
Happy Reading
****
Minggu, 10 Mei 2020. 11.00 AM
"Kau menang.." kata Christov untuk kesekian kalinya pada Cassie melalui ponsel. Wanita itu memenangkan penghargaan sebagai penulis dan produser musik terbaik tahun ini dalam satu ajang.
"Argh... Bisakah kau berhenti mengucapkannya, Christov? Aku yang menerima penghargaan, tapi tampaknya kau yang jauh lebih bahagia.." ucap Cassie dengan nada jengkel dari seberang.
Dia berguling di atas tempat tidur dan tersenyum lebar membayangkan wajah jengkel Cassie yang lucu, "Yah.. Aku senang sekali.. Sangat senang. Kenapa kau tidak senang atas penghargaan yang kau dapat? Jika aku di posisimu, tidak bisa kubayangkan rasa senangku.."
"Huh.. Dasar.. Kau bisa memiliki pialanya jika kau mau,"
"Itu-kan milikmu.."
"Aku punya banyak penghargaan. Satu saja Kusumbangkan untukmu tak jadi masalah untukku."
"Apa yang kau lakukan sekarang? Kau sedang menuju bandara?"
"Yeah..."
"Siapa temanmu di sana? Dengan siapa kau akan pulang?"
"Hanya aku.. Tim-ku akan pulang dengan penerbangan berikutnya sekitar jam enam sore. Mereka ingin melanjutkan berpesta...."
"Kenapa kau langsung pulang? Bukankah kau suka pesta?"
Karena aku merindukanmu. Itulah jawaban yang diharapkan Christov dari Cassie tapi dia tahu bahwa jawaban seperti itu tidak akan ada. Tidak akan ada selama hubungan mereka masih abu-abu.
"Karena aku harus kembali bekerja keesokan harinya.. Jangan lupa menjemputku, okay? Aku akan sampai sekitar pukul enam sore.."
"Apa kau akan menginap di tempatku?"
"Yah.. Aku ingin menginap di tempatmu malam ini..."
"Cassie?" panggil Christov seraya mengambil posisi duduk bersila di atas ranjang. Matanya menatap kosong pada seprai ranjang.
"Yes?"
"Kau suka bunga?"
"Apa kau berencana memberiku bunga? Tidak perlu.. Aku tak suka,"
Dia tersenyum kecut, "Dandelion? Kau bilang kau suka dandelion?"
"Astaga.. Aku suka dandelion yang hidup di alam liar, bukan yang ada di dalam bungkusan buket bunga. Lagian, toko bunga mana yang menjual dandelion, huh? Sudah yah? Aku sudah hampir sampai di bandara.."
Christov hendak menolak permintaan Cassie tersebut karena dia masih ingin mendengar suara wanita itu lebih lama lagi.
"Okay.. Sampai jumpa.." kata dia terpaksa dengan nada sedih.
"Bye, Christov.."
Setelah panggilan terputus, Christov menjatuhkan diri lagi ke atas ranjang seraya menatap foto Cassie yang berada di galeri ponsel. Jari jempolnya mengusap permukaan layar ponsel tepat di wajah wanita itu.
"Kenapa dia sangat cantik?" gumamnya pelan, "Apa dia sudah punya jawaban? Arghhh.." Christov menggulingkan tubuhnya dengan kesal. Sejak kepergian Cassie, dia merasa tidak tenang karena wanita itu mengatakan sudah memiliki jawaban tentang kelanjutan dari hubungan mereka.
"Huh... Begini rasanya menyukai seseorang.. Merasa bahagia dan khawatir di saat bersamaan..."
Disandarkan pipi kirinya pada seprei dan tetap menatapi foto-foto Cassie yang dia ambil secara diam-diam, "Aku ingin kau menjadi milikku, Cassie.. Jadi.. Jadi kumohon terima aku..."
****
Christov memasukkan paprika berbagai warna, anggur hitam-hijau-merah, brokoli, selada, cabai, wortel, tomat, strawberry, cherry, asparagus, dan blueberry ke dalam trolinya. Lalu melanjutkan lagi mengisi trolinya dengan daging sapi, bumbu masak, dan terakhir beberapa cemilan.
"Anggur.." gumamnya pelan saat melewati rak berisi minuman alkohol tersebut, "Cassie suka anggur.."
