Remember Me

Remember Me
EXTRA PART-- Wedding



Happy Reading


****


Positano, Provinsi Salerno, Wilayah Campania, Italia. Sabtu, 25 Juni 2022


Cassie berjalan menuju altar dengan gaun putih panjang yang menjuntai ke belakang. Tangan kanannya digandeng oleh Simeon, ayahnya. Tangan kirinya yang basah dan bergetar *******-***** tangkai buket bunga mawar putih yang dia pegang. Wajahnya yang memerah tertutup oleh tudung putih.


Dia menutup mata dan mulai berhitung sampai sepuluh sebelum membuka matanya kembali. Cassie berhenti bernapas dan jantungnya seolah ikut berhenti melihat Christov yang berdiri di atas altar. Berdiri di sana dengan senyum bahagia penuh haru.


"Aku akan memberikan puteriku dari sini, Connel," ucap Simeon dengan suara pelan seraya mengarahkan tangan kanan Cassie pada Christov.


"Jaga dia dengan baik, Connel.."


"I will*, Mr. De Angelis.."


(Aku pasti melakukannya*)


Buket bunga yang ada di tangannya diambil oleh Miranda yang menjadi salah satu best women-nya di hari ini. Dengan tangan Cassie yang lemah gemulai, Christov menggenggam tangan kanannya tersebut dengan lembut, tapi kuat. Menggenggamnya erat hingga dia bisa berdiri dengan sempurna di atas altar bersama pria itu.


"Marilah kita berdiri hadiran sekalian.." kata Pemimpin agama dalam bahasa Inggris dengan logat Itali yang kental.


Terdengar suara halus pergerakan para tamu yang berdiri dan dengan gerakan gugup, Cassie mengintip ke arah tamu yang sudah berdiri. Ramai.. Yah.. Tamu yang datang sangat ramai. Seluruh keluarga dari pihak kedua orangtuanya yang ada di italia datang serta keluar Christov juga walau Ibunya tidak datang. Namun, itu tidak akan mengurangi sukacita mereka. Semua pasang mata yang ada di sana mengarahkan tatapan mereka ke arahnya dan Christov. Mereka berdua menjadi pusat perhatian di tempat ini. Hal itu mau tak mau membuatnya merasa gugup padahal, biasanya dia tidak pernah gugup ketika menjadi pusat perhatian. Namun, kali ini beda. Cassie gugup bukan main hingga dia berpikir bisa pingsan kapan saja.


"Hadirin sekalian, kita berkumpul bersama di kota dan hari yang indah ini sebagai saksi hidup untuk pernikahan suci, Christoval O'Connel dan Cassandra De Angelis.."


Tangan Cassie bergetar karena rasa gugup dan jantungnya berdegup semakin kencang. Christov yang menyadari rasa gugup darinya dengan lembut meremas kedua tangan Cassie. Dia menutup mata lalu membukanya lagi untuk menatap Christov yang juga menatapnya dari balik tudung putihnya.


"Christoval O'Connel, apakah kamu bersedia menerima wanita ini menjadi isterimu untuk hidup bersama dalam pernikahan yang suci? Untuk mencintainya, menghormatinya, menghiburnya, dan menjaganya dalam keadaan sakit atau sehat selama kalian hidup?"


"Yah, aku bersedia.."


"Cassandra De Angelis, apakah kamu bersedia menerima pria ini menjadi suamimu untuk hidup bersama dalam pernikahan yang suci? Untuk mencintainya, menghormatinya, menghiburnya, dan menjaganya dalam keadaan sakit atau sehat selama kalian hidup?"


"Yah, aku bersedia," katanya dengan suara mantap.


"Untuk pengantin pria, silakan ucapkan janji anda.."


Dari matanya, Cassie melihat senyum gugup Christov lagi. Pria itu menghela napas panjang sebelum mengucapkan janjinya.


"Saya, Christoval O'Connel menginginkan Cassandra De ANgelis menjadi isteriku. Ada begitu banyak hal yang akan kujanjikan padamu, Cassie. Ada begitu banyak hal yang ingin aku lakukan bersamamu. Namun, aku berjanji semua itu tidak akan berakhir menjadi janji semata karena aku akan menepati semuanya," Christov mengelus lembut punggung tangan Cassie dengan jempolnya, "Aku memberikan hati, cinta, tangan, dan seluruh hidupku untuk membahagiakanmu, melindungimu, mempercayaimu, dan menghormatimu, Cassie.. Aku berjanji akan selalu berada di sisimu dalam keadaan sulit atau mudah, kaya atau miskin, sehat atau sakit, tua atau muda, dan untuk selalu mencintaimu hingga maut memisahkan kita..."


