
Happy Reading
****
I will always remember you
-Cassandra De Angelis-
****
Tiga bulan kemudian
Roma, Itali. Selasa, 15 Juni 2021. 14.00
"Bagaimana kabarmu?" tanya Cassie dengan nada sedih pada Christov melalui panggilan video.
"Kau baru menghubungiku sejam yang lalu, sayang.. Tentu aku baik-baik saja," balas Christov dengan senyum lebar, "Kau sangat merindukanku, yah?"
Cassie mengangguk keras, "Yah.. Sangat.. Sangat rindu.. Aku benar-benar merindukanmu," ujarnya seraya mengelus wajah Christov yang berada di layar iPad miliknya, "Aku benci hubungan jarak jauh.."
"Me too, baby.. Aku benar-benar merindukanmu juga.."
"Tidak bisakah kau mengejar gelar doktor-mu di Roma bersamaku dan bukan di Jepang?"
Christov tertawa kecil, "Aku harap aku bisa, sayang.. Namun, Jepang adalah tempat belajar yang tepat untukku. Kau ingat tentang bangunan anti gempa yang pernah kuceritakan? Aku perlu mempelajari tentang itu di sini.. Mereka memiliki sistem pendidikan yang luar biasa terkait bangunan anti gempa.."
Cassie mendengus sedih akan jawaban Christov. Yah.. Baik dia, maupun Christov memilih untuk melanjutkan pendidikan mereka. Christov mengejar gelar doktor arsitektur-nya di Jepang dan Cassie mengejar gelar magister seni musik-nya di Roma. Sebulan sejak ingatan Christov kembali, keputusan melanjutkan pendidikan itu terjadi begitu saja di antara mereka. Melanjutkan pendidikan itu adalah cita-cita terpendam mereka sedari dulu, tapi tertunda karena berbagai alasan.
Cassie dan suaminya tersebut memutuskan menunda pernikahan mereka sampai pendidikan mereka masing-masing selesai. Itu bukanlah keputusan yang mudah, tapi Cassie tahu mereka harus melakukannya demi masa depan. Terutama sejak dia keluar dari penjara. Tidak ada yang mau memperkerjakan Cassie yang nama baiknya sudah tercoreng dan nama baiknya semakin buruk karena berita buruk yang disebarkan oleh keluarga Clara dan Madison.
Ingin rasanya Cassie membalas mereka, tapi apalah daya. Cassie hanyalah orang biasa, sedangkan keluarga Clara serta Madison bukan sekadar orang biasa. Mereka adalah orang kaya sialan. Itulah realita yang terjadi di dunia nyata ini. Sulit mengalahkan orang-orang kaya yang mempunyai kuasa. Satu-satunya yang bisa membalas perbuatan jahat mereka adalah karma. Yah.. Cassie percaya akan karma. Dia tahu karma terus bekerja dan semua hanya menunggu waktu hingga Clara dan madison menerima ganjaran yang setimpal.
Bagaimana dengan Laura? Wanita itu masih mendekam di penjara. Dia menerima hukuman penjara selama dua tahun dan baru-baru ini, Laura kembali mendapat tuntutan terkait suap serta korupsi yang terjadi di perusahaan tempat Cassie bekerja dulu. Bayangkan betapa frustasinya Laura menerima tuntutan lain saat dia masih mendekam di penjara? Namun, Cassie tidak peduli karena Laura pantas mendapatkannya.
Dengan alasan tadi, melanjutkan pendidikan sembari menunggu nama baiknya bersih adalah pilihan terbaik. Awalnya, orangtua Cassie menyarankan mereka menikah terlebih dahulu sebelum memilih melanjutkan pendidikan, tapi Christov dan Cassie memutuskan menunda pernikahan mereka yang sah secara hukum untuk sementara waktu sampai pendidikan mereka selesai. Lalu di sinilah mereka berdua, berjuang melakukan hubungan jarak jauh dengan jarak tempat yang memiliki perbedaan waktu delapan jam
"Cepat selesaikan pendidikanmu dan nikahi aku, sialan," ucap Cassie dengan wajah cemberut.
"Aku berjanji akan menyelesaikan pendidikanku sesegera mungkin dan menikahimu, sayang... Mau bertaruh, huh?"
Cassie memutar tubuhnya yang telungkup ke posisi berbaring lalu mengangkat iPad-nya ke atas dengan kedua tangannya.
