Remember Me

Remember Me
Love Songs and Dream Houses



Happy Reading


***


"Aku suka warna-warni pastel lembut.."


Christov kembali mengingat perbincangannya dengan Cassie terkait rumah impian wanita tersebut beberapa waktu lalu.


"Rumah di tepi pantai bergaya klasik yang dipadukan dengan sentuhan modern. Seperti rumah kayu yang dipadukan dengan nuansa modren. Bentuknya seperti kastil yang memiliki atap kerucut. Rumah yang jauh dari keramaian, tapi tidak terlalu jauh dari perkotaan. Rumah yang memiliki halaman luas untuk anjing dan anak-anak berlarian serta bermain bebas.."


Anak-anak.. Pikirnya. Apa dia bisa mencapai tahap itu bersama Cassie? Tahap di mana dia dan wanita itu akhirnya menikah dan membangun keluarga bersama. Tahap di mana dia dan Cassie bisa menikmati cahaya sore sembari menatap matahari terbenam di balik lautan dengan anak-anak mereka kelak.


Bayangan tentang membangun rumah tangga bersama Cassie terasa begitu nyata, membuatnya optimis bahwa angan-angan ini bisa terwujud. Christov bisa membayangkan bentuk rumah yang diidam-idamkan wanita itu. Refleks, tangannya segera menggambar sketsa sebuah rumah berdasarkan penjelasan Cassie pada iPad-nya. Gerakannya tangannya mengalir begitu saja, melukis dan menggambar sketsa rumah itu dengan alami. Apa yang dia bayangkan dalam kepala dapat dituangkannya dengan sempurna di atas layar.


"Apa anda tengah mengerjakan proyek lain, Sir?" tanya Mia, salah satu karyawannya. Christov mengangkat kepala dari layar iPad untuk melihat ke arah Mia yang tengah menatapinya penasaran.


Dia menggaruk belakang leher, "Bukan.. Ini hanya gambar iseng.."


"Iseng saja anda bisa menggambar sebagus ini, Sir.." Josh menimpali.


"Benarkah?" Christov hendak mengakhiri pembicaraan ini, tapi dia tiba-tiba teringat dengan perkataan Cassie yang lain tentang bersosialisasi.


Bersosialisasi itu penting, Christov. Kata Cassie padanya pada suatu waktu.


"Nampaknya anda tengah mendesain rumah anda sendiri.." Dylan ikut bergabung dalam pembicaraan, "Walau masih acak, saya sudah dapatkan bayangkan kasar bentuk dari rumah itu.. Nampak bagus, Sir.."


Dia tertawa kecil, "Apakah memang sebagus itu?"


"Yes, Sir.. Itu bagus.. Unik. Jika ditatap sekilas seperti kastil, tapi setelah dilihat lebih lama, itu seperti rumah pada umumnya. Apakah itu rumah di tepi pantai?" kata Mia dengan nada ceria.


"Begitulah.. Aku sedang berencana membuat rumah untuk keluargaku kelak.."


"Oh my.. Keluarga? Anda benar-benar romantis, Sir.. Betapa beruntungnya wanita yang akan menjadi isteri anda suatu saat.." ucap Mia dan perkataan itu membuat Christov berpikir. Matanya menatap sketsa tersebut dengan senyum tipis. Isteri? Bisakah? Apa itu mungkin terjadi? Apa Cassie yang akan menjadi takdirnya?


***


Cassie menaruh trophi miliknya di sebuah rak khusus yang berisi semua pencapain dan penghargaan yang dia terima selama ini.selama bekerja sebagai produser dan penulis lagu. Jumlahnya tak banyak, tapi itu sudah jauh lebih cukup untuk membuktikan kepiawaiannya dalam profesi ini.


Dia kembali duduk di meja kerja dan menikmati pemandangan susunan thropi miliknya. Saat pertama kali mendapat thropi pertamanya, Cassie merasa sangat bahagia dan termotivasi, tapi tidak dengan sekarang. Setiap menerima penghargaan, dia merasa biasa saja, seolah Cassie merasa itu adalah hal yang sepatutnya. Kenapa aku tak pernah puas dengan pencapaianku? Pikirnya seraya memutar kursi ke arah meja.


