
Happy Reading
***
NB : Chapter ini berhubungan langsung pada chapter 24 "The Truth"
Kejadian setelah pemukulan Madison Clayton pada Cassie di tempat Boxing
***
Cassie membuka kelopak matanya yang terasa berat dalam gerakan perlahan. Cahaya yang silau menyakiti kedua matanya dan bau obat-obatan yang kuat membuat Cassie menyerngitkan hidung. Dia mengedip-edipkan mata berulang kali untuk menyesuaikan pencahayaan di ruangan tersebut pada pandangannya. Kepalanya terasa berat dan berdenyut-denyut. Dalam gerakan perlahan, Cassie mengangkat tangan kirinya yang dipasangkan infus untuk memegangi kepalanya yang sakit.
"Sakit.." bisiknya pelan dengan suara parau. Dia kembali menaruh tangan kirinya pada sisi tubuh lalu menatap kosong ke atas langit-langit ruangan rumah sakit yang berwarna putih. Cassie merasa dia baru saja terbangun dari mimpi panjang yang penuh kebahagiaan, kesedihan, kekecewaan, dan kemarahan. Mimpi yang sangat nyata.
Kedua matanya berair dan saat Cassie berkedip, setetes air mata mengalir dari sudut mata kirinya. Mengalir dalam gerakan perlahan dan air mata itu bagaikan simbol patah hati dan kesedihan yang dia rasakan saat ini.
"Aku merindukannya.." bisik dia lagi dengan nada hancur, "Aku merindukan, Christov.."
Mimpi yang dia impikan dalam tidurnya tersebut bukan sekadar mimpi belaka. Namun, sebuah gambaran kilas balik kehidupan enam bulannya yang terlupakan.
Fakta bahwa keluarga dan teman-temannya menyembunyikan tentang hubungan mereka membuka luka di hatinya semakin menganga lebar. Terutama pada Miranda dan ketiga temannya yang menghadiri pernikahannya dan Christov. Sangat kejam. Pikir Cassie. Dia tidak habis pikir mengapa mereka mampu melakukan hal setega itu. Dia dan Christov sudah menikah dan mereka adalah saksi hidup yang Cassie percayai sepenuh hati. Namun, kepercayaan itu hancur karena mereka menyembunyikan seluruh fakta itu. Berusaha menguburkan kejadian enam bulan itu dalam-dalam dan membiarkan itu terlupakan dan hilang oleh waktu.
Kecelakaan yang menimpa dia dan Christov setelah pulang dari Rhode Island benar-benar membuatnya kehilangan kata-kata. Fakta lain yang membuatnya terkejut adalah Christov juga nampaknya lupa ingatan seperti dia karena mereka sudah berapa kali bertemu dan Christov menganggapnya sebagai orang asing dan begitu juga dengan Cassie. Lalu, Cassie hanya kehilangan ingatan sejak pertama kali bertemu dengan Christov. Dia kehilangan enam bulan ingatannya bersama dengan Christov. Bagaimana dengan Christov? Sejauh apa dia melupakan berbagai ingatan tentang kejadian yang sudah berlalu?
Bagaimana bisa kejadian seperti ini terjadi? Apakah benar bahwa mereka tidak seharusnya bersatu? Apakah ini cara kerja dari kehidupan yang tidak merestui hubungan Cassie dan Christov? Namun, jika benar begitu, kenapa ingatan Cassie kembali? Jika memang takdir tidak merestui mereka, baik dia dan Christov tidak akan pernah mendapatkan ingatan itu kembali. Namun, di sinilah Cassie, berbaring dengan ingatannya yang sempat hilang.
Hah.. Ingatan pertengkarannya dengan Madison saat di tempat pelatihan boxing tersebut kembali terbayang. Pukulan keras Madison-lah yang membuat ingatannya kembali. Apakah Cassie harus merasa bersyukur akan pukulan keras yang membuatnya kembali terbaring di rumah sakit?
Rancu. Pikirnya.
"Oh my.. Aku tidak pernah menyangka melihat Cassie kembali ke rumah sakit ini untuk kedua kalinya," Cassie mendengar suara Barbara yang memasuki ruangan tersebut.
"Aku tahu, Mom.. Dokter sudah mengatakan tidak ada yang salah pada kepalanya.."
"Lalu, bagaimana bisa Cassie bertemu kembali dengan Madison? Madison Clayton, bukan? Anak yang pernah merundung Cassie?"
Cassie menatap keduanya yang tengah berdebat di depan pintu dan tidak menyadari dia yang sudah tersadar.
"Aku tidak tahu.."
