Remember Me

Remember Me
It's Me



Happy Reading


****


"Aku tidak mau mendengar ucapan dari seorang pembohong seperti Mama," ucap Christov dengan nada tegas, tanpa keraguan. Matanya bertemu dengan mata Theresa yang menatapnya penuh ketidakpercayaan, sedangkan Robert menatapnya dengan tatapan datar. Yah.. Ayahnya memang selalu seperti itu, tidak terbaca. Entah apa yang tengah Robert pikirkan saat ini. Keterkejutan Theresa juga membuat Christov sadar bahwa ada sesuatu yang janggal. Sesuatu yang tengah berusaha disembunyikan oleh keluarganya.


"Jaga omonganmu, Christov. Aku Ibumu.."


"Kalau memang begitu, ceritakan padaku apa yang terjadi sebelum kecelakaanku? Apa yang Mama sembunyikan dariku?"


"Tidak ada yang terjadi, Christov!" ucap Theresa dengan suara histeris, "Tidak ada.. Tidak ada.."


"Baiknya kita pergi, Theresa.." Robert mendorong kursi roda Theresa keluar dari ruangan itu dan tidak ada perlawan apa pun dari wanita tersebut.


"Ibu tidak pernah berbohong padamu. Jika pun Mama harus berbohong, Mama melakukannya demi kebaikanmu."


"Hentikan, Theresa. Biarkan dia sendiri.." suara Robert sedikit meninggi, berusaha memperingatkan isterinya untuk tidak melewati batas lagi.


"Kalau Mama memang tidak berbohong, lalu, siapa itu Cassandra De Angelis?"


****


Selasa, 1 Desember 2020. Melody Entertainment.


Cassie menutup ponselnya setelah memeriksa pemberitahuan dari sosok yang sudah dia tunggu sejak tiga hari yang lalu. Yah.. Christov yang tak kunjung menghubunginya. Cassie akhirnya berinisiatif menghubungi nomor Christov tadi malam, tapi sayangnya, panggilan tersebut tak kunjung tersambung dan pesan yang Cassie kirimkan tak kunjung dibaca oleh Christov.


Terjadi dua kemungkinan kenapa Christov tidak menghubunginya hingga saat ini, satu karena Christov tidak melihat undangan itu atau dua, Christov sudah melihat isi amplop undangan itu. Cassie berspekulasi bahwa pria itu sudah membuka isi undangan tersebut dan tengah memikirkan sendiri makna di balik semua itu. Cassie bisa memaklumi perasaan Christov yang mungkin saja kebingungan dan kehilangan arah. Siapa pun akan merasakan hal seperti itu.


Bayangkan kau diberikan berbagai kenangan yang tidak kau ingat sedikit pun. Kau mulai memaksa dirimu untuk mengingatnya, tapi yang ada hanya kekosongan. Bukankah itu sangat menyiksa?


"Namun, aku juga ikut tersiksa dengan ketidakpastian ini," gerutunya pelan saat berjalan keluar dari ruang kerjanya.


"Anda akhirnya akan pergi ke studi tempat Produser Laura bekerja, Miss?" ucap Lina sesaat dia berada di luar ruang kerjanya.


Cassie mengangguk kecil, "Aku pergi bukan karena aku suka, tapi terpaksa oleh keadaan. Namaku sudah sempat tertulis dalam dokumen. Membatalkannya hanya merugikan nama baikku saja.."


Lina mengangguk kecil.


"Jika ada tamu atau atau siapa pun, kau bisa mengirimiku pesan. Jika aku tidak membacanya, kau tinggal mendatangiku ke studio.."


"Okay, Miss. Uh.. Aku melupakan sesuatu," cegat Lina dan Cassie berdiri di sana untuk menunggu Lina berbicara kembali.


