Remember Me

Remember Me
Married?



Happy Reading


****


"Bagaimana menurut kalian? Apakah itu bahaya?" tanya Cassie seraya mendorong pintu lipat kayu yang menutupi jendela kaca besar yang menampilkan pemandangan kota malam Los Angeles.


"Bahaya apanya? Dari zaman dulu hingga sekarang, pertengkaran antara menantu wanita dan mertua wanita itu kerap terjadi..." kata Bambi melalui panggilan video di laptop Cassie. Mereka berempat, yaitu Cassie, Meghan, Bambi, dan Gerald tengah melakukan panggilan video. Cassie-lah yang memulainya karena wanita itu membutuhkan saran atas kejadian yang terjadi hari ini. Kaos. Keadaan sekarang benar-benar kaos. Dia benar-benar sudah melakukan perang terbuka pada Clara dan Theresa.


"Memangnya kau sudah yakin kekasihmu sekarang akan menjadi yang terakhir?" tanya Meghan yang tengah menikmati pop-corn di tempatnya.


Cassie berdehem dan kembali duduk di hadapan laptop tersebut setelah membuka pintu lipat untuk memandang ketiga wajah sahabatnya tersebut. Sejenak, dia berpikir apakah ini? Apakah Christov yang akan menjadi pelabuhan terakhirnya?


"Cassie-kan sudah melangkah sejauh ini, tentu saja dia melakukan semua ini karena berpikir kekasihnya tersebut adalah tempat pelabuhannya yang terakhir.." timpal Gerald, "Bukan begitu, Cassie? Untuk apa kau terlibat dengan semua kegilaan ini jika akhirnya harus berpisah? Jika terjadi, hubungan saat ini benar-benar buang-buang waktu saja..."


Tiba-tiba, Cassie merasakan sesak di dada hanya mendengar hal tersebut. Terakhir? Kenapa itu terdengar sangat mengerikan di telinga Cassie? Apakah Christov akan menjadi yang terakhir dalam hidupnya?


Dia berdecak lidah, "Yeah.. Anggap saja begitu. Hal yang benar-benar kukhawatirkan saat ini adalah hubunganku dengan Ibu Christov.."


"Tidak ada yang perlu kau khawatir-kan," jawab Bambi, "Aku-kan sudah bilang pertengkaran antara menantu dan mertua wanita itu kerap terjadi. Selama mertua laki-laki menyukaimu, itu tidak masalah. Lagian, Ayah dan saudari kekasihmu sudah menerimamu. Apa yang kau permasalahkan? Mertua wanita-lah yang kerap mempermasalahkan segalanya.. Di mana-mana juga begitu..."


"Toh kekasihmu akan tetap memilihmu daripada Ibunya. Untuk apa khawatir?"


Cassie menggaruk kulit kepalanya. Entah mengapa, rasa pusing melanda kepalanya lagi. Awalnya, Cassie berharap dengan membicarakan masalahnya dengan ketiga temannya akan membuat keadaan dirinya semakin membaik. Sebaliknya, pembicaraan ini malah menambah beban pikiran Cassie.


Apa Christov akan tetap memilihnya sampai akhir? Cassie bukanlah remaja yang tengah di mabuk cinta yang buta akan segalanya. Dia tahu hati manusia cepat berubah dan ditambah dengan pengalamannya membuat Cassie semakin yakin bahwa hati dan cinta itu akan berubah seiring waktu. Bukan lagi saat mengingat perceraian orangtuanya serta hubungannya yang kandas dengan Jason. Itu semua hanya membuatnya takut menatap masa depan.


"Kau ada di mana?" tanya Meghan untuk mengganti topik saat menyadari wajah tak nyaman Cassie.


Dia tersenyum dan menatap sekitar kolam renang indoor milik Christov, "Di apartemen kekasihku. Dia punya kolam renang indoor.." ucapnya dengan bangga


"Wuhh.. Kekasihmu kaya, huh?"


"Yeah.. Begitulah.." jawabnya dengan nada malu-malu dan ketiga temannya segera berseru dengan nada heboh.


"Astaga!!"


