
Happy Reading
****
Mengecewakan...
Dengus Cassie seraya menendang-nendang kasar tumbuhan alang-alang dengan kakinya. Kepalanya menoleh ke belakang dan tidak melihat tanda-tanda Christov. Apa dia sudah punya kekasih? Atau mungkin dia ga y? Digelengkan kepalanya dengan cepat atas pemikiran absurdnya. Tapi, anjing-anjingnya lucu. Pikirnya lagi. Aku ingin memeluknya.
Melangkah keluar dari lahan alang-alang, Cassie sampai di pinggiran sungai kecil yang beraliran sedang. Dari sinilah sumber suara aliran sungai itu. Berkacak pinggang, Cassie menoleh sekitar dan berusaha mengingat sesuatu tentang tempat ini. Dersik angin berbaur dengan suara sapi, aliran air, dan mesin traktor menjadi satu. Begitu.... Khas.
Memejamkan mata, Cassie berkonsentrasi. Memfokuskan semua inderanya pada tempat itu. Aroma udara yang cukup lembab, suara khas pertanian, hawa yang sejuk, dan...
"Tidak ada," ucapnya ketus dan membuka matanya. Dia tidak ingat sedikit pun. Padahal, beberapa adegan orang yang lupa ingatan dalam serial film selalu bisa mengingat sedikit saja tentang kenangannya. Film zaman sekarang tidak ada hang bisa dipercaya lagi.
Ditoleh ke arah kiri, tempat sebuah pohon apel dewasa yang tertanam tidak jauh darinya. Beberapa buah apel yang sudah membusuk berbaur dengan daun dan rerumputan di atas tanah.
"Pada akhirnya, semua akan kembali ke tanah," bisik Cassie. Dia tiba-tiba teringat dengan dosen filsafatnya saat duduk di bangku kuliah. Kelas filsafat yang dia ikuti itu begitu unik.
"Kenapa aku malah memikirkan itu?" tanya dia pada dirinya sendiri. Cassie... Well. Sebagai wanita yang berkecimpung di ranah seni, Cassie begitu mudah melamun dan dialihkan perhatiannya.
Berjalan ke arah pohon apel, Cassie berteduh dan menyadarkan tubuhnya di batang pohon. Tangannya melepas topi dan menoleh ke atas untuk melihat daun serta ranting pohon apel yang membentuk kanopi. Matahari menelisik malu-malu dari celah daun yang bergoyang oleh angin.
Nyamannya...
Diambilnya posisi duduk di atas rumput dan menatap lekat ke atas. Aku rindu, Itali. Batinnya. Dia lahir di pertanian kecil di pinggiran kota pusat Itali milik kakek-nenek dari pihak Ayahnya yang bernama 'Garden Green'. Dia sangat suka daerah pertanian, tapi tidak untuk sekarang. Saat ini, tempat favorit Cassie adalah laut dan danau. Cassie bermimpi bisa memiliki tempat tinggal di tepi laut.
Hanya saja, harga tanah dan properti naik setiap tahunnya, terutama di daerah dekat laut. Cassie tidak cukup kaya untuk bisa membeli properti di pinggiran laut yang harganya benar-benar fantastis. Entah kenapa, dia selalu merasa miskin jika tidak bisa membeli apa yang dia inginkan padahal sebenarnya tidak begitu.
"Memikirkan kemiskinan ini membuatku pusing," dia merogoh ponsel yang berada di saku sweater tipisnya dan memeriksa pemberitahuan. Ada beberapa email kerja, informasi tagihan listrik, air, dan internet, kemudian beberapa pesan dari Ibunya dan ayahnya. Cassie tersenyum saat membaca pesan Ayahnya. Entah kenapa akhir-akhir ini dia lebih senang jika mendapat pesan atau panggilan dari Ayahnya. Andai saja Ayahnya tidak menikah lagi, Cassie pasti mau tinggal bersama di Itali dengan Ayahnya.
Setelah membaca dan membalas pesan, Cassie membuka kamera ponsel dan mengambil beberapa foto keadaan di sana. Tak lupa juga mengambil foto dirinya sendiri. Dia memeriksa beberapa foto kemudian menggeser-geser layar ponsel untuk mencari sesuatu untuk membunuh rasa bosannya. Sayangnya tidak ada. Cassie bukan pengguna aktif sosial media. Alasannya sederhana, yaitu karena tidak tertarik.
"Lebih baik pulang," dengusnya, tapi Cassie mengurungkan niatnya untuk berdiri saat melihat aplikasi Email di layar ponselnya. Dia melipat bibirnya dan membuka aplikasi itu untuk mencari peruntungan.
