
Happy Reading
***
Sejam.. Sejam sudah Clara duduk dan menunggu kedatangan Cassandra seperti orang kesepian, tapi tak kunjung datang. Kaki kanannya diketuk-ketuk dengan kesal ke arah lantai dengan satu tangan menumpu kepalanya yang terasa berat. Sialan. Umpatnya dalam hati. Dia benar-benar tidak datang.
"Miss.. Apa anda akan memesan atau tidak?" tanya seorang pelayan restoran untuk kesekian kalinya. Nada kesal si pelayan tampak kentara karena Clara tak kunjung memesan apapun padahal daftar tunggu memasuki restoran sangat panjang.
Clara menatap tajam ke arah pelayan itu dan hendak memuntahkan seluruh kemarahannya pada orang yang tak bersalah itu. Namun, akal sehatnya membuat dia dapat mengendalikan diri. Tetap tenang, Clara. Ingatkan dia pada diri sendiri.
"Aku ingin satu botol wine.. Wine paling mahal.."
"Bagaimana dengan makanan, Miss?"
"Sesuatu yang cocok dengan wine.."
Pelayan itu mengangguk kecil dan tetap menulis pesanan abstrak Clara di buku kecilnya.
"Pesanan akan segera datang, Miss.." pelayan berlalu dari sana dan Clara akhirnya menghembuskan napas kesal. Kedua tangan yang berada di atas paha diremasnya dengan kuat hingga membuat buku-buku jarinya memutih. Amarahnya yang ditahan tersebut membuat urat-urat di dahinya muncul, bahkan saat melakukan operasi bedah tersulit pun, uratnya tersebut tak pernah muncul.
"Sial.." umpatnya kesal, "Berani-beraninya dia tidak datang. Bermain api, huh? Okay... Mari bermain api."
****
"Bukankah kau bilang kau ada acara malam ini?" tanya Christov pada Cassie yang baru saja pulang dan tengah melepas sepatunya.
"Kubatalkan.." Cassie memasukkan sepatu ke dalam rak lalu menatap Christov yang tengah memasak sesuatu di dapurnya. Dia menaruh tas kerjanya di atas meja makan.
"Masak apa?"
"Aku tidak memasak, tapi memanaskan makanan dari pesan antar. Kupikir kau tidak makan malam di sini jadi aku tak memasak, tapi kau tiba-tiba bilang acaramu dibatalkan.. Memangnya acara apa?" Christov menyodorkan secangkir air mineral pada Cassie yang sudah duduk di kursi makan.
"Sesuatu.." jawab Cassie setelah meneguk airnya hingga tersisa setengah, "Ceritakan.. Sekarang ceritakan semua.."
Christov menarik kursi di hadapan Cassie, "Tentang kejadian sehari sebelumnya?"
"Yah.."
Christov mengangguk lalu meminum air Cassie yang masih tersisa, "Jadi begini..."
Cassie terdiam selama mendengar cerita Christov. Hanya diam dan tak berusaha menginterupsi setiap kata yang terucap. Dia mencerna semua informasi itu dan menyadari betapa buruknya situasi di antara mereka saat ini.
"Lebih buruk dari yang kubayangkan.."
Christov tersenyum tipis dan memegang tangan kanan Cassie yang berada di atas meja, "Tidak seburuk itu kok. Papa dan Christina tidak masalah dengan masa lalu itu.."
Cassie menarik tangannya dari genggaman Christov lalu menatap pria itu dengan mata yang menyipit, "Ibumu dan Clara-lah yang kupermasalahkan di sini..." mereka jelas dua orang sin-ting sialan. Sambungnya dalam hati, tak mau mengutarakannya langsung karena bagaimanapun, itu tetaplah Ibu kandung Christov.
"Hmm.. Jangan begitu. Kita harus berpikir positif dalam situasi tak tertebak ini.."
"Aku tidak sepositif dirimu. Bagaimana jika hubunganmu dengan Ibumu rusak karena hubungan kita?"
