Remember Me

Remember Me
What's Wrong?



Happy Reading


***


"Tumbuhan alang-alang?" tanya Cassie saat mereka berdiri di hadapan tumbuhan alang-alang yang tinggi, "Apa yang akan kita lakukan di sana?" jari telunjuk kanannya menunjuk ke arah alang-alang yang bergoyang oleh angin lebih hingga menimbulkan suara dersik yang terdengar sayup-sayup.


"Di balik ini ada sungai dan tidak jauh dari sungai itu, terdapat danau yang kuceritakan padamu. Ayo.. Tanganku sudah pegal."


Mata Cassie melihat keranjang piknik yang tengah dipegang Christov. Pria itu nampak keberatan dan kewalahan.


"Kita pegang berdua," Cassie memegang pegangan keranjang piknik dengan tangan kanannya dan memberikan tali Nugget pada Christov sehingga beban mereka sama.


Pria itu terdiam dan hanya menurut saja. Keduanya melangkah masuk dengan Nugget serta Salmon yang memimpin jalanan.


"Nampaknya Salmon dan Nugget sudah pernah ke sini.." kata Cassie sebagai basa-basi untuk memecahkan keheningan di antara keduanya.


"Begitulah.."


Cassie kemudian terdiam dan menatap Christov sejenak. Apa ada yang salah? Pikirnya.


"Aku tidak sabar bermain di sungai yang kau ceritakan," dia berkata-kata lagi dengan nada ceria, berusaha menarik perhatian Christo yang berwajah datar.


"Mmm..." gumam Christov.


Dilipat bibirnya membentuk garis keras. Kepalanya berpikir keras tentang apa yang membuat perasaan pria itu berubah secepat ini, padahal sebelum berangkat tadi, semua nampak baik-baik saja. Matanya menatap sendu ke arah tanaman alang-alang. Ada rasa segan dalam dirinya untuk bertanya apa yang salah karena ini pertama kalinya dia melihat Christov dengan wajah masam seperti ini.


"Jangan melamun," kata Christov pelan dengan nada datar dan dia tersadar lalu menatap pria itu dengan senyum lebar.


"Ah.. Aku tidak melamun kok.."


Christov mengangguk kecil dan kembali menatap lurus ke depan. Dia mendengus kecil dan melirik Christov dari ujung matanya. Tidak biasanya dia menunjukkan wajah masam seperti itu. Batinnya. Cassie mulai membayangkan wajah lembut Christov yang terlihat ramah.


Cassie hendak membuka mulutnya dan bertanya tentang apa yang salah. Namun, dia mengurungkan niat saat Salmon dan Nugget tiba-tiba menggonggong dan bergerak gelisah. Dia harus memegang kuat tali Salmon dengan satu tangan saja.


"Whooa.. Salmon.. Nugget! Stop.."


"Biar aku yang memegang," kata Christov, "Berikan padaku," ucapnya dengan nada tegas.


Cassie menoleh ke arahnya dan menatap Christov tajam.


"Aku bisa mengurusnya sendiri," dia melepas pegangannya pada pegangan keranjang piknik dan menarik tali Nugget dari tangan Christov.


"Hati-hati," peringat Christov.


"Whoaa..." tubuh Cassie dengan mudah tertarik ke depan karena Salom dan Nugget hendak berlari kencang. Dia merasakan satu lengan Christov melingkar di perutnya, menahan tubuhnya agar tidak tertarik oleh Salmon dan Nugget yang masih saja berusaha berlari kabur.


"Sudah kubilang untuk berhati-hati," ucapnya dengan nada rendah pada telinga kanan Cassie. Dia bisa merasakan seluruh bulu kuduknya meremang saat mendengar itu. Kulit perut sampingnya yang tak tertutup oleh baju crop-top bisa merasakan sentuhan tangan Christov yang dingin. Pria itu meremas lembut perut sampingnya sebelum melepaskan tangannya. Tenangkan dirimu, Cassie. Peringatkan Cassie dalam pikirannya.


"Biarkan aku yang memegangnya," kata Christov seraya memegang tali kedua anjing itu dengan tangannya yang bebas. Mata Cassie melihat urat tangan Christov yang menyembul keluar dari kulitnya. Dia menghembuskan napas dari mulutnya yang sedikit terbuka.


"Berikan padaku, Cassie. Aku bisa menanganinya."


Sadarkan dirimu wahai wanita sialan! Cassie berteriak kencang dalam pikirannya.


