
Happy Reading
****
"Kau berlari menggunakan sepatu itu?" tanya Christov sesaat mereka berdua turun dari mobil.
Cassie mengikut arah pandang Christov dan mengangkat kaki kirinya, "Ah.. Sepatu heels? Berlari dengan sepatu heels bukanlah masalah besar untuk wanita di saat-saat genting.."
" Apa tidak pegal? Lepas saja dan berjalan tanpa alas kaki."
"Ck.." Cassie berdecak lidah dan membungkukkan badan untuk melepas sepatu. Dia memilih melepasnya karena Christov tak akan berhenti menyuruhnya melepas heels ini. Namun, Christov dengan cepat mendahului wanita itu untuk melepas ikatan tali heels.
"Biar aku saja..." katanya dan Cassie kembali menegakkan punggungnya untuk membiarkan Christov melakukannya. Dia menatap pria itu dengan tatapan lembut.
"Kenapa kau sangat baik?"
"Okay.. Lepas," ujarnya seraya melepas heels satu per satu dari pergelangan kaki Cassie. Christov berdiri dan menegakkan kembali tubuhnya dengan satu tangan memegangi kedua heels Cassie.
"Berjalan di atas lantai yang dingin itu menenangkan. Ayo.." Christov menggandeng tangan Cassie dengan tangannya yang bebas dan kembali berjalan menuju lift.
"Apa kau yakin kepala dan punggungmu tidak sakit? Benturannya terdengar keras tadi..."
Cassie menyandarkan kepalanya pada lengan Christov dan memejamkan mata, "Sudah kubilang aku sudah pernah mengalami hal yang jauh lebih parah.."
Kapan dia berhenti mengkhawatirkan semuanya? Batin Cassie.
Keduanya melangkah ke dalam lift, "Hal parah seperti apa?" tanya Christov.
"Aku pernah bilang padamu jika aku ikut kelas beladiri boxing, bukan? Awal-awal bergabung, aku pernah mengalami cidera yang cukup parah. Aku tidak perlu menjelaskan detailnya karena itu adalah cerita masa lalu yang membosankan."
Christov mengecup pucuk kepala Cassie, "Aku suka mendengar suaramu jadi cerita apa pun akan terdengar menarik untukku. Ayo.." kata Christov dengan nada lembut dan menarik tubuh Cassie keluar dari lift lalu berjalan kembali di lorong gedung apartemen.
"Hei, Christov?"
"Yah?"
"Apa kau sudah pernah berkencan sebelumnya?"
"Pernah..."
"Berapa kali?"
"Entahlah.. Aku tak ingat.."
Cassie buru-buru membuka mata dan menarik diri untuk menjauh darinya, "Kau tak ingat? Memangnya sudah berapa banyak mantan kekasihmu hingga kau tak ingat jumlahnya?" tanya dia dengan suara syok dan itu mengundang gelak tawa dari Christov.
"Aku tidak ingat secara pasti.." kata dia lagi seraya menggesek kartu apartemen, "Aku tidak ingat karena hubungan terlama yang pernah aku jalin adalah selama tiga minggu."
Cassie melangkahkan kakinya masuk ke dalam unit apartemen CHristov dengan mulut terbuka. Dia terheran-heran dengan ucapan pria tersebut.
"Tiga minggu?" ulang Cassie dengan suara syok dan Christov mengangkat kedua bahunya.
"Uhm.. Mungkin kurang dari tiga minggu," dia menghempaskan tubuhnya ke atas sofa, diikuti oleh Cassie yang duduk di sampingnya.
"Kupikir selama ini kau pria polos nan baik. Ternyata kau seorang playboy..."
Christov tertawa kecil dan melingkarkan lengan kanannya di sekitar tubuh Cassie.
"Bukan begitu.. Hanya saja, ketika masih sekolah dulu, ada banyak wanita yang mengungkapkan perasaannya padaku dengan cara memberi banyak hadiah mahal. Aku tidak tega menolak mereka, jadi kuterima saja.."
"Huh?!" Cassie lagi-lagi menjauh untuk melihat wajah santai Christov, "Kau menerima semua gadis yang mengungkapkan perasaan padamu?" suaranya semakin meninggi.
Christov tersenyum tipis dan mengangguk kecil.
