Remember Me

Remember Me
Meet



Happy Reading


****


"Halo, selamat sore. Dengan contact center aplikasi W. Untuk kenyamanan bersama, percakapan ini akan direkam. Ada yang bisa saya bantu?" suara wanita dengan nada profesional terdengar dari ponsel Christov. Dia berdehem dan melihat catatan penerbangannya di aplikasi W melalui layar laptopnya.


"Aku ingin bertanya tentang catatan pemesanan tiket penerbanganku sekitar 3 bulan yang lalu di bulan Agustus. Kenapa aku tidak menemukan nama atau identitas dari pemesanan tiket pesawat tersebut."


"Begini, Sir. Sistem kita akan secara otomatis menghapus identitas dari pemesanan tiket demi keamanan privasi sebulan setelah waktu penerbangan berlalu, Sir."


"Aku tidak pernah tahu ada kebijakan seperti itu?"


"Kebijakan itu sudah ada sejak awal tahun ini berdasarkan UU Perlindungan IT Negara bagian California, Sir."


Christov menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa dan menatap skeptis ke arah depan. Jika sudah berhubungan dengan hukum, ini akan sulit. Pikirnya


"Apakah aku bisa mendapatkan informasi itu? Aku melakukan penerbangan tiga bulan lalu pada tanggal 13 Agustus dan 16 Agustus 2020 dari Los Angeles ke daerah Rhode Island, Washington. Aku memiliki keperluan yang penting tentang ini."


"Kami akan berusaha memberikan pelayanan terbaik, Sir. Untuk menyelesaikan masalah tersebut, Anda bisa mengunjungi website resmi dari perusahaan W dan mengajukan email terkait permasalahan Anda," Christov memutar mata mendengar penjelasan dari costumer service tersebut, "Melalui email, Anda akan diarahkan langsung untuk menyelesaikan keluhan atau permasalahan Anda."


Mana mungkin..


"Apakah Anda masih memiliki permasalahan yang lain, Sir? Kami siap membantu.."


Christov tetap menggeleng walau tidak dilihat oleh costumer service tersebut, "No. Tidak ada lagi. Thank you.."


"Baik. Terimakasih. Selamat siang, Sir.."


Sambungan panggilan terputus dan Christov menjatuhkan lengan kirinya yang memegang ponsel ke atas sofa dan menatap kosong ke langit-langit apartemennya. Christov tahu, bahwa seandainya dia mengirim email terkait permasalahannya, perusahaan itu hanya akan tetap menolak memberikan informasi terkait identitas pemesanan tiket tersebut.


"Huhhhhh.." dia mengembuskan napas lelahnya. Dia berencana mengunjungi toko perhiasan Swarovski hari ini terkait transaksi barang apa yang dia lakukan, tapi Christov mengurungkan niatnya karena hujan deras mengguyur kota. Well.. Akhir tahun adalah waktunya menikmati suhu terdingin di kota ini. Hujan akan terus mengguyur kota selama bulan sembilan hingga akhir tahun. Christov suka hujan, tapi dia merindukan menikmati salju. Dia rindu duduk di depan perapian sembari menikmati teh panas dan menonton turunnya salju dari jendela kaca seharian penuh.


"Nikmatnya," katanya pelan. Berbarengan dengan ucapannya tersebut, ponsel Christov yang berada di atas sofa berdering kembali. Dia menoleh ke arah ponsel dan meraihnya untuk memeriksa nama yang menghubunginya. Christov mendesah kecil detik ketika dia melihat nama yang tertera di layar ponsel.


Aku sedang tak ingin berbicara dengannya sekarang. Pikirnya. Namun, Christov tetap memaksakan diri untuk menerima panggilan tersebut dengan wajah masam.


"Hallo, Ma?"


"Oh my dear son*.. Bagaimana kabarmu, nak? Apakah pemeriksaanmu ke rumah sakit berjalan baik?"


(*Anakku tersayang)


"Yeah. Begitulah.."


