Remember Me

Remember Me
Party



Happy Reading


***


"Sister.." panggil Christov setelah menyerahkan Nugget dan Salmon pada Christina.


"Yah?" Christina yang tengah memeluk kedua anjingnya berusaha membagi perhatiannya pada saudaranya tersebut.


Christov menatap ragu ke arah Christina dan jemari telunjuknya mengetuk-etuk lengan sofa hitam miliknya. Dia ingin menanyakan sesuatu, tapi Christov merasa ada sesuatu yang mengganjal dalam dirinya sendiri. Membuatnya tidak memiliki keberanian untuk bertanya.


Menyadari Christov yang membisu, Christina menoleh ke arah saudaranya tersebut.


"Ada apa? Ada yang ingin kau tanyakan?"


Dia menata bola mata hazelnut Christina yang dia dapat dari gen Ibunya. Mereka cukup mirip, dari segi wajah, perilaku, karakter, tapi tidak dengan cara berpikir. Saudarinya tersebut jauh lebih terbuka dan selalu berusaha melihat sesuatu dari segi positif. Tidak seperti ibunya yang berpikiran sempit dan melihat segalanya dari sudut pandang negatif. Itu membuat Christov mengalami kesulitan mengekspresikan dirinya karena sudah terbiasa diam. Diam karena pikiran sempit ibunya.


"Apa kau tau tentang kegiatan atau kejadian apa yang kulewati selama enam bulan belakang ini?"


Christina mengangkat kedua bahunya dan mengalihkan tatapannya ke arah Nugget dan Salmon, "Bekerja? Kau adalah pria workaholic, Christov..."


(Workaholic \= Istilah bagi seseorang yang gila kerja.)


Bukan. Bukan jawaban seperti itu yang diharapkan Christov.


"Apa aku berkencan dengan seseorang?"


"Maksudmu Clara? Kalian sudah berkencan yah?"


Christina yang dia kenal akan menjawab, 'Aku tidak tahu. Bagaimana mungkin aku tahu, huh?'


"Aku belum punya hubungan apa-apa dengannya,"


"Christov, aku benar-benar tidak tahu apapun tentang kehidupanmu enam bulan belakangan ini karena aku sudah cukup disibukkan dengan urusanku sendiri," suara Christina sedikit meninggi. Menambah tingkat kecurigaan Christov.


"Apa Mama menyembunyikan sesuatu dariku?"


"Sesuatu? Sesuatu seperti apa Christov?"


"Jika aku tahu, aku tidak akan bertanya..."


Christina melirik Christov sekilas dan mendengus, "Memangnya, hal macam apa yang akan disembunyikan darimu, hm?"


Christov tahu betapa lihainya Christina berbohong. Memiliki Ibu yang cukup ketat dalam mendidik anak, Christina selalu membangkang Theresa, Ibu mereka. Christina kerap berbohong, bolos, merokok, dan banyak lagi pada masa remaja menuju dewasa. Namun, tak sekalipun Christina pernah ketahuan oleh Ibunya saking lihai dan cerdiknya dia berbohong.


Begitu lihai dan tak bercela, tapi bukan berarti tidak memiliki celah dan Christov mampu melihat celah itu.


"Mama selalu menyembunyikan banyak hal. Kau tau itu, Christina..."


Raut wajah Christina berubah ke raut wajah dingin, keras, dan mengintimidasi. Raut yang dia keluarkan saat dia merasa jengkel. Semasa sekolah dulu, Christina juga memiliki banyak pembenci dan musuh, tapi tidak ada yang pernah berani menyentuhnya karena tatapannya tersebut mampu membuat siapa pun mundur ketakutan.


"Jika kau merasa Mama menyembunyikan sesuatu, cari tahu sendiri. Aku tidak mau ikut campur dengan kehidupanmu, Christov..."


Jawaban dingin itu. Jawaban yang selalu membuat Christov menjaga jarak dari saudarinya tersebut.