Senyum positif Christov perlahan hilang dan digantikan dengan senyum kaku, "Uhm.. Mungkin akan rusak, tapi di hari-hari yang akan datang, aku yakin hubunganku dengan Ibu dapat berjalan dengan baik seperti biasa dan di saat itu pula, kau akan diterima."
"Bagaimana bisa kau begitu yakin? Bagaimana yang terjadi malah lebih buruk?" suara Cassie sedikit meninggi.
"Sudah kubilang, mari berpikiran positif."
Cassie menggeleng dan menyisir rambut dengan jemari kanan dalam gerakan frustasi.
"Huh.." dia mengembuskan napas lelahnya, "Clara nampaknya orang kaya? Bagaimana status sosialnya? Ibumu tak mungkin kekeuh menjodohkanmu dengan dia tanpa alasan yang kuat.."
"Status sosial tidak ada hubungannya dengan semua ini.."
"Aku serius.." mata Cassie menatapnya tajam, "Beritahu aku tentang Clara.."
Christov memutar mata lalu menyandarkan punggungnya di kursi. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana. Gerak-geriknya menandakan pria itu tidak senang membicarakan tentang Clara
"Aku benci kita berkelahi dan berdebat karena dia..."
"Kita tidak berkelahi, Christov. Berdiskusi. Kita tengah mendiskusikan masalah kita..."
Christov berdecak lidah sebelum membuka mulut, "Dia seorang dokter di Rumah Sakit Los Angeles. Ayahnya seorang pemimpin perusahaan yang bergerak di bidang kesehatan dan Ibunya adalah direktur Rumah Sakit Los Angeles. Saudaranya seorang anggota parlemen di Negara Bagian. Hanya itu. Hanya itu yang kuketahui..."
Mulut Cassie menganga dan matanya terbuka lebar. Pantas. Pikir Cassie. Pantas Ibu Christov bersikeras menjodohkan Christov pada Clara. Dia mendesah lelah dan pundaknya terasa lesu. Disandarkan punggungnya ke kursi dan menatap kosong ke sembarang arah. Entah kenapa, dia langsung kalah dua poin dari Clara. Direktur? Anggota parlemen? Pemimpin perusahaan? Dan sekarang seorang Profesor.. Keluarga macam apa itu? Kenapa semuanya sangat kaya?!!!
"Astaga.."
Christov berdecak lidah, "Jangan begitu. Status sosial bukan segalanya.."
"Tetap saja. Pantas Ibumu bersikeras menjodohkannya denganmu. Bagaimana dengan keluarga Clara? Apa mereka bersikeras juga seperti Ibumu?"
Christov menggaruk belakang lehernya, bingung untuk menjawab apa. Mendadak, Cassie memukul keras meja dengan satu tangannya dan itu membuat Christov terkejut.. Kedua matanya menatap kekasihnya tersebut dengan mata membara.
"Ada apa?" tanya Christov dengan suara was-was.
"Kenapa kau sangat tampan dan baik hati? Argh.. Kenapa semua orang harus menyukaimu?!" ucap Cassie dengan nada gemas yang kesal, "Hah.. Orangtua mana yang tidak mau memiliki menantu sesempurna dirimu.."
"Aku tidak sempurna.." sanggah Christov dengan cepat.
"Tetap saja.." Cassie berdecak lidah, "Hah.. Hal ini membuatku tidak tenang.. Orangtua Clara pasti menginginkanmu juga.."
"Tapi aku tidak menginginkan mereka.."
"Tetap saja.. Tetap saja Clara berbeda 180 derajat dari diriku.."
Christov memutar mata dan bangkit dari duduknya menuju microwave yang sudah mati. Cassie melipat kedua tangannya di depan dada dan memperhatikan gerak-gerik dari kekasihnya tersebut yang seolah hendak menghindari pembicaraan ini.
"Uhm.. Christov?"
"Yah.." jawab christov tanpa melihatnya dan tetap sibuk mempersiapkan makan malam mereka.