Setetes air mata menetes dari mata kiri Cassie ketika Christov sudah selesai mengucapkan janjinya. Dia tahu pria itu bersungguh-sungguh akan perkataannya dan seluruh janjinya. Cassie sedari dulu selalu benci janji yang diucapkan oleh manusia karena dia berpikir bahwa manusia cepat berubah. Dia takut memercayai janji, tapi setelah sekian lama mengarungi lautan manusia, Cassie akhirnya menemukan Christov yang membuatnya percaya pada janji lagi.


Ini adalah gilirannya untuk mengucapkan janji, tapi emosi yang membuncah sudah menguasainya. Bagaimana jika tangisnya pecah? Astaga..


"Untuk pengantin wanita, silakan ucapkan janji Anda."


Cassie menarik napas dari hidungnya bersamaan dengan lendir hidung. Dadanya bergemuruh dan seluruh tubuhnya gemetar. Dia melipat bibirnya untuk menahan dirinya sendiri agar tidak terhisak lalu dengan gerakan tegas, Cassie mengangkat kepala dan menatap Christov kembali.


"Sa--Saya," ucapnya terbata-bata dengan suara gemetar. Christov mengelus tangannya lembut dan Cassie menghela napas panjang lagi untuk memenangkan diri. Berdehem sekali dan kembali berbicara setelah dia merasa lebih baik.


"Saya.. Saya Cassandra De Angelis menerimamu, Christoval O'Connel menjadi suamiku dan menjadi pelindung untukku serta untuk anak-anak kita kelak. Aku memberikan janji suciku untukmu, janji untuk selalu berada di sisimu dalam keadaan apa pun.. Aku..Aku akan menjadi teman, sahabat, saudari, kekasih, dan isteri untukmu hingga maut memisahkan.. Aku berjanji akan mencintaimu tanpa syarat, mendukungmu selalu, menghormatimu, dan menghargaimu... Aku berjanji akan selalu berbagi tawa dan air mata, mimpi dan harapan, serta penghiburan padamu untuk selamanya.."


"Saya berikan cincin ini sebagai ikatan tanda janji suci pernikahan kalian.."


Christov meraih satu cincin dari bantalan beludru yang dipegang oleh Christina, meraihnya lalu melingkarkannya pada jari manis kanan Cassie. Setelahnya, Christov mengecup punggung tangan kanannya dengan lembut. Ketika pria itu mengangkat kepalanya kembali, Cassie meraih cincin yang lain dan melakukan hal yang sama pada Christov.


Pemimpin Agama yang tersenyum bahagia meraih tangan kanannya dan tangan kanan Christov lalu menyatukan kedua tangan mereka dalam genggaman erat. Lalu, Pemimpin Agama melingkarkan kedua tangannya pada genggaman tangan Cassie dan Christov


"Berdasarkan kewenangan yang diberikan kepada saya di bawah hukum Republik Itali, saya menyatakan Anda berdua sebagai pasangan suami dan isteri yang sah," kumandangkannya dengan suara bulat, "Christoval O'Connel, anda dapat mencium pasangan Anda, Cassandra O'Connel.."


Cassandra O'Connel.. Batin Cassie yang masih belum percaya bahwa sekarang dia sudah menyandang marga O'Connel. masih belum percaya bahwa mereka sudah sah menjadi sepasang suami-isteri. Dia mengedipkan matanya saat Christov menarik tudung yang menutup wajahnya dan menyeka tudung itu ke balik kepalanya.


Mereka saling bergenggam tangan dan mata tertuju satu sama lain. Christov menunduk sedikit lalu memajukan kepalanya dan Cassie akhirnya merasakan benda kenyal itu menempel pada bibirnya. Dia memejamkan kedua mata dan menikmati sensasi unik yang menggembirakan dalam dirinya,


Suara tepukan tangan meriah para tamu ikut terdengar. Mereka bertepuk tangan penuh kebahagian melihat kedua insan itu telah menjadi pasangan suami-isteri.


****


Christov menekan handle pintu lalu masuk bersama dengan Cassie. Tanpa menunggu lama-lama, dia menarik isterinya itu mendekat dan menempelkan bibirnya pada bibir Cassie. Menciumnya dengan gerakan menggebu-gebu dengan tangan yang sibuk melepas kancing gaun Cassie.


