
Happy Reading
***
"Sudah tahu temanmu adalah orang miskin, untuk apa datang ke acara lelang seperti ini?" ujar Meghan ketika turun dari mobil Gerald bersama ketiga temannya.
"Gaun yang didesain Gerald akan dilelangkan malam ini," kata Bambi, "Kita datang untuk melihat dan mendukungnya,"
"Jika ingin mendukung Gerald, setidaknya salah satu dari kita ikut berpartisipasi dalam lelang,"
"Oh my.. Aku gugup memikirkan berapa harga yang ditawarkan untuk gaunku," ujar Gerald dengan suara panik.
"Aku sudah melihat fotonya. Gaun buatan tangan ini cukup bagus dan unik. Sesuai tema pula. Pasti beberapa orang akan menawarkannya dengan harga fantastis," hibur Cassie pada Gerald.
Gerald segera menggandeng tangan Cassie, "Kau yang tebaik, baby.." ucapnya dengan suara gemulai.
"Apa di sana ada minuman gratis?" tanya Meghan saat mereka antri untuk melakukan pemeriksaan undangan.
"Tentu saja ada.. Namun, bukan minuman mahal tentunya karena ini acara lelang yang semua pendapatan akan disumbangkan," jelas Gerald, "Gracias.." dia mengucapkan terimakasih pada penerima tamu dan berjalan masuk setelah diberikan tongkat nomor lelang.
Cassie memberi undangannya dan menatap lurus ke depan, melihat ketiga temannya sudah masuk terlebih dahulu. Kalau bukan karena gaun desain Gerald yang dipamerkan, Cassie tidak akan datang ke tempat ini. Beberapa hari belakang ini dia menghadapi drama kantor sialan yang membuat beban pikirannya bertambah. Harga dirinya yang tercoreng karena Christov pun masih berbekas sampai saat ini dan membuat kepalanya ingin meledak setiap kali m memikirkannya.
Dasar pria sialan. Umpatnya ketika mengingat momen pada Sabtu malam itu. Harusnya Cassie mematahkan kartu akses apartemen sialan itu di hadapan wajahnya. Atau tidak, dia harusnya melindas tubuh Christov dengan mobilnya. Well. Pemikiran kedua mungkin cukup berlebihan, tapi masih patut untuk dicoba. Dia memang sengaja membeli mobil tipe Jeep yang memiliki ban besar. Alasannya adalah untuk menabrak mobil atau melindas seseorang yang membuatnya kesal dengan sangat mudah. Hanya saja, kesempatan seperti itu tak kunjung datang.
"Ke sebelah sini," kata Gerald sebagai pemandu jalan pada mereka bertiga. Cassie, Meghan, dan Bambi mengikut dengan posisi berbaris, layaknya anak bebek. Tidak beberapa lama, mereka sampai di sudut pameran, tempat maha karya milik Gerald di pamerkan.
"And taa-daaaa.. Dress Of Miracle*. Nama dari dress ini.." ucap Gerald dengan gaya tangan mempersembahkan.
(Gaun Keajaiban)
"Wow.. Gaun ini jauh lebih bagus dari pada yang kubayangkan," puji Cassie tulus saat melihat gaun yang ditaruh dalam kotak kaca besar. Sebuah gaun peri 3D yang disusun dari ribuan bola-bola kaca.
"Yah! Setidaknya gaun ini harus ditawarkan dengan harga $5000," Bambi menimpali, "Ah.. Aku berharap memiliki kekasih yang kaya agar bisa membeli gaun peri ini,"
"Memangnya apa yang terjadi dengan kekasih terakhirmu?" tanya Meghan.
Bambi menoleh ke arah Meghan dan tersenyum manis, "Kami sudah putus," jawabnya dengan suara enteng dan kembali melihat gaun yang berkilauan tersebut.
"Dari pihak pengelola lelang, berapa gaun ini akan ditawarkan?" Cassie berjalan memutari dan memerhatikan setiap detail dari gaun itu dengan tatapan serius.
Gerald berdiri lurus di sana, menatap tiga temannya yang sedang mengobservasi gaun tersebut, "$1500,"
"Apa?" ucap ketiganya bersamaan dengan nada terkejut.
"Bukankah itu terlalu murah?"
"Harga pembuatan gaun ini berkisar $1000, jadi untuk harga penawaran pembuka sebesar $1500 tidaklah terlalu murah," jelas Gerald, "Huh.. Aku takut tidak ada seorang pun yang akan membeli gaun ini,"
"Jangan bersikap pesimis begitu. Aku yakin akan banyak yang berusaha membeli ini," hibur Bambi dengan suara manis, "Ayo kita abadikan momen kita bersama Dress Of Miracle," ajaknya.