"Aku bisa mengurusnya," kata dia dengan suara tinggi dan menarik lepas tali kedua anjing itu dari tangan Christov. Matanya menatap garang pada Christov, "Apa yang kau lihat, huh?" suaranya meninggi lagi saat Christov menatapnya dengan bola mata yang menggelap di bawah mata hari.


"Yah sudah.. Terserah padamu," gumam pria itu pelan diikuti oleh dengusan pelanDia kembali menatap ke arah depan sembari tangannya memperbaiki posisi topi baseball yang dia pakai.


Cassie menatap punggung Christov yang sudah lebih dulu berjalan dan tiba-tiba merasa marah. Ada apa sih dengan si sialan ini? Pikirnya kesal. Terserah?! Terserah katanya?!


Dengan kesal, dia melangkahkan kakinya lebar-lebar dan melewati Christov. Namun, tubuhnya mendadak berhenti karena seseorang menahannya dari belakang dengan memegang tali jumpsuit miliknya. Dia menoleh ke belakang dan melihat tangan Christov ada di sana.


"Argh.." Cassie menggeram kesal dengan keras sembari menggoyang-goyang tubuhnya agar Christov melepas pegangannya pada tali jumpsuit miliknya.


"Kenapa terburu-buru?"


"Lepas," kata Cassie dengan suara mengamuk, "Apa masalahmu? Jangan memegang bajuku.." katanya dengan nada bringas.


Christov menatapnya heran, "Kau kenapa?"


"Lepas!" teriaknya dan menarik tali jumpsuit-nya dari tangan Christov. Dengan itu, dia kembali berjalan dan meninggalkan pria itu di belakang.


Jika dia marah maka aku juga bisa marah. Pikirnya kesal. Dia semakin mempercepat langkahnya karena kegesitan Nugget dan Salmon. Saat sudah semakin jauh, Cassie menoleh ke arah belakang dan hanya menemukan Christov yang tengah menatapnya. Mata mereka bertemu untuk sepersekian detik hingga Cassie tersadar.


"Apa yang kau lihat-lihat, breng-sek?!" teriaknya dan segera memalingkan wajah. Dipercepat langkah kakinya dengan dada membara. Marah. Aku marah.. Pikirnya. Well.. Dia tidak tahu marah karena apa.


Sesaat kemudian, dia bisa mendengar suara aliran sungai. Salmon dan Nugget menggonggong semakin kencang. Cassie sekarang sadar bahwa sejak tadi kedua anjing itu bergerak aktif karena sungai yang sudah dekat. Dia tersenyum lebar dan ikut berlari ke mengikuti arah tujuan Salmon dan Nugget. hanya beberapa langkah, tubuhnya sudah keluar dari lahan alang-alang.


Udara sejuk yang tidak terlalu kencang segera menyambutnya. Menerbangkan anak rambut miliknya. Matanya segera terpesona menatap suasana di hadapannya. Ada sungai beraliran lambat yang nampak berkilauan di bawah matahari, di seberang sungai terdapat lahan padang rumput, dan di kejauhan terdapat pegunungan. Seperti lukisan..


"Oh My.." bisiknya, melihat pemandangan yang indah tersebut. Dia merasakan kenyamanan hanya melihat itu. Semua rasa amarah, khawatir, dan beban dalam pikirannya seolah terangkat. Dihirup udara yang sejuk itu dalam-dalam hingga menimbulkan sensasi dingin pada bagian hidung dan tenggorokannya.


Dengan senyum tipis, Cassie memutar kepalanya ke arah sumber bunyi asing dari arah kiri. Di sana, dia melihat Christov yang berdiri di bawah pohon apel, tengah bersiap membereskan barang piknik mereka. Dengan sigap, Cassie berjalan ke sana dan bergabung untuk menolong pira itu. Saat sudah di sana, Christov menoleh sekilas ke arahnya.


"Berikan padaku," ucapnya dingin dan menarik kedua tali Salmon dan Nugget.


Cassie menatap pria itu dengan keheranan. Tenangkan dirimu, Cassie. Jangan biarkan dia mengacaukan perasaan bahagiamu. Dia mendengus dan memilih menggerai tikar bermotif kotak putih-biru di bawah pohon apel. Tangannya menyisihkan dan melempar apel busuk yang terjatuh dari pohonnya ke sisi lain.