Karena aku sombong. Jawab dia atas pertanyaannya sendiri. Yah.. Cassie sadar bahwa dia adalah sosok yang sombong. Bagaimana mungkin dia tak sombong dengan segala pencapaian dan prestasi seperti ini? Ditambah, Cassie memiliki badan dan wajah yang diidam-idamkan banyak wanita.


"Hanya Christov yang tidak pernah sombong.." bisiknya pelan saat membayangkan sosok sempurna seperti kekasihnya tersebut. Sekarang, dia malah melamun tentang Christov


Aku melamun karena tidak ada pekerjaan. Cassie benar-benar tidak memiliki pekerjaan lagi untuk beberapa waktu ke depan karena penyanyi yang dia asuh tengah menikmati masa kejayaan album terbaru mereka. Setelah masa kejayaan album itu habis, Cassie akan kembali disibukkan dengan segunung pekerjaan.


Lebih  baik pulang saja. Pikir Cassie seraya membereskan barang-barangnya. Yah.. Sebelum momen pekerjaan segunung itu datang, Cassie akan menikmati waktu bebasnya sekarang dengan sangat baik. Keluar dari ruangannya, dia tidak menemukan Lina di mana pun.


Cassie melangkahkan kakinya menuju ruangan karyawan lain dan menemukan asistennya tersebut tengah bergosip ria. Dia tertawa seraya menggeleng kepala kecil. Ternyata, bukan hanya dia yang merasa tak punya pekerjaan. Well.. Bekerja di industri permusikan memang begitu, saat memiliki pekerjaan, kau seolah tak memiliki waktu untuk menyelesaikannya. Namun, ada saatnya kau merasa tidak memiliki pekerjaan sedikit pun, seperti saat ini contohnya. Untung saja gaji mereka tetap berjalan seperti biasa.


Bukankah itu menyenangkan?


"Lina.." panggil Cassie seraya menyenderkan tubuhnya di kusen pintu. Lina tersadar dan menoleh ke arahnya.


"Ah.. Miss.. Astaga.." ucap Lina kalang kabut karena tertangkap basah bergosip ria dengan karyawan lain. Lina melangkah ke arahnya, "Maafkan saya tidak berada di meja kerja, Miss. Apa anda membutuhkan saya?"


Cassie menggeleng, "Aku akan pulang lebih awal hari ini. Jika ada yang mencariku, suruh saja mengirim pesan melalui email. Ingat, jangan menghubungiku langsung jika bukan hal mendadak..."


"Okay, Miss.."


"Bye.."


"By, Miss Angelis.."


Cassie beralih dari sana menuju mobilnya yang berada di parkiran dengan langkah santai. Setelah duduk di kursi mobil, dia malah melamun. Waktu masih menunjukkan pukul setengah tiga siang. Apa yang akan dia lakukan sesampainya di apartemen?


"Christov.." bisiknya ketika tersadar akan fakta bawah dia sudah memiliki kekasih. Senyumnya merekah dan tanpa ragu, dia meraih ponsel untuk menghubungi Christov.


Kekasihku.. Pikirnya senang seraya menunggu panggilan masuk darinya diterima oleh Christov.


"Halo, Cassie?" senyumnya semakin merekah mendengar suara bariton Christov yang berat. Ah.. Dia benar-benar suka aksen pria tersebut setiap kali mengucapkan namanya. Terdengar sangat se-xi.


"Apa yang sedang kau lakukan?"


"Tentu saja tengah bekerja. Ada apa?"


Senyum Cassie perlahan sirna dari wajahnya ketika mengingat kembali bahwa Christov pasti tengah bekerja saat ini. Dia juga bisa mendengar berbagai bunyi ribut yang menjadi latar belakang suara Christov di seberang.


"Ribut sekali. Kau ada di mana?"


"Aku dan ketiga karyawanku tengah melakukan pemeriksaan rutin pada proyek kami jadi cukup ribut saat ini. Ada apa?"


Cassie menggeleng walau tahu pria itu tidak bisa melihatnya, "Tidak ada.. Datanglah ke apartemenku setelah kau selesai bekerja. Okay?"


"Memangnya kau tidak bekerja?"


"Bekerja, tapi aku memilih pulang karena tak ada lagi yang bisa kukerjakan..."


"Well.. Sepertinya, aku akan pulang tidak lama lagi. Kalau begitu, sampai jumpa. Bye, baby.."


