Remember Me

Remember Me
My Mistake...



Happy Reading


***


"Kenapa wajahmu murung seperti itu?" tanya Christina saat masuk ke dalam apartemen Christov untuk menjemput anjing-anjingnya pada hari minggu.


"Tidak kenapa.." jawab Christov singkat dan berjalan masuk untuk mengambil koper Nugget dan Salmon, "Kau ingin langsung pulang atau minum dulu?" tanya dia sebagai basa-basi.


Christina berdecak lidah, "Aku tahu kau menanyakan itu hanya untuk basa-basi saja. Sejujurnya kau ingin aku pergi secepat mungkin, bukan?"


Christov menarik dua koper itu menuju pintu, "Terimakasih sudah paham," ucapnya pelan.


"Kau tampak bahagia dua hari yang lalu. Kenapa sekarang berubah menjadi masam?" Christina bertanya seraya berjalan di sisi tubuh Christov. Salmon dan Nugget berada di depan sebagai pemimpin.


"Kenapa? Apa Ibu menghubungimu dan memberimu waktu yang berat lagi?"


Keduanya masuk ke dalam lift dan Christov masih diam, dia tidak harus berkata apa pada saudarinya tersebut. Pikirannya saat ini benar-benar kusut. Rasa bahagia yang pernah dia rasakan selama satu bulan belakangan ini hilang begitu saja.


"Hei.." Christina memukul lengannya pelan saat pintu lift sudah terbuka, "Kau kurang tidur atau sedang sakit? Wajahmu tampak pucat. Katakan sesuatu.."


"Christina.." panggil Christov seraya menarik masuk kedua koper ke dalam lift, "Apa kau berada di pihakku atau Ibu?" tanya dia tanpa melihat saudarinya tersebut.


"Aku? Tumben kau bertanya hal seperti itu,"


Mereka berhenti di depan pintu lobi dan Christov merogoh kartu akses apartemen di sakunya. Lagi-lagi, kartu sialan itu membawa kenangan yang tidak seharusnya. Jahat sekali aku. Pikir Christov terkait hal yang terjadi kemarin malam.


"Aku hanya ingin tahu,"


Aku hanya ingin tahu berapa banyak yang ada di pihakku sekarang. Sambungnya dalam hati. Kini, Cassie sudah berpaling.. Ah, sejujurnya, dialah yang berpaling terlebih dahulu dan bukannya Cassie.


"Aku tidak pernah berada di pihak siapa pun. Tidak Ibu. Tidak ayah dan tidak dirimu karena aku berpihak padaku sendiri,"


Keduanya berdiri di teras untuk melanjutkan pembicaraan mereka, tapi Christov sendiri sudah kehabisan kata-kata. Huh.. Saat ini dia butuh seseorang untuk mendengarnya keluh kesahnya, tapi sayangnya dia tidak punya siapa pun.


"Di dunia yang kejam ini, kau harus berpihak pada dirimu sendiri. Jangan terlalu berpihak pada orang lain, dibandingkan pada dirimu sendiri karena jika itu terjadi, hanya luka yang akan kau terima pada akhirnya,"


Christov menarik napas, "Aku memutuskan hubungan abu-abuku dengan Clara beberapa waktu lalu dan Ibu benar-benar marah," sejujurnya, bukan inilah masalah utama yang tengah membebani Christov saat ini. Namun, ingin rasanya dia membagikan beban dalam dirinya dengan membicarakannya pada orang lain.


"Kau yang memutuskannya?"


Dia mengangguk, "Yah,"


"Secara sepihak?"


"Begitulah," jawabnya singkat dan menolak menceritakan lebih lanjut tentang jawaban Clara.


"Baguslah. Artinya kau berpihak padamu sendiri karena mengikuti keinginanmu dan bukannya keinginan Ibu. Sedari awal aku sudah lihat jika kau tidak akan pernah menemukan kecocokan dengan Clara. Wanita itu sangat kaku dan kau pun begitu kaku. Apa itu yang mengganggumu? Kau menyesal memutuskannya?"


Christov menggeleng, "Bukan itu. Hanya saja, aku merasa Ibu tidak akan berhenti sampai di sana."


Christina menggeleng kecil dan menatap masa pada dia, "Itulah kenapa jangan terlalu baik," katanya dengan nada mencemooh, "Jika kau tidak mengubah sikapmu itu dan tak kunjung berpihak pada dirimu sendiri, kau akan tetap hidup dalam bayang-bayang orang sial seperti Ibu,"


Christover tidak terkejut dengan kata umpatan Christina yang ditujukan pada Ibunya. Saudarinya itu memang memiliki watak yang sangat keras, beda dengan dirinya. Tidak ada yang boleh memerintahkan dia apa yang harus dia lakukan dalam hidupnya, bahkan orang tua mereka.


