
Happy Reading
***
"Ini ruang kerjamu?!" kata Cassie dengan suara tinggi saat melihat ruang kerja Christov yang fantastis. Mereka menuruni anak tangga kayu untuk sampai ke lokasi utama. Warna cokelat dan furnitur kayu mendominasi ruangan kerja tersebut. Terdapat rak buku di sisi kanan ruangan yang tingginya sampai ke langit-langit. Buku-buku memenuhi rak dengan beberapa ornamen-ornamen. Ada beberapa lukisan bergaya romantisme serta gotik di sisi kanan ruangan.
"Begitulah.."
Cassie menggeleng kecil kepalanya menatap ruangan tersebut. Cahaya kuning dan wangi pinus unik dari ruangan membuat suasana ruangan semakin terasa unik.
"Serasa memasuki dunia lain saja..." ditoleh kepalanya pada Christov yang tersenyum lebar, "Kau benar-benar kaya."
"Tidak juga.."
"Kau pengoleksi seperti ini juga?" kata Cassie melihat satu rak berisi maket mobil-mobil serta sepeda motor antik yang ditaruh dalam kotak kaca.
"Aku mengoleksinya untuk kepuasan diri,"
Lalu ada guci-guci unik serta patung-patung kecil yang kelihatan mahal.
"Pantas saja kau tidak pernah mendengar musik dari abad ini. Seleramu ternyata seperti ini," Cassie menyentuh kotak-kotak piringan hitam yang tersusun dalam wadah kota kayu, "Aku tidak pernah melihat koleksi piringan hitam sebanyak ini sebelumnya,"
"Aku juga punya beberapa seri musik original,"
Cassie tersenyum kemudian memukul pelan lengan Christov, "Whoaa... Ternyata kau bisa juga pamer."
"Kau mau mendengarkan satu lagu?"
"Sure.."
(*Tentu.)
"Kau mau membantuku memasangnya?"
Sekarang mata Cassie berubah berbinar-binar, "Tidak biasanya ada orang yang membiarkan orang lain memegang koleksinya,"
"Kau bukan orang lain," kata Christov dengan suara kalem dan entah mengapa, itu membuat dada Cassie terasa hangat.
"Thank you," bisiknya dari balik punggung Christov yang tengah memilih piringan hitam.
"Apa kau punya pianist favoritmu, Cassie?" Christov berbicara tanpa menoleh ke arah Cassie.
"Tchaikovsky, The Nutracker?"
"Pilihan bagus..." Christov mengambil satu piringan hitam dan memutar tubuhnya untuk memberikan piringan Tchaikovsky pada Cassie.
"Thank you," Cassie menerimanya dan melangkah mendekat ke arah Gramofon. Dengan telaten, dia memasang piringan hitam itu dan menempelkan jarum ke atasnya. Piringan hitam berputar dan sesaat kemudian, terdengar bunyi musik yang terdengar sangat jernih.
"Mau berdansa?" ajak Christov saat Cassie memutar tubuhnya. Dia menawarkan tangan ke arah Cassie dengan gaya ala-ala kerajaan. Itu mengundang tawa malu-malu dari Cassie.
Cassie menekuk kecil lututnya dan kedua tangannya sedikit dilebarkan seolah tengah memegang gaun.
"Of course, My Grace*.." kata Cassie dengan logat British yang kental. Diberikan tangan kirinya pada genggaman tangan Christov dan pria itu melingkarkan tangannya di sekitar pinggul Cassie. Keduanya lalu mengerakkan tubuh ke kanan kiri mengikuti irama musik piano.
(*Tentu yang mulia...)
"Cassandra De Angelis," bisik Christov, "Rasanya itu marga Italia,"
"Ayahku orang italia dan aku lahir serta tumbuh besar di sana sampai usia lima tahun," tangan Cassie yang berada di lengan Christov meremas kemeja pria tersebut dengan lembut. Matanya menatap dada Christov yang mengintip dari balik kemejanya yang dua kancing teratasnya terbuka.
"Jadi kau bisa berbicara fasih bahasa Italia?"