"Bagaimana jika aku mengetahui fakta bahwa kau menyembunyikan sesuatu dariku?"


Christina membisu kemudian menarik napas dan membuang muka dari Christov


"Jarak di antara kita sudah cukup renggang Christov. Aku tidak mau lagi jarak ini semakin renggang karena membahas hal seperti ini."


"Berarti benar.." Christov mengepalkan tangannya, "Berarti benar jika kau tahu sesuatu, Christina..." katanya dengan nada datar yang tidak memiliki emosi apa pun.


"Aku akan pulang.." Christina berdiri, "C'mon, Nugget, Salmon."


Christov menahan diri tidak meledak dan memilih untuk menghadapinya dengan kepala dingin. Dia sudah terlatih menghadapi situasi seperti saat ini selama bertahun-tahun tinggal bersama Ibunya yang selalu mengekangnya. Berdiri dari duduknya, Christov berjalan ke arah pintu dan membukakannya pada Christina.


"Thank you Christov."


"You're wellcome, sister*.." dia memberi penekanan kuat pada kata 'sister'


(Sama-sama, Kakak)


Christina menatapnya sejenak lalu menarik napas dan berjalan keluar dari apartemen Christov. Namun, saat sudah di luar, dia berhenti.


"Terkadang, beberapa rahasia harus tetap menjadi rahasia, Christov." kata Christina tanpa menoleh ke arahnya yang terdiam.


"Good bye, sister.." dan dengan itu, Christov menutup pintu apartemennya. Kata-kata terakhir Christina sudah cukup menjelaskan bahwa ada yang tidak beres di sini.


Setelah pintu tertutup, Christov menarik napas panjang dan menghembuskannya. Sekarang, dia tahu bahwa Ibunya benar-benar menyembunyikan sesuatu darinya. Kecurigaan itu muncul setelah pertemuannya dengan Cassie hari ini. Dia tahu bahwa bukan tanpa alasan Ibunya tiba-tiba menunjukkan gambar Cassie saat di rumah sakit dulu.


Ditaruhnya kepalan tangan kirinya di mulut dan berjalan mondar-mandir di ruang tamu. Dipejamkan kedua matanya memikirkan kepingan-kepingan puzzle acak yang belum berbentuk. Dia berusaha menyusun puzzel-puzzel yang bagaikan informasi-informasi acak.


"Cassie.. Cassie.." gumamnya berulang kali, berharap bisa mengingat sesuatu. Namun, tidak ada. Berhenti berjalan mondar-mandir, Christov menatap kesal ke arah lantai. Bibirnya bergetar karena ketidakmampuannya mengingat kejadian itu. Ingin rasanya menghubungi Cassie, tapi saat ini sudah terlalu larut untuk menghubunginya. Di sisi lain, dia takut bahwa kecurigaannya ini salah. Bagaimana.. Bagaimana jika Cassie hanyalah orang asing acak? Dia ragu dan juga takut.


Ketidakmampuan ini membuatku gila.


Senin pagi, seperti biasa Christov melakukan rutinitasnya. Bangun, makan, mandi, dan berangkat kerja. Keluar dari lift, Christov berjalan lesu di sepanjang lorong bangunan menuju lokasi kerjanya. Elisabeth, sekretarisnya tersebut menyambut dia dari balik meja kerjanya.


"Good morning, Sir.."


Christov mengangguk kecil dan berjalan melewatinya tanpa menyapa kembali.


"Sir?"


Christov memutar tubuhnya, "Yah?"


"Anda mendapat sebuah undangan ke pesta rumah penilik proyek CW,"


"Aku tidak datang dan lain kali kau tidak perlu bertanya lagi tentang hal seperti ini. Kau bisa langsung menolak undangan yang ada,"


Kenapa pula Elisabeth harus bertanya itu? Jelas-jelas Christov menegaskan padanya bahwa dia tidak suka pesta dan hal yang semacam itu.