"Apa keluargamu sedang terlilit masalah keuangan hingga membuat Ibumu bersikeras menjodohkanmu dengan Clara?"
Christov buru-buru memutar kepalanya ke arah Cassie dengan wajah sedikit terkejut.
"Tidak.." Christov menggeleng seraya tertawa kecil, "Keuangan keluargaku sangat aman. Keluargaku juga cukup kaya.." dia kembali memfokuskan dirinya pada makanan.
"Sekaya apa?"
"Uhm.. Kupikir dengan kekayaan sekarang, keluargaku bisa membeli satu daerah di Los Angeles beserta isinya.."
"Apa? Satu daerah? Serius? Memangnya apa pekerjaan orangtuamu, Christov? Kita tidak pernah membicarakan topik ini sebelumnya.."
Christov mengangkat bahu dengan gerakan acuh tak acuh seraya menyajikan dua mangkok berisi sup jamur dengan potongan udang serta satu piring roti begel.
"Bukankah membicarakan ini ilegal?" tanya dia balik seraya mengambil posisi duduk dihadapan Cassie.
"Aku sudah menceritakan semua tentang keluargaku. Mulai dari kakek-nenek, paman-bibi, orangtuaku, dan semuanya. Kaulah yang selalu menutup diri dan tak pernah menceritakan apa pun padaku.."
Dia benar. pikir Christov.
"Akan aku ceritakan nanti. Sekarang kita makan dulu.." katanya seraya mendorong mangkok
Cassie menggeleng, "Ceritakan sekarang juga.."
Christov menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. "Papaku dulu seorang mantan atlet renang, tapi beliau harus pensiun lebih awal karena cedera serius. Singkat cerita, Papa dan Kakekku merintih usaha di bidang olahraga.."
"Semacam apa? kalian menjual bola atau sejenisnya?"
Christov terkekeh, "Jika begitu, mana mungkin aku berani mengatakan keluargaku kaya. Papa punya lapangan golf di beberapa daerah di negara ini, lalu lapangan baseball, sepak bola, renang, gym, lapangan ski, toko yang menjual berbagi alat olahraga dan banyak lagi. Dia menjual segalanya yang berbau olahraga.. Baru-baru ini, Papa juga membuka studio baru tempat olahraga indoor terbesar di Texas. Aku yang mendesain bentuknya. Kau tahu Landsand Golf di daerah pusat kota? Itu punya Papa."
"Kau sangat kaya.. Kaya!"
"Bukan aku, tapi Papa. Itu semua milik papa, bukan milikku.."
Cassie meremas kedua tangannya dalam gerakan gemas, "Tetap saja semua itu akan menjadi milikmu suatu saat. Astaga.. Kau selalu saja mengatakan jika kau lebih miskin dariku, nyatanya.. Huh... Kenyataan ini benar-benar menjatuhkanku hingga ke titik terendah lalu menghajarku hingga babak belur.."
"Makanlah.. Membicarakan ini membuatku tak nyaman.."
"Bisa-bisanya aku terlibat masalah dengan orang-orang kaya sialan.."
Christov menyendokkan sup creamnya dan menatap Cassie, "Apa sekarang kau ragu padaku hanya karena status sosialku?"
"Tentu saja tidak. Astaga.. Ini malah membuatku semakin bersemangat untuk memperjuangkanmu. Kau kaya. Lebih kaya dari pada yang kupikirkan,.." kata Cassie seraya menyendokkan makanannya.
"Jadi jika aku tak kaya kau tak akan bersemangat memperjuangkanku?"
Cassie membelalakkan mata, "Bukan.. Bukan maksudku begitu. Ergh.. Kau tahu maksudku, bukan? Maksudku.. Argh!! Aku tidak menemukan kata-kata yang pas.."
Christov tertawa kecil, merasa gemas dengan ekspresi wajah Cassie.
"Aku tahu maksudmu.. Aku juga tahu kau tidak hanya melihat apa yang kumiliki..."