Christina pun pernah di posisinya, dijodohkan. Tentu saja dia menolak, tapi Theresa, Ibu mereka tetap kekeuh. Namun, bukan Christina namanya jika saudarinya itu tidak bertindak cepat. Saudarinya tersebut mulai melakukan keonaran di sana sini hingga membuat nama keluarga mereka tercoreng dan yang terburuk adalah Christina menampar Ibu dari calon pasangan yang dijodohkan padanya. Christov tidak tahu jelas bagaimana kronologi penamparan itu terjadi, tapi sejak itu, Theresa tidak berani mengganggu Christina lagi. Terkadang, Christov berpikir bahwa saudarinya itu memiliki gangguan mental, berupa gejala sosiopath.


"Kejar apa yang kau inginkan dan singkirkan orang-orang yang menghalangi jalanmu, tak terkecuali dengan Ibu," kata Christina dengan nada santai, "Singkirkan dengan langkah tegas yang membuat mereka berhenti mengusik kehidupanmu,"


Huh.. Sudah ada dua wanita yang menyuruhnya untuk bersikap tegas. Betapa anehnya dia mendapat nasihat itu dari wanita.


"Tidak bisakah kau berada di pihakku, Christina? Aku berpikir tak akan sanggup melakukan itu sendirian,"


"Ckckc.." wanita itu berdecak lidah, "Biasakan dirimu untuk sendirian, Christov. Tidak semua orang akan selalu berpihak padamu karena pada akhirnya mereka akan berpaling,"


Mendadak, Christov merasakan deja-vu. Perkataan saudarinya tersebut mirip dengan Cassie.


"Kalau begitu aku akan pergi.." Christina menuruni anak tangga dan memasukkan kedua anjing ke dalam mobil, sedangkan Christov memasukkan kedua koper ke dalam bagasi mobil.


"Thank you, Christov, "ucap Christina dari dalam mobil, "Pikirkan baik-baik perkataanku. Bye..."


"Bye.." katanya pelan dan berlalu dari teras menuju apartemennya. Dia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana dan berpikir. Berpikir terus.


Tegas.. Bagaimana bersikap tegas? Pikirnya. Apa tindakanku kemarin termasuk tegas? Huh.. Pusing. Dia memutar kepalanya yang mendadak berat sekali. Teman... Aku butuh teman, tapi aku sudah kehilangan satu teman yang berarti.


****


Minggu, Senin, Selasa, dan sekarang hari Rabu. Sudah berjalan empat hari sejak pertemuan terakhirnya dengan Cassie. Dia tidak kunjung mendapat pesan atau panggilan apa pun dari wanita itu, padahal Cassie selalu memanggil dan mengiriminya pesan terlebih dahulu padanya.


Huh.. Dia benar-benar mengerti maksud kenapa aku meminta kartu akses apartemenku. Pikir Christov. Cassie paham dan sekarang dia benar-benar pergi. Christov berpikir, jika seandainya Cassie memanggil atau mengiriminya pesan, dia mau kembali seperti dulu lagi. Sialnya, Cassie benar-benar tak kunjung menghubunginya.


Sudah selesai. Argh.. Apa aku menghubunginya terlebih dahulu? Dia menggeleng, menolak pemikirannya sendiri. Jika itu terjadi, betapa tidak konsistennya diriku. Oh my... Kedua tangannya mengacak-acak rambutnya dengan kesal karena kepalanya terus dipenuhi oleh Cassie.


"Pasti saat ini dia tengah makan siang," bisiknya, "Apa menu makan siangnya hari ini?"


Jari tangan kanannya mengetuk-etuk meja kerjanya dengan gelisah. Satu tangannya yang lain berada pada dagu. Matanya menatap lurus ke arah ponselnya.


Ayolah... Pintanya. Kumohon.. Sekali saja.. Hubungi aku, Cassie. Kumohon...


"Ayolah.." desaknya pada udara kosong, "Arrghh..." dengan kesal, Christov menyambar ponsel itu dan bersiap untuk menghubungi Cassie. Tidak tahan. Dia benar-benar tidak tahan lagi untuk mendengar suara Cassie. Namun, aksinya tersebut harus dia urungkan saat mendengar ketukan halus di pintu.


Christov menatap tajam ke arah pintu dan merasa kesal. Siapa yang mengganggunya pada momen-momen genting seperti ini?!


"Selamat siang, Sir," katanya setelah berdiri di seberang meja dan menaruh map merah di meja Christov, "Ini adalah kontrak kerja proyek WY dari calon pelanggan yang anda minta sebelumnya, Sir. Pihak proyek WY berharap menerima jawaban anda minggu ini.."