"HUH!!! Cassie punya kekasih kaya!!"


Cassie tertawa, merasa lucu dengan kehobohan ketiga temannya tersebut.


"Sudahlah.. Aku ingin berenang. Sabtu ini mari bertemu lagi. Kupikir membicarakan masalah ini lebih baik secara langsung saja..."


"Yeah. Aku ingin mendengar semua ceritamu secara langsung. Bye-bye, baby.."


"Da-ah, Cassie..."


"Bye, guys.." mereka saling melambai dan sesaat kemudian, Cassie menyelesaikan panggilan video tersebut. Dia berdiri, menyambungkan musik di ponsel pada pemutar musik, lalu melepaskan jubah mandi serta sandal yang dia kenakan.


Matanya menatap air kolam yang bersih dan bening hingga membuat Cassie merasa bersemangat hanya dengan melihat air tersebut. Dia melompat-lompat kecil dan mengepalkan kedua tangannya dalam gerakan gemas.


"Oh my. Sudah lama aku tidak berenang," saat di ujung kalimatnya, Cassie melompat dan menjatuhkan dirinya tanpa ragu ke dalam air lalu berenang di air kolam yang sejuk tersebut. Dia bergerak ke dasar lalu kembali ke permukaan lagi. Terus berenang dan membiarkan semua beban pikirannya hilang di dalam air tersebut.


***


Christov menguap seraya memeriksa jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Dia membuka pintu apartemennya dan suara lagu dengan volume besar segera menyambut kedatangannya. Christov melepas sepatu dan kaos kakinya lalu berjalan semakin masuk ke dalam apartemen.


"Cassie?" panggilnya seraya menaruh jaket dan tas kerjanya di atas sofa. Matanya menatap ke arah daerah kolam renang yang pintu lipatnya sedikit terbuka. Berjalan lalu menaiki anak tangga ke tempat tersebut dan menemukan Cassie tengah berbaring di bantalan pelampung biru dengan sebuah kaca mata hitam bertengger di hidungnya.


"Cassie? Kau masih hidup?" tanya dia dan wanita itu buru-buru menurunkan sedikit kaca mata hitamnya untuk menatap Christov.


"Maaf mengecewakanmu, Mr.Connel karena aku masih hidup dengan keadaan sehat sentosa.."


Christov terkekeh dan duduk di kursi santai putih, "Tumben kau berenang..."


"Aku butuh berenang untuk menghilangkan sejenak beban pikiranku.."


Dia tersenyum tipis, "Bagaimana? Apa yang terjadi?"


Cassie kembali menaikkan kacamata untuk menutupi kedua matanya, "Begitulah.. Tidak semenyenangkan yang kubayangkan.."


"Kau keberatan menceritakan apa yang terjadi?"


"Well.. Aku hampir membuat keduanya terserang stroke.." kata Cassie dnegan nada santai dan Christov hanya menahan napasnya selama beberapa saat. Dia tidak yakin apakah Cassie tengah melebih-lebihkan perkataannya atau memang itu benar apa adanya.


"Stroke? Memangnya apa yang terjadi?"


"Makanlah terlebih dahulu. Ramen yang kau pesan ada di dapur. Jika dibiarkan terlalu lama nanti rasanya tidak enak lagi. Kau tinggal panaskan sup-nya..."


Christov menarik napas lalu berdiri tanpa berusaha mendebat Cassie. Dia benar-benar ingin mendengar cerita Cassie, tapi di sis lain dia juga makanan. Dengan cepat, dia mempersiapkan ramennya ke dalam mangkok lalu membawanya ke arah kolam renang. Dia akan menikmati makan malamnya tersebut di sana. Sesampainya di sana, Christov sudah menemukan Cassie berenang kembali di dalam kolam.


Sepanjang dia menikmati ramennya, selama itu pula Cassie terus berenang. Terus berenang tanpa kenal lelah. Dia tidak heran karena wanita itu memang punya tenaga yang kuat. Ditambah, Cassie mengikuti kelas bela diri serta rajin berolahraga. Hingga Christov menghabiskan ramennya, wanita itu tak kunjung selesai. Selagi menegak air mineral, Cassie akhirnya berhenti berenang dan naik kembali ke permukaan.


