
Happy Reading
****
Ditengah acara lelang, Christov akhirnya memilih untuk meninggalkan acara tersebut. Dia tak peduli lagi jika seandainya penerima tamu yang berdiri di depan pintu masuk itu membicarakannya. Bosan, jenuh, dan semua benda yang dilelangkan tak mampu Christov beli. Uhm.. Sebenarnya, dia punya uang untuk membeli satu atau dua barang leleng, tapi yang menjadi masalahnya adalah tidak ada satu pun barang yang menarik perhatiannya.
Di tambah, dia tidak memiliki teman di sini. Duduk sendirian dan hanya diam menatap orang-orang yang bergantian mengangkat tongkat lelangnya. Cassie duduk cukup jauh dari posisinya, tapi masih dalam jangkauan pandangannya. Dia merasakan kecewa teramat besar karena tak sekalipun Cassie menoleh ke arahnya.
Sulit. Pikirnya saat berjalan meninggalkan acara leleng. Dia pasti sulit diluluhkan. Sejak dulu, wanita-lah yang selalu mengejarnya dan membuatnya selalu percaya diri bahwa wanita mana pun akan bertekuk lutut padanya. Namun sayangnya, wajah dan rupanya tak mampu untuk memikat Cassie.Untuk pertama kali dalam seumur hidupnya, dia merasa wajah tampannya ini tidak berguna.
Dalam dirinya, Christov masih bertanya-tanya mengapa wanita itu tak mau berkencan. Apakah alasannya karena dia memiliki kenangan tak menyenangkan? Atau trauma? Atau malah karena dia memang tak ingin? Atau mungkin Cassie belum melupakan mantan kekasihnya itu?
"Ck.." Christov berdecak lidah. Kenapa dia memikirkan hal tentang itu sampai sejauh ini?. Dia tiba-tiba merasa kesal pada dirinya sendiri. Heran.. Christov merasa heran karena beberapa waktu belakang ini, dia menghabiskan sebagian besar waktunya memikirkan wanita untuk pertama kalinya sepanjang sejarah hidup. Selama ini, wanita yang kerap dia pikirkan adalah Theresa karena Ibunya itu selalu membuatnya masuk dalam kondisi yang sulit. Namun, kali ini beda. Well.. Memikirkan Cassie memang membuatnya sedikit kesulitan, tapi dia terkadang merasa senang setiap memikirkan wanita itu.
Memahami wanita adalah yang tersulit. Batinnya saat melintasi pintu keluar dari gedung acara pameran tersebut. Saat menuruni anak tangga teras, ponsel dalam kantong jaketnya bergetar. Dirogoh sakunya untuk memeriksa ponsel. Mendadak, dia berhenti berjalan ketika mendapat pesan dari Cassie.
Hati-hati...
"Oh my.." rasa bahagia dan antusiame segera membuncah dalam dirinya ketika membaca pesan singkat itu. Pesan singkat yang terdiri dari dua kata.
Perasaan bahagia itu tak dapat dideskripsikan dengan kata-kata. Dia merasa tubuhnya melayang sangat jauh karena pesan dari Cassie. Begitu singkat, tapi memiliki makna yang kuat bagi Christov. Artinya.. Artinya Cassie memperhatikannya sedari awal. Jika tidak, tak mungkin Cassie mengirimi dia pesan seperti ini. Wanita itu tahu jika Christov pulang.
"You driving me crazy, Cassie*," bisiknya dengan senyum lebar.
(*Kau membuatku menggila, Cassie)
Dia harus melipat bibirnya keras untuk menahan diri agar tidak tersenyum semakin lebar. Namun, tidak bisa. Wajahnya tak bisa diajak berkompromi dan tetap mengukir senyum bahagia di sana. Beginikah? Beginikah rasanya ketika kau mendapatkan perhatian dari orang yang kau sukai? Membuatmu bahagia dan melayang jauh.
"Sialan," umpatnya pelan dengan senyum bahagia itu, "Wanita ini benar-benar membuatku menggila..."
Dengan perasaan bahagia yang membuncah, Christov melangkah lebar menuju parkiran. Sesekali dia bersiul dan menggoyang-goyangkan pelan kepalanya dengan riang. Dipejamkan mata dan mendadak, bayangan wajah Cassie muncul.
