
Happy Reading
****
"Awww!" Cassie menjerit kesakitan saat bo-kong-nya mendarat lebih dulu di atas lantai tangga.
"Maafkan saya, Miss.. Saya tidak menaruh tanda jalan licin," office girl yang tengah bekerja di sana segera menghampiri Cassie dan memberinya pertolongan.
"That's okay.. Aku yang salah tidak hati-hati," Cassie merintih kesakitan lalu menerima bantuan itu sehingga dia kembali berdiri dengan kedua kakinya. Dibanding rasa sakit di pantatnya, rasa malunya jauh lebih besar karena beberapa pasang mata saat ini tengah melihatinya.
"Sudah kubilang hati-hati!" Miranda berteriak dari dalam mobil.
Dasar.
"Iyah.. Iyah.." kata Cassie jengkel dan beralih ke office girl tadi, "Thank you,"
"Maafkan saya sekali lagi, Miss.."
"Jangan begitu.. Aku yang salah. Permisi," dengan itu, Cassie berjalan dengan langkah tegap dan penuh percaya diri agar tidak terlihat memalukan. Namun, sesungguhnya dia merasakan sakit luar biasa pada bagian otot pan-tatnya setiap kali dia melangkahkan kakinya.
"Itulah kenapa kau perlu beristirahat menggunakan sepatu hills," Miranda mengoceh ketika Cassie sudah duduk di samping kursi pengemudi.
"Cerewet.." kata Cassie sembari melepas sepatu hills-nya dan membiarkan kedua kakinya bernapas.
"Anak ini.. Aku-kan sedang berusaha memberimu nasihat,"
Cassie mengabaikannya dan memilih menyalakan musik orkestra. Saudarinya tersebut selalu saja menceramahinya. Persis seperti Ibunya.
"Kau dengar aku tidak?"
"Perhatikan saja jalannya, sister.." kata Cassie dengan nada penuh penekanan pada akhir katanya. Disandarkan tubuhnya ke kursi dan menatap lurus ke depan, ke arah jalanan yang padat.
"Bisakah kau memilih musik yang lain? Telingaku iritasi jika mendengar musik semacam ini lagi..."
"Tidak,"
Singkat, padat, jelas, dan menyebalkan.
"Dasar.. Kau harus mulai baik-baik padaku, Cassie.."
"Kenapa pula aku harus melakukannya?" tanya Cassie dengan nada malas.
"Bisa saja aku tiba-tiba menikah atau pergi ke luar negeri. Atau..."
"Sejak kapan kau kepikiran ingin nikah? Bukankah mimpimu ingin hidup sendirian terus untuk berpesta?"
"Sejak kapan kau menanggapi serius perkataanku?"
"Entahlah,"
"Atau jangan-jangan, kau sendiri yang akan menikah duluan..."
"Ah.. Diam saja deh," ucap Cassie dengan nada kesal.
"Wah.. kau tidak punya sopan santun lagi yah?"
Cassie menyenderkan kepalanya di atas kaca mobil dan memejamkan mata, "Aku capek, Miranda..."
"Okay, Cassie. Okay.."
Ada jeda keheningan di antara keduanya untuk beberapa saat sebelum akhirnya Miranda kembali berbicara ketika mobilnya berhenti di lampu merah.
"Aku bertemu Jason hari ini,"
Kedua mata Cassie terbuka lebar ketika nama itu disebut, tapi dia tetap mempertahankan posisi kepalanya yang bersandar di kaca mobil. Entah kenapa nama itu kembali muncul di sekitarnya setelah sekian lama tidak terdengar.
"Terus?" tanya Cassie dengan nada acuh tak acuh. Sejujurnya, dia memang tidak peduli tentang Jason--mantan kekaishnya-- lagi. Hubungan mereka sudah kandas sekitar satu tahun yang lalu. Cassie benar-benar tidak memiliki perasaan apa pun pada pria yang pernah membuatnya hidup dalam dunia fantasi terhebatnya. Pria yang memberinya harapan, mimpi, kasih sayang, dan.. Semuanya. Cassie sudah berpikir bahwa Jason akan menjadi yang terakhir untuknya. Nyatanya, tidak.
