Remember Me

Remember Me
Crazy Family



Happy Reading


****


Cassie POV


Jumat, 08 Mei 2020. Bandar Udara Internasional Los Angeles. 10.00 A.M.


Waktu berlalu seolah hanya berganti dalam semalam saja dan tak terasa, Mei datang lagi dan sudah berjalan selama seminggu. Huh.. Terkadang, aku berpikir mengapa waktu sangat cepat berlalu. Hal itu kadang membuatku takut karena menghadapi masa depan adalah hal paling tersulit. Aku berpikir, kejutan seperti apa yang tengah menantiku di masa depan. Apakah semua akan berjalan baik-baik saja? Apakah semua berjalan mulus?


Namun, sekuat apa pun aku menerka-nerkanya, masa depan tidak dapat diprediksi secara pasti. Satu-satunya hal yang bisa kulakukan untuk mencegah terjadinya masa-masa buruk di hari depan adalah menikmati dan menghargai setiap detik waktuku saat ini


Well.. Belakangan ini, aku tak memiliki sedikit pun kesempatan untuk menikmati waktuku. Semua orang sibuk dan aku juga begitu, bahkan, sudah dua minggu lebih aku tak pernah bertemu dengan ketiga temanku karena keadaan yang tak memungkinkan. Dulu aku berpikir bahwa menjadi orang dewasa itu menyenangkan karena diriku bisa menentukan pilihan hidupku secara bebas tanpa takut akan campur tangan pihak ketiga. Namun, di saat-saat tertentu, aku berharap seseorang membantuku menentukan pilihan apa yang harus kupilih.


Kesibukanku akhir-akhir ini benar-benar membuatku menggila dan tak sekali-dua kali muncul pemikiran bahwa semua pekerjaanku akan gagal, tapi nyatanya, semua berjalan lancar dan membuatku sadar bahwa pilihanku tidak salah. Dari sini, aku dapat belajar untuk jauh lebih percaya diri akan pilihanku sendiri.


Setelah semua kegilaan di kantorku berakhir, kini aku harus menghadapi pilihan yang jauh lebih sulit lagi. Pilihan yang berusaha kuhindari, tapi tak bisa. Aku ingin meminta pertolongan dari seseorang, tapi diriku sadar bahwa satu-satunya yang dapat menentukan pilihan kali ini haruslah diriku sendiri dan bukannya orang lain karena ini tentang cinta.


Cinta.. Huh.. Sampai saat ini, aku masih berpikir jika itu adalah salah satu rangkaian huruf paling menggelikan, mengerikan, dan menyeramkan. Lalu di sisi lain, cinta juga adalah rangkaian huruf paling indah di seluruh permukaan bumi. Uhmm.. Yeah, hanya berlaku pada orang-orang tertentu saja. Namun bagiku, cinta itu ambigu.


Sangat ambigu....


"Kau yakin hanya membawa satu koper saja?" tanya Christov untuk kesekian kalinya saat dia menurunkan koperku dari dalam bagasi mobil.


"Aku hanya pergi selama tiga hari dua malam, Christov.."


Dia menggandeng tanganku dan satu tangannya menarik koper.


"Saudariku selalu membawa dua koper ukuran besar ke mana pun dia pergi walau dia hanya bepergian satu hari-satu malam saja.."


"Well.. Setiap wanita-kan berbeda.." aku menyandarkan kepalaku pada lengannya dan menikmati wangi tubuhnya yang nikmat. Ah.. Aroma tubuh Christov benar-benar unik dan menenangkan. Percampuran aroma musk, kayu-kayuan, mint, dan aroma tubuh aslinya yang berpadu menjadi satu. Aroma yang membuatku candu dan tak sekali-dua kali aku berpikir untuk memakannya hidup-hidup.


"Aku akan berjalan dari sini," gumamku seraya melepas diri dari Christov, "Tim-ku sudah menunggu.."


Christov memasukkan kedua tangannya pada jaket dan tersenyum kecut. Senyum itu selalu muncul ketika dia merasa sedih atau kecewa. Yeah.. Sampai saat ini, aku tak kunjung memberikan dia kepastian, padahal, Christov selalu berada di sampingku saat menghadapi masa-masa tersulitku. Menghabiskan waktu bersamanya membuat semakin sadar bahwa Christov adalah jelmaan malaikat. Hatinya benar-benar baik dan tulus. Hal ini membuatku berpikir bagaimana bisa wanita gila nan jahat sepertiku disukai pria sebaik Christov?