"Oh my.." dia meloncat kecil karena rasa antusiame dalam dirinya semakin membesar. Sedetik kemudian dia tertawa menatap langit, merasa lucu dengan tingkahnya sendiri. Dia sekarang merasa seolah mampu menguras air laut dengan semangat membara yang dia rasakan saat ini. Ditaruhnya tangan kanan pada mata dan mulai menggeleng-gelengkan kecil kepalanya.
"Astaga.. Gila. Aku menggila..."
Dia mendengar langkah kaki mendekat ke arahnya dan buru-buru, Christov menegakkan tubuhnya dan berjalan dengan normal menuju mobil. Setelah masuk ke sana, dia berdiam diri dan menatap kosong ke kaca mobil. Lalu tangannya merogoh ponsel dari saku dan kembali membaca pesan singkat dari Cassie.
"Huh.." dia tersenyum lebar dan memejamkan mata. Dengan girang, dia menggoyang-goyang tubuhnya. Setelah membaca pesan yang berisi dua kata itu puluhan kali, akhirnya Christov berhenti. Tubuhnya disandarkan pada kursi mobil dan tersenyum tipis.
"Sayang sekali kami tidak pernah mempunyai foto bersama," bisiknya pelan, "Aku tidak pernah tahu rasanya mencintai seseorang akan sebahagia ini. Harusnya aku bertemu dia sejak dulu agar bisa merasakan kebahagian ini lebih awal..."
Mendadak senyum itu berubah senyum kecut, "Cassie.." panggilnya pada kekosongan, "Kuharap kau mau menjadi Bibi untuk Nugget dan Salmon. Kuharap kau mau menjadi kekasihku. Kuharap kau mau berbagi tawa bersamaku," rapalnya bagaikan mantra dan dari hati yang terdalam, Christov berharap perkataannya ini menjadi nyata.
"Kumohon.. Sekali ini saja.. Kumohon aku bisa mendapatkan apa yang aku inginkan sekali saja..."
****
"Tumben dia pakai emoticon," bisik Cassie pelan saat melihat balasan Christov berupa emoticon tersenyum.
"Siapa?" tanya Bambi yang duduk di sampingnya dan segera mengarahkan kepalanya ke arah ponsel Cassie.
"Bukan siapa-siapa," Cassie segera mematikan layar ponsel dan memasukkan itu ke dalam tas kecil.
"Kekasih baru, yah?" timpal Meghan yang duduk di kursi depan bersama Gerald yang mengendarai mobil.
Dia memutar mata dengan jengkel, "Bukan..."
"Huah.. Aku senang sekali acara lelangnya berjalan lancar. Gaun Gerald terjual $8500. Kita harus merayakan ini," kata Bambi mengganti topik dengan suara senang. Dia memajukan kepalanya ke arah kursi depan untuk melihat Gerald dan Meghan.
"Jangan sekarang," ucap Cassie, "Aku tak punya tenaga lagi,"
"Ya.. Aku juga," jawab Gerald, "Bambi sayang.. Kita akan merayakannya lain waktu saja,"
"Padahal aku sedang bersemangat sekali,"
"Aku berjanji akan membawa kalian makan ke tempat mahal,"
"Jika kau membawa kami ke tempat makanan cepat saji, kupastikan menendang pe-nismu hingga hancur," ancam Meghan dan lainnya tertawa mendengar lelucon yang mengerikan itu.
"Yah.. Benar. Jika itu yang terjadi, aku akan mematahkan semua kuku manikur mu,"
"Yah... Yah.." kata Gerald, "Aku berjanji," dia memutar stir mobil menuju apartemen Cassie.
"Tujuan pertama kita sudah sampai," teriak Bambi dengan suaranya yang melengking.
"Cassie.. Ingat besok kita masih punya pesta," ucap Gerald ketika Cassie membuka pintu dan berjalan keluar.
"Aku akan melihat situasi. Aku sedang sibuk akhir-akhir ini. Jadi aku takkan janji bisa datang," ditutupnya pintu dan menundukkan kepala pada jendela mobil yang terbuka untuk melihat mereka.