"Tentu saja,"
Christov menundukkan kepalanya ke arah telinga Cassie, "Aku ingin mendengarmu bicara dengan bahasa Itali,"
Cassie tertawa karena sensasi geli di telinganya, "Later, baby*"
(*Nanti, sayang)
Keduanya lalu terdiam. Suara lantunan piano memenuhi indera pendengaran mereka. Tubuh kedua insan tersebut tetap bergerak ke kanan-kiri mengikuti ritme musik. Mata Cassie menatap dada Christov dan tubuhnya meremang saat merasakan hembusan napas Christov di lehernya. Mendadak, euforia di dalam ruangan tersebut berubah dan keduanya sadar akan itu.
"Saat kau mengatakan orang-orang hanya mendekatimu untuk masuk ke celana dalammu, aku bukanlah salah satunya, Cassie..."
Cassie mengigit bibir bawahnya, "Aku tidak ingin berkencan," tegasnya saat tahu arah pembicaraan Christov.
Christov menundukkan kepala ke arah telinga Cassie, "I know..*" bisiknya di atas kulit leher Cassie dan itu membuat seluruh bulunya meremang.
(*Aku tahu)
"Jangan menggodaku," kata Cassie dengan nada setengah bercanda. Mata mereka kini saling bertatapan dan saling berbagi senyum yang penuh arti.
"Kau belum melihat kamarku," ucap Christov dengan suara parau.
Cassie menyipitkan matanya, "Sekarang aku merasa tengah melakukan tour wisata sekolah dan kau adalah pemandunya."
"Kau mau menuju tujuan terakhir kita?"
Cassie tertawa lagi, "Lalu apa yang akan kita lakukan setelah melihat kamarmu, hm?" gumamnya dengan suara menantang.
"Bebas..."
"Kau adalah pemandu wisataku, Christov jadi kaulah yang harus menentukan setiap kegiatan. Aku hanyalah wisatawan di sini,"
Christov tertawa rendah hingga dadanya bergemuruh, "Kalau begitu, aku ingin me-ne-lan-ja-ngi-mu,"
Cassie menelan ludahnya dengan susah payah, "And then?*"
(*Lalu?)
"Kau akan melepaskan pakaianku juga...."
Mulut Cassie setengah terbuka dan pikirannya kini dipenuhi bayangkan yang dikatakan Christov.
"Aku akan menghisap milikmu hingga kakimu lemas..."
Kaki Cassie sedikit melemah saat mendengar itu.
"Memukul bo-kongmu...."
"Huff...."
Christov mengecup kulit leher Cassie, "Dari belakang tubuhmu, I'm gonna fvck you so hard*."
(*Aku akan me-nye-tu-bu-hi-mu dengan keras)
"Membuatmu me-nge-rang, memekik, dan berteriak hingga kau kehabisan suara..."
Cassie tanpa sadar menahan napas. Dia bisa merasakan lembab di pang-kal pahanya.
"Me-nye-tu-bu-hi-mu sepanjang malam hingga kau tidak dapat berjalan,"
Semua itu... Semua yang dikatakan Christov terdengar begitu tidak berperasaan, tapi membuat seluruh tubuh Cassie memanas hanya dengan mendengarnya saja. Tangannya meremas kemeja Christov dengan kuat dan kakinya terasa lemah.
"Tidak pernah kubayangkan bahwa aku akan tidur bersama pemandu tur-ku, bahkan dalam mimpi terliarku sekalipun," bisik Cassie dengan mulut yang kering.
"Sekarang, kau bisa melakukannya tanpa harus bermimpi terlebih dahulu"
"Kau sangat ahli dalam hal menggoda, my grace*.."
(Yang muliaku*)
"Apa kita boleh pergi menuju destinasi berikutnya, Miss?"
Cassie menjilat bibirnya yang kering lalu mengigit bibir bawahnya, "Of course*..."
(*Tentu saja)
****
"Apa makna dari tatto mawar ini?" tanya Christov seraya mengelus lembut tatto mawar Cassie yang berada di celah bu-ah da-danya.
"Apa kau ingin tahu sekali?" Cassie bertanya kembali sembari mendekatkan diri semakin dalam ke pelukan Christov. Kulit mereka yang lengket dan polos saling bersentuhan, tapi entah mengapa itu tidak membuat Cassie dan Christov tidak merasa nyaman.