Cassie melipat bibirnya, menahan diri tidak tersenyum. Baby.. Hah... Hatinya menghangat karena panggilan sayang tersebut.


"Bye. I love you.."


"I love you too..."


Setelah panggilan terputus, Cassie tersenyum malu-malu. Beginikah rasanya pacaran setelah sekian lama? Merasa bahagia hanya dengan mendengar suara kekasihmu. Puas menikmati rasa malu-malu tersebut, Cassie menyalakan mesin mobil dan melajukannya untuk pulang ke apartemen. Sepanjang perjalanan, dia mendengar tujuh lagu yang sudah direkamnya dan semua lagu itu tentang Christov. Sampai saat ini, Cassie masih tak habis pikir bagaimana bisa dia menciptakan banyak lagu hanya berdasarkan pengalamannya bersama Christov.


Dia sangat tampan. Batinnya saat mengingat kembali wajah Christov yang tercetak jelas dalam ingatannya. Pria itu selalu memenuhi kepalanya selama 24/7 jadi tak heran dia bisa menulis banyak lirik lagu tentangnya.


Se-xi.. Tak bisa Cassie pungkiri, Christov benar-benar hebat dan panas di atas ranjang. Pria itu bagaikan candu yang membuatnya menggila saat menerima sentuhan lembut dari Christov. Namun, saat tidak mendapatkannya sehari saja, Cassie merasa hidupnya terasa tak lengkap.


"Oh my.." bisik Cassie seraya merapatkan pahanya. Bisa-bisanya libidonya naik hanya mengingat wajah Christov.


"Dia membuatku menggila," bisik dia seraya melangkah keluar dari mobil setelah memarkirkan mobilnya. Sesampainya di unit apartemen, Cassie melakukan kegiatan standar manusia, seperti berganti pakaian, makan cemilan seraya bersantai ria, hingga akhirnya dia memilih untuk mengerjakan musiknya di meja dapur dengan sebuah piano portable.


Awalnya, dia berharap membuat lirik lagu yang tidak berdasarkan pengalamannya dengan Christov, tapi tetap saja tak bisa. Hatinya seolah mengambil alih pikiran dan tubuhnya selama dia bekerja. Christov.. Hanya Christov seorang yang terus memenuhi isi hati dan otaknya.


"Sialan.." umpatnya, "Bisa-bisanya otakku hanya dipenuhi pria ini.." dengan kesal, Cassie menutup sebuah buku jurnal yang berisi coretan nada dan lirik lagu tentang Christov. Dia memang sengaja memisahkan lagu tentang Christov dengan lagu lain yang akan dijual demi privasi. Well.. Cassie tak mau satu rekan kerjanya melihat lagu cinta tentang Christov atau mereka akan mengambil lagu tersebut secara paksa untuk direkam. Dia ingin menyimpan ini sendirian sebagai koleksi pribadi.


"Entah harus sebanyak apa aku membuat lagu tentang si sialan itu.." gumamnya pelan seraya memainkan nada asal dengan pianonya. Hanya berselang beberapa detik, ponselnya yang berada di atas meja berdering. Dengan cepat, dia menyambar ponsel dan menerima panggilan itu tanpa melihat nomor ponsel yang menghubunginya.


"Hallo, Cassie.."


Dia segera mendesah kecewa saat yang dia dengar adalah suara Ibunya.


"Yeah.. Hay, Mom..." jawabnya dengan setengah hati.


"Kenapa suaramu terdengar kecewa seperti itu? Dasar anak durhaka.."


Cassie memajukan bibir bawahnya, "Tidak kok.. Ada apa? Tumben sekali menghubungiku lebih dulu.."


"Dasar.. Apa Ibumu tak bisa menghubungimu lagi, huh?"


"Maksudku, tidak seperti biasanya. Ada apa, Mom?


"Kau akhir-akhir ini sudah jarang menghubungiku lebih dulu. Apa kau sibuk? Ibu dan saudaramu akan datang berkunjung ke tempatmu nanti so--"


"Aku sibuk," potong Cassie dengan cepat. Tidak ada yang boleh datange ke tempatku hari ini. Pikir Cassie. Berduaan. Pokoknya aku harus berduaan dengan Christov.


"Sibuk? Sibuk apa, huh? Apa Ibumu juga tak bisa mengunjungi putrinya? Kau sendiri tidak pernah lagi berkunjung ke rumah.."