Matanya menatap map itu dan mendadak merasakan lelah luar biasa. Yah... Proyek yang satu ini menawarkan bayaran yang fantastis, tapi tidak dengan beban kerjanya. Christov tidak tahu bagaimana nasibnya dan pekerjanya jika menerima proyek ini. Mereka pasti bisa menyelesaikannya dengan baik dan sempurna, tapi kondisi mereka setelah proyek inilah yang harus dipertanyakan. Pasti kelelahan secara mental dan fisik.


"Kemudian. Ada dua undangan yang datang. Nampaknya undangan ini sudah sampai sejak Rabu lalu, tapi penjaga gedung lupa memberikannya pada kantor kita, Sir."


Dia menarik dan memegang kedua undangan tersebut. Undangan yang satu adalah undangan pameran penggalangan dana yang dilaksanakan pada hari Sabtu, sedangkan yang satunya adalah undangan pesta ulang tahun di hari Minggu dari seseorang yang namanya cukup familiar pada ingatan Christov. Mungkin salah satu dari mantan pelanggannya.


"Apakah mungkin kau bisa mendapatkan daftar tamu undangan dari kedua acara ini?"


Elisabeth terdiam sejenak sebelum akhirnya membuka mulut untuk menjawab Christov, "Saya tidak yakin, Sir. Namun, saya bisa mencobanya dengan mengirim email pada pihak acara terkait daftar tamu undangan,"


"Terimakasih,"


"Kalau begitu, saya permisi, Sir.." Elisabeth beralih dari sana dan segera Christov mendesah lega. Disandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Wajah penatnya berubah sedikit cerah.


Astaga. Kesempatan.. Ini merupakan kesempatan. Pikirnya. Jika Cassie ada di daftar nama undangan, Christov tidak akan ragu datang juga. Persetan dengan pekerjaannya yang sudah menumpuk. Dia akan menyelesaikannya semua pekerjannya sebelum waktu pesta itu di mulai.


"Kuharap kau datang, Cassie," bisiknya.  Segera dia berdiri dari duduknya saat melihat jam makan siang sudah berakhir. Para pekerjanya mungkin sudah kembali.


"Untuk saat, mari kita fokus kerja, Christov,"


****


Dia datang!


Jantung Christov berpacu kuat saat akhirnya dia memeriksa email dari Elisabeth yang baru sampai pukul tujuh malam di hari Jumat. Nama Cassie tertera di daftar tamu kedua undangan tersebut. Ditaruh ponsel di atas meja lalu menutupi mulutnya dengan kedua tangan. Dia mulai berjalan mondar-mandir di lantai dapur. Perasaan bahagia, gugup, rasa semangat, dan lainnya bercampur menjadi satu.


"Tenangkan dirimu, Connel.." ucapnya pelan pada dirinya sendiri. Saat ini, dia bisa mendengar jelas suara degupan jantungnya yang keras. Dia berhenti berjalan mondar-mandir dan kembali memeriksa ponselnya untuk memastikan apa yang dia lihat tadi adalah nyata.


"Ini nyata.. Namanya ada di sana."


Namun, belum tentu dia akan datang. Pikirnya dengan hati kecut. Digelengkan kepalanya kencang, menolak memikirkan hal negatif yang membuat dia kehilangan semangat.


"Positif. Mari berpikir positif dan anggap saja dia datang. Cassie itu suka pesta, apalagi pesta orang kaya yang menyedikan alkohol mahal gratis," ucap dia untuk menghibur dirinya sendiri.


Sekarang mari berpikir...


"Apa yang harus kupakai?" tanya dia dan menatap kosong ke arah ruang tamu. Cassie bilang cara berpakaiannya cukup membosankan dan sangat standart. Yah.. Pakaiannya hanyalah seputaran kemeja, kaos, dan kaos berkerah yang dipadu dengan celana jeans, celana tissue, dan celana khaki.


Apakah dia perlu membeli kemeja atau setelan baru?


"Tapi Cassie pernah berkata jika dia suka cara berpakaianku yang selalu rapi..." dia mengangguk kecil atas pembelaannya pada cara dia berpakaian.


"Pakaian.." gumamnya lagi dan tangan segera menyambar ponsel miliknya, "Aku perlu mengecek pakaianku untuk besok..." Christov beralih dari dapur dengan berlari kecil menuju kamarnya. Pikirannya saat ini benar-benar dipenuhi oleh bagaimana cara untuk membuat Cassie terkesan.


Ayo, Connel.. Kita harus membuat Cassie kembali pada kita.


