Remember Me

Remember Me
Enjoy The Life (2)



Happy Reading


***


Christov menarik napas panjang saat sudah di depan pintu kamar mandinya. Tarikan napas yang sudah dia lakukan berulang kali, dilakukan lagi untuk kesekian kalinya. Satu tarikan dan satu hembusan maka aku akan masuk. Batinnya.


Jantungnya berdegup semakin kencang. Kepalanya pun terasa pening hanya membayangkan apa yang akan terjadi di dalam sana jika seandainya dia masuk. Bayangannya akan dia dan Cassie akan berduaan di sana... Dalam keadaan basah dan...


"Sial.." Christov menggeleng. Kenapa dia gugup seperti ini di saat Cassie tampak santai-santai saja? Dia mendengus kesal saat menyadari keberanian Cassie mengajaknya untuk mandi bersama, di saat dia berdiri gugup di luar pintu.


Bagaimana bisa dia memiliki pemikiran seliar itu? Pikir Christov. Dengan tangan gemetar, Christov mengangkat tangannya menuju handle pintu. Dipegang, tapi tak kunjung ditekan. Tidak berani. Aku tidak berani. Suara air pancuran dari luar kamar mandi memenuhi pendengarannya dan bayangan Cassie tengah mandi di bawah pancuran memenuhi kepalanya. Tubuhnya menggigil, tidak sanggup memikirkan imajinasinya sendiri. Dia ingin mencobanya. Sekarang. Saat ini juga.


Dengan keberanian dan ketakutan yang berpadu menjadi satu, Christov memberanikan menekan handle pintu itu lalu mendorongnya terbuka hingga hawa hangat dari ruangan bis dia rasakan bercampur dengan semerbak wangi lembut memenuhi penciumannya. Ini bukan wangi dari shampoo atau sabunnya. Milik Cassie? Pikirnya.


Dilangkahkan kakinya dengan perasaan ragu untuk masuk semakin dalam. Matanya kemudian menemukan Cassie yang hanya mengenakan pakaian dalam tengah duduk di kursi kayu kecil milik Christov. Kedua tangannya berada di atas kepalanya untuk memijat-mijat rambutnya.


"Christov..." panggilnya seraya berdiri, "Kenapa sangat lama?" Cassie meraih penjepit rambut dari tempat sabun dan menjepit rambutnya yang basah dengan itu. Christov tidak bergeming dan hanya menatap Cassie. Dia kehilangan kata-kata hanya melihat Cassie dalam balutan pakaian dalam.


"Hei? Kau kenapa?" Cassie memukul lengan Christov agar sadar.


"Ah.. Bukan. Aku.. Uhm.."  Dia memejamkan mata, gugup. Christov merasa gugup hingga membuatnya kehilangan kata-kata.


Cassie menggeleng kecil, "Buka bajumu,"


"A-apa?" suara Christov meninggi. Sedikit syok.


"Jangan berlebihan, sialan.. Kau nampak hendak di-per-ko-sa saja," Cassie menatapnya tajam, "Aku akan mencuci rambutmu dengan produk perawatan rambutku."


Christov menatap beberapa perawatan rambut Cassie yang bertengger dengan shampoo miliknya. Setidaknya, ada empat. Banyak sekali. Pikirnya.


"Tidak perlu. Aku hanya perlu menyuci rambutku dengan shampoo.."


Cassie menggeleng seraya menggoyang-goyang jari telunjuknya, "No.. Kau sudah memasak untukku dan kali ini, biarkan aku memberimu pelayan yang terbaik. Cita-cita keduaku adalah menjadi penata rias dan penata rambut. Sekarang, duduklah," Cassie memutar tubuhnya untuk mempersiapkan empat produk tadi di lantai.


Christov menarik lepas kaosnya dan menaruhnya ke dalam keranjang, "Apa perlu aku buka celana juga?" tanyanya pada Cassie yang sudah duduk di bangku kayu kecil itu.


"Tentu saja. Memangnya siapa yang mandi dengan celana?"


"Pasti ada," gumam Christov seraya melepas celana katunnya dan meninggalkan tubuhnya dengan boxer.


"Duduklah, Tuan Baik Hati," kata Cassie seraya menepuk-nepuk lantai.


"Jangan panggil aku begitu," gerutunya seraya mengambil posisi bersila di lantai.


