
Happy Reading
***
"Biarkan dia masuk," ujar Christov dengan nada dingin dan berjalan pergi ke ruang kerjanya. Elisabeth beralih dari sana untuk memberitahukan Clara Murray untuk masuk.
Clara yang berpakaian rapi dan necis menarik perhatian para pekerja Christov hingga akhirnya wanita itu masuk, ke-empatnya mulai berbisik-bisik.
"Oh my.. Apa kau pikir itu kekasihnya?" ujar Mia dengan nada girang.
"Itu bukan urusan kita. Kau tahu itu," Dylan yang sudah mulai bekerja menimpali gadis tersebut.
"Hei.. Elisabeth, apa kau pikir itu kekasihnya?" tanya Mia lagi, tak mengindahkan perkataan Dylan.
"Aku taruhan $20 bahwa itu bukan kekasihnya," sekarang, giliran Josh yang masuk dalam percakapan.
"Aku juga berpikir begitu," komentar Elisabeth, "Jika melihat wajah tegang dan masam dari Mr.Connel, kupikir itu bukan kekasihnya.."
"Namun, tetap saja masih ada kemungkinan. Atau skenario keduanya, mungkin saja wanita bernama Clara itu adalah benar-benar kekasih Christover, tapi mereka berdua tengah berkelahi,"
"Mr.Connel, Mia.. Panggil Mr.Connel dan bukan namanya," peringat Dylan.
"Shuhhh..." Mia mengibaskan tangannya, "Ah.. Setidaknya, setelah melihat wanita tadi, kita bisa tahu bahwa wanita yang bisa mendekatinya minimal harus berpenampilan seperti dia. Tidak pernah sekali pun aku melihat bos kita bersama wanita.."
"Well.. Maka dari itu terdengar desas-desus jika bos adalah seorang ga-y.."
Jawaban Josh menarik perhatian Elisabeth yang masih duduk bersama mereka. Dia tiba-tiba memajukan kepalanya ke depan dengan gerak-gerik mencurigakan, "Seperti tidak," bisiknya, "Aku sanksi jika bos kita seorang ga-y. Akhir-akhir ini dia sering pergi menghadiri pesta dan selalu mengecek terlebih dahulu daftar tamu undangan. Dugaanku untuk sementara, bos tengah mendekati seorang wanita. Aku pun pernah tak sengaja mendengar bos berbicara melalui ponsel dan mendengar suara wanita."
Mia terkikik senang, "Astaga. Aku penasaran bagaimana gay berpacaran bos kita..."
"Aku juga," Elisabeth menimpali dengan tatapan penuh mimpi, "Ah.. Bos benar-benar memenuhi standar pria imajinasiku."
"Sama... Aku penasaran bagaimana caranya melakukan se-x,"
"Shuhh..." Dylan memotong dan menghentikan keduanya, "Apa otak kalian selalu menatap Bos seperti itu? Huff... Elisabeth, kembalilah ke tempatmu dan kita harus kembali bekerja. Ada banyak deadline menunggu..."
Mia memutar mata, "Dasar kaku..."
"Yups.. Mari kita bekerja,"
Sedangkan di sisi lain, Christov melihat Clara yang duduk dengan rapi di atas sofa. Wanita itu tak kunjung mengeluarkan satu kata pun sejak kedatangannya, bahkan mengucapkan salam pun tidak. Clara hanya melihat ke sana- ke mari seolah tengah menginspeksi ruang kerja Christov. Terkadang, dia bingung melihat tingkah Clara yang tak tertebak. Wanita itu sangat tenang dan misterius. Terlalu tenang hingga patut dicurigai.
"Aku akhirnya bisa bertemu denganmu secara langsung setelah sekian lama,"
Christov berdehem, "Kau mau teh atau semacamnya?"
Dia menggeleng, "No.. Aku tidak berencana untuk berlama-lama, tapi, terimakasih sudah menawarkannya," jawabnya dengan suara profesional.