Cassie mengetik kembali email aneh yang dia temukan semalam dan sialnya, kode akses tetap saja masih di minta. Ada dua cara mendapatkan kode akses itu, satu dengan cara tak langsung, yaitu dengan pesan elektronik dan satu lagi secara langsung dengan panggilan. Dengan iseng, Cassie menekan tombol berbentuk telepon tersebut untuk mendapatkan kode akses secara langsung.
Hitungan mundur selama satu menit muncul di layar dan hanya berselang dua detik, Cassie mendengar dering ponsel. Bukan dari ponselnya. Dia berdiri dan melihat sekitar dengan tangannya tetap memegangi ponsel. Suara itu berasal dari sekitar tumbuhan alang-alang.
Suara ponsel siapa itu?
Cassie tiba tiba memiliki ide untuk menghentikan hitungan mundur tadi dan suara dering ponsel itu pun ikut berhenti. Sekali lagi, Cassie menekan tombol dan dua detik setelah hitungan mundur dimulai, dering ponsel itu terdengar lagi dari dalam lahan alang-alang. Matanya menatap ngeri ke arah tanaman alang-alang. Apa-apaan ini? Apakah ini semacam serial film horor?
"Sialan.." umpatnya
Hanya berselang beberapa saat, terdengar suara anjing dari arah kirinya. Saat Cassie menoleh ke arah kiri, dia melihat Nugget dan Salmon serta Christov juga yang tengah memegangi ponsel. Suara dering itu berasal dari ponsel Christov.
"Christov.." bisiknya penuh kelegaan melihat Christov dan bukan orang lain. Dering ponsel Christov berhenti diikuti dengan berhentinya hitungan mundur di ponsel Cassie
"Ah.. Panggilan spam ini," gerutu Christov pelan, tapi Cassie masih bisa mendengarnya. Matanya kini menatap ngeri ke arah ponselnya.
"Kau masih di sini?" tanya Christov dengan nada ramah, tapi dia melihat raut wajah Cassie yang aneh, "Kau baik-baik saja, Miss?" sekarang, Christov berubah menjadi sedikit formal.
Cassie segera menguasai dirinya dan memberi senyum terbaiknya ke arah Christov, "Aku okay. Terimakasih sudah bertanya," ditatap lagi ponselnya dan benar-benar ingin menekan tombol dengan telepon tersebut.
Saat menatapi ponselnya, Nugget dan Salmon berjalan ke arahnya dan menatap dia dengan tatapan penuh bahagia. Jika tadi dia merasa senang didekati kedua anjing ini, sekarang Cassie merasa ngeri, heran, dan bingung. Apakah biasanya anjing selalu bereaksi seperti ini pada orang yang baru mereka temui?
"Apa anjingmu selalu seperti ini pada orang yang baru mereka temui?" tanya Cassie dengan nada biasa dan tanpa menoleh ke arah Christov.
"Ah.. Apa anjingku membuatmu tidak nyaman? Maafkan aku..." Christov berjalan maju dan menarik tali anjingnya.
Cassie menggeleng, "Bukan begitu.. Aku hanya penasaran dengan anjingmu yang merasa tidak curiga padaku sebagai orang asing yang baru mereka temui. Nampaknya, Nugget dan Salmon anjing yang sering bertemu orang asing, yah?" ditatapnya Christov.
"Sebenarnya Nugget dan Salmon tidak terlalu senang bertemu orang asing. Sepanjang yang kuketahui..."
"Ah.. Begitu.."
Sekarang, muncul lagi berbagai pertanyaan dalam benak Cassie. Apakah nomor ponsel Christov yang tersambung ke email itu? Apakah Christov mengenalinya? Apakah mereka memiliki hubungan? Atau apakah mereka pernah bertemu jauh sebelum di rumah sakit? Namun, Christov bertingkah seperti dia tidak mengenal Cassie. Email itu, C&C. Apakah singkatan itu untuk Christov&Cassie? Siapa sebenarnya pria ini?
"Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?"
"Tidak ada," Cassie menggeleng cepat dan buru-buru bersimpuh di depan anjing Christov dan mengelusnya setelah menyimpan kembali ponselnya di saku sweater.
Aku perlu mencari informasi sebanyak mungkin. Batin Cassie.
"Apa kau sudah sembuh?" tanya Cassie.
Christov mengambil posisi duduk di bawah pohon apel.
"Begitulah.."