Ke-empatnya berpose secara bergantian di samping gaun itu degan senyum terbaik. Sesi berikutnya mereka berfoto bersama dengan bantuan dari pengunjung pameran untuk mengambil foto. Pose pertama, mereka memasang wajah datar, pose kedua dengan senyum lebar dan mengangkat tongkat lelang masing-masing, dan pose ketiga adalah pose konyol..
"Thank you.." ucap mereka bersamaan pada orang asing yang membantu mereka. Dengan antusiame yang tinggi, ketiganya mengelilingi Gerald yang tengah memegangi kamera untuk memeriksa hasil jepretan tersebut.
"Bagus sekali.. Aku akan mengunggah ini ke insta," kara Bambi.
"Kenapa setiap foto wajahmu seperti penjahat ke-la-mi, Meghan?" komentar Gerald terkait wajah Meghan dalam foto dan segera Meghan memukul lengan pria itu dengan keras.
"Kau benar," ucap Cassie saat menyadari hal tersebut dan dia ikut tertawa bersama temannya. Ah.. Ini adalah bagian terbaik memiliki teman baik. Dengan bersama mereka, sejenak Cassie bisa menghilangkan rasa penat yang menghantuinya akhir-akhir ini. Tawanya semakin kencang seiring semakin anehnya lelucon dari ketiga temannya.
Ada satu momen, ketika kau berada di tengah kerumunan yang dipenuhi oleh keributan, hati dan pikiranmu seolah mendapat tarikan gravitasi asing. Tarikan yang berasal dari seseorang yang seolah berharap agar kau menolehkan ke arahmu. Yah.. Tarikan itu.. Tarikan gravitasi yang unik itu tengah dirasakan oleh Jasmine saat ini.
Dengan tawa yang menghiasi wajahnya, dia memutar kepala ke arah kiri tubuhnya dan saat itu pula, tarikan gravitasi asing itu mendapat balasan. Kedua matanya bertemu dengan milik Christov--si sumber tarikan gravitasi-- yang berdiri tidak jauh darinya. Saling terkunci dan tubuhnya membeku mendadak.
Pria itu menatapnya dengan tatapan sendu. Wajah kelelahan tercetak jelas di sana. Lingkar mata yang tebal seolah menjelaskan bahwa pria itu kekurangan tidur. Dia tak tahu jelas masalah apa yang tengah dihadapi Christov hingga dia terlihat kacau, tapi apa pun itu, Cassie berharap bisa membuat keadaan Christov semakin buruk.
Balas dendam. Batinnya.
Senyum lebar itu perlahan hilang dari wajah Cassie dan digantikan dengan senyum miring yang picik. Dimundurkan sedikit tubuhnya sehingga Christov bisa melihat Gerald yang berada di samping tubuhnya. Tatapan sendu Christov segera berubah menjadi tatapan penuh keterkejutan.
Dengan sengaja, Cassie menggandeng tangan Gerald dan lagi, tatapan itu berubah menjadi tatapan penuh sakit hati. Dia berteriak penuh kemenangan melihat wajah Christov dan di momen-momen terakhir, Cassie memutar tubuhnya dengan senyum miring itu.
Ah.. semua beban di tubuhnya hilang begitu saja hanya melihat tatapan sakit hati dari Christov. Beginikah rasanya balas dendam itu? Terasa begitu nikmat, membuat tubuhmu terasa seratus kali lebih ringan. Balas dendam. Pikir Cassie senang. Aku suka balas dendam.
"Ayo kita mencari minum," kata Cassie dengan tetap menggandeng tangan Gerald.
"Let's Go!"
(Ayo)
Mereka meninggalkan gaun itu dan berjalan ke arah tempat Christov yang masih berdiri mematung. Cassie tidak mendengar dan memperdulikan pembicaraan ketiga temannya dan malah menggandeng lengan Gerald semakin erat. Mata mereka bertemu dan rasa kemenangan dalam Cassie semakin membara.
Mari kita lihat wajah sakit hatinya...
Cassie menyandarkan kepalanya pada lengan Christov dan saat itu pula Christov menundukkan kepala, memutuskan kontak mata mereka. Sebelum grup Cassie melewati Christov, pria itu sudah memutar tubuhnya dan berjalan pergi. Pergi dengan kepala menunduk dan punggung lesu. Dari punggungnya saja, Cassie tahu bahwa pria itu pasti sedang menghadapi masa berat.
