
Happy Reading
****
"NO! Dia tidak tumbuh menjadi seseorang yang semestinya, Simeon.."
Cassie terbangun ketika mendengar suara teriakan marah dari Barbara, Ibunya. Langit-langit putih yang tidak dikenal menyambutnya bersama bau obat-obatan yang begitu menyengat. Cassie merasakan sakit di seluruh tubuhnya, terutama di bagian mata kiri. Dia mengangkat tangan kirinya perlahan ke arah mata kiri lalu merasakan bagian yang membengkak di matanya.
"Sial," dia mengumpat pelan ketika menekan bagian bengkak itu terlalu keras.
"Tidak semestinya bagaimana, huh? Apa maksudmu mengatakannya?" teriak Simeon, Ayahnya.
"Dad?" panggil Cassie dengan suara parau seraya mengangkat kepala untuk melihat seisi kamar yang kosong.
"Mom.. Dad.. Hentikan. Cassie sedang tertidur," Miranda ikut berbicara.
"Apa kau tahu berapa lama dia berperang dengan trauma masa kecilnya, Simeon?! Apa kau tahu alasan dia keluar dari sekolah kedokteran?! Dia menderita gangguan panik! Dia nampak baik-baik saja tapi nyatanya tidak!"
"Aku tahu itu, Barbara.. Aku tahu!"
"Hentikan Mom, Dad!" teriak Miranda dengan suara setengah histeris.
Cassie bangkit dari tidurnya dengan paksa. Mengabaikan rasa sakit yang seolah ingin menghancurkan setiap sudut tubuhnya. Dia melepas jarum infus dengan kasar dari punggung tangannya dan hanya menyerngit kecil merasakan sengatan halus saat jarum infus keluar dari tangannya.
"Mom? Dad?" panggilnya lagi dan berjalan perlahan menuju sumber suara. Tangannya berpegangan pada tembok untuk menopang tubuhnya yang sewaktu-waktu dapat kehilangan keseimbangan. Dia terus berjalan menuju pintu keluar yang sedikit terbuka.
"Apa kau tahu jika Cassie tidak pernah tumbuh menjadi anak normal, Simeon!" teriak Barbara dan Cassie berhenti melangkahkan kakinya mendengar perkataan Ibunya yang mengejutkan tersebut.
"Apa? Bagaimana bisa kau mengatakan puteri kita bukan anak yang normal? Dia normal, Barbara! Normal! Dia hanya sedikit berbeda!"
"Oh? Kau berpikir seperti itu? Aku hidup dengannya lebih lama dibandingkan dirimu, Simeon. Aku lebih mengenal dirinya!"
Cassie menghela napas dan memberanikan menarik pintu itu. Dia melangkah perlahan dan melihat kedua orangtuanya, Miranda, dan Christov ada di sana. Matanya segera bertemu tatap dengan Christov dan ekspresi penuh keterkejutan nampak jelas di mata pria itu.
"Cassie? Apa yang kau lakukan?" tanya Christov dengan nada khawatir dan buru-buru berjalan ke arahnya. Orangtunya segera berhenti bertengkar dan menoleh ke arahnya dengan tatapan terkejut.
"Kenapa kau melepas infusmu?" gerutu Christov dnegan nada marah, "Ayo kemari.. Masuklah.."
"Aku normal, Mum.." bisik Cassie, "Sangat normal.."
Barbara nampak menahan napasnya dan menatap Cassie dengan tatapan ketakutan.
"No.. No.. Cassie.. Mom tidak bermaksud mengatakan hal seperti itu."
"Clara menyakitiku sangat teramat.. Madison, Laura, Ibu Christov, dan banyak lagi... Orang-orang jahat itu terus muncul karena aku tidak pernah bertindak," jelas Cassie dengan nada tenang, "Hanya karena aku membalas perbuatan mereka, bukan berarti aku jahat. Aku melakukannya untuk pertahanan diri. Terkadang, kejahatan dibalas kejahatan lebih baik dari pada kejahatan dibalas kebaikan."