"Kau selalu saja sibuk,"
"Begitulah karena aku adalah pemburu dollar sejati.. Thank you for today guys*..." ditarik tubuhnya menjauh dari mobil lalu melambaikan tangannya.
(*Terimakasih untuk hari ini)
"Bye, Cassie!"
"Bye, Baby..."
Dia berdiri di sana beberapa saat, menatap kepergian mobil itu hingga hilang dalam jarak pandangnya. Dilangkahkan kakinya menuju apartemen dengan tubuh yang lesu. Berat. Dia melalui minggu yang berat. Ingin rasanya dia pensiun secepat mungkin.
"Sialnya aku belum mencapai target kekayaanku," bisiknya dengan nada rendah saat masuk ke dalam lift yang kosong.
Namun, menurut orang-orang di sekitarnya, Cassie adalah wanita sukses dengan karir cemerlang. Yah.. itu benar, tapi sialnya mempertahankan karier cemerlang ini tidaklah mudah. Dia punya gaji fantastis, tapi beban kerja yang dia rasakan terkadang membuatnya kewalahan.
Dia menguap lebar ketika lift sudah berhenti dan sekarang yang harus dilakukannya adalah menaiki anak tangga menuju rooftop. Cassie mengeluh kencang, setiap inci tubuhnya seolah tengah menjerit protes karena harus menaiki tangga lagi.
"Arghh..." erangnya dan memaksakan kedua kakinya untuk menaiki anak tangga tersebut. Ketika sudah sampai di depan pintu, semangat hidup menghampiri tubuhnya kembali untuk memasukkan kata sandi.
Setelah pintu terbuka, Cassie melempar sepatunya dan berlari menuju bangunan apartemennya. Satu-satunya yang dia inginkan saat ini adalah untuk tidur. Dimasukkannya kata sandi ke pintu ke-dua dan saat pintu sudah terbuka, tubuhnya mendadak berhenti ketika mendengar bunyi bel dari pintu masuk pertama. Cassie memutar kepala ke arah belakang dan menatap curiga ke arah pintu.
"Siapa?" bisiknya. Rasa penat dan ngantuk yang dia rasakan seolah hilang begitu saja dan digantikan dengan rasa was-was ketika mendengar bunyi bel yang masih berlanjut itu. Dia mengangkat tangan kiri untuk memeriksa jam yang sudah menunjukkan pukul setengah satu pagi. Orang gila mana yang mengetuk kediaman orang lain di jam seperti ini? Pikirnya.
Kaki melangkah perlahan ke arah pintu untuk memeriksa kamera pengawas. Ketika layar monitor kamera pengawas itu menyala, rahang bawahnya segera terjatuh ke bawah saat melihat Jason, sosok yang tengah menekan-nekan bel-nya tanpa henti di tengah malam seperti ini.
"Si sialan ini," umpatnya seraya menyalakan microphone dan dia langsung mendengar suara Jason yang meraung agar pintu dibukakan.
(*Buka pintunya, sayang)
Si brengsek ini. Umpat Cassie.
"Jangan panggil aku 'baby', sialan," umpatnya melalui microphone, "Pergi dari sini sebelum aku memanggil polisi, orang gila sialan!!' ancamnya, tapi Jason malas tertawa dan mendekatkan wajahnya pada kamera pengawas.
"Cassie.. Aku merindukanku. Kumohon.. Kumohon kembalilah,"
Dia menutup mata dan berdecak lidah. Dia merasakan amarah memenuhi dalam dirinya. Cassie kembali membuka matanya danĀ mulai memikirkan cara untuk menyingkirkan pria ini. Jika memanggil polisi pun tak mungkin, malah hanya akan menimbulkan keributan saja dan dia tidak suka keributan. Penjaga apartemen ini pun tidak bertugas sejak pukul sebelas malam.
Bagaimana bisa dia masuk?! Bagaimana bisa ini terjadi padanya?!
"Cassie.. Baby.. Please.. Buka pintunya, sayang.."
"Argh!!" Cassie berteriak kesal, "Berhenti memanggilku seperti itu, breng-sek atau kurobek mulutmu!"
Apa perlu aku mendorong si sialan ini ke tangga?