Matanya sesekali melirik pada Christov yang menancapkan besi tali anjing pada tanah sehingga Salmon dan Nugget tidak pergi terlalu jauh. Matanya menatap tangan Christov yang uratnya menyembul semakin besar karena menekan besi itu pada tanah.


"Shhh.." dia mendesis dan memalingkan wajah. Mendadak, Cassie merasa kesal. Itu hanyalah tangan, sialan! Sadarkan dirimu wahai Cassandra De Angelis. Peringatnya keras-keras dalam pikirannya.


Sesaat kemudian, Christov mengambil posisi duduk di tikar seraya bersandar pada batang pohon apel.


"Ini.." ucap Cassie seraya memberikan air mineral dan pria itu menerimanya.


"Thanks.." dibuka tutup botol air mineral itu dengan mudah, mengangkat kepala, dan meneguk air itu. Semuanya pemandangan itu seolah bergerak dalam gerakan lambat dalam pandangan Cassie. Matanya menatap jakun Christov yang naik-turun dengan tatapan gelap.


"Aku akan pergi sebentar ke danau untuk memasang perangkap ikan," kata Christov setelah meneguk air dan itu membuat Cassie kembali tersadar dari pikirannya yang mulai bercabang ke arah yang tidak seharusnya.


"Aku ikut," katanya saat melihat Christov sudah berdiri dengan membawa perangkat ikan dengan plastik berisi umpan.


Pria itu menggeleng, "Kau di sini untuk menjaga Salmon dan Nugget serta barang-barang kita,"


Dia langsung merasa sedih atas penolakan itu. Dilipat bibirnya membentuk garis lurus, menahan diri untuk tidak melawan karena apa yang dikatakan Christov ada benarnya.


"Okay.." jawabnya lesu dan dengan itu, Christov beralih dari sana. Matanya tetap menatap Christov hingga hilang di balik tumbuhan alang-alang. Digaruk kulit kepalanya yang tidak gatal, sekarang dia merasa tidak memiliki kegiatan. Salmon dan Nugget nampak bermain senang di pinggiran air sungai. Dia ingin bergabung, tapi cuaca masih terlalu panas.


Di sandarkan punggungnya pada pohon apel dan menatap ke atas. Matanya melihat ranting dan dahan pohon apel. Matahari menelisik malu-malu dari celah-celah ranting dan dahan pohon yang membentuk kanopi. Suara hembusan angin bergabung dengan sempurna dengan suara aliran sungai. Dipejamkan kedua matanya, menikmati momen itu.


Sejenak, dia berpikir tentang masa depan. Pikiran itu timbul begitu saja. Melamun... Sebuah kata yang bisa mendeskripsikan kegiatan favoritnya. Dia suka melamun. Cassie selalu melakukannya di mana saja dan kapan saja. Seperti saat ini contohnya.


Apa yang akan terjadi di mana depan? Batinnya. Apa semua akan baik-baik saja seperti saat ini? Siapa lagi orang-orang yang akan pergi dan datang? Masalah apa lagi yang akan muncul? Kejutan apa yang tengah disiapkan masa depan padanya? Kejadian tidak terduga apa lagi yang akan dia alami?


Bulan Maret sudah berlalu sejak dua minggu lalu dan tidak terasa bulan April akan berlalu juga. Sebulan sudah berlalu sejak pertemuan pertamanya dengan Christov. Orang baru yang dipertemukan oleh waktu masa depan padanya. Pertemuan sudah ada dan sekarang adalah bagian perpisahan yang tengah menunggu mereka di masa depan.


Kapan itu akan terjadi? Batinnya. Apakah setelah perpisahan itu, mereka akan berubah menjadi orang asing dan menunggu waktu masa depan mengarahkan mereka pada pertemuan dengan orang baru? Lalu menunggu masa depan lagi untuk melakukan bagian perpisahan?


Bertemu.. Berpisah.. Dua kata yang membentuk lingkaran yang tidak akan pernah terputus selama waktu terus berputar. Waktu adalah pencuri. Pencuri sejati yang sangat jahat dan tidak memiliki hati. Dia mencuri semuanya yang ada di muka bumi dengan langkah perlahan. Waktu mencuri segalanya, tidak peduli seberapa keras manusia bekerja untuk mempertahankan sesuatu, semuanya akan hilang dan direnggut oleh waktu. Kemudaan, ketampanan, kekayaan, kekayaan, ketenaran, kejayaaan, kesedihan, kebahagian, dan waktu juga mencuri satu per satu orang yang kau sayangi. Bahkan, ingatan manusia pun bisa dirampas oleh waktu.