"Baguslah.. Lalu bagaimana kencanmu dengan Clara?"


Kencan? Mereka tidak melakukan kencan. Apa menemani Christov ke rumah sakit dan makan siang bersama bisa disebut sebagai kencan?


"Aku tidak melakukan kencan, Ma. Hanya sekadar menikmati makan siang bersama.."


"Christov, anakku sayang.."


Tubuh Christov mendadak membeku mendengar nada lembut yang tidak biasa dari Ibunya tersebut. Dia belum pernah mendengar Theresa berbicara seperti ini sebelumnya. Ada apa gerangan? Tanya Christov. Theresa yang dia kenal selalu berbicara dengan nada tinggi yang angkuh.


"Yes, Ma?"


"Kau tahu? Aku dan Papamu sudah semakin tua, nak. Mama bermimpi tentang kenangan saat menggendongmu untuk pertama kali setelah kau lahir. Mimpi itu membuat Mama merindukan momen menggendong bayi mungil yang lucu seperti dirimu.."


Christov tiba-tiba merasakan kecemasan mendengar perkataan bunya tersebut. Apa Theresa menginginkan cucu? Cucu dari Christov?


"Ma..."


"Lalu, umurmu sudah matang untuk memulai bahtera rumah tanggamu sendiri. Setidaknya, Mama dan papamu ingin melihatmu menikah dan memiliki anak-anakmu sendiri. Saat ini kami mungkin saja masih sehat-sehat, tetapi bagaimana dengan hari esok? Tidak ada jaminan aku dan Papamu akan selalu tetap sehat di umur yang semakin tua ini.."


"Mama.. Bisakah kita tida--"


"Mama pikir Clara adalah calon yang baik, Christov," potong Theresa. Kini nadanya terdengar menuntut.


Menikah dan memiliki keluarga sendiri tidak pernah masuk ke dalam list impian Christov. Tidak pernah karena hal yang dia inginkan adalah hidup tenang tanpa memikirkan beban apa pun.


"Seharusnya kalian sudah melakukan pertunangan. Namun, kecelakaan yang meimpamu membuat seluruh perencanaan kita harus tertunda. Kau tahu, Mama bisa mengurus pertunangan, pernikahan, dan apa pun untukmu. Kau tinggal duduk tenang, Christov.."


"Ma--"


"Yakinlah bahwa Clara adalah untukmu, nak. Jangan sia-siakan wanita sebaik dia,"


Christov memutar kepalanya dalam gerakan perlahan. Dia merasakan frustasi berat hanya mendengar permintaan tak masuk akal dari Theresa.


"Orangtua Clara-pun juga suka padamu, Christov."


"Ma.. Aku anggap pembicaraan ini tidak ada. Saat ini, aku tidak ingin memikirkan apa pun. Aku hanya ingin fokus pada pemulihan kesehatanku, Ma. Melakukan pembicaraan seperti ini hanya melukai kepalaku sendiri. Good night, Mama.."


"Christov.." cegat Theresa, tapi dengan keberanian penuh, Christov memutuskan sambungan ponsel. Dia buru-buru menonaktifkan ponselnya untuk menghindari panggilan masuk yang lain.


"Meresahkan," gumamnya pelan. Dia bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah dapur untuk air minum. Christov mengisi gelasnya lalu meneguk air dingin tersebut seraya menatap kondisi apartemennya. Dalam gerakan perlahan, Christov menaruh gelasnya yang sudah kosong di atas meja bar dan terdiam di sana untuk beberapa saat.


"Apakah apartemenku selalu se-sepi ini sebelumnya?"


****


"Tidak bisakah aku ditangani oleh dokter spesialis kulit di sini?" gerutu Madison Clayton pada Clara, sepupunya tersebut yang tengah mengobati pinggiran bibir Madison yang robek.



(Madison Clayton)


"Tetap tekan kantong es-nya ke matamu agar tidak membengkak. Lalu, kau tidak perlu dokter spesialis kulit untuk menangani luka kecil seperti ini."