"Ca--cassie," panggil Barbara dengan suara terbata dan Cassie memberikan senyum tipis dengan bibirnya yang pecah.
"Aku okay, Mom.. Aku tidak marah karena aku perlu meluruhkan hal berbau 'normal' ini.. Semua orang punya pendapatnya masing-masing," Cassie memutar arah pandangan ke arah Simeon, "Hai, Dad.. Ini Christoval O'Connel. Dia suamiku.. Yah, well.. Kami belum sah secara hukum, tapi kami sudah melangsungkan pernikahan.. Aku sudah memberitahumu tentang ini sebelumnya melalui ponsel.. Maaf tidak mengundangmu.."
"Cassie.. Kita bicarakan ini nanti saja," kata Christov yang sudah melingkarkan tangannya pada bahu Cassie, "Sekarang kita kembali ke kamar inapmu terlebih dulu.."
"Aku ingin pulang," pinta Cassie.
"No.. Kau baru dirawat beberapa jam, Cassie.. Tubuhmu amsih--"
"Aku benci rumah sakit.. Aku tidak pernah suka rumah sakit karena itu mengingatkanku dengan luka lama di masa lalu.. Aku selalu ingin menjadi dokter, tapi cita-cita itu tidak bisa tercapai.."
Christov menarik napas panjang dan mengembuskannya. Dia menatap sekilas ke arah keluarga Cassie yang hanya bisa diam lalu menatap lagi ke arah Cassie.
"Okay.. Jika memang itu yang kau mau. Mari kita pulang.."
****
Christov membawa satu pasang piyama miliknya dari rak pakaian dan dibawa menuju Cassie yang duduk diam di pinggir ranjang miliknya. Dia berhenti sejenak dan menatap Cassie yang duduk memunggunginya kemudian berpikir. Berpikir sesuatu yang tidak dia mengerti.
Hanya berselang tiga jam sejak kepergian Cassie hari ini, dia mendapat panggilan dari Gerald bahwa Cassie dilarikan ke rumah sakit. Christov pikir dia hampir terkena serangan jantung mendengar kabar itu dan segera bergegas menuju rumah sakit tempat Cassie dilarikan.
Hanya saja, sesampainya di sana, Christov tidak hanya menemukan Cassie, tapi juga Clara. Sembari menunggu Cassie menjalankan pemeriksaan, Christov mendengar semua cerita di balik kondisi Cassie dan Clara melalui Gerald. Entah mengapa, dia merasa tidak terkejut setelah mendengar semua cerita itu. Sejujurnya, dia tidak mengerti bagaimana menanggapi pertengkaran antara Cassie dan Clara.
Christov merasa bingung dengan perasaannya setelah mendengar semua cerita itu. Clara mendapatkan perawatan lebih intensif, dibandingkan Cassie karena Clara harus melakukan operasi pada tangan kanannya yang cidera. Dia tidak berani mendatangi Clara yang sudah selesai dioperasi karena di sana pasti ada keluarga Clara. Christov pun belum siap dan masih ragu menemui mereka, terutama karena kondisi tidak menyenangkan antara dia dengan Clara serta Cassie dengan Clara.
Namun, Christov mendengar informasi bahwa Clara menderita cidera yang sangat berat di tangan kanannya. Beberapa tulang tangannya retak dan melukai saraf motoriknya. Dokter menduga jika tangan Clara tidak akan bisa digunakan sama seperti dulu lagi. Artinya, kemungkinan besar karier Clara sebagai dokter akan hancur.
Apakah Cassie sengaja? Batinnya. Entah mengapa, menghancurkan mimpi seseorang itu benar-benar salah bagi Christov. Kau boleh membenci seseorang. Kau boleh membalas kejahatan yang mereka buat, tapi tidak dengan cara menghancurkan mimpinya juga. Bagi beberapa orang, itu terdengar remeh, tapi untuk Christov, mimpi adalah sesuatu yang membuat hidupmu terasa lebih berarti. Sekali itu hancur, kehidupanmu juga akan hancur. Apakah itu tujuan Cassie? Menghancurkan kehidupan Clara? Dia memang tidak memahami perasaan Cassie. Dia memang tidak mengerti kemarahan dan kebencian Cassie kepada Clara, tapi apa yang Cassie lakukan benar-benar salah.