"Bagaimana dengan tatto burung dan ular itu juga? Apa mereka semua memiliki makna?"
Cassie berdehem dan menatap wajah Christov dalam cahaya kuning lembut, "Tentu saja ada. Semuanya memiliki makna padaku.."
"Kalau begitu beritahu padaku," pinta Christov seraya mengecup lembut puncak kepala Cassie.
"Baiklah.. Jika kau memaksa ingin tahu. Saat itu aku masih berusia 17 tahun dan bertepatan pula dengan pengumuman kelulusanku di Fakultas Kedokteran-Harvard..."
Christov menjauhkan tubuhnya dari Cassie dan menatap wanita itu heran, "Kau kuliah di Harvard?"
Cassie memutar mata, "Dengarkan aku dulu, pria besar.." Cassie menarik tubuh Christov lagi mendekat ke tubuhnya.
"Well.. Maafkan aku. Kalau begitu lanjutkan ceritamu," kata Christov sembari mengelus rambut Cassie dengan lembut.
"Keluargaku adalah keluarga seni. Baik Kakek-nenek, orangtua, paman-bibi, dan sepupuku kebanyakan bekerja di bidang seni. Dari dulu aku selalu berharap tidak berkecimpung dalam dunia seni seperti keluargaku dan pilihan profesi impianku adalah menjadi dokter,"
"Saat aku tahu aku menang ujian masuk di jurusan ini, tanpa ragu aku membuat tatto ular sebagai tanda kecintaanku akan jurusanku. Kau tahu bukan, lambang organisasi dokter itu adalah ular.."
Christov mengangguk kecil, "Namun, aku bingung. Sekarang kau bekerja sebagai produser musik..."
Cassie menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Di saat itu, Christov paham bahwa wanita itu telah menghadapi masa sulit tentang pilihan kariernya. Matanya menatap wajah Cassie yang berekspresi sedikit sedih.
"Aku kuliah hampir dua semester di sana. Sekitar sembilan sampai sepuluh bulan. Hingga akhirnya aku memilih keluar.." gumamnya pelan. Matanya menatap lurus ke depan, seolah bisa melihat kembali kenangan-kenangan tentang masa-masa itu di dinding kamar Christov.
"Kenapa?" tanya Christov lembut.
Cassie mengangkat kedua bahunya, "Itu cerita yang membosankan. Kau tidak perlu dengar.." didekapkan wajahnya pada dada Christov dengan satu tangannya melingkari pinggang pria tersebut.
"Namun, aku ingin mendengarnya.."
Tiba-tiba, Cassie menarik diri dari Christov dan mengambil posisi duduk dan menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang. Itu membaut Christov panik karena takut jika sudah melewati batas. Takut jika dia terlalu mengusik kehidupan masa lalu Cassie. Matanya melihat Cassie yang terbengong.
"Kenapa? Maafkan aku jika melewati batas. Kau tidak perlu menceritakannya jika itu membuatmu tidak nyaman..."
Cassie menggeleng dan tersenyum lebar ke arah Christov, "Alasannya adalah karena kurikulum perkuliahan di sana benar-benar membosankan.." katanya dengan suara besar dan nada bercanda.
"Kau tahu.. Kita hanya belajar fakta dan fakta," Cassie menggerakkan tangannya dalam gaya dramatis, "Kau hanya mendebat mereka dengan fakta. Itu benar-benar membosankan.. Oleh karena itu aku keluar dan memilih masuk ke sekolah seni di Universitas California... Di mana kau bisa berdebat tidak hanya berdasarkan fakta..."
"...Ditambah, aku memikirkan diriku jika menjadi dokter suatu saat nanti. Aku akan menghabiskan waktuku hanya untuk bekerja saja. Aku tidak mau hidup untuk bekerja saja karena bersenang-senang adalah jalan hidupku,"
Christov tersenyum kecut saat menyadari bahwa Cassie tidak memberitahu dia alasannya yang sebenarnya. Tidak mungkin hanya karena alasan sesederhana itu kau melepaskan jurusan Kedokteran terbaik di dunia, Harvard. Nampaknya, hubungan mereka tidak sedekat yang dibayangkan Christov.
"Aku akan menunggu saat kau memberitahu alasan yang sebenarnya, Cassie," gumam Christov dengan senyum lembut.