"Oh.. Oh my," Christov menggeram dari balik giginya merasakan tangan Cassie yang lembut di atas kulitnya saat melepaskan kemejanya. Mereka melepaskan pa-ngu-tan lalu melepas pakaian mereka hingga hanya tersisa pakaian dalam. Christov tersenyum miring melihat bu-ah-da-da Cassie yang ranum. Menggantung sempurna dan menunggu untuk segera disantap.


"Kau tidak lelah?" tanyanya dengan napas yang berderu.


"No.."


Dia segera mengarahkan bibirnya arah pa-yu-da-ra kiri Cassie lalu menghisapnya dengan kencang hingga membuat Cassie memekik. Christov terkekeh senang mendengar pekikan Cassie dan membuatnya semakin bersemangat. Tangan kanannya bergerak naik menuju pa-yu-da-ra kanan Cassie lalu merem--


"Aw..Aw.." suara kesakitan Cassie terdengar dan Christov buru-buru menjauhkan mulutnya dari da-da Cassie.


"Ada apa? Apa aku menghisapnya terlalu kencang?"


Cassie yang nampak bingung menatap sejenak seolah tengah memikirkan sesuatu sebelum akhirnya mengarahkan jari telunjuknya ke arah pangkal paha kemudian mengelus permukaan ce-la-na dalamnya.


"Fvck.." umpatnya dengan nada pelan saat melihat bercak merah di jari telunjuknya.


"Kau berdarah?" tanya Christov dengan napasnya yang memburu. Dia masih belum bisa mencerna apa yang terjadi karena naf-su yang menggelegar di dalam dirinya.


"Yah.. Fvck.. Bagaimana bisa darah sialan ini datang di saat yang tidak tepat," geramnya dengan nada marah seraya mengelap ujung jari telunjuknya ke permukaan ce-la-na dalamnya.


Christov menelan ludah dan menatap tubuh Cassie dengan tatapan liar yang lapar.


"Jadi kita tidak bisa melakukannya?"


Cassie menatapnya tajam, "Pertanyaan gila. Menurutmu? Maksudmu kau ingin memasukkan pe-nismu ke lubangku yang berdarah, huh?"


"Cassie.. Gunakan bahasa yang lebih lembut, sayang.." peringatnya dengan senyum kaku, "Aku hanya bertanya, okay?"


Wanita itu berdecak lidah dengan kesal lalu memungut gaunnya agar ditaruh di atas sofa.


"Berikan aku waktu sepuluh menit untuk memasang mens-trual cup-ku.."


"Okay. Aku tidak masalah jika kita tidak melakukannya," balas Christov pada Cassie yang berjalan memunggunginya ke arah kamar mandi. Mendadak wanita itu berhenti melangkah lalu menoleh ke arahnya.


"Kau yakin tidak masalah jika kita tidak melakukan malam pertama bersama setelah akhirnya menikah secara sah, Christov?"


"Uhm.. Well," dia mengangkat kedua bahunya, "Apa istimewanya malam ini? Bagiku, setiap malam bersamamu selalu istimewa, Cassie.."


"Pergilah masuk ke kamar mandi, Cassie sebelum aku berubah pikiran.."


"Hmm.."


Setelah Cassie masuk, Christov memungut pakaiannya lalu menggantungnya ke punggung sofa. Dia juga melipat seadanya gaun Cassie sebelum beralih ke arah koper besar miliknya. Ada dua koper, miliknya dan milik Cassie. Mereka akan melakukan perjalanan menuju daerah pegunungan salju untuk melakukan bulan madu. Yah pegunungan salju. Cassie memintanya karena wanita itu memiliki imajinasi liar tentang bercinta di tempat dingin. Christov tertawa kecil mengingat pembicaraan mereka terkait lokasi bulan madu mereka Sembari memikirkan hal itu, dia membuka koper itu lalu mengambil sepotong kaos serta celana pendek.


Ketika Christov sudah mengenakan pakaiannya, Cassie muncul dari kamar mandi dengan handuk kimono menutupi tubuhnya. Cassie ikut bergabung duduk dengan Christov di atas lantai lalu membuka kopernya sendiri.


"Sedih sekali," gumam Cassie pelan, "Bisa-bisanya darah sialan ini datang di saat yang tidak tepat.."


"Tak apa.."


Cassie menoleh ke arahnya, "Tapi ada rasa kecewa, bukan?"