"Bagaimana bisa kau sesantai ini? Jadi bagaimana kau mengakhiri hubungan dengan mereka? Mencampakkannya?"
Christov melirik ke atas seolah-olah tengah berpikir, "Awalnya aku menolak mereka, tapi gadis-gadis itu memberi alternatif lain untuk berpacaran denganku dalam jangka waktu tertentu saja. Kupikir itu tidak akan merugikanku sama sekali dan memilih menerimanya saja. Jadi usia jalinan hubunganku hanya berkisar seminggu sampai tiga minggu sesuai perjanjian kami di awal jadian.."
"What the.." Cassie kehilangan kata-katanya sendiri mendengar cerita Christov, "Huh.. Ternyata di balik wajahmu yang manis dan ramah, tersimpan hati yang sedingin es.."
Christov menarik leher Cassie mendekat ke arah wajahnya, "Bisakah kita tidak usah membahas mereka? Bukankah kita harus melakukan hal yang lain?"
"Dan kau lebih ca-bul dari pada apa yang kupikirkan," bisik Cassie dengan senyum miring. Dia mengangkat kedua tangannya untuk meremas lembut rambut Christov, "Aku selalu iri kenapa kau punya rambut setebal ini,"
Dia memajukan kepalanya ke arah lekukan leher Cassie dan mengecup permukaan kulit wanita itu dengan lembut. Christov menghirup aroma tubuh Cassie yang begitu memabukkan. Walau sudah berkeringat seperti tadi, aroma tubuhnya masih tetap enak dihirup.
"Ah.. Aku suka aroma tubuhmu.." erangnya dengan suara rendah dan tetap meng-aromai tubuh Cassie hingga mengundang tawa geli dari wanita itu. Tawa yang terdengar bagai lantunan musik bagi Christov. Indah.. Terdengar sangat indah.
"Geli.." tawa Cassie dan dengan cepat, Christov mendorong tubuhnya ke atas sofa dalam posisi berbaring. Dia mengangkangi wanita itu pada bagian perut dengan menjaga posisi agar tidak menekan tubuh Cassie terlalu kuat dengan berat tubuhnya.
Christov tersenyum miring seraya menggosok-gosokkan telapak tangannya dalam gerakan lambat.
"Apa yang harus aku lakukan padamu, Miss De Angelis?"
Cassie tertawa kecil dan mengangkat bahunya, "Suprise me, Christov.."
(*Kejutkan aku, Christov.)
Christov melipat bibirnya, menahan diri untuk tidak tersenyum semakin lebar, "Jadi semua terserah padaku saja?"
"Mmm.." gumam Cassie
"Kalau begitu, aku ingin mengikatmu..." bisiknya dengan mata gelap, "Menutup matamu dan bercinta dengan sangat keras..."
Cassie lagi-lagi tertawa, "Setelahnya, aku akan melakukan hal yang sama padamu..."
Christov terkekeh dengan suara rendah, merasa lucu. Apakah ini semacam lelucon atau mereka berdua serius? Dia menurunkan tubuhnya dengan menumpu dua tangan pada sisi wajah Cassie. Bibirnya mengecup bibir Cassie dengan lembut.
"Aku anggap pembicaraan ini hanyalah candaan..."
Cassie mengalungkan kedua tangannya pada leher Christov, "Terserah padamu.."
"Kau ingin aku melakukannya dari mana? Depan? belakang? Samping? Atas atau bawah?"
Wanita itu tertawa lagi dan memindahkan satu tangan pada pipi Christov, "Sudah kukatakan, terserahmu saja.."
"Okay.." katanya dengan nada misterius dan segera bangkit dari posisi duduknya. Dia berdiri di samping sofa dan Cassie menatapnya dengan tatapan heran.
"Buka bajumu.." perintah Christov seraya melepaskan kaos dari tubuhnya, membuat otot-ototnya bergerak perlahan. Matanya tak sekalipun lepas dari Cassie yang masih saja duduk diam.
"Aku akan membukanya setelah kau membuka milikmu," tantang Cassie.
"Boleh.." Christov bergerak dari posisi menuju meja sofa dan meraih ponsel miliknya. Dia mengatur cahaya lampu putih menjadi berwarna oranye lembut. Dalam posisi membelakangi Cassie, Christov melepas gesper diikuti dengan celana, meninggalkan dia dalam balutan boxer.