"Kau kan memang pria yang baik," kata Cassie seraya mengarahkan semprotan shower ke arah kepala Christov. Tubuh pria tersebut sedikit menggigil merasakan air yang dingin. Perlahan, air itu berubah menjadi hangat.


"Sebenarnya lebih baik menyuci rambut dengan air dingin, tapi ini pun tak masalah dari pada kau kedinginan," jelas Cassie dan menggosok rambut Christov dengan shampoo miliknya.


Christov yang duduk membelakangi Cassie memejamkan matanya, merasa nyaman dengan pijatan tangan Cassie di kulit kepalanya. Aroma shampoo Cassie pun terasa nyaman di hidungnya. Tidak menyengat. Tubuhnya perlahan rileks dengan pijatan itu.


"Apa matamu pedih?"


"Tidak.."


"Sudah seharusnya. Busa shampoo ini memang sedikit jadi tidak pedih di mata. Sekarang conditioner,"  ucap Cassie dan melakukan gerakan memijat lagi. Dada Christov bergemuruh saat merasakan sentuhan jemari Cassie di leher belakangnya.


"Apa enak?" bisik Cassie.


"Yah.." jawab Christov dengan suara parau.


"Bagus.." wanita itu kembali membilas rambut Christov, "Sekarang masker rambut,"


"Hei, Cassie..." panggil Christov dengan nada rendah. Satu tangannya memegang tangan Cassie yang berada di atas kepalanya. Diputar kepalanya untuk melihat Cassie dari ujung matanya.


"Bisa kita melanjutkan ini nanti saja?" Christov memutar tubuhnya untuk menghadap Cassie tanpa melepas tangannya, "Aku ingin melakukan hal lain."


Cassie tersenyum miring, "Tujuanku saat ini murni untuk mandi, tapi nampaknya kau mengacaukannya, Mr.Connel. Padahal aku belum selesai memberikan perawatan rambutmu untukmu."


Satu tangan Christov berpindah pada pundak Cassie, "Kau bisa melakukan perawatan di sisi lain," bisiknya penuh arti dan matanya melirik ke arah bawah.


"Kau memiliki pikiran yang sangat ca-bul, Mr.Connel."


"Aku belajar dengan baik darimu," dengan sengaja, Christov menarik turun salah satu tali bra Cassie, "Upsss.. Aku tidak sengaja,"


Cassie tertawa geli saat merasakan tangan Christov di kulit lengannya. Pria itu melakukan hal yang sama pada tali bra yang lain. Jari jempolnya mengelus bunga mawar yang berada di antara celah pa-yu-da-ra Cassie. Sesaat kemudian, dia menarik bra itu turun ke bawah.


Dadanya bergemuruh dan matanya menggelap hanya melihat pa-yu-da-ra Cassie yang bulat pepat. Pucuknya pun tegak seolah memohon disentuh. Tanpa ragu, dimajukan kepalanya dan mengisi penuh mulutnya dengan dada Cassie. Menjilat pucuknya yang tegak semakin memanjang.


"Ahk!" Cassie memekik sesaat merasakan mulut Christov yang dingin pada pa-yu-da-ra-nya.


Christov menghisapnya lembut dan satu tangannya menjalar ke bawah tubuh Cassie dan menyelinap masuk ke balik ce-la-na da-lam-nya. Tubuh wanita itu bergerak gelisah hingga membuat bo-kong-nya bergeser dari kursi kecil itu. Cassie kini menyandarkan tubuhnya pada dinding dan bo-kong-nya menyentuh lantai yang dingin.


"Oh!" dia meraung kencang merasakan dua jamari Christov memijat lembut miliknya. kakinya menegang dibawah sentuhan Christov. Di sisi lain, Christov memindahkan mulutnya pada da-da yang lain. Ke-wa-ni-ta-an Cassie benar-benar basah oleh cairan miliknya dan dengan mudah, Christov memasukkan dua jarinya ke dalam tubuh Cassie.


