Remember Me

Remember Me
Extra Part - Life-



Happy Reading


****


Cassie POV


Aku berdiri di depan cermin hanya dengan balutan pakaian dalam dan melihat perutku yang sedikit membesar.  Tanganku mengelusnya lembut dan senyum bahagia penuh haru terukir di bibirku. Usia kandunganku sudah memasuki usia tiga belas minggu dan entah mengapa, aku ingin waktu berlalu dengan cepat agar aku dapat bertemu dengan calon bayiku.


"Tumbuh dan berkembanglah, my cutey pie," bisikku dan mau tak mau aku terkikik karena merasa lucu. Well.. Bukankah itu terasa lucu berbicara pada perutmu sendiri?


Selain rasa senang, aku juga merasa gugup karena ini adalah kehamilan pertamaku. Hal yang semakin membuatku gugup adalah karena usiaku sendiri yang sudah memasuki 30 tahun. Menurut beberapa jurnal kesehatan yang kubaca, usia 30 tahun bukanlah usia yang ideal untuk kehamilan. Aku tentu sedikit khawatir, tetapi Christov membawaku langsung ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan kesehatan dan hasilnya membuatku lega. Walaupun sudah memasuki usia kepala tiga, dokter berkata bahwa kesehatan tubuhku masih seperti wanita berusia 20 tahunan. Terimakasih untuk Christov yang memastikanku memiliki gaya hidup yang sehat selama dua setengah tahun belakangan ini.


Dokter hanya menyarankanku untuk tetap mempertahankan gaya hidupku yang sehat dan mengurangi beberapa pekerjaan yang berat. Christov menyarankanku mengurangi jam kerja dan aku melakukannya. Untuk sementara waktu, aku tidak terlalu memfokuskan diri pada penelitian serta kegiatan mengajarku di kampus. Aku mengerjakan sesuatu yang tidak terlalu membuatku banyak berpikir. Seperti membaut lagu dan mengerjakan buku baruku selanjutnya. Mengerjakan dua hal tadi membuat tubuh dan otakku terasa rilek. Tentu itu hal yang baik pula bagi calon bayiku.


Aku menepuk-nepuk perutku pelan lalu meraih pakaianku yang tergantung di punggung kursi. Mengenakannya lalu memoles wajahku dengan riasan tipis sebelum akhirnya mengendarai mobilku sendiri menuju kantor penerbit. Hari ini aku memiliki rapat kecil terkait perilisan buku terbaruku.


Setelah memarkirkan mobil di parkiran kantor penerbit, aku membawa tas tangan besertaku lalu melangkah masuk ke dalam gedung. Seorang resepsionist mengarahkanku ke lokasi rapat dan memintaku untuk duduk di ruang tunggu. Sembari menunggu, seorang wanita bersama pria datang dan duduk bersamaku di ruang tunggu. Dia duduk di hadapanku dan tersenyum tipis. Aku mengamati wajah si wanita yang tampak familiar tersebut lalu pada pria berwajah sangar yang duduk di sampingnya. Apa-apaan dengan wajah sangarnya itu?


"Aku sudah katakan kau harusnya tinggal bersama anak-anak," gerutu si wanita itu dan aku menyimpulkan bahwa pria berwajah sangar dan tak ramah tersebut adalah suaminya.


"Ayah dan Ibu sudah menjaga mereka, Em.."


"Huh.. Apa yang akan kau lakukan di sini? Rapatnya bisa memakan waktu satu jam lebih.."


Pria itu melirik sekilas ke arahku lalu menoleh lagi pada isterinya, "Aku akan menemanimu.."


Ahh.. Tipe suami yang posesif. Kuamati mereka beberapa saat dan wanita bernama 'Em' itu menoleh ke arahku lalu tersenyum manis. Dia cantik dan nampaknya juga ramah sekali.


"Menunggu juga?" tanyanya dengan suara lembut dan aku mengangguk kecil. Kuamati dia lebih lama lagi dan mataku terbuka lebar begitu mengingat siapa sosok wanita tersebut.


"Emilya Smith? Penulis novel X?" tanyaku dengan senyum sumringah.


Emilya tersenyum dan mengangguk kecil. Aku dengan cepat berdiri untuk berjabat tangan dengannya.


"Cassandra O'Connel.."


"Emilya Smith."


"Cassandra O'Connel,"


"Harry Smith.."


Aku menjabat tangan suaminya yang masih berwajah sangar sebelum akhirnya kembali ke kursiku setelah berjabat tangan dengannya dan menatap Emilya lagi. Oh my.. Dia seorang penulis hebat yang handal dan aku sudah membaca seluruh novel yang dia tulis. Novel yang memiliki kisah unik yang dikemas secara apik.


