Remember Me

Remember Me
Fairytale



Happy Reading


***


Pelukannya hangat.


Itulah satu-satunya yang dapat Cassie pikirkan ketika Christov melingkarkan kedua lengannya pada sekitar tubuhnya. Rasa amarah yang melingkupi dirinya perlahan surut dan membuat dia merasa tenang. Cassie memejamkan mada dan menyandarkan kepalanya pada dada Christov. Dia akhirnya pasrah dalam pelukan pria itu.


"Jantungmu berdegup kencang..." gumam dia pelan. Christov semakin mempererat pelukannya dan mulai mengelus rambut Cassie dengan lembut.


"Apa kepalamu masih terasa sakit? Itu terbentur sangat keras..."


Cassie mendadak mendorong pria itu menjauh hingga pelukannya terlepas. Christov menatapnya heran karena tiba-tiba didorong begitu saja, sedangkan Cassie menjaga ekspresi wajahnya tetap datar.


"Kepalaku tidak masalah. Aku sudah pernah mengalami hal yang paling parah dari benturan kecil seperti ini,"


"Apa yang sedang kau bicarakan?" tanya Christov dengan nada heran, tidak tahu arah pembicaraan mereka.


"Apa kau mabuk?" Cassie bertanya kembali, mengacuhkan pertanyaan Christov.


Pria itu mendesah kesal dan mengusap wajahnya dengan kasar, "No... Aku sadar sepenuhnya sedari awal,"


"Jadi?"


"Jadi? Apa maksud pertanyaanmu?"


Dia menyipitkan mata, "Jadi apa yang kau lakukan dengan wanita asing itu di tempat sepi, huh?"


"Bagaimana denganmu? Bagaimana kau menjelaskan hal yang terjadi tadi pagi?"


Cassie kini membuka matanya lebar, "Jadi apa yang aku lihat tadi pagi ini bukanlah kesalahan..." gumamnya pelan saat mengingat kembali mobil Christov yang melewati jalan di area apartemennya. Melihat Cassie yang bengong, Christov menggeram kesal karena wanita itu tampak teralihkan dari masalah utama mereka.


"Huh.. Sudahlah. Aku akan pergi," ucapnya dengan nada kesal.


"Pergi?" suara Cassie meninggi, "Kau bilang kau ingin pergi saat masalah kita belum selesai?"


Christov menarik napas dan mengembuskannya perlahan. Kenapa dia kesulitan menahan perasaannya saat di sekitar Cassie? Huh.. Padahal menahan emosi adalah hal yang paling mudah yang dapat dilakukan oleh Christov, tapi tidak saat bersama Cassie. Perasaannya dapat berubah dengan cepat seperti rollercoaster saat di dekat Cassie. Dia bisa mendadak sedih, marah, bahagia, dan lainnya dalam waktu yang berdekatan.


"Aku bingung..." ucap Christov dengan nada sendu, "Aku bingung kenapa kita mempermasalahkan ini. Aku bingung kenapa aku marah saat kau bersama mantan kekasihmu... Aku bingung kenapa kau marah saat aku bersama Cl--" dia menghentikan perkataannya secara tiba-tiba karena nama wanita asing itu bukanlah Clara.


Ditatapnya Cassie dan Christov tidak tahu apa yang tengah dipikirkan oleh wanita itu.


"Huh.. Kau mengerti maksudku, bukan? Aku dan kau bukanlah siapa-siapa..." katanya dengan nada sedih.


"Kita teman, Christov.."


"Teman? Friends with benefit*, maksudmu?"


(*TTM)


Cassie menatapnya terkejut, seolah tersadar akan sesuatu di balik perkataan Christov. Dia menggaruk kulit kepalanya, tiba-tiba merasa bingung juga setelah menyadari kebenaran di balik perkataan Christov.


"Kenapa? Apa kau akhirnya sadar bahwa kita berdua bukanlah siapa-siapa?"