"Apa kau tidur?"


"Apa kau tidur?" tanya pria itu lagi dan berpindah ke posisi duduk di samping Cassie.


"No..." geleng Cassie pelan dan menatap Christov yang berkeringat, "Kepanasan?" diraihnya botol air minum dan kipas. Dia mengipas wajah Christov yang tengah meneguk air.


"Kau tidak perlu melakukannya.." kata Christov dan Cassie tidak mempedulikannya.


"Apa perangkapnya sudah kau pasang?"


"Sudah.. Kita harus menunggu sampai sore agar hasil tangkapannya banyak,"


"Kau kepanasan," gumam Cassie.


"Aku lapar.." ucap Christov dan menarik keranjang piknik. Dia mengeluarkan makanan dan menyusunnya di tikar.


Cassie melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul dua siang. Well.. Secepat itu waktu berlalu. Yah.. Begitulah waktu bekerja, bergerak dalam langkah perlahan dan bersiap merenggut segalanya tanpa jejak.


"Aku juga," kata Cassie ceria, "Salmon! Nugget!" panggilnya pada kedua anjing itu yang masih bermain dengan ceria. Kedua anjing menoleh lalu mengabaikannya.


"Gunakan ini," kata Christov seraya menyodorkan dua kotak stoples berisi makanan anjing. Cassie menerimanya dan segera menggoyang-goyang isi dari stoples itu. Segera, Salmon dan Nugget  berlari ke arah mereka.


"Lihat? Sudah kukatakan.." kata Christov yang sudah memakan makan siangnya.


Nugget dan Salmon menggoyang tubuh mereka, mengibaskan bulu mereka dari air hingga mengenai tubuh Christov dan Cassie. Keduanya tertawa bersama, menikmati momen itu. Berbagi tawa bersama. Makan bersama. Bermain air bersama di pinggiran sungai hingga membasahi setengah tubuh mereka. Kemudian berlari-lari di pinggiran danau. Memanen ikan mereka dari perangkap ikan dan terakhir menikmati matahari terbenam bersama.


Dan begitulah waktu berlalu dengan cepat, tanpa disadari.


"Sudah larut sekali," kata Cassie saat akhirnya mobil Christov keluar dari jalan tol. Matanya menatap ke arah jalanan yang ramai.


"Apa kau menginap?"


"Tidak. Besok pagi aku memiliki janji dengan teman-temanku,"


"Kau bisa menginap di tempatku dan pergi besoknya,"


Cassie melihat Christo dalam cahaya temaram, "Aku tidak bisa. Besok kami melakukan hiking,"


"Naik gunung?"


"Yah.. Sejujurnya hanya jalan santai menuju bukit. Aku dan teman-temanku selalu menyempatkan waktu sekali dalam sebulan untuk menaiki bukit untuk memperkuat otot kaki,"


Christov tertawa kecil, "Apa kau memperkuat otot kaki agar bisa menendang orang lain?"


"Tentu saja.." kata Cassie semangat, "Dengan kaki yang kuat, aku bisa menghajar orang-orang sin-ting,"


"Baguslah. Kau dan tiga temanmu tampaknya sangat dekat,"


Cassie menyandarkan tubuhnya pada kursi mobil, "Begitulah. Mereka adalah beberapa orang penting untukku,"


Keheningan tiba-tiba muncul dan aura canggung muncul tiba-tiba.


"Oh.. Begitu," jawab Christov pelan, "Kalau begitu, nikmati hiking-mu bersama mereka."


"Yah.."


Tidak ada yang berbicara, baik Christov, maupun Cassie. Diam. Diam seribu bahasa. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Tidak ada yang berani berbicara dan mengutarakan  apa yang tengah mereka pikirkan. Hingga sampai ke apartemen Christov dan Cassie sudah bersiap untuk pulang pun, tidak ada yang berbicara.


"Aku bisa jalan sendiri," kata Cassie pada Christov yang ikut masuk ke dalam lift.


"Tidak apa. Tekan saja tombol lift-nya."


"Siapa yang menjaga Salmon dan Nugget?"


Christov menekan tombol lift menuju lantai basement, "Mereka  itu jinak. Toh.. Aku hanya menemanimu sampai basement."


"Baiklah.. Baiklah.." kata Cassie dengan nada mengalah.