***


Setelah berbelanja pakaian dan membongkar isi lemarinya seharian penuh, Christov akhirnya hanya memakai kemeja cream yang seperempat lengannya dilipat dan dipadukan dengan celana hitam lamanya. Ingin rasanya memakai setelan jas, tapi dia takut pakaian seperti itu akan nampak berlebihan hanya untuk menghadiri acara pameran.


"Apa aku perlu pulang dan ganti baju lagi?" tanya dia lagi untuk kesekian kalinya. Namun, bayangan lalu lintas yang macet dan padat membuat dia mengurungkan niatnya.


"Masa bodoh.." kata dia lagi. Dengan tekad kuat, Christov memakaikan jas semi jaket berwarna hitam. Di masukkan pula kunci mobil serta ponsel ke dalam saku. Tangannya di arahkan pada kaca spion untuk berkaca satu kali lagi.


Dia suka rambutku.. Pikir dia untuk menyemangati dirinya sendiri.


"Mari kita pergi.." dia akhirnya keluar dari mobil dan berjalan di lahan parkiran menuju pintu masuk gedung tempat pameran di langsungkan. Jantungnya berdegup kencang. Ada rasa antusias, tapi rasa panik juga menghantuinya dari belakang. Bagaimana jika.. Bagaimana jika dia tidak datang? Bagaimana jika dia datang dan Christov tidak tahu harus berkata apa-apa?


"Mari kita lakukan seperti yang sudah direncanakan," diskusinya pada diri sendiri dengan tetap melangkahkan kaki menuju gedung pameran, "Katakan hai, ajak dia makan malam, dan bicarakan... Hanya itu. Sapa, makan, dan bicara. Okay, Christov... Kita pasti bisa melakukannya.."


"Boleh saya lihat kartu undangan anda?" tanya seorang penerima tamu saat dia akhirnya sampai di teras gedung. Dirogoh sakunya dan memberikan undangan tersebut.


"Okay, Sir. Thank you.. Ini nomor urut kursi dan nomor urut lelang anda," Christov menerima semacam tongkat tipis yang di atasnya ditempelkan kertas berisi urutan 093.


"Okay. Thank you.."


Ditarik nafas panjang dan dengan gagah-berani, Christov melangkahkan kakinya masuk ke dalam gedung pameran. Pintu dibukakan oleh pekerja dan rasa panik menghampiri dirinya. Membuat perutnya terasa melilit. Astaga.. Perasaan gugup seperti ini tidak pernah dirasakan Christov seumur hidupnya.


Berjalan masuk dan mulai berbaur dengan orang-orang yang lalu lalang. Matanya tidak langsung melihat beberapa karya yang dipamerkan, tapi mencari sosok wanita tinggi jakung di antara lautan manusia. Di mana? Di mana dia? Dengan langkah alami dan sesekali melihat beberapa benda yang di pameran itu, matanya tetap melirik ke sana- ke mari seperti pencuri.


Kedua indera pendengarannya ditajamkan untuk mendengar suara Cassie atau seseorang yang membicarakan tentang wanita itu. Namun, telinganya hanyalah mendengar suara bising dari orang-orang yang berbincang-bincang. Dilangkahkan kakinya menjauh dari orang-orang itu dan mendadak berhenti saat melihat Cassie muncul dari balik kerumunan yang berada tidak jauh darinya.


Berdiri dengan grupnya di depan sebuah gaun dalam etalase kaca yang dipamerkan dalam pameran ini. Dia memakai gaun biru berbahan lace sebetis yang berlengan panjang. Rambutnya coklatnya digerai dan wajahnya tampak cerah dalam riasan tipis.


Christov merasakan rasa bahagia membuncah dalam dirinya seolah keberuntungan berpihak pada dirinya saat ini karena Cassie datang. Namun, rasa bahagia yang membuatnya melayang itu mendadak berhenti saat melihat seorang pria berkulit gelap muncul dari samping tubuh Cassie. Mereka tertawa bahagia... Seluruh harapan dan rasa bahagia itu hancur dan membuatnya berhenti melayang. Menjatuhkannya pada titik terendah di muka bumi.


Tubuhnya membeku saat menyadari dia terjatuh ke titik tersebut dan bersamaan dengan itu pula, Cassie menoleh ke arahnya seolah sadar tengah ditatapi. Dia terkejut ketika pandangan mereka bertemu dan Christov kembali merasakan deja-vu saat wanita tersenyum miring. Tatapan Christov turun ke bawah ketika melihat lengan wanita itu bergerak untuk menggandeng pria berkulit gelap itu dan saat dia melihat kembali ke arah wajah Cassie, dia sudah memalingkan wajah dengan senyuman miring itu.


Huh? Dia tampak bahagia tanpaku dan secepat itu.. Secepat itu Cassie berpaling dan mencari yang lain?


***


Miss Foxxy


Silakan ikutan and good luck 😉