"Anda dapat kiriman, Miss," ucapnya seraya memberikan paper bag kecil yang memiliki cetakan nama toko elektronik di sana, "Saya tidak sengaja memeriksa isinya, kenapa anda membeli alat perekam suara itu, Miss? Saya tahu harga barang seperti itu cukup mahal di pasaran.."


Cassie menerima paper bag itu dan memeriksa isinya, "Untuk pertahanan diri," bisiknya penuh arti.


"Pertahanan diri?" tanya Lina dengan nada bingung dan Cassie hanya memberikan senyum miring tipis.


"Yapss.. Aku akan pergi sekarang.."


"Ahh.. Baiklah, Miss..."


Cassie berlalu dari tempat itu menuju lift lalu turun ke lantai sepuluh, tempat studio perekaman. Saat melewati tempat sampah, dia membuang paper bag serta kotak perekam suara itu ke dalam tempat sampah tersebut.


Ada begitu banyak ruangan sepanjang lorong di lantai itu dan ruangan yang dia cari adalah ruangan bernomor sembilan. Saat sudah di depan pintu bernomor sembilan tersebut, dia mengintip dari balik kaca kecil yang ada di pintu dan menemukan orang-orang di sana.


Cassie menarik napas dan mengangguk kecil untuk menyakinkan dirinya. Sebagai pengawas dari berjalan proyek ini, Cassie berhak mengutarakan suaranya bahwa lagu berlirik dewasa dan tidak senonoh dalam dokumen itu tidak pantas dinyanyikan oleh remaja berusia 16 tahun. Dia tahu, menyuarakan ketidaksetujuannya pada orang-orang itu dapat membuatnya dibenci. Namun, Cassie tidak takut karena apa yang akan dia katakan benar apa adanya.


"We can do it, Cassie..."


(Kita dapat melakukannya, Cassie)


Dia menempelkan kartu kerjanya pada kunci elektronik dan pintu pun terbuka. Saat dia masuk, Semua pasang mata yang ada di sana menoleh ke arah Cassie, termasuk Laura yang duduk di depan meja monitor. Mereka tersenyum pada Cassie dan tentu saja Laura tidak tersenyum. Wanita berkaca mata itu kembali mengalihkan tatapannya ke dalam studio rekaman, tempat Kimberly berada.


Cassie mengangguk kecil pada para teknisi dan pekerja yang bekerja di sana lalu masuk semakin dalam. Dia melihat Kimberly ada di dalam studio rekaman dan sedang bernyanyi, tapi Cassie tidak bisa mendengar suara Kimberly. Seorang pekerja di sana memberikan Cassie sebuah headphone dan dia mengucapkan terimakasih. Setelah memasang headphone tersebut, Cassie akhirnya bisa mendengar suara Kimberly.


Suara bass yang berat menyanyikan lagu hip-hop elemen rap. Suaranya bagus. Pikir Cassie. Teknik vokalnya juga. Kimberly tetap menuturkan kata per kata dengan jelas walau bernyanyi dengan cepat. Banyak penyanyi rap zaman sekarang tidak mementingkan vokalnya dan hanya bergantung pada musik dan autotone. Namun, Kimberly beda. Yah.. Remaja usia 16 tahun berpenampilan seperti wanita 25 tahun itu terdengar sangat berbeda. Warna suaranya beda dari yang lain. Vokalnya yang bulat membuat kata perkata yang dinyanyikannya terdengar jelas.


Dari mana si sialan ini mendapatkan anak emas seperti dia?


"Ayo kita ulangi sekali lagi," seru Laura ketika Kimberly sudah selesai bernyanyi.


"Aku butuh berbicara sekarang.." ucap Cassie dengan cepat dan seluruh mata menatapnya dan Laura menatapnya dengan tatapan merendahkan.


"Yah.. Katakan saja dengan cepat. Jam kerjaku sangat tinggi.."