"Argh.. Sudah kubilang aku temanmu,"


"Lalu apa? Kita akan tidur bersama lagi tanpa ikatan hubungan?"


"Kita punya hubungan, Christov," ucap Cassie dengan suara kekeuh.


Dia memejamkan mata, merasa lelah dengan perdebatan ini, "Kita tak punya hubungan, Cassie..."


"Kenapa kau seperti ini? Kau-lah yang pertama datang padaku dan kau juga menginginkan hubungan semacam ini. Selama satu bulan lebih kau tidak mempermasalahkannya, kenapa sekarang kau berubah?"


Dia tidak mengerti.. Batin Christov dengan kecewa. Dia tidak mengerti alasan di balik kecemburuanku.


"Jawab aku, sialan.."


"Aku tidak bisa melakukannya lagi, Cassie..." matanya menatap Cassie dengan nanar.


"Why? Kau suka dan aku juga suka. Kenapa seperti ini? Apa yang salah? Apa yang kau permasalahkan?)


(*Kenapa)


"I can not have a se-x with the girl I love..."


(*Aku tidak mau ber-se-tu-buh dengan wanita yang aku cintai)


"Apa?" kata Cassie dengan suara terkesiap, terkejut bukan main saat mendengar jawaban Christov.


Dia menundukkan kepala, tak berani melihat Cassie. Huh.. Dia takut akan penolakan dari wanita itu.


"Aku tak mau melakukan se x denganmu lagi, Cassie.. I wanna making love with you* dan bukannya bersetubuh dengan wanita yang aku cintai..."


(*Aku ingin bercinta denganmu)


Christov terdiam dan menunggu respon dari wanita itu, tapi dia tidak mendengar reaksi apa pun dari Cassie. Dengan keberanian penuh, Christov mengangkat kepala untuk melihat ekspresi wajah Cassie saat ini. Wanita itu menatapnya dengan tatapan penuh ketakutan dan keterkejutan.


"Jangan berbohong," bisiknya dengan suara bergetar.


Christov tertawa kecil, "Untuk apa aku berbohong? Aku tak mau melakukan hubungan friends with benefit lagi denganmu. Aku ingin sebuah hubungan yang nyata. Aku dan kamu.."


Cassie memutuskan kontak mata mereka dan menatap kosong ke lantai.


"Sejak kapan? Sejak kapan kau menyukaiku?" dia mengangkat kepalanya lagi, "Aku sudah memperingatkanmu dari awal untuk tidak menyukaiku karena aku tidak menginginkan sebuah hubungan..."


"Kenapa?" suara Christov meninggi, "Kenapa kau tidak mau memiliki sebuah hubungan? Beri aku alasan? Apa karena mantan kekasihmu?"


"Bukan!" teriak Cassie, "Bukan karena Jason dan apa yang kau lihat pagi ini tidak seperti yang kau pikirkan, Christov. Dia.. Dia.." wanita itu kehilangan kata-kata, bingung harus memilih kata-kata apa yang harus diucapkan untuk menjelaskan keadaanya.


"Oh my.." erang Cassie dengan nada fruatasi. Kedua tangannya berada pada atas kepalanya, "Mengapa bisa kau menyukai wanita sepertiku? Bukankah aku sudah memperingatimu sejak awal untuk tidak menyukaiku?"


"Karena aku menemukan kebahagian saat bersamamu, Cassie.." kata Christov dengan suara penuh keputusasaan, "Aku mendapatkan kebahagian yang tidak pernah kudapatkan dari orang lain saat bersamamu.. Aku suka matamu dan aku menyukai semua yang ada pada dirimu, Cassie..."


"Christov.. Please.. Jangan.. Jangan mengatakan hal seperti ini padaku..."


Dia menggeleng kecil, "Aku tidak mau lagi memendamnya karena aku sudah bosan memendam semua perasaanku selama ini. Setidaknya.. Setidaknya aku ingin sekali saja jujur dengan perasaanku. Bukankah kau yang menasihatiku untuk jujur dengan perasaanku sendiri?"