"Yang kutakutkan adalah bekas luka.."


"Luka lebam dan memar tidak akan membekas, tapi membutuhkan waktu untuk sembuh. Bekas luka kecil di bibirmu ini bisa hilang dengan cream khusus. Nanti akan aku berikan padamu.."


"Argh.. Sialan. Wanita sialan itu memukulku sangat keras. Sampai sekarang aku masih bisa mendengar dengung di telingaku setelah dia memukulku."


Clara memutar mata dan melanjutkan mengoles obat luka pada pinggiran bibir Madison.


"Aww.. Sakit. Bisakah kau mengolesnya dengan lembut, sialan?"


"Tenanglah," ujar Clara tajam seraya mencengkram kuat kedua pipi Madison dengan kedua tangannya agar tidak bergerak, "Kau bukan lagi anak kecil, Madison. Terlibat pertengkaran di usiamu sekarang benar-benar memalukan. Apa yang akan Paman dan Bibi katakan jika mereka tahu?"


"Kalau begitu jangan beri tahu. Bagaimana aku tinggal diam saat melihat musuh bebuyutanku sejak duduk di bangku sekolah dasar. Si sialan itu. Tingkahnya sangat angkuh hanya karena dia menjadi seorang produser musik di perusahaan terkenal.."


Clara membuang sampah bekas darah Madison ke tong sampah, "Produser musik?" ujarnya dengan nada tertarik.


"Dia pasti berpikir dia sudah berada di atas langit hanya karena dia menjadi produser musik. Bagiku, dia tetaplah anak cacat yang tidak mampu berbicara.."


Tangan Clara yang tengah menempelkan plester luka pada dagu Madison yang terluka tiba-tiba terhenti. Dia mengangkat kepala untuk menatap Madison yang tengah berbaring. Mata kirinya ditindih dengan kantong es dan mata kanannya terpejam.


"Apa namanya Cassandra De Angelis?" tanya dia dengan nada penuh kehati-hatian. Madison buru-buru membuka mata dan melepaskan kantong es dari mata kirinya.


"Kau mengenal si sialan itu?"


Clara membuka setengah mulutnya dan tersenyum aneh.


"Kenapa kau tersenyum aneh seperti itu, Clara? Aku bertanya apa kau mengenalnya?"


****


"Mereka benar-benar membuang semua hal yang berhubungan dengan Christov," gerutu Cassie ketika membongkar isi apartemennya untuk mencari hadiah yang diberikan Christov sebelum kecelakaan. Pria tersebut memberikan lima hasil karyanya berupa gambar wajah Cassie sebelum kecelakaan terjadi. Dia ingat jelas menyimpan kelima gambar itu di dalam laci meja kerjanya. Namun, Cassie tidak menemukan kelima gambar itu di mana pun.


"Tega sekali mereka membuangnya. Mereka juga membuang cincin pernikahanku," bisiknya dengan nada bergetar. Dia menggigit bibir bawahnya untuk menahan diri agar tidak menangis. Cassie memeluk lututnya dan membenamkan wajah di sana.


"Jahat sekali.." bisiknya, "Kenapa mereka setega ini? Dia-kan suamiku. Bisa-bisanya mereka menyembunyikan hal ini hampir tiga bulan lebih dariku.."


Cassie bangkit dari lantai ketika merasakan kakinya mulai kram dan berpindah ke atas kursi kerjanya. Dia menatap layar laptop-nya yang berisi 20 puluh lagu yang dia tulis untuk hadiah ulang tahun Christov yang ke-28 tahun. Akhirnya dia bisa membuka file tersebut setelah mengingat kembali sandi dari file itu.


"100520" gumamnya pelan, "Huhh.. Bagaimana bisa aku sanggup melupakan momen pada tanggal itu?"