"Padahal kita belum punya hubungan. Apa kau setakut itu jika orang lain melihatmu dengan pria?"


Kepala kugelengkan pelan dan melangkah maju untuk memeluk tubuhnya dengan erat. Aku menyandarkan kepalaku pada dadanya yang bergemuruh. Huh.. Betapa sukanya aku pada detak jantung Christov. Aroma tubuhnya.. Mmm.. Ini adalah surgaku.


"Bukan begitu.."


"Jadi kau malu padaku?"


Aku menarik kepalaku menjauh dari dadanya untuk menatap Christov dengan heran, "Dasar.. Bagaimana bisa kau mengatakan hal seperti itu di saat kau sendiri adalah pria yang nyaris sempurna tanpa cela?"


Dia menarik kepalaku kembali dalam pelukannya, "Aku tidak sempurna.." bisiknya dengan nada rendah yang membuatku menggila.


Sialan! Sialan pada diriku sendiri. kenapa bisa aku menggantung pria ini pada hubungan tak jelas?


"Aku sudah mendapat jawabanku.." ucapku secara mendadak. Mulut sialanku seolah bergerak sendiri. Kenapa? kenapa aku tiba-tiba mengatakan itu?


"Benarkah?" kata dia dengan nada kalem.


Dengan susah payah, aku menelan air ludahku.


"Namun, untuk sekarang.." kutarik tubuhku lepas dari pelukannya, "Aku harus pergi "


Aku harus lepas dari situasi yang mencekik ini.


Christov mengarahkan kedua tangannya pada wajah dan leherku, membuat seluruh buluku meremang. Astaga.. Aku selalu saja merasakan getaran setiap tangannya yang dingin menyentuh kulitku. Kami saling menatap dan di sana, aku bisa melihat matanya menggelap. Ah.. Aku juga senang karena Christov merasakan hal yang kurasakan juga.


"Berhati-hatilah.." bisik Christov lalu menempelkan bibirnya padaku. Aku memejamkan mata, menikmati lu-ma-tan lembut bibir penuhnya pada milikku


Dia menggigit bibir bawahku dan menariknya. Mataku yang menggelap tertuju pada bibirnya yang tampak basah dan itu karena diriku. Astaga.. Aku tak akan pernah merasa cukup dengan bibirnya yang manis.


"Aku menunggumu.." katanya pelan, "Sekarang, pergilah. Aku harap kau menang..."


Senyum tipis terukir di bibirku, "Bye, Christov.." ucapku seraya menarik koper ke arahku.


"Kabari aku waktu kepulanganmu kembali agar bisa kujemput..."


"Okay. Da-ahh.." kulangkahkan kaki menjauh darinya seraya melambaikan tangan.


"Bye, Cassie.. I love you..."


Aku melemparkan ciuman perpisahan dengan tangan kananku sebagai jawaban atas kata-kata yang sudah berulang kali diucapkannya padaku. Tubuhku kuputar ke arah depan dan jantungku tiba-tiba berdegup kencang,seolah ingin merobek dadaku dari dalam. Degupan yang kencang ini membuat seluruh sarafku tiba-tiba menegang.


"Oh my.. Apa aku benar-benar sudah punya jawaban?"


****


Author POV


Clara melepas sarung tangan karet dari kedua tangannya lalu membuang kedua benda itu setelah berjalan keluar dari ruangan operasi. Saat melihat keluarga dari pasien yang baru saja dia operasi, Clara melepas masker dan menjelaskan bahwa operasi berjalan lancar. Tak berapa lama setelahnya, Clara berjalan dengan langkah cepat dan lebar. Satu-satunya yang dia harapkan saat ini adalah duduk dengan tenang di dalam ruangannya.


"Lelah.. Lelah.." geram dia seraya membuka pintu ruang kerjanya. Namun, dia mendadak berhenti di ujung pintu saat melihat Direktur--Ibunya sendiri-- tengah duduk di kursi kerjanya.


"Ah.. Selamat sore, Direktur.." sapanya dengan nada formal, "Ada yang bisa saya bantu?"