Fvck.. Cassie mengumpat dalam hati mendengar perkataan Laura yang begitu angkuh. Di kepalanya saat ini, Cassie sudah dapat bayangkan menghabisi Laura dengan sangat jelas. Mata Cassie menatap pekerja di sana yang tersenyum tipis, jelas merasa lucu degan omong kosong Laura.


Cih.. Beginilah tipe-tipe manusia yang Cassie benci. Berlagak hebat, padahal Laura baru sekali ini memegang proyek besar. Cassie juga bisa lihat sikap bossy Laura pada pekerja di sana. Bersikap keras hanya untuk melihat orang-orang tunduk padanya. Semua orang tahu bahwa Laura adalah orang yang selalu bersikap bossy dan sosok yang selalu emosian. Tidak banyak yang dapat tahan bekerja dengan sosok seperti Laura.


Dasar manusia gila-gila hormat.


"Kau bisa memberikan istirahat pada pekerja dan artismu, Laura. Ini sudah lewat jam makan siang.."


Laura tertawa remeh, "Sudah kubilang jam kerjaku ting--"


"Aku pengawas dalam proyek ini dan sudah seharusnya aku memastikan proyek ini berjalan lancar tanpa merugikan siapa pun," Cassie menatap Kimberly yang nampak ngos-ngosan di dalam studio.


Laura memutar matanya lalu berdiri untuk menghadap Cassie untuk bersikap sok jagoan. Namun sayangnya, tinggi tubuh Laura kalah jauh dengan Cassie. Nyalinya seolah surut saat kedua mata Cassie menatap Laura dengan tajam. Laura segera berdehem dan mundur selangkah.


"Okay.. Okay.. Kita istirahat selama sepuluh menit," ucap Laura, "Sana.. beristirahatlah.."


"Tiga puluh menit," balas Cassie lagi, "Kalian beristirahat selama tiga puluh menit.."


Laura tertawa kecil, "Hey.. Aku bos di sini dan aku yang berhak--"


"Waktu menuju kafetaria perusahaan saja membutuh waktu lima menit. Kita misalkan waktu pemesanan makanan minimal memakan waktu lima menit. Jadi, kapan mereka dapat makan makan siang mereka dengan tenang?"


"Mereka bisa bawa makanannya ke sini.."


Cassie memasukkan kedua tangannya dalam saku celana lalu berjalan maju ke arah Laura, "Aturan pertama di dalam perusahan, dilarang membawa makanan ke dalam studio," ucapnya dengan nada tajam, "Pergilah dan beristirahat selama 30 menit di mulai dari sekarang.."


Semua dalam ruangan segera keluar saat menyadari suasana yang memanas di ruangan tersebut. Kimberly pun ikut keluar dari studio rekaman.


"Akhirnya.. Di dalam sana sangat panas, my pus-sy is sweating*," ucap Kimberly dengan logatnya mirip dengan Kim Kardashian.


(*Va-g-naku berkeringat)


"She has nice jokes too*.." gumam Cassie saat akhirnya Kimberly keluar dan meninggalkan mereka berdua.


(*Dia punya lelucon yang bagus)


"Ada hal yang perlu kubicarakan padamu. Namun, aku akan membicarakannya setelah semua tim-mu ada di sini," katanya dengan nada rendah setengah mengancam pada Clara. Cassie memutar tumit kakinya dan hendak berjalan keluar dari sana. Namun, dia menghentikan langkah kakinya sendiri saat Laura berbicara lagi.


"Jangan ikut campur dengan pekerjaanku.."


Cassie memutar tubuhnya, "Pekerjaanku di sini adalah untuk mengawasi berjalannya proyek ini dengan baik. Bukankah kau sendiri yang menyarankanku sebagai pengawas?" matanya menatap pada kedua tangan laura yang terkepal kuat di samping tubuhnya dan Cassie tahu bahwa Laura saat ini pasti ingin mencabik-cabik wajahnya dengan kedua tangan itu.


"Ini tempatku untuk membuktikan diriku adalah yang terbaik. Kau tidak boleh mengambil lahan orang lain, Cassie.."