Dia tertawa kecil mengingat momen pada tanggal 10 Mei 2020 yang lalu, saat di mana dia dan Christov resmi menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih. Cassie masih ingat pria itu membawanya buket sayuran saya menjemputnya dari bandar. Dia tertawa lagi, tapi air mata ikut malah ikut menetes dari sudut matanya.


"Astaga," katanya dengan tawa yang canggung sembari mengelap sudut matanya, "Kenapa aku menangis begini? Kenapa.. Ke-Kena.." Cassie tidak sanggup lagi manahan kuasa untuk menangis.


Dia menyerah dan membiarkan rasa kesedihan itu menggerogoti dirinya lagi. Cassie menundukkan wajahnya pada meja dan mulai menangis sesenggukan. Awalnya, Cassie berpikir bahwa dia bisa menahan semua rasa sakit ini. Cassie berpikir bahwa dia akan kuat menghadapi semua ini sendirian. Namun.. Namun, ucapan terkadang tidak selaras dengan apa yang terjadi. Cassie hanyalah manusia biasa. Manusia yang bisa merasakan sakit jika dia dilukai. Manusia yang bisa merasakan senang ketika bahagia. Manusia yang juga bisa merasakan kekecewaan ketika dikhianati.


"Aku merindukannya.. Aku merindukannya.." raung Cassie, "Mengapa mereka berbohong? mengapa?"


Isakkan kencang Cassie memecahkan sunyinya keadaaan di apartemennya. Wanita itu berteriak frustasi. Berteriak sejadi-jadinya dan berharap kemarahannya akan surut. Namun, tetap saja. Kemarahan, kekecewaan, dan kesedihan yang diakibatkan oleh penghianatan oleh orang terdekatnya tersebut hanya tumbuh semakin besar dan terus membesar. Menggerogoti dan mengubahnya menjadi kebencian.


------


Paginya, saat hujan turun lagi mengguyur kota, Cassie bangun karena dering ponsel yang berulang kari terdengar. Dia berusaha membuka mata yang menempel karena kotoran mata seraya mencari keberadaan ponselnya. Saat sudah menemukan ponselnya tersebut, Cassie tidak repot-repot terlebih dahulu untuk memeriksa layar ponsel.


"Halo?" sapanya dengan suara serak. Matanya yang bengkak masih berusaha keras untuk terbuka. Jari kirinya menarik-narik pelan kotoran mata bagaikan lem tersebut dari bulu matanya.


"Halo, Miss De Angelis. Ini Lina. Nampaknya anda belum sehat jika mendengar dari suara anda.."


"Yah begitulah. Aku mungkin tidak akan sanggup untuk berangkat kerja hari ini. Bisakah kau mengurus izinku, Lina?"


"Yes, Miss. Namun, apa yang harus saya katakan pada petinggi yang lain terkait ketidakhadiran Anda? Hari ini kita melakukan rapat terkait proyek baru Anda.."


Cassie memijat pelipisnya yang sakit. Memikirkan pekerjaan saat ini bukanlah hal yang bagus untuk dirinya dan lagi, Cassie tidak yakin bisa mengerjakan proyek baru ini dengan maksimal jika masalah pribadinya menghantui. Cassie tentu tahu bahwa tidak seharusnya dia mencampuradukkan masalah pribadinya dengan masalah pekerjaan. Namun, masalah pribadi yang tengah dia hadapi saat ini benar-benar di luar kendalinya. Cassie benar-benar bingung menghadapi situasi seperti ini.


"Aku akan mengajukan surat pengunduran diri sebagai ketua untuk proyek ini, Lina. Aku berpikir tidak akan sanggup mengerjakannya dengan kondisi kesehatanku sekarang."


"Apa? Miss? Anda serius? Keberhasilan proyek ini benar-benar bergantung besar pada Anda, Miss.. Direktur benar-benar tidak akan senang mendengar berita ini.."


"Aku lelah, Lina. Aku butuh istirahat. Aku benar... Benar-benar lelah dengan segala hal," katanya dengan nada penuh keputusasaan dan itu menimbulkan keheningan dari seberang selama beberapa saat.