Lalu, apa yang dirasakan Cassie setelahnya adalah rasa penyesalan. Rasa kemenangan atas balas dendam yang dia lakukan sebelumnya berubah menjadi perasaan penuh rasa bersalah. Rasa yang membuat terbentuknya lubang kekosongan dalam dirinya dan lubang itu semakin membesar seiring semakin jauhnya Christov melangkah pergi. Semakin jauh hingga Cassie tak mampu meraihnya lagi.
****
Christov menarik napas panjang. Sepanjang mungkin dan kemudian menahannya berlama-lama hingga membuat wajahnya memerah. Saat dia mulai kehabisan napas, dia membuang napas dengan cepat. Wajahnya berkerut oleh amarah dan dadanya naik-turun dengan cepat
"Fvck.." umpatnya dengan suara rendah, matanya menatap marah pada pantulan dirinya sendiri di kaca.
Oh my.. Dia beralih dari wastafel kamar mandi dengan langkah kesal. Tangannya mengusap kasar wajahnya. Dengan rasa amarah yang menggebu-gebu dalam dirinya, Christov melayangkan satu kepalan tangannya ke arah dinding dengan sangat keras. Sangat keras hingga membuat permukaan kulit jarinya lecet.
Tidak puas dengan tangan kirinya, Christov melayangkan tangan kanannya ke arah dinding dengan sekuat tenaga, berusaha membuang rasa frustasi dan rasa amarah dari dalam dirinya. Namun, tidak ada.. Tidak ada yang terjadi. Rasa amarah itu masih menetap di sana dan rasa sakit di kedua kulit jarinya tersebut seolah tidak ada bandingnya dengan rasa sakit hati yang dia rasakan saat ini.
Kepala ditundukkan dan kedua tangannya dikepalkan kuat pada kedua sisi paha. Dadanya masih naik turun dan perlahan, bahunya bergetar oleh perasaan aneh yang mulai membuncah dalam dirinya. Matanya yang memerah menatap kosong ke lantai kamar mandi dan tak sekalipun itu berkedip.
"Bagaimana ini?" tanya dia dengan suara bergetar, "Aku mencintainya.. Bagaimana bisa aku mencintai dia?" bisiknya pada kekosongan.
Dipejamkan matanya yang terasa perih dan beralih ke wastafel. Dengan perasaan kosong nan lelah, Christov membasuh kulit tangan yang terluka diikuti dengan wajahnya. Lalu mengelap dengan tissue dan terakhir menyisir rambut sendiri dengan jemari.
Bayangan Cassie dengan pria lain membuat perasaannya terluka. Dia berpikir bahwa dirinya adalah sosok yang istimewa pada Cassie, tapi sayangnya tidak karena wanita itu di kelilingi dengan pria-pria yang jauh lebih tampan dan mapan dari dia. Christov hanyalah satu dari sekian teman prianya.
Jika dibandingkan dengan pria-pria yang berusaha mengejar Cassie, dia hanya butiran debu di lautan padang pasir. Bo-dohnya dia menyianyiakan wanita seperti Cassie karena takut ditinggalkan. Astaga.. Betapa tidak jantannya. Ckck.. Memang tidak ada yang bisa dibanggakan dari diriku. Pikirnya.
Dengan perasaan kecut, Christov membuka pintu kamar mandi dan melihat beberapa pria antri di sana. Orang-orang asing itu menatap tajam pada Christov. Semua masuk dan mengumpat pada dia karena memperlakukan toilet umum seperti toilet pribadinya.
Tidak peduli, Christov melanjutkan langkahnya ke arah pameran. Dilihatnya satu per satu barang yang dipamerkan mulai dipindahkan menuju lokasi lelang. Dia berpikir untuk pulang, tapi kemudian mengurungkan niat saat melihat penerima tamu itu masih berjaga di sana. Mereka akan meng-gosip tentang Christov jika dia pulang tepat di acara waktu lelang.
Langkahnya memelan saat melihat kotak kaca berisi gaun unik. Inilah gaun yang Cassie amati bersama grup-nya tadi. Melangkah mendekat, Christov mulai mengobservasi dan mengamati gaun itu dengan tatapan lekat. Hingga dia akhirnya sadar bahwa gaun itu terbuat dari material berupa bulatan kaca. Nampak artistik sekali, tapi Christov yakin ini hanyalah hiasan semata dan bukan untuk digunakan.