"Aku keluar dari rumah sakit sekitar dua minggu yang lalu dan itu benar-benar melegakan bisa keluar dari rumah sakit setalah kurang lebih tiga bulan di rawat di sana,"
Christov mengangguk kecil dan Cassie sangat berharap pria itu mengatakan sesuatu. Sayangnya, tidak ada. Ughh... Dasar pendiam!
"Bagaimana denganmu?" pancing Cassie, "Kenapa kau bisa dirawat di rumah sakit?" tanya dia dengan nada santai.
"Aku mengalami kecelakaan,"
Senyum Cassie berubah menjadi senyum kaku saat mendengar itu, "Aku turut sedih mendengarnya. Kecelakaan apa?"
"Mobil,"
"It's really bad*," gumam Cassie.
(Itu benar-benar parah)
Ternyata, dia dan pria itu mengalami kecelakaan mobil. Sekarang, yang perlu Cassie ketahui adalah kapan. Kapan tepatnya pria ini kecelakaan? Namun, rasanya terlalu aneh jika Cassie bertanya sampai sejauh itu. Bisa-bisa Christov berpikir bahwa dia adalah penguntit. Ada keinginan kuat Cassie untuk membuka email tadi dan menekan tombol telepon untuk memastikannya sekali lagi bahwa kode akses itu tersimpan di nomor ponsel Christov.
"Christov,"
"Yah?"
Ada jeda di antara keduanya. Angin tiba-tiba bergerak dengan kencang hingga menerbangkan helaian rambut Cassie ke arah belakang. Tangannya tetap mengelus kepala Nugget dan Salmon hingga tertidur. Matanya menatap dalam ke bola mata hitam Christov. Sangat gelap dan kelam. Dia pasti pria pendiam yang punya banyak rahasia. Batin Cassie. Dengan susah payah, Cassie menelan ludahnya. Dia merasakan euforia aneh saat menatap Christov tepat dimatanya.
"Sepertinya aku harus pulang," pada akhirnya, Cassie tidak memiliki keberanian yang kuat untuk menanyakan berbagai pertanyaan yang memenuhi kepalanya. Akan kucari tahu nanti.
Christov yang sedikit bingung segera sadar dengan maksud perkataan Cassie, "Maafkan anjing-anjing tidur di kakimu..."
Sejujurnya, bukan itu yang sedang dipermasalahkan oleh Cassie. Christov mambangunkan anjingnya dan Cassie segera berdiri. Dia membersihkan celananya dari daun kering yang menempel.
"Aku berharap kita bisa bertemu di lain waktu, Christov.."
Christov berdiri, "Ka--Kalau begitu, apa aku boleh meminta nomor ponselmu?"
Cassie tersenyum lebar, "Of course.."
Ternyata dia punya nyali juga. Menggemaskan sekali. Pikir Cassie dengan senang. Dia tidak pernah sebahagia ini saat dimintai nomor ponselnya oleh pria lain.
Keduanya saling bertukar nomor ponsel dan betapa terkejutnya dia melihat angka terakhir nomor ponsel Christov. Angkat empat. Angka yang sama di nomor ponsel untuk kode akses Email itu. Namun, Cassie tetap menjaga mimik wajahnya agar tidak mencurigakan.
"Kalau begitu, sampai jumpa.." Cassie tersenyum miring dan mengedipkan matanya ke arah Christov. Hal yang selalu dia lakukan untuk menggoda pria.
"Bye, Cassie..."
Dia memutar tubuhnya dan berjalan ke arah tumbuhan alang-alang seraya memegangi ponsel. Dibukanya aplikasi Email itu dan menekan tombol kode akses melalui panggilan. Seperti yang dia duga, ponsel Christov yang berada di kejauhan berbunyi.
"Apa-apaan ini?" bisiknya pelan menatap ngeri ke ponselnya.
Sekarang, Cassie tahu bahwa ada hal yang tidak dia ketahui tentang Christov. Hal itu bukanlah sembarang hal karena Cassie memiliki email dengan singkatan nama C&C dan tersambung ke nomor ponsel Christov. Hal itu hilang bersama ingatannya dan menjadi misteri. Misteri yang tampaknya berusaha disembunyikan orang-orang dari dia. Sekarang, Cassie akan mencari tahu 'hal' yang hilang itu.
****
Miss Foxxy
Saking cintanya sama daerah pertanian, semua novelku pasti ada daerah pertaniannya gitu wkwkwkw. Hari ini dan seterusnya hanya update satu chapter ajah 🛐🛐 Maafkan daku. Maafkan Christov tidak sepeka Scout dan Lucas. heheh... Love you.