"Dia menanyakan kabarmu,"
Cassie diam dan memilih memejamkan matanya lagi.
"Dia juga bertanya apa kau datang ke pesta besok.." kata Miranda dengan nada hati-hati.
"Lalu? Apa yang kau jawab?"
"Dia datang atau tidak, bukan lagi urusanmu," ucap Miranda dengan nada yang sama persis saat bicara dengan Jason. Dia lega mendengar itu. Setidaknya, orang-orang di sekitar Cassie mendukungnya untuk tidak dekat lagi dengan Jason.
"Thank you, Sister.." bisik Cassie, "Aku tidak memiliki perasaan lagi padanya. Namun, akhir-akhir ini dia muncul lagi dan itu membuat keadaanku terasa sulit padahal hubunganku dengannya sudah kandas satu tahun lalu...."
"Owh.. My baby. Jangan sedih! Saudarimu ini akan mengenalkanmu pada pria-pria tampan dan kaya," Miranda berucap dengan nada tinggi yang penuh semangat. Hal itu membuat Cassie tertawa kecil.
"Selesai belanja, mari makan malam bersama," tawa Cassie dengan nada senang.
"Okay!"
****
Cassie mengenakan gaun mini serut berwarna biru yang memamerkan lekukan tubuh, bahu, dan kaki jenjangnya. Tak lupa juga dengan hills dan tas kecil untuk menyempurnakan penampilannya. Tangannya saat ini tengah memasang anting kecil di kedua telinganya.
Dia menatap bayangan tubuhnya di cermin dengan bangga. Tangannya menyentuh rambut gelombangnya yang dia gerai sedemikian rupa. Riasan tipis yang tidak mencolok dan dia siap berpesta ria hari ini. Cassie berani menjamin akan ada sepuluh pria lebih yang akan memintai nomor ponselnya malam ini.
"Terlihat cantik seperti biasa," komentar Cassie seraya menaruh dagunya di antara jari jempol dan telunjuk
"I'm ready to go!" pekiknya dengan girang.
Cassie menyambar paper bag berisi hadiah untuk tuan rumah pesta hari ini dan berjalan keluar dari apartemennya. Turun dari lift dan berjalan di basement menuju mobil jeep-nya. Ketika sudah berada di dalam mobil, Cassie menaruh barang-barangnya dan melajukan mobilnya keluar dari basement bangunan apartemen.
Sekarang jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan yang artinya pesta sudah dimulai sejak pukul tujuh tadi. Perjalanan ke rumah Catherine Brood--tempat pesta diadakan-- dari tempatnya membutuhkan waktu sekitar dua puluh menit karena lokasi rumah Catherine berada di Baverly Hills, sebuah kota mandiri yang terkenal sebagai lokasi tempat tinggal orang-orang kaya sialan. Mulai dari selebritis papan atas, pengusaha, dan orang-orang berpengaruh.
Cassie tidak berharap memiliki perumahan di sana karena sebagian besar orang yang dia benci tinggal di Beverly Hills. Dia tidak sudi jika harus tinggal satu wilayah dengan orang yang dia benci.
Kurang dari dua puluh menit, Cassie sudah memasuki kawasan Baverly Hills. Matanya sesekali melirik ke arah GPS yang mengarahkannya ke rumah Catherine.
"Sialan.." umpatnya ketika melihat bagaimana wajah dari lokasi perumahan Catherine. Cassie harus melajukan mobilnya sekitar 50 meter melalui jalan aspal yang di samping kanan-kiri jalan terdapat lampu jalan dan pohon cemara yang diatur sedemikian rupa. Dia juga melihat jalan-jalan berbatu yang tidak dia ketahui nama kerennya. Patung-patung bergaya romantisme menghiasi beberapa sudut dan.. Rumahnya! Astaga! Begitu besar!
"Orang kaya sialan.." umpat Cassie sekali lagi. Digeleng-gelengkan kepalanya ketika sudah memarkirkan mobilnya. Dia tidak habis pikir, bagaimana bisa orang-orang menjadi sekaya ini?
Mematikan mesin mobil, tangan Cassie meraih paper bag-nya. Matanya memeriksa satu botol Champagne dan satu botol anggur yang akan dia berikan pada tuan rumah nanti. Dia berpikir apakah hadiahnya terlalu sederhana? Cassie buru-buru menggelengkan kepalanya atas pemikiran sempitnya tersebut.
