
Happy Reading
****
Cortina, Italy. Rabu, 29 Juni 2022
"Dari mana kau belajar bermain ski sehebat ini?" tanya Christov pada Cassie seraya melepaskan papan seluncurnya saat mereka sudah sampai di villa penginapan mereka.
"Aku selalu hebat dalam segala bidang,"
Christov tertawa kecil, "Yah aku tahu jelas itu. Kau hebat dalam bidang apa pun.."
Cassie melepas penutup kepala, topi, sepatu, pakaian tebal, serta papan ski-nya lalu menaruh benda itu di dekat pintu masuk.
"Brrr.. Dingin sekali," katanya seraya berjalan menuju perapian yang berada di ruang tamu, sedangkan Christov menuju dapur yang terhubung langsung ke ruang tamu.
"Makanan tadi pagi masih ada. Apa kau mau makan ini atau kita pesan makanan yang baru?" tanya Christov yang memeriksa lemari pendingin yang berisi makanan yang mereka pesan pagi tadi.
"Hmm.. Entahlah," jawabnya tidak jelas dan berjalan menuju Christov setelah menyalakan perapian, "Makanan apa?" Cassie mengintip ke dalam lemari pendingin.
"Sup ayam.."
"Tidak ada mie instant? Aku yakin jika aku membawa beberapa bungkus mis instant saat menuju ke sini .."
"Kau ingin makan mie instant? Tumben sekali.."
"Aku juga tidak menyangka ingin makan mie instant. Udara yang membekukan ini menggugah selera makanku."
"Sure.. Duduklah di depan perapian. Aku akan memasakkannya untuk kita berdua.."
"Masak seadanya saja, cukup masukkan ke dalam microwave. Aku sudah lapar.."
Christov menggeleng, "Aku tidak mau menyajikan sesuatu yang seadanya untukmu," ucapnya dan meraih dua bungkus mis instan, "Sana.. Duduklah.."
"Aku akan duduk di sini," Cassie duduk di depan meja bar, "Aku suka melihatmu memasak.."
Christov yang sudah mengirim bawang bombay terkekeh, "Apa lagi yang kau suka dariku?"
"Senyum malu-malumu.."
Dia mengintip dari bulu matanya pada Cassie yang duduk di hadapannya, "Lalu?" ucapnya seraya menumis bawang, irisan jamur, daging, dan sosis ke dalam panci.
"Aku suka semuanya.."
Christov memasukkan air bersih sebanyak dua gelas ke dalam panci, diikuti telur, dan terakhir mie.
"Aku ingin kau menjelaskannya dengan spesifik," katanya dengan suara parau.
Cassie yang nampak sadar dengan perubahan hawa di antara mereka membuatnya memiringkan kepala.
"Kita butuh makan sebelum melakukan olahraga yang lain," katanya penuh arti
"Kupikir kau masih sanggup melakukan satu ronde sebelum makan.."
"Kau sedang memasak mie, Christov.. Mie instant cepat matang," balasnya dengan nada memperingatkan.
Christov mengarahkan tangannya ke arah pengatur suhu kompor listrik, "Aku bisa memperkecil suhunya.."
"Dasar gila.. Apa di otakmu hanya ada se-x?"
"Kau yang membuatku kecanduan," ujarnya dengan nada rendah sembari melepaskan sweater dan kaos yang dia kenakan.
Cassie menarik napas lalu memutar arah kursi yang dia duduki agar membelakangi Christov dan bersiap melarikan diri.
"Aku pikir aku perlu ke kamar mandi.."
"Uh-uh.. No.. Kau tidak bisa. Semalam kau menghabisiku habis-habisan. Kini giliranku," cegat Christov yang berjalan menghampirinya.
"Kau harus menahan naf--"
Belum selesai dengan ucapannya, Christov menarik tangan kanan Cassie, menariknya mendekat, lalu mendaratkan bibirnya pada bibir Cassie.