Tanpa pikir panjang, tangannya meraih dua botol anggur dengan harga termahal dari rak dan memasukannya dalam troli. Sekarang, dia menuju kasir untuk melakukan pembayaran. Setelah membayar, Christov membawa belanjaannya ke dalam mobil dan pergi dari supermarket menuju toko bunga. Dia membawa serta kertas belanjanya masuk ke dalam toko bunga. Bunyi lonceng lembut terdengar saat dia mendorong pintu. Wangi semerbak dari tanaman yang ada di sana langsung menyambut Christov. Tempat itu benar-benar dipenuhi dengan bunga.
"Selamat datang, Sir.." sambut wanita berusia 40 tahunan dari balik meja kasir, "Ada yang bisa saya bantu?"
Christov memutar matanya ke sumber suara. Dia muncul tiba-tiba. Pikirnya
"Ah.. Apa kau bisa membuat buket bunga dari tanaman yang kubawa?"
"Yes, Sir.. Bunga seperti apa? "
Christov mengangkat kertas belanjaannya yang penuh ke atas meja kasir, "Bukan bunga, tapi sayuran dan buahan.."
"A-Apa?"
Dia menunjukkan isi dari sayuran dan buahan yang baru dibelanjakannya, "Calon kekasihku tak suka dibawakan bunga, tapi aku ingin sekali memberikan sesuatu. Dia suka sayuran dan buah jadi kupikir calon kekasihku akan suka ini.."
Penjual bunga itu mengangguk dan tersenyum bingung. Baru kali ini dia mendapat pesanan seperti ini.
"Anda ingin sayuran dan buahan ini disusun seperti apa, Sir?"
"Apa saja. Aku hanya ingin semua sayuran dan buah ini di susun rapi dengan sedemikian rupa..."
Penjual bunga menarik kantong belanjaan itu mendekat ke arahnya, "Kapan anda membutuhkan ini, Sir?"
"Pukul lima sore ini. Apakah bisa?"
"Tentu, Sir.. Apakah kau ingin menulis surat atau saya yang tuliskan surat dalam buket sayuran ini?"
"Entahlah.. Calon kekasihku tak suka hal yang terlalu berbau romantis. Apakah menulis surat terlalu berlebihan?" tanya Christov dengan nada sungguh-sungguh.
Penjual bunga tersenyum lembut, "No.. Menulis surat tidak terlalu berlebihan, Sir.." jawab penjual bunga dengan senyum lembut, "Apakah dia masih calon kekasih anda?"
Christov mengangguk kecil, "Begitulah.. Aku akan mendapatkan jawabanku hari ini,"
Penjual bunga mengangkat keranjang berisi amplop berbagai warna dari bawah meja kasir lalu mendorongnya ke arah Christov, "Anda pasti sangat mencintainya. Anda ingin menulis surat sendiri atau saya yang tuliskan?"
"Aku ingin menulisnya sendiri.." Christov memilih amplop berwarna cream lembut, "Apakah aku harus menulisnya sekarang?"
"Anda bisa membawakannya saat menjemput buket sayuran anda.."
"Okay.. Thank you, Mam.."
(*Mam\= Ibu(Formal)
Christov melakukan pembayaran dengan penjual bunga dan menyimpan kwitansinya. Setelah selesai dengan urusan bunga, dia melajukan mobil menuju apartemen. Sesampainya di sana, Christov membongkar belanjaannya dan menyusunnya sedemikian rupa di dalam lemari pendingin.
Setelahnya, dia melanjutkan kegiatannya dengan mencampurkan berbagi bumbu ke dalam minyak zaitun untuk me-marinasi daging sapi lalu menaruhnya dalam lemari pendingin. Siap dengan urusan dapur, Christov berpindah ke kamar untuk mandi dan bersiap-siap pergi menuju bandara.
Minggu, 10 Mei 2020. 16.30
Kaos biru, jaket varsity polos, celana jeans hitam, sneakers hitam, dan Christov siap untuk pergi. Dia memeriksa jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul setengah lima sore. Dalam waktu 30 menit, Christov sudah sampai di toko bunga untuk menjemput buket sayuran miliknya. Senyum tipis terukir di bibirnya saat melihat sayuran dan buahan itu tersusun sedemikian rupa. Kesan mewah dari buket tersebut terpancar dengan cara unik dan buket sayuran ini benar-benar tak kalah keren dari buket bunga biasa.
"Ini buket yang bagus, Mam..." puji dia seraya menatap buket itu dengan tatapan serius.
"Thank you, Sir..."