"Jadi.... Apa yang membuat wanita sibuk sepertimu datang ke sini?"
"Wanita sibuk, huh?" katanya, "Rumah sakit tempatku bekerja sedang dalam tahap perencanaan mendirikan yayasan peduli kanker anak dan aku berencana mengajakmu ikut berpartisipasi dalam pembuatan struktur dan denah gedung,"
Christov ingin sekali bertanya, kenapa harus dia, tapi dia tahu bahwa pertanyaan seperti itu benar-benar tidak sopan. Seandainya yang berbicara di hadapannya ini bukanlah Clara, Christov tak akan merasa jengkel seperti ini.
"Well.. Kapan itu? Aku tidak bisa janji bisa ikut berpartisipasi karena kami sudah full dengan berbagai proyek,"
"Uhm.. Entahlah. Kami hanya berharap bisa mulai membangun gedung yayasan mulai tahun depan,"'
Masih sempat, pikir Christov.
"Kau bisa mengirimkan proposal perencanaan pembangunan gedungnya melalui email agar tim-ku bisa mangalisisnya terlebih dahulu," dia merogoh kartu kerjanya dari kantong kemeja lalu memberikan itu pada Clara, "Jika kau punya pertanyaan lebih lanjut, kau bisa menghubungi nomor ini di jam kerja agar kau tak perlu repot-repot membicarakannya secara langsung ke tempat ini."
"Apa itu pengusiran?" Clara meraih kartu tersebut dan tersenyum tipis.
"No.. Tentu saja tidak. Aku hanya ingin memberimu alternatif lain yang mudah,"
"Tidak bisakah aku menghubungimu melalui nomor biasa?"
Christov terdiam dan memasang wajah sekeras baja, "Saya memikirkan bahwa ditawarkan bekerja sama dalam pembangunan gedung yayasan ini merupakan sebuah kehormatan untuk saya," katanya dengan nada formal yang kaku, "Saya tak mau membuat hubungan kerja profesional ini berubah canggung karena melewati batas-batas tertentu,"
Clara menutup mulut dengan tangan kiri dan mulai tertawa kecil, "How funny*... Jangan tegang begitu. Aku tak akan mengganggumu lagi, tapi, Mrs. Connel masih saja terus mendorongku agar mendekat, Christov.."
(*Lucu sekali)
"Maksudmu Ibuku?"
Dia mengangguk, "Begitulah,"
Christov menggeram marah dan mengusap wajahnya dengan kasar, "Aku berjanji itu tidak akan terjadi lagi,"
Clara mengangkat bahunya, "Well.. kita akan lihat ke depannya," dia berdiri dan Christov pun mengikut.
"Kau akan pergi?"
"Yeah. Ada banyak pekerjaan menunggu di rumah sakit. Terimakasih atas waktumu, Christov. Kuharap bisa bekerja sama denganmu untuk proyek yayasan ini,"
"Yeah, aku mengharapkan hal yang sama.."
Clara berjalan ke arah pintu keluar dari Christov berjalan mendahuluinya untuk membukakan pintu.
"Umm.. Sangat sopan, Mr. Connel. Thank you,"
"Bukan masalah besar,"
"Ah.. Satu lagi, apa kau berpikir aku jauh-jauh datang ke mari hanya untuk membicarakan pekerjaan?"
Christov berdehem, "Sampai jumpa, Miss Murray.." katanya dengan nada kaku
Clara tertawa kecil, "Sampai jumpa di lain kesempatan, Mr. Connel. Aku tidak sabar menunggu pertemuan kita berikutnya,"
Tapi, tidak denganku.
****
"Kau sudah ada di depan gedung apartemenku?"
"Yeah..." jawab Christov dengan singkat.
"Astaga! Aku masih di kantor. Argh! Seharusnya kau memberitahuku. Bagaimana dengan mobilmu. Aku tak punya parkiran lebih.." gerutu Cassie dari seberang.