Siapa yang akan nyaman memakai gaun kaku, berat, dan tak nyaman seperti ini? Well.. Mungkin dress kaca yang menyerupai gaun peri ini akan nampak indah dipakai, tapi dia tidak bisa bayangkan rasa tak nyaman saat menggunakannya.
"Dress Of Miracle,"
Tubuh Christov yang sedikit bungkuk untuk menatap dress itu segera membeku saat mendengar suara yang sangat familiar padanya. Sesaat kemudian, dia mendengar suara langkah kaki mendekat ke arahnya. Christov menegapkan tubuh dan saat itu pula dia melihat Cassie sudah berdiri di sampingnya. Berdiri dengan tegap untuk menatap gaun itu.
"Bagaimana menurutmu? Apa nama itu cocok dengan gaun ini?"
Kenapa dia selalu muncul seperti hantu? Pikir Christov. Kepalanya saat ini tidak bisa mencerna apa yang tengah terjadi. Sesaat sebelumnya, dia dipenuhi kemarahan dan rasa amarah itu mereda karena Christov menghabiskan waktu mengamati gaun yang unik ini. Lalu, tiada badai-tiada topan, Cassie muncul entah dari mana dan dia tidak tahu harus bertingkah seperti apa saat ini. Gugup? Marah? Canggung? Sedih? Atau malah senang?
"Entahlah.." jawab Christov singkat dan menatap gaun itu kembali.
"Aku yang membuat nama untuk gaun ini,"
Dia tidak tahu harus percaya atau tidak, tapi Christov memilih untuk percaya saja akan perkataan itu.
"Kenapa kau memberi nama itu?' tanyanya.
"Karena proyek pembuatan gaun itu dianggap mustahil dan sekarang, di sinilah dia.. Bertengger dengan anggunnya,"
"Nampaknya kau kenal desainer dari gaun ini.."
"Yah.. Gerald. Pria yang bersamaku tadi adalah desainernya. Kau lihat itu, bukan?"
Dia melirik Cassie dari ujung matanya. Sampai sekarang, Christov terkadang belum terbiasa dengan ucapan Cassie yang selalu blak-blakkan dan terlalu tetap sasaran. Dia perlu menyaringnya. Batin Christov.
"Kekasihmu, yah?" tanyanya dengan suara kalem tanpa emosi, tapi yang terdengar setelahnya adalah suara tawa dari Cassie. Dia menoleh ke arah wanita itu yang sudah menatapnya dengan tatapan geli.
Christov mendadak terpesona saat melihat bola mata Cassie yang biru jernih.
Wanita itu tersenyum miring lagi, "Sudah kukatakan aku tidak melakukan hal semacam berbau kencan dan lainnya,"
"Jadi, dia 'teman priamu'?" tanyanya dengan suara penuh penekanan pada bagian ujung kalimatnya.
Cassie mendengus kecil dan kembali menoleh ke depan, "Dia hanya teman. Hanya teman. Bukan teman yang seperti kau pikirkan. Gerald itu teman dekatku dan lagian, dia seorang ga y," ditatapnya Christov dengan tatapan mencurigakan, "Hati-hati..." bisiknya penuh arti dan Christov segera sadar maksud dari wanita itu. Terdapat kengerian pada wajahnya saat Cassie mengucapkan itu.
Cassie tertawa, "Astaga.. bercanda. Kenapa wajahmu setegang itu? Dia memang ga y, tapi dia memiliki standar sendiri,"
"Standar?" kata dia dengan suara tinggi dan Cassie tertawa lagi.
"Yah.. Begitulah. Kau di bawah standarnya mungkin,"
Christov memalingkan wajah dari Cassie. Tidak aman. Pikirnya. Tidak aman jika melihat dia tertawa seperti itu. Diangkat tangan kanan untuk menutupi mulutnya yang terangkat dan membentuk senyum tipis. Sialan. Marah, sedih, kekosongan,dan sekarang dia tersenyum. Semua perasaan tadi dia rasakan karena Cassie.
"Kau tahu, sejujurnya saat ini aku ingin menendang buah za-karmu dengan sangat keras," ucap Cassie dengan nada santai dan itu mengundang wajah penuh keterkejutan dari Christov. Dipandangnya Cassie dan sesaat kemudian dia tersenyum. Dia memalingkan wajah karena tak sanggup melihat senyum Cassie.
"Dasar aneh," gumam Christov, "Ini aset berharga. Kenapa pula kau ingin menendangnya?"