Senyum lebar Cassie berubah menjadi kaku melihat mata sayu Christov. Tangannya menggaruk kepalnya.
"Huh.. Kau tahu aku berbohong, yah? Namun, apa yang kukatakan sebelumnya memang benar menjadi alasanku keluar dari jurusan Kedokteran. Alasan utamaku keluar hanya segelintir orang yang mengetahuinya. Aku belum siap menceritakannya dengan orang lain untuk saat ini,"
Orang lain. Christov hanyalah orang lain bagi Cassie.
"That's okay*.." kata Christov lembut, "Aku juga menempuh pendidikan sarjana Arsitektur di Harvard."
(Tidak apa-apa*)
"Benarkah? Tahun berapa? Aku masuk tahun 2012.."
"2010.."
"1995,"
"Well.." Cassie mengangguk-angguk kecil, "Usia kita hanya terpaut dua tahun saja.. Sayang sekali kita tidak pernah bertemu saat masa-masa itu,"
Christov menarik tubuh Cassie ke pelukannya, "Jika kita bertemu, memangnya apa yang akan terjadi?" digoyang-goyangkan tubuh Cassie pelan.
"Mungkin kita bisa belajar bersama..."
Christov terkekeh, "Belajar bersama, huh?" dia menjauhkan sedikit tubuhnya dan mengecup tatto burung Cassie. Ditatapnya sejenak tatto itu.
"Kalau tatto burung ini? Apa maknanya?"
Cassie menoleh ke arah Christov, "Kebebasan. Aku mendapatkannya setelah keluar dan mendapat jurusan seni. Aku merasa bebas sekali setelah keluar dari Harvard. Itu benar-benar keputusan yang sulit untuk kulakukan saat itu. Namun, aku bersyukur dengan pilihanku tersebut karena sekarang aku mamiliki hidup yang terasa lebih ringan..."
Christov kembali memajukan tubuhnya dan menaruh dagunya pada pundak Cassie. Tangan kanannya menjalar dan naik ke atas dada Cassie untuk mengelus tatto mawar itu.
"Bagaimana dengan mawar ini?" bisik Christov.
"Pertanyaanmu banyak sekali. Tatto tidak berarti banyak bagiku,"
Christov mengecup pipi kanan Cassie, "Tapi aku ingin mendengarnya. Aku suka mendengarmu berbicara..."
"Kau lebih senang mendengarkan aku berbicara atau me-nge-rang?"
"Keduanya.." bisik Christov seraya mengecupi kulit leher Cassie semakin intens. Wanita itu tertawa saat merasakan sensasi geli di kulitnya.
"Pilihlah satu..."
"Jika kau tidak mau menjawab makna dibalik mawar itu, setidaknya jawab pertanyaanku sekali lagi.."
"So many questions*, Mr.Connel..."
(*Sangat banyak pertanyaan, Mr Connel)
Christov tertawa, "Apa bunga kesukaanmu adalah mawar?"
"Dandelions..."
"Apa?"
Tanpa aba-aba, Cassie memutar tubuhnya dan duduk mengangkangi paha Christov. Matanya yang menggelap menatap wajah Christov.
"I love dandelions..." bisiknya parau. Tangannya menyeka anak rambut Christov dari dahinya.
"Why?"
(Kenapa)
Cassie mengelus wajah Christov, mulai dari bulu mata, hidung, pipi, bibir, dan terakhir dada pria tersebut. Dielusnya dada Christov yang bidang.
"Aku akan menjawab pertanyaanmu setelah kau menjawab pertanyaanku, christov.."
"Maka tanyakanlah.."
"Apa kau lebih suka mendengarku berbicara atau me-nge-rang.."
"Kedua--"
"Aku memaksamu hanya memilih satu," potong Cassie lalu mengecup dada Christov lembut, membuat pria itu meng-geram. Cassie terkekeh, senang atas reaksi yang diberikan Christov akan sentuhannya
"Untuk sekarang, aku akan memilih mendengarmu me-nge-rang kencang, Miss Angelis."
Cassie mengangkat pinggulnya dan menggesek milik Christov yang menegang di antara pang-kal pahanya. Dipeluk kepala Christov dan bibirnya menghisap lembut telinga pria tersebut.