"Sial.." bisiknya pelan, "A--Aku.. Ahk.. Christov.. Astaga..." kata Cassie dengan tergagap, bingung sendiri dengan kondisi saat ini.


Dia tersenyum kecut, "Jangan bingung dan jangan terbebani. Jika kau ingin menolakku pun tak apa," kata Christov dengan suara tegar, "Aku hanya ingin sekali saja bisa jujur akan perasaanku,"


"Huh.. Jangan menatapku dengan tatapan seperti itu, Christov."


"Bagiku kau seperti tokoh impian dalam dongeng favoritku. Tokoh yang tak dapat kuraih.."


"No... Jangan mengucapkan kata-kata puitis padaku, Christov.." Cassie mengacak-acak rambutnya dengan kesal, merasa terbebani dengan ungkapan perasaan Christov.


"Dan untuk Jason, aku percaya pada kata-katamu bahwa tidak ada yang terjadi antara kalian berdua.. Hanya itu yang ingin kukatakan..." dia kini tersenyum, berusaha nampak tegar, "Kau tidak kembali ke pesta?"


"Sudah kukatakan jangan merasa terbebani. Aku akan pulang setelah ini. Nikmati pestamu.." dia memutar tumitnya dan melangkah pergi dari sana. Dari hatinya yang paling dalam, Christov berharap jika wanita itu mengejarnya. Namun, tidak ada. Dia tidak mendengar suara langkah kaki mendekat ke arahnya hingga sampai di lokasi pesta.


"Penolakan.." gumamnya sedih. Dia berdiri di lantai dansa, di antara kerumunan. Christov benar-benar kehilangan arah saat ini. Dia tidak tahu harus berbuat apa-apa karena Christov belum pernah mengalami pengalaman sepahit ini.


Kedua matanya menatap kosong ke depan dan tidak peduli ketika orang-orang yang menari menabrak tubuhnya. Ah.. Entah kenapa, Christov merasa seolah kehilangan seluruh semangat hidupnya. Apakah ditolak oleh seseorang yang kau cintai selalu semenyakitkan ini?


Mari kita pulang. Ajak dia pada dirinya sendiri dan kembali melangkahkan kakinya melewati kerumunan itu. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana dan kepalanya menunduk lesu. Dia masuk ke dalam mobil dan duduk berdiam diri di sana untuk beberapa saat. Tangannya menyalakan pemutar musik mobil dan memilih lantunan piano Clair De Lune milik Debussi. Lantunan piano yang terdengar sangat menyanyat hati


Mata dipejamkan dan membiarkan lantunan nada yang menyayat hati itu mulai merasuki tubuhnya, membuat perasaan sedih di dalam dirinya semakin tumbuh membesar. Saat ini dia benar-benar sekuat tenaga untuk menahan diri agar tidak memukul benda yang ada disekitarnya untuk melampiaskan perasaannya yang tengah berkecamuk.


"Sialan..." umpatnya bersamaan dengan matanya yang terbuka. Dia menatap kesal ke luar kaca mobil.


"Ini tak akan membuatku semakin baik," ucapnya seraya mematikan pemutar musik mobil. Mendengar musik sedih saat patah hati bukanlah ide yang bagus.


Segera dia menyalakan mesin mobil dan bersiap untuk pergi. Yah.. Mari bergerak pergi dan melangkah menjauh dari masa lalu yang tidak menyenangkan ini. Dia memindahkan persneling mobil ke mode mundur lalu melajukannya setelah keluar dari parkiran. Christov hendak memindahkan persneling mobil ke roda gigi dua, tapi mengurungkan niatnya saat mendengar seseorang memanggil namanya Terdengar sayup, tapi Christov yakin mendengar seseorang tengah meneriaki namanya. Dipindahkan arah pandang menuju kaca spion dan melihat Cassie tengah berlari ke arah mobilnya.