Dia melipat bibirnya membentuk garis dan memilih kembali berjalan ke arah Cassie. Pemikiran tentang Cassie serta Clara sudah terlalu dalam merasuki pikirannya dan Christov merasa tidak baik-baik saja dengan hal itu.
"Apa yang kau pikirkan?" tanyanya seraya menaruh piyama tadi di atas ranjang.
"Tidak ada.."
"Kau bisa berdiri?"
"Hmm.."
Cassie berdiri dan Christov melepas semua pakaian wanita itu dan meninggalkannya dalam balutan pakaian dalam. Christov menahan napas sejenak melihat luka lebam di sekujur tubuh Cassie. Wajah isterinya itu pun sangat hancur. Mata bengkak, sudut bibirnya pecah, dan luka lebam lain menghiasi wajahnya. Namun, entah mengapa, Cassie terlihat nampak sangat tenang. Terlalu tenang setelah menghadapi pertengkaran sengit yang hampir merenggut nyawa lawannya.
"Apa kau masih merasa sakit?" tanya Christov ketika memasang celana piyama pada Cassie.
"Tentu.."
Christov mengangguk kecil dan setelah selesai dengan celana piyama, dia memasang piyama pada Cassie. Dia mengancing satu per satu kancing piyama itu dalam diam.
"Di mana kau menaruh cincin dan kalungmu?"
Cassie kembali duduk di pinggir ranjang dan Christov tidak mengikut. Dia tetap berdiri di sana dan menatap Cassie.
"Aku menitipnya pada Gerald. Besok aku akan memintanya kembali.."
"Boleh aku bertanya sesuatu?"
Cassie mengangkat kepalanya dan pandangan mereka bertemu. Wanita itu diam sejenak seolah-olah mempertimbangkan pertanyaan Christov. Namun, akhirnya dia mengangguk kecil tanpa mengeluarkan suara sedikit pun.
"Apa kau sengaja?" tanya Christov dengan nada tenang yang dingin. Kedua tangannya yang berada di dalam saku celana terkepal kuat dan jantungnya berdegup kencang. Dia tidak tahu harus bereaksi seperti apa jika seandainya Cassie mengiyakan pertanyaannya.
"Bagaimana keadaan Clara?" Cassie ikut bertanya tanpa membalas pertanyaan Christov.
"Dia menjalani operasi pada tangan kanannya yang mengalami cidera berat dan kau tahu, Cassie? Kemungkinan besar karier-nya sebagai dokter bisa hancur.."
Cassie terdiam dan memutuskan kontak mata dengannya.
"Apa kau sengaja?" tanya dia kembali dengan nada keras nan dingin
"Apa kau akan membenciku jika aku menjawab ya?"
Christov memejamkan mata ketika merasakan kepedihan teramat yang dia rasakan setelah mendengar ucapan Cassie. Yah.. Wanita itu sengaja melakukannya. Christov menggeleng kecil dan menarik tangan kanannya dari saku celana untuk memegangi kepalanya yang terasa berat. Dia memutar tubuhnya dan berjalan beberapa langkah menjauhi Cassie.
"Kau akan membenciku, bukan? Terutama di keadaanmu sekarang.."
Christov memutar tubuh, "Apa maksudmu dengan keadaanku sekarang?"
"Jadi maksudmu aku yang lama tidak akan membencimu?" suaranya sedikit meninggi karena merasa tersinggung dengan ucapan Cassie.
"Maybe*.." (*Mungkin)
"Oh. Sial," Christov mengumpat dengan nada tertahan, "Apa kau tahu betapa buruknya situasi yang kau buat, Cassie? Apa kau tahu itu? Orangtua Clara bisa melaporkanmu ke polisi dan hidupmu bisa hancur.."