Cassie tersenyum kecut, "Huff.. Kuharap aku bisa bertemu dengan Papamu secara langsung. Aku penasaran orang seperti apa Papamu.."
"Papa mirip denganku. Tidak banyak bicara, tapi beliau sangat baik.."
"Jadi kenapa kau lebih memilih sebagai arsitek daripada ikut membantu bisnis keluargamu?"
"Karena aku suka menggambar dan menghitung.." jawabnya dengan enteng.
"Tapi.. Tapi maksudku..."
"Aku tahu maksudmu. Aku juga tahu jika di mana depan aku harus lebih memilih melanjutkan itu semua dan meninggalkan profesiku yang sekarang. Oleh karena itu aku mengambil jurusan double saat kuliah dulu. Aku lulus dengan dua sarjana."
"Apa? Aku baru tahu itu.."
"Sarjana Ekonomi dan Sarjana arsitektur.. Papa memang berharap aku belajar seputaran bisnis, tapi aku memiliki cita-cita sedari dulu menjadi arsitek. Jadi yah begitu. Aku juga kadang sibuk mengurus bisnis keluarga sembari belajar untuk persiapan di mana depan."
Cassie mendesah, "Huh.. Entah kenapa, aku merasa kehidupanku sangat santai. Clara saja sudah menjadi profesor di usia muda..." ujarnya dengan nada lesu seraya memikirkan rencananya untuk mengambil gelar master yang tak kunjung dilakukan Cassie.
"Dari mana kau tahu dia professor?"
"Uhm.. Dia mengirim surat undangan resmi padaku untuk makan malam dengannya hari ini, tapi aku memilih tidak datang.."
"Jadi acara yang kau maksud itu adalah ini dan kau tidak datang? Bagaimana dia tahu tentangmu?"
"Hah.. Sudahlah. Tak usah kita bicarakan dia. Membicarakannya hanya membuat darahku mendidih. Untuk apa aku pergi makan malam dengannya saat aku bisa makan malam bersama kekasihku.."
Christov tersenyum lebar, merasa bahagia.
"Bagus.. Jika dia mengundangmu, hubungi aku agar ku-urus.."
"Aku bisa mengurusnya sendiri..."
"Jika diurus bersama, urusan lebih cepat selesai, Cassie..."
Cassie mengangguk dengan mulut yang penuh makanan.
"Christov?"
"Hm.."
"Semua akan baik-baik saja, bukan?"
"Yah.. Aku berjanji semua akan baik-baik saja.."
****
Cassie menguap dan tetap melanjutkan menandatangani laporan yang berhubungan dengan artis yang diasuhnya untuk perjanjian tour. Tepat di lembaran terakhir, ponselnya yang berada di atas meja bergetar. Menaruh bolpennya, Cassie meraih ponsel miliknya untuk diperiksa.
"Nomor tak dikenal?" gumamnya pelan dan segera nama Clara memenuhi kepalanya. Apakah gadis gila itu? Selama beberapa detik, Cassie mengumpulkan keputusannya apakah menerima atau tidak panggilan tersebut. Namun, karena rasa panik, dia malah menekan tombol terima itu.
"Sial.. Sial. Kenapa kuterima?" umpatnya pelan lalu mendekatkan ponsel itu dengan gerakan perlahan ke arah telinganya. Dia menunggu. Menunggu suara dari seberang.
"Halo? Dengan siapa saya berbicara?"
Wajah Cassie berubah ke ekspresi keras. Ini bukan suara Clara yang pernah dia dengar melalui acara saluran televisi. Ini.. Ini suara wanita paruh baya.
"Saya Theresa O'Connel. Dengan siapa saya berbicara?" ulangi penelpon dari seberang.
Oh.. Sial. Ibu Christov!
"Selamat siang. Anda tengah berbicara dengan pemilik nomor ini sendiri, Cassandra De Angelis.." balas dia dengan suara datar.