"Ah.. Ini surat yang sudah kutulis," ucap dia seraya memberikan amplop krem tersebut pada penjual bunga.
"Anda hanya perlu menyelipkannya seperti ini," si penjual menyelipkan surat di antara kepala bunga brokoli, "Ini untuk calon kekasih anda, bukan?"
Christov mengangguk semangat.
"Saya harap dia menjadi kekasih anda sesegera mungkin.."
"Aku juga berharap demikian. Thank you, Mam.."
"You're welcome, Sir.."
Dia beralih dari sana dan menaruh buket sayur di atas kuris mobil dengan penuh kehati-hatian lalu kembali melajukan mobil ke jalan raya yang padat. Christov harus menghabiskan waktu sekitar 45 menit agar sampai ke bandara. Dia benar-benar panik tak akan sampai tepat pada waktunya. Namun, saat dia memarkirkan mobil, ponselnya yang berada dalam saku celana berdering.
Dering khusus untuk Cassie
"Cassie.." ucapnya dengan nada ceria setelah menerima panggilan masuk tersebut seraya keluar dari mobil dengan buket bunga, "Sudah sampai?"
"Tentu saja. Aku baru turun dari pesawat.."
"Well.. Aku datang tepat pada waktunya.." Christov berjalan memasuki area bandara dengan langkah cepat, "Jangan matikan ponselnya, okay? Aku ingin mendengar suaramu.."
Ada suara tawa lembut dari seberang, tawa yang menjadi candu untuk Christov.
"Ada-ada saja.. Apa yang ingin kau dengarkan, huh? Toh kita akan bertemu.."
"Uhm.. Aku hanya ingin mendengar suaramu. Apa yang sedang kau lakukan?"
"Tengah menarik koperku turun dari tempat pemeriksaan..."
"Lalu?"
"Berjalan keluar dari ruang pemeriksaan.."
"Aku sudah melihatmu, Cassie.." gumam Christov saat melihat Cassie yang keluar dari ruang pemeriksaan. Dari lokasinya, dia bisa melihat wanita itu melirik ke kanan-kiri untuk mencari keberadaan Christov.
"Di mana? Aku tak melihatmu?"
"Aku akan menuntunmu.."
Aku akan selalu menuntunmu. Sambungnya dalam hati.
"Putar tubuhmu ke arah kiri..." Cassie menurut, "Sekarang melangkahkan.."
"Maju?"
"Yeah.. Jangan melihat ke kanan-kiri. Cukup lihat ke depan.." dan lihatlah ke arahku, Cassie.
"Okay... Tapi, aku masih belum melihat keberadaanmu."
"Sabar. Cukup dengarkan saja aku dan jalan lurus ke depan. Lihat ke depan dan bukan ke arah lain.."
Tolong... Tolong lihat aku, Cassie...
Wanita itu berjalan semakin dekat ke arahnya dan jantung Christov berdetak kencang secara mendadak. Hanya dua hari.. Hanya dua hari Christov tidak bertemu dengan Cassie, tapi entah mengapa itu serasa berbulan-bulan lamanya.
"Di mana?"
Oh my.. Aku benar-benar jatuh dalam senyuman itu lagi.
"Aku akhirnya bisa melihatmu, Christov..." ucap Cassie dengan nada girang karena akhirnya menemukan Christov.
"Aku selalu bisa melihatmu, Cassie.. Kemarilah.."
Cassie tersenyum lebar dan semakin mempercepat langkahnya, "Apa itu? Buket bunga? Kan sudah kukatakan aku tak suka bunga.."
"Kau harus melihatnya dengan baik dan jelas agar kau bisa menilainya, suka atau tidak,"
Seperti aku misalnya..
"Uh.. Kau sangat tampan jika dilihat dari kejauhan..."
Christov terkekeh, "Karena aku tidak kelihatan?"
Cassie tertawa geli, "Well.. Kau selalu tampan, dari kejauhan atau dari dekat..."
"Terimakasih atas pujiannya, Miss De Angelis.."
"Aku penasaran apa yang kau lakukan di sini.."
"Tentu saja untuk menjem--"
"Apa kau hendak menjemput kekasihmu?"
Christov tersenyum lebar, "Oh.. Begit-- Ah apa? Apa yang baru saja kau katakan?" suaranya berubah ke nada panik dengan sangat cepat. Jantung berdegup semakin kencang dan tubuhnya memanas tanpa sebab. Christov berdiri mematung di sana dengan mulut terbuka. Matanya tetap tertuju pada Cassie yang masih berjalan ke arahnya dengan senyum lebar.