"Cassie?" tanya dia heran dan segera menghentikan mobilnya. Dalam hitungan detik dan kecepatan lari yang cepat, wanita itu sudah ada di samping pintu mobilnya. Christov membuka pintu mobil dan membiarkan Cassie duduk di samping kursi pengemudi. Matanya menatap heran pada wanita itu.


"Huh.. Astaga.." ucapnya dengan napas tersenggal-senggal. Wajahnya memerah dan di banjiri oleh keringat.


"Kenapa kau berlari seperti itu?" tanya dia dengan nada khawatir seraya menyodorkan botol air mineral yang sudah terbuka.


Cassie menerima botol air itu dan meneguk isinya hingga tersisa setengah saja. Setelah rasa dahaganya hilang, Cassie memberikannya kembali pada Christov. Ditolehkan kepalanya pada Christov yang tengah mengambil lembaran tissue.


"Kau berkeringat sekali.." ucap dia sembari melap wajah Cassie yang berkeringat, "Lepaskan jaket itu,"


"Tidak mau.." Cassie memegangi ujung resleting jaket milik Christov tersebut, "Kau sudah memberikannya padaku..."


Christov berdecak lidah dan memilih mengarahkan pendingin udara mobil ke arah Cassie.


"Terserahmu saja. Kau masih mau minum?"


"Christov.." panggil Cassie. Tatapannya tertuju lekat pada Christov yang juga menatapnya.


"Apa?"


"Bagaimana bisa kau tetap baik padaku setelah aku menolakmu?"


Dia tersenyum tipis, "Sudah kukatakan aku bukan pria baik. Lagian, mana mungkin aku membiarkanmu di luar mobil setelah kau berusaha mengejar mobilku. Ada apa? Kenapa kau datang?" tanya dia dengan nada santai, berusaha tidak menimbulkan suasana canggung. Christov sudah menunggu wanita itu untuk menjelaskan kedatangannya ke mari, tapi Cassie malah mengangkat tangan kanannya ke arah kepala Christov.


"Kenapa rambutmu sangat tebal?" b6isk Cassie.


"Jadi kau mengejar mobilku hanya untuk mengatakan itu?"


Cassie tersenyum tipis dan menarik tangannya kembali. Ditatap pria itu dengan tatapan lembut.


"Kau tahu apa yang kupikirkan saat melihatmu melangkah pergi?"


Jantung Christov tiba-tiba berdegup kencang ketika mendengar pertanyaan Cassie. Sebuah harapan yang sudah pupus itu perlahan tumbuh lagi.


"Kau kelihatan sulit untuk digapai saat kau melangkah pergi. Aku berpikir untuk mengejarmu, tapi sayangnya aku malah hanya berdiam diri di sana seraya menatapmu yang pergi semakin jauh..."


Harapan itu.. Harapan itu perlahan tumbuh.


"Setelah tidak melihatmu lagi, aku berpikir, di mana lagi aku bisa menemukan pria sebaik, semanis, dan sesopan dirimu..." Cassie tertawa kecil, "Lalu aku berpikir lagi bahwa aku pun sedang dalam kondisi tidak menginginkan sebuah hubungan dengan siapa pun.."


Dan lagi.. Harapan itu berhenti bertumbuh.


Cassie memutuskan kontak mata mereka dan menatap ke sembarang arah, "Aku tidak punya alasan khusus kenapa aku tidak menginginkan hubungan, Christov. Aku.. Aku hanya tengah mengalami tahap ini. Tahap di mana aku tidak menginginkan seseorang dalam hidupku..."


Seluruh harapan Christov kini mulai layu kembali setelah mendengar perkataan Cassie.


 "Aku pun tidak mengerti kenapa aku tidak mau terlibat dalam hubungan. Jadi, aku berpikir bahwa aku tengah memasuki tahap hidup di mana aku tidak menginginkan seseorang pun dalam hidupmu," dia kembali menatap Christov, "Kau bukanlah pria pertama yang mengungkapkan perasaan padaku, Christov. Entah sudah berapa banyak pria yang sudah kutolak, tapi tidak sedetik pun aku menyesal karena telah menolak mereka...