"Sudah lelah?" tanya Christov dengan senyum lembut seraya menyodorkan air mineral tersebut, tapi Cassie hanya melewati tangannya begitu saja. Senyum yang menghiasi wajahnya mendadak hilang dan digantikan oleh ekspresi penuh keheranan.


"Kau marah?" tanya dia pada Cassie yang duduk di kursi santai.


"Marah? Aku hanya ingin minum ini.." ujarnya seraya mengangkat botol anggur dari bawah kursi.


Christov mengangguk dan kembali meneguk air mineralnya. Dia menatap wanita itu meneguk anggur langsung dari botolnya, tapi dia tidak berusaha menghentikan Cassie. Biarkan saja. Pikirnya. Mungkin dia banyak pikiran.


"Jangan minum terlalu banyak.." katanya setelah Cassie menaruh botol di atas meja. Christov meraih benda itu dan memeriksa isi botol yang masih tersisa banyak. Syukulah.


Cassie mengangguk dan kembali berdiri.


"Kau berenang lagi?" Christov memeriksa jamnya yang sudah menunjukkan pukul sembilan malam.


Cassie memutar kepala, "Yapss.. Ayo berenang bersama.." ujarnya seraya melompat lagi ke dalam kolam renang hingga memercikkan air ke arah Christov. Wanita itu berpegangan pada pinggiran kolam untuk menopang tubuhnya seraya menatap Christov.


"Ayo.." ajaknya lagi dan Christov membalasnya dengan gelengan kepala.


"Dingin.."


"Arghhh.." Cassie mengeram kesal dan segera memercikkan air ke arah Christov, "Dingin?Alasan apa itu.. Dasar.. Terserahmu saja.." wanita itu kembali berenang.


Christov menggaruk kepala dan berdiri untuk memperkecil volume musik.


"Apa boleh aku mengganti musiknya?" tanya dia.


"Boleh!" ujarnya Cassie dengan suara setengah berteriak.


Christov mengganti lagu tersebut ke musik piano yang lebih melow. Setelah itu, dia menarik kedua ujung celananya dan duduk di pinggiran kolam dengan kaki dimasukkan ke dalam air. Matanya mengikuti Cassie yang berenang dengan lihai.


"Ayo berenang..." ajak Cassie sekali lagi dan Christov hanya menggeleng.


"Kau mabuk yah?" tanya Christov seraya menatapi tubuh Cassie yang berada di dalam air. Wanita itu hanya mengenakan bi-ki-ni berwarna abu-abu. Dia bisa melihat bayangan tatto burung Cassie yang mengabur di bawah air.


"Apa semua baik-baik saja?" tanya dia. Christov tidak bisa menebak apa yang sedang terjadi karena kekasihnya tersebut tampak sangat tenang. Bahkan terlalu tenang. Maksud Christov, Cassie baru bertemu dengan Clara dan Ibunya, dua sosok yang sangat mempersulit hubungan mereka. Cassie terlalu tenang. Batinnya


"Tentu saja..." Cassie berenang ke arahnya lalu berhenti di antara kaki Christov dan mengistirahatkan wajahnya pada lutut Christov.


"Bisa kau ceritakan apa yang terjadi?" pintanya dan itu mengundang helaan napas panjang dari Cassie.


"Aku bingung harus menjelaskannya dari mana dan bagaimana..."


"Tapi, aku ingin mendengarnya.."


Cassie memutar mata lalu menarik kaki Christov agar masuk ke dalam air, tapi dia dengan cepat berpegangan pada pegangan tangga kolam renang untuk menahan tubuhnya.


"Ayo berenang..."


"Dingin.."


Cassie melepas kaki Christov dan segera menyiram tubuh pria itu lagi dengan air.


"Tidak dingin.. Aku sudah sengaja merekam percakapan kami sedari awal."


"Apa?" kini, suara Christov naik satu oktav, "Kau merekam percakapan kalian?"


Cassie mengangguk, "Hmm.. Aku yakin kau ingin mendengarnya..."