Cassie memutar mata dan mengerang kesal, "Lain kali.. Lain kali saja. Aku sangat-sangat-sangat sibuk saat ini.." katanya dengan nada yang dilebih-lebihkan.


"Cas--"


"Okay, Mom. I love you. Forever and ever. Bye..."  dengan cepat, jemarinya memutuskan sambungan sebelum Ibunya kembali berbicara. Senyum kaku menghiasi wajahnya.


"Aku anak durhaka.." gumamnya pelan, "Tak apa.. Aku akan membawa Mom berbelanja ke toko mahal akhir pekan ini sebagai bentuk permintaan maaf...."


Ponselnya yang masih berada dalam tangan tiba-tiba berdering lagi. Dengan refleks, jemarinya menekan tombol terima tanpa memeriksa terlebih dahulu nama yang menghubungi nomornya.


"Cassie.." panggil Christov dari seberang dan senyum lebar segera menghiasi wajahnya.


Kekasihku. Kekasihku menghubungi aku.. Pekiknya sedang dalam hati.


"Yeah? Ada apa?"


"Bisa kau menjemputku? Ban mobilku pecah saat di lokasi konstruksi, mungkin karena terkena benda tajam. Aku sudah menunggu taxi sejak tadi, tapi tak ada yang kosong jadi begitulah. Apa kau sibuk? Bisa kau menjemputku?"


"No.. Aku tidak sibuk. Aku benar-benar tidak sibuk," Cassie segera berdiri dari duduknya untuk mengambil kunci mobil dari kamar, "Aku akan menjemputmu. Di mana? Di mana posisimu?" ujarnya dengan nada semangat.


Ada tawa kecil dari seberang, "Jangan terburu-buru begitu. Aku akan mengirim alamatnya melalui pesan. Kau yakin kau tidak sibuk?"


Cassie mengangguk keras, "Yeah.. Aku tidak sibuk. Benar-benar tak sibuk.."


"Okay.. Hati-hati. Tidak perlu terburu-buru.."


"Yes, Sir.."


Sesaat setelah sambungan terputus, Cassie memakai jaket dan sendal jepit seadanya lalu berlari ke parkiran dnegan kecepatan extra. Sesaat dia memasuki mobil, sebuah pesan dari Christov terkait lokasinya saat ini muncul.


"Okey," katanya pelan seraya menyambungkan ponsel dengan GPS


"Maju 20 meter dan belok kiri.." kata suara komputer GPS


"Yaps.. Mari kita jemput kekasihku , GPS."


****


"Kau ada di mana?" tanya Cassie dari seberang, "Aku hanya melihat mobilmu di bengkel ini.."


Christov menarik resleting celananya turun, "Sebentar.. Aku sedang di kamar mandi.. Tunggu, okay?" tanya pikir panjang, dia menutup panggilan dan melanjutkan aktivitasnya untuk buang air kecil. Setelah selesai, Christov segera berjalan meninggal kamar mandi dan mencari keberadaan Cassie.


Saat dia sampai di lokasi bengkel, Christov melihat Cassie berdiri dengan celana pendek, crop top hitam, jaket putih tipis, dan sendal jepit. Beberapa mekanik yang tengah bekerja tersebut menatapi Cassie dengan tatapan lapar. Wanita itu tampak acuh tak acuh dan sibuk sendiri dengan ponselnya


Christov berdecak lidah dan berjalan dengan langkah lebar ke arahnya, "Apa yang aku lakukan dengan pakaian seperti ini?"


Cassie menoleh dari layar ponsel ke arahnya, "Hai.. Astaga.. Dari mana saja?" ucapnya seraya melepaskan earphone dari kedua telinganya.


Dia mendengus kesal, "Ayo.." ujarnya seraya melingkarkan tangannya pada bahu Cassie, "Kenapa pakai pakaian seperti ini ke tempat yang penuh laki-laki?"


"Panas.." katanya santai, "Apa aku yang bawa mobil atau kau?"


"Bawa saja.." katanya dengan nada kesal, "Lain kali jangan memakai pakaian seperti ini ke tempat umum yang dipenuhi laki-laki..." dia melepaskan tangan dari tubuh Cassie dan berjalan masuk ke arah mobil.


"Jangan dibawa serius.." ucap Cassie setelah bergabung dengannya di dalam mobil. Wanita itu menyalakan mesin mobil dan Christov segera mengarahkan pendingin mobil ke arahnya.