"Ayolah, Cassie.. Buka pintunya. Bantu aku.. Kumohon.. Aku hancur.. Aku hancur sekarang..." raungan Jason kini berubah menjadi tangisan. Wajahnya yang sudah memerah semakin merah ketika air mata perlahan membasahi wajahnya.
"Aku kehilangan semuanya.. Cassie.. Please.. Please.."
Bibir Cassie bergetar ketika mendengar tangisan itu. Tidak sekalipun dia pernah melihat Jason menangis seperti ini. Bahkan saat Ibunya meninggal, Cassie tidak melihat Jason menangis setetes air mata. Pria itu selalu berpenampilan dan berwajah keras. Namun, pria yang pernah dia cintai itu malah menangis sekarang seperti anak kecil. Jason nampak hancur dan Cassie tidak tahu apa alasan pria itu hingga bisa datang ke apartemennya di tengah malam seperti ini.
Ah.. Hati Cassie tidak siap. Dia tidak siap dengan tangisan Jason yang seperti ini. Itu membuat pertahannya perlahan luluh. Wanita itu menggeram kecil, matanya dipejamkan saat berpikir keras akan pilihan apa yang harus dia ambil. Apakah.. Apakah dia haru membiarkan pria itu masuk? Atau mendorongnya ke tangga hingga pingsan?
"Oh my! kenapa dia harus muncul di saat seperti ini?" bisiknya dengan nada geram. Tangisan Jason dari balik pintunya semakin menjadi-jadi dan dengan terpaksa, Cassie membuka pintu itu tanpa pikir panjang.
"Cassie.." bisik Jason dengan nada terharu saat akhirnya mereka saling bertatapan muka.
Dia mencium bau alkohol yang begitu menyengat dari tubuh Jason. Penampilannya acak-acakan dan dia baru menyadari ada beberapa luka lebam pada wajah Jason. Cassie memasang wajah poker, tidak ingin membiarkan pria itu mengambil kesempatan dari sikap murah hatinya.
"Cassie..." tangisnya penuh haru dan berjalan masuk dengan lengan yang terbuka lebar, hendak memeluknya. Namun, Dengan sigap Cassie menepi dan melayangkan pukulan mentah pada wajah pria tersebut hingga Jason jatuh ke atas lantai flanel. Dia tak peduli jika pukulannya akan memperparah luka lebam Jason.
"Oh.. My..." erang Jason penuh kesakitan.
Ditatapnya pria itu tanpa belas kasihan dengan tangan terlipat di depan dada.
"Aku membiarkanmu masuk bukan berarti kau bisa memasukkan pe-nismu dalam diriku, breng-sek.." ujarnya dengan nada rendah, "Aku membiarkanmu masuk karena kau tampak menyedihkan. Memohon dan menangis seperti pengemis.." katanya dengan nada bengis. Dia harus tegas atau pria itu akan melakukan hal yang tidak seharusnya.
Dia menutup pintu dan beralih dari sana menuju unit apartemennya. Cassie mengambil sleeping bag dari dalam lemari beserta air mineral. Dilemparkannya kedua benda itu pada Jason yang masih terbaring di atas lantai kayu flanel.
"Aku menyimpan senapan api di ruanganku untuk menembak orang-orang sin-ting. Jika kau bertindak seperti orang sin-ting, aku tak segan menembakkan kepalamu hingga pecah,"
Jason perlahan bergerak untuk mengambil posisi duduk dengan kesusahan. Tangannya meraih air mineral dan memeluk sleeping bag tersebut. Cassie melihat wajah Jason dengan tatapan iba. Ah.. Dia sekarang merasa menyesal karena telah mengancam dan memukul pria itu. Apa saja yang telah dia lalui hingga membuatnya sekacau ini?
"Thank you," bisik Jason pelan tanpa menoleh ke arahnya.
Cassie menarik napas dan memejamkan matanya sejenak.
"Apa kau lapar?" tanyanya dan Jason menggeleng.
"Ini lebih dari cukup.."
"Aku melakukan ini bukan karena aku peduli padamu, tapi karena aku merasa kasihan.."
"Aku tahu. Maafkan aku datang dan menimbulkan keributan di tengah malam seperti ini,"
Cassie terdiam sejenak dan berpikir bahwa pria itu sudah kembali mendapatkan akal sehatnya.