"Di mana? Aku ingin mendengarnya sekarang.."


"Lebih baik mendengarkannya nanti saat tidur..." Cassie berenang lagi, "Ayo.. Kau tidak mau berenang?"


"Kau tidak berbohongkan?" Christov bangkit berdiri seraya melepas gespernya. Dia akhirnya memilih menuruti permintaan Cassie untuk berenang.


"Untuk apa aku berbohong pada kekasihku?"


Christov menyipitkan mata, "Tumben kau memanggilku dengan sebutan seperti itu.." kata dia dengan tetap sibuk melepaskan kancing kemejanya.


"Hey, Christov.." panggil Cassie.


"Yah?"


"Apa kau akan tetap memilihku?"


"Tentu saja..."


"Apa pun yang terjadi?"


Christov mengangguk seraya menanggalkan semua pakaiannya hingga tersisa celana boxer-nya.


"Bagaimana jika kita memilih menikah dan Ibumu tak memberi restu?"


Dia yang tengah memindahkan pakaiannya ke arah kursi mendadak berhenti dan menatap Cassie dengan tatapan heran. Christov menyipitkan mata.


"Menikah? Kau mau menikah denganku?"


Cassie tertawa, "Kenapa? Apa kau berencana meninggalkanku di tengah jalan setelah semua yang kita lalui bersama?"


Christov segera menggeleng dan melemparkan pakaiannya ke sembarang arah. Matanya segera menatap wanita itu dengan tatapan berbinar-binar.


"Serius?"


"Kenapa kau sangat terkejut begitu?"


"Kau mau menikah denganku?" ulang Christov.


"Bukan sekarang.. Suatu saat.. Well.. Saat semua keadaan sudah terkendalikan.."


Christov tiba-tiba tertawa. Tawa penuh kebahagian. Dia menutup mulutnya yang tak bisa berhenti tersenyum bahagia seraya menatap Cassie yang tersenyum tipis.


"Sebahagia itu, huh? Apa kau sebahagia itu karena wanita spektakuler sepertiku mau menikahimu?"


Christov tanpa ragu segera melompat ke dalam kolam, berjalan dengan langkah berat di dalam air hingga akhirnya bisa bergabung dengan Cassie. Senyum lebar terus menghiasi wajahnya. Satu tangannya diarahkan dan dilingkarkan pada pinggul Cassie lalu menarik wanita itu mendekat ke arahnya.


"Kupikir mengajakmu menikah suatu saat nanti akan sangat sulit.."


Cassie mengalungkan kedua tangannya pada leher Christov, "Kenapa kau berpikiran begitu, huh?"


"Aku sangat.. Sangat.. Sangat bahagia.. Aku bahkan sudah merancang rumah impian masa depan kita.. Aku membuatnya berdasarkan deskripsi yang pernah kau katakan..."


Cassie tertawa kecil, "Secepat itu? Kau sudah merancangnya? Dasar.. Kita baru berkencan selama beberapa bulan.."


Christov mencubit lembut pipi Cassie, "Waktu bukanlah tolak ukur suatu hubungan. Well.. Kita mungkin masih saling kenal selama kurang lebih lima bulan, bukan? Bukan waktu yang lama, tapi aku merasa itu adalah waktu yang cukup untuk menyadari bahwa kau-lah wanita yang kuinginkan.."


"Dasar tukang gombal.."


"Aku tidak menggombal..."


Dia menggeleng lalu memajukan kepala untuk mencium bibir Cassie. Wanita itu tidak menolak, malah membuka mulutnya untuk memberi akses semakin luas pada Christov. Tangan Cassie meremas rambut Christov yang belum basah dan mendorong kepala pria itu semakin dalam.


"Emm.." Christov mengerang tertahan dalam pa-ngu-tan tersebut. Tangan kanannya meremas bo-kong wanita tersebut dengan penuh has-rat. Meremasnya terus lalu dengan berani menyelipkan tangannya masuk ke dalam pakaian dalam Cassie. Namun, wanita itu buru-buru mendorong Christov menjauh darinya. Dia menatap heran kekasihnya tersebut.


"Kenapa?" tanya Christov dengan nada keheranan.