"Kalau begitu, beristirahatlah, Miss De Angelis. Cepatlah pulih. Saya akan mengurus berkas-berkas apa pun yang Anda perlukan untuk surat pengunduran diri ini."


"Thank you, Lina.. Thank you.."


"Yes, Miss. Kalau begitu saya akan menutup panggilan.."


Cassie tidak menjawab lagi dan membiarkan panggilan terputus dnegan sendirinya. Dia menoleh ke jendela kaca dan melihat butiran hujan serta bayangan tubuhnya di sana. Tangan kanannya di angkat untuk memeriksa rambutnya yang mengembang dan kusut.


"Aku benar-benar kacau," dia mengangguk-angguk kecil, "Kau benar-benar kacau, Cassandra. Untuk pertama kalinya kau melakukan hal seperti ini pada pekerjaanmu,"


Cassie menghela napas panjang dan menjatuhkan tubuhnya kembali ke atas ranjang. Dia berbaring miring ke arah jendela kaca dan menatap butiran air hujan tersebut. Langit kota Los Angeles nampak suram dan gelap seperti perasaannya saat ini. Dia menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan membiarkan suara hujan merasuki dirinya untuk memberi ketenangan. Merasuki dirinya bagaikan lagu pengantar tidur.


"Apa pun masalahnya, tidur adalah solusinya.."


****


Bersamaan dengan pintu mobil yang dibuka, Cassie membuka payung lipatnya yang berwarna hijau. Dia keluar dari mobil dan membanting pintu mobil. Cassie berjalan kecil di trotoar dan menaiki anak tangga menuju teras. Sesampainya di depan pintu butik, Cassie melipat payungnya lalu masuk ke dalam butik.


Bunyi lonceng lembut terdengar saat Cassie mendorong pintu. Hawa hangat, suara orang berbincang-bincang, dan suara lantunan musik lembut bercampur menjadi satu membentuk keramaian. Matanya menoleh ke sekitar untuk mencari tempat payung dan saat menemukannya, Cassie menaruh payungnya tersebut.


Dia melepas topi jaket hoodie dari kepala lalu memasukkan kedua tangannya pada saku jaket hoodie dan berjalan masuk semakin dalam. Ratusan gaun dengan berbagai macam motiv dan kain tergantung dan cahaya oranye lembut memberikan kesan mewah di sana. Beberapa pelanggan nampak tengah mencari gaun dan beberapa yang lain tengah melakukan pengukuran badan.


"Di mana Gerald?" tanya dia pada karyawan yang bekerja di sana.


"Mr. Gerald sedang ada di lantai dua bersama seorang tamu, Miss."


"Dia sibuk yah?"


"Sepertinya tidak. Anda bisa memeriksanya sendiri, Miss.."


"Okay... Thank you," dia beralih dari sana dan berjalan menuju tangga. Dia tidak sengaja melihat bayangannya sendiri di cermin dan Cassie pun berhenti sejenak untuk memeriksa wajahnya sendiri.


"Sialan," gumamnya pelan melihat lingkar hitam di sekitar matanya. Dia memperbaiki rambutnya yang terkucir, lalu mengikat ulang tali sneakers yang dia pakai, dan terakhir memperbaiki posisi celana jeans yang dia pakai. Cassie melakukan peregangan singkat dan dari ujung matanya, dia bisa melihat seseorang tengah melihatnya. Dia menoleh dan menemukan dua orang pelanggan wanita yang menatapnya dengan tatapan heran seolah berkata, 'Apa yang tengah dilakukan gadis gila itu?'


"What's up?" tanya Cassie sembari mengangkat dagunya ke arah mereka. Tanpa menunggu mereka menjawab, Cassie memutar tubuhnya dan berjalan menaiki anak tangga. Semakin tinggi, semakin Cassie bisa mendengar suara perbincangan dari atas tersebut. Ketika sudah sampai, dia hanya menemukan beberapa pelanggan dan pegawai di sana. Cassie tetap berjalan ke arah sofa yang berada di sudut ruangan di antara gaun dan kain yang tergantung tersebut. Orang yang baru pertama kali datang ke sini, kemungkinan dapat tersesat karena butik ini sangat luas dan gaun-gaun yang tergantung itu bagaikan pembatas dalam labirin


Bagaikan labirin. Pikir Cassie.