"Aku ingin kau membuka semuanya," bisik Cassie.
"Buka gaunmu terlebih dahulu,"
Dari balik tubuhnya, Christov bisa mendengar suara kekehan Cassie. Sesaat kemudian, dia bisa mendengar suara tarikan risleting yang ditarik turun dengan perlahan. Christov memejamkan, membayangkan itu semua dalam pikirannya.
"Sudah..."
Dadanya bergemuruh dan kejantanannya mulai berkedut, "Pakaian dalammu.." lanjut Christov.
Terjadi keheningan sejenak dan saat Christov memutar tubuh untuk memeriksa, Cassie tiba-tiba datang dan memeluknya dari belakang. Kulit punggungnya bisa merasakan tekanan dada Cassie yang polos. Tanpa ragu, dia memindahkan kedua tangannya ke arah bo-kong Cassie untuk memeriksa apakah wanita itu sudah melepaskan semua pakian dalamnya. Saat Christov merasakan kulit bo-kong Cassie, dia kemudian meremasnya lembut.
"Tanganmu sangat nakal, Christov.."
"Dia bergerak dengan sendiri..."
Cassie tertawa kecil dan perlahan menurunkan tangannya menuju ujung boxer Christov dalam sentuhan lembut.
"Apa kita sudah boleh melepaskan ini?" tanyanya dan dengan sengaja menggesek pucuk pa-yu-da-ra-nya pada punggung Christov hingga memberikan sensasi nikmat pada Cassie.
"Aku suka ini..." bisiknya lembut seraya meremas dada Cassie.
"Whoa.." wanita itu buru-buru memegang otot bisep Christov karena kakinya seolah kehilangan kekuatannya secara mendadak karena sentuhan itu.
"Bagaimana dengan ini?" dicubitnya kedua pucuk dada Cassie hingga membuatnya me-nge-rang kencang, "Apa kau suka?
"Ah. Ah.. Oh my!"
Dia melangkah maju dan tetap meremas dada Cassie yang berjalan mundur. Hingga akhirnya tak bisa mundur lagi, Christov mendaratkan bibirnya pada leher Cassie dan menghisap serta menjilatinya. Satu tangan Christov perlahan berpindah pada se-lang-ka-ngan Cassie yang sudah sangat basah.
"Kita bahkan baru memulainya dan kau sudah sangat siap untukku," bisiknya di atas kulit leher Cassie.
"Aku ingin duduk, Christov.." pinta Cassie dengan nada putus asa. Kedua kakinya seolah tak mampu lagi menahan beban tubuhnya lebih lama lagi.
"Siapa bilang kau boleh duduk?" Christov menopang tubuh Cassie dengan melingkarkan tangan kirinya pada pinggul wanita itu, sedangkan tangannya yang satu memijat lembut dinding kli-tors Cassie yang basah.
"A-Ah.. Oh! Ah! Please.. Ahh.. Christov..." Cassie menjepit tangan Christov, berharap bisa menekannya masuk semakin dalam.
Christov menurunkan kepala pada dada kiri Cassie lalu menghisapnya dengan kencang, membuat wanita itu menjerit. Dia menarik tubuh Cassie naik semakin atas dengan tangan kirinya hingga wanita itu harus berjinjit dengan sisa-sisa kekuatan kakinya yang lemas.
"Oh.. AH!"
Lidah Christov bermain pada pucuk Cassie dan tangan kanannya tetap menekan-nekan serta memijat lembut permukaan kli-tors wanita itu.Tubuh Cassie bergetar dan kakinya berjinjit semakin tinggi ketika ketegangan pada ujung saraf kakinya semakin besar. Cairan lengket dari kewanitaannya keluar semakin banyak, membasahi paha dan jari Christov.
"A--Aku! Aku akan datang!" pekik Cassie. Tangan kirinya di arahkan pada rambut Christov dan meremasnya. Pupilnya membesar dan tanda-tanda puncak itu akan datang. Matanya dikedip-kedipkan, merasakan puncak kenikmatan yang semakin dekat itu. Namun, mendadak Christov menarik tangan dan kepalanya menjauh dari bu-ah da-da Cassie. Tak sempat mengerang kesal, Christov sudah memutar tubuh wanita itu mengarah sofa.