Cassie mengelus bibir bawahnya, "Tidak mungkin di sini, Christov. Kita tidak mungkin melakukannya di sini.."


Christov menarik wanita itu mendekat, "Memangnya kenapa? Kita bukannya berada di kolam renang publik.."


"Kita bisa mengontaminasi kolam renangmu, Christov.." bisik Cassie.


Dia tertawa geli, "Kita bisa membersihkannya bersama.." Christov mendekat dan mengarahkan hidungnya untuk mengendus lekukan leher Cassie.


"Aku belum pernah bercinta di dalam kolam sebelumnya.." bisik Cassie pelan dengan ragu.


"Kalau begitu ini pengalaman pertama kita.." geram Christov pelan seraya mengecup leher wanita tersebut. Tangannya mengelus-elus kulit Cassie yang berada di dalam air. Dia bergerak maju, membuat Cassie berjalan mundur ke arah yang lebih dangkal.


"Argh.." Cassie me-nge-rang merasakan hisapan mulut Christov pada kulit lehernya. Tanpa aba-aba, wanita itu melingkarkan kedua kakinya pada pinggul Christov saat pria itu membawanya semakin dekat ke arah tangga kolam renang.


"Kiss me*.. Kiss.. Kiss me, Christov.." pinta Cassie seraya menarik kepala Christov ke arah bibirnya.


(*Cium aku)


"Yes.. Yes, baby.." e-luh Christov seraya mengarahkan bibirnya pada milik Cassie. Me-lu-matnya dengan lembut dan menjalin lidah mereka berdua di sana. Dia mendudukkan Cassie pada anak tangga besi teratas kolam renang. Satu tangannya di arahkan ke balik leher Cassie lalu mengusapnya dengan lembut sembari kepala mereka saling beradu dalam pa-ngu-tan tersebut.


"Argh.." Cassie menggeram dan itu membaut Christov semakin bersemangat. Tangannya yang berada di balik leher Cassie berpindah pada balik daun telinga kanan wanita itu, tempat tatto ular itu berada. Mengelusnya dengan lembut. Mengelusnya tanpa tahu entah sudah berapa kali dia melakukan hal ini.


Saat napas keduanya semakin habis, dia menghisap bibir bawah Cassie lalu menariknya dengan lembut hingga akhirnya melepas pa-ngu-tan tersebut. Christov menempelkan dahi dan ujung hidungnya pada Cassie. Napas keduanya saling berderu cepat dengan mulut setengah terbuka.


Perlahan, Christov mengangkat tangan kiri dan mengelus tatto mawar yang berada di antara belahan pa-yu-da-ra Cassie. Sejak mengenal Cassie, bunga mawar menjadi bunga favoritnya.


"Cantik.." bisiknya lembut seraya melakukan gerakan melingkar pada bunga mawar tersebut. Di satu sisi, matanya menangkap dua benjolan yang menonjol dari balik bra Cassie yang tipis. Dia tersenyum miring dan memindahkan jemarinya pada benjolan tersebut.


"Ini juga cantik.." dia menjepit satu pu-ting Cassie tersebut di antara jari telunjuk dan jari tengahnya dari balik kain tipis bra tersebut.


"AH!" Cassie memekik kencang dan melengkungkan punggungnya ke arah Christov. Kedua tangan wanita itu mencengkram otot bisep Christov.


Dia terkekeh dan menjepitnya semakin keras hingga membuat Cassie me-nge-rang semakin kencang. Christov mengangkat tangan kanannya dan melakukan hal yang sama pada sisi pa-yu-da-ra Cassie yang lain. Melakukan gerakan combo itu secara sekaligus.


"Oh! Oh! Oh my! Aku suka.. Suka!" Cassie meraung semakin kencang saat jepitan jemari Christov semakin mengencang, membuat pu-tingnya tersebut memanjang seiring waktu.


"Aku ingin menghisapnya dengan sangat keras, Miss Angelis.." geram Christov dan menarik bra tersebut dengan kasar hingga membuat ikatan talinya terlepas. Bu-ah da-da yang basah, ranum, dan bulat pepat tersebut berguncang di hadapan Christov karena gerakan paksa yang dilakukannya. Membuat kedua mata Christov menggelap oleh ga-i-rah dan naf-su.