"Kau marah hanya karena itu?"


Christov melepas dua kancing teratas kemejanya dan mengarahkan udara ke dalam tubuhnya, membiarkan angin dingin itu menyejukkan badannya yang berkeringat.


"Hei.. Jawab aku. Kau cemburu hanya karena orang lain melihatiku? Apa aku pakai karung goni saja?"


"Ide bagus.." jawabnya dengan nada acuh dan melepas satu kancing kemeja yang lain untuk memberi akses semakin luas pada angin. Tubuhnya saat ini benar-benar lengket dengan keringat yang bercampur dengan debu konstruksi proyek yang dia kunjungi sebelumnya bersama keempat karyawannya.


"Ayolah.. Kau seriusan marah hanya karena itu? Wanita-wanita di sini biasanya memakai pakaian seperti ini juga kok.."


Dia menyandarkan tubuh pada sandaran kursi dan menatap lurus ke jalan, "Berhenti.." ucap Christov secara mendadak.


"Berhenti? Apa maksudmu berhenti, huh?"


Wanita itu mendengus dan mematuhi Christov, "Okay.. Okay," kata dia seraya menepikan mobil di tepi trotoar yang dipadati dengan pejalan kaki dan toko-toko, "Apa yang hendak kau lakukan, Huh?"


"Sesuatu..." gumam Christov dengan nada misterius dan tangannya sibuk menarik lengan kemeja nya hingga sikut.


"Kau sedang apa sih?"


Christov menoleh kearahnya, "Kau mencintaiku?"


Cassie menyipitkan mata, "Pertanyaan yang aneh. Sebenarnya, apa yang ingi kau lakukan?"


"Jawab saja," tuntutnya


"Tentu saja.. Tentu saja aku mencintaimu. Kau tahu jelas itu," jawab Cassie dengan nada setengah hati


Christov mengangguk sekali dan segera berjalan keluar dari mobil, meninggalkan wanita itu tanpa penjelasan lebih lanjut


"Hei.. Christov! Kau mau pergi kemana, huh?" panggilnya, tapi pria itu tampak tidak menggubris Cassie dan malah terus melangkah menuju sebuah salon. Salon yang dipenuhi dengan wanita.


Cassie masih duduk di sana dan menunggu. Menunggu apa yang hendak dilakukan pria tersebut. Lalu, matanya menatap Christov tengah berbicara dengan pemilik salon dari kaca etalase. Dia tak tahu jelas apa yang tengah mereka bicarakan, tapi dua pesalon lain datang menghampirinya. Itu membuat darah Cassie mendidih hingga ke ubun-ubun dan kemarahan itu semakin berlipat-lipat karena seorang wanita asing menyentuh lengan Christov.


"Hey!!" teriaknya marah dan tanpa pikir panjang melangkah keluar menuju salon tersebut dan kedua matanya tak sedikit pun lepas dari Christov yang tengah berbincang ria dengan tiga pesalon wanita.


"Apa yang sebenarnya dilakukan si sialan ini?" ucapnya pelan saat mendorong pintu untuk masuk. Christov tampak menyadari kehadirannya, tapi pria itu kembali menoleh pada pesalon tersebut.


Sial. Bisa-bisanya dia mengabaikanku? Teriaknya marah dalam hati. Mata Cassie kemudian turun ke arah kemeja Christov yang tiga kancing teratasnya dibuka. Oh.. Jadi begini. Batinnya. Cassie sekarang mengerti mengapa pria itu melepas tiga kancing kemejanya.


"Oh.."


Jadi si sialan ini membuka kancing itu untuk maksud tertentu, huh?


"Christov..." panggilnya, tapi pria itu tetap tidak menggubrisnya.


"Thank you, Mam.." kata Christov pada pesalon tersebut.


"Aww.. Jangan memanggilku begitu, tampan.." kata satu pesalon dengan nada menggoda.


Punyaku! Dia punyaku!


Dengan langkah lebar, Cassie menuju ke arah mereka dan segera menggandeng tangan Christov.


"Ayo, sialan..." bisiknya dingin seraya menarik tangan Christov keluar dari tempat itu, tanpa menggubris para pesalon sialan tersebut.


