treatment lagi yang harus kami jalani demi si buah hati. Aku dan Christov belum menyerah. Kami masih tetap berjuang demi si calon buah hati.
Oh.. Tentang suamiku. Well.. Dia juga disibukkan dengan pekerjaannya sendiri. Christov benar-benar jenius dan aku bangga padanya. Dia akhirnya memegang kendali dari usaha yang ayahnya miliki di bidang olahraga. Christov memperluas jaringan usaha mereka ke berbagai kota yang ada di USA.
Dia masih tetap bekerja sebagai arsitek dan perusahaan kecilnya dulu sudah berkembang pesat. Banyak orang dari seluruh penjuru dunia menyewa jasa perusahannya untuk merancang berbagai bangunan. Christov juga membuka akademi yang khusus mengajarkan tentang arsitektur. Bukankah itu keren? Tentu saja..
Huh.. Suamiku benar-benar luar biasa. Christov sudah mendapat gelar profesornya dan kerap di undang sebagai pembicara di berbagai acara. Kami berdua benar-benar sibuk dengan karier kami masing-masing, tapi kami selalu memiliki waktu untuk bersama. Walaupun sibuk, aku dan Christov masih sering berlibur ke berbagai negara atau hanya sekadar menikmati makan malam biasa di rumah. Kesibukan bukan menjadi alasan bagi kami untuk tidak meluangkan waktu bersama. Seperti sekarang contohnya. Kau menikmati makan malam bersama di rumah setelah hari yang panjang dan sibuk.
"Aku ingin makan lasagna untuk ulang tahunku tanggal 19 september ini," ujarku pada Christov. Kami berdua tengah menikmati pasta yang Christov masak untuk makan malam kami berdua.
"Boleh.. Hadiah apa yang kau inginkan?"
Aku tersenyum miring, "Malam yang panas.."
Christov tertawa kecil, "Kita selalu mendapatkan malam yang panas setiap malamnya.. Sesuatu yang lain. Aku ingin membelimu sesuatu.."
Aku mengangkat kedua bahuku, "Entahlah.. Aku tidak menginginkan apa pun saat ini. Kejutkan aku dengan hadiahku, okay? Pikirkan sendiri.."
"Aku tidak tahu apa yang harus kubelikan untukmu.."
"Maka dari itu kejutkan aku," ponselku yang berada di atas meja bergetar dan aku memeriksanya. Sebuah pemberitahuan dari kalender mens-tru-a-siku.
"Apa itu?" tanya Christov dan aku melirik sekilas ke arahnya.
"Bukan apa-apa. Hanya kalender mens-tru-a-siku yang terlambat seminggu. Tidak biasanya seperti ini. Aku selalu tepat waktu bi--" aku berhenti berbicara ketika menyadari sesuatu lalu mengangkat kepala untuk menatap Christov yang nampak tegang. Aku buru-buru tertawa untuk mencairkan suasana di antara kami walau jantungku ikut berdetak kencang saat ini.
"Jangan cepat menyimpulkannya, Christov. Mungkin jadwalku tidak teratur karena kesibukanku akhir-akhir ini.."
"Kalau begitu mari kita periksa.."
"Uhm.. Nanti saja.. Biarkan aku makan..."
"Please, Cassie.. Ayolah.."
Tanganku yang memegang sendok bergetar lalu aku menarik napas panjang.
"Haruskah kita memeriksanya? Aku takut jika hasilnya tidak seperti yang kita harapkan.."
Christov memegang tangan kananku yang memegang sendok lalu menariknya agar aku berdiri.
"Aku memiliki firasat yang baik tentang ini.."
Aku pasrah mengikuti Christov yang membawaku ke arah kamar mandi.
"Aku tidak yakin soal ini," ucapku dengan nada memelas pada Christov.
"No, babe.. Coba saja dulu.."
Aku memutar mata dan menuruti dia saja untuk masuk sendirian ke kamar mandi. Membuka lemari kecil yang tergantung di dinding lalu mengambil lima cup kecil serta lima testpack. Melepas ce-la-na dalam dan menunggu urine-ku datang kemudian menampungnya di lima cup kecil tersebut.
"Aku sudah siap kecewa dengan hasilnya," bisikku saat menaruh lima test-pack pada masing-masing cup lalu berjalan keluar.
"Bagaimana?" tanya Christov yang berdiri di depan pintu kamar mandi dan aku mengangkat kedua bahuku dengan gerakan acuh tak acuh.
"Di dalam. Aku sudah buat lima cup terpisah untuk air seniku," aku bejalan melewatinya.
"Ke mana?"
"Memakan pastaku tentu saja. Tunggu saja air seni sialan itu..."
Christov berjalan masuk ke dalam kamar mandi, "Berapa lama?"
"Sekitar dua sampai lima menit-an," teriakku dari dapur dan kembali menikmati pasta-ku dalam diam. Aku terlihat tenang di luar, tapi saat ini pikiran dan hatiku tidak lagi tertuju pada makan malamku.
"Cassie?!!" teriaknya dan entah mengapa itu membuatku kesal.
"YAH?!" teriakku tidak kalah kencang dengan nada jengkel.
Dia muncul dari kamar mandi dengan napas terengah-engah dan kedua tangannya memegang kelima testpack tersebut.
"Dua garis.." ujarnya dengan bisikan penuh ketidakpercayaan, "Dua garis, Cassie!!"
****
Miss Foxxy
Author gk akan buat extra part tentang kehamilan Cassie because aku gk tau penggambaran dunia seorang calon Ibu, di tambah author juga gk pernah baca novel-nonton film yang berhubungan dengan kehidupan kehamilan jadi author tidak tahu bagaimana gambaran Ibu hamil. Satu-satunya yg kutahu yah ngidam dan morning sick. So, author gk bakal nulis extra part bagian kehamilan Cassie.
Tinggal satu chapter lagi dan epilog. Jadi kangen Jasmine Edward-Lukas..Next chapter cameo lain dari novelku yg udah tamat bakal muncul. See youuu