"Hah.." dia mengembuskan napas dinginnya pada pu-ting Cassie dan membuat sekujur tubuh wanita itu bergetar. Dia memajukan kepalanya lalu mengecup tatto mawar itu dengan lembut. Kemudian, bibir Christov merayap di sepanjang dada Cassie menuju titik tertinggi gundukan tersebut. Saat sudah dekat, Christov menjilati pinggiran pu-ting Cassie dalam gerakan perlahan dengan ujung lidahnya.


"Ahk.. Ahk.." Cassie membusungkan dadanya semakin dekat ke arah Christov, meminta dalam gerakan frustasi agar pria itu menghisap kencang pu-tingnya tersebut.


"Ini milikku, Cassie.." bisik Christov dengan suara parau dan tak hentinya menjilati pinggiran pucuk Cassie tersebut.


"Tak boleh ada lagi yang menyentuh, bahkan melihatnya..."


"Argh! Please.." Cassie mendorong kepala Christov ke arah dadanya dan akhirnya pria itu melakukannya. Christov membuka mulut lebar-lebar dan mengisinya dengan buah dada Cassie yang kenyal. Menghisap pu-tingnya dengan kencang sembari tangan yang satu bermain pada pu-ting yang lain.


Sangat kencang.. Membuat Cassie memutarkan kepalanya seolah kehilangan gravitasinya sendiri. Membuat wanita itu seolah melayang-layang dalam keadaan tak berdaya pada fatamorgana yang tak berujung. Matanya mengabur oleh kenikmatan yang tiada tara tersebut.


"Oh.. Oh.. Oh my.." e-rang-nya dalam suara lemah. Hisapan kencang dan re-ma-san tangan Christov pada kedua pa-yu-da-ranya telah memanjakannya hingga membuat Cassie kehilangan seluruh tenaganya. Tangannya yang berada pada otot bisep Christov perlahan terlepas dan akhirnya hanya menggantung tak berdaya di sana.


"Lemas?" tanya Christov dengan senyum miring setelah melepaskan pa-yu-da-ra Cassie dari mulutnya. Wanita itu sudah menumpukan seluruh tubuhnya pada Christov. Berenang sejak tadi telah membuat seluruh tenaga wanita itu terkuras.


"Namun, aku tidak akan berhenti, Cassie.. Aku akan tetap bergerak hingga ke titik penghabisan.."


"Oh my... Bergerak.. Bergeraklah terus, baby.."


Christov terkekeh dan memindahkan mulutnya pada sisi lain bu-ah da-da Cassie yang belum terjamah oleh mulutnya. Melakukan hal yang sama, memuja pa-yu-da-ra Cassie yang ranum. Menjilatinya dengan kesungguhan hati, meremasnya dalam gerangan perlahan, dan menggigitnya lembut. Membuat wanita itu semakin menggila dan lemah dalam pusaran kenikmatan yang tak berujung tersebut.


"Aku berharap kau menghisap kejantananku, Cassie, tapi nampaknya kau tidak bertenaga lagi.." kata Christov setelah menarik kepalanya menjauh dari pa-yu-da-ra wanita itu.


Cassie mengangkat kepalanya yang berat dan tersenyum miring, "Apa yang kau inginkan sekarang, Mr. Connel?"


Christov menarik pakaian dalam Cassie hingga lepas dan membiarkannya mengambang di air. Jemarinya diarahkan pada lipatan yang berada di antara paha Cassie tersebut kemudian mencubitnya dengan lembut.


"Aku ingin menguburkan kejantananku di dalam ini.." Christov tetap memijat kewanitaan Cassie yang berada di dalam air tersebut, "Menusukmu hingga ke titik terdalam.. Membuatmu mengerang sepanjang malam hingga kau kehilangan suaramu sendiri.."


Cassie tersenyum miring dan mengarahkan kedua tangannya pada pipi Christov, "Kau seperti orang yang berbeda saat bercinta, Christov.. Kau lebih liar dan semua sifat lembutmu hilang.."