"Oh! My!" dia menjepit tangan Christov di antara kedua pahanya. Punggungnya dilengkungkan ke arah Christov ketika pria itu menghisap pa-yu-da-ra-nya dengan keras. Sesaat kemudian, Christov memindahkan mulutnya ke arah mulut Cassie dan menciumnya dengan sangat menggebu-gebu. Jarinya masuk semakin dalam dan melakukan gerakan melingkar. Cassie mengangkat kedua tangannya yang lemas ke arah kepala Christov, meremas rambutnya yang tebal


Rasa nikmat yang membuatnya melayang itu menyebar dari ke-wa-ni-ta-an-nya menuju seluruh titik-titik tubuh Cassie. Membuatnya tidak berdaya di bawah Christov, tapi dia menginginkannya terus dan terus. Tubuhnya bergetar saat merasakan puncaknya semakin dekat seiring dengan gerakan jemari Christov yang membabi buta.


"Ahk! Ahk!" dia memekik kencang ketika akhirnya pelepasannya datang. Seluruh tubuhnya bergetar dan menegang hebat saat merasakan rasa nikmat itu. Dia melepas pa-ngu-tan keduanya dan mengambil kesempatan untuk bernapas. Tubuhnya masih lemas merasakan pelepasan tersebut, tapi dia sudah siap untuk melakukan hal berikutnya.


"Sekarang giliranku," bisiknya seraya mendorong tubuh Christov. Matanya menatap gelap ke arah gundukan Christov yang mengambang di balik boxernya.


"Apa yang akan kau lakukan, hmm?" tanya Christov dengan nada menggoda.


Cassie menggigit bibir bawahnya, "Melanjutkan perawatanku padamu, Mr.Connel," dia mulai merangkak menuju pang-kal pa-ha Christov dan pria itu tahu jelas 'perawatan' seperti apa yang akan dia dapat. Cassie duduk bersimpuh di sana dan dalam gerakan lembut, tangan Cassie menarik turun boxer Christov hingga membebaskan benda itu.


"Aku berpikir jika milikmu seolah membesar setiap kali kita melakukan se x,"


Christov memiringkan kepalanya dan tangan kanannya mengelus rambut Cassie yang basah dengan lembut.


"Itu semua karenamu,"


Cassie terkekeh, "Dan biarkan aku membuatnya semakin membesar..." degan lembut, tapi pasti, Cassie mulai memenuhi mulutnya yang mungil dengan ke-jan-ta-nan Christov. Menggulum dan menjilatinya penuh kenikmatan.


"Argh.." Christov me-le-nguh penuh kenikmatan ketika merasakan mulut Cassie yang hangat pada miliknya.


Kedua tangan Cassie melingkari bagian ke-jan-ta-nan Christov yang tidak dapat dia kulum dengan mulutnya. Mengelus dan memijatnya lembut. Lidahnya menjilat ujung ke-jan-ta-nan Christov dan membuat pria itu me-nge-rang semakin kencang.


"Ah.. Jeez.. Mulutmu benar-benar terampil," dada Christov naik turun seiring dengan gerakan Cassie. Kepalanya mulai naik dan turun di sepanjang milik Christov. Tangannya mengingkari sisi lain. Dihisapnya dengan keras dan membaut seluruh tubuh Christov bergetar hebat.


"Semakin dalam.... Please..." pintanya dalam suara penuh keputusasaan, tangannya mendorong kepala Cassie agar miliknya masuk semakin dalam.


"Yeah.. Yeah.. Seperti itu..."


Cassie menggerakkan tangannya naik dan turun, menghisap kencang, memijat, menjilat, dan melakukan apa pun dengan sesuka hatinya hingga Christov menggila. Pria itu mendorong pinggulnya, berharap bisa memasukkan miliknya semakin dalam. Dia memutar-mutar kepalanya, merasa pening dengan kenikmatan itu.


Tubuhnya bergetar dan dadanya bergemuruh saat puncak itu semakin dekat. Dia melipat bibirnya keras dan meng-geram kencang.


"Mmm.. A-Ah..." Christov me-nge-rang kencang ketika akhirnya puncak itu datang dengan sangat sempurna. Dia memenuhi mulut Cassie dengan cairannya. Wanita itu mengangkat kepala dan mengelap bibirnya.


"Rasanya tidak buruk," bisiknya dan Christov merasakan ke-jan-tan-nan-nya berkedut kembali.


"Berdiri," perintah Christov. Tubuhnya masih merasakan sisa-sisa pelepasan tadi, tapi dia sudah siap untuk mendapatkan pelepasannya yang lain. Dibantunya wanita itu untuk berdiri dengan kedua tangannya


"Apa yang kau inginkan?" tanya Cassie, "Sesi perawatan yang lain?"


