Remember Me

Remember Me
Clara Murray



Happy Reading


***


"Halo," balas Christov dengan suara tajam saat dia sudah masuk ke kamar mandi. Diambilnya posisi duduk di atas closet.


"Hai.. Christov. Bagaimana kabarmu?"


Ditariknya napas panjang dan mengembuskannya perlahan untuk menahan diri agar tidak meledak.


"Baik..." semuanya baik-baik saja hingga kau memanggilku. Lanjut CHristov dalam pikirannya.


"Uhm.. Kau tahu.. Ibumu memaksaku lagi datang ke tempatmu. Jadi, aku tidak pilihan selain datang ke tempatmu."


Lagi-lagi alasan klasik seperti ini.


"Kau ada di mana?" tanya Christov dengan nada biasa. Matanya menatap ke arah pintu, takut jika Cassie muncul sewaktu-waktu.


"Aku hendak berangkat ke tempatmu,"


Dia harus menyelesaikan ini sesegera mungkin. Sedari awal, Christov sudah menunjukkan gestur ketidaktertarikannya pada Clara. Namun, sayangnya Clara seolah tidak paham atau malah pura-pura tidak paham. Seharusnya, wanita sepintar Clara mampu membaca gestur Christov.


Dia selalu berpikir bahwa wanita itu akan mundur perlahan. Nyatanya tidak, malah Clara semakin kekeuh. Tidak bisa dipungkiri bahwa ini adalah kesalahannya juga karena tidak mengatakannya secara tegas dan langsung pada Clara. Ingatannya kembali membawanya akan perbincangannya dengan Cassie yang mengatakan bahwa dia harus jujur dan tegas akan perasaannya sendiri.


"Kalau begitu kau mau bertemu di luar saja? Kebetulan aku sedang tidak di apartemenku karena ada urusan dengan pekerjaan,"


"Oh? Benarkah? Kalau begitu kita bisa makan siang bersama.."


Christov ingin menolak, tapi dia tidak sanggup mengatakannya. Tidak tegaan dan terlalu baik. Itulah Christov.


"Kau bisa mengirimkan alamat tempatnya? Aku akan berada di sana dalam waktu 20 menit."


"Okay.. See you, Christov."


"Bye."


Christov bangkit dari duduknya dan memasukkan ponsel ke dalam saku celananya. Dia mendesah lega. Setidaknya, Clara tidak datang ke tempatnya. Dia tidak bisa bayangkan apa yang akan terjadi jika seandainya Clara datang di saat Cassie masih ada di apartemennya. Namun, di sisi lain dia juga merasa kesal karena Christov tidak bisa melanjutkan kegiatan yang tertunda tadi bersama Cassie. Dia membuka pintu kamar mandi dan melangkah keluar dengan langkah lebar. Christov berjalan menuju dapur, tapi dia tidak menemukan Cassie di sana.


"Cassie?" panggilnya seraya berjalan meninggalkan dapur.


"Yah?"


Christov melihat kepala Cassie muncul dari balik lengan sofa. Wanita itu tengah berbaring di atas sofa seraya memainkan ponselnya.


"Ada masalah yah?" Tanya Cassie sembari bangkit untuk mengambil posisi duduk.


Christov memasukkan kedua tangannya dalam saku celana dan tersenyum kaku.


"Begitulah..."


"Lalu?"


"Nampaknya aku harus pergi keluar untuk mengurusnya."


"Kalau begitu, pergilah.." kata Cassie santai.


"Bagaimana denganmu?"


"Aku bisa pulang sekarang jika kau mau,"


Christov menggeleng, "Bukan.. Bukan maksudku begitu. Kau ingin di sini atau pulang tidak masalah bagiku. Maksudku..." dia memiringkan kepalanya, mencoba memilih kata-kata yang pas untuk mengungkapkan isi pikirannya. Namun, tidak ada satu pun kata yang terpikirkannya.


"Aku paham maksudmu, Christov.  Pergilah. Aku akan menunggumu di sini,"


Wajah Christov berubah cerah, "Serius? Kau tidak akan pergi sampai aku datang?"


"Yeah.." Cassie menyipitkan mata, "Di tambah, banyak barang-barang yang bisa kucuri di sini,"


Christov berjalan ke arahnya dan duduk di samping Cassie. Dia tidak peduli dengan kalimat terakhir yang diucapkan Cassie.


"Berjanjilah kau akan di sini saat aku pulang nanti."


Cassie tertawa kecil, "Kau kenapa, sih? Iyah.. Yeah.. Aku akan di sini.. Aku akan melakukannya."


"Aku serius..."


"Dasar.. Aku serius. Kau mau melakukan pinky-promise agar kau percaya?"


"Kalau begitu, mari kita lakukan," Christov mengarahkan jari kelingking kanannya pada Cassie.


"Huh?" Cassie menggeleng-gelengkan kecil kepalanya, "Apa kau setakut itu orang berpaling dan pergi darimu, Christov?"


Cassie tersenyum, "Aku berjanji, big man*.. Sekarang, pergilah dan urus masalahmu,"


(*Pria besar)


Christov mengecup bibir Cassie sekilas kemudian melepas tautan jari mereka, "Okay.."


"Eww.. Mulutmu bau susu," Cassie mendorong tubuh Christov dengan mulut dimanyunkan.