"Bertaruh?" tanya Cassie dengan nada heran.
"Hmm.. Mari bertaruh siapa di antara kita yang paling cepat menyelesaikan pendidikan kita. Aku atau kamu?"
"Untuk apa? Hadiahnya apa, huh?"
"Apa saja.. Ayolah.. Ini bisa membuat kita berdua semakin semangat menyelesaikan pendidikan kita, sayang.."
Cassie mengangguk kecil, "Yeah.. Yeah. Terserah padamu, tapi kau berjanji akan mengabulkan apa pun permintaanku jika aku menyelesaikan pendidikanku lebih cepat dari padamu?"
"Yeah, baby.."
"Baiklah... Aku suka berkompetisi.."
"Bagus.."
Cassie kembali memutar tubuh ke posisi telungkup, "Christov?" panggilnya dengan nada lembut.
"Yeah?"
"Di sana sudah larut yah?"
"Belum.. Masih jam sepuluh. Tidak terlalu larut,"
Cassie tersenyum miring, "Apa kau sendirian?" tanyanya dengan nada malu-malu dan Christov tertawa kecil menyadari arah pembicaraan Cassie.
"Kenapa tertawa? Jawab aku.. Apa kau sendirian?"
Christov mengangguk kecil, "Yah.." jawabnya dengan nada serak.
Cassie tak bisa menahan senyum nakalnya lagi, "Mau melihat punyaku?"
"Cassie," ujar Christov dengan nada memperingatkan, "Aku tidak melakukan hal semacam mas-tur-ba-si,"
"Aku tidak menyuruhmu melakukannya. Aku hanya bertanya apa kau mau melihat bu-ah-da-da-ku atau tidak. Lagian, pria mana yang tidak melakukan kegiatan mas-tur-ba-si, huh?"
"Kenapa aku harus melakukannya saat aku punya dirimu?"
"Aww.." ujar Cassie dengan nada terharu yang malu-malu, "Kau selalu bisa membuatku melayang.. Namun, kita tidak bisa bercinta karena jarak yang memisahkan.."
"Namun, aku masih bisa melihatnya.."
Cassie mengubah posisinya menjadi duduk menyandar di kepala ranjang.
"Buka kancing kemejamu," perintah Christov dengan nada serak yang menuntut.
Cassie menelan ludahnya dengan susah payah dan tanpa sadar, dia merapatkan kedua pahanya.
"Seperti ini?" tanya dia ketika sudah menurunkan satu kancing teratas kemejanya.
"Lagi.."
Napas Cassie mulai berderu semakin cepat dan jantungnya berpacu kuat, membuat wajahnya memerah dan memanas. Dia menurunkan dua kancing lagi sehingga belahannya nampak.
"Cukup?" bisiknya.
"Argh.." Christov menggeram dan dari layar, Cassie melihat pria itu menjilat permukaan bibirnya sendiri yang membuatnya menggila.
"Lagi, sayang.. Lagi. Buka semuanya untukku.."
"Kau te-rang-sang, Christov.. Kupikir kau berkata kau tidak melakukan mas-tur-ba-si.."
"Aku tidak," sanggah pria itu, "Again*, Cassie.. Tunjukkan padaku semuanya, sayang.."
(*Lagi)
Cassie menghembuskan napasnya dengan susah payah dan menuruti permintaan Christov. Dia melepas satu persatu kancing kemejanya hingga habis.
"Sekarang.. Lepas kemeja dan celanamu.."
"A-Apa?" tanya Cassie dengan nada gugup.
"Just do it, Cassie*.. Buka dan tunjukkan padaku.."
(*Tinggal lakukan saja, Cassie)
"Christov.." panggilnya dengan suara tercekat dan bersiap menolak permintaan pria itu.
"Taruh ponselmu di tempat aku bisa melihatmu.."
Cassie menaruh iPad-nya di atas ranjang yang tepat berada di depan wajahnya dengan jarak satu lengan setelah dia melepaskan kemeja dan celananya. Kemudian dia berbaring miring di ranjangnya sehingga bertatapan dengan Christov.
"Bra-mu.."
"No.."
Christov terkekeh dengan nada rendah, "Buka bra-mu, Cassie. Jangan sampai aku memintanya dua kali.."