"Tutup pintunya dan duduklah, nak.."


Okay.. Kita masuk ke mode informal. Batin dia.


Clara menurut dan menatap wajah Ibunya tersebut dengan tatapan datar walau dalam hati, dia tengah gelisah memikirkan berbagai kemungkinan mengapa Direktur Rumah Sakit ini ada di ruangannya.


"Aku mendengar bahwa kau melakukan beberapa kesalahan saat bekerja.."


Dia menggeram seraya memejamkan matanya dengan kesal, "Mama.. Bisakah kau berhenti memata-mataiku? Aku lelah.."


"Aku tidak memata-mataimu. Apa kau punya masalah? Tidak biasanya kau melakukan kesalahan seperti ini?"


Clara mengerang kesal, "Semua orang dapat melakukan kesalahan, Mama.. Tidak bisakah Mama membiarkanku sendiri saja? Aku ingin istirahat sebelum jadwal operasi-ku yang lain.."


"Mama sudah memerintahkan dokter lain untuk menggantikanmu,"


Mata Clara membelalak, "Apa? Kenapa? Aku bisa melakukannya sendiri, Mama!" suaranya semakin meninggi. Lelah, lapar, dan sekarang dia diceramahi membuat Clara tak sanggup menahan amarahnya lagi.


"Lihat? Kau bahkan tak bisa menahan amarahmu sendiri. Sudah ada beberapa keluhan dari pasien dan perawat bahwa kau tidak berkonsentrasi melakukan pekerjaanmu.."


Digigit bibit bawah seraya memijat pelipisnya yang terasa berat, "Okay. Aku menyerah dan mengakui jika aku melakukan beberapa kesalahan. Kalau begitu aku akan pulang sekarang."


"Lalu..." ucap Ibunya dan mencetak Clara bergerak dari duduknya, "Kau akan menjadi tamu undangan untuk mengisi acara televisi kesehatan di New York selama kurang-lebih satu bulan.."


"Apa?! Apa maksud dari perkataanmu, Mama?" kata Clara dengan nada frustasi, "Bukankah ada dokter umum lain yang bisa melakukannya? Kenapa? Kenapa harus aku? Ada banyak hal yang harus aku urus di sini.."


Ibu Clara memajukan kepala dan memangkukannya pada kedua tangan, "Kau butuh istirahat dari semua kesibukan ini untuk beberapa saat, Clara. Pergilah ke New York dan mengisi acara itu sekalian menikmati liburan singkat. Bukankah itu sebuah kehormatan kau dapat mengisi acara kesehatan?"


"Mama pikir aku senang karena masuk dalam televisi? Dokter bekerja di rumah sakit dan bukannya di studio.."


"Anggap saja ini sebagai hukuman, Nak.. Aku tidak bisa membiarkan dokter tak kompeten berkeliaran bebas di wilayahku.."


Clara menggeleng, tak habis pikir dengan ucapan pedas dari Ibunya.


"Dokter tak kompeten.." bisiknya pelan, menyerah dengan situasinya. Saat ini dia benar-benar sudah kelelahan secara jasmani dan mental.


"Terserah, Mama.. Terserah.." katanya dengan pasrah.


"Apa yang menganggumu pikiranku, Clara? Beri tahu Mama.."


Clara menggeleng kecil, "Aku bisa mengatasinya sendiri.. Bisakah Mama meninggalkanku sendiri? Please.." pintanya.


"Apa karena Christover? Hubungan kalian tidak berjalan sesuai yang kau harapkan?"


Dia menundukkan kepala dan menumpukannya pada kedua telapak tangan, "Mama.. Biarkan aku mengurus urusanku sendiri," pintanya.


"Sebenarnya, aku berharap kau menikah dengan seseorang yang memiliki latar belakang yang sama denganmu.."


Lagi-lagi.. Pikir Clara. Lagi-lagi tentang latar belakang!


"Namun, saat melihatnya saat pertama kali, aku berpikir bahwa Christover bukanlah pria yang buruk. Apa menangkap ikan kecil seperti dia sulit bagimu?"


Clara menoleh ke arah Ibunya dengan tatapan tajam, "Christov bukan ikan kecil, Mama.." sanggahnya dengan nada marah, "Dia tidak sekecil yang kau pikirkan..."