"Terimakasih atas saran anda.." ucap Christov sekali lagi sebelumnya akhirnya mereka berdua keluar. Cassie menatap kalang kabut ke sekitaran yang padat. Saat ini, dia benar-benar ingin memukul Christov hingga babak belur. Namun, tidak mungkin. Dia tidak berani melakukannya di keramaian seperti ini.


Dilepasnya gandengan tangan dari Christov dan menatap pria itu yang hanya menatapnya dalam diam. Mata Cassie turun ke bawah, ke arah dada Christov yang nampak dari balik kancing yang terbuka.


"Sekali lagi kau melakukan ini, kupastikan kita putus, breng-sek.." ancamnya dengan nada rendah dan segera berlalu dari sana menuju mobil. Dia hendak meninggalkan Christov sendirian, tapi Cassie kalah jauh dengan Christov yang sudah masuk ke dalam mobil. Dia diam dan menatap lurus ke depan. Cassie menunggu penjelasan dari pria tersebut.


"Untukmu.." kata pria itu seraya menaruh kantong belanjaan putih di atas dasboard mobil. Cassie segera menoleh ke arah pria tersebut.


"Apa ini, huh? Hadiah dari wanita sial itu? Kau memberiku benda sialan yang dihadiahkan untukmu?"


Christov mengarahkan tangan kirinya ke arah leher Cassie, tapi dia dengan cepat menepis tangan pria tersebut.


"Jangan berani-beraninya menyentuhku.."


Christov menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan, "Kau marah.." ucapnya tanpa emosi.


"Marah? Marah katamu? Siapa yang tidak akan marah saat melihat kekasihnya masuk ke ruangan yang penuh wanita dan kau dengan seenaknya membuka kancing kemejamu? Kenapa tak sekalian saja kau melangkah masuk dengan keadaan telan-jang ke sana, huh?"


"Sekarang kau merasakan apa yang kurasakan, Cassie.."


Dia tiba-tiba terdiam, tersadar dan pria itu hanya tersenyum tipis.


"Aku tidak marah kau mengenakan pakaian apa pun, hanya saja, aku memiliki pengecualian dengan pakaian yang kau pakai sekarang.." jelasnya, "Aku hampir bisa melihat garis bo-kongmu dengan celana sependek ini.. Apa kau menggunakan bra juga?"


Cassie menggigit bibir bawah, "Ah.. Itu.. Uhm. Ta-Tapi.. Te-tap saja.." dia tergagap, kehilangan kata-katanya sendiri. Dia memang tidak memakainya karena crop-top yang dia gunakan sudah seperti sport bra dan lagi, Cassie datang buru-buru untuk menjemput Christov, membuatnya tak sempat mengganti pakaian.


Christov menarik ujung jaket Cassie lalu menarik resleting jaket tersebut hingga ke pangkal, "Jangan pernah memakai pakaian seperti ini ke luar. Kau boleh pakai yang lain asal kau harus tetap memaki bra dan tidak memamerkan garis bo-kongmu seperti ini..." ucapnya dengan nada lembut, "Aku tak suka orang lain melihat milikku.."


Cassie menunduk, tak berani menatap pria itu. Salah.. Yah, dia salah. Ini kesalahannya dan bisa-bisanya Christov tersenyum seperti ini.


"Sekarang, putar badanmu.." tangan Christov memutar tubuhnya ke arah pintu mobil, "Aku tidak membuka kancing kemejaku dengan sengaja. Itu murni karena aku benar-benar kepanasan dan pesalon tadi hanya membantuku memilih jepitan rambut.."


"Jepitan rambut?" tanya Cassie pelan seraya melihat tangan Christov meraih kantong belanjaan berukuran kecil tersebut.


"Yeah.. Aku tak sekalipun pernah melihatmu memiliki jepitan dan hanya mengikat rambutmu seadanya saja dengan karet.."kata Christov dari balik tubuhnya. Dia bisa merasakan karet yang mengikat rambutnya dilepas lalu digantikan dengan sebuah jepitan rambut yang dibeli oleh Christov.


"Jauh lebih baik.." Christov kembali memutar tubuh Cassie ke arahnya lalu menyelipkan anak rambut wanita itu ke balik telinga, "Kau sangat cantik makanya aku marah sekali melihatmu datang dengan pakaian seperti ini. Lain kali, jangan lakukan lagi. Okay?"