Christov terkekeh, "Aku suka mulut pintarmu, Cassie.." ditariknya tubuh Cassie mendekat hingga ke-jan-ta-nannya menusuk-nusuk perut Cassie.


"Kau rasakan itu? Dia menginginkanmu lagi. Aku ingin perawatan yang lain, Cassie.."


Cassie menjilat bibir bawahnya, "Let's do it,*"


(*Mari kita lakukan)


Tanda aba-aba, Christov mendorong Cassie menuju dinding. Dia menaruh telapak tangannya pada bagian belakang kepala Cassie agar tidak terbentur pada dinding. Diarahkan kedua tangannya pada bo-kong Cassie dan meremasnya kencang.


Christov terkekeh, "You driving me crazy,"* bisiknya di telinga Cassie.


(*Kau membuatku menggila)


"Aku tahu itu,"


Satu kaki Christov mendorong kaki kanan Cassie agar terbuka lebar, "Aku siap untuk melakukan perawatan yang lain..." dengan berani, dimasukkan miliknya pada kewanitaan Cassie yang terbuka lebar. Wanita itu terkesiap ketika benda besar itu memenuhi dirinya hingga ke ujung intinya.


"A-A-Ahk.."


"Aku menginginkan perawatan yang benar-benar cepat, kasar, dan panas, Miss Angelis.." tangan Christov mengangkat bokong Cassie ke atas sehingga wanita itu bisa melingkarkan kakinya pada pinggul Christov.


"Oh. My.." Cassie berbisik terputus. Kali ini, dia bisa merasakan tubuh Christov masuk sangat dalam hingga menyentuh titik-titik yang tidak pernah disentuh.


"Aku akan bergerak," Christov menghisap telinga Cassie, "Bergerak. Dengan. Sangat. Cepat."


Christov mulai bergerak dan Cassie memekik semakin kencang.


"AHK! AHK!"


Pekikan. E-ra-ngan. Suara decit. Teriakan. E-lu-han. Semua suara itu bergabung menjadi satu seolah ingin memecahkan malam yang sepi.


Mereka.. Dua insan tersebut.. Menggila bersama dalam pusaran kenikmatan yang menghancurkan mereka berdua menjadi keping-kepingan kecil. Lalu menunggu lagi hingga kepingan itu terbentuk untuk menghancurkannya dalam kenikmatan yang tiada tara. Terbentuk dan hancur lagi. Terus hingga semua naf-su dan ga-i-rah itu pudar oleh waktu.


***


"Ini enak.." kata Cassie dengan senang saat mencoba masakan milik Christov. Dia memotong potongan daging dan mencampurnya dengan nasi.


Cassie mengangguk semangat, "Aku tidak pernah tahu jika nasi seenak ini,"


"Jadi, apa kau sudah mempersiapkan rencana kita besok?"


"Untuk menikmati hidup dengan caraku?" tanya Cassie kembali sembari mengunyah makanan.


"Begitulah.."


Wanita itu menggeleng, "Belum. Aku melihat semua tempat yang kerap kukunjungi ternyata selalu ramai dan kau sendiri tidak suka keramaian.."


Christov menelan makanannya dan tersenyum. Dia merasakan dadanya menghangat mendengar perkataan Cassie yang penuh kepedulian. Dia mengingat hal kecil tentang dirinya dan itu membaut Christov senang dan terenyuh.


"Aku tidak masalah pergi ke tempat ramai asal pergi bersamamu,"


"Jeez.. Jangan merayuku. itu terdengar menggelikan saat kau ucapkan,"


"Aku serius,"


Cassie mengangguk kecil dan meneguk sup milik Christov dari mangkok kecil, "Terserah... Biasanya ke mana kau pergi untuk menghabiskan waktumu?"


"Ke tempat sepi," jawab Christov santai dan itu mengundang dengusan dari Cassie.


"Aku tahu. Maksud dari pertanyaanku adalah nama tempatnya."


"Ke pertanian. Aku selalu pergi ke pinggiran kota untuk menghabiskan waktuku,"


"Pertanian? Well.. Aku belum pernah menghabiskan waktuku ke pertanian,"


"Kau mau pergi bersama? Sekarang sedang musim gandum dan udara di sana cukup sejuk.."