"Benarkah?"


"Dia tidak sesimpel yang Mama pikirkan. Di saat pria-pria lain hanya melihat uang dan latar belakangku, dia tidak sedikit pun peduli. Christov tidak peduli seberapa kaya, cantik, hebatnya diriku. Dia tidak peduli hal-hal seperti itu..." katanya dengan nada bergetar dan kembali mengingat sikap acuh Christov padanya. Huh.. Clara pikir dia bisa mendapatkan apa pun yang dia inginkan dengan latar belakang yang dia miliki sekarang. Dia berpikir bahwa dunia ada dalam genggamannya, tapi sayangnya tidak. Pemikirannya selama ini hancur karena satu pria. Penolakan Christov benar-benar menghancurkan harga dirinya hingga ke titik terendah. Tak pernah sekalipun Clara mendapatkan perlakuan seperti ini dari pria manapun. Malah, semua pria berusaha mengejar dirinya.


"Terlepas kecil atau besarnya, bagaimana bisa aku memercayaimu untuk memimpin rumah sakit ini di masa depan saat kau sendiri tidak bisa mengatasi masalah pribadimu, huh?" tantang Ibunya.


"Christov tidak ada hubungannya dengan keberhasilanku dalam bekerja, Mama.."


"Tentu saja ada.. Kau tau cara memancing, bukan? Pertama, kau harus mempersiapkan umpan yang mereka sukai..."


Clara terdiam, bingung kemudian dia berdecak lidah, "Sudahlah, Mama.. Aku tak ingin membicarakannya lagi.."


"Untuk mendapatkan sesuatu, kau harus memiliki umpan. Umpan yang istimewa dan yang diinginkan oleh ikan impianmu..."


Wanita itu menatap marah ke arah Ibunya, "I'm sorry, Mam*.. Saya harap anda keluar dari ruangan saya detik ini juga," kata dia dengan nada formal yang kaku


(Maaf, Bu)


"Okay, kid.. Jangan lupa makan malam dengan menu sehat dan juga vitamin.." Ibu Clara berdiri dari duduknya dan melangkahkan kaki untuk pergi. Clara tetap duduk di sana, tak sedikit pun bergerak untuk melihat kepergian Ibunya.


"Bayangkan bagaimana nasib rumah sakit ini jika berada di tanganmu, saat kau kau sendiri tak mampu mengurus satu pria? Bukankah kau pernah berkata jika kau menginginkan sesuatu, kau harus mendapatkannya apa pun yang terjadi?" sambung Ibunya dengan nada penuh provokasi, "Pikirkan baik-baik setiap kata-kataku, nak. Ini salah satu ujian untukmu.."


"Mama!" pekik Clara marah dan detik itu juga, terdengar bunyi pintu yang ditutup dengan keras.  Matanya menatap marah ke arah pintu dan bibirnya bergetar.


"Sial.." umpat dia, "Argh! Kenapa dia memprovokasiku?! Huh.. Biarkan aku sendiri... Biarkan aku sendiri.."


****


Minggu, 10 Mei 2020. Bandar Udara Internasional Los Angeles. 05.00 PM.


"Setidaknya, Bibi melakukan itu demi kebaikanmu.." kata Madison Clayton, sepupu Clara dari pihak keluarga Ibunya.


"Dia tidak pernah melakukannya demi kebaikanku," ucapnya dingin, "Mama melakukannya demi dirinya sendiri.."


"Well.. Ibumu memang sedikit gila," ujar Madison dengan santai seraya melanjutkan menghisap rokoknya lalu menghembuskan asap abu-abu ke udara, "Aku pikir Ibumu memiliki sifat sociopath,"


Clara tak mengindahkan hinaan Madison pada Ibunya dan memilih melirik wanita itu dari ujung mata, "Kau menghabiskan ribuan dollar setiap bulannya untuk membuatmu tampak awet muda hanya untuk menyia-nyiakannya karena merokok.."


"Bawel.." Madison mengibas-ibas asap rokok dari hadapannya, "Aku hanya merokok saat aku banyak pikirann.."


Clara mengisap kopinya melalui  sedotan, "Ternyata kau bisa berpikir juga.."