"Not now, baby.." tolak Cassie sembari mendorong tubuh Christov, tapi dia tetap tidak berhenti. Bibirnya menjelajah di sekitar wajah Cassie. Mengecupi pipi wanita itu dengan cepat, tapi lembut. Tangan kirinya melingkar di pinggul Cassie, mencegah isterinya itu melarikan diri dan tangan kanannya masuk ke balik pakaian Cassie. Jemari tangannya yang dingin menyentuh permukaan kulit perut Cassie yang hangat, mengelus punggungnya, lalu semakin naik menuju pa-yu-da-ra Cassie.
"Shhhh," Cassie mendesis bercampur le-ngu-han merasakan jari Christov yang dingin saat memilin pu-ting-nya, "Fvck, Christov.." erangnya ketika pu-ting dicubit keras, tapi dia merasakan nikmat yang tak terjelaskan oleh kata-kata di seluruh tubuhnya.
Mulut Christov tersimpul senyum penuh kemenangan ketika akhirnya Cassie mengalah dan berhenti meronta melepaskan diri. Satu tangan Cassie berpegangan pada pundaknya dan satu lagi tergantung lemas.
"Suka?" bisik Christov di telinga Cassie lalu menghisap daun telinganya dengan lembut, "Jawab?" tuntutnya ketika Cassie tidak memberi jawaban dan mencubit pu-ting Cassie lebih keras, membuat isterinya itu menjerit penuh keputusasaan.
"Oh.. Oh.. Oh no!" e-ra-ngan Cassie semakin menjadi-jadi dan itu membuat Christov semakin semangat.
"Oh yeah, baby.. Aku tahu... Aku tahu kau menginginkannya," Christov memindahkan tangan kanannya ke sisi pa-yu-da-ra Cassie yang lain dan melakukan hal yang sama. Me-re-mas gundukan itu dengan gerakan sen-su-al, mencubit, memilin hingga membuat pu-ting Cassie semakin memanjang, mengeras, dan menegang.
"Ah.. Ah.. Please.. Lakukan sekarang juga, sialan," Cassie mendorong Christov dengan sisa kekuatannya yang sudah terkuras.
"Wait.. Wait," Christov menghisap lembut permukaan kulit leher Cassie. Menghisapnya dengan sedikit keras untuk memberi tanda.
"Tanda bahwa kau punyaku, Cassie," dia berjalan mengarahkan Cassie ke arah meja makan. Memaksa wanita itu berjalan mundur dengan kakinya yang tidak bertenaga lagi.
"Oh..Ah.. Oh my.. Shi-t.. Ini terlampau nikmat.."
Christov menurunkan tangannya yang lain ke arah bo-kong Cassie lalu meremasnya.
"Aku suka bo-kongmu.."
"Argh, Christov.. Kau menyiksaku.. Masukkan sekarang juga.."
Christov terkekeh lalu mengangkat sedikit tubuh Cassie ke atas meja. Mengarahkan kedua tangannya ke ujung celana Cassie kemudian menarik celana serta pakaian dalamnya sekaligus. Dia menaruh benda itu secara asal di atas lantai lalu menatap Cassie yang duduk terengah-engah dengan paha yang dirapatkan.
"Buka.."
Cassie tersenyum miring dan membuka lebar pahanya, "Kau pikir aku akan malu-malu, huh?"
"Apa yang kau tunggu?"
Christov mengangkat bahunya, "Mengagumi keindahan?"
Cassie tertawa, "Benarkah?"
Dia mengangguk, "Aku penasaran apakah rasanya enak.."
"Kalau begitu coba saja.. Coba sebelum pintu masuknya tertutup," goda Cassie dan Christov melangkah mendekat lalu menundukkan kepalanya. Menjilat permukaan kli-tors Cassie.
"Argh.. Sial" e-rang Cassie kencang saat Christov menghisap miliknya. Dia membaringkan tubuhnya di atas meja kayu itu dan kedua tangannya me-re-mas rambut tebal Christov.