Christov mengangguk kecil, "Lumayan.. Namun, tidak terlalu kecewa. Hanya sedikit..."


"Haruskah aku menghisap punyamu? Mulutku masih tetap bisa digunakan walau va-gi-naku berdarah," katanya dengan nada gamblang dan mengundang gelak tawa dari Christov. Dia mengarahkan tangan kanannya dan mengacak-acak pucuk kepala Cassie.


"Sudah kubilang jangan terlalu gamblang begitu.."


"Aku serius.. Kenapa kau nampak gugup? Ini bukan pertama kalinya aku menghisap punyamu.."


Christov berhenti tertawa dan menarik tangannya kembali untuk melihat Cassie yang menatapnya dengan tatapan serius.


"Karena kau menawarkannya sendiri, itu membuatku gugup dan terasa aneh.."


"Kenapa? Aku masih tetap Cassie yang sama walau margaku sudah berubah menjadi O'Connel.. Mana mungkin kau merasa gugup hanya karena aku menawarkan diri untuk mengh-"


"Cassie.. Stop menggunakan kata itu.."


"Jadi aku harus pakai kata apa? Biasanya pun menggunakan kata itu.. Menghisap pe-nis.."


Christov menggeram dari balik giginya, "Mari kita gunakan bahasa yang lebih halus, Cassie. Misalnya--"


Belum selesai dengan ucapannya sendiri, Cassie melayangkan bibirnya pada bibir Christov. Mencium dengan lembut dan seluruh saraf Christov kembali bangun. Dia membalas pa-ngu-tan Cassie dan mulai menghisap bibir bawah wanita itu dengan liar.


Mereka bangkit berdiri dan tangan Cassie menjelajah ke balik celana Christov. Mengusap milik Christov yang membesar di balik boxer yang dia kenakan. Cassie terus berjalan dan mengarahkan pria itu menuju ranjang sementara di sisi lain, Christov berusaha menelisik masuk ke balik handuk kimono Cassie. Namun, wanita itu mendadak menarik kepalanya dan menjauhkan diri Christov hingga membuatnya menatap heran pada Cassie.


"No.. Jangan sentuh pa-yu-da-ra-ku, Christov. Saat mens-tru-asi seperti ini, keduanya sangat sensitive dan mudah sakit. Biarkan hanya aku saja yang menyentuhmu untuk hari ini, okay baby?"


Christov mengangguk kecil lalu menarik kepala Cassie mendekat lagi. Dia me-lu-mat bibir Cassie dengan gerakan cepat yang terkesan terburu-buru. Dua tangannya di taruh pada leher jenjang Cassie dan kepala mereka saling berada ke setiap sudut.


Cassie meremas miliknya dari balik boxer dan membuat seluruh tubuhnya gemetar. Kejantanannya seolah semakin membesar setiap kali Cassie memijat lembut miliknya dari balik boxer. Meremas lagi dan membuat kejantanannya semakin mengembang dan mendesak untuk dikeluarkan. Wanita itu mendorong tubuhnya menjauh dan membuatnya duduk di atas ranjang.


"Sial, Cassie," umpatnya dengan napas terengah-engah saat Cassie bersimpuh di antara kedua kakinya. Dia tahu apa yang akan isterinya itu lakukan.


Wanita itu tersenyum miring dan menatapnya dengan tatapan nakal. Tanpa aba-aba, kedua tangannya menarik bersamaan celana serta boxer-nya sekaligus dan membuat milik Christov keluar bebas.


"Time to eat," bisik Cassie dan tanpa ragu melingkarkan tangan kanannya pada kejantanan Christov, menatapnya dengan tatapan terpesona.


"Bagaimana bisa daging keras seperti ini memiliki kulit yang jauh lebih lembut dari kulit wajahku, Christov?" tanya dia sembari menggerakkan tangannya naik turun, sedangkan tangan kirinya di arahkan ke ujung kejantanan Christov yang lembab, "Perawatan macam apa yang kau berikan untuk senjata hebatmu ini, Mr. Connel?"


"Argh.." Christov menggeram merasakan sensasi geli nikmat dari ujung kejantanannya yang menyebar ke seluruh tubuhnya, "Fvck, Cassie.." umpatnya.


Cassie terkikik, "Aku suka mendengarmu mengumpat, CHristov.." tangannya meremas kejantanan Christov lalu menggerakkan naik-turun tangan kanannya di sepanjang batang kejantanan itu dengan gerakan menggoda, sedangkan jari telunjuk kirinya melakukan gerakan memutar di ujung kejantanan Christov yang mengirim getaran penuh kenikmatan itu membangunkan setiap sudut saraf tubuh Christov.