Cassie mengangguk, "Boleh.. Terdengar menyenangkan,"


"Kita bisa piknik. Di sana ada sungai dan danau kecil. Kita bisa memancing juga. Ikan di sana selalu melimpah jadi tidak menunggu lama, ikannya pasti dapat. Ikan itu bisa kita panggang atau semacamnya..." Christov menceritakan pengalamannya dengan semangat dan itu membaut Cassie senang. Wanita itu tersenyum manis. Baru kali ini dia mendengar Christov berbicara sangat panjang.


"Di sana, para petani juga menjual susu segar. Kau harus mencobanya. Rasanya enak dan beda dari susu olahan di supermarket.."


Cassie mengangguk, "Kita akan melakukan semua yang kau katakan, Christov. Aku tidak sabar.."


"Benarkah? Serius?"


"Tentu saja.. Walau aku suka daerah perkotaan, aku dulu lahir dan besar di daerah pertanian juga sewaktu tinggal di Itali. Jadi, darah pertanian masih melekat kuat dalam diriku."


Christov tersenyum lebar, "Kalau begitu aku harus memikirkan menu piknik apa yang harus aku siapkan malam ini,"


"Aku akan membantumu menyiapkannya.."


"Kau tahu cara memasak?"


Cassie terdiam dan senyumnya menghilang. Matanya menatap tajam ke arah Christov. Mendadak, pria itu tertawa canggung saat mengingat momen Cassie menampar mantan kekasihnya.


"Bercanda.. Aku hanya bercanda," dia tertawa, "Jangan melihatku seperti itu..."


"Aku benar-benar bisa memasak tahu. Kau ingin aku memasak apa, huh?"


Christov menggeleng, "Bukan begitu.. Aku hanya bercanda.." ditengah tawa, ponsel Christov yang berada di atas meja berdering. Dia berhenti tertawa dan menatap ponselnya dengan curiga. Semoga bukan Ibu.. Semoga Bukan Clara. Semoga bukan mereka... Pikir Christov.


Tangannya meraih ponsel dan melihat layarnya. Dia mendesah lega saat melihat nama yang terpampang di layar ponsel. Dari Christina. Tanpa ragu, dia menerima panggilan dari saudarinya tersebut.


"Dari siapa?" tanya Cassie tanpa suara.


"Saudariku," bisik Christov, "Ada apa?" kini Christov mengalihkan perhatiannya pada ponsel, tapi matanya masih tetap tertuju pada Cassie yang masih menikmati makanannya.


"Anak ini. Bisakah kau menyapa terlebih dahulu? Katakan hallo atau semacamnya"


"Halo," ucap Christov dengan suara datar, "Aku sudah mengucapkannya. Sekarang beritahu aku apa tujuanmu memanggilku?"


Terdengar dengusan kesal Christina dari seberang, "Huhhh.. Dasar. Aku tiba-tiba mendapat panggilan rapat besok. Boleh kau jaga Nugget dan Salmon untukku?"


"Aku tidak bisa," jawab Christov cepat, "Aku tidak bisa karena aku memiliki acara penting, Christina."


"Apa? Ayolah.. Kumohon. Memangnya acara apa? Tidak biasanya kau punya acara di akhir pekan."


Matanya dan mata Cassie saling bertemu, "Sesuatu yang sangat penting. Kenapa kau tidak menitipkannya saja?"


"Tidak bisa.. Mereka tidak suka bertemu orang baru.."


"Aku benar-benar tidak bisa, Christina. Kenapa tidak titipkan di rumah orangtua kita saja?"


"Ah.. Kau tahu sendiri Ibu alergi bulu anjing. Kumohon bantu aku sekali saja.. Kumohon. Aku akan memberi biaya perawatannya. Hanya dua hari. Sabtu dan Minggu. Malam harinya, aku akan menjemput Nugget dan Salmon...."


Christov mendengus.


"Please.. Aku ada rapat penting di luar kota dan membawa hewan peliharaan tidak diperbolehkan. Ayolah, Christov.. Kumohon.." ucap Christina dengan suara penuh permohonan.


Dipejamkan kedua matanya. Christov benar-benar sulit menolak seseorang jika sudah memohon seperti ini.


"O-Okay.." jawabnya ragu, "Aku akan melakukannya." jawab dia akhirnya. Terdengar suara teriakan Christina yang penuh kebahagiaan dari seberang.