"Apa yang kau lakukan?" tanya dia ketika Christov mendorong kepalanya pada ujung punggung sofa.
Christov tidak menjawab Cassie dan memilih menurunkan boxer-nya hingga lepas, "Berlutut, Cassie," perintahnya dengan nada dingin seraya menekan kejantanannya yang menegang sempurna pada bokong Cassie.
"O--Okay.." bisik Cassie dengan suara bergetar. Dengan kedua tangan berpegang pada punggung sofa, Cassie berlutut di atas bantalan sofa. Ah.. Dia tahu.. Dia tahu bahwa pria itu akan melakukan dari--"
"Aw!" Cassie memekik ketika Christov menampar bo-kongnya. Dia tidak merasakan sakit dan malah merasakan rasa nikmat dari getar pukulan Christov pada kewanitaannya.
Di posisi belakang, Christov menunduk dan mengecup kedua bo-kong Cassie secara bergantian.
"Kau punya tubuh yang indah, Cassie. Apa kau tahu itu?" bisik dia dan kembali menegakkan tubuhnya. Matanya menatap lekukan badan Cassie yang begitu sintal. Kedua tangannya di arahkan untuk mengelus lekukan badan dan bo-kong Cassie. Lagi.. Christov menampar bo-kong Cassie sekali lagi hingga wanita itu menjerit.
"Apa itu sakit?"
"No.. No.. I want more*..." pintanya dengan suara penuh keputusasaan.
(*Aku menginginkannya lagi.)
Christov terkekeh dan menampar lagi bagian bawah bokong yang dekat dengan kewanitaan Cassie.
"Ahk! Ahl!" pekik wanita itu lagi ketika merasakan getaran penuh kenikmatan itu.
"Apa kau sudah siap?" tanya Christov pada Cassie yang terengeh-engah.
"I want more*.. I want more, Christov...."
(Aku menginginkannya lagi.)
"As you wish*," dibukanya lebar paha Cassie dengan kedua tangan dan tanpa aba-aba, Christov mendorong masuk kejantanannya ke dalam kewanitaan Cassie.
(*Sesuai keinginanmu)
"Arghh..." Christov mengerang, merasakan lubang sempit itu melingkupinya dengan sempurna.
"Lagi.. Masukkan lagi.." pinta Cassie dan tanpa tagu, Christov mendorong masuk seluruh kejantanannya hingga menyentuh inti tubuh Cassie.
"AHK!" Cassie mengerang kencang, terlampau kencang hingga membuang Christov khawatir.
"Apa itu sakit?" bisiknya degan nada lembut.
"No.." jawa Cassie dengan cepat, "No.."
Christov tersenyum miring, "Good girl*.. Aku akan bergerak, Cassie. Cepat. Dan. Keras." ucapnya kata per kata.
(*Gadis pintar)
Dipindahkan kedua tangannya pada dada Cassie dan menggenggamnya. Jemarinya mengelus-elus pucuk Cassie yang menegang agar semakin memanjang.
"Ah.. Ah.."
"I'm coming, Cassie..."
(*Aku akan memulainya)
Pria itu menarik pinggulnya ke belakang dan dengan cepat mendorong masuk. Menarik lagi dan mendorong masuk. Lambat.. Awalnya begitu lambat. Christov melakukannya begitu perlahan dalam gerakan lambat yang menggoda. Lalu, suasana berubah dengan cepat. Tangan kirinya dipindahkan pada rambut Cassie dan menggulungnya di antara jemari. Pinggul Christov mulai bergerak semakin cepat.
"Arghhh.." erang Christov, matanya terpejam dan mulutnya terbuka lebar. Bunyi tepuk antara bo-kong Cassie dan miliknya semakin kencang. Tangan kanan tetap memegangi pa-yu-da-ra Cassie sebagai tumpuannya.
"Ah!AAh!" Cassie mengeluh, merasakan kenikmatan tiada tara itu dan dengan berani mulai mengikuti irama gerakan Christov hingga milik pria itu masuk semakin dalam ke inti tubuhnya.
"Oh my.. Cassie.. Cassie..." Christov meraung semakin kencang. Rasa keputusasaan untuk meraih puncak seolah ikut membesar bersama rasa kenikmatan itu. Dia bergerak semakin cepat hingga decitan terdengar. Sofa yang berada di bawah Cassie ikut bergerak dan mulai bergeser dari posisinya karena begitu kuatnya dorongan dari Christov.