Namun, dia tidak perlu khawatir karena dia sudah datang ke tempat ini berulang kali dan kecil kemungkinan Cassie tersesat di sini. Wangi semerbak dari teh jasmine membuat Cassie tersenyum. Artinya, Gerald ada di sini karena temannya tersebut suka teh jasmine.


Aku bisa menyuruhnya membuatkan satu gelas untukku. Batin dia. Setelah bergumul dengan permasalahannya sepanjang pagi, akhirnya, Cassie memutuskan mengunjungi Gerald sore ini untuk membicarakan terkait ingatan yang sudah kembali. Dia berpikir bahwa menyelesaikan sendiri masalah ini rasanya tidak mungkin. Cassie tetap butuh tempat untuk bercerita tentang keluh kesahnya dan dia akan memaklumi alasan mengapa temannya sedari kecil tersebut terkait hubungannya dengan Gerald


Mom mungkin memaksanya, bukan?


"Saya tahu, Sir. Namun, butik saya selalu dibanjiri dengan pesanan gaun setiap bulannya. Jadi, mustahil rasanya mengingat satu per satu gaun yang tim kami buat,"


Ada tamu ternyata.


Cassie tetap melangkahkan kakinya ke arah sofa. Namun, tubuhnya mendadak berhenti dan Gerald yang tengah berbincang dengan tamunya tersebut ikut berhenti. Kedua pria yang tengah duduk di sofa dengan dua cangkir teh jasmine menatapi Cassie.



(Gerald)


"Cassie?" panggil Gerald dengan nada sedikit panik. Pria itu buru-buru bangkit. Namun, hal yang membuat jantung Cassie terasa ingin meledak adalah tamu Gerald. Yah, tamu gerald yang tengah duduk di sana dengan wajah penuh keterkejutan.


"Miss De Angelis?" panggilnya dengan suara kelem dan senyum lembut. Pria itu buru-buru berdiri.


"Uhm... Oh, aku ingat bahwa kau tidak suka jika kupanggil seperti itu. Maafkan aku, Cassandra.." katanya dengan nada canggung, "Halo.. Apa kau hendak membeli gaun juga?"


Cassie menahan napasnya ketika mendengar suara pria tersebut mengucapkan namanya. Seluruh bulu kuduknya meremang dan kerinduan itu semakin menganga lebar dan mulai berteriak. Berteriak untuk memuaskan hasrat kerinduannya.


"Apa? Kalian saling kenal? Wuhh.. Betapa sempitnya dunia ini, bukan?"


Cassie segera menatap tajam ke arah Gerald dan tiba-tiba merasa marah dengan nada penuh kepura-puraan dari temannya tersebut. Bagaimana bisa teman baiknya tersebut tetap berbohong di situasi seperti ini? Huh! Cassie benar-benar tidak percaya dengan apa yang dia lihat dan dia dengarkan saat ini


"Yah.. Kami saling kenal," ucapnya dengan nada penuh penekanan pada Gerald. Dia memutar kepalanya untuk melihat tamu Gerald yang berdiri canggung di sana. Cassie menatap penampilan pria itu dari atas hingga bawah. Sebuah jaket sebagai luaran, kemeja biru tua, celana khaki, dan boot coklat semata kaki. Rambut pria itu disisir dengan rapi ke arah belakang dan entah mengapa, Cassie merasakan dejavu dan kerinduan teramat.


Tetap sama. Pikir Cassie. Dia masih tetap pria kaku yang kukenal.


"Halo, Christov.."



****


Miss Foxxy


Penjahat terlahir dari hati yang tersakiti.