Dia mengigit bibir bawah dan tubuhnya bergetar oleh sensasi liar tersebut. Cassie ingin menolak, tapi dia tidak bisa menahan dirinya. Cassie mengarahkan satu tangannya ke belakang dalam gerakan ragu-ragu untuk melepas kaitan bra-nya sendiri lalu melepas benda itu hingga pa-yu-da-ra-nya terbebas.
"Cantik.. Sangat cantik," puji Christov dengan nada rendah, "Aku berharap ada di sana dan menghisapnya dengan sangat kencang hingga kau berteriak kuat.."
Cassie merona dan merapatkan pahanya semakin rapat.
"Aku ingin kau menyentuhnya,"
"N-no, Christov.. Aku tak mau," tolak Cassie dengan cepat.
Well.. Dia terkadang memang suka menyentuh pa-yu-da-ranya dan seluruh wanita di muka bumi pun melakukannya, tapi Cassie selalu melakukannya saat sendiri. Ketika Christov memintanya seperti ini malah membuatnya malu.
"Kenapa?"
"Aku malu.."
"Kenapa harus malu? Jangan malu padaku, Cassie.. Please.. Jika kau malu, kalau begitu tutup matamu,"
Cassie yang ragu tersebut tetap menurut dan memejamkan matanya.
"Sentuh dan bayangkan jika itu adalah tanganku, sayang.. Bayangkan aku ada di sana tengah me-re-mas lembut milikmu lalu menghisapnya kencang,"
Cassie mengangkat tangan kanannya perlahan ke arah pa-yu-da-ra kanannya.
"Aku sekarang ingin memilin pu-tingmu, Cassie sayang"
Dia melakukan setiap kata dari Christov, membayangkan tangannya adalah tangan Christov yang tengah memilih pu-tingnya dan..
"Ahk.." dia me-nge-rang dengan suara tertahan.
"Yes.. Yes.. Pilin dan tarik.. Aku ingin mencubitnya dan memilinnya di antara kedua tanganku hingga itu memanjang.."
Napas Cassie berderu semakin cepat dan tangan kirinya ikut digerakkan menyentuh sisi pa-yu-da-ranya yang lain.
"Oh.. Oh.. Christov.." de-sahnya.
"Aku akan meremasnya kuat di antara kedua tanganku lalu menghisap pu-tingmu dengan sangat kuat.."
"Argh.. Oh.. Oh.. Christov," de-sahan Cassie semakin menggila seiring dengan gerakan tangannya yang semakin intens. Kakinya bergerak-gerak gelisah mendorong seprei serta tubuhnya semakin memanas.
"Yes, baby.. Panggil namaku.. Panggil namaku, sayang.."
"Oh.. Oh my.."
"Aku tahu kau sudah sangat basah di bawah sana.. Sekarang, sentuh kewanitaanmu, sayang.."
Cassie tetap memejamkan mata dan tangan kanannya bergerak turun lalu masuk ke balik pakaian dalamnya.
"Satu jariku masuk ke dalam sana,"
"Ohhh.." dunia Cassie serasa berputar dengan sangat cepat saat satu jemarinya masuk.
"Satu jariku masuk satu lagi lalu bergerak.. Aku menggerakkannya dengan gerakan melingkar..."
Jemari Cassie bergerak seraya membayangkan gerakan jemari Christov. Mulutnya terbuka dan punggungnya melengkung ke atas ketika merasakan rasa geli yang menggetarkan seluruh inci tubuhnya. Seolah ada ribuan kupu-kupu yang menempel di perutnya dan menimbulkan sensasi geli yang liar tersebut. Kedua pahanya semakin dirapatkan dan getaran kenikmatan itu sampai hingga ke ubun-ubun kepalanya.
"Bayangkan aku di sana.. Berada di antara kedua pahamu.. Menghisap kencang milikmu hingga kau berteriak keras.. Aku menghisapnya.. Memainkan lidahku di sana..."
"A--Argh!" tubuh Cassie bergetar dan punggungnya di lekungkan semakin atas. Sensasi nikmat itu menyebar dari ke-wa-ni-taannya menuju seluruh inci saraf tubuhnya.
Lengkungan punggungnya dijatuhkan kembali ke arah ranjang ketika mendapat pelepasannya. Dadanya naik turun dan matanya yang sebelumnya terpejam sudah terbuka. Cassie memejamkan mata lagi lalu menikmati pelepasan itu dalam hening.