"Karena kau yang memohon ingin masuk ke celana dalamku dan malah kau yang membuangku setelahnya,"
Dengan cepat, Christov menoleh ke arah Cassie, "Aku tidak pernah memohon dan aku tidak membuangmu."
Cassie menggigit jari jempolnya, "Kau memang tak pernah menyatakannya secara langsung, tapi itulah kenyataan yang ada."
Ditariknya napas panjang, "Terlepas kita tidur bersama, kau lebih dari itu. Setidaknya, aku memiliki teman untuk berbagi tawa bersama,"
"Lalu, kenapa kau menendangku? Huh.. Kau tahu, harga diriku benar-benar jatuh karenamu, sialan..."
Christov mengangkat kepalanya sebentar untuk menatap langit-langit. Dia menolak menatap tatapan tajam Cassie. Yah.. yah.. Itu memang kesalahannya.
Ditatapnya kembali wanita itu, "Maafkan aku," katanya pelan, "Aku... Aku.." Christov tergagap, tidak tahu harus mengatakan apa. Tidak mungkin dia mengatakan bahwa dia takut ditinggalkan terlebih dahulu.
"Sudahlah.. Aku tidak peduli dengan alasanmu. Lain kali, jika kau membuatku kesal, aku tak akan segan menendang bola za-kar-mu sampai pecah,"
Christov tersenyum tipis, dia tahu Cassie tak serius dengan perkataannya. Sejenak. kepalanya berpikir bahwa ini adalah kesempatan yang bagus untuk berbicara dengan Cassie dan memperbaiki hubungan mereka yang retak. Namun, dia bingung harus memulainya dari mana. Setidaknya, beban di dadanya berkurang saat mengetahui pria tadi bukanlah kekasih Cassie.
"Apa kau mau makan malam bersama?" ajak Christov dengan suara lembut.
"Dan mengajakku tidur bersama setelahnya d Ngan dalil ingin melihat bunga mawar? Begitu? Kau ingin begitu, huh?"
Kuping Christov memerah saat Cassie membahas tentang bunga mawar itu dan tersadar bahwa apa yang dikatakan wanita itu benar. Wanita itu benar bahwa selama ini dia-lah yang memohon pada Cassie
Dia menggeleng kecil untuk mencoba menyanggahnya, "Apa kau pikir di kepalaku hanya dipenuhi bayangan rencana menidurimu?"
"Memangnya apa lagi?" tanya Cassie dengan suara menantang.
Christov menahan napas. Kata-kata untuk mengungkapkan perasannya saat ini sudah berada di ujung lidah, tapi dia tidak mampu mengatakannya. Tidak untuk sekarang. Pikirnya. Christov tidak bisa mengatakan bahwa dia menyukai Cassie saat wanita itu tak menginginkan sebuah hubungan. Pertama, Christov harus tahu akar permasalahan mengapa Cassie tak ingin memiliki hubungan. Setelah mengetahuinya, Christov bisa mencari jalan keluar untuk masalah Cassie dengan harapan dia akhirnya bisa menjalin hubungan dengan wanita itu.
"Kau teman yang baik," katanya tulus, "Kau jujur, memiliki mulut yang pintar, pemberani, dan aku suka dengan pola pikirmu yang unik. Yah.. Aku suka semua yang ada padamu,"
Wanita itu menatapnya lekat, "Apa kau tengah mengungkapkan perasaanmu?"
Christov menggeleng kencang, "Wanita gila. tentu saja tidak," sanggahnya keras walaupun itu benar apa adanya, "Jadi, kau mau pergi makan malam bersama? Layaknya teman?
"Biarkan aku berpikir," kata Cassie tiba-tiba dan itu mematahkan harapan Christov agar wanita itu kembali padanya.
Apa ada pria lain? Pikirnya. Apa ada pria lain yang membuat Cassie harus berpikir dahulu?
"Untuk sekarang, aku ingin menikmati waktuku dalam acara lelang ini walau aku takkan membeli apa pun. Aku akan menghubungimu ketika aku sudah selesai berpikir.." Cassie memutar tumitnya, hendak pergi dari sana.
"Kapan? Kapan kau akan menghubungiku?"
"Just wait, Christov*.." katanya tanpa emosi dan segera beralih dari sana.
(*Tungga saja, Christov.)
Lagi dan lagi.. Dia harus melakukan kegiatan sialan ini. Menunggu tanpa kepastian.
****
Miss Foxxy
Kanya bakalan update larut bgt untuk beberapa hari ke depan karena kesibukan di sana sini. Jangan lupa dukung author yah. Yuk ikutan giveaway ini and gudlak.