"Ah.. Ahk.." e-luhan-nya semakin kencang dan lidah Christov bermain semakin lihai. Masuk ke dalam dan menyentuh titik-titik sensitif di kewanitaannya. Punggungnya dilengkungkan ke atas dan tubuhnya mulai bergetar.
"Oh.. Oh.. Yeah.. yeah.. Please..."
Cassie mendorong pinggulnya semakin dalam ke arah mulut Christov dan menggerak-gerakkan dengan gerakan gelisah. Dia merasa gelisah dan putus asa untuk mendapatkan pelepasannya.
"OH.. Oh.. Yeah.. My.. My love.. Christov! Christov!" teriakannya semakin kencang dan e-ra-ngannya semakin menggila ketika puncaknya semakin dekat. Semakin dekat dan Christov mendadak berhenti.
"OH fvck! Why?" Cassie berteriak kecewa ketika melihat Christov yang sudah menegakkan tubuhnya. Dia menatap kecewa ke arah pria tersebut.
"Kita harus mendapatkannya bersama," geram Christov dengan nada rendah seraya melepaskan resleting celana yang dia kenakan. Tatapannya tak sedetik pun lepas dari Cassie yang menatapnya marah. Dia melepaskan kejantanannya sendiri lalu berjalan mendekat.
"Mendekat," tangannya menarik Cassie ke ujung meja lalu membuka lebar-lebar paha wanita itu, "Aku mungkin tidak melakukannya dengan lembut, Cassie," ancamnya dan mendorong masuk dalam-dalam kejantanannya ke dalam kewanitaan Cassie tanpa aba-aba. Memasukkan seluruh miliknya hingga tidka tersisa.
Cassie memejamkan mata, melengkungkan kepala ke belakang, dan menggeram penuh kenikmatan saat kejantanan Christov memenuhi dirinya hingga ke titik terdalam. Kedua tangan pria tersebut berada di pinggulnya dan mendorong lagi agar kejantanan itu masuk semakin dalam.
"Ugh.." Christov melenguh dengan perasaan hangat yang melingkupi kejantanannya tersebut. Ruang sempit yang membungkusnya dengan sangat sempurna.
"Yeah.. Christov... yeah.."
Christov mulai bergerak. Bergerak cepat dengan gerakan kasar. Menarik setengah pangkal ke-jan-ta-nannya lalu mendorong masuk dengan kasar ke dalam kewanitaan Cassie hingga membuatnya menjerit kencang. Christov terkekeh dan bergerak semakin cepat, membiarkan meja tersebut ikut bergerak.
"Cassie.. Cassie.." dia menggeram saat merasakan kewanitaan Cassie yang semakin menjepit kejantanannya, "Oh.. Oh yeah.."
Suara tepukan berbaur dengan decitan yang tercipta dari ritme cepat yang Christov buat.
"Angkat bajumu," perintahnya di sela gerakannya yang menggila dan Cassie mematuhinya. Mengangkat sweater yang dia kenakan dan menunjukkan pa-yu-da-ranya yang berguncang hebat.
"Ah.. Ah.. Ah.."
Mata Christov yang menggelap melihat keindahan yang didepannya. Tubuh Cassie yang memerah dan berkeringat, dadanya yang berguncang ke sana-kemari, dan mulutnya yang terbuka untuk mengeluarkan e-lu-han dan e-ra-ngan adalah sesuatu yang indah di mata Christov.
Dia menunduk lalu mendekatkan diri pada pa-yu-da-ra Cassie, mengisi mulutnya sembari tetap bergerak. Memutar pinggul, menghisap kencang, dan mendorong masuk dengan keras.
"Ahk!" Cassie memekik dan tubuh mereka bergetar.
"Yeah. Yeah. Yeah." christov menghentak-hentakkan pinggulnya dengan kuat dan tajam di setiap e-ra-ngannya, "Datang. Datanglah. Untukku. Cassie."