"Kau membuatku mas-tur-ba-si sendiri," ujar Cassie seraya memiringkan tubuhnya kembali ke arah layar iPad-nya lalu menatap Christov yang tersenyum miring.
"Andai kau tahu betapa kerasnya kejantananku sekarang, Cassie.. Aku sekarang membayangkan mulut pintarmu menghisap milikku..
"Kuharap aku bisa menghisapnya.. Kalau begitu, lakukan mas-tur-ba-si aja. Kau mau, huh? Aku bisa melakukan hal yang seperti kau lakukan padaku sebelumnya."
Christov menggeleng, "No.. Aku tidak suka melakukan hal semacam itu.."
"Jadi kau tidak pernah melakukan hal seperti itu sebelumnya?"
"Aku terkadang melakukannya untuk alasan kesehatan. Baiknya, sper-ma dikeluarkan minimal sekali seminggu.."
"Jadi kau melakukannya sekali seminggu?" tanya Cassie dengan nada penasaran.
"Well.. Tentu saja tidak. Terakhir aku melakukan kegiatan mas-tur-ba-si saat duduk di bangku kuliah."
"Jadi? Bagaimana caramu mengeluarkan sper-ma-mu?"
"Pria mengalami mim-pi basah, sayang.."
Mata Cassie terbuka lebar dan rasa penasarannya bertumbuh semakin besar.
"Kau sudah hampir berusia 30 tahun dan kau tetap mengalami mim-pi basah?"
"Tentu saja.. Kau pikir?"
"Kau harus sering-sering membaca jurnal kesehatan sek-su-al.."
"Jadi?"
"Apa?"
Cassie memajukan kedua bibirnya lalu menolah ke sembarang arah.
"Siapa yang kau mimpikan saat mim-pi basah? Aku dengar, pria melakukan mim-pi basah dengan bayangan wanita dalam mimpi mereka.."
Christov tertawa kecil dan Cassie segera menatap pria itu kembali dengan tatapan tajam.
"Kenapa tertawa? Apa itu aku? Atau wanita lain?"
"Oh.. Babe.. Babe.. Santai.. Easy. Aku tidak ingat dan kebanyakan pria yang mengalami mim-pi basah tidak ingat. Kami tidak ingat wajahnya dengan jelas dan hanya muncul gambar samar-samar.. Kau begitu juga saat bermimpi, bukan? Semua manusia di muka bumi ini pasti tidak bisa ingat mimpinya dengan jelas.."
Cassie mengangguk kecil, "Kau benar, tapi tetap saja aku penasaran siapa wanita dalam mim-pi basahmu, sialan.."
Christov tertawa, "Jangan cemburu, sayang.. Itu hanyalah mimpi. Bukan masalah besar. Aku harus mandi dulu sekarang sebelum waktu semakin larut.."
"Hmm.. Aku juga harus mandi lagi karena aku masih punya kelas sore ini.."
"Okay, babe.. Belajar yang rajin dan jangan berani-beraninya memakai pakaian terbuka di sana.."
"Yeah.. Yeah.. Kau juga. Jaga hati dan matamu.. Aku tahu wanita-wanita asia sangat menggemaskan, tapi kau harus jaga mata. Okay?"
"Bagiku kau adalah wanita yang paling menggemaskan seantero dunia.."
Cassie tertawa malu-malu, "I love you, darling.. Selamat tidur dan kuharap jika kau mimpi ba-sah, kau memimpikanku sebagai wanitanya.."
"Aku harap.. I love you too.. Jangan lupa makan.. Bye-bye.."
"Bye and see you soon, Christov*.." (*Sampai jumpa sesegera mungkin, Christov.)
"See you too, Cassie*..." (*Sampai jumpa lagi Cassie.)
****
Hari Kelulusan.
Sapienza University of Rome, Italy. Sabtu, 21 Mei 2022.
"Cassandra De Angelis.."
Cassie yang mengenakan jubah dan topi kelulusannya berdiri dari duduknya lalu berjalan menuju panggung untuk menerima toga kelulusannya. Saat menaiki anak tangga pertama, Cassie melirik ke arah tempat duduk tamu dan menemukan keluarga serta teman-temannya yang duduk di bangku depan. Ada kedua orangtuanya, isteri Ayahnya, Miranda, ketiga teman-temannya, dan Ayah Christov. Yah.. Ayah Christov hadir di acara kelulusannya, tapi sayangnya Christov tidak bisa datang.