Cassie tertawa kecil, "Hey.. Kau punya lelucon sampah yang lucu juga," ujarnya dengan tawa kecil penuh cemooh, "Kau gila yah? Untuk apa aku berusaha mencuri panggungmu, hah?"


Mata mereka saling bertatapan dan raut wajah Cassie berubah menjadi keras. Yah.. Amarahnya akhirnya terpancing oleh perkataan Laura tersebut. Matanya menatap wanita berkaca mata itu dengan sorot tajam dan dia melangkah mendekat ke arah Laura yang perlahan mundur sedikit demi sedikit. Cassie bisa rasakan nyali Laura perlahan hilang seiring semakin dekatnya Cassie.


"Apa kau pernah mendengar kisah manusia yang memperlombakan anjing dengan cheetah untuk membuktikan hewan mana yang tercepat? Cheetah itu tidak berlari saat puluhan anjing yang lain berlari. Kau tahu kenapa, Miss Laura Will?" tanya Cassie dengan nada rendah pada Laura yang sudah terpojok, "Itu karena cheetah tidak perlu membuktikan dirinya adalah yang terbaik. Dia tidak perlu melakukan pembuktian untuk memuaskan rasa penasaran manusia. Terkadang pembuktian siapa yang terbaik adalah sebuah penghinaan, Miss Laura Will.."


Laura menarik napas panjang dan menundukkan kepala, tidak berani menatap Cassie.


"Aku tidak membutuhkan lahanmu, sialan karena semua orang yang ada di tempat ini tahu siapa yang terbaik.."


"K--kau akan hancur.." ucap Laura dengan suara terbata-bata. Wanita berkaca mata itu berusaha menegakkan punggungnya dan dia mengangkat dagunya untuk menatap Cassie yang menatapnya dengan tatapan malas yang datar.


"Jika aku hancur, aku akan membawamu juga ke dalam kehancuran, Miss Will. Sejak awal aku sudah mencium bau-bau hal yang tidak beres di sini," Cassie menarik napas lalu membuangnya, "Jika kau berusaha menghancurkanku, aku juga akan menghancurkanku hingga hancur berkeping-keping. Camkan itu.."


Tanpa menunggu Laura berbicara kembali, Cassie beralih dari sana dan meninggalkan wanita itu dengan tubuh gemetaran. Laura berdiri sendirian di sana dengan tubuh yang gemetaran. Matanya yang berkaca-kaca menatap Cassie yang menghilang di balik pintu dengan sorot penuh kebencian. Kedua tangannya meremas kain celana yang dia kenakan dengan kuat seraya mulutnya berkomat-kamit.


"Akan kuhancurkan... Akan kuhancurkan..."


****


"Aku berpikir lirik lagu yang dinyanyikan oleh Kimberly terlalu dewasa," ujar Cassie setelah semua tim proyek itu berkumpul di sana. Beberapa orang berbisik-bisik setelah mendengarnya, tapi tatapan Cassie tertuju pada Kimberly yang nampaknya tidak peduli. Apakah dia tidak mengerti atau tidak peduli?


"Dari segi usia, Kimberly belum legal secara hukum. Jika dia menyanyikan lagu semacam ini bisa menimbulkan keributan dari masyarakat.."


"Hey.. Kau pikir aku sebodoh itu?" Laura sekarang ikut berbicara dengan gaya angkuhnya.


Cassie berdehem dan tetap mengendalikan dirinya sendiri. Dia tidak mau amarahnya tersulut lagi karena manusia sialan yang berdiri di hadapannya sekarang.


"Dia akan berusia 17 tahun dalam waktu tujuh bulan lagi. Kita akan menerbitkan lagunya sesaat setelah dia berusia 17 tahun.."


Cassie menghela napas, merasa ragu dengan perkataan Laura. Bagaimana bisa dia mempercayai wanita sialan seperti dia?