"Ahhh. Christov.. Ah.." wanita itu memutar pinggulnya, membiarkan milik Christov mengitari kewanitaannya.
"Yah.. Yah.. Panggil namaku, sayang.."
Cassie memejamkan mata dan tangannya meremas punggung sofa semakin kencang. Sekuat tenaga dia mempertahankan kekuatan otot pahanya agar tidak roboh. Tubuhnya bergetar dan saat ini dia benar-benar menginginkan puncak pelepasannya sesegera mungkin.
"Christov.. Christov..." panggilnya dalam keputusasaan dan detik dia akan jatuh, lengan Christov melingkar di pinggulnya.
"You're mine, Cassie... Kau milikku..." kedua tangannya berpindah pada pinggul wanita itu dan memeganginya. Dia ikut menggerakkan tubuh Cassie secara maju mundur. Diputar pinggulnya dalam gerakan perlahan sebelum menembak masuk lagi dengan kencang.
"Sangat. Sempit. Sangat..." Christov bergerak lagi dan tubuhnya mulai bergetar, tanda pelepasan itu akan datang. Dia menggerakkan pinggulnya semakin cepat hingga suara tepukan itu terdengar semakin kencang. Tubuhnya dibanjiri oleh keringat dan pendengarannya dipenuhi oleh suara pekikan, decitan, dan tepukan tersebut.
"Datang!" teriak Cassie, "Aku akan datang..."
Tepat sebelum Cassie mendapatkan pelepasannya, Christov sudah mencapainya terlebih dahulu. Dengan tarikan dan dorongan yang kuat ke dalam kewanitaan Cassie, semua cairan pelepasan itu masuk dan membanjiri se-lang-ka-ngan wanita itu.
"Ar-arghh!" raung Christov seraya mendorong pinggulnya masuk semakin dalam. Kepalanya menatap langit-langit apartemen ketika puncak itu memenuhi tubuhnya, menyebar dari kejantanan ke seluruh inci saraf tubuhnya. Dia melakukan gerakan melingkar lagi dan membiarkan wanita itu akhirnya mendapat pelepasan, melingkupi kejantanannya dalam kehangatan.
"Christov!" e-rang Cassie ketika akhirnya pelepasan itu datang dan membuat seluruh tubuhnya bergetar. Dengan sisa kekuatan yang tersisa sedikit, Cassie segera ambruk ke atas sofa. Christov dengan sigap memegangi tubuh wanita itu agar tidak terjatuh terlalu keras.
"Lelah?" tanya Christov seraya memperbaiki posisi tidur Cassie.
"Kemarilah.." ajaknya seraya mengarahkan kedua tangannya pada Christov dan pria itu mematuhinya. Cassie memiringkan tubuh agar dapat memberi ruang bagi Christov. Pria itu bergabung dengannya di sana dan Cassie memeluk kepala Christov pada dadanya dengan sangat erat. Kedua matanya dipejamkan dan hidungnya menghirup aroma rambut Christov yang lembut. Rasanya benar-benar menenangkan ketika Christov mengelus punggungnya dengan lembut.
"Tunggu aku, okay?" bisik Cassie.
"Selalu.. Aku akan selalu menunggumu hingga kau siap.."
"Thank you.." perlahan rasa kantung mulai mengambil alih tubuhnya. Cassie menguap lebar hingga setetes air mata mengalir dair sudut matanya
"I love you, Cassie.." ucap Christov pelan dan Cassie yang sudah mulai masuk ke dalam mimpi mimpi mendengar suara Christov dengan sayup-sayup.
"I know*, Christov.. I know.."
(*Aku tahu)
***
Miss Foxxy
Begini, chapter sebelumnya yang berbau konten plus" akan segera direvisi bulan ini dan mungkin chapter ini juga jadi yg mau baca lagi, buruan yah. Lalu, cover ini bukan cover aku tapi dibuat sama pihak MT cuman belum dikembalikan ke semula padahal aku udah dibilangin. Jangan lupa dukung author yah, setiap like, koment, love, vote kamu benar-benar berharga untuk author. Satu lagi, jangan lupa ikutan giveaway. Yg mau ikutan masuk gc dulu yuk...