Cassie melebarkan senyumnya dan menahan diri untuk tidak menangis. Bingung.. Cassie merasa bingung. Apakah dia ingin menangis karena ketidakhadiran Christov atau menangis karena akhirnya dia menyelesaikan pendidikan masgister-nya? Entahlah.. Cassie tidak yakin dengan perasaannya sendiri.
Sedih rasanya Christov tidak bisa hadir karena pria itu harus terjebak di Jepang setelah gempa menimpa tempat itu. Well.. Pria itu baik-baik saja, tapi kegiatan operasional penerbangan keluar dan masuk jepang harus dihentikan sampai keadaan normal kembali. Hal itu pula yang membuat Christov tidak bisa datang ke hari kelulusannya.
Ingin dia menangis, tapi apa yang bisa di kata. Keadaan memang tidak memungkinkan. Asalkan Christov baik-baik saja di sana sudah cukup baginya. Namun, tetap saja Cassie merasakan kekosongan karena pria itu tidak bisa datang menghadiri acara kelulusannya.
"Congratulazioni.. Selamat atas gelar Master anda," ucap Rektor universitasnya pada Cassie sembari memberi tongkat toganya. Mereka berjabat tangan dan setelahnya, Cassie bergerak turun dari panggung.
Sebelum menuruni anak tangga, dia menoleh kembali ke arah tempat duduk tamu dan berharap Christov sudah ada di sana, tapi tidak ada. Harapannya tersebut telah membuat kekecewaan di dalam dirinya semakin terasa sakit.
"Kuatlah, Cassie," ucapnya pada diri sendiri sembari menuruni anak tangga dengan langkah penuh percaya diri dan tubuh tegap. Saat melewati tempat duduk keluarga dan teman-temannya, mereka melambai-lambai ke arahnya sembari memanggil namanya dengan suara pelan.
"Angkat togamu..." ucap mereka senantiasa mengarahkan kamera serta ponsel mereka. Cassie tertawa kecil melihat tingkah keluarga dan teman-temannya tersebut. Dia berhenti sejenak di posisinya lalu mengangkat toganya sendiri dengan bangga dan senyum lebar.
"Di cheese*!" teriak si fotografer pada Cassie beserta keluarganya dan teman-temannya yang tengah berpose ria.
(*Katakan cheese)
"CHEESE!" teriaknya dan gambar bersama itu akhirnya selesai.
"Grazia*.. Kau bisa menerima cetakannya di stan depan gedung 15 menit lagi," ujar fotographer tersebut pada mereka.
(*Terimakasih)
"Apa kau tidak bisa mengambil foto yang lain?" ucap Barbara dalam bahasa Itali pada fotographer tersebut.
"Tentu," balas si fotografer.
"Mom.. Aku ingin ke toilet dulu. Foto yang kita ambil-kan sudah sangat banyak.."
"Ah.. Baik.. Baiklah.."
"Pergilah memakan makanan dulu," katanya dan rombongan keluar dan teman-teman Cassie segera berpencar ke di dalam gedung.
"Tolong pegang ini, Mom.." dia memberikan buket bunganya pada Barbara, "Aku ke toilet dulu.."
"Okay.. Mom akan ada di stan makanan yang di sudut.."
Cassie mengangguk dan memutar tubuh lalu berjalan meninggalkan keramaian tersebut. Dia berjalan keluar dari gedung itu lalu duduk di atas bangku yang berada di bawah pohon.
"Oh fuvk.." umpatnya dengan nada penuh kelegaan ketika akhirnya bisa mengistirahatkan kakinya setelah beberapa jam berdiri. Dia menunduk lalu melepas sepatu heels-nya sendiri dan menaruh kakinya di atas paving block yang dingin
"Leganya.." bisiknya sembari menyandarkan kepalanya di atas punggung kursi. Cassie terdiam dan menatap daun pepohonan yang bergerak lembut karena angin yang berdersik. Angin sepoi-sepoi menyejukkan wajah dan kakinya serta bayangan pepohonan menari-nari di wajahnya.
"Indahnya.. Andai Christov bisa datang..." katanya dengan suara bergetar. Sinar matahari yang terang menembus dari celah daun pepohonan dan menyilaukan kedua mata Cassie hingga air mata yang tidak diundang itu tumpah.