"Akan aku tuntut dia.." ujar Barbara dengan nada penuh amarah.
"Tidak bisa, Mom.. Melalui CCTV, Cassie-lah yang pertama memukul Madison.."
"Tapi, Cassie tidak mungkin melakukan hal tersebut tanpa alasan yang kaut.."
"Menurut ketiga temannya, Madison-lah yang pertama memulai pertengkaran dengan cara mengejek-ejek Cassie.."
"Astaga!" suara Barbara semakin meninggi. Tangan kanannya berada di pinggul dan tangan kiri berada pada pelipis kepala, menandakan betapa frustasinya Barbara saat ini.
"Namun tetap saja itu penjelasan orang-orang di sana tidak akan memperkuat posisi kita. Melaporkan Madison kepada hukum tidak akan membuat kita menang, malah itu bisa membuat posisi kita tidak aman. Mom tahu sendiri bahwa wanita sialan itu punya orangtua yang sangat berpengaruh di kota ini.."
Tubuh Barbara sedikit lunglai dan Miranda dengan sigap menangkap tubuh Barbara tersebut.
"Mom? Mom tak apa?"
"Aku merasa gagal menjadi orangtua yang baik untukmu dan juga untuk Cassie.."
"Mom," panggil Cassie dengan suara parau nan pelan. Panggilan Cassie tersebut tentu menarik perhatian keduanya. Miranda dan Barbara menoleh ke arah Cassie yang sudah tersadar.
"Mom.." panggil Cassie lagi dan air mata Barbara segera tumpah. Dia buru-buru berlari ke arah Cassie dan memeluk tubuhnya.
"Oh my.. Puteriku.. Puteriku.." raung Barbara
"It's okay, Mom.." bisiknya pelan, "Aku baik-baik saja.."
Cassie tersenyum tipis lalu menoleh ke arah Miranda yang masih berdiri mematung di depan pintu. Cassie mengangguk sekali dan memberikan senyuman penuh misteri pada saudarinya tersebut.
"Aku kembali," katanya pelan, "Aku sudah kembali, Mom.."
***
Cassie mendengar percakapan ketiga temannya bersama Miranda dan Barbara di kamar rumah sakit. Dia tidak terlalu fokus pada pembicaraan itu dan memilih memusatkan perhatian pada akun google miliknya dan Christov. Cassie tidak bisa masuk ke akun google tersebut tanpa kode verifikasi google yang tersambung pada nomor ponsel Christov,
Dia sudah memiliki nomor ponsel Christov dan bisa saja menghubungi pria itu saat ini juga untuk meminta kode verifikasi, tapi Cassie mengurungkan niat karena Christov dalam posisi lupa ingatan. Memberi Christov dengan pertanyaan aneh yang tidak diingat hanya membuat keadaan pria itu memburuk. Dia memilih melakukan semuanya secara bertahap dan hati-hati. Cassie berpikir bahwa jika memberitahu semua fakta dan bukti pada Christov secara sekaligus bukanlah ide bagus, ditambah, dia tidak tahu seburuk apa ingatan Christov yang hilang.
Christov adalah suaminya dan pria itu adalah miliknya. Bagaimana pun, Cassie akan merebut miliknya kembali. Namun, kondisi saat ini benar-benar membuatnya harus berpikir keras. Christov lupa ingatan, keluarganya dan keluarga Christov tidak merestui mereka, dan ketiga teman terbaiknya pun tega membohongi Cassie. Belum lagi tentang Clara. Sialan..Umpatnya saat mengingat kembali pertemuannya dengan Christov saat di rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan rutin. Dia ingat bahwa Christov datang dengan Clara. Susah sejauh apa Clara melangkah untuk merebut Christov? Ini membuatnya khawatir, tapi dengan segudang fakta dan bukti yang ada padanya bisa membantu keadaan Cassie yang terjepit.
"Kenapa kau hanya diam saja?" tanya Gerald yang duduk di sofa dan Cassie mengangkat kepala dari ponsel untuk menatap mereka.
"Aku bingung ingin membicarakan apa," jawab dia singkat, "Mom?" panggilnya.
"Yeah, darling?"
"Kapan aku bisa pulang?'
"Dokter berkata kau sudah bisa pulang besok atau lusa. Namun, Mom tidak keberatan jika kau menginap seminggu lagi di sini."
"Namun, kesehatanmu adalah yang terpenting, Cassie.."
"No, Mom," balasnya dengan nada dingin dan membuat seisi ruangan mendadak hening, "Aku akan pulang besok. Sekarang aku tidur akan kembali, kumohon, bicaralah dengan suara pelan," Cassie memperbaiki posisi bantalnya dan mengambil posisi berbaring. Dia memasang penutup mata dan mulai merencanakan apa saja yang dia harus lakukan setelah keluar dari tempat ini.