"Apa yang kau katakan barusan, Cassie? Apa aku salah mendengar?" tanya dia dengan suara penuh keraguan.
Cassie tertawa kecil dan itu membuat Christov semakin merasa gugup.
"Salah dengar? Bagian mana? Aku tidak tahu apa maksudmu.."
Cassie semakin mendekat dan Christov bisa melihat wajah wanita itu semakin jelas.
"Jangan bermain-main denganku. Aku serius, Cassie..." kata dia dengan nada kaku
"I'm not*.. Kau kekasihku, bukan begitu?"
(Aku tidak bercanda)
"Cassie..." bisik Christov dengan suara bergetar.
"Jangan mendekat dan diamlah di tempatmu. Biarkan aku yang datang menemuimu untuk kali ini.."
"Apa kau serius?" tanya dia lagi untuk memastikan apa yang dia dengar adalah sungguhan.
"Apa aku nampak bermain-main untukmu? I love you."
Christov menahan napas dan melipat bibirnya membentuk garis keras untuk menahan diri dari emosi yang tiba-tiba membuncah dalam dirinya. Akhirnya.. Akhirnya kata-kata yang ingin dia dengar dari Cassie terucapkan juga. Setelah menunggu selama ini... Setelah mengucapkan itu berulang kali sendirian, akhirnya Christov mendapat balasan dari wanita itu.
"Aku ingin mendengarnya lagi..." pinta Christov. Matanya tetap menatap lurus pada Cassie. Dia masih merasa ini seperti mimpi. Christov benar-benar tidak menyangka hari ini akan datang juga. Hari di mana dia dan Cassie menjadi sepasang kekasih.
"Astaga.. Haruskah?"
"Yeah. Please...."
"Okay.. Okat... I love you..."
"Lagi..."
Cassie tertawa dari seberang dan mulai berlari dari posisinya, "I love you, Christov.... Harus berapa kali aku mengatakannya agar kau percaya, huh?"
"Sampai aku yakin ini nyata. Lagi.. Katakan lagi, Cassie..."
"Akan kubuktikan ini nyata.." Cassie memasukkan ponsel ke dalam saku dan melepaskan pegangannya dari koper ketika jarak mereka hanya tertinggal beberapa langkah lagi.
"I love you, Christov..." ucap dia seraya melompat ke dalam pelukan Christov. Kakinya dilingkarkan pada pinggul pria itu dan tangannya memeluk kepala Christov dengan erat.
"I love you, Christover.."
Christov menjatuhkan buket sayurannya ke lantai dan melingkarkan kedua tangannya pada tubuh Cassie. Wajahnya di tanamkan pada lengkungan leher wanita itu dan mengaromai aroma tubuh Cassie yang memabukkan. Ah.. Dia tidak pernah merasa selega ini seumur hidupnya.
Nyata... Ini benar-benar nyata... Batin dia.
"I love you, Christover O'Connel,"
Christov mengecup rambut Cassie, "Me too.. I love you, Cassandra.."
"Orang-orang akan melihati kita.." bisiknya seraya memutar tubuh Cassie dalam pelukannya dan membuat Cassie tertawa girang.
"I don't care.."
(Aku tidak peduli)
Christov tertawa lepas, "Lega.. Betapa leganya aku.. Punyaku.. Kau sekarang punyaku, Cassie."
"Terserah.. Intinya, aku mencintaimu, pria besarku..."
"I love you.. I love you so much, Cassie..."
****
Clara menatap bayangannya di cermin saat penata rias tengah menata rambutnya. Dipejamkan kedua mata dan kembali mengingat bahan materi yang sudah dia pelajari untuk acara kesehatan ini. Clara masih tidak menyangka dia melakukan omong kosong seperti ini. Harusnya aku bekerja di rumah sakit dan bukannya di studio sialan ini. Pikir dia kesal. Di saat dia berusaha berkonsentrasi dengan materinya, muncul bayangan Christov bersama wanita asing itu di dalam kepalanya.
Siapa?
Sudah jelas kekasihnya... Tanya dia dalam hati.
Dia sudah mendapat umpan, tapi bingung bagaimana mengarahkan umpan ini. Wanita itu adalah umpan utamanya, tapi bagaimana mengarahkan umpan ini pada Christov adalah yang tersulit.