Apa? Apa sebenarnya yang hendak dia katakan? Tanya Christov pada dirinya sendiri.


"Namun... Namun, saat aku menolakmu, ada sebuah rasa penyesalan dan rasa ketakutan dalam diriku. Aku benar-benar tidak paham mengapa perasaan itu muncul. Aku.. Aku hanya.."


Lalu.. Harapan itu tumbuh kembali. Tumbuh membesar dalam tubuh Christov. Jantungnya berpacu semakin kuat mendengar perkataan Cassie. Itu bukanlah pernyataan bahwa Cassie mencintainya juga, tapi setidaknya, di balik perkataan itu, tersimpan harapan untuk Christov.


"Aku akan menunggumu.." potong Christov segera, tak ingin melihat Cassie kesulitan untuk mengungkapkan kata-katanya.


"Apa?" tanya Cassie kembali.


"Dari balik kata-katamu, aku yakin masih memiliki harapan untukku..."


"Ta-tapi.." Cassie tergagap dan memejamkan matanya karena kesulitan berpikir tentang apa yang harus dia katakan.


"Apa kau ingin aku pergi atau--"


Wanita itu membuka matanya, "No!" teriaknya dan dengan spontan, kedua tangannya memegangi tangan kanan Christov. Matanya terbuka lebar, seolah terkejut dengan perbuatannya sendiri.


"A-Aku.."


Christov tersenyum dan mengangkat tangan yang bebas untuk memegangi tangan Cassie.


"Aku tahu kau adalah wanita yang selalu terbuka dan jujur dengan perasaanmu. Namun, ada saatnya kau juga akan kesulitan untuk jujur.." ucap Christov lembut, "Aku tidak akan menekanmu, tapi aku ingin mendengar apa yang kau inginkan saat ini. Aku pergi atau--"


"Tunggu aku.." ucapnya dengan suara parau yang terdengar putus asa, "Tunggu aku, Christov.. Aku ingin kau menungguku. Tidak akan lama.. Aku berjanji itu tidak--"


Segera, di menarik tangan Cassie mendekat ke arahnya dan tanpa aba-aba melayangkan bibirnya ke atas milik wanita itu. Tidak ada penolakan, hanya kepasrahan. Kepala saling beradu dan lidah saling terjalin. Ah.. Christov benar-benar merindukan bibir Cassie. Manis dan sangat pas pada mulutnya seolah bibir Cassie diciptakan khusus untuk pria itu.


"I.. I want you, Cassie*..." bisik Christov ketika melepas pa-ngu-tan tersebut. Dia menempelkan dahi dan hidungnya pada milik Cassie yang tengah terengah-engah.


(*Aku menginginkanmu, Cassie.)


"Di apartemenmu?" tanya Cassie dengan nada geli.


"As you wish.."


(*Terserah padamu)


"Apa kau akan menendangku keluar lagi?"


Christov tertawa kecil lalu merangkul leher Cassie ke arahnya, "Tidak lagi..." dikecupnya leher Cassie lalu memejamkan mata untuk menikmati aroma sorgawi dari tubuh wanita itu. Aroma tubuh yang benar-benar dia rindukan. Ah.. Christov sudah bisa merasakan kejantanannya berkedut di bawah sana.


"Aku menginginkanmu, Cassandra.." bisiknya sekali lagi dengan suara parau.


"Yeah, Connel.. Aku menginginkanmu juga..."


***


Miss Foxxy.


Aduh.. Tanggung banget yah? hahaha. Hari ini aku udah ngetik melebihi target sehari, ditambah lagi yg chap tadi pagi. Kalau aku lanjut takut gk sempat edit karna udah larut dan malah keteter untuk besok. Silakan tunggu kelanjutannya besok malam. Semoga bisa update lebih awal. Akhir" ini mmg sibuk bgt :'). Jangan lupa dukung author dan yuk ikutan giveaway.