"Kau suka sisi yang mana?" tanya Christov seraya menurunkan  boxer-nya dalam gerakan perlahan.


"Keduanya.. Aku suka semuanya.. Semua tentangmu.."


Boxer Christov terlepas dan membuatnya ikut mengambang bersama milik Cassie di permukaan air.


"Kalau begitu, apa kau suka jika kejantanan ini masuk sangat dalam ke dalam dirimu, Cassie?"


"Suka jika kau melakukannya dengan cepat dan keras.."


Christov mengarahkan ujung ke-jan-ta-nannya pada dinding kewanitaan Cassie. Mata mereka saling terpaut dan senyum miring menghiasi wajah keduanya.


"Sangat keras.. Cepat.. Aku akan melakukannya dengan cepat, Cassie.."


Cassie menarik napas dengan berat saat merasakan kejantanan Christov perlahan masuk.


"Buka kakimu lebar-lebar, sayang.." ujar Christov dan Cassie mematuhinya. Kedua tangan Christov ikut membantu membuka kaki Cassie terbuka semakin lebar. Membuka semakin lebar untuk akses yang lebih luas.


"Lebih baik.." bisiknya. Tanpa melepas tatapannya, dengan perlahan Christov mendorong masuk ke dalam kewanitaan Cassie. Tekanan dari air membuatnya sedikit kesulitan, tapi paha Cassie yang terbuka lebar membuatnya terasa lebih mudah.


Mereka tetap saling bertatapan, seolah mengirim ribuan pesan hanya melalui tatapan tersebut. Tubuh Cassie bergetar dan tanpa sadar, dia mengangkat kedua tangannya untuk memegang kembali bisep Christov.


"Lagi?" bisik Christov saat setengah batang kejantanannya sudah masuk ke dalam.


"Yah.. Lagi.." bisik wanita itu.


Christov menggigit bibir bawahnya dan dalam gerakan cepat, dia mendorong pinggulnya ke depan, membuat seluruh kejantanannya masuk tanpa sisa dalam sekali dorongan.


"AH.." Cassie membuka mulutnya, terkesiap dengan sensasi unik tersebut. Sangat dalam. Kejantanan Christov masuk sangat dalam di sana.


"Sekarang, rapatkan pahamu.." Cassie malakukannya, merapatkan kedua pahanya sesuai perintah Christov.


"Argh.." Christov meraung dengan suara tertahan ketika merasakan jepitan sempit dari Cassie. Kewanitaan Cassie menjepit ke-jan-ta-nannya yang berkedut hebat. Membungkusnya dengan sangat sempurna.


"Bergeraklah, Christov... Lakukan dengan cepat.." pinta Cassie.


Christov memundurkan pinggulnya lalu bergerak maju, menusuk jauh ke dalam kewanitaannya. Cassie yang duduk di anak tangga besi berpegangan pada pegangan tangga tersebut saat Christov mendorong masuk dalam gerakan lambat dan keras. Tubuhnya ikut bergerak maju dan mundur karena gerakan kasar Christov. Gelembung air muncul dari sana setiap Christov mendorong masuk dengan sangat keras.


"Ah.. Ah.. Ah.. Christov.. MmMm..."


"Yeah, Cassie.. Yeah.."


Christov mendorong lagi dan kini lebih cepat. Membuat air bergerak dan pa-yu-da-ra Cassie berguncang ke atas dan ke bawah. Pemandangan yang indah. Batin Christov.


"Oh my!" Cassie meraung ketika Christov menghisap pu-tingnya lagi dengan sangat kuat. Pria itu memperkuat otot pinggulnya dan mendorong semakin dalam, sangat dalam hingga membuat Cassie menjerit semakin kencang.


"AH!AH! Christov! Oh! Oh my!"


Christov bergerak semakin menggila saat melepas pa-ngu-tannya pada dada Cassie. Kedua tangannya berpindah pada sisi pinggul Cassie agar wanita itu tidak bergerak-gerak. Dia mendorong lagi dengan sangat kasar. Mendorong kuat dan menarik ke-jan-ta-nannya dengan kasar. Terus. Membuat kedua pa-yu-da-ran Cassie ikut bergerak dan berguncang.