Cassie mengangguk kecil, "I'm sorry.." bisiknya, "Aku yang salah.."


"Sudahlah.. Bukankah dalam hubungan kerap terjadi hal seperti ini?" Christov mengecup dahinya dengan lembut, "Pindahlah ke mari.. Biar aku yang mengendari mobil.." tanpa menunggu lama, Christov keluar dari mobil dan Cassie berpindah ke kursi penumpang dari dalam mobil agar pria itu bisa duduk di kursi pengemudi.


"Aku yang salah.." kata dia sesaat setelah mobil melaju.


"That's okay, babe*.."


(*Tidak apa-apa, sayang)


"Aku serius.. Dulu aku selalu memakai pakaian seperti ini dan Jason jarang marah. Jadi.. Jadi aku berpikir ini normal saja.."


Christov menoleh sekilas ke arahnya, "Sekarang, sudah ada aku.."


Cassie mengarahkan satu tangan untuk memegang tangan Christov, "Aku berpikir lebih memahami apa itu cinta saat bersamamu.."


Pria itu mengangkat tangannya tersebut lalu mengecupnya lembut, "Mari kita belajar memahami bersama.."


"Yeah.. Bersama.."


Kurang dari dua puluh menit, keduanya sudah berada di apartemen Cassie. Christov segera melepas kemejanya yang lengket, diikuti dengan gespernya. Dia mengambil posisi duduk di kursi dapur dan menikmati hawa sejuk di apartemen Cassie.


"Mau jus?" tawar Cassie saat membuka lemari pendingin.


"Yah.. Ah. Inilah kenapa aku tidak terlalu menyukai Los Angeles. Terlalu panas,"


Cassie menuangkan jus jeruk dingin pada dua gelas, untuknya dan untuk Christov lalu bergabung duduk dengan pria tersebut.


"Thank you.." Christov segera meneguk setengah gelas jusnya, "Huh.. Ini benar-benar melegakan."


"Jadi? Kota seperti apa yang kau sukai?


"Kota yang memiliki musim gugur dan musim dingin. Sebuah kota yang tidak terlalu padat penduduk dan musim panasnya tidak terlalu panas. Musim panas di Los Angeles benar-benar mengerikan. Bagaimana denganmu?"


.


"Sejauh ini, aku suka Los Angeles, tapi kau benar, musim panas di sini benar-benar mengerikan. Ada satu kota yang kubuat dalam list tempat tinggal impianku.."


"Coba beritahu aku.." kata Christov dengan suara antusias.


"Rhode Island.."


Christov mengangguk kecil, "Sama.. Aku pun memikirkan hal yang sama denganmu..."


"Aku ingin membangun rumah impianku di sana setelah uang yang kukumpulkan cukup. Rumah di tepi lautan..."


"Kalau begitu, ayo kita bangun bersama.."


Cassie yang tengah meneguk jusnya mendadak tersedak mendengar ucapan Christov. Dia terbatuk-batuk kecil dan menatap pria itu dengan penuh kengerian.


"Jangan membicarakan hal seperti itu secara mendadak.." peringatnya.


"Memangnya kenapa? Kau tidak suka?"


Dia menggeleng kecil, "Bukan karena aku tidak suka, tapi karena ini belum saatnya. Belum saatnya bagiku untuk memikirkan dengan siapa aku akan membangun rumah bersama.Kau tahu, membangun rumah bersama artinya menikah.."


"Kau tidak mau menikah denganku?"


"Argh.." dia mengerang kesal, "Christov Bisakah kita tidak membicarakan ini? Topik ini terlalu berat untukku. Mari kita lakukan secara perlahan. Okay?"


Pria itu mengangguk kecil, tapi wajahnya menunjukkan ekspresi kecewa. Itu membuat Cassie merasa bersalah. Dia berdehem kecil dan berdiri dari duduknya. Tangannya meraih kemeja Christov yang tergeletak di punggung kursi.


"Mandilah.. Aroma tubuhmu benar-benar mengerikan," katanya dengan nada canggung seraya memindahkan gelas mereka berdua ke arah wastafel


"Okay.." jawab Christov dan Cassie bisa mendengar suara gesekan kaki bangku dengan lantai. Dia menahan diri untuk tidak menoleh ke arah pria itu dan menunggunya pergi ke kamar mandi. Topik seperti ini benar-benar membuat suasana menjadi canggung. Lagian, untuk apa Christov tiba-tiba mengangkat topik sensitif seperti ini?