Sesaat kemudian, dia mendengar suara tawa Theresa dari seberang. Tawa penuh cemooh..
"Astaga.. Long time no see*, Cassandra. Aku yakin kau masih mengingatku, bukan begitu?"
(*Lama tidak bertemu denganmu)
Dia sudah mengenaliku ternyata. Batin Cassie. Kenapa mereka tahu nomor ponselku?!
"Ada yang dapat saya bantu, Mrs.Connel?" tanya Cassie dengan suara profesionalnya yang datar.
"Jangan kaku begitu. Sebagai mantan siswaku seharusnya kita tidak perlu sekaku ini. Astaga.. Sudah berapa lama waktu berlalu? 15 tahun? 20 tahun? Berbicara denganmu membuatku kembali ke masa-masa lampau yang indah..."
Indah?!!! Indah katanya?!!Ternyata masih tetap menjadi orang menyebalkan .
"Mrs. Connel.. Saya cukup sibuk bekerja saat ini. Jika tidak ada hal yang penting di sampaikan, anda boleh mengirim pesan atau surel.."
Mereka tahu nomor ponselku artinya mereka tahu emailku juga, bukan?
"Aw.. Jangan kaku seperti itu. Huh.. Kau sudah bekerja yah? Astaga, kupikir kau akan tetap menjadi anak kecil yang penakut.."
Si sialan ini. Cassie mencengkram ponselnya dengan keras, berusaha menahan amarahnya.
"Calon menantuku, Clara, menghubungimu di hari sebelumnya dan memintamu untuk bertemu denganmu. Namun, sayangnya kau tidak datang.."
Cassie berdiri dari duduknya dan menatap sekitar dengan kesal. Satu tangan berada pada kepalanya yang terasa berat. Calon menantu? Calon menantu katanya?! Dia benar-benar sengaja membuat Cassie naik darah.
"Nampaknya kau cukup angkuh hingga mengabaikan undangan resmi tersebut. Jadi sekarang aku akan mengundangmu dengan cara tak resmi, Cassandra... Datanglah. Sore ini di tempat yang sama pada surat tersebut. Aku yakin kita berdua perlu membicarakan banyak hal.."
Tanpa menunggu balasan dari Cassie, Theresa memutuskan sambungan dan itu membuat kemarahan Cassie bertambah beribat-lipat ganda.
"Argh!" geramnya dengan kencang seraya menatap marah ke arah ponselnya. Lalu dia mulai berjalan mondar-mandir di sepanjang ruangannya dengan perasaan gusar.
"Sialan.. Sialan..." umpatnya terus menerus, "Bagaimana bisa aku mengalahkan dua orang sin-ting sialan sekaligus?!!"
Cassie berhenti dan menaruh kedua tangan pada pinggiran meja untuk menumpukan badannya. Matanya menatap keluar dari jendela kaca yang menampilkan pemandangan kota Los Angeles. Dadanya naik turun dengan cepat dan tubuhnya tiba-tiba dialiri oleh keringat. Entah mengapa dia merasakan kelelahan luar biasa hanya karena perbincangan singkat itu.
"Oh my.. Apa semua benar-benar akan baik-baik saja?"
****
Miss Foxxy
Kayanya gk sabaran lagi yah pengen tahu alasan kecelakaan Cassie sama Christov? Sabar". Kalo kalian tahu nanti sedih pulak yah kannn. Perkiraanku minggu depan atau semoga minggu ini udah mulai ke bagian inti lain, yaitu kejadian setelah lupa ingatan. Aku ambil judul remember me dari sisi Cassie karena dia yang bakalan ingat duluan makanya remember me (Ingat aku). Makanya di cover gambar Cassie aku buat gelap karena dia bagian yang terlupakan oleh Christov. Kita belum tahu gimana endingnya. Kalo ingatan Christov gk balik seru juga kali yah? heheh. Akhir yg dramatis. Yuk ikutan giveaway, walau tinggal 2 hari lagi tapi itu waktu yg cukup untuk mengubah keadaaan hihig