"What the f--" Cassie menegakkan tubuh lalu mengusap matanya yang basah, "Kenapa aku menangis?...Ke--Kenapa.. A-A-Aku.." ucapnya terbata-bata dan dia tidak kuasa lagi menahan emosi yang sudah ditahannya sejak mendengar kabar ketidakhadiran Christov.
"Fvck. Fvck, Christov.. Kenapa tidak datang?" hisaknya dengan kedua tangan menutupi wajahnya, "Dasar gempa sialan.."
"Cassie? Kau kah itu?"
Dia mendadak menghentikan hisakannya yang mengerikan lalu melepas kedua tangan yang menutupi wajahnya untuk menoleh ke sumber suara. Detik dia melihat sosok yang berdiri tidak jauh darinya, jantung Cassie seolah berhenti berdetak.
Di sana, Christov berdiri dengan pakaian kasual dan tangan memegang buket sayuran. Christov melepas kacamata yang bertengger di hidungnya lalu memasukkan benda itu ke dalam saku kemeja yang dia kenakan.
"Cassie.. Kau menangis?" tanyanya dengan nada khawatir dan buru-buru berjalan menghampiri dia yang masih duduk mematung untuk memproses apa yang dia lihat.
"Astaga.. Kenapa kau menangis?" Christov menaruh buket sayuran di kursi lalu bersimpuh dengan satu lututnya di hadapan Cassie. Pria itu lalu mengelap wajahnya dengan lembut dengan jempolnya.
"Chri--Christov?" panggilnya dengan nada ragu.
"Yah? Kenapa kau menatapku seperti itu, hmm? Kenapa pula kau menangis di hari berbahagia seperti ini?"
Dengan ragu, Cassie mengangkat kanan kanannya lalu menyentuh wajah Christov yang lembut untuk memastikan bahwa pria itu nyata dan bukannya ilusi.
"Ba--Bagaimana bisa kau ada di sini? Bukankah kau harusnya di Jepang?"
Christov tersenyum, "Tentu saja menggunakan pesawat. Aku baru sampai sejam yang lalu dan langsung bergegas datang ke mari," dia tersenyum lalu mengelus rambut Cassie yang tergerai dengan lembut, "Maaf aku terlambat datang. Kuharap kau tidak marah.."
Cassie menggigit bibir bawahnya.
"Aku sangat bangga padamu, Cassie.. Selamat untuk kelulusan dan gelar barumu, sayang.."
"Sialan," tangis Cassie pecah dan kedua tangannya segera memeluk leher Christov dengan sangat erat, "Bagaimana bisa kau datang terlambat? A-aku.. A-ku pikir kau masih ada di Jepang..." hisaknya.
Christov yang sedikit terkejut menerima pelukan tak terduga itu tersenyum lembut lalu membalas pelukan Cassie dan menepuk punggung wanita itu dengan lembut. Dia tersenyum lalu menghirup aroma tubuh Cassie dalam-dalam.
"Maafkan aku, sayang.. Maafkan aku terlambat.."
"Oh my.. Oh my.. Aku benar-beanr sedih, khawatir, dan takut dan.. dan.. Dan juga marah karena kau tidak ada di sini.. Aku tidak tahu harus bereaksi apa saat melihatmu ada di sini.. Kupikir kau akan mati karena gempa itu..." rengek Cassie dengan tangis yang masih berlanjut.
"Maafkan aku sudah membuatmu khawatir, sayang.. I'm sorry... Lihat aku? Baik-baik saja.."
"Kau hampir membuatku mati ketakutan karena gempa sialan itu.. Jangan pernah.. Jangan pernah meninggalkanku lagi.. Persetan dengan bangunan anti gempa mu.. Kau bisa mempelajari itu di sini bersamaku.."
Christov mendorong lembut tubuh Cassie menjauh darinya untuk memeriksa wajah wanita itu.
"Riasanmu jadi kacau begini," komentarnya dengan nada bercanda.
"Jangan bercanda padaku," peringat Cassie yang sudah tidak menangis lagi.
Christov mengusap wajah Cassie dengan tissue.
"Kau bilang kau tidak datang.."
"Aku tahu, tapi begitu penerbangan dibuka kembali, aku mengambil tiket penerbangan pertama ke Itali," Christov memasukkan tissue itu kembali ke saku celananya, "Bagaimana bisa aku tidak menghadiri acara kelulusan isteriku?"