"Ah.. Baik, Sir," kata Elisabeth dengan nada sedikit kebingungan.


"Jika ada undangan pesta, tolak saja. Beri alasan terbaikmu," tegas Christov sekali lagi.


"Baik, Sir. Saya mengatakan ini karena sebelumnya anda pernah berpesan pada saya untuk menginformasikan anda pada setiap undangan pesta yang ada."


Christov bingung. Kenapa dia mengatakan hal semacam itu?


"Kapan itu?"


"Sejak senam bulan lalu. Anda selalu aktif pergi ke berbagai perkumpulan dan pesta, Sir. Maka dari itu, saya memberitahukan tentang ini,"


Apakah ini bisa dijadikan Christov sebagai informasi yang membantunya menyusun puzzle-puzzle itu?


"Apa kau bisa menyediakan daftar pesta yang kuhadiri selama enam bulan ini?"


"Yes, Sir. Apa saya perlu menyediakan sekalian daftar tamunya juga, Sir? Karena anda selalu memeriksa daftar tamunya untuk memutuskan pergi atau tidak."


Kenapa aku melakukan itu? Batinnya bertanya-tanya lagi.


"Yah, tolong berikan padaku dalam bentuk soft-file,"


"Yes, Sir..."


"Thank you."


Christov beralih dari sana dan berjalan masuk ke ruang kerjanya di mana para tenaga kerjanya sudah datang. Mulai bekerja, bekerja, makan siang, menikmati kopi lalu kembali bekerja dan bekerja terus hingga waktu menunjukkan pukul lima sore. Dia memang mampu menyelesaikan pekerjaannya, tapi pertanyaan-pertanyaan serta teka-teki itu membuatnya kurang fokus.


"Sampai ini pertemuan kita. Kirimkan aku hard file dari apa yang sudah kalian kerjakan untuk kuperiksa kembali,"


"Yes, sir," jawab ketiganya dengan kompak.


Christov tersenyum, "Kalian bekerja dengan baik seperti bisa. Sampai jumpa besok."


"Yes, Sir.."


Christov keluar dari rungan itu dengan tas kerja di tenteng di tangan kirinya. Dia melihat Elisabeth yang tengah bersiap-siap pulang.


"Elisabeth, apakah soft file yang kuminta sudah selesai?"


Elisabeth mengangkat kepalanya dan segera menggangguk, "Sudah, Sir.. Ini," diberikan dia map plastik kuning yang sedikit tebal kepada Christov.


"Saya juga menandai pesta yang anda hadiri serta yang tidak anda hadiri, Sir."


"Thank you, Elisabeht."


"My pleasure, Sir."


(Sama-sama)


"Kalau begitu. Sampai jumpa besok.."


Christov berjalan keluar dari gedung menuju basement. Setelah menaruh segala perlengkapannya di kursi mobi, Christov memajukan mobilnya. Matanya sesekali melirik ke arah map kuning itu karena dia benar-benar tidak sabar untuk mencari tahu informasi apa yang bisa dia dapat di sana.


Hanya tinggal beberapa ratus meter dari bangunan apartemennya, Christov mendapat panggilan dari Clara yang terpampang jelas di layar monitor GPS. Dia mendengus dan membiarkan itu berdering hingga mati. Namun, tampaknya Clara tidak menyerah. Clara tetap menghubunginya hingga dia memasuki daerah bangunan apartemennya.


Biarkan saja.


Saat memutar mobil di depan lobi apartemen menuju basement, Christov malah melihat ada Clara berdiri di teras pintu masih apartemen dengan ponsel menempel di telinganya. Clara menoleh ke arah kedatangan mobilnya dan ada tatapan penuh keterkejutan saat melihat Christov yang berada di dalam mobil.


Ah.. Sialan.


***


Miss Foxxy


pendek yah? T_T maafkan daku. Love you.