"Namun, Anda berkata ini proyek yang sangat genting hingga Anda berkata jam kerjamu sangat tinggi. Jika memang harus menunggu dia berusia 17 tahun, kenapa kita melaksanakan proyek ini tanpa perencanaan terlebih dahulu? "


"Karena sponsor meminta seperti itu. Sponsor memberikanku tanggung jawab dan kepercayaan untuk memegang proyek ini karena mereka tahu aku dapat diandalkan.."


"Bagaimana dengan orangtuamu, Kimberly? Apa mereka setuju?" Cassie kini beralih pada Kimberly.


Dia mengangkat bahunya, "AKu tak punya orangtua. Apa aku perlu ke kuburan dan menanyakan hal itu?"


Cassie berdehem kecil, "Bagaimana dengan wali-mu?"


"Bibiku tidak keberatan karena dia butuh uang."


"Lalu, bagaimana denganmu, Kimberly? Apa kau tidak keberatan menyanyikan lagu seperti ini?"


"Mereka memberiku uang yang banyak jadi aku tidak akan keberatan..."


Cassie melipat bibirnya lalu beralih pada Laura yang tersenyum penuh kemenangan.


"Apakah anda bisa menjamin bahwa seluruh lagunya akan ditayangkan setelah dia berusia 17 tahun, Miss Will?"


"Yes.. Aku sangat.. Sangat yakin.."


"Okay.. Seluruh urusan di sini ada di tanganmu, Miss Will. Namun, aku berharap Anda mematuhi jam kerja yang ada. Tidak ada yang perlu dikejar jika waktu tayang album Kimberly masih tujuh bulan lagi.."


"Okay.. Okay.. Bisa kami memulainya sekarang, Miss De Angelis? Atau kau masih ingin melanjutkan pidatomu?"


"Yeah. Terserah padamu karena tugasku sudah selesai.."


****


Cassie keluar dari mobilnya setelah memarkirkan mobilnya di pinggir gedung perusahan tempat kantor Christov berada. Dia melihat seorang penjaga di sana dan segera menyadari kedatangan Cassie.


"Aku ingin menemui kantor kerja COC milik Christoval O'Connel," jelasnya.


"Ah..Anda klient dari kantor arsitektur itu yah? Wah.. Akhir-akhir ini kantor COC itu selalu didatangi oleh banyak klient,"


Cassie mengangguk dan tersenyum kecil.


"Apa Anda tahu tempatnya? Atau saya perlu mengantarkan Anda?"


"Ah... No. Thank you. Saya sudah pernah datang ke mari sebelumnya."


"Okay.. Baik, Miss.."


Cassie mengangguk sekali dan berjalan menuju lift. Dia menekan tombol lantai 12 dan dalam hitungan detik, dia sudah sampai di lantai tersebut. Cassie berjalan di sepanjang lorong menuju kantor Christov. Berbelok dan menemukan meja kerja sekretaris Christov.


Cassie melangkahkan kakinya sedikit lebih keras untuk menarik perhatian sekretaris yang bekerja di balik mejanya dan seperti yang Cassie harapkan, sekretaris itu mengangkat kepalanya untuk menatap Cassie. Sekretaris tersebut segera berdiri dan tersenyum ramah padanya.


"Oh.. Selamat Siang. Ada yang bisa saya bantu?"


"Apakah Christov ada di sana? Uhm... Maksudku Christoval,"


"Kalau boleh saya tahu, apa hubungan Anda dengan Mr. Connel?"


Cassie terdiam saat merasakan tatapan dan suara bernada curiga tersebut.


"Aku bukan orang aneh.. Aku.. Aku punya--" Cassie kehilangan kata-katanya sendiri dan bingung menjelaskan bagaimana hubungannya dengan Christov. Mana mungkin dia mengatakan jika Christov adalah suaminya. Sekretaris tersebut akan menganggapnya gila jika seandainya Cassie mengatakan hal tersebut.