"Fvck.. Sial, Cassie,"


"Call my name," Cassie membuka mulutnya lebar lalu mengisi penuh mulutnya dengan kejantanan Christov. Dia juga melingkarkan tangannya pada bagian kejantanan Christov yang tidak terjamah oleh bibirnya.


"Arghhh.." Christov memutar kepalanya dalam gerakan lambat saat merasakan lidah Cassie yang bermain di ujung kejantanannya. Kakinya menegang dengan sensasi liar tersebut. Jantung berdegup kencang dan keringat mulai membasahi tubuhnya. Dengan perasaan liar yang memenuhi dirinya, Christov mengarahkan tangan kanannya ke arah kepala Cassie lalu menekannya, berharap mulut Cassie yang mungil bisa menelan seluruh batang kejantanannya.


"Fvck, Cassie.. Argh..."


Cassie menatapnya dari langit-langit mata kemudian kepalanya mulai bergerak naik turun. Memompa, mengisi, dan menjilat batang kejantanan Christov di dalam mulutnya. Terus menggerakkan kepalanya naik turun untuk mengisi kejantanan Christov di dalam mulut Cassie.


Christov menggila dan tak sedetik pun dia melepaskan tatapannya dari Cassie.Kedua tangannya meremas seprei ketika puncaknya akan datang dan Christov memejamkan mata menikmati sensasi liar yang menyebar dari kejantanan ke seluruh saraf tubuhnya. Tubuhnya bergetar, kakinya menegang, dan lehernya di lengkungan kebelakang saat puncaknya akan datang.


"CASSIE!" panggilnya dengan suara keras ketika Cassie menarik mulutnya dari kejantanan Christov dan membiarkan cairannya menyembur ke atas. Christov menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang dengan napas terengah-engah. Matanya menatap langit-langit kamar dengan senyum menghiasi senang menghiasi wajahnya. Sesaat kemudian, Cassie melompat ke arah ranjang dan berbaring di sampingnya. Wanita itu berbaring miring dengan tangan kiri menumpu kepalanya.


"Enak?"


Christov tertawa kecil lalu menoleh ke arah Cassie yang nampak bangga. Dia mengangguk kecil dan memejamkan mata menikmati sensasi puncaknya yang masih terasa.


"Aku tidak mau mencicipi sper-ma-mu lagi. Rasanya aneh.. Kau tak marah-kan?"


Christov terkekeh, "Oh my.. Yah, Cassie.. Yah.. Tidak masalah. Untuk apa aku marah, sayang? Untuk apa pula kau mencicipi itu? Huff.. Itu benar-benar luar biasa.. Pelepasan yang sangat luar biasa..."


"Uhm.. Christov.."


"Yeah?" jawabnya tanpa menoleh ke arah Cassie.


"Kau tahu bukan aku makan pasta dan lasagna yang sangat banyak saat di pesta tadi?"


"Yeah.. I know.. Aku melihatnya dan berpikir kau bisa saja kena diare.. Kenapa? Perutmu terasa sakit? Apa perlu kita ke apotik?"


"Bukan soal itu. Aku hanya belum menyikat gigiku jadi pe-nismu mungkin saja akan beraroma saos pasta dan lasagna.."


Christov membuka matanya lalu menoleh ke arah Cassie yang menatapnya dengan tatapan polosnya. Mau tak mau, Christov tertawa kencang mendengar ucapan Cassie yang terdengar begitu lucu. Dia menarik Cassie ke dalam pelukannya dan tetap tertawa.


"Hey.. Kenapa kau tertawa? Aku serius tahu. Bisa-bisa aroma sper-ma mu akan beruba seperti aroma pasta dan lasagna..."


Christov tetap tertawa hingga air mata menetes dari sudut matanya dan perutnya terasa sakit.


"Beruntungnya aku memiliki isteri sepertimu.. Kau punya selera humor terbaik.."


Cassie ikut terkekeh lalu membalas pelukan Christov, "Tentu saja.. Aku adalah yang terbaik di antara yang terbaik.. Memangnya apa lucunya itu?"


"Hanya jika kau berada di posisiku dan kau akan mengerti betapa lucunya perkataanmu,"Christov mengecup pucuk kepala Cassie, "My baby.. I love you.."


"Hm.. Love you too, Christov.."


****


Miss Foxxy