"Sudah kutinggalkan di tempatku. Aku datang dengan naik taxi.."
"Kalau begitu, masuklah terlebih dahulu. 1770 untuk password pintu masuk satu serta lift. 1989 untuk pintu masuk kedua dan 1884 untuk pintu masuk ketiga. Apa kau bisa mengingatnya?"
Banyak sekali. Pikirnya.
"1770, 1989, 1884.." ulang Christov. Dia bertanya-tanya apa makna dibalik susunan angka ini. Namun, di sisi lain, Christov merasakan dadanya menghangat karena Cassie memercayainya dengan tanpa ragu memberi semua kata sandi menuju akses apartemennya. Well.. Bukankah itu sebuah lampu hijau pertanda dia akan menjalin hubungan dengan wanita itu? Christov yakin 99% dia akan diterima dan 1% adalah kemungkinan terburuk yang bisa diakibatkan oleh pihak-pihak lain.
"Bagus. Aku akan pulang larut malam. Anggap saja seperti di rumahmu. Maafkan aku, tapi pekerjaan di kantor benar-benar tidak bisa diulur lagi,"
"That's okay, Cassie. Pergilah kembali bekerja.."
"Okay.. Bye,"
"Bye and I love you..."
"I know, Christov..." dan setelah kata-kata perpisahan itu, Cassie menutup panggilan. Christov kembali memasukkan ponsel ke dalam saku jaket dan membalikkan tubuh ke arah pintu masuk gedung apartemen tempat Cassie tinggal.
"1770," gumamnya pelan seraya memasukkan password untuk masuk ke lobi lalu melanjut lagi ke lift. Dia menaiki anak tangga menuju rooftop, tempat Cassie tinggal.
"1989.." pintu terbuka dan udara sore yang segar segera menyambut Christov. Dia melangkah masuk, menutup pintu, melepas sepatu serta kaos kaki, dan menaruh ranselnya yang gendut di atas lantai flanel kayu. Saat melangkahkan kaki menuju ayunan, telapak kakinya bisa merasakan rasa hangat yang nyaman dari lantai.
"Nyaman sekali tempat ini," bisiknya seraya duduk di atas ayunan kayu. Dia mulai mengayunkan diri dengan kaki dan menatap langit sore yang berwarna oranye. Di kejauhan, Christov bisa melihat lautan yang menggelap dan matahari yang perlahan di telan oleh bumi. Untuk beberapa alasan, Christov merasa iri pada Cassie yang dapat menikmati pemandangan ini setiap saat. Lokasi apartemennya terletak di pusat kota dan dikelilingi berbagai gedung tinggi sehingga tak memungkinkan untuk melihat lautan dari tempatnya.
Christov melihat sekitar dan menemukan sebuah kamera CCTV di sudut bangunan. Melihat kamera tersebut membuatnya kembali mengigat video Cassie yang menodongkan senjata pada Jason. Dia tidak habis pikir bahwa Cassie sanggup melakukan hal seperti itu. Senapan itu terisi peluru dan itu menguatkan dugaan Christov bahwa wanita itu tak segan-segan menembak Jason. Well.. Jika ditembak pun, Jason tak akan langsung mati dan luka yang ditimbulkan tidak separah yang dibayangkan karena itu bukanlah senapan api yang bisa menembus tulang.
"Well.. Tetap saja itu bahaya," katanya, "Tapi tetap dibenarkan karena Cassie melakukannya untuk melindungi diri.." lanjut dia lagi dengan kepala diangguk-anggukkan.
Christov menikmatinya waktunya di sana hingga matahari hilang di balik lautan dan kegelapan menguasai bumi. Kemudian, dia meraih ransel dan masuk ke dalam apartemen Cassie. Christov masih menemukan senapan itu di atas meja makan dan dengan sigap, dia memindahkan benda berbahaya itu ke sudut dapur.