"Aku suka bunga dandelion karena mereka bebas, liar, tidak dapat dijual dan dibeli..." ucapnya parau seraya tetap menggesek milik Christov.
"Like you..*" gumam Christov dengan suara parau saat Cassie masih menggodanya dengan gesekan lembut itu.
(*Sama seperti dirimu)
"Yeah.. Like me,"
(Yah.. Seperti diriku)
"Aku ingin mendengarmu me-nge-rang, Cassie.."
"And me too..."
(Dan aku juga)
***
"Jadi selama akhir pekan kau hanya menghabiskan waktu di rumah saja?" tanya Cassie saat mereka menikmati sarapan pagi di jam dua belas siang. Well.. Itu tidak bisa lagi dianggap sebagai sarapan pagi, tapi keduanya memutuskan untuk menganggap itu adalah sarapan pagi. Terutama, menu makan mereka adalah bubur gandum dengan campuran susu.
Cassie dan Christov bangun jam tengah sepuluh pagi, melakukan se x cepat sebanyak dua kali, lalu berleha-leha untuk mengumpulkan tenaga setelah se x hingga satu jam penuh, berbincang, melakukan perang bantal, dan hingga akhirnya bisa sarapan pagi di jam 12 siang karena keduanya sudah kelaparan.
"Yah.." jawab Christov singkat seraya menyendokkan bubur gandumnya.
Cassie menggoyang-goyang sendoknya ke arah Christov, "Bagaimana mungkin kau berleha-leha di rumah saja saat kau tinggal di Los Angeles. Kota penuh hiburan.."
"Yah.. Aku tahu. Hanya saja, tempat hiburan di sini terlalu padat."
"Yah.. Kau memang ada benarnya," Cassie mengangguk-angguk kecil dan membayangkan betapa ramainya tempat wisata serta tempat hiburan saat akhir pekan di kota ini.
"Bagaimana denganmu?"
"Aku?" Cassie tertawa, "Jangan tanya.. Aku selalu ingin menikmati hidupku untuk berlibur, belanja, berpesta, minum-minum, dan bersenang-senang. Sayangnya, aku harus menghabiskan waktu selama lima hari berturut-turut untuk mencapai keinginanku tersebut di akhir pekan...."
"Setidaknya kau tahu cara menikmati hidup,"
Cassie menelan bubur gandumnya, "Cara menikmati hidup setiap orang-orangkan berbeda. Mungkin cara menikmati hidup adalah berdiam diri di rumah. Caraku menikmati hidup adalah bersenang-senang bersama teman. Dan ada pula yang bisa tidur satu harian penuh adalah cara menikmati hidup. Jadi, setiap orang-orang punya caranya masing-masing dalam menikmati hidup,"
"Namun, aku sekarang sudah punya satu," kata Christov dengan nada misterius.
"Apa itu?"
"Kau tidak perlu tahu,"
"Hey.. Bisa-bisanya kau tidak memberitahuku,"
"Nanti.. Nanti akan kuberitahu,"
"Dasar.. Jadi apa yang biasanya kau lakukan saat akhir pekan seperti ini?"
"Memasak, menonton televisi, bekerja, membersihkan rumah, membaca, mendengar musik, berbelanja, dan lainnya.."
"Woahh... Terdengar membosankan untukku. Pesta. Bagaimana dengan pesta? Apa kau tidak sering menghadiri pesta?"
Christov menggeleng, "Hanya sesekali. Untuk tiga bulan ini saja, hanya dua pesta yang kuhadiri."
"Pesta rumah Catherine dan Sunday Tea Party," kata Cassie seraya mengangguk-anggukkan kepala, "Jadi, sekarang apa yang akan kau lakukan?"
"Menikmati hidup,"
"Maksudmu memasak dan semacamnya?"
Christov menggeleng, "Bersamamu adalah cara baruku untuk menikmati hidup.."
"Huh?" Cassie terheran-heran mendengar perkataan Christov. Saat dia menyadari makna dibalik perkataan Christov, dia tertawa lebar untuk beberapa saat. Kemudian dia berhenti dan menatap tajam Christov.
"Jangan pernah berharap untuk mengencaniku, pria besar."