"Aku sudah membaca seluruh ceritamu.. Senang bertemu denganmu,"


"Well... Aku juga sudah membaca buku biografi milikmu..."


"Apa? Kau membaca bukuku? Sungguh?" suara penuh antusias tidak bisa kutahan mengetahui fakta tersebut, "Kau mengenalku?"


"Yeah.. Aku suka membahas musik dan bukumu benar-benar memberiku wawasan baru tentang musik. Aku juga mendengar beberapa lagu yang kau ciptakan.."


"Wow.. Aku kehilangan kata-kata sendiri.." ujarku, "Thank you.. Aku benar-benar menunggu perilisan bukumu yang baru,"


"Well.. Aku memang tengah mempersiapkan perilisan buku baruku.."


"Mrs. O'Connel?" seseorang dari balik pintu muncul dan mengalihkan perhatian kami bertiga. Aku menoleh ke arah sumber suara dan menemukan wanita berambut pirang yang disanggul berdiri di sana.


"Yah?"


"Mari kita mulai rapatnya, Mam," dia beralih pada Emilya, "Mrs. Smith.. Anda bisa masuk ke ruang di sebelah ini untuk rapat Anda."


Aku berdiri diikuti oleh pasangan Smith.


"Senang bertemu denganmu," ujarku seraya merogoh kartu namaku dari tas, "Kuharap kita bisa bertemu dan berbincang lagi.."


"Oh.. Sure," Emilya menerima kartu nama lalu menjabat tanganku, "Senang berjumpa denganmu juga, Cassandra..."


"Bye."


"Bye.."


Kami masing-masing membalikkan tubuh menuju arah yang berbeda ke ruang rapat dan tidak sengaja, aku mendengar perbincangan mereka.


"Kenapa kau memasang wajah tak ramah seperti itu, Harry?"


"Aku hanya bisa menunjukkan wajah ramahku padamu, Em.."


Aku terkekeh dan menoleh ke belakang untuk menoleh mereka yang berjalan saling beriringan di lorong. Tangan kanan Harry melingkar di pinggul Emilya dan tangannya yang satu memegang tas tangan Emilya. Aku menoleh lagi ke arah depan dan kembali melangkahkan kakiku sembari memikirkan kedua sejoli tersebut. Well.. Walaupun berwajah sangar dan tidak ramah, Harry benar-benar memperlakukan isterinya seperti ratu.


"Sama seperti Christov tapi dengan versi ramah.."


****


Setelah selesai dengan urusan buku, aku menuju studio perekaman milikku. Duduk dan melihat sosok wanita matang berusia 39 tahun tengah memainkan piano dengan sangat indah. Matanya tertutup untuk menikmati setiap lantunan melodi yang lahir dari jemarinya yang menari-nari di atas tuts-tuts. Menekan setiap tuts tanpa keraguan seolah setiap jemarinya sudah mengenal tempat setiap tuts piano.


Aku tidak menyangka bisa mengerjakan proyekku selanjutnya bersama pianist profesional yang sangat terkenal. Kenny Sharp. Dulu aku ingat jelas menulis essay tentang Kenny sebagai tugas kuliahku dan sekarang, aku bekerja sama dengannya untuk sebuah proyek.


Kulirik Scout Sharp, suami Kenny yang duduk tidak jauh dariku. Ikut menatap isterinya dengan tatapan penuh cinta.  Tidak bisa kupungkiri bahwa Scout jauh lebih tampan dibandingkan Christov dan juga jauh lebih kaya tentunya. Well.. Kedua sama-sama tampan, tapi Scout... Entahlah.. Dia memiliki aura kuat yang mendominasi. Perawakannya dingin dan keras, tetapi sikap dinginnya itu akan mencair begitu saja jika sudah menyangkut tentang isterinya.


Terkadang aku tidak paham mengapa dua orang yang memiliki kepribadian yang begitu berbeda bisa bertemu dan berjodoh. Terkadang, selucu itu takdir bekerja.


Kenny selesai dengan pianonya dan Scout buru-buru berjalan menghampiri isterinya tersebut. Dia membantu Kenny berdiri dari duduknya. Scout nampak membisikkan sesuatu di telinga Kenny hingga membuat wajahnya memerah hebat dan Scout tersenyum miring.


Aku melipat bibirku dan bertatapan dengan para pekerjaku yang lain dengan canggung. Kami jelas tahu apa yang baru saja Scout bisikkan pada kenny hingga membuat wajahnya memerah seperti itu. Usia pernikahan mereka sudah lebih 15 tahun dan keduanya masih tetap seperti pasangan baru yang dimabuk cinta.