"Haha.. Kau terlihat manis jika memanyunkan bibir seperti itu," kata Christov seraya mengusap-usap pucuk kepala Cassie, "Kalau begitu, aku bersiap-siap pergi dulu,"


Christov bangkit dari duduknya dan pergi menuju ruang kamarnya. Di sana, Cassie menatap punggung Christov. Ditarik napasnya panjang dan mengembuskannya perlahan.


"Kacau.." gumamnya pelan, "Semuanya akan kacau.."


****


"Aku senang bisa menikmati makan siang bersamamu, Christov.." kata Clara dengan suara senang. Keduanya tengah menikmati makan siang di salah satu restoran.


Christov tersenyum kecil dan kembali memotong steak yang dia pesan. Tidak sedikit pun Christov fokus pada makanan dan percakapannya dengan Clara. Kepalanya dipenuhi kata-kata perpisahan seperti apa yang harus dikatakannya pada Clara.


Well. Perpisahan? Itu terdengar abstrak untuk Christov. Mereka memulai hubungan saja tidak. Huh... Ini terasa aneh. Pikir Christov. Bagaimana bisa dia mengakhiri hubungan yang bahkan tidak ada? Abstrak sekali.


"Apa makanannya tidak enak, Christov?" suara Clara menyadarkan dia dari lamunannya. Christov tersenyum tipis.


"Enak. Aku hanya sudah merasa kenyang,"


"Kalau begitu kau tidak perlu memaksakan diri untuk memakannya,"


"Akan akan memakannya. Membuang makanan itu tidak baik..."


"Yah..." Clara tertawa canggung, "Kau benar.."


Christov memotong steak dalam ukuran besar dan kemudian memakannya. Uhm.. Jika datang dengan Cassie untuk makan steak nampaknya akan lebih menyenangkan. Batinnya.


"Restoran ini mempunyai penutup makanan untuk membuat perutmu terasa nyaman jika kau terlalu kenyang nantinya. Kau mau aku memesannya sekarang?"


Christov menggeleng, "Tidak.. Tidak perlu. Ini saja sudah cukup,"


"Oh.. Okay.." Clara mengangguk kecil dengan senyum kaku.


"Sejujurnya, aku mau bertemu denganmu karena ingin membicarakan sesuatu,"


Tubuh Clara membeku dalam waktu sepersekian detik.


"Kita bisa membicarakannya setelah selesai makan,"


"Steak-mu bahkan hanya berkurang sedikit saja sejak tadi,"


Mata Clara membandingkan piringnya yang masih penuh dengan piring Christov yang sudah hampir bersih.


"Kurasa, kita tidak perlu lagi saling berpura-pura seolah tidak mengetahui apa yang terjadi antara kita. Tidak ada kecocokan antara kita, Clara dan aku yakin wanita sepintarmu paham akan itu,"


Clara menarik napas dan menaruh garpu serta pisaunya di atas piringnya. Dengan gaya anggun, Clara mengelap sudut bibirnya dengan tissue. kemudian, dia menatap Christov dengan tatapan tanpa emosi. Begitu datar dan Christov tidak yakin apa yang tengah dipikirkan wanita itu.


"Orangtua kitalah yang berusaha menjodohkan kita berdua. Awalnya, aku melakukannya karena berpikir ini bisa menjadi kesempatan untukku mendapatkan kekasih dan membangun hubungan denganmu, nyatanya tidak. Sekarang, aku tidak ingin lagi melakukan hal seperti ini dan berpura-pura memiliki waktu yang menyenangkan denganmu di hadapan orangtuaku dan orangtuamu."


"Kenapa kau hanya memikirkan sudut pandanganmu sendiri?" balas Clara, "Aku menikmati waktu bersamamu, Christov..."


"Tapi, tidak denganku."


"Kalau begitu, tunggu. Tunggu sebentar lagi hingga kau merasakan hal yang sama denganku..."


Christov menggeleng, "Tidak.. Aku tidak mau membuat seseorang menunggu tanpa kepastian. Aku tidak bisa melakukan ini denganmu, Clara. Mari berhenti dan mengatakan pada orangtua kita masing-masing bahwa kita sudah berhenti,"


"Berikan aku alasan mengapa kau ingin berhenti?


"Karena aku tidak tertarik padamu," kata-kata yang kasar itu keluar begitu saja, bahkan Christov terkejut sendiri dengan perkataanya tersebut. Sial.. Bagaimana bisa dia tidak menyaring kata-kata sendiri? Matanya menatap kaku ke arah Clara yang masih diam saja. Apa? Apa yang sedang dipikirkannya?


Clara mendadak berdiri dari duduknya, "Aku akan menganggap pembicaraan ini tidak pernah terjadi,"


"A-Apa?" Christov kini ikut berdiri dan menatap tajam Clara, "Apa maksudmu?"


"Kuharap kau tidak keberatan membayar bill makan siang kita, Christov. Sampai jumpa di lain waktu," Clara berlalu dari sana dan Christov tidak berusaha mengejar wanita itu karena tidak ingin menjadi pusat perhatian. Christov kembali duduk lalu memijat kepalanya yang terasa pening.


"Sialan.. Tidak beres.. Tidak ada yang beres," gerutunya pelan.


***


Miss Foxxy