Cassie menarik napas saat sekretarisnya tersebut masih menatapnya dan menunggu dia memberikan jawabannya sendiri.


"Aku bukan orang aneh dan sulit bagiku menjelaskan hubunganku dengan Christov untuk saat ini. Namun, aku punya bukti jika aku punya hubungan yang dekat dengannya," Cassie merogoh ponselnya dari dalam tas tangannya dan mencari foto bersamanya dengan Christov. Dia tidak memilih foto pernikahannya dengan Christov dan memilih foto biasa saat mereka berpacaran.


"Ini..Ini fotoku dengan dia saat kami masih pacaran.." tunjuk Cassie.


"Apa? Anda dan Mr. Connel berpacaran?" ucap sekretaris itu dengan nada penuh keterkejutan.


Sial. Tidak seharusnya Cassie mengatakan itu. Astaga.. Cassie benar-benar tidak sadar telah mengatakan hal tersebut. Dia tertawa kecil dan menarik ponselnya masuk kembali ke dalam tas.


"Well.. Apakah dia ada di dalam sana? Aku menghubunginya, tapi dia tidak kunjung menerima panggilanku."


"Ah.. Apakah anda tidak tahu, Miss?" suara sekretaris yang tiba-tiba berubah nada itu membuat Cassie was-was. Tubuhnya menegang oleh perasaan was-was tersebut.


"A-Apa? Apa terjadi sesuatu padanya?"


"Beliau ditemukan tidak sadarkan diri di kediamannya tiga hari yang lalu dan beliau sudah dilarikan ke rumah sakit.."


Cassie menutup mulutnya yang bergetar dengan kedua tangannya. Hembusan napas penuh ketidak-percayaan itu membuat air matanya ikut menetes. Seluruh dunianya seolah runtuh begitu saja saat mendengar berita tersebut.


"A-Apa?"


****


"FVCK! FVCK!!" Cassie mengumpat kencang dalam mobilnya saat macet kembali terjadi lagi.


Riasan di wajahnya hancur karena sudah menangis sedari tadi dan itu membuat wajahnya nampak mengerikan. Setelah mendengar kabar Christov dilarikan ke rumah sakit, Cassie mencari tahu di rumah sakit mana pria itu di rawat. Namun, tidak ada yang tahu. Dia sudah mengunjungi apartemen Christov, tapi penjaga di sana pun tidak tahu.


Cassie juga sudah mengunjungi rumah sakit tempat mereka pernah dirawat sebelumnya. Namun, Cassie tidak mendapatkan informasi apa pun. Ingin rasanya dia menghubungi Christina, tapi sayangnya Cassie tidak menyimpan nomor saudari Christov tersebut. Dua benar-benar tidak bisa menghubunginya siapa pun untuk bertanya tentang keberadaan Christov. Cassie akhirnya sadar bahwa dia benar-benar tidak tahu banyak tentang Christov.


"Sialan!" dia memukul setir mobilnya dan berteriak kencang seolah berusaha memecah keributan di jalan raya yang macet tersebut. Hujan lebat turun bersamaan dengan petir yang seolah berusaha memecah belah langit. Keributan di sana diperburuk dengan suara klakson mobil yang saling beradu.


Dia kembali menghubungi nomor ponsel Christov, tapi tetap saja tidak tersambung. Entah sudah berapa kali Cassie menghubungi Christov sejak meninggalkan kantor pria itu, tapi tetap saja Cassie tidak menemukan titik terang. Dia benar-benar gelisah. Gelisah oleh keadaan Christov dan ketidakpastian yang ada.


"Sial! Sial! SIal!" dia memukul stir mobil saat sambungan ponsel itu tak kunjung tersambung. Kedua tangannya meremas kulit kepalanya yang terasa sakit.