Christov tersenyum dan bangkit dari duduknya, "Aku tidak pernah mengajakmu berkencan. Kau-lah yang selalu membicarakan terlebih dahulu tentang topik ini,"
Cassie membelalakkan mata, seolah sadar akan perkataan Christov. Ditoleh kepalanya ke arah Christov yang tengah menyuci mangkok bekas sarapannya.
"Namun, kau sering berbicara mengarah ke topik itu.." kata Cassie tak mau kalah.
"Yah. Yah.. Kau menang, Miss Angelis. Sekarang, berikan aku mangkokmu untuk kucuci,"
Cassie bangkit dari duduknya dan ikut membantu Christov membersihkan mangkok dan gelas kotor. Dengan sengaja, dia memegang lengan Christov lalu berjalan dari belakang tubuh CHristov dan dengan sengaja menyentuh bo-kong pria tersebut.
"Cassie.. Stop," ucap Christov seraya menaruh spons piring di tempatnya.
"What?* Aku hanya membantumu menyuci piring,"
(*Apa?)
Christov menyipitkan mata dan menatap Cassie tajam, "Aku tahu apa yang sebenarnya hendak kau lakukan, Cassie,"
"Maksudmu cuci piring?" Cassie dengan sengaja menyentuh lengan Christov lagi, "Aku murni ingin membantumu mencuci piring,"
"Jika kau terus menggodaku, maka aku akan--"
"Akan apa?" potong Cassie yang berdiri tegak di depan Christov.
Pria itu melipat bibirnya dan menggosok-gosok telapak tangannya yang basah. Matanya menatap lekat tubuh Cassie dari bawah hingga atas. Wanita itu hanya memakai kaos putih longgar milik Christov dengan ce-la-na da-lam. Dia bisa melihat jelas bayangan lekukan Cassie dari balik kaos itu. Christov memperkirakan bahwa dia hanya butuh waktu sepuluh detik untuk melepas ce-la-na da-lam wanita itu lalu mendorongnya ke dinding dan memasukkan miliknya pada milik Cassie tanpa aba-aba.
"Kau tahu apa yang tengah kupikirkan," kata Christov dalam suara rendah yang sen-su-al.
Cassie menggigit bibir bawahnya.
"Aku akan benar-benar melakukan se x dengan keras padamu, Cassie.."
"Di dapurmu?"
"Yah.. Di sini.." Christov melangkah maju dan mengangkat tangannya untuk menarik kepala Cassie ke arahnya. Namun, mendadak dia berhenti saat mendengar ponselnya berdering.
"Sial," Christov memejamkan matanya kesal karena diinterupsi oleh dering ponsel tersebut, "Tunggu sebentar.." dia beralih dari sana dan melap tangannya yang basah di kaos yang dia kenakan.
"Meninggalkan wanita di saat-saat intim benar-benar tidak sopan, Mr. Connel," rajuk Cassie.
Christov menoleh ke arahnya dan mengedipkan satu matanya, "Just a second..*"
(*Hanya sebentar)
Tangannya meraih ponsel miliknya yang bergetar di atas meja dan sesaat kemudian, ponsel tersebut berhenti bergetar. Jantungnya seolah berhenti berdetak saat melihat pemberitahuan di layar ponsel. Ada beberapa pesan dari Ibu dan Clara. Di bukanya pesan dari Ibunya dan seluruh dunianya berhenti berputar.
-Clara menuju tempatmu, Christov-
-Suka atau tidak suka-
"Ada apa?" tanya Cassie seraya memegang pundak Christov dari belakang. Tubuh pria tersebut sedikit terkejut akan sentuhan Cassie. Diputar kepalanya dan menatap Cassie.
"Tidak ada. Hanya--" dia berhenti berbicara saat ponselnya berdering kembali. Dialihkan tatapannya pada ponsel dan yang menghubunginya kali ini adalah Clara.
Sialan
"Tunggu sebentar," kata Christov, "Aku akan kembali sepuluh menit lagi.." pintanya pada Cassie. Matanya melihat Cassie dengan tatapan penuh permohonan maaf.
Sial. Sialan.
****
Miss Foxxy
Bunga kesukaan kalian apa?
Jangan lupa dukung author selalu yah.