Just wait me*, Christov. Aku akan datang padamu..
(*Tunggu aku)
****
"Kita bahkan sudah merancang undangan untuk pertunangan kita," ucap Clara seraya mendorong amplop undangan kotak berwarna putih gading yang kelihatan mewah. Christov menatap undangan dan cincin itu secara bergantian. Dia kembali memasukkan cincin ke dalam bantalan kotak cincin lalu menutupnya. Kepalanya mendadak terasa pusing hanya melihat kedua benda ini disodorkan pada dia karena Christov harus berusaha kembali mengingat kedua benda tersebut. Namun, kosong. Christov tidak mengingat sedikit pun tentang kedua benda ini.
"Clara?" panggilnya.
"Yah?"
"Bisakah kita membicarakan hal ini lain kali saja?" pinta Christov, "Aku tiba-tiba merasa tidak enak badan,"
"Kau okay? Kita bisa ke rumah sakit tempatku bekerja untuk memeriksa mu.."
Christov menggeleng, "Aku baik-baik saja. Aku hanya butuh istirahat. Kita bicarakan ini lain kali saja," dia bangkit dari duduknya, "Aku bisa memanggil taxi untuk mengantarmu pulang.."
"Tidak perlu,"jawab Clara dengan nada dingin, "Tidak perlu, Christov. Pulanglah. Aku bisa mengurus diriku sendiri."
Mereka saling bertatapan dan Christov menahan napas. Entah mengapa, dia tiba-tiba merasa bersalah melihat tatapan sakit hati dari Clara. Namun, rasa ego membuatnya memberanikan diri membalikkan tubuh dan meninggalkan Clara sendirian.
Aku butuh waktu sendirian.
Aku butuh waktu sendirian.
Christov terus mengulang kalimat pendek itu berulang kali. Merapatkannya bagaikan doa. Terus hingga dia sampai pada unit apartemennya. Dia melepas sepatu, kaos kaki, jaket, dan berlari kecil menuju kamarnya. Christov melepas gesper serta kemeja yang dia kenakan sebelum menjatuhkan diri di atas ranjang dalam posisi telungkung.
"Oh my.." bisiknya pelan. Matanya terpejam dan tangan kanannya merayap ke arah dada kiri untuk merasakan detak jantungnya yang berdetak kencang. Beberapa bayangan gelap muncul dalam pikirannya dan itu benar-benar menyakiti kepala Christov.
"Apa yang kulupakan?" bisiknya frustasi, "Apa yang terlewatkan?"
Saat dia tengah berpikir, dering ponsel yang berada di saku celana membuat perhatiannya teralihkan. Christov menggeram marah dan tetap merogoh ponsel dari saku. Saat dia memeriksa layar ponsel, beberapa pesan kode verifikasi akun google itu kembali lagi.
"Sialan," dia mengumpat seraya mengambil posisi duduk di atas ranjang, "Kenapa pesan seperti ini terus datang?" Christov menghapus pesan spam tersebut. Dia berharap bisa memblokir pesan spam itu, tapi setiap kali Christov menekan link dalam pesan tersebut, dia akan teralihkan pada kolom login akun google. Akun apa yang perlu dia masukkan ke dalam ini?
"Apa aku pernah membuat akun google seseorang yang tersambung dengan nomor ponselku? Atau seseorang mencuri nomor ponselku untuk membuat akun google?"
Christov kembali berbaring di tempat tidur dan memeriksa beberapa kotak masuk di email-nya yang belum terbaca. Sebuah email dari perusahaan perhiasaan Swarovski menarik perhatiannya. Email itu sudah terkirim sejak tiga hari yang lalu. Email dari Swarovski berisi undangan pada pelanggan perhiasan Swarovski untuk menghadiri semacam pameran dan lelang perhiasaan Swarovski.
"Kapan aku memberi ID emailku pada perusahan ini? Apa aku pernah menjadi pelanggan dan membeli sesuatu dari tempat ini?"
Christov kembali mengingat beberapa koleksi jam tangan miliknya. Dia belum pernah membeli barang apa pun dari perusahaan perhiasaan terkenal ini. Jadi, mengapa email undangan ini datang? Tidak ada asap jika tidak ada api. Batinnya.
"Menarik.." Christov mencari ringkasan transaksi keuangannya pada bulan tujuh dan bulan delapan, bulan sebelum dan sesudah terjadinya kecelakaan yang menimpa dia. Christov menemukan ringkasan transaksi tersebut di dalam email dan membuka filenya. Saat file sudah terunduh, Christov mulai memeriksa ringkasan transaksinya keuangannya pada bulan ketujuh dengan saksama.