Wanita pirang berpakaian mini tersebut tertawa penuh cemooh, "Walau aku bodoh, tapi aku masih bisa berpikir, sialan.. Terkadang aku berpikir kau sama gilanya seperti Ibumu. Dasar orang-orang pintar sialan...."


"Jangan samakan aku dengannya,"


Madison tak mengindahkan perkataan Clara yang penuh ancaman dan tetap melanjut mengisap rokoknya dengan santai, "Tetap saja darah Ibumu mengalir dalam daramu, Clara. Siapa tahu kau memiliki sifat sociopath juga.."


"Terserah.." jawabnya dengan suara tenang.


Madison berdecak lidah, "Ckckc.. Melihat penampilanmu saat ini, kau sangat cocok menjadi model. Lihat aku.. Berprofesi sebagai model, tetap bisa menikmati hidup dan menghasilkan uang, sedangkan kau malah bekerja selama 24 jam setiap harinya di rumah sakit. Ckckc... Sedih sekali kau harus menghabiskan sisa waktu hidupmu untuk mengutak-atik or-gan manusia "


"Aku juga dulu ingin menjadi model, tapi Mama melarangku.."


Madison mengangguk kecil, "Yeah... Wajar kau dilarang karena kau terlalu pintar hanya untuk menjadi model. Kau tahu? Model hanyalah sekumpulan orang bo-doh yang memamerkan tubuhnya dengan penuh gaya. Seperti aku contohnya.."


"Kau tak se-bo-doh itu.."


"Sudahlah.. Jangan menghiburku. Itu memang fakta di lapangan," Madison menekan puntung rokoknya pada asbak hingga mati, "Aku harus pulang sekarang.." ujarnya seraya berdiri dan Clara mengikut.


"Kau akan bepergian lagi?"


"Yah.. Aku liburan dengan kekasihku ke Rusia dan kami berangkat besok."


"Well.. Nikmati liburanmu. Terimakasih sudah mau mengantarkanku.."


"Tidak masalah.. Panggil aku setiap kau mengalami kesulitan, Clara. Walau aku bo-doh dalam matematika, otakku masih bisa diandalkan.."


Clara tersenyum dan melakukan kecupan pipi dengan Madison, "Thank you, Madison.."


"Sampai jumpa, sepupu...."


Dia kembali duduk dan menatap kepergian Madison. Clara tetap duduk di kursi kafe hingga pengumuman untuk keberangkatannya terdengar. Berdiri, membayar bill, lalu pergi diikuti oleh pengawalnya yang mendorong semua barang bawaan miliknya selama satu bulan ke depan.


Saat berjalan menuju ruang pemeriksaan, Clara merasakan ponselnya yang berada di saku jaketnya bergetar. Dia memeriksa layar ponsel dan menemukan nama Ibunya di sana.


"Duluan saja.." ucap dia pada pengawal kemudian menerima panggilan tersebut,"Halo, Mama.."


"Apa kau sudah di bandara?"


"Yeah.." jawabannya dengan nada malas, " Aku hendak melakukan pemeriksaan sekaran," Matanya menoleh ke sana- ke mari untuk membunuh rasa bosan saat mendengar ceramah Ibunya. Hingga dia melihat sosok yang menarik seluruh perhatiannya.


"Hati-hatilah. Jangan..."


Clara menjauhkan ponsel dari telinga dan mengabaikan Ibunya tersebut. Senyum miring menghiasi wajahnya dan digantikan dengan tawa aneh.


"Astaga.." gumam pelan dengan tawa saat melihat Christov bersama wanita asing yang tak dia kenal. Clara memutar tubuh, menghindari Christov melihat dia dan kembali mendekatkan ponsel ke telinganya.


"Clara? Hei? Apa kau masih di sana?"


"Yes, Mama..."


"Apa yang terjadi? Kenapa kau tertawa?"


"Akhirnya aku menemukan umpan yang kau maksud, Mama..."


****


Miss Foxxy


Ingat Madison Clayton, gk? Kalo ingat, coba asumsikan apa yg bakalan terjadi. Jangan lupa dukung author yah, like,vote, koment, poin, koin dan lainnya benar-benar berharga untuk author. I love you gais dan jangan lupa ikutan giveaway. Kalau pengen tanya sistemnya lebih lanjut, boleh gabung GC.