Tenangkan dirimu, Cassie... Suara Christov tiba-tiba terdengar dalam pikirannya. Matanya terpejam dan wajah Christov yang tersenyum lembut padanya mengisi kepalanya. Pria itu mengarahkan tangannya untuk mengelus rambutnya dan Cassie melakukan elusan itu sendiri dengan tangannya. Tangan kanan Cassie bergerak mengelus kepalanya sendiri. Membiarkan ilusi Christov mengisi relung hatinya yang kosong.


"Tenangkan dirimu, Cassie," ulang Cassie bersamaan dengan suara Christov di kepalanya. Suara klakson mobil dari belakang membuatnya kembali tersadar. Matanya menoleh ke kanan-kiri dan menemukan mobil sudah kembali bergerak. Cassie menggerakkan tuas mobil dan melajukan benda tersebut.


"Tenangkan dirimu, Cassie.." dia terus mengulang-ulang kalimat tersebut berulang kali. Napasnya yang tadi berderu cepat perlahan kembali ke tempo yang normal. Detak jantungnya pun mengikut. Dia masih kacau. Yah.. Masih sangat kacau. Cassie masih frustasi dengan segala ketidakpastian yang ada. Namun, dia berusaha mengendalikan emosinya sendiri.


"Semua akan baik-baik saja.."


"Berpikirlah yang positif.."


Ucapan Christov yang selalu berusaha positiv di setiap situasi membantu Cassie mengendalikan dirinya. Dia tertawa kecil mengingat masa-masa di mana dia dan Christov berjuang bersama. Pria itu selalu mengatakan hal-hal seperti itu untuk menenangkan Cassie. Namun, tawa itu hanya berubah menjadi tawa penuh luka.


"Sekarang aku harus berjuang sendiri.." bisiknya dengan nada suara berusaha tegar. Cassie melipat bibirnya. Ingin rasanya dia menangis lagi, tapi seluruh air matanya seolah sudah kering setelah menangis berjam-jam.


Akhirnya, mobilnya berbelok menuju rumah sakit tempat Clara bekerja. Dia tidak tahu apa motivasinya yang membuat dirinya mengendari mobil ke tempat ini. Sulit dijelaskan, tapi entah mengapa, insting Cassie menyuruhnya untuk datang ke tempat ini.


Setelah memarkirkan mobil di parkiran umum, Cassie mencari keberadaan payungnya. Setelah menemukan payungnya sendiri, dia membuka pintu mobil. Angin kencang dan hujan deras segera menghantam tubuhnya. Cassie terus berlari dan berusaha melawan angin kencang yang seolah hendak menerbangkan tubuhnya, tapi payungnya tersebut terlepas dari tangan Cassie. Terlepas dan terbang tak terkendali.


"No! FVCK!" dia ingin mengejar payungnya, tapi itu hanya akan membuat tubuhnya semakin basah kuyup. Akhirnya, Cassie memilih untuk berlari kencang menuju teras rumah sakit.


"Sialan," Cassie mengumpat sesaat sampai di atas teras rumah sakit. Beberapa orang yang di sana menatapi Cassie dengan tatapan heran.


"Apa yang kau lihat, sialan?" ucapnya dengan nada tajam dan orang-orang itu segera membuang muka. Cassie berdiri di depan kaca pintu untuk melihat keadaannya sendiri. Kacau. Dia benar-benar kacau. Namun, Cassie benar-benar tidak peduli. Dia melepas jaketnya dan mengeluarkan ponselnya yang untungnya tidak basah. Dengan bagian dalam jaketnya tersebut, Cassie mengelap wajah dan sekitar tubuhnya yang basah. Tentu saja jaket yang sudah lembab tersebut tidak membantu banyak untuk memperbaiki penampilan Cassie. Setelah selesai, Cassie menggantungkan jaketnya pada tangan kiri dan memegang ponselnya dengan tangan kanan.