"Lebih aman," lalu matanya menatap sekitar lagi, bingung harus melakukan apa di sini.
"Well... Dia bilang, aku bisa menganggap ini sebagai rumahku," ujarnya pada diri sendiri sebagai bentuk pembenaran dan melangkah masuk ke arah kamar Cassie, satu-satunya kamar di sini. Christov bertanya-tanya, apakah Cassie tidak pernah memiliki tamu yang pernah menginap di sini? Kemudian, senyum jahat penuh kemenangan terukir di bibirnya.
"Aku-kan salah satu tamunya," kekehnya lalu dia berhenti, "Mantan kekasihnya pasti pernah menginap di sini," lanjut dia dengan nada marah dan menatap kesal ke arah ranjang Cassie.
Christov mengacak-acak rambutnya dengan frustasi, "Sudah berapa banyak pria yang pernah menidurinya?" tiba-tiba dia merasa pesimis, "Seberapa kaya pria yang mendekatinya? Seberapa tampan? Seberapa banyak pria yang dia bawa ke mari?!" suaranya meninggi dan dengan kesal membantingkan tubuhnya ke atas ranjang.
"Arghh..." dia berguling dengan kesal memikirkan semua hal yang tiba-tiba mengganggunya tersebut. Tubuhnya mendadak berhenti ketika mendengar nada dering ponsel khusus yang dia setel untuk panggilan dari Cassie. Dia buru-buru mengambil posisi duduk dan dengan mata membara, Christov menerima panggilan tersebut.
"Hai.." sapa Cassie dengan suara girang, "Kau sudah di dalam apartemenku, bukan?"
"Yeah.." jawab Christov dengan nada sebiasa mungkin. Jangan melampiaskan kemarahanmu padanya, Connel. Ingat dia pada diri sendiri.
"Kau sudah makan malam?"
"Belum.." suaranya berubah lembut hanya mendengar kata-kata perhatian dari Cassie.
"Uhm.. Aku akan pesan menu yang kau pesan juga,"
"Okay.. Aku akan sampai sekitar 45 menit lagi. Bye.."
"Bye.."
Ditaruhnya ponsel di atas ranjang lalu menundukkan kepala dengan lesu, "Semua ini membuatku gila.."
****
"Christov!" panggil Cassie saat memasuki unit apartemennya dengan tangan penuh. Dia menaruh bawaannya di atas meja dapur dan tak menunggu lama, Christov muncul dari balik pintu kamarnya.
"Hai.. Kemarilah. Ayo, kita makan bersama.." ajak dia seraya mengatur mie ke atas mangkok, tak lupa juga memanaskan kuah mie terlebih dahulu. Christov membantunya menuangkan air minum dan mengeluarkan beberapa makanan sampingan untuk mie ramen tersebut.
"Sebenarnya, ini lebih enak jika di makan langsung di tempatnya," kata dia seraya menuangkan kuah yang panas ke atas mangkok yang berisi mie, "Lain kali kita harus makan bersama di sana. Okay?"
"Yeah.."
Jawaban singkat Christov membuat Cassie terkejut. Matanya menyipit dan dengan cepat, dia ikut duduk di hadapan Christov yang berwajah datar.
"Ada apa?" tanya dia dan pria itu mengangkat kepala dari mangkoknya.
"Apa?"
"Kau kenapa? Ada yang salah?"
Christov tersenyum tipis dan beralih ke mangkoknya lagi, "Kita makan dulu, okay?"
"Sudah kukatakan, jika kau tidak mengkomunikasikannya padaku, besar kemungkinan aku akan menolakmu, sialan.." ancam Cassie dan Christov segera menoleh ke arahnya lagi dengan senyum kaku.
"Well..." pria itu memutar lehernya dengan canggung, "Aku memiliki pertanyaan yang cukup pribadi,"
"Tanya saja..."
"Serius?"
"Yeah.." jawab Cassie singkat seraya menyeruput mie-nya.
"Kau janji tidak akan marah?"