Mereka berdua berjalan beriringan ke arahku dan aku menunjukkan senyum profesionalku pada mereka.


"Benar-benar permainan yang hebat, Mrs. Sharp.." ucapku tulus.


Dia tersenyum dan mau tak mau aku terpesona dengan senyuman Kenny. Bagaimana bisa dia sangat cantik?! Jika aku seorang pria, aku pasti sudah jatuh cinta dan tergila-gila pada Kenny.


"Sudah aku katakan panggil aku Kenny saja,"


Dia juga sangat ramah! Argh.. begitu sempurna.


"Kita akan melakukan sesi perekaman mulai minggu depan di hari dan waktu yang sama.."


"Hmm.. Begitu menyenangkan mengerjakan proyek bersamamu, Cassie. Kau benar-benar seorang produser musik yang cemerlang.."


"Thank you.. Jika tidak keberatan, kalian bisa bergabung bersama kami untuk menikmati makan siang bersama," tawarku dan wajah Kenny tiba-tiba memerah lagi. Mataku dengan cepat melirik ke arah tangan Scout yang melingkar di pinggulnya. Pria itu tampak me-re-mas lembut pinggul Kenny seolah memberi isyarat penolakan akan ajakanku.


"Well.. Terimakasih atas tawarannya, Cassie. Namun, aku dengan Scout harus segera pulang karena ketiga anak kami sudah menunggu.."


"That's okay.."


"Yeha.. Maafkan aku, tapi memiliki tiga anak kembar dalam masa pubertas benar-benar menyita banyak waktu. Kuharap kita bisa menikmati makan siang bersama di lain waktu, Cassie."


"Tentu," aku beralih pada Scout, "Senang bertemu Anda juga.."


Dia mengangguk kecil dan setelah mengucapkan kata perpisahan, keduanya beralih dari studio. Setelah kepergian mereka, ponselku berdering dan para pekerjaku mulai bergosip tentang Scout dan Kenny. Aku berjalan menjauh dan menerima panggilan tersebut.


"Hai, babe.." ucapku dengan suara senang.


"Kau terdengar sangat bahagia? Sudah selesai bekerja?"


"Sudah.."


"Lapar?"


"Hm.. Sangat lapar.."


Christov tertawa lembut dari seberang.


"Kalau begitu ayo makan siang bersama.."


"Boleh.. Di mana? Aku akan datang.."


"Tidak perlu. Kita bisa berangkat bersama. Aku sudah ada di tempat studio perekamanmu.."


"Apa?"


Aku membuka pintu studio perekaman dan menemukan Christov di sana. Sambungan kuputuskan dan buru-buru memeluknya. Melingkarkan kedua tangan dan kakiku pada sekitar tubuhnya lalu menghirup aroma tubuhnya dalam-dalam. Dia tertawa dan tawanya tersebut begitu renyah.


"Tumben.. Kenapa kau tiba-tiba seperti ini?"


"Aku dan calon bayi kita merindukanmu.. Sangat-sangat merindukanmu.."


Christov tertawa lagi, "Padahal kita masih bertemu pagi ini..."


"Aku bertemu banyak pasangan hari ini dan itu membuatku merindukanmu.."


"Pasangan?"


"Hm.. Pasangan yang sempurna.."


"Cassie.. Kau tidak mau melepaskan pelukanmu, sayang? Pekerjamu bisa saja muncul."


"Aku tidak peduli.. Aku hanya ingin seperti ini sejenak."


Christov terkekeh lalu menopang tubuhku dengan menaruh kedua tangannya pada bo-kongku.


"Sangat manja.."


"Yah.. Aku memang manja.."


Kami mungkin tidak sesempurna pasangan lain yang kutemui hari ini. Namun, bersama Christov membuatku hidupku menjadi sangat sempurna dan melengkapi setiap kekuranganku. Aku menyayanginya. Benar-benar sangat sayang dan aku akan tetap menyayanginya hingga akhir hayatku.


****


Chapter ini dikhususkan untuk beberapa karakter utama di novel aku. Sapa tahu kalian rindu.. Yang tidak mengenal siapa orang-orang baru di atas, boleh baca tiga novel aku sebelumnya yang sudah tamat. Senin nanti mungkin aku cuman update sedikit ajah baru seninnya lagi udah epilog.


Oh iyah.. Kalian ada seputar pertanyaan tentang author atau tentang novel, boleh di drop di kolom komentar. Nanti bakal aku jawab sebisa mungkin setelah novel ini selesai. Bye. I love you.