Keduanya menyandarkan tubuh pada dinding lift. Tidak ada yang berbicara sama seperti tadi seperti di mobil. Hingga lift terbuka dan kembali berjalan menuju mobil, tidak ada yang kunjung berbicara.


"Well.. Sudah sampai," kata Cassie sesaat sudah berdiri di samping pintu mobilnya, "Terimakasih untuk hari ini,"


Christov mengangguk, "Hati-hatilah.."


"Yah.."


Cassie dan Christov saling bertatapan dalam diam. Pikiran Cassie sekarang dipenuhi oleh bayangan untuk mencium Christov. Kaki kirinya hendak bergerak untuk berjalan ke arah Christov dan segera mencium pria itu, tapi dia merasakan ada yang mengganjal hatinya. Padahal hanya 'ciuman', kenapa dia ragu? Mereka sudah melakukan berbagai hubungan in-tim. Ayo kita cium dia, Cassie. Pikirnya. Dia Setidaknya sebagai bentuk terimakasih atas liburan dan piknik yang menyenangkan. Dia maju selangkah dan...


"Cassie.."


Dia berhenti dan menarik kaki kirinya kembali ke belakang. Jantungnya berdegup kencang mendengar nada rendah Christov. Wajah pria itu tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Postur tubuhnya pun terlihat dingin dan angkuh karena dia memasukkan kedua tangannya pada saku celana.


"Y-Yah?" jawabnya terbatah.


Apa? Kenapa? Apa yang salah? Apa yang hendak dia tanyakan? Kenapa ini?


Berbagai pertanyaan muncul dalam kepala Cassie dalam jeda keheningan dari Christov. Jantungnya berdegup kencang dan berbagai pemikiran aneh mulai muncul. Kenapa dia ketakutan? Kenapa dia mendadak khawatir?


"Apa boleh aku meminta kartu akses apartemenku kembali?" tanya Christov dengan suara tanpa emosi.


Seluruh harga diri, perasaan, dan hati Cassie seolah jatuh pada bagian terbawah dunia ini saat Christov menanyakan itu. Bukan.. Christov bukan menanyakan itu karena dia butuh kartu akses apartemennya kembali. Dia menanyakan itu sebagai kata-kata perpisahan yang diperhalus.


Jadi ini alasannya menemaniku berjalan ke basement?


Pria itu secara tak langsung tengah mengatakan bahwa inilah ujung dari hubungan friends with benefit ini. Ah.. Akhirnya.. Pikir Cassie. Akhirnya aku tahu. Akhirnya Cassie tahu mengapa Christov tiba-tiba berubah aneh hari ini. Dia lebih banyak terdiam karena ini.. Christov ternyata sudah memikirkan ini sejak tadi pagi. Batin Cassie.


Waktu kembali melakukan tugasnya. Memberikan perpisahan setelah memberikan Cassie sebuah pertemuan. Kenapa? Kenapa dia merasakan kekosongan dalam dirinya? Kekosongan yang membuatnya tidak nyaman.


Dengan keahlian berpura-pura, Cassie segera mengendalikan dirinya dan tersenyum tipis. Dianggukkan kepalanya dua kali kemudian merogoh sakunya.


"Ini.." dia menyodorkan kartu akses warna hitam itu, "Terimakasih sudah membiarkanku memakainya selama beberapa waktu ini,"


Christov tetap memasang wajah tanpa emosi dan itu membuat perasaan kosong dalam diri Cassie semakin menganga lebar. Kenapa? Tanyanya pada dirinya sendiri


"Yah.. Terimakasih juga untuk waktu yang kau berikan, Cassie.."


Kata perpisahan ini akhirnya datang. Apa dia sudah bosan padaku?


"Okay.." Cassie tersenyum lebar untuk menyembunyikan perasaannya di balik senyum itu, "Terimakasih juga atas waktumu. Selamat tinggal, Christov.." Selamat tinggal untuk selamanya. Lanjut Cassie dalam pikirannya.


"Good bye, Cassie.."


Yah.. Ini dia. Perpisahan itu...


****


Miss Foxxy


Waktu adalah pencuri, bukan begitu? huhu.. Berpisah. Akhirnya berpisah. Apa yang bakalan terjadi setelah ini saudaraku? Ayo dukung author dengan like, komentar, vote, love, dan lainnya. Setiap dukungan kalian begitu berarti untuk author. I love you all. yuk ikutan giveaway tgl 15 nanti.