Dengan tubuh yang basah dan penampilan yang kacau, Cassie masuk ke dalam rumah sakit dengan langkah percaya diri. Dia melawan diri untuk tidak menggigil dan menguatkan diri agar tubuhnya tidak bergetar kedinginan. Dia berjalan mencari lobi di lantai tersebut dan setelah menemukannya, Cassie berdiri di depan lobi untuk menunggu giliran bertanya pada perawat yang bekerja di sana.


"Ada yang bisa saya bantu?" tanya perawat yang bekerja di sana. Matanya tampak meneliti penampilan Cassie dalam diam.


"Saya ingin mencari pasien atas nama Christoval O'Connel.."


"Boleh saya tahu hubungan Anda dengan pemilik nama tersebut?"


Sial. Lagi-lagi disuguhkan lagi dengan pertanyaan sialan seperti ini.


"Aku--"


"Cassandra?"


Dia memutar tubuhnya ketika mendengar suara wanita memanggil namanya. Matanya segera bertemu dengan milik Christina. Cassie cukup terkejut melihat keberadaan saudara Christov tersebut, tapi pertemuan ini membuatnya merasa lega juga. Artinya, kemungkinan besar Christov dirawat di rumah sakit ini. Cassie berdehem dan berjalan mendekat ke arah Christina yang berpenampilan necis dan mewah seperti biasa. Saudari Christov tersebut lalu menatapnya dari atas hingga bawah lalu kembali lagi ke wajah Cassie.


"Maafkan aku bertemu denganmu dalam keadaan seperti ini. Namun, aku mendengar Christov dilarikan ke rumah sakit. Apakah di ada di sini?"


"Ah... Christov, yah?" Christina memutar kepalanya ke arah kiri dan Cassie juga mengikuti arah pandang Christina.


Lalu, apa yang dia lihat selanjutnya membuat Cassie seolah kehilangan detak jantungnya sendiri.


"No.." bisiknya dengan nada hancur sesaat melihat Christov yang berpakaian rapi berjalan berdampingan dengan Clara tidak jauh dari mereka. Christov dan Clara berjalan ke arah mereka dan jelas pria itu tengah bersiap untuk pulang. Tangan mereka bergandengan dan Clara menarik koper kecil di tangannya yang lain.


"No way.." bisiknya lagi. Kedua tangannya terkepal kuat dan tubuhnya bergetar. Bergetar oleh amarah dan rasa dingin yang menusuk tubuhnya hingga ke tulang-tulang. Hatinya hancur melihat kedua tampak berjalan dengan serasi. Seluruh dunia Cassie kembali lagi dihancurkan untuk kesekian kalinya. Rasa hancur yang dia rasakan ini membuatnya jatuh pada titik terendah dalam hidupnya.


Langkah Clara dan Christov berhenti ketika mereka melihat keberadaan Cassie di sana yang berdiri kaku dengan keadaan yang mengenaskan. Mata Cassie yang nanar dan berkaca-kaca bertemu dengan tatapan Christov yang tampak terkejut. Pandangan Cassie turun ke bawah melihat Clara mengeratkan gandengannya pada tangan Christov lalu kembali lagi menatap pria itu yang masih saja terdiam.


"Sebuah kebetulan yang luar biasa.." ujar Christina dari sisinya, "Bukan begitu, Cassie?"


****


Miss Foxxy.


"Christina itu nge pro sama siapa sih Miss?" kalo kalian nanya gitu, author bakal jawab bahwa dia adalah karakter yang netral. Cerita ini berisi kisah cinta Christov, Cassie dan Clara jadi Christina tidak peduli.


Semakin memanas, bukan begitu? Hmm... Terkadang pengen punya keberanian dan bisa ngomong seperti Cassie. Sepanjang karakter di empat novel aku, karakter kamu paling mirip sama siapa?


Jangan lupa dukung author yah πŸ₯ΊπŸ₯ΊπŸ˜ŒπŸ˜Œ. I love you