Pada minggu ke tiga di bulan tujuh, Christov menemukan transaksi sebesar $32.000 di toko Swarovski berupa dua pasang cincin.
"$32.000?" bisiknya penuh ketidakpercayaan. Dia tidak menyangka akan menghabiskan uang sebanyak ini untuk suatu barang yang tidak dia ingat sedikit pun.
"Apa ini berkaitan dengan cincin yang diberikan oleh Clara?" bisiknya pelan, "Apakah ini cincin yang sama?"
Namun, dia tidak bisa menjawab pertanyaan itu karena tidak punya bukti gambar. Christov kembali mencari detail tentang pesanan tersebut dan menemukannya pada kotak email. Dia melakukan transaksi pada toko perhiasan Swarovski di pusat perbelanjaan Los Angeles. Christov menyalin alamat toko perhiasan tersebut dan menempelkannya pada catatan di ponsel.
Dia kembali memeriksa ringkasan transaksi keuangan pada bulan kedelapan yang terhenti pada tanggal 16 Agustus 2020. Hari di mana aku kecelakaan. Katanya dalam hati.
Minggu, 9 Agustus 2020, dia melakukan transaksi sebesar $18.000 pada sebuah toko butik dengan nama Gerald's Boutique. Dalam rincian tertulis bahwa dia melakukan transaksi pada sebuah gaun. Tidak ada penjelasan lebih lanjut tentang gaun tersebut dan itu hanya membuat Christov semakin penasaran.
"Cincin dan sekarang gaun. Gaun? Gaun apa? Kenapa aku membayar gaun ini? Untuk siapa gaun ini?" tanya dia dengan nada penuh frustasi. Christov menatap ponsel itu lekat-lekat, berharap dia akan mendapat jawaban pertanyaannya dari ponsel tersebut. Namun, sayangnya tidak ada. Christov memilih menyalin alamat Gerald's Boutiique tersebut pada catatan di dalam ponselnya dan memilih memeriksa langsung tentang transaksi gaun gaib yang dia lakukan.
"Bagaimana jika ini adalah gaun pertunangan untuk Clara? Jadi pertunangan itu mungkin saja benar?"
Christov menjilat permukaan bibirnya yang terasa kering dan menatap penuh kecurigaan pada sekitarnya. Apa yang terlewatkan? Apa yang terlupakan? Dia menarik napas panjang dan kembali memeriksa ringkasan transaksi keuangannya.
Selasa, 11 Agustus 2020, dia melakukan transaksi sebesar $4000 untuk dua pasang tiket tiket pesawat kelas satu pulang pergi dari Los Angeles ke Rhode Island melalui aplikasi W
Rabu, 12 Agustus 2020, dia melakukan transaksi sebesar $6000 untuk penginapan hotel selama tiga hari dua malam di Rhode Island melalui aplikasi W.
"Apa-apaan ini?" bisiknya dengan napas terengah-engah. Dua pasang tiket? Untuk siapa? Christov dan.. Huh.. Christov tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Kenapa? Kenapa dia memesan dua buah tiket? Jantungnya berdegup kencang dan jemarinya bergetar hebat ketika membuka aplikasi W. Dia mencari transaksinya tersebut untuk mencari kebenaran. Mulut Christov terbuka lebar dan dia kesulitan bernapas ketika melihat deretan tanggal penerbangannya selama bulan Agustus 2020
Jumat, 14 Agustus 2020. Pukul 09.00 dia melakukan penerbangan dari Los Angeles menuju Rhode Island.
Minggu, 16 Agustus 2020. Pukul 20.00 dia sampai di bandara Los Angeles dengan penerbangan dari Rhode Island.
"Hari di mana aku kecelakaan.." bisiknya pelan dan kepalanya terangkat ke depan untuk menatap kosong ke arah dinding, "Artinya aku kecelakaan setelah pulang dari Rhode Island. Apa yang terjadi? Mengapa aku pergi ke Rhode Island? Apa arti dari semua transaksi yang aku lakukan ini?"
****
Miss Foxxy
Maaf baru kembali. Soalnya baru selesai liburan heheheh. Babak terbaru dan babak terakhir dari kisah ini akan di mulai. Di babak ini juga kita akan menemukan akhir dari kisah cinta ini. Jangan lupa dukung author dengan menyempatkan memberi like, vote, love, poin, koin, dan lainnya. Ayo semangat dukung author yukk ♥️🖤🧡💜💙💚💛