Dia menghisap kencang sisi pa-yu-da-ra Cassie yang lain lalu menghentakkan pinggulnya beberapa kali hingga pelepasan itu datang. Tubuhnya bergetar dan tubuh Cassie pun ikut. Cairan hangat Cassie menyelimuti dirinya dan cairannya membasahi seluruh kewanitaan Cassie.
Christov menarik mulutnya dari pa-yu-da-ra Cassie lalu menyandarkan setengah berat tubuhnya pada wanita itu. Menyandarkan kepalanya di dada Cassie untuk mendengar detak jantung isterinya yang berpacu kuat.
"Nikmat," bisik Christov dengan suara parau.
"Uhm.. Christov?"
"yeah?"
"Mie instant kita sudah masak.."
Christov tersenyum, "Sebentar.. Sebentar lagi dan kita kan makan. Okay?"
"Uhm.. Okay, babe..."
****
Bandara Internasional Fiumicino, Italy. Kamis, 7 Juli 2022
Cassie menatap satu garis pada testpack yang dia pegang di tangan kirinya dalam diam selama beberapa saat. Tanpa sadar, air matanya yang tidak diundang itu menetes dan membasahi wajahnya. Cassie menarik napas dan mencoba menghentikan tangisnya sendiri seraya meremas testpack itu hingga hancur.
"Sial," umpatnya dengan nada hancur lalu menumpukan kepalanya di atas kedua tangannya, "Sial.. Sial.. Sial.." dia memukul-mukul kepalanya untuk menyalahkan diri sendiri atas hasil yang dia lihat pada testpack yang sudah dia hancurkan
Dia melipat bibir dan menahan diri agar tidak terisak. Namun, air mata sialannya itu terus datang. Mengalir dan menganak sungai di wajahnya yang memerah. Cassie memukul-mukul kepalanya lagi dan mengingat ke-bo-do-hannya sendiri yang sudah berpikir bahwa dia hamil. Hanya karena Cassie merasa mual beberapa kali selama beberapa waktu belakangan ini, harapan bahwa dia hamil tumbuh di dalam hatinya. Harapan itu semakin bertumbuh seiring mual yang kerap di rasakan hingga harapan yang membesar itu hancur oleh hasil yang dia lihat. Hancur berkeping-keping dan menyakiti dirinya sendiri. Sakit.. Sangat sakit melihat garis satu itu. Muncul di sana seolah menertawakan harapan bo-doh Cassie.
Ponselnya berdering dan dia tahu itu dari Christov. Cassie buru-buru menegakkan tubuh lalu mengusap air mata sialan itu dari wajahnya menggunakan lengan jaketnya. Dia meraih ponsel dari dalam tas tangannya, berdehem, dan menerima panggilan tersebut.
"Yah? Apa?" katanya dengan suara sesantai mungkin.
"Kau belum siap dari kamar mandi? Sebentar lagi kita akan berangkat.."
"Yeah.. Yeah, babe. Sudah siap. Aku akan datang.."
"Aku menunggumu,"
Cassie menutup panggilan lalu mendengus marah. Marah pada dirinya sendiri. Marah karena tidak bisa hamil, padahal dia sudah mensengajakan melepas alat kontrasepsinya dua bulan yang lalu. Namun, hingga saat ini belum ada titik terang.
Mandul? Pikiran itu muncul dan Cassie denagn cepat menepisnya.
"Mana mungkin," katanya dengan nada sok kaut yang membohongi dirinya sendiri. Dia menunduk dengan tubuh yang bergetar hebat karena amarah dan mengepalkan kedua tangannya. Kedua matanya menatap kosong ke arah lantai dan air mata itu turun lagi. Menetes jauh ke atas lantai.
"Bagaimana jika benar?" katanya dengan suara getir, "Bagaimana jika aku sebenarnya mandul?"
****
Miss Foxxy
Maaf larut bgt baru bisa update... Kalo byk typo maaf yah atau ada kata" gk nyambung soalnya buru" waktu edit. Thank you