"Dia yang pertama menghancurkanku, Christov.. Clara juga yang membuatku berada di posisi ini. Karierku pun sekarang sedang berada di ujung tanduk.."
"Oh my.. Oh my.." Christov berucap dengan nada kelelahan. Kedua tangannya meremas kepalanya yang serasa akan meledak mendengar perkataan enteng Cassie.
Dia bingung. Benar-benar bingung. Yah, benar jika Clara membuat situasi Cassie menjadi sulit, tapi cara balas dendam yang Cassie lakukan benar-benar di laur nalar Christov. Apakah Cassie memang sosok seperti itu yang melakukan kekerasan untuk menghancurkan mimpi orang lain? Apakah Christov bisa memaklumi hal seperti ini? Apakah ini adalah sifat alami Cassie? Jika ingatannya masih ada, apakah Christov akan memaklumi hal itu? Apakah dirinya yang lama mengetahui sisi lain Cassie yang seperti ini?
"Christov?" panggil Cassie dan Christov menahan diri untuk tidak memutar tubuhnya ke arah wanita itu.
"Apa kau sekarang membenciku?"
"Apa aku yang dulu akan membencimu, Cassie?" tanya dia kembali.
"No.."
Christov mengangguk kecil mendengar jawab pendek dari Cassie. Pendek, tapi begitu menyakitkan. Cassie seolah-olah menganggap Christov yang sekarang dan yang dulu adalah orang yang berbeda.
"Kenapa?"
"Karena Christov yang lama mengenalku dengan baik. Dia tahu semua rasa sakit yang kurasakan. Dia tahu semua ceritaku. Dia tahu semua tentangku.."
Christov memejamkan mata dan menutup mulutnya dengan kedua tangan ketika dia kehabisan kata-kata mendengar perkataan Cassie tersebut. Begitu tepat dan menusuk hingga ke hulu hatinya. Namun, dia menahan diri untuk berteriak bahwa dia masih tetap orang yang sama karena Christov mengkhawatirkan keadaan Cassie saat ini.
"Apa kau merasa bersalah, Cassie? Apa kau merasa bersalah atas apa yang kau perbuat?"
"Dia memukulku juga, Christov.. Kami berduel dan--"
"Tapi kau dengan sengaja mencelakai tangannya, bukan? Apa dia melakukan hal yang sama padamu?"
"Yah.. Dia menyakiti perasaanku dan mengambil keuntungan dari itu.. Dia memukulku juga, Christov.. Dia juga akan melakukan hal yang sama padaku.. Kenapa kau berbicara seolah-olah hanya aku orang jahat di sini?"
"Apa yang dia lakukan hingga menyakiti perasaanmu?"
Christov mendengar helaan napas panjang Cassie dari belakang dan tahu bahwa pembicaraan ini sudah menyakiti Cassie karena Christov terkesan berpihak pada Clara. Namun, dia menhan diri untuk tidak memutar tubuhnya. Melihat wajah Cassie yang hancur hanya membuat hatinya menjadi lemah.
"Dia bilang kau tidur dengannya.."
"I'm not.. Dia hanya berusaha memprovokasimu.."
"Dia juga bilang jika kau tidur dengan banyak wanita, termasuk Madison.."
"Dan kau percaya, bukan? Kau percaya dengan apa yang dia katakan karena kau membiarkan Clara memprovokasimu.."
"No.. Aku tidak percaya karena aku mengenalmu.."
Christov memutar tubuhnya ke arah Cassie dan melihat wajah wanita itu sudah berurai air mata. Dia segera berlutut di depan Cassie lalu mengelap wajah wanita itu dengan tissue yang berada di atas meja nakas.
"Jangan menangis,"
"Tapi kau berkata aku boleh menangis saat bersamamu.. Apa aku tidak boleh menangis karena kau membenciku?"
Christov melipat bibirnya dan melanjut mengelap wajah Cassie.