"Untung kau sadar. Setelah aku bangun besok, aku akan mengusirmu dari sini,"
"Okay. Good night, Cassie.."
Dia diam dan tak membalas ucapan selamat malam itu. Tanpa kata-kata, Cassie beralih dari sana dan meninggalkan Jason. Terakhir. Batinnya. Ini untuk terakhir kalinya dan aku tak akan mau menolongnya lagi..
****
Ada saatnya ketika merasakan kebahagian yang meledak-ledak, kau seolah mampu melakukan apa pun, bahkan hal di luar batas nalar. Saat merasa bahagia, nalar seseorang melemah dan mulai mengandalkan perasaan untuk mengendalikan tubuhnya.
Seperti saat ini, Christov membiarkan hati dan perasaan bahagia mengendalikan tubuhnya. Bangun pagi di hari minggu yang cerah, dia memulai harinya dengan senyum. Alasan dia tersenyum saat ini pun adalah alasan yang sama seperti kemarin malam.
"Hati-hati.." gumamnya pelan saat tengah mengendari mobil menuju apartemen Cassie. Pesan itu entah sudah berapa kali dia lapalkan, tapi Christov tak kunjung bosan. Bahagia. Dia masih merasakan perasaan bahagia itu. Perasaan yang memimpinnya untuk membeli coklat dan buket bunga besar pada pagi-pagi sekali.
Christov menghabiskan waktunya semalaman di internet untuk mencari tahu hadiah seperti apa yang harus diberikan untuk menarik perhatian wanita yang dia sukai. Dari semua jajak pendapat, coklat dan bunga adalah yang terbanyak. Tanpa ragu, Christov membeli buket bunga terbesar beserta sekotak coklat premium. Semua itu dilakukannya untuk Cassie.
"Cassie... Cassie.." nyanyinya pelan mengikuti nada piano yang memenuhi ruang mobil.
"Belok kanan menuju tujuan anda," suara komputer dari GPS berbunyi dan senyum Christov semakin lebar.
"Belok kanan menuju Cassie..." katanya dengan suara riang.
"100 Meter,"
"100 meter menuju Cassandra..."
"Anda sampai pada tujuan anda.."
Christov menggoyang kepalanya lalu mematikan mesin mobil, "Sampai.. Aku sudah sampai," tangannya meraih buket bunga dan kotak coklat itu untuk dibawa keluar. Perasaan bahagia itu terus menuntutnya dan membiarkan nalarnya berhenti bekerja.
Namun, ada saatnya, seseorang akan menyesali pilihan tersebut. Pilihan ketika kau membiarkan perasaan itu mengambil alih tubuhmu. Pilihan yang membuatmu terjatuh lebih mudah ke dalam kekecewaan karena tak membiarkan nalarmu bekerja.
Ketika hati bekerja lebih dari semestinya, saat itu juga kau akan mulai berjalan di atas lembaran es tipis yang bisa pecah sewaktu-waktu dan saat ittu pecah, kau akan jatuh ke lubang penyesalan yang tak berdasar. Lalu, hal yang tersisa dari perasaan itu adalah penyesalan. Penyesalan akan pilihan yang kau buat.. Penyesalan yang membuatmu takut untuk membiarkan hatimu bekerja kembali. Penyesalan yang akhirnya membuatmu berhenti menggunakan perasaanmu dan memilih nalar bekerja lebih banyak.
Di sana, di seberang jalan... Tubuh Christov membeku dan tangannya meremas kuat buket bunga serta kotak coklat itu saat melihat Cassie dan mantan kekasihnya baru saja keluar dari gedung apartemen Cassie. Semua rasa bahagia yang membuatnya melayang itu hilang begitu saja dan menjatuhkannya hingga yang tertinggal dari dirinya adalah penyesalan. Penyesalan yang menghancurkan perasaan Christov menjadi keping-kepingan kecil.
"Bo-dohnya aku.." bisiknya" Bo-dohnya aku bertindak sejauh ini hanya karena pesan singkat sialan..."
***
Miss Foxxy
Maaf kalo tiba" muncul nama Jasmine atau Edward atau Lucas atau siapalah. Otakku mmg suka gk sinkron sama situasi. Jangan lupa author dan ikutan giveaway ini yuk....