"Yah.. Aku saja hadir di kelulusanmu."
"Sekarang, aku tidak akan pergi lagi. Ayo.. kembali ke dalam. Aku ingin bertemu keluarga dan teman-teman kita," Ajak Christov yang sudah berdiri.
Cassie mengangguk lalu memegang buket sayuran Christov di kedua tangannya. Dia berdiri dan Christov melingkarkan tangan kanannya di pinggul Cassie lalu mereka berdua berjalan kembali ke dalam gedung kelulusan.
"Kau selalu membawaku buket sayuran dan buah seperti ini," ujar Cassie.
"Kau-kan tidak suka bunga. Satu-satunya bunga yang kau sukai adalah dandelion, tapi tidak ada yang menjualnya.."
Cassie tersenyum lembut, dia merasa terharu dengan sikap Christov. Pria itu benar-benar mengingat setiap detail tentang dirinya dan itu membuat Cassie merasa spesial.
"Kau tidak akan kembali ke Jepang, bukan?" tanyanya lalu menyandarkan kepalanya pada bahu Christov.
"Yah.. Urusanku di sana sudah selesai.. Mungkin kita bisa berkunjung bersama ke Jepang.. Di sana penuh dengan hal-hal unik.."
"Hm.. Tentu saja. Aku ingin mengelilingi dunia dan mengunjungi tempat-tempat hebat serta unik bersamamu.. Lalu, Terimakasih sudah datang. Thank you, baby..."
"Omong-omong.."
"Yah?"
"Aku lulus lebih dulu darimu. Kau masih ingat taruhan kita, bukan?"
"Oh my.." erang Cassie dengan nada jengkel, "Apa yang kau inginkan, huh?"
Christov tertawa kecil, "Aku ingin kau melamarku.."
"What? Apa-apaan itu?" tanya Cassie dengan gelak tawa seraya menatap wajah Christov yang tersenyum lebar "Kau tidak serius, bukan?"
"Aku serius.. Ayo.. Lamar aku.. Aku sudah melamarmu dan aku juga ingin merasakan rasanya dilamar.."
"Oh my.. Bisa-bisanya kau menyuruhku melamarmu?"
"Kau harus sesegera mungkin melamarku agar kita menikah lagi.."
Cassie tertawa, "Astaga.. Christov.."
"Kau harus melamarku segera mungkin. Okay?"
"Okay.. Okay.." ucapnya, "Kalau begitu, menikahlah denganku, Christoval O'Connel?
"What? Kau harus melamarku dengan gaya romantis, Cassie dan seharusnya kau bertanya apakah aku mau menikahimu atau tidak. Kau malah memerintahku.."
Cassie tertawa lagi, "Tidak ada dijelaskan persyaratan lamaran.."
"Aku tidak mau.. Kau harus melamarku dengan gaya romantis ala-ala.. Satu lagi, kau harus bertanya dan bukannya memerintah. "
"Apa itu gaya romantis ala-ala? Haha. Dari mana kau mendapatkan istilah itu?"
"Jangan melupakannya, Okay? Kau harus melamarku.."
"Okay.. Bagaimana bisa aku melupakan hal yang berkaitan tentangmu, hmm? I will always remember you*.. Aku akan selalu mengingatmu ke mana pun aku pergi, Christov " ujarnya dan kembali tertawa bersama Christov.
(*Aku akan selalu mengingatmu)
Keduanya melangkah dengan tawa bahagia di bawah langit biru cerah yang seolah menjanjikan hari esok yang lebih indah. Melangkah maju menuju takdir yang telah dijanjikan bagi mereka. Melangkah maju menuju kebahagiaan yang abadi.
THE END
****
Miss Foxxy
HAI. AKAN ADA EPILOG DAN BEBERAPA CHAPTER EXTRA PART.
Mungkin aku akan update 1-2 chapter per minggu untuk menemani bulan februari kalian tergantung situasi author.. Extra part itu akan berisi hari-hari bahagia Christov dan Cassie tanpa masalah. And of course full of se-xy scene. Jujur, sebenarnya kurang bakat buat yg bahagia", but author akan berusaha.
JADI DITUNGGU YAH. BANTU PROMO CERITA AUTHOR JUGA YAH. I LOVE YOU.