"Kau tidak boleh menangis karena air matamu akan membuat lukamu bertambah parah.."
"Apa sekarang kau membenciku, Christov.."
"Tidak, tapi aku merasa apa yang kau lakukan salah, Cassie.. Apa kau tidak merasa apa yang kau lakukan itu salah?"
Cassie memejamkan matanya, "Kebencian dan kemarahan sudah membutakan perasaanku, Christov.. Dua hal itu telah membuatku mati rasa terhadap orang yang menyakitiku.."
Christov mengelus rambut Cassie dengan lembut dan dia bisa mengerti sedikit tentang perkataan Cassie tersebut.
"Sekarang kita harus tidur. Okay?"
Cassie membuka mata saat Christov membantunya berbaring di atas rajang.
"Bisakah kau memelukku, Christov?" tanya Cassie pada Christov yang tengah menyelimutinya. Christov tersenyum tipis dan mengangguk kecil. Dia ikut naik ke atas ranjang dan bergabung bersama Cassie. Tangan kanannya melingkar di atas perut Cassie.
"Good night, babe.."
"Apa kau masih tetap mencintaiku?"
"Yah dan aku masih tetap belajar untuk mengenalmu.."
****
Cassie merasa hidupnya benar-benar di ujung tanduk. Kariernya terancam hancur, hubungannya dengan Christov entah mengapa terasa renggang setelah pembicaraan tentang Clara, begitu pula hubungannya dengan kedua orang tuanya. Fakta bahwa Barbara menganggapnya tidak normal cukup menyakiti perasaannya, tapi Cassie menyembunyikan perasaannya agar hubungannya dengan kedua orangtuanya dapat berjalan kembali. Situasi berpura-pura saat ini adalah kondisi terbaik yang Cassie bisa pilih.
Keluarga Clara melaporkan Cassie ke kantor polisi atas kejadian yang menimpa Clara, tapi laporan itu ditolak karena beberapa alasan. Tentu saja penolakan tersebut membuat keluarga Clara marah dan Cassie tahu kemarahan keluarga kaya seperti mereka dapat mengancam kehidupan Cassie, bahkan orang-orang terdekatnya.
Sebulan telah berlalu sejak pertengkarannya dengan Clara dan di sinilah dia sekarang, duduk di pengadilan menunggu gilirannya diadili atas kasus Kimberly. Setelah pemeriksaan yang panjang dan melelahkan, Cassie ditetapkan sebagai terdakwa. Artinya, kemungkinan besar Cassie akan mendekam di penjara.
Christov tidak hadir di hari pengadilannya. Ketiga temannya hadir dan juga kedua orangtuanya. Jujur, Cassie merasa kecewa dengan ketidakhadiran Christov. Setidaknya, dengan kehadiran Christov bisa membantu perasaannya menjadi jauh lebih baik, tapi suaminya itu menolak untuk datang dengan alasan yang tidak jelas.
Mendekam di penjara adalah sesuatu yang tidak pernah Cassie pikirkan sebelumnya. Dia sudah berpikir bahwa dia tidak akan terjerat hukum karena dia memiliki beberapa bukti. Namun, bukti rekaman yang Cassie berikan cukup membantu posisinya, tapi tidak mampu menyelamatkan dirinya dari masalah ini.
Cassie ditetapkan bersalah akan kelalaian dalam pengawasan anak di bawah umur. Cassie tetap salah karena membiarkan anak yang belum legal secara hukum menyanyikan lagu yang tidak pantas. Cassie juga dinilai lalai dalam mengemban kewajibannya karena membiarkan video itu disiarkan. Pihak pengadilan tidak mau mempertimbangkan keadaan Cassie yang tidak mengetahui tentang perilisan video tersebut, padahal pengacaranya sudah bersikeras jika Cassie tidak ada sangkut pautnya dengan perilisan video itu.