Sekarang, dia menyipitkan matanya, "Okay," jawabnya singkat.
"Berjanjilah untuk tidak menodongkan senapanmu ke arahku?"
Cassie tiba-tiba tersadar karena tidak menemukan senapannya di mana pun, "Di mana? Di mana senapanku?'
"Itu.." tunjuk Christov ke arah sudut ruangan, "Sekarang, berjanjilah.."
"Dasar aneh.. Mana mungkin aku mengarahkannya padamu. Cepat, tanyakan padaku.."
Pria itu menarik napas dan mengembuskannya perlahan, "Aku bertanya-tanya sudah berapa banyak pria yang kau tiduri.."
Cassie menyeruput habis mie-nya lalu mengangguk-anggukkan kecil kepalanya, "Itu saja? Mudah sekali. Well.. Akan kujawab jika kau menjawab pertanyaanku juga. Bagaimana denganmu, berapa banyak wanita yang kau tiduri?"
"Jawab pertanyaanku terlebih dahulu. Kau harus jujur, okay?"
"Tiga," jawab Cassie dengan cepat dan Christov menatapnya dengan tatapan tak yakin.
"Serius?"
"Kau pikir aku berbohong? Aku serius... Satu diantaranya adalah kesalahan serta dua di antaranya adalah Jason dan kau,"
"Kesalahan? Apa maksudmu kesalahan?"
Cassie menggeleng kecil dan kembali memakan mie-nya, "Kesalahan di masa muda. Aku mabuk dan boom... Aku terbangun di ranjang orang asing dengan keadaan telanjang..."
"Apa?" tanya Christov dengan nada penuh keterkejutan, "Kapan?"
"Tidak penting. Itu hanyalah cerita masa lalu yang membosankan. Sekarang giliranku untuk bertanya. Bagaimana denganmu?"
Pria itu menunduk dan pura-pura sibuk menyeruput mie-nya. Cassie yang menatapnya segera menendang tulang kering Christov dari bawah meja.
"Aww! Wanita gila!" ringis Christov, "Astaga.. Sakit sekali.."
"Kau tidak ingat sudah berapa banyak wanita yang kau tidur, bukan?"
Christov meringis, "Argh.. Sakit sekali. Okay.. Yeah.. Aku tidak ingat, tapi aku tidak pernah melakukan se x selama kurang lebih empat tahun.."
Cassie menggeleng kecil, "Aku tak habis pikir. Bagaimana bisa kau mencurigaiku saat kau sendiri melakukan hal yang jauh lebih buruk?"
"Bukan begitu.. Aku hanya.. Well..." Christov menggaruk belakang lehernya, nampak kebingungan.
"Okay.. Aku paham. Aku paham maksudmu. Jika apa yang kau katakan benar adanya, itu hebat. Empat tahun tanpa se x di tempat yang memiliki gaya hidup bebas? Bukankah itu hebat? Aku salut.."
"Benarkah?" kini, wajah Christov berubah cerah.
"Dasar.. Dipuji sekali saja kau sudah kesenangan seperti ini. Makan mie-mu,"
Pria itu kembali memakan mie-nya dengan semangat, "Ternyata, jika dikomunikasikan seperti ini membuat keadaan lebih mudah.."
"Sudah kukatakan komunikasi itu penting.."
"Omong-omong, boleh aku bertanya tentang mantan kekasihmu?"
"Bebas..." jawab Cassie dengan nada enteng.
"Serius? Kau tak keberatan?"
"Tidak.. Dia sudah menjadi masa lalu dan aku tidak merasakan apa-apa lagi padanya..." katanya dengan suara kalem.
"Sudah berapa lama kalian menjalin hubungan?"
"Kami baru putus dengannya satu setengah tahun lalu. Kami menjalin hubungan sekitar 14-15 bulan..."