"Jeez.. Nikmat.. Kau sangat nikmat, Cassie.." Christov mengeluh.


"Yeah.. Yeah! Aku suka! I like it!" Cassie menutup matanya dan menggigit bibir bawahnya merasakan kenikmatan tiada tara tersebut membanjiri seluruh tubuhnya.


"Argh..." Christov meraung semakin kencang tak kala otot kewanitaan Cassie menjepit miliknya semakin kuat. Me-re-mas kejantanannya dalam kesempurnaan yang haqiqi.


"Oh my.. Cassie.. Cassie..." dia mengerang lagi. Matanya menatap buah dada Cassie yang berguncang. Punggungnya bisa merasakan ombak yang terbentuk karena gerakan maju-mundur yang dilakukannya.


"Datang! Aku akan datang!" pekik Cassie.


"Tahan.. tahan!" perintah Christov dan semakin bergerak cepat. Gerakannya tersebut bahkan membaut suara decitan terdengar, membelah kensuyian dari dalam air.


Menggila. Keduanya menggila. Christov terus bergerak, bergerak menghancurkan Cassie dalam kenikmatan yang berkeping-keping.


"Tunggu... Tunggu aku, Cassie.."


Christov memutar pinggulnya dalam gerakan perlahan lalu melakukan gerakan masuk secara mendadak, membuat Cassie terkesiap dan memekik kencang. Memutar pinggul, menarik, lalu mendorong pinggulnya dengan sangat cepat dan dalam.


"Cassie!" Christov berteriak dengan suara parau saat akhirnya pelepasan itu datang. Cairan yang menumpuk dan mendesak keluar sejak tadi tumpah dan memenuhi milik Cassie. Dia mendorong masuk sekali lagi dan saat itu pula, kekasihnya tersebut mendapatkan pelepasan.


"AHK! Christov! Ahk!"


Seluruh tubuh Cassie bergetar hebat, kakinya menegang, dan kepalnya didorong ke belakang saat merasakan sensasi luar biasa tersebut. Sensasi yang berasal dari kewanitaannya dan menyebar ke seluruh titik saraf tubuhnya. Tubuhnya langsung ambruk ke dalam pelukan Christov dengan kepala di sandarkan pada pundak pria tersebut.


"Oh my.." bisik Cassie dengan sisa tenaga yang dia miliki, "Kau benar-benar menghajarku hingga ke titik penghabisan, Christov.."


"Tapi, kau suka, bukan?" ujar Christov seraya menaruh kedua tangannya pada bawah bo-kong Cassie untuk menopang tubuh wanita tersebut.


Cassie tersenyum tipis dan memejamkan mata, "Yeah.. Aku suka.. Aku selalu suka melakukan apa pun denganmu, christov.."


"Cassie.." panggil Christov saat mendorong tubuh Cassie agar naik ke permukaan kolam.


"Yeah?"


"Aku tak sabar menunggu untuk memanggilmu sebagai isteriku.."


Cassie terkekeh sesaat setelah duduk di lantai dan melihat Christov yang ikut naik ke permukaan.


"Suatu saat.. Suatu saat itu akan terjadi.." katanya saat Christov tengah memakaikan jubah mandi lalu berjalan ke arahnya dengan jubah mandi yang lain di tangannya.


"Kau janji?" tanya Christov lagi seraya membungkus tubuh Cassie dalam jubah mandi lalu menggendong wanita itu di depan tubuhnya. Cassie tersenyum dan menyandarkan kepalanya pada dada Christov. Dia memejamkan mata saat merasakan tubuhnya dibawa oleh Christov.


"Yeah.. Aku berjanji, Christov..."


***


Miss Foxxy


Jadi kangen berenang. Do you know, buddy? Mengerjakan per chapternya itu bukan hal yang mudah. Kadang suka nge stuck di bagian ide dan ngerjainnya berjam-jam.So yeah.. Mari tinggalkan jejak :) I love you. Tetap dukung author yah walau Giveaway udah siap. :")