Cassie tahu posisinya saat ini benar-benar tidak menentu. Pengacaranya berkata bahwa melihat hukum berlapis yang mungkin akan ditetapkan pengadilan padanya, Cassie bisa dikenai hukuman penjara minimal selama lima tahun dengan denda sebesar $150,000. Lima tahun dan bagi Cassie itu benar-benar waktu yang sangat lama. Hatinya hancur sesaat mendengar prediksi dari pengacaranya tersebut dan satu-satunya yang bisa dia lakukan adalah menangis, meratapi nasibnya yang tidak menentu.
Lima tahun! Bayangkan jika dia benar-benar dijatuhi hukuman penjara selama lima tahun?! Hidupnya akan benar-benar hancur dan hubungannya dengan Christov akan terombang-ambing lagi atau bahkan lebih buruk, mereka berpisah. Semua itu karena Clara dan Madison! Mereka berdua yang membuatnya seperti ini. Dia tidak pantas mendapatkan hukuman selama itu karena dia tidak salah! Cassie tidak salah! Dia adalah korban, tapi pengadilan sialan itu nampak tidak akan mempertimbangkan posisinya. Benar-benar tidak akan.
"Berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan serta pasal-pasal yang sudah saya bacakan, kami menilai bahwa Cassandra De Angelis terbukti bersalah," ujar hakim dengan suara yang menggema di seluruh ruangan. Cassie melipat bibirnya dan kedua tangannya saling bertautan. Kakinya bergetar dan duduk gusar mendengar akan hukuman yang akan dia terima.
Dia tidak siap jika harus mendekam selama lima tahun di penjara. Benar-benar tidak siap. Dia memejamkan mata dan berharap hukumannya tidak selama lima thaun. Cassie rela dipenjara, tapi tidak selama lima tahun. Dua tahun.. Dua tahun dan Cassie akan bersyukur akan itu.
"Pengadilan juga mempertimbangkan beberapa posisi Cassandra De Angelis, seperti masalah kesehatan serta ketidaktahuan pihak terdakwa atas penyiaran video anak dibawah umur. Posisi tersebut merugikan pihak terdakwa dan dengan pertimbangan ini, kami menjatuhi hukuman penjara selama satu bulan tiga hari dengan denda sebesar $80,000 dan terdakwa harus melakukan pelayanan sosial selama tiga bulan penuh."
Cassie membuka mata dan dia akhirnya bisa menghembuskan napasnya setelah menahannya selama beberapa saat. Suara teriakan riuh penuh kemenangan terdengar bersamaan dengan pukulan palu hakim. Pengacara Cassie memeluknya dan dia berdiri untuk membalas pelukan itu. Berteriak kencang penuh bahagia dan tertawa haru karena perasaan lega yang dia terima. Satu bulan tiga hari?!! Bagaimana bisa dia menerima hukuman sesingkat itu? Keberuntungan benar-benar berpihak kepadanya lagi.
Ayahnya melompat ke arah Cassie lalu memeluknya erat. Dia memeluk tubuh Simeon dengan erat dan pelukan lain berdatangan lagi dari saudara serta teman-temannya. Melompat-lompat bersama dengan tetap mempertahankan pelukan kemenangan itu.
Namun, senyumnya perlahan memudar mendengar suara Gerald yang berbicara di ponsel. Suara temannya itu terdengar sayup karena harus melawan suara teriakan penuh kemenangan, tapi Cassie yakin dengan apa yang Gerald ucapan barusan. Wajah Gerald pun berubah serius saat seharusnya dia ikut bergembira dan kegembiraan Cassie akhirnya ikut hilang saat mendengar perkataan Gerald sekali lagi. Cassie membaca gerak mulut Gerald saat berbicara untuk meyakinkan diri akan apa yang dia dengar adalah salah lalu mengulang-ulang ucapan Gerald dalam kepalanya sebelum akhirnya mengucapkan itu dengan suara pelan penuh kehancuran.
"Christov kecelakaan..."
***
Miss Foxxy
Selesai ini di demo karena masalah gk kelar-kelar juga padahal udah mau dekat akhir bulan. Hope you'll like it. I love you