"Percaya dirilah, Cassie," katanya penuh semangat. Meriah tas kecilnya, Cassie keluar dari mobilnya. Udara malam yang sejuk membuat dia sedikit menggigil. Hah.. Dia lupa membawa luarannya. Tidak apa, toh dia akan minum alkohol sebanyak mungkin untuk membuat tubuhnya tetap hangat.
"Yes, Mom?" Cassie menoleh ke arah sumber suara dan mendapati seorang pria tinggi yang baru saja keluar dari mobil yang terparkir di samping mobilnya. Pria asing itu berdiri memunggunginya dan menumpukan tubuhnya ke badan mobil.
"Aku sedang ada urusan. Bisakah kita membicarakan ini lain kali?" kata si pria asing itu lagi.
Cassie terdiam, menatap pria itu sejenak. Termenung. Well.. keahlian terbaik Cassie adalah tiba-tiba termenung tanpa alasan yang jelas.
"Aku akan menghubungi Clara nanti. Kumohon berhentilah menghubungiku untuk hari ini, Mom.."
Pria asing itu seolah sadar ditatapi oleh seseorang dan diputar kepalanya ke arah Cassie. Dia memandangi Cassie sejenak dan saat itu juga, Cassie segera tersadar dari lamunannya. Dia buru-buru memutar tubuhnya dan berjalan kikuk meninggalkan parkiran dengan langkah lebar.
"Dasar bodoh," ucapnya pelan dengan nada kesal kepada dirinya sendiri. Dia menghentakkan kakinya ke aspal dengan jengkel. Bisa-bisanya aku melamun?! Teriak Cassie dalam dirinya. Kakinya melangkah menaiki anak tangga ke teras dan seorang pelayan menyambutnya.
"Good night, Miss.." ucap si pelayan satu
"Good night, Sir.." seorang pelayan lain menyambut tamu yang berada di belakang Cassie dan dia tahu jelas siapa itu. Pria asing tadi. Namun, dia menahan diri untuk tidak memutar tubuhnya.
"Mari saya antarkan," ucap pelayan satu dan dia segera mengambil langkah di depan Cassie sebagai pemandu untuk memasuki rumah itu. Cassie mengikuti dan juga pria asing tadi. Dia bisa mendengar langkah kaki dari pria asing itu.
Well.. Ditarik napasnya dan membuangnya perlahan.
Tidak perlu khawatir, Cassie. Tidak perlu khawatir.
Sekarang, Cassie tidak peduli jika pria itu berpikiran aneh tentangnya karena satu-satunya hal yang dia pedulikan saat ini adalah pesta, dansa, dan minum-minum!
****
Christov menyisir rambutnya dengan jemari kanannya. Ditarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Lagi-lagi Ibunya. Entah kenapa, Ibunya selalu saja membuatnya kesal. Sayangnya, Christov tidak bisa marah atau melawan kembali karena itu adalah ibunya.
Dimasukkan ponselnya yang berada di atas atap mobil ke dalam saku jaket yang dia kenakan. Setelah itu, Christov memegang sebuah paper bag berisi Champagne dan buket bunga besar sebagai buah tangan untuk tuan rumah. Sejujurnya, dari hatinya yang terdalam, Christov tidak ingin menghadiri pesta ini.
Namun... Ah, sudahlah.
Menolak memikirkan kekesalannya, Christov berjalan menuju pintu masuk rumah itu. Di sana, dia menemui wanita yang menatapinya tadi. Dia bisa melihat ujung botol minuman alkohol di dalam paper bag yang dibawa wanita asing itu. Syukurlah. Batinnya penuh kelegaan. Ternyata bukan hanya dia yang membawa buah tangan minuman alkohol.
Seorang pelayan mengarahkan mereka memasuki rumah menuju tempat pesta dilangsungkan. Tanpa panduan pelayan tersebut, Christov sudah tahu setiap sudut ruangan ini karena dialah yang merangcang dan mendesain ulang rumah ini,
Dia tidak tertarik dengan berbagai pernak-pernik mewah yang menghiasi lorong tersebut karena dia lebih tertarik menatapi wanita asing yang berjalan di depannya. Jarak mereka sekitar lima langkah jauhnya.