"Argh.." erangnya kesal. Posisinya yang tengah berapa di New York tidak dapat membantu keadaannya saat ini.
Apa yang harus kulakukan? Aku tak mau kalah.. Tak mau..
"Anda okay, Miss?" tanya si penata rias karena wanita itu terus mengerutkan dahi. Clara membalas pertanyaan penata rias itu hanya dengan anggukkan kecil. Sesaat itu pula, ponselnya yang berada di atas meja rias berdering. Dia membuka mata dengan kesal lalu meraih ponsel untuk memeriksa layar ponsel.
Theresa Connel.. Ibu Christov. Whoa.. Sebuah kebetulan yang menyenangkan. Tanpa ragu, Clara menerima panggilan itu.
"Halo, Clara.." sapa Theresa dengan suara ceria yang terlalu berlebihan.
"Yes, Mam?"
"Ah.. jangan formal begitu. Apa kau sibuk? Aku hendak mengajakmu makan siang bersama..."
Mengarahkan umpan. Pikir Clara. Pengarah...
"Well.. Sayang sekali. Aku berharap bisa menikmati makan siang bersamamu, Mam, tapi saat ini aku sedang tidak berada di Los Angeles."
"Benarkah?"
"Yeah... Aku sedang di New York untuk urusan pekerjaan satu bulan ke depan.."
"Astaga.. Kau benar-benar pekerja keras. Apa Christov tahu tentang ini?"
Clara tersenyum miring. Sebuah pengarah umpan ke ikan. Pikirnya.
"Uhm.. Sebenarnya, kami tidak pernah saling berhubungan lagi.."
"Apa? Jangan katakan begitu.. Aku akan mengaturnya untukmu, Clara. Kau tahu, bukan? Hanya kau yang kurestui menjadi menantuku. Christov hanya terlalu naif dan pemalu. Aku yakin Christov menyukaimu juga. Jangan cepat menyerah padanya..."
Mudah sekali. Pikir Clara senang
"Thank you, Mam.. Sebenarnya ada sedikit kesalahpahaman antara kami berdua. Aku berharap setelah kembali ke Los Angeles, kesalahpahaman ini dapat diperbaiki.."
"Kesalahpahaman?!" suara Theresa meninggi, "Kesalahpahaman seperti apa? Biarkan aku yang mengurusnya. Aku akan menjumpai Christov saat ini juga..."
Clara melipat bibirnya menjadi garis untuk menahan diri agar tidak tersenyum lebar. Di berpikir bagaimana bisa Christov hidup dengan Ibu yang suka ikut campur seperti ini.
"No, Mam.. Untuk sekarang, kupikir kami berdua butuh waktu sendiri.."
Waktu sendiri untuk memikirkan rencanaku dan waktu sendiri untuk Christov menikmati kekasih barunya
"Huh.. Aku tidak tahu kenapa Christov sulit menerima wanita sebaik dirimu, Clara.. Padahal sudah kudidik dan kubesarkan dengan sungguh-sungguh..."
"That's okay, Mam.. Kuharap, hubungan kami dapat kembali setelah pulang dari New York. Kuharap, anda tidak mengatakan apa-apa pada Christov. Aku tak mau keadaan semakin runyam..."
"Lihatlah? Huh.. Kau sangat pengertian. Panggil aku jika kau membutuhkan apa pun, Clara.."
"Thank you, Mam.. Aku harus kembali bekerja sekarang. Good bye.."
"Good bye, Clara.."
Sambungan terputus dan senyum penuh kemenangan itu tak dapat lagi ditahan oleh Clara. Kedua mata dia menatap wajahnya yang tampak indah dengan riasan tersebut.
Cantik. Aku jauh lebih cantik dari wanita asing itu
"Anda siap untuk tampil, Miss..."
"Thank you.." Clara berdiri dan berjalan penuh percaya diri ke arah panggung.
Aku bisa menang.. Aku selalu memang
Aku sudah mendapatkan ikan, umpan, dan pengarah ikan untuk memakan umpanku. Batinnya.
"Sekarang, hanya menarik ikan di waktu yang tepat.."
***
Miss Foxxy
Buket sayuran... Pftttt.Sampai saat ini, belum ada yg tebak secara pas kenapa Cassie dan Christov kecelakaan.
Halo, gabung grup GC yah kalau mau ikatan giveaway. Minimal follow author kek. Kuyy ikutan GA