"Thank you, my little brother*. Aku besok akan mengantar mereka pagi-pagi sekali. Sekitar pukul setengah tujuh. Sampai jumpa besok. Bye.."


(*Terimakasih adik kecilku)


"Yeah.. Bye.."


Sambungan terputus dan Christov menaruh ponselnya di atas meja dengan pundak lesu.


"Ada apa? Apa terjadi sesuatu?"


Christov menundukkan kepala, tidak berani menatap Cassie, "Huhhh.. Nampaknya kita harus membatalkan acara kita besok,"


"Apa? Kenapa?" tanya Cassie dengan nada kecewa.


Pria itu melirik ke arah Cassie seraya menggaruk belakang lehernya, "Saudariku memiliki urusan pekerjaan ke luar kota dan memintaku untuk menjaga kedua anjingnya selama dua hari."


"Apa? Anjing?"


Christov mengangkat kepalanya untuk menatap Cassie saat mendengar nada senang itu.


"Anjing saudarimu akan datang besok? Ke apartemenmu?"


Christov mengangguk ragu, "begitulah..."


"Kita tidak perlu membatalkan rencana kita karena kita bisa membawa anjing-anjingnya ikut serta.."


Tubuh Christov tidak bergeming untuk sesaat saat memikirkan perkataan Cassie. Wanita itu benar. Mereka bisa membawa Nugget dan Salmon bersama mereka.


"Di tambah. Aku sangat suka anjing, Christov.." kata Cassie dengan suara menggemaskan.


Dia tersenyum lebar, "Kau benar.."


"Uhhh.. Acara piknik itu pasti dua kali lipat lebih menyenangkan dengan kehadiran kedua anjing saudarimu."


"Kau senang?"


Cassie mangangguk semangat, "Yah.. Sangat senang. Ayo.. Ceritakan padaku tentang anjing saudarimu.."


"Uhm.. Nama mereka Nugget dan Salmon."


"Nugget dan Salmon? Wow.. itu nama yang unik... Ayo. Lanjutkan ceritamu lagi, Christov"


"Jadi......"


Dan dengan itu, Cassie menghabiskan waktu makan malamnya mendengarkan cerita kedua anjing milik saudari Christov, Salmon dan Nugget. Mendengarnya dengan seksama dan perasaan bahagia.


"Aku tidak sabar bertemu dengan Salmon dan Nugget, Christov..."


"Baguslah. Kuharap mereka akan menyukaimu juga, Cassie..."


****


Miss Foxxy


Sejujurnya, dari perasaan author yg terdalam, author merasa geli setiap ngetik adegan 'itu', tapi kalian suka dan makin semangat bacanya. Maaf yah pas akhir" agak tanggung gitu adegan itunya. Aku gk pengen keseringan buat adegan 'itu' nanti penonton bosan dan semacamnya. Oh iyah, di novel author ini bakalan ada event dengan hadiah menarik sejak tanggal 15 november-15 desember yah. Berikut rinciannya:



Hadiah yang diberikan berupa uang tunai. Nominalnya akan dirinci di hari-hari berikutnya. Intinya cukuplah jajan ke McDonald atau ke PizzaHut.


Gimana caranya biar menang? Dengan poin. Semakin banyak poin yang kau berikan pada karya author selama periode event, semakin besar kesempatan kamu untuk menang. Jadi silakan tabung poin kamu yah untuk dukung author.


Yang boleh ikut event adalah semua pembaca author, syaratnya kamu harus gabung dulu  ke Grup Chat Author.


Gabung GC ada syaratnya juga, follow akun author dan setidaknya kalian pernah kasih dukungan apa pun ke author dalam bentuk komentar, like, vote, dan semacamnya. Yg tidak memenuhi syarat tidak akan diterima.


Ada satu lomba lagi, bakalan dipilih empat komentar terfavorit juga. Komentar kalian dari awal cerita hingga episode tertentu akan menjadi pertimbangan dalam pemilihan pemenang. Komentar semacam 'Update lagi thor' 'Lagi dong thor' "Crazy up thor'  tidak akan dipertimbangkan sebagai pemenang, tapi bukan berati kalian gk boleh komentar seperti itu lagi. Semua orang berhak komentar di novel author dalam batas wajar. Ada beberapa akun yg author suka baca komentarnya, tapi aku gk boleh spill nama lah hehe.


Sekian. Thank you, especially untuk panitia lomba ini. I love you gais.