"Itu hubungan yang cukup lama,"
"Huh. Tidak ada yang bisa aku banggakan dari hubunganku. Itu benar-benar masa laluku yang sangat kelam. Aku menjali hubungan yang begitu toxic dengannya. Dia sangat egois dan selalu bertindak sesuka hatinya. Dia selingkuh, memerasku, memarahiku, dan banyak lagi. Kami juga selalu berkelahi dan Jason tak segan main tangan.."
Mendengar itu, membuat darah Christov mendidih, "Main tangan?"
"Yeah.." ujar Cassie dengan nada kecut, "Sialnya, saat itu aku tidak punya kemampuan untuk melindungi diriku sendiri. Itu salah satu alasan terbesarku mengikuti bela diri boxing dan ikut kelas menambak.. Untuk pertahanan diri,"
"Apa itu alasanmu sulit memulai hubungan?"
"Salah satunya.. Berkat Jason, aku takut memercayai orang lain dengan mudah.."
Christov memegang tangan Cassie yang berada di atas meja dan meremasnya lembut, "Apa aku memaksamu? Jika terlalu sulit, kau bisa menolakku.." kata dia dengan tawa kaku karena dari hatinya yang terdalam, Christov tidak menginginkan itu. Namun, jikalau pun hal itu terjadi, Christov akan menerimanya dengan lapang dada karena kebahagiaan Cassie adalah yang terpenting.
Cassie tertawa kecil saat menyadari nada ketegaran penuh paksaan dari Christo lalu ikut membalas genggaman tangan pria itu, "Aku melihatmu berbeda, Christov. Kau benar-benar baik dan aku bisa melihat ketulusanmu.. Jangan merasa sedih. Itu semua hanyalah cerita masa lalu yang menyimpan banyak pelajaran. Walau menyesalinya, tapi aku patut berterima kasih pada kenangan pahit itu karena aku bisa memetik banyak pelajaran hidup yang membuatku menjadi pribadi yang lebih kaut..."
Ah.. Wanitaku benar-benar keren. Batin Christov
"Aku tak akan membiarkan itu terjadi lagi padamu, Cassie.."
Dia menggeleng kecil, "Jangan berjanji.. Salah satu sumber rasa sakit hati yang paling menyakitkan bersumber dari janji yang dirusak. Lebih baik tak usah berjanji, aku hanya butuh bukti.."
"Kalau begitu, berikan aku kesempatan untuk membuktikannya..."
"Just wait, Christov.. Sebentar lagi. Biarkan aku berpikir untuk sebentar lagi.."
Christov menarik tangan Cassie ke arah mulut dan mengecupnya lembut, "Aku akan menunggu."
"Untuk sekarang..." Cassie menarik tangannya dari genggaman Christov, "Mari kita lanjut makan mie ini,"
"Omong-omong, mie ini sangat enak..." komentar pria itu.
"Sudah kukatakan. Lain kali kita harus pergi makan bersama ke tempat ini.."
"Okay.. Kau harus membayarku.."
"Huh? kau jauh lebih kaya dariku, Christov.. Bisa-bisanya kau memeras orang miskin sepertiku.."
"Kau-kan sudah sering makan di tempatku.."
"Huh? Apa? Bisa-bisanya kau memperhitungkan itu. Kau bukan lagi tuan baik hati untukku.."
Christov tertawa dan begitu juga Cassie. Berbagi tawa bersama selagi ada waktu, sebelum nanti tawa itu akan direnggut paksa.
****
Miss Foxxy
Pokoknya, masalah dalam cerita dijelaskan perlahan. Kalau cepat", aku takut sebelum tanggal 15 desember, novel ini udah tamat wkwk. Aneh juga nanti event masih lanjut, tapi novelnya udah tamat. Target aku, novel harus tamat sebelum akhir tahun hehe. Well.. Gk terasa bgt udah mau akhir tahun ajah. Yuk.. Ikutan giveaway. Thank you untuk panitia yang menyempatkan waktu memberikan kesempatan ini. I love you guys