Tinggi sekali.
Christov menatapi tubuh bagian belakang wanita itu dari atas hingga ke bawah untuk menyadari betapa jangkungnya wanita asing itu. Apa tidak dingin? Batinnya lagi ketika menatapi pakaian si wanita yang memamerkan lekuk badan, bahu, dan kaki jenjangnya. Mungkin artis atau model. Tebak Christov. Bertemu artis, aktor, atau orang-orang berpengaruh secara tidak sengaja di Los Angeles bukanlah hal yang spesial.
Baginya---- Christov mendadak berhenti berpikir saat melihat wanita asing itu menyibakkan rambutnya yang terurai ke arah bahu kirinya.
"Burung?" bisiknya pelan ketika melihat tatto sekumpulan burung yang terbang di punggung kanan atas wanita asing itu. Tatto berwarna hitam itu tampak begitu kontras di atas kulit putih wanita tadi. Tatto burung itu seolah melambangkan kebebasan
Unik. Pikirnya lagi dengan tetap menatap tatto burung-burung itu.
***
"Cassandra. Senang melihatmu datang,"
Cassie tersenyum manis dan melakukan kecupan pipi pada Caterine dan suaminya, Brood.
"Maafkan aku hanya bisa membawa ini untukmu," dia memberikan bingkisan itu pada Catherine.
"Oh my.. Kau tidak perlu repot-repot membawa ini. Kau tahu itu," Catherine memberikan bingkisan Cassie ke arah pelayan agar di susun di sebuah meja yang sudah penuh dengan hadiah. Well...
Cassie tertawa kecil, "Aneh rasanya datang dengan tangan kosong. Selamat atas rumah barumu, Cath. Rumahmu benar-benar indah.." terlampau indah, mewah, dan keren hingga membuat Cassie gigit jari.
"Thank you.."
"Christover Connel," bersamaan saat Cassie mengucapkan terimakasih, suami Catherine berbicara ke arah tamunya yang baru saja datang. Ditoleh kepalanya ke arah kiri untuk melihat siapa sosok yang bernama Christover tersebut dan sesuai dugaannya, itu pria asing tadi yang dia lihat di parkiran.
Tampan. Pikir Cassie saat melihat pria tinggi itu. Namun, kelihatan membosankan. Cassie bisa menilai bahwa pria ini adalah semacam pria kaku nan pendiam dari cara berpakaiannya. Kemeja biru yang blous-nya dimasukkan ke dalam celana jeans hitam. Lalu jaket kulit coklat sebagai luaran yang terlihat membosankan
"Terima kasih atas undangan anda," ucap Christover dengan suara barittonnya yang terdengar ramah.
Cassie kemudian menatap bagian rambut Christov yang terlihat sangat tebal dan hitam. Bagaimana bisa pria punya rambut sebagus itu? Pikirnya.
"Cassandra?"
"Y-Yah?" Cassie sedikit tergagap ketika disadarkan oleh Catherine dari lamunannya. Matanya kini berfokus pada wajah Catherine.
"Apa kau tidak masuk ke dalam?"
Cassie segera tertawa santai menyadari kebo-do-hannya sendiri karena tiba-tiba melamun lagi.
"Aku tiba-tiba melamun. Maafkan aku. Aku masuk dulu," dalam momen yang singkat, Cassie mengambil kesempatan melirik pria itu dari ujung matanya untuk sekali lagi sebelum akhirnya memasuki lokasi pesta yang berada di area kolam renang.
Di sisi lain, Christov berdiri tegap dengan kepalanya di arahkan ke punggung kanan atas wanita bernama Cassandra tadi. Matanya menatap fokus tatto burung itu. Tanpa sadar, Christov mengangkat tangan kirinya untuk mengusap punggung kanan atasnya sendiri.
Tatto-nya cantik.
****
Miss Foxxy
Bisa-bisanya satu chap hanya dapat ini? Hahah. Yg penting ini udah lumayan panjang sih 😗 Kuharap kalian gk keberatan kalo ceweknya bertatto 😅 Mari kita ulik satu per satu rahasia mereka dengan perlahan dan bertahap.