"Cassie.."


"HUH!" dia berteriak penuh keterkejutan saat mendengar suara Christov di telinganya dan diikuti dengan lengan pria itu yang melingkar di pinggulnya, membuat kulit perutnya bersentuhan dengan kulit lengan Christov. Dia itu menaruh dagunya pada pundak Cassie.


"Kau membuatku terkejut, sialan.."


"Aku ingin mandi bersama.."


Cassie memutar mata dan hendak melepas tangan Christov, tapi pria itu tak mau.


"Mandi sendiri saja. Okay?"


"Ayolah.." pintanya seraya mulai mengecupi kulit leher Cassie, "Aku ingin melihat mawar.."


Cassie memutar tubuh dan mendorong wajah Christov menjauh darinya, "Mandilah, pria besar.. Badanmu benar-benar lengket...'


Christov menatapnya lekat dan tajam. Itu membuat nyali Cassie benar-benar ciut. Dia memutuskan kontak mata mereka sebelum Cassie menyerah dan membiarkan pria itu menang.


"Mandilah sana.." katanya seraya menggeliatkan tubuh agar terlepas dari kukungan Christov.


"Tidak mau.." tolak pria itu dan dalam gerakan cepat, dia tiba-tiba menyusupkan kepalanya ke balik crop-top Cassie.


"Hei!" Cassie berteriak ketiak hal itu terjadi, "Apa yang kau laku--Ah!" dia men-de-sah kencang saat merasakan mulut Christov menghisap pucuk dadanya.


Cassie berusaha mendorong kepala Christov keluar dari balik bajunya, tapi pria itu tak mau dan tetap melanjutkan hisapannya. Kakinya bergetar karena merasakan sensasi nikmati itu. Dalam momen yang begitu genting tersebut, ponsel dan bel apartemennya berdering secara bersamaan.


"Chri--Christov! Bel-ku berbunyi..Ahk!" dia memekik kencang dan otaknya benar-benar tidak bekerja secara sinkron saat ini. Cassie memilih pasrah dengan kebrutalan Christov dan membiarkan bel serta ponselnya mati dengan sendiri. Namun, sayangnya itu tak kunjung berhenti dan bunyi bel-nya semakin terdengar menggila. Ditekan-tekan berulang kali.


Ini harus dihentikan. Teriaknya dalam hati.


"Stop! Stop!" teriaknya seraya menarik diri secara paksa dari Christov yang nampaknya sudah kehilangan akal sehat. Cassie segera meraih ponsel dan berpindah ke seberang meja, menjaga jarak dari Christov serta mencegah pria itu menangkapnya. Tanpa memeriksa layar ponsel, Cassie menerima panggilan tersebut.


"Halo?" sapanya dengan napas terengah-engah. Matanya menatap marah dan waspada ke arah Christov yang tengah menatapnya dengan tatapan lapar.


"Cassie? Ini Mom. Kau ada di mana? Apa sandi menuju akses apartemen mu ini?"


"A--Apa? Apa yang Mom bicarakan?" sekarang, rasa paniklah yang menghampiri dirinya.


"Cepatkan sialan.. Di sini sangat panas, " ucap Miranda dari seberang dengan ponsel Ibunya, "Kami sudah di depan apartemenmu. Kau di mana? Cepat buka pintunya atau setidaknya beritahu sandi apartemenmu ini..."


"Apa? Kalian di sini? Apa yang sedang kalian lakukan di sini?"


"Apa Apa yang terjadi?" tanya Christov dengan suara berbisik. Dia sudah tahu apa yang terjadi, tapi pria itu ingin memastikannya lebih lanjut.


Dia menjauhkan ponsel dari telinganya dan menatap Christov dengan tatapan penuh kengerian, "Ibu dan saudariku di sini, Christov.."


***


Miss Foxxy


Halo, di novel aku mmg aku suka selipkan kata" bahasa Inggris gitu biar unsur baratnya agak dapet. jadi dibawahnya pasti aku kasih keterangan terjemahannya yg aku tandai dengan tanda bintang (*) untuk mempermudah kalian dalam membaca. Chap ini paralel dengan chap 14 kayaknya. Love Songs and Dream house. Thank you. Yuk ikutan event ini.